Sabtu, 14 Desember 2019

Kedatangan Yesus dan Kesudahan Dunia


Minggu, 15 Desember 2019 (Advent-III)


Pendahuluan
Menurut Daniel J.Harrington SJ (1991), ahli Perjanjian Baru, waktu penulisan Injil Matius ini diperkirakan setelah tahun 70 ZB (Zaman Bersama/Masehi) di dekat Palestina. Penulis kitab Matius ini dalam karyanya ingin berusaha untuk merespons krisis yang dialami oleh Yerusalem ketika itu dengan memotret kehancuran Bait Allah. Kehancuran itu membuat pusat dan sarana bersatunya umat Yahudi mendadak tidak berfungsi dan sangat kecil kemungkinan ke depannya akan segara dibangun kembali. Orang Yahudi karenanya harus dapat menyesuaikan diri mereka dari segala keterpurukan ini. Dan, Injil Matius ini sedang menceritakan tentang situasi dari orang Yahudi, khususnya yang sudah menerima Kristus (Kristen), di dalam menghadapi situasi/suasana yang baru.
Jack Dean Kingsbury (2004) mempertajam Daniel J.Harrington SJ, di mana ia menjelaskan bahwa ada dua kelompok besar yang dihadapi oleh Yahudi Kristen di dalam Injil ini, yaitu bangsa Yahudi dan para pemimpin mereka. Tentang bagaimana mereka mengalami benturan, hal itu dapat dilihat dalam relasi Yesus dengan kedua kelompok itu. Dari prespektif Yahudi Kristen,  mereka mendukung bagaimana Yesus dapat meyakinkan dua kelompok itu untuk mau mendengarkan berita tentang Kerajaan (Surga). Dan, teks kita pada minggu ini membahas tentang salah satu aspek dari berita Injil Kerajaan (Surga) itu. Ini juga menjadi dasar kesaksian bagi semua bangsa di dalam mendapatkan kesudahan (band.Mat.24:14)

Penjelasan Nas
Sebagaimana yang telah dipaparkan di dalam Pendahuluan, Yesus sebagai representasi dari orang Yahudi Kristen sering mendapatkan tantangan dari bangsa Yahudi dan pemimpin mereka sendiri. Puncak ketegangan itu, pada Injil Matius digambarkan, Yesus mengecam keras ahli Taurat dan orang Farisi (band.Psl.23). Setelah menyampaikan kecaman-Nya itu di dalam Bait Allah, Yesus lalu keluar dari sana dan menunjuk bangunan Bait Allah serta memberitahukan pada para murid-Nya kalau Bait Allah itu akan runtuh fisiknya. Tidak ada satu batu pun yang dibiarkan berdiri.
Kalau kita mengikuti alur awal, kita bisa melihat bagaimana kental terasa romansa orang Yahudi Kristen dengan Bait Allah yang sudah dinubuatkan oleh Yesus akan menjadi rerentuhan. Di dalam kekesalan yang bercampur aduk dengan kesedihan, para murid dan Yesus pun pergi ke bukit Zaitun. Di sana mereka bercakap-cakap tentang kedatangan-Nya kelak dan tanda kesudahan dunia (ay.3). Mengapa para murid menanyakan hal tersebut? Ini sangat berkaitan dengan kefrustasian para murid akan penjajahan Romawi, terlebih menjelang runtuhnya Bait Allah di Yerusalem. Para murid sepertinya ingin menikmati kehidupan yang damai, di mana penjajahan tidak pernah ada di tengah kehidupan mereka.
Merespons pertanyaan tentang waktu kelak tanda kedatangan dan kesudahan dari para murid ini, Yesus dengan tegas memperingatkan mereka agar terlebih dahulu mewaspadai orang yang menyesatkan. Ada banyak orang disebutkan oleh Yesus akan datang memakai nama-Nya dan mengaku bahwa ia adalah Mesias (ay.4-5). Tentang tanda awal kedatangan-Nya dan kesudahan dunia itu, Yesus menggambarkan mereka akan mendengar deru perang. Para murid diminta oleh Yesus untuk tidak gelisah, tetapi berawas-awas diri, karena semuanya pasti terjadi, tetapi yang pasti belum tiba saatnya ke sana (ay.6). Tanda-tanda lain yang mengiringi adalah peperangan yang terjadi baik itu antarbangsa maupun antarkerajaan. Lalu, ada kelaparan dan gempa bumi terjadi di berbagai tempat (ay.7). Akan tetapi, menurut Yesus, hal itu baru permulaan penderitaan menjelang zaman baru (ay.8).
Dari jawaban Yesus pada para murid, kita dapat mencoba untuk memahaminya lebih dalam lagi. Yang pertama, Penyesatan. Pergumulan umat Tuhan di sepanjang zaman adalah penyesatan. Dalam konteks pembicaraan Yesus dengan para murid-Nya, Yesus jelas menunjukkan siapa penyesat yang dimaksud-Nya itu. Mereka adalah nabi palsu (band.ay.11). Apa yang dimaksudkan Yesus dengan penyesat di sini? Yesus di dalam konteks lain pernah menjelaskan bahwa penyesat adalah mereka yang tidak mengerti kitab suci dan kuasa Allah (band.Mat.22:29, Mrk.12:24). Paulus juga di dalam pelayanannya di tengah-tengah jemaat sering mendapatkan tantangan dari para penyesat, seperti ketika berada di Roma, Tesalonika, Filipi, Korintus, Galatia, dan lain sebagainya (Rm.11:9, 1.Kor.6:9, 15:33, 2.Kor.11:3, Gal.6:7, Ef.5:6, 1.Tes.2:3, 2.Tes.2:3, 2:11, Tim.1:4:1).
Terkait dengan tanda-tanda yang disampaikan-Nya, yaitu peperangan, kelaparan, dan gempa bumi, Yesus di pasal sebelumnya sudah menjelaskan manusia hanya bisa melihat tanda langit tetapi tidak dengan tanda-tanda zaman (band.Mat.16:3). Tanda-tanda yang disebutkan Yesus sebagai permulaan dari penderitaan menjelang zaman baru berasal kata Yunani, yaitu “oidin”, yang arti harafiahnya ialah rasa sakit bersalin. Yesus di sini sebenarnya ingin menegaskan tanda-tanda itu bukan memastikan bahwa hal kedatangan-Nya dan kesudahan dunia telah pasti tiba. Karena, sakit hendak persalinan sangat banyak tandanya. Ada istilah persalinan di dalam dunia medis dengan tanda kontraksi (his) palsu. Tanda ini seolah-olah menunjukkan seorang ibu sudah pasti siap waktunya untuk melahirkan anaknya ke tengah-tengah dunia. Padahal, kontraksi itu hanya kontraksi biasa (mengencangnya otot rahim) dan belum menandakan saatnya ibu itu untuk melahirkan. Tetapi, seorang dokter atau bidan tetap juga berjaga-jaga apabila kontraksi yang datang adalah benar-benar kontraksi (his) asli. Dengan demikian, para murid bisa tetap waspada agar apabila tanda-tanda yang digambarkan Yesus terjadi mereka dapat siap menghadapinya.  

Renungan
            Sejak zaman gereja purbakala sampai saat ini ternyata sudah banyak orang yang tidak sabar agar kedatangan Yesus kedua kali segera tiba. Spekulasi waktu hari kiamat terus bermunculan di dunia ini. Termasuk di Indonesia, ada berbagai sekte yang pemimpinnya mengklaim diri mereka adalah yang diutus Allah atau mesias zaman kini. Seperti contohnya, sekte Pondok Nabi, di bawah kepemimpinan Pdt.Mangapin Sibuea di Bandung. Pendeta ini menyatakan bahwa ia mendapat kabar dari surga kalau kiamat bumi akan dimulai dari tanggal 10 November 2003. Karenanya, mereka harus berkumpul di Pondok Nabi supaya mereka dapat terangkat ke surga. Ketika waktu yang ditentukan tiba, mereka tidak kunjung juga terangkat ke surga.
Ada lagi seorang perempuan yang bernama Lia Aminuddin, atau yang lebih dikenal dengan Lia Eden. Ia mengklaim dirinya telah menjadi jalan baru pada semua agama. Lia Eden pada umat Kristen di tahun 1998 menegaskan kalau dirinya itu Mesias. Terkadang juga, ia mengaku bahwa ia reinkarnasi dari Maria, ibunda Yesus. Terkait waktu kesudahan dunia (kiamat), Lia Eden pernah berkirim surat pada Presiden Republik Indonesia agar di tahun 2015 diberikan izin pendaratan UFO (Unidentified Flying Object) di Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Menurut Lia Eden, UFO inilah awal dari kesudahan dunia, di mana kota Yerusalem juga akan turut diangkat. Ketika waktu yang ditentukan tiba, tidak ada satu pun UFO yang mendarat dan kota Yerusalem masih berada di tempatnya sampai saat ini.
Dari dua contoh ini, kita dapat mengerti mengapa Yesus mengingatkan para murid untuk waspada pada penyesatan. Benar yang dikatakan oleh Yesus bahwa ada yang mengaku dirinya adalah Mesias, seorang utusan Tuhan. Para nabi palsu ini secara konsiten muncul di sepanjang zaman. Sebagai murid Kristus di masa kini, kita perlu waspada untuk menghadapi mereka ini.Sering para penyesat memanfaatkan mereka yang terlalu lugu di dalam beriman dan mereka yang sedang frustasi menghadapi tekanan kehidupan. Mereka menginginkan kehidupan berbeda yang penuh dengan kedamaian, yang tidak mereka temukan di dunia saat ini. Sebab itu, tugas kita saat ini adalah tetap mengingatkan sesama kita agar tidak terhisap ke nabi palsu masa kini. Pandangan teologis umat Kristus tentang hari kedatangan Tuhan dan kesudahan dunia harus mantap dan kritis. Misalnya, kita sebagai warga GKPI sudah diberikan Pokok-Pokok Pemahaman Iman (P31) yang jelas tentang kedatangan Tuhan dan kesudahan dunia. Di dalam bab “Zaman Akhir dan Akhir Zaman”, kita diberitahukan bahwa terkait waktunya itu tidak ada yang tahu, “...malaikat-malaikat di surga pun tidak tahu, Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri” (Mat.24:36, Kis.1:6-7, 2.Ptr.3:8-16). Karenanya, kita diajak oleh Yesus untuk selalu siap kapan saja waktunya. Bukan berarti apabila ada peperangan di Gaza, dunia sudah mencapai kesudahannya dan Yesus datang. Atau, kalau ada peristiwa bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung merapi, longsor, dll, ini semua akan mempercepat kedatangan akhir zaman dan zaman akhir. Yesus mengatakan itu hanya tanda awal saja.
Di dalam minggu Advent-III pada saat ini, kita perlu melihat sebagaimana banyaknya umat percaya menantikan kehadiran Mesias dalam rupa Yesus Kristus di peristiwa 2.000 tahun yang lalu, demikian pula kita menantikan kehadiran Yesus kedua kalinya di tengah-tengah dunia di masa kini.Karenanya, sebagai umat percaya di masa kini, khususnya warga GKPI, kita diminta untuk tahan uji untuk menghadapi tantangan zaman.  Penganiayaan dan penderitaan karena pengharapan akan Kristus di tengah dunia itu sudah pasti kita temukan. Kita perlu mengandalkan pimpinan dari Roh Kudus untuk menjalani semuanya itu. Sehingga, kita dapat membuahkan kasih, damai sejahtera, sukacita, keadilan, dan kebenaran. Kita adalah umat yang mengakui, meyakini, dan menerima ajaran zaman akhir dan akhir zaman yang berpusat pada Kristus, yang kemudian diberitakan oleh gereja di sepanjang masa dan berbagai tempat.


Pdt.Theodorus Benyamin Sibarani, S.Si (Teol), M.Kessos
 (Pendeta GKPI Ressort Sumbul, Wilayah IV: Dairi-Tanah Karo)