Sabtu, 10 Oktober 2020

KEPEMIMPINAN YANG MENGHAMBA (Mrk.10:35-45)


Kitab Markus merupakan kitab Injil Sinoptik tertua, yang diperkirakan ditulis tahun 35-40 ZB (Zaman Bersama). Secara ketatabahasaan, kitab Markus ditulis dengan bahasa yang sangat sederhana, sehingga pesannya terlihat jelas. Salah satu tema yang jelas dapat kita lihat dari kitab Markus ini adalah tentang gambaran dari Yesus sebagai seorang Hamba yang menderita. Dan, tema kitab Markus ini sangat mengena dengan tema minggu saat ini, “Kepemimpinan yang Menghamba” di mana teks dirujuk dari Markus 10. Di awal perikop nas kita minggu ini, ada situasi menarik yang bisa kita perhatikan di mana Yakobus dan Yohanes datang menghadap Yesus agar mereka ditempatkan di sebelah kanan dan di sebelah kiri-Nya ketika Dia datang dalam kemuliaan kelak (ay.37). Permintaan ini dinyatakan Yohanes dan Yakobus secara personal/pribadi. Kita bisa lihat bagaimana Alkitab menerangkan kalau mereka mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya akan suatu permohonan (ay.35). Yesus sebagai seorang Pemimpin dan Guru dari para murid terlihat sangat akrab dengan mereka. Yesus mau menawarkan apa yang bisa dilakukan-Nya untuk membantu Yohanes dan Yakobus (ay.36).

Namun, Yesus melihat permintaan dari Yohanes dan Yakobus itu tidak rasional. Pertama-tama, Yesus mengatakan “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta”. Mengapa Yesus mengatakan demikian? Bagaimana tidak! Yesus baru memberitahukan tentang penderitaan yang akan dialami-Nya. Bahwa, Dia akan diadili dan dijatuhi hukuman mati. Sebagai manusia, siapa yang tidak tertekan mengetahui hari kematiannya sudah mendekat? Sekalipun pada akhirnya akan bangkit, tetapi Yesus harus melewati penderitaan yang sangat mengerikan, sadis, dan melampaui batas kemanusiaan-Nya. Bisa-bisanya Yohanes dan Yakobus mengatakan, kalau Dia nanti bangkit dari kematian agar mereka ditempatkan di sebelah kiri dan kanan-Nya. Mereka bukannya bersimpatik pada beban Yesus, malah mencari celah untuk kepentingan pribadi mereka sendiri. Karenanya, Yesus mencoba untuk mengkonfirmasi, sekiranya mereka bertukar posisi, apakah mereka sanggup minum cawan dan dibaptis dengan baptisan yang diterima-Nya (ay.38). Yang dimaksudkan Yesus di sana adalah bisakah Yohanes dan Yakobus menerima nasib buruk (dilambangkan dengan cawan) dan dituduhkan sebagai seorang berdosa dan hina sekalipun tidak melakukan semua itu (dilambangkan dengan baptisan pertobatan oleh Yohanes Pembaptis).

Satu nilai positif dari Yohanes dan Yakobus adalah mereka seorang yang percaya diri. Tanpa ragu, mereka menjawab, “Kami dapat”. Hal ketiga yang disampaikan Yesus pada mereka, “kalau mereka dapat, maka mereka akan meminum cawan itu dan dibaptis dengan baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis itu”. (ay.39).  Akan tetapi, hal keempat yang disampaikan Yesus kalau di dalam Kerajaan Allah tidak ada orang dalam, karena itu bukan hak peyoratif dari Yesus, tetapi Bapa saja (ay.40). Perbincangan Yesus dengan Yohanes dan Yakobus pun terdengar oleh kesepuluh murid lainnya. Wajar mereka marah, karena Yohanes dan Yakobus malah mencari kesempatan dalam kesempitan, mau menang sendiri, tidak setia kawan, dan sangat egois (ay.41). Yesus pun melerai pertengkaran di antara para murid dan memberikan pengajaran penting sebelum Dia meninggalkan mereka semua sendirian di tengah dunia. Yesus menegaskan supaya mereka jangan sama seperti pemerintah dan penguasa dunia yang memerintah dengan tangan besi dan kekerasan di dalam menjalankan tugas pemberitaan Kerajaan Allah.  Akan tetapi, mereka harus mau menjadi pelayan di dalam kebesaran, serta menjadi hamba di dalam ketermukaan (ay.42-44). Yesus memesankan hal itu pada para murid karena Dia telah terlebih dahulu melakukannya. Di dalam kemuliaan-Nya, Dia datang ke dunia untuk melayani manusia berdosa, menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (ay.45).

Firman Tuhan ini mengajak kita merefleksikan dua hal utama, yaitu: Pertama, soal upah, dalam hal ini keselamatan, biarlah kita serahkan kepada Allah Bapa. Selama kita hidup di dunia ini, kita kuatkan saja iman kita untuk menerima cawan kita dan menghidupi baptisan Yesus. Karena, kita akan dibangkitkan di dalam baptisan-Nya kelak. Kedua, di tengah dunia ini, kita perlu mengingat bahwa tidak ada seorang yang besar tanpa ia melayani, dan tidak ada seorang yang menjadi terkemuka tanpa ia menjadi hamba yang menolong banyak orang yang membutuhkan. Pengosongan diri (Kenosisme) menjadi jalan hidup Yesus, sebagai Anak Manusia. Demikian pula kita, di dalam kehidupan ini, marilah kita bersikap rendah hati pada sesama dan menujukkan kerendahan diri di hadapan Tuhan, Allah Bapa kita. Jangan bertengkar untuk posisi, kehormatan, kekayaan, dan prestasi duniawi lainnya. Karena itu adalah cara kuasa dunia, bukan kuasa dari Kerajaan Allah yang penuh damai, sukacita, dan damai sejahtera. 

Kamis, 01 Oktober 2020

Setara di Hadapan Tuhan (Kejadian 2 : 18-25)

 


Kitab Kejadian merupakan salah satu bagian dlam kitab suci bangsa Israel, atau yang lebih sering disebut dengan TaNaKh (Torah, Neviim dan Ketuvim). Dalam pandangan teologi Perjanjian Lama tradisional, kitab Kejadian merupakan satu di antara lima tulisan yang disusun oleh Musa (Pentateukh). Pandangan ini bertahan sangat lama. Bahkan, pandangan ini di zaman sekarang ini masih ada yang tetap memegangnya secara kokoh. Dalam perkembangan ilmu teologi memang, ada pendekatan teori Sumber yang awalnya dirumuskan oleh Julius Wellhausen (1844-1918) bahwa penulisan kelima gulungan/kitab ini memiliki sumber dan rentan waktu penyusunan.  Terkait dengan pandangan tradisional dan teori Sumber, kita tidak akan membahasnya mendalam di dalam renungan kita pada minggu ini. Karena, ia harus memiliki ruang tersendiri dalam pembahasannya. Yang ingin disampaikan dari informasi tentang penulisan kelima gulungan/kitab itu, di mana Kejadian salah satu bagian di dalamnya, adalah baik pendekatan tradisional dan pendekatan teori sumber sama-sama memberikan pemahaman bahwa gulungan/kitab yang menjadi lima bagian Alkitab memiliki tujuan menjelaskan sejarah perjalanan bangsa Israel, termasuk dari awal mereka eksis sampai menjadi bangsa yang besar dan diberikan janji berkat kepada keturunannya. Hal ini sangat penting kita perhatikan agar fokus kita di dalam membaca kelima kitab ini, termasuk nas kita saat ini, jangan terlepas dari konteks. Setiap teks pasti memiliki konteks. Dalam perikop kita saat ini, konteksnya adalah menjelaskan kisah awal bagaimana umat Tuhan (Israel) hadir di tengah-tengah dunia. Inilah menjadi awal dari perjalanan panjang bangsa Israel di kemudian harinya.

Pada perikop kita di Minggu ini, ia mau menjelaskan tentang konsep Tuhan Allah tentang manusia yang berpasangan. Ayat 18 menjadi bagian yang sangat penting untuk kita perhatikan bersama, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia”. Dari bagian ini, kita melihat ternyata manusia pertama, laki-laki, tidak bisa dipungkiri merupakan sosok yang lemah sehingga membutuhkan penolong. Tetapi, Tuhan Allah menghadirkan penolong bagi manusia itu bukan sembarang penolong. Di ayat 18, ada tertulis jelas keterangan dari penolong yang dihadirkan Tuhan Allah pada laki-laki, yaitu sosok yang sepadan dengan laki-laki. Kata sepadan di sana berasal dari kata Ibrani nehged yang berarti berdiri di depan/berhadapan. Padanan kata ini sangat menarik, karena sekalipun laki-laki diciptakan pertama-tama, tidak langsung berarti mereka berada di depan. Tetapi, perempuan yang diciptakan belakangan, selalu berada di hadapan atau di depan laki-laki. Dengan demikian, Alkitab mencatatkan bahwa kesetaraan gender sebetulnya telah ada sejak penciptaan manusia pertama kali itu terjadi. Laki-laki diciptakan Tuhan pertama-tama. Namun, soal kemampuan menjalani kehidupan sehari-hari, perempuan berada di depan laki-laki untuk menolongnya. Kata penolong yang digunakan di sana juga menggunakan kata Ibrani Ezer yang berarti pertolongan yang diberikan Allah, dan bukan dari manusia.

Sebelum menciptakan perempuan, Allah terlebih dahulu diceritakan membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara untuk dibawa pada manusia. Lalu, manusia (laki-laki) itulah yang memberikan nama untuk semua binatang yang diciptakan oleh Tuhan Allah (ay.19-20). Setelah itu, barulah Tuhan Allah menciptakan perempuan. Teknisnya sangat unik, yaitu bahan utamanya harus dari laki-laki itu sendiri. Sehingga, Tuhan Allah  membuat manusia itu tidur nyenyak. Hal ini rada mirip dengan operasi bedah yang dilakukan oleh para dokter dan medis di rumah sakit. Dengan rusuk manusia (laki-laki) itu, Tuhan Allah menciptakan perempuan dan diantarkan kepada laki-laki itu. Respons laki-laki saat itu, “inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku”. Respons ini menggambarkan adanya pengakuan dari laki-laki bahwa perempuan adalah bagian dari dirinya sendiri (ay.23). Pengakuan ini sangat penting di dalam berbicara tentang kesetaraan gender. Sebab, ketimpangan gender ini merupakan konstruksi sosial yang dibentuk oleh sistem keagamaan, ideologi, maupun adat-budaya. Dengan adanya kesaksian dari Alkitab bahwa hakikatnya perempuan adalah yang diambil dari laki-laki menjadi entry point di dalam membahas kesetaraan di dalam ruang yang lebih luas lagi, seperti kemampuan mengakses kesempatan guna pemenuhan hak.

Perintah firman Tuhan bagi laki-laki dan perempuan adalah agar mereka bersatu dan menjadi satu daging. Hal ini diawali dari laki-laki yang akan meninggalkan ayahnya dan ibunya. Pertanyaannya, mengapa perintah ini hanya diberikan pada pihak laki-laki saja? Perintah ini dapat kita mengerti bila konteks sosial bangsa Yahudi kita lihat secara dekat. Anak laki-laki merupakan sosok yang sangat dihargai dalam nilai patriakhi di Yahudi, sehingga mereka mendapat hak yang lebih dari anak perempuan. Ketika mereka akan menikah, anak laki-laki harus melepaskan semua hak yang istimewa itu dari keluarganya. Hal ini tidak mudah, seperti seseorang yang meninggalkan zona nyamannya selama ini. Karenanya, firman Tuhan memerintahkan agar laki-laki harus berani meninggalkan zona nyamannya selama ini dan memulai hidup yang baru sebagai kepala keluarga di rumah tangga yang baru (ay.24).  Di ayat 25, fakta tentang rumah tangga umat percaya digambarkan dengan bersatunya menjadi satu daging antara perempuan dan laki-laki menjadikan mereka telanjang, tetapi tidak malu. Mengapa mereka tidak malu? Karena, mereka belum mengenal dosa. Perasaan malu disebabkan oleh ada hal tidak benar yang sedang terjadi. Gambaran firman Tuhan bagi rumah tangga umat percaya agar mereka menjauhi dosa, sehingga jangan menanggung rasa malu oleh sebab terjadinya hal yang tidak benar.

Jumat, 25 September 2020

Kepedulian terhadap Disabilitas (2.Sam.9:1-8)

 


Konteks firman Tuhan saat ini berbicara tentang Daud yang menggenapi janjinya kepada sahabatnya, Yonathan. Ketika Saul mengejar Daud, Yonatan (anak Saul) menunjukkan kedekatan pada Daud. Keakraban antara Daud dengan Yonatan tentu diakui Saul. Itulah sebabnya, Saul tidak menceritakan niatnya menghabisi Daud kepada anaknya, Yonatan (1.Sam.20:12). Di dalam pelariannya pun, Daud mencari sahabatnya, Yonatan. Daud meminta tolong agar ia memastikan tentang niatan Saul, ayahnya, yang mencoba membunuhnya. Daud, ketika memohon bantuan dari Yonatan, memosisikan dirinya sebagai hamba (1.Sam.20:8). Ketika Saul mengetahui Yonatan membantu Daud, Saul sangat murka terhadap Yonatan. Bahkan, Saul memaki Yonatan dengan kalimat yang sangat kasar, “Anak sundal yang kurang ajar”. Makian itu membuat Yonatan semakin bulat menolong Daud. Sebelumnya, Daud dan Yonatan sudah membuat perjanjian bahwa mereka akan saling menjaga agar keturunan mereka tetap hidup (1.Sam.20:14-17). Perjanjian itu pun dipertegas ketika Daud diberikan tiket keluar oleh Yonatan, “Pergilah dengan selamat ... bukankah kita telah bersumpah demi nama TUHAN.” (1.Sam.20:20).

Roda kehidupan berputar. Daud tampil menjadi raja dan Saul berganti menjadi rakyat jelata. Secara politis, inilah kesempatan trah Daud untuk membalas trah Saul sampai ke akarnya. Akan tetapi, Daud mencari keturunan Saul bukan untuk memusnahkannya, tetapi untuk menunjukkan belas kasihnya. Dengan bantuan Ziba, hamba keluarga Saul, Daud menemukan seorang dari keturunan Saul. Namanya Mefiboset, anak Yonatan, cucu Saul. Ia berada di rumah Makhir anak Amiel dari Lodebar. Kondisinya dalam keadaan cacat kaki (ay.1-5). Mengapa Ziba perlu memberitahukan Daud kondisi Mefiboset adalah seorang cacat? Ini karena konstruksi sosial pada masa itu yang menganggap orang cacat merupakan sosok yang tidak dianggap dan berada di pinggiran, baik secara keagamaan maupun pergaulan di tengah masyarakat. Secara keagamaan, misalnya, ada perintah dari Harun supaya mereka yang cacat jangan mendekat untuk mempersembahkan santapannya kepada Allah (Im.21:17). Pandangan keagamaan ini sepertinya terbawa sampai ke urusan pergaulan sehari-hari. Itulah mengapa Yesus ditanya, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yoh.9:2). Jadi, orang cacat menjadi teralienasi demikian jauh di masa itu karena dianggap seorang berdosa atau dari keturunan berdosa. Dengan demikian, mereka yang hidup dengan bawaan cacat sebenarnya mereka seperti orang yang tidak hidup lagi. Status mereka yang tidak disamakan dengan manusia lain. Ini sebabnya, Mefiboset mengatakan, “Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?”. Bisa kita perhatikan saksama, Mefiboset menyamakan dirinya dengan anjing, lebih buruk lagi, anjing yang sudah mati. Kalau anjing hidup, mungkin masih ada gunanya. Tetapi, apa kegunaan dari anjing yang mati? Akan tetapi, perjanjian tetap perjanjian. Daud tidak memandang kondisi fisik Mefaboset. Ia tetap melihat Yonatan sebagai pihak yang dikasihinya. Bukankah saat itu Daud, ketika dikejar Saul, sudah seperti anjing mati? Daud menyatakannya dengan terang,”hanya satu langkah jaraknya antara aku dan maut” (1.Sam.20:3). Tanpa ragu lagi, Daud menyerahkan harta milik Saul kepadanya sehingga mereka secara tidak langsung menjadi semeja untuk makan bersama karena mengerjakan tanah yang sama (ay.6-8).

        Refleksi yang dapat kita renungkan dari firman Tuhan di minggu ini adalah kita dapat belajar dari iman Daud yang tetap menggenapi janjinya. Daud bukan seorang yang ingkar. Daud menghargai hak hidup seorang yang cacat. Tidak ada niatan dari Daud sedikit pun untuk merendahkan anak dari sahabatnya, Mefaboset. Cinta Daud kepada Yonatan turun pada anaknya, Mefaboset. Cinta itu juga yang ditekankan oleh Yesus pada murid-Nya, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh.15:13). Yesus seketika memosisikan kasih sahabat (filia) lebih besar dari kasih sejati (agape). Dan, atas dasar itu, Yesus menjawab pertanyaan murid tentang apakah dosa yang menyebabkan seseorang itu cacat dengan jawaban yang sangat luar biasa, “...Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (Yoh.9:3).  Kita mengasihi orang disabilitas karena mereka adalah sesama dan sahabat kita. Mereka mengalami disabilitas karena pekerjaan Allah yang harus dinyatakan di dalam mereka. Marilah kita menghapus stigma buruk dan negatif pada sesama dan sahabat kita yang disabilitas. Kira rangkul mereka di dalam kasih yang diberikan Tuhan pada kita, selaku sahabat-Nya. (ThBS)

Sabtu, 12 September 2020

Kenikmatan Dunia adalah Kesia-siaan (Pengkhotbah 2 : 4-11)


 

Dalam Piramida Kebutuhan yang disusun oleh Abraham Maslow, ia menempatkan Aktualisasi Diri sebagai susunan paling puncak dari kebutuhan manusia. Setingkat di atas Penghargaan/Penghormatan. Penempatan Aktualisasi Diri sebagai kebutuhan tertinggi oleh manusia versi Maslow ini tentu bukan tanpa alasan. Ia tentu menyadari bahwa nama baik, penghormatan, kekayaan, dan semua yang mahsyur dimiliki manusia tiada guna apabila pada akhirnya manusia itu tidak dapat berbuat apa-apa pada sesamanya.

Demikian pula, Kohelet-Penulis dari kitab Pengkhotbah, yang menyaksikan tentang pengalaman dirinya. Sebagai seorang dari anak Raja dan yang berwejang/berkhotbah di kumpulan, ia tentu seorang yang sangat mahsyur dan sangat dihormati. Ia memberikan kesaksikan kalau ia sudah melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. Ia punya rumah megah, kebun anggur (ay.4-5). Lebih hebatnya, ia telah berbuat bagi sesama dan lingkungannya dengan membangun waduk irigasi* untuk perkebunan di wilayahnya (ay.6). Budak, hewan ternak, perhiasan indah ia pemecah rekor akan jumlah kepemilikannya (ay.7-9). Semua itu hasil kerja keras yang dilakukannya selama ia hidup (ay.10). Namun, entah mengapa Kohelet tiba pada kesadaran kalau itu semua sia-sia layaknya menjaring angin. Tidak ada keuntungan di bawah matahari (ay.11).

Pernyataan Kohelet ini seperti memutarbalikkan kajian akademik dari Abraham Maslow akan piramida kebutuhan manusia. Kohelet sudah tiba pada posisi tertinggi dari piramida, tapi ia tetap merasa tidak puas. Mengapa? Kita dapat melakukan komparasi dengan pandangan para filsuf eksistensialis, di mana salah satu pandang yang mirip dengan nas kita adalah keputusasaan. Dalam kajian filsafat eksistensialis, keputusasaan di sini berbeda dengan keputusasaan yang umum dipikirkan. Karena, keputusasaan itu hadir di saat semua tidak dalam kondisi berputusasa atau juga kondisi runtuhnya nilai yang padanya mereka bergantung. Misalnya, secara umum, seorang akan merasa hidupnya tiada berguna apabila ia sudah sakit-sakitan, serta ditinggalkan banyak orang. Keputusasaan yang dimaksud adalah ketika seseorang merasa tiada lagi asa padahal ia sedang baik-baik saja. Perasaan putus asa ini bisa muncul karena adanya absurdisme, di mana kegagalan seseorang memberikan nilai pada keyakinannya. Banyak yang menghubungkannya kemudian kepada sikap ateisme, bahwa pemaknaan hidup itu sangat tergantung dari cara manusia sendiri yang memberikannya. Tetapi, Kohelet sekali lagi memutarbalikkan pandangan sikap ateistme itu. Kohelet merumuskan sikap keputusasaan itu terjadi karena tiada semua prestasi hidup apabila kita tidak mengenal Allah, sehingga tidak takut akan Dia. Padahal, Allah adalah Kekekalan (Pkh.3:14-15).

Pada akhirnya, firman Tuhan pada minggu ini membuka ruang untuk kita memberi makna pada hidup, bahwa segala penilaian dunia akan diri manusia, termasuk kenikmatan yang ada di dalam keberhasilan hidupnya, semua adalah sia-sia. Semua akan berlalu yang ada di bawah matahari, sebagaimana pun kita berusaha menjaring angin sebanyak-banyaknya. Takutlah akan Allah, maka hati kita akan tenang, serta hidup kita memiliki makna yang baru. Mendefinisikan arti takut akan Tuhan Allah akan membuat hidup kita menjadi semakin bermakna, jauh lebih nikmat yang ditawarkan oleh dunia ini.  (ThBS)

 

*) kata Berakot Mayim  diterjemahkan menjadi kolam oleh LAI. Akan tetapi, ada beberapa arti lain dari kata Ibrani itu.

    Salah satunya adalah waduk irigasi, yang dalam konteks nas kita menjadi sangat sesuai dan tepat

Manusia Tidak Diperjualbelikan (Matius 27:1-10)

Sangat menarik ketika uang yang didapatkan Yudas untuk menyerahkan Yesus dikembalikannya lagi kepada imam-imam kepala. Ini tentu akan mengantarkan kita ke dalam dua penjelasan, yaitu 

“Mengapa Yudas mengembalikan uang itu?”, dan, “Mengapa para imam menolaknya?” Di dalam Alkitab, kita untuk hal yang pertama diberitahu kalau Yudas telah menyesal karena menyerahkan Dia, pihak yang tidak bersalah (ay.3-4a). Dan, para imam menolak uang yang dikembalikan Yudas karena mereka merasa itu bukan tanggung jawab mereka, tidak dari pihak Yudas sendirilah (ay.4b).

Yudas di dalam rasa penyesalannya dan pihak yang tertuduh di dalam penyebab kematian Yesus kemudian melemparkan uang itu ke Bait Suci dan mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung dirinya (ay.5). Pihak para imam tetap tidak mau menerima uang darah itu. Mereka melakukan kebijaksanaan bahwa uang darah itu digunakan  untuk menjadi pekuburan orang asing, dan menyebutnya tanah tukang periuk (ay.6-8).

Bisalah kita tarik satu simpulan sederhana, kalau uang darah itu menyebabkan rasa penyesalan Yudas dan membuat ia dengan para imam kepala saling melemparkan tanggung jawab perihal kematian Yesus. Bukankah demikian manusia ketika ditemukan Tuhan Allah saat melakukan dosa, yaitu memakan buah penngetahuan? Manusia menyesal dan saling melemparkan tanggung jawab?

Uang darah adalah hasil dari perbuatan dosa, karena dihasilkan berdasarkan kesepakatan membunuh seseorang. Seolah nyawa Yesus ditentukan dari kesepakatan jual-beli antara para imam kepala dengan Yudas. Apakah hal ini membuat Yesus dengan kuasa Allah di dalamnya takluk pada kuasa manusia dengan dosa di dalamnya? Sekali-kali tidak! Dalam konteks Yudas dan para imam yang menyingkirkan Yesus ini, hal itu menjadi suatu penggenapan akan nubuatan nabi Yeremia pada bangsa Israel (ay.9-10, 1-2).

Firman Tuhan di Minggu-13 Set.Trinitatis ini mengajak kita berefleksi bahwa manusia tidak berkuasa atas nyawa seseorang. Sehingga, perencanaan menghabisi nyawa seseorang dengan alasan apapun itu adalah tindakan dosa. Seperti penembakan seorang pengusaha baru-baru ini di Royal Gading Square yang dilatarbelakangi rasa sakit hati dengan membayarkan nyawanya seharga Rp.200.000.000,- kepada eksekutor.

Kemerdekaan (Ul.15:12-18)


Sistem perbudakan sejak zaman purbakala sudah mengambil tempat di dalam masyarakat. Di zaman Alkitab Perjanjian Lama, sistem perbudakan juga diceritakan telah eksis. Dari beberapa bacaan di Perjanjian Lama, kita bisa melihat bagaimana perbudakan bisa terjadi, misalnya akibat tawanan perang, dibeli, lahir di rumah tuannya, alat ganti rugi, kemauan sendiri, dan tidak bisa melunasi utangnya. Konteks budak di dalam nas kita di minggu ini adalah menjadi budak karena tidak bisa melunasi utang. Karenanya, budak itu bersama keluarganya wajib mengabdi selama 6 tahun, setelah itu tahun ke-7 baru mereka dibebaskan sebagai orang merdeka (ay.12). Aturan dalam kehidupan Israel kala itu, tiap budak yang sudah dilepaskan wajib diberikan bekal dan modal kebutuhan hidup mereka sampai mendapatkan pekerjaan yang layak nantinya (ay.13-14). Hal ini didasarkan pada ingatan bangsa Israel ketika mereka menjadi budak di Mesir (ay.15). Namun, hal yang menarik, ada ruang yang diberikan pada mereka yang masih betah menjadi budak, mungkin karena kebaikan tuan dan keluarganya (ay.16). Mereka yang masih betah menjadi budak harus diberikan tanda, yaitu tindik telinga yang dilakukan di pintu (ay.17). Yang harus disikapi secara hati-hati adalah jangan pernah ada seorang pun tuan yang berat melepaskan budak yang menjual dirinya. Karena, mereka bekerja dengan jasa dua kali lebih berat/banyak dari upah pekerja harian. Sehingga, para tuan bisa diberkati Tuhan (ay.18).

Apa yang dapat kita refleksikan dari gambaran di atas, khususnya di dalam rangka tema kita pada minggu ini? Kita dapat mengambil satu dari sekian sudut pandang teks ini, yaitu perbudakan dapat terjadi karena ketidaksanggupan mengembalikan utang. Dalam konteks iman Kristen, kita berada di dalam perbudakan dosa, karena kita tidak berdaya di dalam melawan segala perbuatan daging dan tunduk kepada kehendak Allah, sehingga kita menjual diri kita kepada perhambaan dosa. Namun, syukur kepada Allah, Yesus telah membeli kita dengan darah-Nya yang kudus. Sehingga, kita tidak tunduk pada perhambaan dosa, tetapi saat ini tunduk pada Tuan kita yang baik, yaitu Kristus di dalam Allah. Dia memberikan kita kebebasan dengan cara yang sangat tiada terhitung, mati di kayu salib, sehingga utang dosa kita lunas dibayar-Nya.

Saat ini, kita telah bebas dan merdeka. Allah telah memberikan kita “modal” yang cukup untuk kita dapat hidup layak merdeka di dalam keselamatan yang diberikan-Nya. Tinggal kita mau memanfaatkannya atau malah ingin kembali tunduk pada perhambaan dosa? Sama dengan kemerdekaan yang diperoleh Indonesia yang kita rayakan tiap 17 Agustus, di mana saat ini telah memasuki tahun ke-75. Kita sudah merdeka dengan rahmat Tuhan kita, melalui perjuangan para pahlawan. Tinggal bagaimana kita mau mengisi kemerdekaan negara yang kita cintai ini? Apakah kita dapat mengembangkan dan mengisi kemerdekaan bangsa ini dengan pembangunan yang bermanfaat untuk masyarakat luas? Misalnya saja, pengembangan sumber daya manusia berbasis sains, tetapi tidak meninggalkan nilai Ketuhanan? Sehingga, pembangunan kita tidak terdistorsi karena ada gap antara ekonomi, sosial, dan spritual?

Melihat realitas yang terjadi, kita mungkin pesimis. Bagaimana mungkin masyarakat kita menjadi terbelah karena perbedaan kepercayaan? Bagaimana kapitalisasi ekonomi yang sangat liberal membuat jurang kaya dan miskin kian terjal? Lebih lucunya, logo 75 tahun kemerdekaan Indonesia menjadi keributan nasional karena dianggap mirip dengan salib?

Kita selaku umat percaya di masa kini tentu tidak ingin hidup di dalam kesia-siaan hidup. Ingat! Tuhan Yesus telah menebus kita dengan darah-Nya yang mahal, yang tercurah di kayu salib. Tinggalkan hal yang tidak membangun. Marilah mengisi kemerdekaan Kristen kita dengan hal yang seturut firman-Nya, serta mengisi kemerdekaan Indonesia dengan hal yang konstruktif di bidang kita.  Seperti dikatakan oleh Dr.Johannes Leimena, seorang Kristen dan seorang pejuang, “Orang Kristen memiliki kewarganegaraan ganda, yaitu kewarganegaraan Kerajaan Allah (surgawi) dan kewarganegaraan Indonesia”. Selamat mengisi kemerdekaan. Merdeka!

BEKERJA UNTUK TUHAN (Kolose 3: 22-25)

 


Di dalam studi postkolonial, ada beberapa sarjana teolog, melihat bagaimana Paulus seolah memberikan dukungan bagi praktek perhambaan/perbudakan di dalam teks kita pada minggu ini. Tapi, beberapa lain melihat, kalau sekalipun seolah Paulus mendukung praktek perhambaan/perbudakan di dalam teks ini, tetapi untuk konteks di zaman ia hidup, Paulus sudah sangat maju di dalam memperjuangkan nilai kemanusiaan. Hal itu terlihat dari bagaimana ia menempatkan seorang perempuan / istri mendapatkan peran yang penting di dalam rumah tangga Kristen. Sedangkan, umat manusia merumuskan Universal Declaration of Human Rights baru di tahun 1948. Bahkan, Amerika Serikat yang selalu menyuarakan pentingnya demokrasi di dalam meningkatkan harkat, martabat, dan derajat kemanusiaan, malah baru-baru ini terpukul dengan perilaku rasial oknum petugas keamanannya. Black Lives Matter menjadi suara yang menggema di seluruh dunia sebagai dampak yang terjadi di negara kemanusiaan itu.

Paulus tentu menggunakan gambaran hubungan Tuan-Hamba di teks kita saat ini tentu di dalam kepentingan untuk mengilustrasikan bagaimana seharusnya hubungan manusia kepada Tuhan. Tentu sekali, di zaman Paulus, hal itu sangat kontekstual dan relevan. Dengan demikian, orang beriman pada masa itu bisa dengan mudah memahami bagaimana seharusnya sikap manusia memosisikan dirinya di hadapan Tuhannya. Konteks firman Tuhan bagi kita di minggu ini, masih di dalam korelasinya dengan bagaimana seorang umat beriman yang telah memutuskan komitmen untuk kehidupan baru di dalam Tuhan, khususnya di dalam kaitannya di rumah tangga.

Hamba pada masa itu dihitung sebagai bagian dari rumah tangga, karena mereka tinggal di tengah keluarga tuannya. Karena mereka hidup dari pemberian tuannya, maka Paulus mengingatkan para hamba untuk tidak melawan, bahkan lari dari tuannya. Malahan, para hamba harus menaati tuannya. Tujuannya, bagi Paulus, bukan hanya sekadar untuk menyenangkan hati tuannya, tetapi juga sebagai bakti mereka di dalam rasa takut akan Tuhan (ay.22).

Perbuatan taat itu menurut Paulus merupakan totalitas dari kehidupan umat percaya sebagaimana mereka memberikan persembahan-penyembahan kepada Tuhan (ay.23). Mengapa demikian? Paulus menjelaskan pada bagian berikutnya karena Tuan yang sejati adalah Kristus (ay.24). Sebagai Tuan, Kristus akan memberikan upah bagi hamba-Nya yang setia. Tetapi, bagi hamba yang berbuat kesalahan, maka Tuhan akan menuntut hamba itu agar menanggung kesalahannya, siapapun ia orangnya (ay.25).

Menggumuli “tesis” Paulus bahwa “apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”, hal itu dapat kita hadapkan dengan pemikiran James Fowler mengenai Tahapan Perkembangan Iman (Faith Development). Fowler mengkonstruksikan bahwa ada 6 tahapan perkembangan iman, sesuai dengan aspek pertumbuhannya, seperti logika (logic), perspektif sosial (social perspective), penilaian moral (moral judgement), kesadaran sosial (social awareness), tempat kekuasaan (locus of authority), dunia koherensi (world cohorence), fungsi simbol (symbolic function). Pada akhirnya, Fowler menempatkan tahapan tertinggi dari pertumbuhan iman adalah Universalisasi Keimanan (Universalizing Faith), di mana seluruh aspek di dalam hidup manusia termaktub di dalamnya. Artinya, seorang percaya dapat melihat kesehari-harian di sekitar hidupnya sangat dekat dengan tindakan beriman. Ia tidak sekadar percaya, tetapi ia mengerjakan apa yang diimaninya itu di dalam seluruh kesadaran, dan perbuatannya.

Bagi kita, umat percaya di masa kini, khususnya warga jemaat GKPI Jelambar, kita dapat merefleksikan bahwa puncak dari kehidupan beriman kita adalah kemampuan kita mengkorelasikan kehidupan sehari-hari kita di dalam iman percaya kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Misalnya saja, di dalam masa sulit Pandemi Covid-19 ini, kita melakukan protokoler kesehatan sebagai adaptasi kehidupan baru di masa kini sesungguhnya kita melakukannya tidak hanya untuk diri kita sendiri saja, tetapi juga untuk Tuhan yang kepadanya kita menyembah-bersembah. Kita mengenakan masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan, karena di dalam kesadaran kita bahwa Tuhan menghendaki kita hidup di dalam kedisiplinan, terutama di dalam menjaga kondusifitas sekeliling kita. Singkatnya, adalah tugas umat percaya di dalam menekan laju infeksi Covid-19 sehingga masa sulit Pandemi Covid-19 ini segera berlalu. Marilah kita bekerja untuk Tuhan!

Kemerdekaan Umat Kristen


Dr.Johannes Leimena, sebagai seorang patriot negara, pernah menyampaikan, "umat Kristen secara paradoks memiliki dua kewarganegaraan, yaitu warga negara surgawi/kerajaan Allah dan warga negara dunia/Indonesia".

Dalam konteks "double citizenship" ini, kita mendapatkan kemerdekaan dengan cara yang mahal. Sebagai warga negara surgawi, kita merdeka karena telah ditebus dari kuasa maut dosa dengan darah suci Yesus Kristus yang tercurah di kayu salib. Sebagai warga negara Indonesia, kita merdeka dengan darah para pahlawan yang tercurah bahkan gugur di medan tempur.

Karenanya, kita sebagai seorang Kristen sangat perlu sekali merespons kemerdekaan ini dengan sungguh-sungguh.

Paulus mengatakan, kemerdekaan adalah kesempatan untuk melayani dengan kasih

"Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih, Gal.5:13

Rabu, 24 Juni 2020

Kebanggaan Seorang Bapak




Aku sangat beruntung dapat melihat secara langsung proses persalinan KKS dan SKS di ruangan bersalin.
Pengalaman yang sangat luar biasa melihat bagaimana upaya dari tenaga kesehatan ketika membantu istriku yang sangat berjuang mati-matian mengeluarkan anak-anak kami ini dari dalam rahimnya.
Mungkin, ini salah satu faktor yang membuatku sangat menyayangi istri dan anak-anakku.
Air mata bahagia selalu menetes ketika mendengar tangis anak-anakku yang pecah pertama kalinya.
Ada rasa bangga ketika sebagai seorang Bapak aku boleh mendoakan anakku pertama kalinya di ruang bayi, juga memastikan mereka langsung mendapatkan suntik Vitamin K, Hepatitis B, dan Salap Mata.
Sekarang, tanggung jawab utama adalah selain menjadi seorang pendeta yang benar bagi warga jemaat yang dipercayakan kepadaku, aku juga harus mendampingi istriku untuk membesarkan anak-anak kami ini.
Suatu tanggung jawab pribadi yang tidak mudah. Karena, aku selalu memberi target agar ada pertumbuhan iman bersama yang nyata di tengah jemaat yang kulayani, serta mengantarkan anak-anakku ini ke gerbang masa depan yang baik, yang membanggakan keluarga, gereja, masyarakat, terlebih di hadapan Tuhan.
Kesetiaan Tuhan tentu menjadi jaminan untuk tetap berpengarapan di masa sulit ini.

Brother And Sister (Saudara Laki-Laki dan Saudara Perempuan)



Setelah Bapak, sosok terbaik yang dapat menjaminkan rasa aman bagi seorang perempuan adalah saudara laki-lakinya.

Saudara laki-laki itu selalu seolah tidak peduli. Tapi, seorang perempuan tahu persis bahwa kapan pun dan di mana pun, kalau saudara laki-lakinya itu selalu memerhatikannya, mencintainya, mempedulikannya, dan selalu ada untuknya di saat baik atau buruk kehidupan.