Minggu, 30 Juni 2019

Mengikut Yesus Keputusanku

Tiap hari, ada banyak orang di dunia yang mengkonversi agamanya, termasuk mereka yang meninggalkan Kekristenannya. Itu bukan hal yang baru lagi, secara khusus kasus yang ada di Indonesia.
Biasanya, hal itu menjadi besar bila yang melakukannya adalah publik figur, seperti Bella Saphira Simanjuntak, Melly Goeslow, Angelina Sondakh, Christian Sugiono, Lulu Tobing, dan terakhir adalah Deddy Corbuzier.
Sebagai seorang Kristen, aku tak pernah resah dan sedih melihat fenomena seperti ini. Aku malah salut dengan pilihan mereka yang demikian. Mereka telah menggunakan kesempatan untuk memilih bagian terbaik dari hidupnya.
Menjadi seorang pengikut Kristus ini memang sangat berat. Kesetiaan merupakan bagian dari identitas hidup mereka. Sebagaimana kita ketahui, kesetiaan adalah barang yang sangat mahal harganya di dalam hidup ini.
Contoh kesetiaan hidup seorang Kristen:
Di dalam pernikahan, seorang Kristen tidak boleh bercerai kecuali salah satu pasangannya bertindak tidak setia karena zinah dan (atau) mereka dipisahkan oleh kematian.
Di dalam pekerjaan, mereka harus bekerja secara jujur, total, dan loyal seolah mereka bekerja untuk Tuhan.
Di dalam hidup bernegara, seorang Kristen harus setia pada pemerintah.
Semua hal kesetiaan itu telah diaturkan oleh firman Tuhan bagi seorang Kristen.
Kekristenan bukanlah soal jumlah berapa banyak orangnya (kuantitas), akan tetapi soal seberapa besar rasa cintanya di dalam mengenal Kristus (kualitas).
Jadi, kesetiaan seorang Kristen itu lebih pada karena penghayatannya akan kasih Allah yang bekerja di hidupnya. Ikrar iman seorang Kristen bekerja di dalam pengharapannya dan kasihnya.
Mereka yang mengkonversi Kekristenannya malah menjadi semangat bagiku untuk tetap hidup di dalam ikrar iman Kristenku. Terlahir sebagai seorang Kristen, menikah sebagai seorang Kristen, dan mati sebagai seorang Kristen.
Aku sejak kecil sangat tersentuh dengan lagu Sekolah Minggu,
Mengikut Yesus keputusanku.
Mengikut Yesus keputusanku.
Mengikut Yesus keputusanku.
Kutak ingkar, kutak ingkar
Kuikut sampai, kulihat Yesus.
Kuikut sampai kulihat Yesus.
Kuikat sampai kulihat Yesus.
Kutak ingkar, kutak ingkar.
Pdt.Th.B.Sibarani (GKPI Ressort Sumbul)
Sumbul - Jumat, 21 Juni 2019

Sabtu, 29 Juni 2019

Ingatan Kolektif (Alm.Pdt.Em.P.Sibarani)

Kami bertemu pertama kalinya sekitar September 2017. Akan tetapi, suasana pertemuan kami yang pertama itu sudah sangat akrab dan penuh kekeluargaan. Kami seperti sudah saling kenal bertahun-tahun lamanya. Aku memanggilnya dengan Amanguda, karena secara tutur kekeluargaan Sibarani begitulah seharusnya.
Kalau tidak salah ingat, Alm.Pdt.(Em.) P.Sibarani / amanguda ini baru saja pensiun dari tugas kependetaannya di HKBP ketika kami bertemu. Kami karenanya banyak berbicara tentang pengalaman tugas pelayanannya, mulai dari ia menjadi calon pendeta, lalu penempatan pertamanya pendeta, sampai akhirnya masa pensiunnya.Kami cerita panjang lebar di rumah pensiunnya, yang diberinya nama "Sopo Pangkirimon" (Rumah Pengharapan)
Hal yang sangat kuingat amanguda adalah nasehatnya yang sangat bernas bagiku, di mana hal ini kemudian berkontribusi besar untuk pelayananku di saat ini. Ada tiga hal yang menjadi nasehat amanguda kala itu:
Pertama, ia menasehatkanku agar senantiasa menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh di dalam tugas pelayanan. Bukan tanpa alasan amanguda ini memberikan nasehat demikian. Ia melihat semasa hidupnya ada banyak pendeta yang masih muda dan aktif tapi sudah sakit-sakitan. Akibatnya, ada banyak jemaat yang tidak terlayani kebutuhan imannya.
Selanjutnya, Amanguda memberikan nasehat keras untukku supaya selagi masih muda jangan membiasakan diri untuk memikirkan pelayanan hanya untuk mendapatkan uang/materi. Amanguda ini menegaskan kalau mau jadi kaya secara harta, tidak perlu menjadi pendeta, karena seorang pendeta harus menyangkal dirinya dari keinginan daging yang lekat dengan harta dunia.
Terakhir, ia berpesan padaku, sebagai seorang pendeta laki-laki, aku harus dapat terlebih dahulu membimbing keluargaku baru jemaatku. Menurut amanguda ini, seorang pendeta yang sudah ditahbiskan jabatannya, ia juga sudah sepenuhnya milik jemaat. Aku diingatkannya dengan tegas supaya memberikan pemahaman pada istri dan anak-anakku agar mau memahami tugas suami dan bapaknya sebagai seorang pendeta. Hal terakhir ini berulangkali ditegaskannya,
"Jangan ajarkan istrimu mencari tambahan uang kependetaanmu yang sedikit itu, tapi ajarkan istrimu untuk mendukung dan mendoakan yang sedikit itu supaya menjadi berkat di dalam hidup kalian".
Adapun aku yang selalu semangat berdiskusi, tapi kali itu hanya banyak diam saja. Aku tidak tahu kalau pertemuan kami ini sangat singkat.
Tanggal 13 Juni 2018, Amanguda ini sudah menghadap Penciptanya. Secara pribadi, hal ini sangat menyedihkanku karena aku masih butuh nasehatnya, seperti seorang anak pada bapaknya dan seperti seorang junior pada seniornya.
Aku meyakini bahwa perjumpaan itu memang singkat, tapi kenangan akan selalu abadi.
Caraku mengenang nasehatnya adalah mengabadikannya di sosial mediaku. Dengan demikian, nasehat ini akan terus menjadi ingatan kolektif.
Sumbul, 25 Juni 2019

Kamis, 27 Juni 2019

Perlengkapan Senjata Allah (Efesus 6:10-20)

Sumber : Internet

Minggu-6 Set.Trinitatis, 28 Juli 2019

Epistel : Efesus 6:10-20


Pendahuluan
Foulkes (1991) menyatakan kalau Surat Paulus pada Jemaat di Filipi ini dituliskannya ketika ia berada di dalam penjara. Paulus prihatin dengan kondisi jemaat di Efesus. Situasi jemaat di Efesus saat itu sedang kurang kondusif, khususnya dari yang berlatar belakang Yahudi dan non-Yahudi. Ancaman perpecahan internal terpampang di depan jikalau persoalan tidak segera dikendalikan. Selain itu, tantangan dari luar yaitu sihir dan berhala datang mengancam komunitas umat percaya di Efesus. Karenanya, Paulus mengingatkan jemaat di sana bahwa mereka itu anak-anak terang Allah. Penting bagi jemaat di Efesus untuk meninggikan nama Yesus, di samping membangun komunitas di dalam persatuan tubuh Kristus dengan ragam karunia yang mereka miliki.  Hal ini didukung oleh Abineno (1997) yang memberikan informasi tambahan tentang surat ini sebagai nasehat Paulus pada jemaat di sana untuk menghayati rencana Allah atas dunia ini di dalam Yesus Kristus.

Pembahasan
            Paulus berharap agar jemaat di Efesus tetap kuat di dalam pergumulan yang dialaminya. Kekuatan yang mereka andalkan harus di dalam kuasa Tuhan (ay.10). Mengenai “kuasa” yang dimaksudkan oleh Paulus, hal itu telah dijelaskannya di bagian awal suratnya. Di Efesus 1:19b-23, kuasa yang ada pada Yesus merupakan kuasa dari Allah melalui kebangkitan-Nya dan mendudukkan-Nya di sebelah kanan-Nya di surga, lebih tinggi dari pemerintah dan penguasa serta kerajaan yang ada di dunia. Paulus meminta umat percaya untuk tidak terpengaruh dari hal-hal jahat yang dapat merusak persekutuan jemaat di Efesus. Semua itu dikatakan Paulus merupakan muslihat dari Iblis yang harus dilawan. Supaya kita dapat bertahan dari muslihat jahatnya, Paulus mengajak umat percaya untuk mengenakan seluruh persenjataan Allah (ay.11). Ketika menggunakan istilah persenjataan, Paulus sesungguhnya sedang membangun perspektif kalau usaha umat percaya untuk melawan muslihat Iblis itu sama dengan seorang yang sedang berperang melawan musuh di medan tempur. Namun, peperangan yang dimaksud Paulus hanya gambaran bukan soal fisik yang terdiri dari darah dan daging. Gambaran muslihat Iblis yang dimaksud Paulus perlu diperangi ada pada pemerintah, penguasa, penghulu dumia gelap, dan roh jahat di udara (ay.12).
            Perlengkapan senjata Allah sangat diperlukan oleh umat percaya untuk berperang melawan muslihat Iblis karena itulah yang membuat kita sanggup melawannya dan tetap berdiri tegap sekalipun penuh bahaya (ay.13).Umat percaya tidak boleh kalah. Ikat pinggang mereka adalah kebenaran, dan baju zirah mereka adalah keadian (ay.14). Fungsi ikat pinggang pada baju perang di masa itu adalah menjaga baju zirah untuk tetap melekat pada tubuh serta mengikat pedang. Bila ditafisrkan secara konteksnya, Paulus memaksudkan muslihat Iblis tidak akan bisa merusak persekutuan umat Tuhan bila mereka hidup di dalam kebenaran. Karena, kebenaran itulah yang mendatangkan keadilan bagi semua orang. Muslihat Iblis memang sering datang di dalam cara-cara manipulatif/memperdaya seseorang melalui fakta yang diputarbalikkan, sehingga tidak ada lagi keadilan diakibatkannya. Karena itu, Paulus meminta umat percaya di Efesus untuk selalu berjalan di dalam kerelaan untuk memberitakan Injil yang damai sejahtera (ay.15).
            Paulus melihat cara umat di Efesus bertahan dari serangan muslihat Iblis adalah dengan menangkisnya dengan perisai iman (ay.16). Iman ini sangat krusial bagi mereka yang percaya kepada Yesus. Karena, Yesus pernah mengatakan pada seorang perempuan sakit pendarahan yang menjamah-Nya dan sembuh, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pulanglah dengan selamat”. Paulus menggambarkan firman Allah sebagai ketopong keselamatan dan pedang Roh. Ini sangat menarik karena Paulus melihat dua sisi fungsi dari firman Allah, pertama sebagai hadiah mahkota keselamatan dan satu lagi sebagai senjata bermata dua yang lebih tajam dari pedang apapun yang sanggup menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi dan sumsum dan sanggup membedakan pertimbangan hati dan pikiran (bnd.Ibr.4:12). Paulus juga memohon pada jemaat di Efesus untuk hidup di dalam pengharapan melalui doa permohonan yang dipanjatkan. Akan tetapi, doa yang dimaksud Paulus harus sungguh-sungguh, di mana doa itu dipanjatkan tiap waktu di dalam Roh. Paulus meminta jemaat Efesus mendoakan orang Kudus dan dirinya yang sedang berada di penjara, sehingga dikaruniakan keberanian dan perkataan benar. Paulus ingin dirinya senantiasa membukakan mulutnya untuk memberitakan Injil dengan setia seumur hidupnya (ay.18-20).

Renungan
            Di dalam kehidupan ini, kita pun sering mendapatkan tantangan dari muslihat Iblis. Inilah yang diminta Paulus bagi kita umat percaya di masa kini supaya dengan berani kita memeranginya. Yesus sendiri pernah dicobai oleh muslihat Iblis, tapi Dia berhasil menang (bnd.Mat.4:1-11; Luk.4:1-14). Kita pun sebagai pengikut Kristus harus mampu menang melawan muslihat Iblis itu. Karenanya, kita diberikan tips untuk menghadapi muslihat Iblis, yaitu tinggal di dalam kuasa Tuhan, tetap melakukan kebenaran dan keadilan sekalipun di tengah situasi rumit, memiliki hati yang rela memberitakan hal sukacita/damai sejahtera, setia di dalam iman, selalu mengandalkan firman Allah, dan tidak putus-putusnya berdoa bagi perkabaran Injil.
            Kewaspadaan kita sebagai pengikut Kristus harus ditingkatkan, karena musuh kita, yaitu muslihat Iblis, adalah sesuatu yang tidak dapat kita lihat. Dalam contoh kehidupan sehari-hari, salah satunya bisa kita lihat dari bagaimana seseorang yang dengan maksud terselubung menggunakan nama Tuhan tetapi tujuannya untuk kepentingan dirinya sendiri. Ini merupakan muslihat Tuhan yang tampak di tengah masyarakat, bahkan di tengah gereja kita sendiri. Seolah-olah mendatangkan kebaikan, tetapi hasilnya adalah perpecahan.

Diskusi
1.      Pernahkah Anda menjumpai salah satu muslihat Iblis di tengah-tengah kehidupan Anda?
2.      Bagaimana cara Anda untuk menghadapi muslihat Iblis itu?
3.      Menurut Anda, efektifkah saran Paulus tentang Perlengkapan Rohani itu ketika menghadapi muslihat Iblis?

Pdt.Theodorus B.Sibarani, S.Si-Teol, M.Kessos
GKPI Ressort Sumbul & Plt.GKPI Ressort Jumaramba
Wilayah IV : Dairi-Tanah Karo

Kemenangan Bersama Tuhan (Hakim-Hakim 7:2-9)


Gideon dan Pasukan Perangnya (Sumber : JW.org)
Minggu-6 Set.Trinitatis, 
28 Juli 2019
Kemenangan Bersama Tuhan
Evanggelium: 
Hakim-Hakim 7:2-9

Pendahuluan
Di dalam Teori Sumber, kitab Hakim-Hakim masuk ke dalam bagian DH (Deuteronomistic History), sebuah hipotesa yang pertama kali dirumuskan oleh Martin Noth pada tahun 1943. Dijelaskan oleh Campbell & O’Brein (2000), tulisan DH ini memberikan informasi tentang tradisi Israel dengan berbagai karya sastra di dalamnya berada di bawah pengaruh teologi dan ekspresi linguistik dari berbagai hukum di dalam kitab Ulangan. Melengkapi kajian Noth, Frank M.Cross (1973) memaparkan kisah di tulisan DH ini tidak hanya membahas tentang hukum dan malapetaka dari Tuhan yang datang karena murtadnya Israel, akan tetapi tulisan ini juga membahas tentang anugerah dari Tuhan. John A.Titaley (2014) di dalam Kata Pengantarnya untuk Buku Robert B.Coote, “Sejarah Deuteronomistik” menjelaskan kalau kitab Hakim-Hakim secara khusus merupakan gambaran dari kegagalan pemimpin Israel di Utara pada zaman Yosia, yaitu para pemimpin provinsi yang ditetapkan oleh Asyur. Apa yang disampaikan oleh Titaley sebagai ahli PL mengenai kitab Hakim-Hakim sejalan dengan ahli PL lainnya, yaitu Blommendaal (1985). Kitab ini menurutnya disunting pada masa pemerintahan Yosia dengan tujuan untuk menyatukan antara Utara dan Selatan.

Pembahasan
            Nas kita di Minggu ini bila merujuk pada bagian Pendahuluan memiliki benang merah yang kuat, yaitu konteks Israel diserahkan pada bangsa Midian karena bangsa Israel melakukan apa yang jahat di mata Allah (Hak.6:1). Tekanan bangsa Midian pada bangsa Israel berlangsung selama tujuh tahun lamanya. Melihat dari penderitaan yang dialami oleh bangsa itu, kita dapat memahami betapa kejam dan kuatnya bangsa Midian. Pergerakkan bangsa Israel pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena takut berjumpa dengan bangsa Midian. Ini ditandai dengan didirikannya kubu pertahanan bangsa Israel. Ketika Allah merasa cukup untuk memberikan hukuman pada bangsa Israel, Gideon diutus untuk membebaskan bangsa itu dari tekanan bangsa Midian. Hal itu ditandai dengan penebangan tiang berhala bangsa Midian di daerah kubu pertahanan bangsa Israel, lalu menggantikannya dengan mezbah Tuhan untuk memberikan persembahan kepada Tuhan Allah (Hak.6:26). Bangsa Israel merasa cemas dan kuatir dengan tumbangnya tiang berhala bangsa Midian, karena hal ini akan membuat mereka akan diamuk oleh bangsa Midian (Hak.6:29). Secara politis, tindakan Gideon yang dilakukannya berdasarkan perintah Allah merupakan pernyataan sikap terbuka bangsa Israel untuk berperang melawan bangsa Midian. Kekuatiran ini yang membuat Gideon ditekan oleh bangsa Israel yang takut menghadapi musuhnya, bangsa Midian. Yoas, ayahnya Gideon, lalu mencoba untuk melindungi anaknya dengan bertanya siapakah yang akan mereka bela? Apakah baalnya bangsa Midian? Atau, menolong Gideon yang ditunjuk oleh Allah? (Hak.6:31).
            Gideon sebenarnya tidak seberani yang disaksikan oleh bangsa Israel. Penampakkan malaikat Tuhan padanya pun tidak cukup meyakinkannya untuk maju memimpin Israel melawan bangsa Midian (Hak.6:22). Ia oleh karenanya sampai meminta dua kali lagi tanda dari Tuhan Allah, embun di potongan bulu domba (Hak.6:36-40). Semua tanda yang diminta oleh Gideon diberikan oleh Tuhan Allah. Itulah yang meyakinkan Gideon untuk siap memimpin bangsa Israel menghadapi bangsa Midian. Ini kemudian yang menjadi konteks nas kita minggu ini, persiapan Gideon menghadapi bangsa Midian. Tuhan melihat terlalu banyak bangsa Israel yang hendak akan berperang melawan bangsa Midian. Tuhan sepertinya mengetahui ada niatan kurang baik di balik partisipasi bangsa itu berperang. Mereka ingin memegahkan dirinya atas Tuhan bahwa mereka sendiri yang mengalahkan bangsa Midian dengan tangannya sendiri; bukan karena dukungan dari Tuhan (ay.2).
            Melalui Gideon, Tuhan berseru agar rakyat itu yang merasa takut supaya pulang dari gunung Gilead. Nas kita mencatat ada 22.000 orang yang pulang dan tinggal sekarang hanya 10.000 orang saja (ay.3). Namun, Tuhan masih melihat jumlah mereka ini terlalu banyak untuk berperang melawan bangsa Midian. Tuhan ingin menyaring lagi dari 10.000 orang ini dengan cara memerhatikan cara mereka minum air. Kata “menyaring” di ayat 4 ini berasal dari kata Ibrani tsaraph yang arti utamanya adalah (proses) pemurnian (suatu logam). Di dalam proses kimia, pemurniaan logam dilakukan guna mendapatkan zat yang murni setelah pemisahan dilakukan dari kontaminasi campuran zat yang lain. Karenanya, hasil akhir yang didapatkan setelah proses pemurniaan selesai itu dilakukan adalah tinggal 300 orang. Mereka yang 300 orang ini bukan minum dengan cara menghirup air dengan lidahnya seperti anjing menjilat, tetapi berlutut untuk minum (ay.5-6).
            Secara teoritis, bangsa Israel yang didukung oleh 300 pasukan akan sangat sulit mengalahkan 135.000 pasukan (Hak.8:10). Matematisnya, satu orang pasukan bangsa Israel harus bertarung melawan 337 pasukan Midian. Namun, janji Tuhan pada Gideon bahwa Dia sendiri yang akan menyerahkan bangsa Midian ke tangan bangsa Israel (ay.7). Ke-300 orang yang menjadi pasukan ini pun berpisah dengan rakyat Israel lainnya. Mereka hanya mengambil bekal, sangkakala beserta kemah saja, karena yang lainnya sudah disuruh pulang (ay.8). Perintah Tuhan di dalam rencana peperangan adalah mereka harus bangun dan menyerbu perkemahan bangsa Midian pada malam hari. Di saat itulah, Tuhan akan menyerahkan bangsa Midian ke dalam tangan bangsa Israel (ay.9). Sehingga, kehidupan bangsa Israel akan segera dipulihkan.  

Renungan
            Situasi rumit di dalam kehidupan kita ini sering terjadi kadang oleh karena perbuatan kita sendiri. Namun, kita di dalam hal demikian masih dapat merasa kuat dan mampu untuk mengatasinya, seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel ketika mencoba lepas dari tekanan bangsa Midian. Akhirnya, hasil yang kita dapatkan sia-sia karena Tuhan tidak ikut serta di dalam usaha kita. Lambat laun, persoalan hidup itu menjadi momok yang sangat menakutkan bagi kita, sebagaimana bangsa Midian begitu ditakuti oleh bangsa Israel.Untuk itulah, kita membutuhkan Tuhan di dalam perjuangan kita melawan persoalan hidup itu, baik di soal ekonomi, pekerjaan, keluarga, sakit-penyakit, dlsb. Yang menjadi pergumulan pertama-tama adalah apakah Tuhan benar-benar akan ikut serta bila kita memohon pertolongan-Nya? Layaknya Gideon yang meragu, kita pun demikian, sering meragukan campur tangan Tuhan di dalam persoalan hidup yang kita alami. Yang kita butuhkan tidak lain tanda-tanda dari Tuhan bahwa Dia turut serta di dalam usaha kita menggumuli persoalan itu.
            Padahal, Tuhan sering memberikan berbagai tanda pada kita bahwa Dia selalu ada menyertai kita. Tanda itu bisa melalui orang di sekitar kita, atau hal-hal yang kita jumpai sehari-hari. Kita saja yang perlu lebih peka lagi untuk melihat tanda yang diberikan Tuhan itu. Kita diberikan-Nya iman, pengharapan, dan kasih sebagai pegangan kita menjalani kehidupan. Di dalam iman itu, kita percaya Tuhan berjanji selalu menyertai hidup kita. Itu alasan kita tetap berpengharapan. Dan, kita di dalam pengharapan itu hidup di dalam kasih Tuhan. Lalu, apalagi yang membuat kita meragu untuk maju “berperang” melawan pergumulan dan ketakutan kita itu?
            Dari nas di Minggu ini, kita setidaknya dapat belajar tiga hal tentang bagaimana cara kita dapat menang menghadapi persoalan/tantangan kehidupan kita, yaitu:

1.      Memiliki Niatan yang Baik
Di nas kita ini, bangsa Israel dinilai oleh Tuhan memiliki potensi untuk memegahkan diri sendiri ketika nantinya menang melawan bangsa Midian. Partisipasi mereka di dalam memenuhi panggilan Tuhan melalui Gideon menjadi tidak murni lagi niatnya. Tuhan tidak suka dengan sikap demikian. Itu namanya sudah mencuri kemuliaan Tuhan. Karena, Tuhan yang bekerja, tetapi malah manusia yang mendapatkan nama. Ketika kita melibatkan Tuhan di dalam setiap rencana usaha kita menghadapi persoalan hidup, kita harus mengaku kita ini bukan siapa-siapa di hadapan Tuhan. Kemenangan umat percaya di dalam pengakuan kita hanyalah kita dapatkan melalui belas kasihan pertolongan Tuhan semata.

2.      Mau dimurnikan oleh Tuhan
Ketika kita mengundang kehadiran Tuhan, maka kita harus mau dimurnikan-Nya. Segala hal yang membuat kita menjadi sombong, tinggi hati, dan sikap kurang baik lainnya di hadapan Tuhan perlu diuji agar didapatkan sikap diri yang benar-benar layak. Kekuatan Allah bekerja bukan pada mereka yang memiliki banyak hal untuk dipamerkan dan disombongkan, tetapi mereka yang merasa lemah di hadapan Tuhan dan benar-benar membutuhkan pertolongan Tuhan. Dengan belas kasihan Tuhan semata, kita di dalam segala kekurangan hidup kita akan dimenangkan oleh Tuhan untuk mendatangkan kemuliaan nama-Nya.

3.      Bersedia dibimbing oleh Tuhan
Kita mengetahui bahwa kita sudah dimurnikan oleh Tuhan dari ketundukkan yang kita miliki di dalam bimbingan/arahan-Nya. Rasanya mustahil atau sulit terealisasi apa yang akan dikerjakan Tuhan di dalam memenangkan kita dari persoalan hidup. Namun, kita harus patuh dan percaya di dalam bimbingan-Nya. Rencana Tuhan bagi hidup kita adalah rencana yang mendatangkan damai sejahtera, bukan kecelakaan. Sama seperti bangsa Israel yang dibimbing oleh Tuhan untuk menyerang bangsa Midian di malam hari dengan kekuatan pasukan hanya 300 orang. Secara teoritis, hal itu merupakan sesuatu yang mustahil. Akan tetapi, bangsa Israel melalui Gideon taat pada bimbingan Tuhan. Mereka tahu betul kalau pada saat mereka melakukannya sesuai dengan perintah Tuhan, pada saat itu pula Tuhan akan memberikan kemenangan pada umat-Nya.  

Pdt.Theodorus B.Sibarani, S.Si-Teol, M.Kessos
GKPI Ressort Sumbul & Plt.GKPI Ressort Jumaramba
Wilayah IV : Dairi-Tanah Karo