Selasa, 14 Desember 2010

Pdt.Prof.Drs.John Adrian Titaley, Th.D


Profil dari Pdt.Prof.Drs.John Adrian Titaley, Th.D
Tempat dan Tanggal Lahir : Sorong, 19 Juni 1950
Pendidikan :
1978, Sarjana Teologi (Drs) dari Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW)
1995, Doctor of Theology (Th.D) dari Graduate Theological Union (GTU), Berkeley, USA.
Minat Studi :
Studi Interdisiplin (Perjanjian Lama dan Agama Masyarakat)


Tentang Beliau :
Pak John atau Om John, begitu civitas UKSW menyapa Pdt.Prof.Drs.John Adrian Titaley, Th.D. Tubuhnya tinggi dan besar, rambut yang berwarna putih serta wajah yang semi oriental membuat Pak John sudah seperti orang Barat. Dalam suatu kelas, beliau pernah bercerita mengenai asal-usul namanya. Sewaktu lahir, beliau bernama asli Johanes Adrian Titaley. Orangtuanya berlatarbelakang suku Ambon dan Tionghua. Semenjak ditinggal ayah dan ibunya, beliau merantau ke pulau Jawa karena di tanah Maluku sudah tidak ada apa-apa yang bisa dilakukan lagi. Beliau hidup dari belas kasihan sanak saudaranya dan berharap suatu saat nanti dapat mengubah nasibnya menjadi lebih baik lagi. Bukan suatu kebetulan jikalau beliau mendaftar ke fakultas teologi UKSW di akhir tahun 1960-an. Aktif di lembaga senat mahasiswa universitas menghantarkan beliau menjadi sekretaris umum senat mahasiswa universitas (Sekum SMU). Di kalangan mahasiswa, Johanes Adrian Titaley lebih sering disapa dengan panggilan John. Bahkan ketika lulus pun, nama yang digunakan adalah John Adrian Titaley. Dengan penuh canda, beliau mengatakan : “Belum ada syukuran apa-apa, nama saya sudah diganti seenak-enak mereka” (disambut galak tawa di kelas). Prestasi akademik yang baik membuat John Titaley menjadi salah satu staf pengajar di fakultas Teologi UKSW, sampai pada akhirnya beliau melanjutkan studi ke negeri Paman Sam. Beliau berhasil mengubah nasibnya yang kurang baik menjadi lebih baik. “Tidak ada yang susah sebelum dicoba dan jangan pernah berhenti mencoba” itulah yang disampaikan beliau di akhir cerita asal-usul kehidupan dan namanya itu.

Dalam kegiatan akademis di UKSW, beliau bisa disebut sebagai tokoh penting UKSW. Ada banyak kisah fenomenal dan kontroversial selama beliau berkarier di UKSW. Peristiwa yang penting adalah ketika kerusuhan tahun 1995 di UKSW, yang menjadi tahun gelap dalam sejarah UKSW, beliau dianggap sebagai opurtunis saat terjadi gonjang-ganjing kehidupan kampus. John Titaley menerima jabatan menjadi direktur Program Pascasarjana Studi Pembangunan (PPs-SP) dari direktur sebelumnya John Ihalauw yang pada saat itu mundur. Pada tahun 2001, beliau terpilih menjadi rektor kelima di UKSW. Pada era pemerintahan beliau, UKSW dihebohkan dengan sistem trimester (dalam 1 tahun kalender akademik, ada tiga semester masa kuliah). Sontak UKSW langsung heboh, ada civitas yang pro namun ada juga yang kontra dengan sistem kuliah seperti itu. Benar saja, di masa peralihan dari dwimester (atau lebih dikenal dengan sistem semester) ke trimester terjadi benturan-benturan yang tidak dapat dihindarkan di antara civitas UKSW pada masa itu. Selesai era kepemimpinan beliau, Rektor keenam UKSW, Prof.Dr.Kris H.Timotius, mencoba meredakan sistem trimester. Akibatnya pada era beliau, ada dua sistem perkuliahan yang dipakai, ada yang menggunakan dua semester, ada juga yang menggunakan tiga semester, tetapi ada juga yang memakai dua semester ditambah satu semester pengayaan. Pada pemilihan rektor ketujuh UKSW, Pak John kembali maju menjadi calon. Saingan terberat Pak John datang dari rektor sebelumnya yaitu Pak Kris Timotius. Dalam penyaringan bakal calon rektor, Pak John sempat dicoret dengan alasan tidak sesuai dengan penilaian Pansus. Bukan Pak John namanya kalau kalah dengan cara seperti itu. Beliau merasa ada aneh dari apa yang dilakukan oleh Pansus pada saat itu. Bersama tim suksesnya, beliau menyatakan peninjauan ulang kembali dalam pembobotan penilaian Pansus. Memang sudah diperkirakan oleh khalayak Teologi UKSW pada saat itu, jikalau Pak John lulus seleksi, pasti beliau akan menang di putaran berikutnya. Sebagai informasi, setelah lolos dari seleksi Pansus, para bakal calon menjadi calon rektor yang dipilih langsung oleh Yayasan UKSW. Ada yang mengatakan Pak John dekat dengan pihak Yayasan sehingga harus dihentikan dalam tahap seleksi bakal calon rektor. Apa pun penafsiran civitas UKSW, Pak John masuk menjadi calon rektor dan memenangkan pemilihan rektor. Ya, beliau adalah rektor ketujuh UKSW (2010-2014). Pada masa kepemimpinannya kali ini, beliau bertekad untuk menjadikan UKSW sebagai universitas riset, di mana beliau mendorong penelitian dari para civitas akademia terkhusus bagi para dosen UKSW.

Di kalangan akademis teologi, Pak John mengajar beberapa mata kuliah, seperti Pengantar Hermeneutik Perjanjian Lama, Hermeneutik Perjanjian Lama, Sosiologi Gereja, Pengantar Sosiologi dan Teologi Kontekstual. Beliau juga salah satu pengagas berdirinya Program Pascasarjana Sosiologi Agama (PPs-SA) UKSW. Pemikiran beliau di dunia teologi begitu mendalam. Beliau mengembangkan pemikiran mengenai identitas nasionalis dalam kehidupan beragama di Indonesia yang selama ini diwarnai oleh identitas primordialisme. Dalam kajian biblika, beliau mengembangkan pemikiran sosio-historis sebagai suatu fondasi hermeneutisnya. Oleh karena itu, lulusan fakultas teologi UKSW sangat kental dengan nuansa sosiologi agama dibanding nuansa biblisnya. Hal itu menjadi warna atau corak tersendiri bagi lulusan UKSW. Dan semuanya itu digagas oleh John Titaley dengan pemikirannya yang cemerlang. Dalam suatu kelas Teologi Kontekstual, beliau pernah mendapat pertanyaan yang agak memojokan beliau, yaitu mengapa pemikiran cemerlang beliau tentang agama tidak dapat diperkenalkan dalam kehidupan di Indonesia? Beliau agak berpikir sejenak dan menjawab, “Saya hanya menggagas saja dan kalian adalah duta-duta saya di dunia ini”. Kelemahan lainnya dari Pak John adalah beliau tidak memiliki tulisan dalam bentuk buku. Orang sepintar apapun tapi kalau tidak pernah menghasilkan buku, tentunya masih diragukan kepakarannya. Hal ini yang masih kurang dari seorang John Titaley. Pemikirannya yang begitu cemerlang dan briliant dalam dunia teologi, tidak mampu dituangkan dalam suatu karya tulis (buku).

Pengalaman bersama Pak John

Saat bertemu pertama kali dengan Pak John, saya seperti melihat seorang Bule yang mahir berbahasa Indonesia. Suaranya bass menggema sehingga orang-orang pasti agak takut berbicara dengan beliau. Tetapi ternyata beliau adalah orang yang bersahabat dan rendah hati. Sebagai seorang yang senang menyanyi, saya kagum melihat John Titaley ternyata pernah menjadi pelatih paduan suara UKSW (sekarang bernama Voices of SWCU). Ketika mendengar beliau bernyanyi di salah satu ibadah minggu GPIB Taman Sari, saya merinding mendengar suara merdu beliau. Kepada mahasiswa, beliau sangat bersahabat. Terbukti ketika skripsi saya dibimbing beliau, tanpa sungkan beliau mengundang saya untuk dibimbing langsung di rumahnya saja. Di dalam rumah, saya tidak diperkenankan membuka alas kaki, dengan alasan nanti saya kedinginan. Saya sangat takjub melihat keramahan beliau. Pak John tinggal di perumahan dosen UKSW, dekat dengan tempat tinggal saya di Asrama UKSW. Rumah beliau tidak besar, seperti rumah dosen lainnya yang kecil. Sempat saya merenung, mengapa rektor UKSW tinggal di rumah sekecil ini? Sedangkan banyak dosen UKSW yang rumahnya sudah seperti istana. Hal lain yang khas dari beliau adalah mobil merahnya yang selalu setia menemani. Saat menyetir mobil, biasanya beliau menyandarkan tangannya di jendela mobil yang terbuka dan sesekali melambaikan tangan kepada orang yang menyapanya. Khas karena mobil rektor tidak sebagus mobil dosen-dosen lainnya yang mewah. Satu hal lagi keunikan Pak John adalah beliau sangat sayang dengan anjing. Beliau bercerita tentang anjingnya yang bernama Boncel. Boncel ditemukan Pak John saat masih kecil dan tidak memiliki rumah. Melihat fisiknya yang memprihatinkan karena hanya memiliki satu mata, Pak John memutuskan untuk merawatnya.
Dalam kehidupan kampus, saya menganggap Pak John adalah sosok yang luar biasa. Beliau sepertinya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa teolog itu tidak bodoh. Beliau dapat berbicara persoalan pendidikan, ekonomi, sosial, budaya dan politik. Lebih dari itu, beliau juga mempraktikannya dalam kehidupan, terbukti dari jabatan rektor yang diembannya. Saya melihat Pak John adalah seorang dengan sosok petarung yang gigih dan pantang menyerah. Faktor kerasnya hidup pada masa kecil, membuat saya berpikiran itulah yang menciptakan pribadi Pak John yang pantang menyerah, kokoh dan tegas. Dengan semua yang telah didapatkannya dalam hidup, beliau tidak lantas menjadi sombong dan lupa daratan. Hal ini berbeda dari kebiasaan orang-orang yang dulunya susah namun ketika sukses melupakan orang lain yang membantunya. Pak John tidak seperti itu. Malah beliau berpesan kepada mahasiswanya, “Tidak ada gunanya apa yang kita dapat di dunia ini jikalau kita tidak memiliki hati untuk berbagi” Apa yang dikatakannya sesuai dengan yang dilakukannya. Beliau sangat perhatian dengan orang-orang kecil. Pernah suatu ketika, pegawai kecil UKSW, hampir dijebloskan ke penjara karena dituduh menggelapkan uang pekerjaan timnya. Beliau tanpa pamrih menolong orang kecil itu sampai masalah dituntaskan. Sungguh keteladanan yang luar biasa dari Pak John. Beliau sering mengajar dengan Batik Biak berwarna merah yang sering dikenakannya. Sambil tersenyum Pak John berkata ; “Ayo Bapak-Ibu Pendeta, jangan bangun kesiangan, mau bagaimana jemaatnya nanti kalau pendetanya belum datang?” menanggapi mahasiswa-mahasiswi yang datang terlambat saat jam kuliah pagi.

Pdt.Prof.Mesach Krisetya, M.Th.,M.Div



Profil dari Pdt. Mesach Krisetya, M.Th., M.Div

Tempat dan Tanggal Lahir : Jepara, 9 September 1939
Menikah & Isteri : 11 Oktober 1965 dengan Miriam Wientarti
Anak : Markus Krisetya dan Matius Indiana Krisetya

Pendidikan :

1986 – 1990, Claremont School of Theology, Claremont California, USA. Doctor of Ministry (D.Min), Clinical Pastoral Education, PrairieView Newton, Kansas, USA. Diploma of Advance CPE
1979 – 1981, United Theological College, Bangalore, India. Master of Theology (M.Th)
Christian Counseling Centre, Vellore, India, Diploma of Counseling Psychology
1970 – 1973, Goshen Biblical Seminary, Elkart, Indiana, USA. Master of Divinity (M.Div)
1961 – 1965, Seminari Teologi Baptis Indonesia, Semarang. Baccalaureus Theologia (B.Th)
1958 – 1961, SMA Masehi 1, Dr.Cipto, Semarang
1955 – 1958, SMP Negeri 4 Mlaten, Semarang
1954 , SMP Masehi Sidodadi, Semarang
1947 – 1953, SR Xaverius, Kobong, Semarang.

Jabatan Pendidikan

1973-1979, Rektor Akademi Kristen Wiyata Wacana, Pati
1981-1982, Pendeta Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.
1982-1986, Dekan Fakultas Teologi, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.
1986 , Pembantu Dekan Urusan Akademik, Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana
1991-1994, Ketua Jurusan Studi Konseling Pastoral, Fakultas Teologi UKSW
1981-2010, Pengajar Bidang Pendampingan Pastoral dan Konseling Pastoral, untuk Strata 1 (S1) serta Program Pascasarjana (S2) Sosiologi Agama di UKSW.

Jabatan Gerejawi :
1965-1970, Gembala Jemaat GKMI Jepara
1975-1977, Ketua Departemen Pendidikan Sinode GKMI
1977-1979, Ketua Umum, Sinode GKMI
1983-1986, Ketua Umum, Sinode GKMI
1989-1992, Ketua Departemen Teologi, Sinode GKMI
1992-1995, Ketua Umum, Sinode GKMI
1995-1999, Ketua Umum, Sinode GKMI
1986-1992, Anggota Executive, Asia Mennonite Conference, Hongkong
1990-1997, Executive Member, Mennonite World Conference, Strasbourg, France
1991-1993, President Asia Conference on Pastoral Care amd Counseling
1991-1995, Council Member, The International Council on Pastoral Care and Counseling Noerdwijkerhout, The Netherlands
1995-1999, Vice President, International Council on Pastoral Care&Counseling, Toronto, Canada
1997-2003, President Mennonite World Conference, Strasbourg, France
2007 , bulan Oktober menerima SK Menteri Pendidikan Nasional Jabatan Fungsional Dosen Guru Besar dalam bidang ilmu/mata kuliah Teologi Pastoral Konseling dengan SK No.49743/A4.5/KP/2007

Pengalaman bersama Pak Mesach :

Ketika kali bertemu beliau, saya merasa bingung melihat seorang kakek tua dengan postur badan yang tinggi serta diringi gema suara bass yang khas. Ya beliau adalah Pdt. Prof.Dr.Mesach Krisetya, M.Th., M.Div. Pak Mesach, begitu anak-anak teologi UKSW menyapa beliau. Beliau sangat bersahaja, low profile dan sangat bersahabat. Saat mengajar di kelas, beliau tidak lupa menyisipkan humor, bahkan gerakan-gerakan konyol, yang membuat kelas serempak gegap gempita karena terbahak-bahak menyaksikan aksi beliau. Dalam menyampaikan materi, saya menilai bahan yang diajarkan sangat penuh muatan akademis, ditambah pengalaman hidup yang dimasukan beliau ke dalam bahan pelajaran, membuat mata kuliah yang diampu beliau menjadi semakin menarik dan berkualitas.

Bidang spesial pengajaran beliau adalah pastoral, dan saya tahu beliau sangat pakar dalam hal itu. Mungkin karena latar belakang pastoral yang sangat kental, membuat beliau menjadi orang yang bersahabat dan low profile. Secara pribadi, saya mengalami tiga peristiwa khusus dengan beliau. Pertama, ketika saya praktek di GKI Manyar Surabaya tahun 2008. Ketepatan beliau memimpin ibadah minggu di GKI Manyar Surabaya, akhir bulan September 2008. Saya di-sms beliau untuk berjumpa di ruang tamu gereja. Beliau sangat perhatian dengan saya, bahkan saat jamuan makan malam dari pihak gereja, saya diajak serta oleh beliau. Ketika hendak kembali ke Salatiga, beliau kembali memanggil saya. Kali ini beliau melalui isterinya menyangoni saya uang kantong untuk keperluan selama di Surabaya. Saya sudah menolaknya, tetapi beliau mengatakan saya akan sangat memerlukannya karena jauh dari keluarga dan kampus. Pengalaman kedua adalah di akhir tahun 2009, ketika kuliah saya telah selesai dan hendak balik ke Medan, saya dipanggil kembali oleh beliau. Saya disarankan berangkat ke Makassar untuk membantu pelayanan di sebuah jemaat. Saya menolak ajakan tersebut karena memang harus mempersiapkan diri untuk studi lanjut. Saya sebenarnya sangat menyayangkan penolakan tersebut karena saya tahu rasa kecewa dari raut wajah beliau. Terakhir, ketika saya berada di Medan, ternyata Asosiasi Pastoral Indonesia (API) Pusat, sedang mengadakan kegiatan di Medan (kegiatan pelantikan fungsionaris API wilayah serta seminar pastoral). Ketepatan beliau merupakan salah satu sesepuh di API dan menjadi pembicara dalam seminar yang diadakan di restoran Avia Samudera, Medan. Ketika berjumpa dengan saya serta teman kuliah saya (Immanuel Christian Sitio), beliau langsung mengenal kami. Beliau menanyakan perkembangan kami saat ini dan beliau berpesan agar kami tetap maju dalam pelayanan gereja.

Ada dua hal penting yang saya dapat pelajari dan kehidupan pak Mesach. Pertama, rendah hati merupakan kunci dalam menyinergikan hidup, baik secara akademis, berelasi terhadap lingkungan dan disiplin spiritualitas. Kedua, tetap berpikir positif dalam hidup agar tidak menjadi batu sandungan dalam lingkungan sekitar. Beliau berulangkali dalam kuliah selalu mengatakan : you are what you believe. Beliau menginginkan seorang pelayan Tuhan tidak menjadi batu sandungan di jemaat. Caranya adalah selalu berpikir positif untuk kemajuan hidup dan tetap berorientasi pada konselor sejati, yaitu Kristus. Hal itu yang membuat saya sangat mengagumi kehidupan beliau. Banyak cerita hidup yang telah dijalani beliau sampai dengan masa pensiun saat ini. Bahkan ketika dua ring ada di jantungnya, beliau tetap memenuhi tanggungjawabnya sebagai seorang pengajar dan pelayan Tuhan. Beliau tidak pernah lari dari tanggungjawab dan selalu konsisten antara perkataan dengan perbuatan.

Teori Humanistik




Pendahuluan


Teori Humanistik datang dari mazhab ketiga dalam perkembangan psikologi. Lahir sebagai reaksi atas teori-teori Behaviorisme (yang kental dengan sifat behavioristik, asosianistik dan eksperimental) serta Psikoanalisis (depth psychology dengan sifat klinis-pesimistik). Teori humanistik erat dengan dua tokoh besar dari dunia psikologi, mereka adalah Carl Roger dan Abraham Maslow.

Carl Rogers
Bernama lengkap Carl Ransom Rogers, lahir di Oar Park, Illionis pada tanggal 8 Januari 1902. Pada tahun 1927, Rogers bekerja pada Institute for Child Guindance dan menggunakan teori analisis psikoanalisa Sigmund Freud, walaupun pada dasarnya dia tidak menyetujui teori tersebut. Pada masa ini, Rogers banyak dipengaruhi oleh Otto Rank dan John Dewey yang memperkenalkan terapi klinis. Perbedaan teori yang didapatkannya justru menemukan benang merah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan teorinya kelak. Sebagai seorang guru besar dalam bidang psikologi klinis, Rogers sangat produktif dalam menulis dan telah menghasilkan lebih dari 150 tulisan dalam bentuk buku maupun artikel.(Gunarsa, 2007 : 120).
Teori Rogers mirip dengan pendekatan Freud, namun pada hakikatnya Rogers berbeda dengan Freud karena Rogers menganggap bahwa manusia pada dasarnya baik atau sehat. Dengan kata lain, Rogers memandang kesehatan mental sebagai proses perkembangan hidup alamiah, sementara penyakit jiwa, kejahatan, dan persoalan kemanusiaan lain dipandang sebagai penyimpangan dari kecenderungan alamiah. Teori Rogers didasarkan pada suatu "daya hidup" yang disebut kecenderungan aktualisasi. Kecenderungan aktualisasi tersebut diartikan sebagai motivasi yang menyatu dalam setiap diri makhluk hidup dan bertujuan mengembangkan seluruh potensinya semaksimal mungkin. Jadi, makhluk hidup bukan hanya bertujuan bertahan hidup saja, tetapi ingin memperoleh apa yang terbaik bagi keberadaannya. Dari dorongan tunggal inilah, muncul keinginan-keinginan atau dorongan-dorongan lain yang disebutkan oleh psikolog lain, seperti kebutuhan untuk udara, air, dan makanan, kebutuhan akan rasa aman dan rasa cinta, dan sebagainya. (wikipedia.org/wiki/Carl_Rogers)

Abraham Maslow

Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn, Newyork, pada 1908. Maslow dibesarkan dalam keluarga Yahudi Rusia dengan Orang Tua yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Pada masa kecilnya, ia dikenal sebagai anak yang kurang berkembang dibanding anak lain sebayanya. "Saya adalah seorang anak Yahudi yang tumbuh dalam lingkungan yang mayoritas dihuni oleh non Yahudi. Saya merasa terisolasi dan tidak bahagia pada masa itu. Saya tumbuh di perpustakaan diantara buku-buku." Ia awalnya berkuliah hukum, namun pada akhirnya ia memilih untuk memilih mempelajari psikologi dan lulus dari Universitas Wisconsin. Pada saat ia berkuliah, ia menikah dengan sepupunya yang bernama Bertha pada bulan desember 1928, dan bertemu dengan mentor utamanya yaitu Profesor Harry Harlow. Ia memperoleh gelar bachelor pada 1930, master pada 1931, dan PhD pada 1934. Maslow kemudian memperdalam riset dan studinya di Universitas Columbia dan masih mendalami subjek yang sama. Di sana ia bertemu dengan mentornya yang lain yaitu Alfred Adler, salah satu kolega awal dari Sigmund Freud.
Pada tahun 1937 hingga tahun 1951, Maslow memperdalam ilmunya di Brooklyn College. Di New York, Ia bertemu dengan dua mentor lainnya yaitu Ruth Benedict seorang antropologis, dan Max Wertheimer seorang Gestalt psikolog, yang ia kagumi secara profesional maupun personal. Kedua orang inilah yang kemudian menjadi perhatian Maslow dalam mendalami perilaku manusia, kesehatan mental dan potensi manusia. Ia menulis dalam subjek subjek ini dengan mendalam. Tulisannya banyak meminjam dari gagasan-gagasan psikologi, namun dengan pengembangan yang signifikan. Penambahan tersebut khususnya mencakup hirarki kebutuhan, berbagai macam kebutuhan, aktualisasi diri seseorang, dan puncak dari pengalaman. Maslow menjadi pelopor aliran humanistik psikologi yang terbentuk pada sekitar tahun 1950 hingga 1960-an. Pada masa ini ia dikenal sebagai "kekuatan ke tiga" di sanping teori Freud dan behaviorisme.Maslow menjadi profesor di Universitas Brandeis dari 1951 hingga 1969, dan menjadi resident fellow untuk Laughlin Institute of California. Ia meninggal karena serangan jantung pada 8 Juni 1970. Pada tahun 1967, Asosiasi Humanis Amerika menganugerahkan gelar Humanist of the Year. (wikipedia.org/wiki/Abraham_Maslow).

Pembahasan
Pendekatan humanistik dikenal juga dengan nama pendekatan fenomenologis. McMahon (1986 : 25), dalam Adi (2008 : 34), melihat bahwa pendekatan fenomenologis ini dapat dilihat dari dua akar katanya, yaitu logy yang bermakna kajian dari sesuatu dan kata phenomenon yang berarti suatu keadaan yang selalu berubah. Pendekatan fenomenologis ini melihat setiap individu adalah unik, berbeda antara satu dengan yang lainnya, meskipun terjadi perubahan terus-menerus di lingkungan mereka. Apa pun yang terjadi pada lingkungan di mana dia berada. Individu akan melakukan penyeleksian sesuai dengan nilai dan kebutuhan dari orang tersebut. Sementara itu, istilah humane dalam pendekatan humanistik mengacu pada keyakinan terhadap adanya nilai-nilai kebaikan dan keinginan untuk mencapai yang terbaik. Hal ini dimiliki oleh setiap manusia, sehingga pendekatan ini melihat pada hakikatnya setiap orang mempunyai kemampuan untuk mencapai hal yang terbaik.
Pendekatan humanistik dikembangkan sebagai jawaban sekelompok psikolog yang kurang puas terhadap apa yang dikembangkan oleh pendekatan perilaku (behavioral) dalam memaknai lingkungan terkait dengan perilaku melarang seseorang dari pendekatan psikoanalisis yang terlalu fokus kepada insting, abmoralitas dan pemikiran yang tidak disadari. Peran kedua tokoh besar yang diperkenalkan pada bagian pendahuluan adalah untuk memberikan penekanan pada adanya keinginan manusia untuk berkembang menuju ke kondisi yang lebih baik dan ada potensi positif pada setiap individu. Pandangan kelompok humanistik melihat manusia sebagai mahluk rasional dan memiliki kemampuan mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif. (Adi, 2008 : 38).
Pendekatan yang dilakukan Maslow cukup menarik, terlebih ketika dia mendefinisikan hierarki kebutuhan manusia. Pada karyanya tersebut, Abraham Maslow memperkenalkan pemikirannya mengenai motivasi dihubungkan dengan kebutuhan manusa. Ia menjelaskan mengenai hirarki kebutuhan manusia dengan konsep, “Piramid Kebutuhan Maslow”. Dengan model ini, Maslow menjelaskan bahwa kebutuhan manusia bertingkat, mulai dari kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi pada bagian bawah piramid, dan kebutuhan manusia meningkat terus ke atas apabila jenis kebutuhan yang dasar sudah terpenuhi. Mulai dari kebutuhan yang paling dasar adalah kebutuhan fisiologis, kemudian berlanjut ke kebutuhan akan keamanan (safety), kebutuhan dicintai (love/belonging), kebutuhan untuk rasa percaya diri (esteem), dan kebutuhan puncak, yaitu aktualisasi diri (self-actualization). (lihat gambar hierarki kebutuhan menurut Maslow)

Penutup
Pentingnya kesadaran akan perbedaan individu adalah dengan memperhatikan aspek-aspek kemanusiaan. Menggali dan menemukan sisi-sisi kemanusiaan, pada taraf tertentu akan sampai pada penemuan diri. Proses belajar yang ada pada diri manusia adalah proses untuk sampai pada aktualisasi diri (learning how to be). Belajar adalah mengerti dan memahami siapa diri kita, bagaimana menjadi diri sendiri, apa potensi yang kita miliki, gaya apa yang anda miliki, apa langkah-langkah yang anda ambil, apa yang dirasakan, nilai-nilai apa yang kita miliki dan yakini, kearah mana perkembangan kita akan menuju. Belajar di satu sisi adalah memahami bagaimana anda berbeda dengan yang lain (individual differences), dan di sisi lain adalah memahami bagaimana anda menjadi manusia sama seperti manusia yang lain (persamaan dalam specieshood or humanness).

Daftar Pustaka
Buku :
Adi, Isbandi Rukminto. Intervensi Komunitas : Pengembangan Masyarakat Sebagai Upaya
Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta : Rajawali Press. 2008.

Gunarsa, Singgih D. Konseling dan Psikoterapi : Seri Psikologi. Jakarta : Balai Penerbit Kristen (BPK) Gunung Mulia. 2007.


Internet :
ruangpsikologi.com/hirarki-kebutuhan-manusia-dari-maslow; diunduh pada tanggal 7 Desember
2010
wikipedia.org/wiki/Carl_Rogers, diunduh pada tanggal 7 Desember 2010
wikipedia.org/wiki/Carl_Rogers, diunduh pada tanggal 7 Desember 2010

Jumat, 10 Desember 2010

Masih adakah tempat bagi Kristus? (Hari Raya Natal)


Kuhirup udara pagi di awal Desember yang biru
Bau natal begitu menyengat di sekitarku
Apa gerangan hai hari Natal?

Sejenak kulayangkan wajah ke langit biru
Meretas tanya pada hati yang lugu
Apakah makna Natal tanyaku

Masa natal begitu gemerlap
Lepas seminggu senyap
Lalu sebulan lenyap
Inikah Natal?

Natal,
Seorang Penyelamat lahir
Palungan di kandang menyaksikannya
Malam yang dingin menyertai-Nya
Kehangatan jerami rumput menyelimuti kedatangan-Nya
Inikah simbol natal itu?

Mengapa Dia tidak datang dengan pakaian mewah?
Perhiasan yang berkilauan emas?
Dinantikan dengan pesta pora?
Disambut dengan sorak-sorai?
Disajikan makanan dan minuman yang mahal?

Natal,
Dalam gereja Tuhan yang megah
Nyala lampu pohon Natal begitu indah
Musik Natal begitu teduh simfoninya
Paduan suara natal begitu merdu terdengar

Natal,
Seorang ayah masih sibuk membanting tulang
Seorang ibu masih sibuk mengais-ngais
Seorang anak masih tegar menahan lapar
Seorang bayi masih bertahan tanpa susu

Natal,
Di mana Engkau akan hadir Tuhan?
Kami senantiasa menantikan-Mu Tuhan!
Kami antusias menyambut-Mu Tuhan!
Di mana Engkau akan hadir Tuhan?

Kudengar suara Tuhan
Berbisik lirih di tengah hembusan angin
Nada-Nya menggetarkan dedaunan
Kata-Nya : Masih adakah tempat bagi-Ku?

Jumat, 03 Desember 2010

Desember, Advent, Natal dan Tahun Baru (Suatu Refleksi Diri)



Tema ini bagi umat Kristen, mungkin bukan hal yang asing didengar telinga. Bahkan saat di bulan November sekalipun, ke empat hal ini telah banyak menjadi perbincangan. Saya mengikuti update status teman-teman di dunia maya, baik facebook maupun twitter sejak november silam. Saya mendapatkan hal-hal yang unik dari hasil pengamatan itu. Ada status yang mengungkapkan ketidakpercayaan karena telah memasuki akhir tahun. Ada juga status yang menggambarkan impian teman-teman saya berada di kampung halaman saat natal setelah sekian waktu berada di perantauan. Yang paling heboh adalah ketika pas memasuki awal desember, status-status mereka pun semakin heboh. Ada status yang menyatakan kegembiraan mereka karena sudah dekat waktunya untuk bernatal ria, ada juga status yang menggambarkan liburan yang akan dijalani sampai dengan pergantian tahun, dan sebagai-sebagainya.
Luar biasa! Dua kata itulah yang terlintas di pikiranku ketika melihat euforia yang luar biasa dari Natal. Mungkin hal tersebut merupakan hal yang wajar, mengingat peristiwa Natal adalah peristiwa sekali dalam setahun. Sejenak saya merefleksikan, bagaimana dengan tanggapan diriku secara pribadi mengenai natal tahun ini? Hmm..rasa-rasanya malas sekali untuk membicarakan hal itu. Mungkin karena faktor tidak dapat berkumpul dengan sanak keluarga di kampung halaman ketika hari Natal tiba. Sedih bercampur kesal yang mencuat di dalam pikiran, hanya satu pertanyaan besar yang muncul : “Apakah saya dapat melalui ini semua?”
Kekesalan dalam diri mulai pudar, ketika tingkatan refleksi mulai diperdalam. Saya merenungkan hakikat sejati dari Natal itu bagi saya sebagai umat Kristen itu apa? Menurut hemat saya, ketika kita berbicara Natal, sebenarnya kita berbicara mengenai tiga hal besar, yaitu desember, advent dan tahun baru. Pertama, mengenai Desember. Mengapa Desember? Ya karena hari Natal selalu jatuh di bulan Desember, hal itu berlangsung dari dahulu sampai dengan sekarang. Ketika saya jalan-jalan di salah satu mall yang ada di kota Depok, saya melihat ada slogan besar di salah satu lantai yang menuliskan “Sambut spesialnya Desember sukacita dengan Diskon spesial pula” Ya, dalam pengalaman hidup selama ini, hal itu terjadi di bulan Desember di hampir di setiap mall. Tapi bukan itu yang menjadi fokus perefleksian saya di bulan Desember, melainkan apa yang telah saya lakukan sampai dengan bulan terakhir di tahun 2010 ini? Saya bersyukur kepada Tuhan, karena di tahun 2010 ini, saya diberi kesempatan untuk belajar di salah satu perguruan tinggi negeri favorit di Indonesia. Alasan saya melanjutkan studi dari teologi ke sekuler adalah karena hasil perefleksian juga. Dalam perjalanan ke Salatiga dengan bis malam, saya melihat ada banyak orang-orang terlantar tidur di emperan jalan. Lantas saya merefleksikan : “Apa yang dapat saya lakukan kepada mereka, padahal saya hanyalah seorang teolog?” Saya bernazar, jika Tuhan berkenan, saya ingin melanjutkan studi mengenai permasalahan sosial dan kemiskinan. Puji Tuhan di tahun 2010, saya dapat mewujudkan keinginan itu. Itulah yang saya refleksikan mengenai Desember, yaitu Apa yang telah saya lakukan di tahun 2010 sampai berada di penghujung tahun?
Hal kedua, mengenai Advent. Sebagai warga jemaat GKPI, saya selalu mengikuti kalender GKPI setiap minggunya. Advent pertama GKPI, jatuh pada hari Minggu tanggal 28 November 2010. Tema minggu pada saat itu adalah mengenai nubuatan. Saya mendengarkan khotbah minggu dengan seksama mengenai nubuatan bahwa sejak zaman nabi, keselamatan manusia telah dinubuatkan nabi lewat kedatangan raja yang adil, yaitu Juruselamat. Tanggal 5 Desember nanti, GKPI akan memasuki Adven kedua, di mana saya akan melayani Firman kebaktian minggu di GKPI Depok. Saya kembali merefleksikan apa itu hakikat Advent sebenarnya? Secara umum, orang memahami Advent merupakan masa penantian. Tetapi menurut hemat saya, pasti ada hakikat Advent yang lebih relevan kepada saya, sebagai umat Kristen yang hidup di masa kini. Saya merefleksikan secara mendalam bahwa Advent itu hakikatnya adalah bagaimana bersabar dalam suatu pengharapan. Dimensi waktu memang ada dalam hal tersebut, tetapi bukan itu yang utama. Menurut hemat saya, hal utama adalah terkait perilaku maupun sikap bersabar dalam pengharapan. Hal ini mudah diucapkan tetapi susah sekali untuk dilakukan. Untuk itu, saya merefleksikan apa yang harus saya lakukan dalam kesabaran akan pengharapan? Ada banyak pengharapan yang saya inginkan, seperti tidak sabar menantikan waktu wisuda, tidak sabar dalam memulai bahtera rumah tangga, tidak sabar untuk melepas rindu bersama sanak keluarga, dan sebagainya. Ketika tiba dalam perefleksian iman, saya memikirkan bagaimana saya dapat bersabar dalam pengharapan kedatangan Juruselamat? Saya memillih untuk melakukan hal-hal yang dapat mendatangkan berkat bagi sesama di sekitar, daripada duduk diam saat bersabar dalam pengharapan. Aktif dalam perilaku sabar serta pengharapan merupakan hal yang penting untuk direfleksikan dalam masa Advent ini.
Hal ketiga adalah Natal. Natal merupakan puncak yang dinantikan umat Kristen saat bulan Desember. Sejenak saya merefleksikan bahwa Natal semakin tahun telah kehilangan hakikatnya. Natal pada saat ini lebih dipahami sebagai suatu pesta seremonial dibandingkan kesaksian iman dari pengharapan yang sabar akan keselamatan. Di satu sisi lain, saya juga merefleksikan, mengapa hari raya Natal yang menjadi puncak kegembiraan umat Kristen, bukannya Paskah? Bukankah keselamatan diterima ketika Yesus menyerahkan diri-Nya di kayu salib? Sedangkan kelahiran-Nya merupakan proses awal dari keselamatan itu? Dengan demikian, ketika Natal telah rancu dalam pemahaman iman, dalam pelaksanaannya pun menjadi salah paham sehingga terjebak dalam pesta meriahnya natal, bukan pada hakikat dari Natal itu sendiri.
Hal terakhir adalah Tahun Baru. Mengapa? Karena di kartu-kartu Natal, tidak ada hanya diucapkan hanya selamat natal saja, tetapi pasti juga disertakan selamat tahun baru. Desember selalu dekat dengan pergantian tahun, oleh karena itu Natal selalu berbarengan pestanya dengan tahun baru. Dari hal ini, saya merefleksikan bahwa bagi kebanyakan orang, hanya pesta dan kesenangan yang ditawarkan dari moment natal dan tahun baru. Pantas saja dikatakan “sukacita natal dan tahun baru”. Lantas saja mencoba merefleksikan lebih dalam lagi. Menurut hemat saya, menjelang tahun baru yang dekat datangnya dengan natal (karena hari natal berada di minggu terakhir di bulan desember), harus dapat dimaknai sebagai kesempatan dan kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita untuk menjadi lebih baik lagi. Saya merindukan saat-saat pergantian tahun, di mana selalu disambut dengan kebaktian keluarga. Terkadang saya bingung, kenapa terkadang ada orang yang memilih untuk berganti tahun di lapangan dengan pesta kembang api, atau menikmati konser-konser musik, yang terasa mantap dengan terompet dan minuman di tangan. Hmmm…biarlah mereka seperti itu. Namun bagi saya, hidup dan mati adalah untuk Tuhan, jadi seluruh waktu manusia itu harus dikembalikan kepada Tuhan saja.
Dengan demikian, sebenarnya dari refleksi ini saya ingin mengajak kita untuk melihat bahwa desember dapat dilihat sebagai moment penting untuk mengevaluasi diri selama setahun penuh; advent dapat direnungkan sebagai tindakan aktif saat menanti dalam kesabaran pengharapan keselamatan; natal dapat dilihat sebagai moment keimanan bukan semarak seremonial; dan tahun baru dapat direnungkan sebagai kesempatan waktu yang Tuhan berikan kepada hidup kita. Selamat memasuki bulan Desember, selamat memasuki minggu Advent, selamat menyambut Natal dan selamat menjelan Tahun Baru. Tuhan memberkati!

Kamis, 02 Desember 2010

Pembangunan Berbasis Masyarakat sebagai Salah Satu Pilihan


Berbicara mengenai pembangunan berbasis masyarakat, maka sebenarnya secara tidak langsung berbicara mengenai pembangunan yang berpusat pada manusia (people centered development). Hal ini dapat terjadi karena kata masyarakat di situ bukanlah hanya sebagai suatu institusi sosial, tetapi juga sebagai manusia yang merupakan individu dalam masyarakat. Tujuan pembangunan sosial menurut pandangan UN-ESCAP pada dasarnya adalah pembangunan untuk meningkatkan taraf hidup manusia. Berdasarkan tujuan tersebut, UN-ESCAP melihat bahwa penekanan dari pembangunan sosial pada dasarnya adalah pembangunan yang berpusat pada manusia, sehingga terlihat kesamaan pola gerak dari pembangunan sosial dan pembangunan yang berupusat pada manusia, yaitu pada upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan menfokuskan pada pemberdayaan dan pembangunan manusia itu sendiri (Adi, 2008 : 66)
Secara umum, banyak negara yang melihat people centered development berbeda dengan sustainable development (pembangunan berkelanjutan). Menurut Korten, people centered development adalah untuk meningkatkan pertumbuhan dan kemakmuran manusia, meningkatkan keadilan serta berkesinambungan. Pemikiran yang mendominasi paradigma ini adalah pembangunan yang memerhatikan keseimbangan ekologi manusia. Sedangkan menurut World Commision on Environment and Development / Bruntland Commission, 1987, Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Menurut hemat penulis, mengapa pembangunan berpusat pada manusia dan pembangunan berkelanjutan penting dalam pembangunan masyarakat adalah karena pada dasarnya peran individu penting dalam suatu komunitas maupun lingkungannya. Peran individu dalam masyarakat terkait pembangunan sosial sangat diperlukan untuk menciptakan tatanan lingkungan dan masyarakat yang lebih baik lagi. Pertumbuhan kesejahteraan masyarakat juga harus sejalan dengan pelestarian lingkungan hidup di sekitarnya.
Mengingat peran individu menentukan dalam komunitas maupun lingkungannya, maka diperlukan pemberdayaan dan partisipasi untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang dituju. Payne (1997:266) dalam Adi mengemukakan, pada intinya pernberdayaan bertujuan untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan ia lakukan terkait dengan diri mereka, termasuk mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan. Hal ini dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang ia miliki, antara lain melalui transfer daya dari lingkungannya. Shardlow (1998 : 32) dalam Adi melihat bahwa berbagai pengertian yang ada mengenai pemberdayaan, pada intinya membahas bagaimana individu, kelompok ataupun komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai kemampuannya.
Dalam hal partisipasi, ada banyak hal definisi tentang partisipasi. Oleh karena itu, Mikkelsen (2005 : 54) dalam Adi mengatakan, partisipasi sesungguhnya berasal dari masyarakat dan dikelola oleh masyarakat itu sendiri, ia adalah tujuan dalam suatu proses demokrasi. Lebih lanjut, Mikkelsen mengutip Chambers (2002) yang melihat istilah partisipasi sering digunakan dalam tiga bentuk, yaitu : pertama, partisipasi sebagai label domestik : agar terlihat lebih cantik sehingga lembaga donor ataupun pemerintah mau membiayai proyek tersebut; kedua, partisipasi menggambarkan coopting practice : memobilisasi tenaga-tenaga di tingkat lokal dan mengurangi pembiayaan proyek; ketiga, partisipasi digunakan untuk menggambarkan proses pemberdayaan : memampukan masyarakat lokal untuk melakukan analisis masalah mereka, memikirkan cara mengatasinya, percaya diri dalam mengatasi masalah dan dapat mengambil keputusan sendiri tentang alternatif pemecahan masalah mereka.
Dari gambaran mengenai pemberdayaan dan partisipasi masyarakat, maka terlihat dengan jelas bagaimana pembangunan berbasis masyarakat berupaya memaksimalkan peran individu-individu dalam masyarakat guna mengangkat kehidupan mereka sendiri. Hal ini sangat penting, karena kesejahteraan masyarakat tidak dapat dicapai jikalau hanya bergantung pada pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah saja, masyarakat juga harus terlibat aktif di dalam usaha pembangunan yang dilakukan. Dari hal-hal yang telah disampaikan tadi, menurut hemat penulis, keunggulan pembangunan berbasis masyarakat adalah adanya kesadaran dari masyarakat akan pentingnya partisipasi mereka di dalam pembangunan. Kesadaran merupakan kunci utama dari suatu tindakan yang sistematis dan rasional yang dilakukan oleh masyarakat. Setidaknya dari kesadaran ini dapat terbentuk konsep pemikiran masyarakat mengenai hak asasi, terkait keadilan dan kepastian hukum dalam proses pembangunan yang tengah berlangsung. Selain itu, kesadaran juga membuat masyarakat memahami karakteristik mereka seperti apa, terkait geografis daerah lingkungan mereka, agar teknologi yang diberdayakan kepada masyarakat menjadi tepat guna. Hasil yang diharapkan selain kesejahteraan masyarakat yang dituju berhasil, tentunya pelestarian lingkungan ekologi juga terjaga

Pengaruh Pembangunan Sosial dalam Ruang Lingkup Kebijakan Sosial


Kebijakan sosial menurut Paul Spicker (rgu.uk/publicpolicy/introduction) merupakan suatu studi dari pelayanan sosial dan negara kesejahteraan. Dari pemahaman tersebut ada dua hal penting yang terdapat dalam kebijakan sosial, yaitu pelayanan sosial dan negara kesejahteraan. Hal pertama mengenai pelayanan sosial, yaitu seperangkat program yang ditujukan untuk membantu individu atau kelompok yang mengalami hambatan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Suharto, 2008 : 13). Secara historis, menurut Edi Suharto, perkembangan pelayanan sosial tidak dapat dipisahkan dari hal kedua, yaitu negara kesejahteraan. Negara kesejahteraan merupakan sistem yang memberi peran kepada negara untuk pro-aktif dan responsif dalam memberikan pelayanan sosial kepada warganya. Dari penjelasan tersebut, ada dua hal yang penting bagi penulis untuk dikaji lebih lanjut terkait pembangunan sosial, yaitu pertama, karena kebijakan sosial tidak dapat dipisahkan dengan konsep negara kesejahteraan, maka unsur negara dalam hal kebijakan sosial tidak dapat dihilangkan atau dikurangi; Kedua, bahwa ketika berbicara mengenai kebijakan sosial sebenarnya kita tengah berbicara mengenai program layanan sosial yang diberikan negara kepada masyarakat guna meningkatkan derajat hidupnya. Dari dua hal inilah nantinya penulis akan mengaitkannya dalam hubungan pembangunan sosial mencakup ruang lingkup kebijakan sosial.

Hubungan kedua hal di atas dengan pembangunan sosial adalah :
a.Terkait pelayanan sosial :
Menurut Midgley (2005,50), pembangunan sosial secara khusus merujuk pada layanan-layanan sosial di negara-negara berkembang. Pada pendekatan ini, lebih lanjut Midgley menjelaskan, bahwa pembangunan sosial itu merujuk pada semua sektor layanan sosial dan sering kali digunakan pada perencanaan sosial yang berkonatasi pada perencanaan dan koordinasi layanan-layanan sosial. Oleh karena itu menurut Midgley, pembangunan sosial merupakan sinonin dari perencanaan sektor sosial dan layanan-layanan sosial bagi pihak pemerintah dan departemen-departemennya.
Menurut hemat penulis, pendapat Midgley yang dikutip pada dasarnya ingin mengatakan bahwa pelaksanaan dari pembangunan sosial itu diwujudnyatakan dalam pelayanan-pelayanan sosial di tengah-tengah masyarakat. Tujuan pembangunan sosial yang ingin menciptakan kesejahteraan sosial, harus dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Cara yang paling ampuh agar dapat dirasakan oleh masyarakat, tidak lain dengan memberikan pelayanan sosial baik melalui asuransi sosial maupun program-program lainnya.
Karena pembangunan sosial merupakan perubahan yang terencana, maka pelayanan sosial yang diberikan juga harus terencana, agar derajat kehidupan masyarakat dapat diangkat. Hal inilah yang membedakan pembangunan sosial dengan philantropi, yang memberikan bantuan langsung kepada masyarakat dan selesai dalam waktu yang singkat, namun hanya mengatasi persoalan pada saat itu saja. Menurut Thomson (2004 : 39) seperti yang dikutip oleh Suharto (2008 : 15), bahwa cakupan pelayanan sosial itu ada lima hal, yaitu jaminan sosial, perumahan, kesehatan, pendidikan dan pelayanan sosial personal.
- Jaminan Sosial : Layanan sosial dalam program jaminan sosial, merupakan skema yang dirancang guna memberikan tunjangan, menyangkut pemeliharaan penghasilan. Di negara Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, kebijakan sosial pada jaminan sosial ini umumnya menyangkut asuransi sosial, dimana berupa tunjangan uang yang diberikan kepada seseorang sesuai dengan kontribusinya berupa premi. Asuransi kesehatan, pensiun, kecelakaan kerja dan kematian merupakan contoh beberapa dari asuransi sosial. Sebagai pelayanan sosial publik, jaminan sosial merupakan perangkat negara yang didesain (dalam arti kebijakan sosial) untuk menjamin bahwa setiap orang, sekurang-kurangnya memiliki pendapat minimum yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
-Perumahan : Rumah yang juga sebagai tempat tinggal manusia, merupakan kebutuhan dasar manusia. Negara mempunyai hak asasi untuk menyediakan perumahan bagi warganya, khususnya mereka yang tergolong keluarga kurang mampu. Negara harus merancang suatu kebijakan sosial dalam hal ini, guna dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Misalnya saja dengan Rusun (Rumah Susun) dan juga RSS (Rumah Sangat Sederhana). Selain itu juga, negara dapat memberikan subsidi atau kemudahan akses kredit bagi pembelian rumah. Hal itu jelas dibutuhkan masyarakat, di samping bantuan finansial dan izin maupun pengawasan akomodasi rumah sewa.
-Kesehatan : Pelayanan kesehatan dapat dipandang sebagai aspek yang penting dalam pelayanan sosial, karena kesehatan merupakan faktor penentu dalam kesejahteraan sosial. Orang yang sejahtera bukan hanya orang yang memiliki pendapatan dan rumah yang memadai, akan tetapi juga memiliki kesehatan jasmani dan rohani juga penting. Skema pelayanan kesehatan publik, biasanya erat kaitannya dengan sistem jaminan sosial, terutama pada asuransi sosial. Pasalnya, sebagian besar pelayanan dari asuransi sosial menyangkut atau berbentuk asuransi kesehatan. Selain itu juga, peran pemeritah dalam pelayanan kesehatan publik juga penting, seperti kepemilikan rumah sakit maupun pusat-pusat kesehatan. Dokter dan para pekerja sosial juga terlibat penting dalam pelayanan dan perawatan sosial. Faktor lain yang menyebabkan unsur kesehatan menjadi penting dalam kebijakan sosial di dalam konteks pembangunan sosial adalah karena masalah-masalah pembangunan, telah cukup banyak membuat krisis pada psiko-sosial maupun kultural, sehingga kerap terjadi stress maupun depresi. Walaupun isu mengenai kesehatan juga erat kaitannya dengan konteks ekonomi dan persoalan sosial lainnya.
-Pendidikan : Negara kesejahteraan dalam pelayanan sosialnya memiliki tiga kewajiban penting dalam pendidikan masyarakat. Pertama, sebagai penyedia utama lembaga-lembaga pendidikan, seperti sekolah maupun universitas. Kedua, sebagai regulator atau pengatur penyelenggara pendidikan, baik pendidikan negeri, swasta maupun lembaga-lembaga non formal. Ketiga, fasilitator dalam penyediaan infrastruktur pendidikan, termasuk di dalamnya skema-skema beasiswa dan tunjangan-tunjangan pendidikan bagi siswa yang berprestasi dan tidak mampu.
-Pelayanan Sosial Personal : Pelayanan ini menunjuk pada berbagai bentuk perawatan sosial di luar pelayanan kesehatan, pendidikan dan jaminan sosial. Dalam garis besar, pelayanan sosial ini mencakup tiga jenis, yaitu :
i.Perawatan anak : perawatan ini diberikan kepada anak dan keluarga yang memiliki kebutuhan khusus, seperti cacat fisik dan mental sehingga tidak bisa menjalankan kehidupan sehari-hari.
ii.Perawatan masyarakat : perawatan ini merupakan alternatif terhadap pelayanan yang diberikan di dalam lembaga, yang umumnya diberikan oleh Dinas atau Kantor Sosial di Indonesia.
iii.Peradilan kriminal : pelayan ini diberikan oleh pekerja sosial yang sering disebut dengan pekerja sosial koreksional. Mereka ini bertugas dalam penanganan masalah kriminal, termasuk kasus hukum terhadap anak. Di Indonesia, mereka tercakup di dalam Badan Permasyarakatan dan Lembaga Permasyarakatan di bawah Departemen Hukum dan HAM
b.Terkait negara kesejahteraan :
Menurut Edi Suharto (2007 : x), kebijakan sosial adalah “anak kandung” paham negara kesejahteraan. Sebagai sebuah kebijakan publik di bidang kesejahteraan sosial, kebijakan sosial menunjuk pada seperangkat kewajiban negara untuk melindungi dam memberikan pelayanan dasar terhadap warganya. Pemenuhan kebutuhan hidup minimum, pendidikan wajib, perawatan kesehatan dasar, dan perlindungan sosial terhadap kelompok-kelompok rentan adalah kewajiban negara yang harus dipenuhi dalam konsep negara kesejahteraan.
Menurut hemat penulis dari gagasan yang disampaikan oleh Suharto terkait istilah “anak kandung” yang menunjuk kebijakan sosial dalam hubungannya dengan negara kesejahteraan adalah bahwa pada dasarnya peran negara dalam negara kesejahteraan sangat menentukan kebijakan sosial seperti apa yang harus dilakukan guna menunjang derajat masyarakat ke arah yang lebih baik lagi. Negara kesejahteraan setidaknya wajib memberikan kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan maupun perlindungan-perlindungan sosial bagi warganya. Hal inilah nantinya yang dirumuskan melalui program-program sosial seperti apa yang diambil pemerintah dalam kebijakan sosial yang ditempuh guna menciptakan kesejahteraan sosial.
Sebagai kesimpulannya, menurut hemat penulis, pengaruh pembangunan sosial dalam cakupan kebijakan sosial adalah dalam perubahan terencana yang menjadi tujuan pembangunan sosial, kebijakan sosial menjadi suatu instrumen yang penting dalam pelaksanaan tujuan tersebut. Tujuan pembangunan sosial yang ingin menciptakan kesejahteraan sosial diayomi dalam pelayanan-pelayanan sosial yang diberikan kepada masyarakat melalui kebijakan-kebijakan sosial yang diambil oleh negara kesejahteraan. Dalam konteks di Indonesia, dapat kita acu pada pasal-pasal konstitusi yang dimiliki Indonesia, yang menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat mementingkan pembangunan kesejahteraan sosial. Bab XIV UUD 1945 diberi judul Sistem Perekonomian dan Kesejahteraan Sosial, hal ini sebenarnya ingin mengatakan bahwa sistem perekonomian Indonesia harus berorientasi dan berpihak kepada rakyat banyak serta mengarah pada kesejahteraan sosial. Hal ini juga sesuai dengan aspek pembangunan sosial, yang melihat bahwa pertumbuhan ekonomi harus diimbangi oleh pertumbuhan sosial dari warganya.
Masih berkaitan dengan konstitusi di Indonesia yang mengatur tentang kesejahteraan sosial, hal tersebut juga mengindikasikan bahwa secara konstitusional, negara Indonesia menganut sistem negara kesejahteraan. Oleh karena itu, negara Indonesia dalam pembangunan nasional harus dapat mengedepankan model kesejahteraan sosial dimana peran negara harus aktif, sensitif dan responsif ambil bagian dalam pelayanan sosial dasar kepada para warganya, terutama bagi mereka yang tergolong lemah dan rentan yang harus diberi perlindungan secara khusus melalui kebijakan sosial yang ditempuh. Inilah yang menjadi sudut pandang penulis terkait hubungan pembangunan sosial dalam kebijakan sosial.

Dampak Globalisasi dalam Perubahan Pembangunan Ekonomi ke Pembangunan Sosial pada Dunia Ketiga


Menurut John Rennie Short (2001, 10), Globalisasi merupakan suatu proses dimana terkaitnya orang-orang maupun tempat-tempat, institusi-institusi dan peristiwa di sekeliling dunia. Singkatnya, definisi dari globalisasi adalah meningkatnya tekanan kepada dunia untuk menjadi suatu aliran jaringan tunggal dari uang, gagasan-gagasan dan hal-hal lainnya. Globalisasi dalam prosesnya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu ekonomi, politik dan budaya. Dalam bidang ekonomi, menurut Short, ekonomi global telah matang sekitar 500 tahun lalu. Aliran pinggir dunia dari kapital dan buruh telah menghubungkan tempat dan mengintegrasikan mereka ke dalam dunia ekonomi semenjak abad ke-enam belas. Pasar bebas di bursa keuangan serta layanan-layanan ekonomi, saat ini berjalan melalui suatu payung regulasi, dimana negara tidak berperan banyak dibanding pusat pasar.
Dalam bidang politik, suatu politik global menjadi lebih mungkin dengan kemunduran blok Soviet. Organisasi-organisasi internasional memiliki peranan penting ketika rejim pengamanan, perdagangan dan hak asasi manusia menjadi lebih terkemuka dalam mengorganisir ruang politik. Sedangkan dalam bidang budaya, dibandingkan kepada versi ekonomi dan politik, hal ini lebih sulit untuk diamati. Proses dalam globalisasi ekonomi telah memberikan kontribusi pada globalisasi kebudayaan. Globaliasasi kebudayaan berproses melalui arus berkelanjutan dari ide-ide, informasi, komitmen, nilai-nilai dan rasa yang melintasi dunia. Hal tersebut dimediasikan oleh pergerakan individu, tanda-tanda, simbol-simbol dan simulasi elektronik.
Dari pengertian dan pembagian globalisasi di atas, menurut penulis, globalisasi terjadi karena adanya pengaruh dari sektor ekonomi, sehingga mempengaruhi sektor politik dan budaya. Artinya, pembangunan ekonomi di negara Amerika dan sebagian besar Eropa, menjadikan mereka sebagai negara modern. Fenomena ini dominan terutama pasca perang dunia kedua, dimana negara-negara lain harus berbenah diri dalam bidang ekonomi, sosial dan politik sebagai dampak perang yang begitu dahsyat. Di tengah keterpurukan internasional, Amerika dan sebagian negara Eropa menjadi kekuatan yang dominan, terkhususnya di bidang ekonomi. Kebijakan Marshall Plan yang dianggap sebagai solusi untuk menciptakan pembangunan negara-negara yang porak poranda pasca perang dunia kedua, digagas oleh Amerika dan sekutunya. Negara-negara yang tengah berbenah itu, harus banyak mengejar ketertinggalan mereka ke arah pembangunan ekonomi yang baik, maupun pembangunan politik, sosial dan budaya, sebagaimana negara hal yang ada pada negara-negara yang sudah maju.
Untuk dunia ketiga, momen pasca perang dunia kedua telah membawa angin segar ke arah politik, terkhusus bagi negara-negara di benua Asia dan Afrika. Banyak negara-negara dunia ketiga di Asia dan Afrika telah menghirup kemerdekaan negara mereka dari kolonialisme. Negara yang baru merdeka ini juga berusaha menuju ke tahap modernisasi, agar dapat berkembang dalam segi ekonomi, politik dan budaya, seperti negara yang telah lebih dahulu berada di posisi tersebut. Salah satu cara menuju ke tahap modern, banyak negara-negara di dunia ketiga, melakukan seperti apa yang dilakukan di negara dunia pertama. Salah satu upaya menuju ke tahap modernisasi adalah dengan pembangunan ekonomi. Menjadi negara maju merupakan harapan besar dari negara dunia ketiga yang baru merdeka. Negara dunia ketiga secara serempak mencari model pembangunan yang hendak digunakan sebagai contoh untuk membangun ekonominya dan dalam usaha untuk mempercepat pencapaian kemerdekaan politiknya (Alvin So & Suwarsono, 1991, 8).
Pembangunan ekonomi menjadi salah satu pilihan model pembangunan dari negara dunia ketiga pada saat itu. Salah satu ciri dari pembangunan ekonomi adalah ukuran pertumbuhan pembangunan diukur berdasarkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, semakin tinggi pula pendapatan negara yang diperoleh dimana hasilnya akan menetes ke bawah “trickle down effect” dalam bentuk distribusi dan membuka lapangan pekerjaan serta dapat mengatasi kemiskinan. Hal ini diakui oleh para tokoh pembangunan ekonomi, seperti Rostow dengan lima tahap pembangunan ekonomi yang diperkenalkannya. Akan tetapi, dalam penerapannya konsep trickle down effect yang diharapkan dapat meningkatkan kemakmuran masyarakat justru tidak terjadi. Hal yang terjadi adalah penumpukan kapital pada sekelompok orang yang dekat dengan kekuasaan, serta terjadinya peningkatan angka pengangguran, kemiskinan serta angka migrasi desa kota (Adi, 2008, 11).
Sebagai salah satu negara berkembang, Indonesia juga mengalami kendala dalam pembangunan ekonomi sebagai dampak globalisasi. Kebijakan ekonomi neoliberal pada awal Orde Baru yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dengan dukungan modal asing, baik melalui utang luar negeri maupun investasi asing langsung, memang membuktikan sejak awal Pelita I (1969 – 1973) perekonomian Indonesia tumbuh secara konstan dengan rata-rata 6,5 persen per tahun. Inflasi terkendali di bawah dua digit dengan implikasi pendapatan per kapita penduduk yang pada tahun 1969 masih 90 dollar AS, pada tahun 1982 berhasil ditingkatkan menjadi 520 dollar AS. Bahkan di akhir tahun 1990-an, perekonomian Indonesia sempat dipuji Bank Dunia karena berhasil menurunkan tingkat kemiskinan. Pada tahun 1997, pendapatan per kapita penduduk Indonesia telah meningkat menjadi 1.020 dollar AS. Namun tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu, kemudian tidak diikuti oleh trickle down effect yang nyata, sebaliknya semakin memperbesar jurang kesenjangan sosial antara sekelompok kecil penduduk yang sangat kaya dengan sebagaian besar masyarakat yang tetap hidup dalam kemiskinan. Sejak itulah muncul berbagai pemikiran di kalangan terbatas ahli ilmu-ilmu sosial dan ilmu ekonomi di Indonesia yang mengkritik model dan arah kebijakan ekonomi pemerintah, dengan fokus utama bagaimana memberikan perhatian lebih besar kepada aspek pemerataan atau aspek keadilan sosial dalam kebijakan perekonomian nasional (Manuel Kaisiepo, 2006, 183)
Gambaran di atas sepertinya sudah sangat jelas rasanya untuk mengatakan bahwa persoalan pembangunan ekonomi telah dirasakan secara global. Gambaran tersebut menurut hemat penulis adalah suatu hal yang lumrah, karena gagasan mengenai pembangunan ekonomi berasal dari negara dunia pertama sebagai pengagasnya. Dari gambaran itu, setidaknya ada dua hal yang ingin disampaikan oleh penulis : Pertama, dalam konteks global, gagasan pembangunan ekonomi yang berorientasi pada tolak ukur pertumbuhan ekonomi ternyata tidak selalu sesuai di beberapa negara, terkhusus di negara dunia ketiga / negara sedang berkembang. Hal ini jelas asimetris dengan negara dunia pertama yang begitu perkasa dengan pembangunan ekonominya. Dengan demikian, harus dicari suatu pendekatan baru yang lebih kontekstual dengan negara berkembang, selain pembangunan ekonomi. Kedua, secara nasional, persoalan pembangunan ekonomi memang berhasil merangsang pertumbuhan ekonomi di Indonesia, namun pertumbuhan yang luar biasa ini tidak dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Dengan kata lain, persoalan pemerataan dari hasil pertumbuhan ekonomi di Indonesia menyebabkan suatu persoalan sosial di tengah-tengah masyarakat. Berkaca pada persoalan itu, untuk pembangunan nasioanal harus digali suatu pendekatan yang dapat menciptakan pemerataan pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu.
Kedua hal di atas menurut hemat penulis, merupakan jalan masuk sekaligus alasan mengapa pembangunan nasioanal berubah arah dari pembangunan ekonomi ke arah pembangunan sosial. Pembangunan sosial hadir untuk mengatasi persoalan pembangunan ekonomi yang terdistorsi. Persoalan distorsi dalam pembangunan, dijelaskan lanjut oleh Midgley (2005, 5) bahwa hal tersebut terjadi karena pembangunan ekonomi tidak sejalan dengan pembangunan sosial. Pembangunan yang terdistorsi juga tidak hanya terjadi dalam bentuk kemiskinan, kekurangan, rendahnya tingkat kesehatan dan pemukiman yang tidak layak, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat dalam pembangunan. Untuk itu pendekatan kepada pembangunan sosial yang dipilih menggantikan pendekatan pembangunan ekonomi. Hal yang harus dipahami dari pembangunan sosial adalah bahwa pembangunan sosial berbeda dari philantrophi sosial, pekerjaan sosial dan administrasi sosial. Menjadi berbeda karena pembangunan sosial tidak menangani individu baik dengan menyediakan bagi mereka barang dan layanan atau dengan menangani dan merehabilitasi mereka. Tetapi pembangunan sosial lebih terfokus pada komunitas atau masyarakat dan proses maupun pada struktur sosial yang lebih luas.
Lebih lanjut Midgley menjelaskan bahwa perbedaan yang lain adalah pembangunan sosial bersifat komprehensif dan universal. Tidak seperti philantrophi sosial dan pekerjaan sosial, pembangunan sosial tidak hanya menyalurkan bantuan kepada individu yang membutuhkan, tetapi berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk dan seluruh warga. Karakter khas dari pembangunan sosial adalah usahanya untuk menghubungkan usaha-usaha pembangunan ekonomi dan sosial, seperti usaha dalam mengintergrasikan proses ekonomi dan sosial sebagai kesatuan pembangunan yang dinamis. Apa yang disampaikan oleh Midgley mengenai pembangunan sosial menurut hemat penulis menekankan pada pemerataan hasil pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan sosial. Artinya hal tersebut memiliki persamaan tujuan dalam pembangunan nasional. Ditilik dari definisi pembangunan nasioanal, yaitu rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, untuk melasanakan tugas mewujudkan tujuan nasional sebagaimana yang ada pada pembukaan UUD 1945. Rangkaian upaya pembangunan itu memuat kegiatan pembangunan yang berlangsung tanpa henti, dengan menaikkan tingkat kesejahteraan masyarakat dari generasi ke generasi. (UU No.17 Tahun 2007).
Pada kesimpulannya, penulis melihat alasan kesesuaian tujuan pembangunan sosial dengan tujuan pembangunan nasional, merupakan alasan berubahnya pembangunan ekonomi ke arah pembangunan sosial. Terkait dengan globalisasi, bahwa pembangunan ekonomi yang terdistorsi dan telah dirasakan secara global, tidak kontekstual untuk negara berkembang, terkhusus negara Indonesia. Mungkin bagi negara maju, pembangunan ekonomi dapat sesuai dengan tujuan pembangunan mereka, tetapi tidak bagi negara berkembang layaknya Indonesia. Pembangunan sosial dirasakan lebih pas dalam mengisi formulasi pembangunan nasional di Indonesia. Setidaknya pembangunan sosial berusaha menjawab mengapa faktor pemerataan pertumbuhan ekonomi penting dalam menyikapi persoalan sosial yang muncul pada persoalan pembangunan sebelumnya. Hal itu juga menjadi tujuan dari pembangunan nasional di Indonesia, sehingga pembangunan sosial-lah yang pada akhirnya menjadi paradigma pembangunan di Indonesia.

Kamis, 11 November 2010

God's Diary


Berapa tahun lampau, kau hanyalah seorang anak bayi yang selalu menangis;
Sekarang, kau telah bertumbuh dan bukan menjadi seorang bayi cengeng lagi;
Kuingat doa pertama yang kau ucapkan saat orangtuamu mengajarkannya;
Senang rasanya mengingat peristiwa itu.

Dulu, kata-kata doamu begitu lugu dan apa adanya;
Saat ini dalam doamu, begitu banyak tuntutan yang kau layangkan kepadaku;
Kau selalu mencerca-Ku ketika apa yang Kuberikan tidak sesuai dengan tuntutanmu;
Sedih rasanya melihat kau yang seorang dewasa kembali menjadi seperti bayi lagi;
Tidak mengertikah kau sedikit saja tentang Aku?

Mungkin kau akan mengerti, ketika kau telah bersama-sama dengan Aku;
Banyak hal yang ingin Kuceritakan tentangmu arti hidup yang sesaat itu;
Hidup itu hanya ibarat uap yang sebentar kelihatan lalu lenyap;
Ketika saatnya tiba, kita semuanya dalam rumah-Ku;
Dalam KEABADIAN!!!

Depok, 11 November 2010 00.15 AM

Senin, 01 November 2010

SEPAKBOLA DAN AGAMA


Catatan Refleksional :

Sepakbola merupakan salah satu cabang olahraga yang sangat diminati oleh masyarakat dunia. Siapa yang tidak mengenal Ronaldo dengan gigi kelinci-nya? Atau, David Beckham dengan kegantengannya? Atau, Alessandro Del Piero dengan wibawanya di lapangan hijau? Atau juga Chritiano Ronaldo serta Lionel Messi dengan skill mengutak-atik bola yang sangat memukau? Semua pasti mengenal nama-nama itu, baik tua-muda, kaya-miskin, pemerintah-non pemerintah, dunia Barat-dunia Timur, dan sebagainya.
Di Indonesia, sepakbola sudah seperti candu bagi masyarakatnya. Hal itu dapat terlihat bagaimana hasil survey yang dilakukan oleh beberapa klub besar dunia, seperti Manchester United, Juventus, Real Madrid ataupun Barcelona, bahwa salah satu penyumbang suporter terbesar mereka di dunia berasal dari Indonesia. Satu kata yang dapat terucapkan : “Luar Biasa”. Bahkan, pada saat final Piala Dunia 2010, Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, mengadakan nonton bareng bersama para menteri kabinet Indonesia bersatu jilid II serta tokoh-tokoh elite pemerintah lainnya. Alhasil, selesai nonton bareng final Piala Dunia 2010, keesokan harinya pada saat rapat kabinet, hampir seluruh peserta rapat terlihat terkantuk-kantuk, seperti yang diinformasikan dari media cetak dan elektronik.
Dari hal di atas, saya ingin mengajak kita semua merefleksikan dari sisi yang berbeda. Ada hal yang tidak pernah terbayangkan kita bahwa sepakbola itu tidak membeda-bedakan agama. Tidak pernah kita tahu bahwa jikalau ingin menjadi fans dari klub Manchester United, kita harus beragama X, sedangkan yang beragama Y harus menjadi fans klub Jubilio Iwata. Tidak pernah karena hal tersebut adalah kekonyolan! Dalam organisasi sepakbola internasional, FIFA, mengeluarkan fatwa bahwa sepakbola itu FAIR PLAY dan NO RACISM dan wajib hukumnya. Artinya, organisasi sepakbola di seluruh negara, harus menciptakan situasi fair play dan menjauhi sikap racismme yang sangat menghancurkan wajah sepakbola. Pasalnya, sepakbola itu adalah ibarat wadah universal yang dapat dinikmati oleh siapa pun manusianya.
Filosofi dunia sepakbola yang begitu humanis, seharusnya dapat diterapkan dalam kehidupan beragama. Agama apa pun harus bertindak fair play dan no racism, agar umat yang berada di dalamnya dapat menghayati persekutuannya dengan Sang Khalik, serta menciptakan agen-agen perdamaian bagi dunia. Apa maksudnya fair play dan no racism? Marilah kita lihat bersama.
A. Agama bertindak Fair Play :
Tidak ada agama apa pun di dunia ini yang tidak mengajarkan kebaikan. Pasti semua agama mengajarkan bagaimana mendatangkan kebaikan, agar kehidupan umat di dunia menjadi berkualitas dan pada akhirnya dapat bertemu dengan Sang Khalik dalam suasana yang sejahtera pula. Akan tetapi, ada unsur yang membuat agama menjadi tidak fair play. Hal ini ibarat seperti di dunia sepakbola, yaitu ketika sebuah tim merasa tertekan di lapangan, mereka dituntut untuk memenangkan pertandingan dengan cara apa pun, bahkan kecurangan pun sah-sah saja dijadikan solusi. Yang bertanggungjawab atas tindakan itu adalah pelatih dari tim itu, karena seorang pelatih yang mengatur jalannya pertandingan sebuah tim. Begitu pula dalam agama. Setiap agama merasa mereka akan tertekan apabila secara kuantitas, umat mereka kalah jumlah dibanding agama tetangga. Alhasil, ada beberapa elemen di dalam agama yang menganggap hal ini sebagai suatu persaingan. Dampaknya, penyebaran agama secara tidak sehat terjadi, seperti : saling tuding kejelekan agama lain, ajaran-ajaran radikal disisipkan, misi meng-agama-kan suatu etnis atau masyarakat tertentu dipaksakan. Jelas hal ini merupakan suatu hal yang tidak fair play, karena dapat menciptakan pemikiran yang radikal. Yang paling bertanggungjawab atas tindakan yang tidak fair play ini adalah para pemuka agama. Seorang pemuka agama apa pun, harus dapat meyakinkan umatnya, bahwa kuantitas pemeluk agama bukanlah hal yang penting dalam agama. Hal yang terpenting dalam beragama adalah kualitas yang dihasilkan manusia itu setelah dia beragama. Hal inilah yang kurang diperhatikan oleh para pemuka agama di seluruh dunia.
Lantas, bagaimana solusi untuk hal ini? Tidak ada cara lain, bahwa setiap pemuka agama di seluruh dunia harus memahami apa arti nilai kemanusiaan. Agama bukanlah hanya menyangkut tentang dunia akhirat saja, tetapi dunia saat ini juga harus diperhatikan. Perdamaian harus dikedepankan agar tercipta dunia yang lebih baik serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini dapat didorong dalam bidang pendidikan mengenai antropologi, sosiologi maupun politik, karena mobilitas agama digerakkan oleh ketiga elemen tersebut.

B. Agama harus bertindak No Racism
Maksudnya no racism adalah setiap agama harus bersikap terbuka terhadap perbedaan yang ada. Pengertian terbuka di sini adalah bagaimana suatu agama dapat menghargai perbedaan ajaran dan doktrin yang ada pada agama lain. Harus dipahami bahwa perbedaan bukanlah suatu hal yang menakutkan, akan tetapi perbedaan lebih kepada suatu unsur yang menjadikan kehidupan lebih indah lagi, ibarat bunga yang berwarna-warni di suatu taman. Esensi lain dari no racism ini adalah bagaimana suatu agama dapat menerima hal yang berbeda tersebut dengan asumsi bahwa apapun agama dari manusia itu, dia tetap sebagai manusia ciptaan Tuhan yang harus dikasihi dan dihormati. Perang yang dilandasi sentimen keagamaan, biasanya kurang memperhatikan nilai kemanusiaan. Mereka beranggapan bahwa orang yang berbeda agama itu adalah berasal dari si jahat, oleh karena itu agama yang mereka anut merupakan agama yang paling benar dan yang harus diikutin.
Solusi untuk mengatasi persoalan ini adalah dengan cara meningkatkan intensitas dialog antar umat beragama. Hal penting yang harus diperhatikan dari dialog ini adalah tidak hanya sekedar sebagai ucapan manis di bibir semata, melainkan dari ketulusan hati yang mendalam guna menciptakan perdamaian. Dengan demikian, tidak akan ada lagi pembeda-bedaan dari seluruh agama di seluruh dunia.
Untuk membangun suatu peradaban yang baik dibutuhkan perdamaian dari masyarakatnya. Masalah agama kerap menjadi ancaman bagi perdamaian dunia, sehingga dunia kita menjadi dunia yang penuh kekerasan, ledakan emosi dan pikiran sadis. Untuk itu, setiap agama harus dapat menjelma menjadi sepakbola yang dapat dinikmati oleh siapa saja dan menjadi hiburan serta penguatan bagi semua manusia. Agama apa pun tidak akan pernah mengajarkan permusuhan, karena tujuan beragama itu adalah menciptakan kehidupan yang lebih baik. Perdamaian merupakan kunci hakiki dari kehidupan yang lebih baik. Menurut Hans Kung : “TIdak akan ada perdamaian di dunia jikalau tidak ada perdamaian agama”. Untuk itu, marilah kita berdamai dengan diri kita sendiri dan dengan orang lain. Mari kita beragama dengan menjujung tinggi fair play dan no racism.

Senin, 25 Oktober 2010

Sejarah Sekolah Minggu


Robert Raikes adalah orang sibuk. Ia pemilik dan penerbit The Gloucester Journal, koran paling besar di wilayah Glouscester, Inggris. Sering kali ia sendiri harus turun tangan mencari berita, menyunting laporan, memeriksa salah cetak atau lainnya.
Oleh karena kesibukannya, Raikes sering bekerja pada hari Minggu untuk menyiapkan koran yang harus terbit keesokan harinya. Ia merasa aneh karena justru pada hari Minggu, ia terganggu oleh suara gaduh dari luar. Ternyata di luar kantornya ada banyak anak yang bermain dan membuat keributan di jalan. Usia mereka sekitar sepuluh tahun. Pakaian mereka lusuh. Muka mereka kotor. Kelakuan mereka kasar. Kata-kata mereka jorok.
Raikes mencari tahu mengapa anak-anak ini bermain di jalan pada hari Minggu. Ternyata mereka tidak bersekolah. Mereka bekerja di pabrik sepanjang pekan. Ini abad 18, dimana Inggris sedang demam industrialisasi. Muncul banyak pabrik yang membutuhkan tenaga murah. Akibatnya banyak anak berhenti sekolah dan bekerja di pabrik dari pagi hingga petang. Mereka diperlakukan dengan keras. Satu-satunya kesempatan mereka untuk bebas adalah pada hari Minggu. Oleh karena itu mereka berkeliaran di jalan pada hari Minggu, bermain dan berbuat onar.
Sebagai wartawan yang menulis berita kriminal dan berkunjung ke penjara, Raikes menyadari bahwa anak-anak ini mudah terseret di dunia kriminal. Sebab itu ia berpikir dan mencari jalan keluar untuk menolong anak-anak ini. Bersama dengan seorang tokoh agama (pendeta) di gerejanya, yaitu Pdt. Thomas Stock, Raikes menyewa rumah kosong untuk membuka sekolah pada hari Minggu bagi anak-anak ini. Pada bulan Juli 1780, sekolah itu dimulai dengan nama Sekolah Minggu. Ketika itu Raikes berusia 45 tahun. Anak-anak yang tidak bersepatu diberinya sepatu. Untuk anak-anak yang belum makan, ia menyediakan roti. Disuruhnya anak-anak ini mandi. Setiap hari Minggu, Raikes memanggil dan menuntun tangan anak-anak ini, “Mari ikut Sekolah Minggu!” Ia menjemput mereka, teringatlah Raikes akan ucapan Yesus, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku”
Pelajaran yang diberikan di Sekolah Minggu yang pertama ini adalah membaca, menulis, berhitung, mendengar cerita Alkitab, mempelajari katekismus, bermain dan beribadah. Buku utamanya adalah Alkitab. Pelajaran berlangsung setiap hari Minggu mulai pukul 10.00 - 12.00 dan dilanjutkan lagi pukul 13.00 – 17.30. Pada pukul 18.00 Raikes mengajak anak-anak ini beribadah di gereja.
Janganlah dikira bahwa Sekolah Minggu yang pertama ini berjalan mudah. Di kelas sering terjadi keributan. Pernah seorang murid diam-diam membawa seekor tikus, lalu melepaskannya ketika mereka sedang berdoa. Langsung saja kelas itu menjadi kacau balau. Sering kali juga terjadi perkelahian karena seorang anak mencuri permen temannya. Pernah Raikes memukul seorang murid dengan tongkat karena murid itu mendorong dan menjatuhkan seorang nenek yang lewat.
Walaupun banyak kendala, namun Sekolah Minggu pertama di Gloucester ini berkembang. Semakin banyak anak yang tertarik dan semakin banyak orangtua yang melihat faedahnya. Seorang ayah berkata, “Sejak anak saya ikut Sekolah Minggu, perilakunya menjadi baik, dan saya juga berhenti mabuk-mabukan serta mulai teratur ke gereja.” Juga anak-anak perempuan datang dan ikut Sekolah Minggu.
Setelah berlangsung tiga tahun, Raikes mulai menceritakan pelaksanaan Sekolah Minggu ini ke kota-kota lain. Di koran yang terbit tanggal 3 November 1783, ia menguraikan tentang gagasan dan pengalaman Sekolah Minggu-nya. Tanggapan positif muncul di seluruh Inggris. Di sana-sini lahir Sekolah Minggu yang baru.
Sepuluh tahun setelah Sekolah Minggu pertama berdiri di Glouscester, menyebarlah gagasan ini ke Amerika dan negara-negara lain. Yang tampak berbeda adalah bahwa kebanyakan Sekolah Minggu di negara lain mengkhususkan diri dalam pelajaran cerita-cerita Alkitab. Tradisi lain bertumbuh di Sekolah Minggu Amerika Serikat, dimana pelajaran untuk pelbagai golongan usia. Sampai sekarang tradisi itu tetap kuat di Amerika Serikat. Hampir semua gereja dari denominasi apapun mempunyai Sekolah Minggu untuk pelbagai usia; ada ruangan dimana anak kecil sedang menggunting gambar kapal Nuh, sedangkan di ruang lain orang-orang dewasa serius membicarakan hubungan iman Kristen dengan persoalan lingkungan hidup.
Kini tidak terbilang lagi jumlah anak dan orang dewasa yang setiap hari Minggu pagi dengan setia belajar dan mengajar suatu bagian Alkitab di Sekolah Minggu. Sekolah Minggu ada dimana-mana : ada di sebuah rumah makan di Situbondo, di garasi Kairo, di suatu peternakan Meksiko, di bawah pohon pedalaman Kongo, di suatu gedung gereja di Orlando. Di mana-mana tiap hari Minggu ada Sekolah Minggu.
Semua berawal dari prakarsa Robert Raikes di sebuah rumah tua di Gloucester, atau lebih tepat lagi semua berawal dari kegaduhan anak-anak yang bermain di tepi jalan kantor Raikes. Prakarsa Raikes telah menjadi berkat. Pada batu pualam tempat Robert Raikes dimakamkan di gereja Saint Mary di Gloucester terukir kata-kata dari ayat Alkitab Ayub 29 : 11 – 13, yaitu :
“Apabila telingga mendengar tentang aku,
maka aku disebut berbahagia,
apabila mau melihat,
maka aku dipuji.
Karena aku telah menyelamatkan orang sengsara,
yang berteriak minta tolong,
juga anak piatu yang tidak ada penolongnya,
aku mendapatkan ucapan berkat,
dari orang yang nyaris binasa,
dan hati seorang janda kubuat bersukaria".

(Dikutip dari buku Andar Ismail, Selamat Menabur, dengan judul tulisan “Sekolah Minggu”, halaman 28 – 31. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2005)

My Poem - Lembaran Baru

Inginku bertanya kepada-Nya,
tentang apa arti hidup.
Hatiku bergumam,asa pun membara.
Di tengah ketidakpastian,
suara hatiku berbisik :
DARI MANAKAH ASALNYA KEHIDUPAN?

Jam dinding berdetak,
namun tak secepat jantungku.
Ketika sang waktu menjadi raja,
Lantas Tuhan menjadi apa?
Ini gila dan tidak logika!

Gelapnya suasana nan merasuk kalbuku.
Ada cinta yang berasal daripada-Nya,
telah menerangi pelita hati yang telah padam.
Walau cintanya tak sebesar cinta-Nya,
namun cintaku padanya sebesar doaku kepadaNya.

Ganas amuk mereka,
tidak akan meluluhlantahkan hatiku.
Cintanya tentangku, mencerminkan cinta-Nya kepadaku.
Lantas, apa lagi galauku?
Tidak ada alasan bagiku,
untuk tidak membuka suatu lembaran.
Ya, Lembaran yang baru dalam hidup



Theodorus Benyamin Sibarani
Salatiga, 18 Januari 2009

Askarseba with Love
Just for Hasian...

Luv u so much...

Jumat, 13 Agustus 2010

Sepintas Merenung

1 Petrus 3 8 : 12

Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia-sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati. Jaganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab : Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya. Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang yang benar, dan telinga-Nya kepada mereka yang meminta tolong. Tetapi wajah Tuhan menentang orang yang berbuat jahat.

Jumat, 23 Juli 2010

DO IT ANYWAY


MOTHER THERESA
People are often unreasonable, illogical and self-centered;
FORGIVE THEM ANYWAY.

If you are kind, People may accuse you of selfish,
ulterior motives;
BE KIND ANYWAY.

If you are successful, you will win some false friend
and some true enemies;
SUCCEED ANYWAY.

If you are honest and frank, people may cheat you;
BE HONEST AND FRANK ANYWAY.

What you spend years building, someone cold destroy overnight;
BUILD ANYWAY.

If you find serenity and happiness, they may be jealous;
BE HAPPY ANYWAY.

The good you today, people will often forget tomorrow;
DO GOOD ANYWAY.

Kamis, 01 Juli 2010

Napak Tilas Stephen Bantu Biko (Pejuang Politik Apertheid di Benua Hitam)

Auto biography Stephen Bantu Biko
Lahir : King William’s Town, Eastern Cape, South Africa. 18 Desember 1946.
Meninggal : Pretoria Prison Cell, 12 September 1977
- Di masa muda tertarik dengan politik anti Apertheid
- Belajar di University of Natal Medical School (bagian kulit hitam)
- Sempat bergabung dengan National Union of South Africa Students (NUSAS), akan tetapi Biko keluar karena NUSAS didominasi oleh mereka yang berkulit putih. (penolakan terhadap pelajar-pelajar yang berkulit hitam)
- 1969, Biko mendirikan South Africa Studets’ Organization (SASO), yang kemudian mendapat izin yang resmi untuk klinik kesehatan yang digunakan untuk mereka yang tidak diuntungkan karena status komunitas kulit hitam
- 1972, salah satu pendiri Black People Convention (BPC) yang bekerja di daerah Durban
- BPC secara efektif merangkul 70 perbedaan yang ada di kelompok yang berkulit hitam, sehingga mendorong kemajuan dari South Africa Student’s Movement (SASM).
- Tahun 1973, Biko mendapat larangan dari pemerintah Apertheid, dimana tidak dapat bergerak bebas di kota kelahirannya (King William’s Town), karena dianggap mengacaukan pemerintahan
- 1975, Biko ditangkap dan diinterogasi dari Agustus 1975 – September 1977 di masa Anti teroris pemerintahan Apertheid
- 1976, peningkatan dalam National Association of Youth Organization (NAYO) dan Black Workers Project (BWP), yang didukung oleh para pekerja yang bersatu karena tidak diakui dalam pemerintahan Apertheid
- 21 Agustus 1977 Biko ditangkap kembali oleh polisi Estern Cape saat berada di Port Elizabeth
- 7 September 1977 mengalami luka dalam di kepala yang disebabkan selama dalam interogasi kepala kepolisian (posisi dikurung dalam keadaan telanjang dan terbaring tidak berdaya di dalam sel tahanan)
- Ahli kesehatan kepolisian merekomendasikan agar Biko segera dipindahkan ke rumah sakit. Setelah setuju, Biko diantar ke Pretoria selama 1.200 km (sekitar 12 jam perjalanan) dalam keadaan telanjang dan terbaring di lantai
- 12 September 1977, kepolisian memberikan pengumuman lewat Menteri Hukum Afrika Selatan (Jimmy Kruger) Biko meninggal karena terserang kelaparan dan kedinginan
- Keadaan Biko yang sebenarnya diberitakan oleh editor East London Dialy Dispatch, Donald Woods, bahwa Biko mengalami kerusakan pada otaknya

Apa itu Etik Global (Ringkasan Buku Hans Kung : Global Ethics)?

1. Bagaimana sebagian perbedaan etik seperti etik agama-agama menjadi suatu global etik?
Jawab : Pertama-tama, harus dipahami bahwa Etika berbeda dengan Etik. Etik berarti sikap moral manusia yang mendasar, sedang etika menunjuk pada teori sikap moral, nilai dan norma moral secara filosofis, atau teologis. Perbedaan etik global agama-agama dapat menjadi suatu global etik dikarenakan adanya ada pengalaman historis yang menunjukkan bahwa bumi tidak bisa diubah menjadi lebih baik jika tidak ada kesadaran transformasi kesadaran para individu maupun kehidupan publik. Oleh karena itu adalah tugas khusus agama-agama untuk selalu menjaga rasa tanggung jawab dan memperkuat serta mewariskannya kepada generasi yang akan datang. Selain itu, salah satu yang terkandung dalam nilai deklarasi tentang etik global adalah bagi orang yang bermotivasi religius, sebuah etik akan berkaitan dengan kepercayaan yang cukup rasional (trust) kepada realitas ultim yang suprim, tidak peduli apa nama yang akan diberikan kepada realitas tersebut, dan tidak peduli apa pun pertikaian yang terjadi tentang hakikatnya di antara agama-agama yang berbeda.
2. Mengapa dunia kita saat ini membutuhkan suatu bentuk etik global?
Jawab : Dunia kita saat ini membutuhkan suatu bentuk etik global karena dunia kita sedang mengalami krisis fundamental, yaitu : krisis ekonomi, global dan politik yang terjadi secara global. Tidak adanya visi dasar, kacaunya persoalan yang tak terpecahkan, kelumpuhan politik, kepemimpinan politik yang lemah dengan sedikit pandangan ke depan, serta minimnya nilai rasa untuk kesejahteraan berasama nampaknya telah merata. Dalam situasi global yang dramatis seperti itu, umat manusia memerlukan visi tentang kehidupan bersama secara damai, tentang kebersamaan di antara berbagai kelompok agama dan wilayah yang berbeda bagi perawatan bumi. Berdasarkan pada pengalaman tersebut, telah dapat dipelajari bahwa hak asasi tanpa moralitas tidak akan bertahan lama, dan bahwa tidak akan ada tatanan global yang lebih baik tanpa etik global.
3. Bagaimana etik global memainkan perannya dalam menanggulangi konflik yang ada di sekitar dunia?
Jawab : Etik global memainkan peranannya dalam menanggulangi konflik yang ada di sekitar dunia adalah dengan cara menuntut bahwa setiap manusia harus diperlakukan secara manusiawi. Setiap manusia harus mengenakan pakaian kemanusiaan yang murni, untuk melakukan kebaikan dan menolak kejahatan. Mengapa? Karena salah satu tujuan etik global adalah menjelaskan apa makna yang dia maksud, serta mengingatkan adanya suatu norma yang tidak bisa diganggu gugat dan berlaku universal. Dalam empat petunjuk yang tidak dapat dibatalkan, di bagian komitmen pada budaya non-kekerasan dan hormat pada kehidupan, tercantum bahwa di mana pun ada manusia, di situ ada konflik. Untuk itu, tidak ada peluang untuk kehidupan bagi manusia tanpa perdamaian global.

KESIMPULAN :
Sebenarnya Hans Kung berharap nama yang diberikan adalah Deklarasi ke Arah Etik Global, bukannya Etika Global . Dari sinilah pertama muncul salah pahamnya penggunaan istilah. Akan tetapi, pilihan kata pada akhirnya tidaklah menentukan, karena yang terpenting adalah pokok persoalannya, bukan nama. Secara pribadi, saya melihat konsentrasi dari etik global ini ada pada nilai kemanusiaannya, walaupun Hans Kung berkata bukan terkait dengan Hak Asasi Manusia saja, tetapi sering dilupakannya nilai Hak Asasi Manusia itu sendiri.
Kesadaran sangat dibutuhkan untuk menciptakan kehidupan di bumi yang lebih baik. Elemen agama sangat mempengaruhi perdamaian antar bangsa, untuk itu harus diakui kecemerlangan pemikiran Hans Kung untuk merumuskan bahwa tidak ada perdamaian bangsa-bangsa, jika tidak ada perdamaian agama. Ini harus disadari oleh setiap pemeluk agama, bahwa fundamentalisme agama tersebut membuat buruk kehidupan di dunia ini. Untuk realitas Indonesia, hal ini dapat berlaku karena tidak jauh konteks kehidupan beragama di Indonesia tidak jauh berbeda dengan konteks kehidupan beragama bangsa-bangsa yang ada di dunia. Etik global sangat berfaedah dalam konteks Indonesia, bilamana ada komitmen berjalan bersama dalam hal membangun masyarakat Indonesia yang lebih baik. Akan tetapi, etik global menjadi tidak berfaedah ketika dia dipahami untuk menyatukan agama secara dokrinal maupun agama.

Senin, 14 Juni 2010

Teori Sosial Klasik





keterangan gambar :

Gambar 1 : Max Weber
Gambar 2 : Emile Durkheim
Gambar 3 : Karl Marx

Karl Marx


Untuk membahas Karl Marx, saya rasa cukup penting untuk mengetahui sekilas mengenai latar belakangnya. Karl Marx lahir di Trier, Prussia, pada tanggal 5 Mei 1818. Ayahnya adalah seorang pengacara yang kerap memberikan nuansa kelas dalam keluarga. Latar belakang kedua orangtuanya adalah keluarga Rabi yang taat, namun karena alasan politis beralih ke Lutheran. Banyak kalangan yang mengatakan, untuk mengerti pemikiran Marx harus terlebih dahulu memahami filsuf Jerman G.W.F. Hegel, terutama gagasan tentang filsafat dialektis. Dalam model dialektis sebenarnya ada lima unsur yang ditekankan, yaitu fakta-nilai; hubungan timbal balik; masa lalu,masa sekarang,masa depan; tidak ada yang tidak dapat dielakan; dan aktor-struktur. Mengenai nilai sosial, dia tidak dapat dipisahkan dari fakta sosial. Oleh sebab itu, dalam keterkaitan antara fakta-fakta dan nilai-nilai, fenomena sosial sarat dengan value laden. Pada hal kedua dalam analisis dialektis, hubungan timbal balik dipahami sebagai suatu faktor yang berpengaruh / turut mempengaruhi faktor yang lain.
Hal ketiga mengenai masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Maksudnya adalah manusia merupakan seseorang yang menciptakan sejarah, yang mempengaruhi kehidupan mereka di saat ini dalam menentukan keadaan mereka di masa depan. Hal keempat, mengenai tidak ada yang tidak dapat dielakan, maksudnya adalah fenomena sosial selalu menghasilkan aksi dan reaksi, oleh karena itu partispasi harus nyata di dalamnya. Hal ini dicontohkan Marx dengan keikutsertaan masyarakat dalam perjuangan kelas lebih baik dan menghasilkan sesuatu daripada menunggu hasil dengan pasif. Mengenai aktor dan struktur, sebenarnya Marx mengelaborasi pendekatan dialektisnya dari masa lalu, masa sekarang dan masa depan ke dalam skala yang besar dalam level analisnya.
Saya merasa perlu mencantumkan metode dialektika yang dikembangkan Marx karena nantinya dalam analisa terhadap kelas-kelas sosial, Marx beranjak dari pendekatan metode ini. Dari hasil pengamatan Marx, struktur-struktur masyarakat kapitalis telah menciptakan alienasi (keterasingan). Dijelaskannya lebih lanjut, bahwa masyarakat tidak lagi bekerja sebagai sebuah ekspresi dari tujuan, karena masyarakat bekerja berdasarkan tujuan kapitalis yang memberi upah. Alienasi juga tidak dirasakan dalam hubungan masyarakat dengan sistem kapitalis, malahan alienasi terjadi dalam sistem hubungan masyarakat. Hal ini dapat terjadi karena terjadi persaingan yang menyebabkan kesenjangan dalam masyarakat.
Pada masa Marx berada, Eropa tengah mengalami peningkatan industrialisme yang pesat. Analisisnya terhadap alienasi merupakan respons terhadap perubahan ekonomis, sosial, dan politis yang terlihat di sekitarnya. Ini merupakan dampak dari struktur sosial yang diciptakan masyarakat kapitalisme. Menurut Marx, kapitalisme adalah sistem ekonomi dimana sejumlah besar pekerja yang hanya memiliki sedikit hak milik, memproduksi komoditas-komoditas demi keuntungan sejumlah kecil para kapitalis. Paling penting lagi, bagi Marx, kapitalisme adalah sistem kekuasaan. Jadi orang kapitalis merupakan orang yang memiliki alat produksi dan mereka yang memberi upah kepada proletariat. Proletariat atau proletar sendiri adalah para pekerja yang menjual kerja mereka dan mereka yang tidak memiliki alat produksi. Para proletar ini dieksploitasi untuk tujuan produksi, tidak jarang terjadi pemaksaan, dimana menurut Marx hal ini merupakan suatu kekerasan. Para pekerja menjadi buruh-buruh bebas yang membuat kontrak dengan pihak kapitalis. Mereka ini harus menaati peraturan, karena kalau tidak akan digantikan dengan pekerja bebas lainnya (istilah Marx : tentara cadangan).
Karl Marx mengemukakan poin penting lainnya tentang kapital, bahwa kapitalisme selalu didorong oleh kompetisi yang tiada henti. Tendensi konstan kapitalis adalah untuk memaksa ongkos kembali (setidaknya balik modal). Dalam hal inilah Marx melihat terciptanya konflik antar kelas, dimana baginya sebuah kelas benar-benar eksis hanya ketika mereka menyadari sedang berkonflik dengan kelas-kelas lain. Kelas bagi Marx diidentifikasikan sebagai potensi konflik, yang terbagi menjadi dua bagian yaitu borjuis dan proletar (bandingkan pada bagian proletariat). Dalam mengelaborasi teorinya Marx melihat materialisme sebagai hal yang penting dalam relasi produksi dengan wilayah-wilayah kekuatan materialisme produksi.


Emile Durkheim

Emile Durkheim lahir di Epinal, 15 April 1958, Perancis. Walaupun terlahir dari keluarga rabi, tetapi Durkheim memutuskan untuk memilih dunia akademika yang jauh dari nuansa kerabian. Dalam kajian teori sosiologi klasik, Durkheim berusaha melepaskan sosiologi dari dunia filsafat. Alasannya adalah penjelasan filsafat mengenai empirisme dan apriorisme, tidak berlaku karena secara alamiah, manusia yang baru saja lahir dari dunia sama sekali tidak terikat dengan kategori tersebut. Durkheim berpendapat bahwa pengetahuan manusia bukanlah hasil pengalamannya sendiri dan bukan pula karena kategori yang telah dimiliki sejak lahir yang dapat dipakai untuk memilah-milah pengalaman. Sebenarnya kategori-kategori tersebut adalah ciptaan masyarakat, yang merupakan representatif kolektif.
Untuk memisahkan sosiologi dari filsafat dan memberi kejelasan, secara singkat Durkheim menjelaskan mengenai fakta sosial. Fakta sosial terdiri dari struktur sosial, norma budaya dan nilai yang berada di luar dan memaksa para aktor. Lebih jelas diterangkannya, fakta sosial adalah seluruh cara bertindak, baku maupun tidak, yang dapat berlaku pada diri sendiri sebagai sebuah paksaan eksternal; atau bisa juga dikatakan fakta sosial adalah cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat dan pda saat yang sama keberadaannya terlepas dari manifestasi individual. Dari penjelasan ini, sebenarnya Durkheim ingin mengatakan bahwa ada dua definisi untuk fakta sosial yaitu, pertama fakta sosial merupakan pengalaman sebagai sebuah paksaan eksternal dan bukannya dorongan internal; kedua, fakta sosial umum meliputi seluruh masyarakat dan tidak terikat pada individu partikular apapun.
Durkheim membedakan dua ranah fakta sosial, yaitu materil dan non materil. Yang termasuk fakta sosial materil seperti gaya arsitektur, bentuk teknologi, hukum dan perundang-undangan; sedangkan fakta sosial non materil adalah kekuatan moral. Dalam penjabarannya, fakta non materil meliputi moralitas, kesadaran kolektif, representatif kolektif maupun arus sosial. Hal penting yang harus dicatat dari Durkheim adalah mengenai solidaritas mekanis dan organis. Perubahan dalam pembagian kerja memiliki implikasi yang sangat besar bagi struktur masyarakat. Masyarakat yang ditandai dengan solidaritas mekanis menajadi satu dan padu karena seluruh orangnya adalah generalis. Ikatan dalam masyarakat seperti ini terjadi karena mereka terlibat dalam aktivitas dan tanggungjawab yang sama. Sebaliknya, masyarakat yang ditandai oleh solidaritas organis bertahan bersama justru dengan perbedaan yang ada di dalamnya, dengan fakta bahwa semua orang memiliki pekerjaan dan tanggungjawab berbeda-beda.

Durkheim berpendapat bahwa masyarakat dengan solidaritas mekanis dibentuk oleh hukum represif. Sebaliknya bagi masyarakat solidaritas organis dibentuk oleh hukum restitutif. Bergeser mengenai bukunya The Elementary Forms of Religious Life, Durkheim membedakan teori mengenai agama ke dalam sakral dan profan. Yang sakral tercipta melalu ritual-ritual yang mengubah masyarakat menjadi simbol-simbol religius yang mengikat individu dan suatu kelompok, dan segala sesuatu di luar itu disebutnya dengan istilah profan. Di sini memang terlihat tidak ada kaitan antara masyarakat dengan agama, tetapi di sinilah letak kecerdasan Durkheim, dimana dia melihat suatu keterkaitan di dalam semangat kolektif.


Max Weber

Max Weber lahir di Erfurt, 21 April 1864, Jerman. Ayahnya merupakan seorang birokrat dengan posisi politik yang relatif penting. Sedangkan ibunya merupakan seorang Calvinis yang taat dan tidak mau terlibat dengan kepentingan kehidupan di dunia. Konsep Weber dalam mendekati realitas masyarakat adalah Verstehen atau pemahaman. Yang menjadi kunci dalam konsep Verstehen ini adalah apakah konsep ini dapat diterapkan secara pas pada kondisi subjektif aktor individual atau pada aspek subjektif unit analisis skala besar. Dampaknya adalah adanya berbagai penafsiran mengenai Verstehen oleh berbagai kalangan. Hal ini sebenarnya mengindikasikan bahwa kita harus mengidentifikasi pemahaman tindakan dan mengenali konteks yang melingkupinya.
Aspek lain dari metodologi Weber adalah kausalitas, dalam pengertian kemungkinan suatu peristiwa diikuti atau disertai oleh peristiwa lainnya. Weber cukup jelas ketika membicarakan isu keragaman kausalitas dalam studinya tentang hubungan antara Protestanisme dengan semangat Kapitalisme. Yang perlu diingat dalam pemikiran Weber tentang kausalitas adalah keyakinan dia bahwa karena kita dapat memiliki pemahaman khusus tentang kehidupan sosial (verstehen), pengetahuan kausal atas ilmu-ilmu sosial berbeda dengan pengetahuan kausal tentang ilmu-ilmu alam.
Sumbangan berharga Weber terhadap teori klasik adalah mengenai tipe-tipe ideal, dimana merupakan perangkat heuristik yang berguna dan membantu dalam melakukan penelitian empiris dan dalam memahami aspek tertentu dari dunia sosial (bisa dalam pengertian tolak ukur ataupun standar pembanding). Dalam perkembangannya, Max Weber sampai pada pemahaman mengenai tindakan sosial. Teori tindakan sosial ini difokuskan lebih kepada individu dan bukan pada kolektivitas. Tindakan dalam orientasi perilaku yang dapat dipahami secara subjektif hanya hadir sebagai perilaku seorang atau beberapa orang individu.
Weber mengakui bahwa untuk beberapa tujuan kita mungkin harus memperlakukan kolektivitas sebagai individu; namun untuk menafsirkan tindakan subjektif dalam karya sosiologi, kolektivitas ini harus diperlakukan semata-mata sebagai resultan dan mode organisasi dari tindakan individu tertentu, karena semua itu dapat diperlakukan sebagai “agen” dalam tindakan yang dipahami secara subjektif. Dalam pembahasannya mengenai kelas, Weber memulainya dari kelas, dimana Weber berpegang pada konsep orientasi tindakannya dengan menyatakan bahwa kelas bukanlah komunitas; kelas adalah sekelompok orang yang situasi bersama mereka dapat menjadi (kadang-kadang seringkali) basis tindakan kelompok.
Weber bukanlah seorang politisi radikal, meskipun hampir sama kritisnya dengan Karl Marx, ia tetap tidak mendukung revolusi. Weber ingin mengubah masyarakat secara gradual, bukan menghancurkan. Mengenai alternatif lain dalam perubahan masyarakat, menurut Weber tidak ada lagi selain birokrasi atau dilentanisme (pengetahuan yang dangkal tentang suatu bidang administrasi). Yang paling penting dalam sejarah pemikiran Weber adalah kaitan antara agama dan kelahiran kapitalisme. Karya Weber mengenai agama dan kapitalisme mencakup sejarah lintas budaya, yang dapat diringkaskan sebagai berikut :
1. Kekuatan ekonomi mempengaruhi agama Protestan;
2. Kekuatan ekonomi mempengaruhi agama selain Protestan, seperti Hinduisme, Konfusianisme dan Taotisme;
3. Gagasan-gagasan agama mempengaruhi pikiran dan tindakan individu, khususnya pikiran dan tindakan ekonomi;
4. Sistem gagasan agama meninggalkan pengaruh yang tidak sedikit di seluruh dunia;
5. Sistem gagasan agama (khususnya Protestan) melahirkan akibat yang unik di Barat dalam membantu merasionalkan sektor ekonomi dan hampir setiap institusi lain;
Menurut pandangan Weber, semangat kapitalisme tidak dapat didefinisikan begitu saja berdasarkan kerakusan ekonomi, dalam banyak hal justru sebaliknya. Kapitalisme merupakan sistem etika dan etos yang memang menjadi salah satu pendorong terjadinya kesuksesan ekonomi. Semangat kapitalisme juga dapat dipandang sebagai sistem normatif yang berisi sejumlah ide yang saling terkait.