Kamis, 27 Januari 2011

Membakar Surga, Mengguyur Neraka


Pendahuluan

   Tulisan ini lebih sebagai ungkapan kegemasan penulis terhadap perilaku destruktif oleh umat beragama fundamental, yang hidupnya seolah-olah hanya untuk mengejar surga dan menghindari neraka. Celakanya lagi, mereka yang beragama secara fundamental menganggap surga adalah suatu tempat yang hanya dilayakan untuk malaikat seperti mereka, sedangkan neraka adalah tempat bagi mereka yang biadab karena dicap sebagai kafir. Bahkan, mati martir demi membela agama pun dianggap mereka sebagai cara tercepat masuk ke surga. Sedangkan, pembantaian korban jiwa, yang tidak mengerti apa-apa, dianggap sebagai jalan tercepat bagi mereka untuk dikirim ke neraka. Daripada membalas mereka dengan kekerasan seperti cara mereka, lebih baik kegemasan ini saya tuangkan dalam suatu tulisan singkat.
      Tulisan ini akan lebih banyak menjelaskan sejarah perkembangan paham surga dan neraka yang berkembang. Pendekatan yang saya gunakan kritik sosio historis keagamaan. Sama seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya (7 Dosa Agama, Membongkar Dongeng Adam dan Hawa), tulisan ini bukan ingin menyerang agama. Namun, tulisan ini lebih pada membuka cakrawala pemikiran umat beragama agar menjadi terbuka dan kritis. Diharapkan dari tulisan ini, sikap fundamentalisme umat beragama dapat direduksi bahkan dihilangkan sama sekali, karena tidak memberikan kontribusi yang konstruktif dalam mencapai kehidupan yang lebih baik di bumi ini.
Pembahasan


     Umat Muslim, Kristen, dan Yahudi, sama-sama mengklaim bahwa Abraham/Ibrahmim adalah nenek moyang dalam iman mereka. Akan tetapi, kita harus jujur mengakui bahwa secara usia, dibandingkan agama Kristen dan Islam, agama Yahudi  lebih dulu ada sebagai suatu bangsa dan agama di bumi ini. Berdasarkan hal itu, ketika agama Kristen dan Islam membahas konsep surga dan neraka dalam keyakinan mereka, secara tidak langsung, unsur Yahudi akan terseret di dalamnya. Saya memulai pembahasan ini dengan pernyataan demikian adalah tidak lain karena di negara Indonesia, agama yang membahas masalah surga dan neraka hanya ada dua agama saja, yaitu Islam dan Kristen. 
    Jika mengacu pada sejarah konsep surga dan neraka, paham ini lahir dari suatu sikap ketidakberdayaan bangsa Yahudi kuno ketika mereka menghadapi kolonialisme. Kolonialisme terjadi karena kalahnya mereka dalam peperangan, ditambah semakin banyaknya korban jiwa yang jatuh dari bangsa Yahudi. Pastilah pertanggungjawaban atas kehancuran bangsa Yahudi ini ada pada pemerintah. Karena konsep pemerintahan bangsa Yahudi adalah teokratis (YHWH adalah pemimpin sejati), maka para tokoh agama dari bangsa Yahudi juga terseret dalam hal kehancuran yang dirasakan. Bangsa Yahudi mengeluh dan bertanya kepada para tokoh agama itu, mengapa YHWH diam saja pada saat mereka dihancurkan? 
    Menghadapi rentetan tekanan yang bertubi-tubi, maka para tokoh agama bangsa Yahudi menjawab bahwa mereka tidak perlu khawatir karena ketika pada kesudahannya nanti, YHWH akan menghukum semua musuh-musuh yang telah menginjak-injak mereka. Bagi kerabat mereka yang telah mati karena peperangan, mereka tidak perlu dirisaukan lagi. Bagi mereka yang mati dalam peperangan atas nama YHWH, sesungguhnya mereka telah berada di suatu tempat indah yang telah disediakan oleh YHWH.
    Sebenarnya, jawaban dari para tokoh agama bangsa Yahudi ini memiliki makna politis. Menurut mereka tidak ada yang salah dengan pemerintahan saat ini karena akhir zaman telah dekat dan para musuh akan dihakimi oleh YHWH. Para musuh akan dibakar ke dalam api yang abadi. Selanjutnya, jawaban ini dapat memacu jiwa dan semangat patriotisme dari pejuang bangsa Yahudi untuk berperang sampai tetes darah terakhir.
    Dari mana rumusan ini didapatkan tokoh agama bangsa Yahudi? Jawaban ini memang bukan sembarang jawaban. Jawaban ini diadopsi tokoh bangsa Yahudi dari kepercayaan bangsa Persia tentang konsep hari kiamat. Bangsa Persia, pada masa lalu, menganut kepercayaan Zoroaster (sejenis kepercayaan tradisional). Kepercayaan Zoroaster merupakan campuran antara monotheisme dan dualisme. Menurut kepercayaan Zoroaster, hanya ada satu tuhan sejati yang disebut Ahura Mazda (dalam sebutan Iran modern: Ormudz). Ahura Mazda ("tuhan yang bijaksana") menganjurkan kejujuran dan kebenaran. Namun, penganut kepercayaan Zoroaster juga percaya adanya roh jahat, Angra Mainyu (dalam istilah Persia modern: Ahriman) yang mencerminkan kejahatan dan kepalsuan. Tiap individu bebas memilih ke mana dia berpihak, ke Ahura Mazda atau ke Ahriman. Meskipun pertarungan kedua belah pihak mungkin dekat pada suatu saat, penganut kepercayaan Zoroaster tetap percaya bahwa dalam jangka panjang kekuatan Ahura Mazda akan keluar sebagai pemenang. Ajaran kepercayaan mereka juga termasuk memberikan keyakinan penuh adanya hidup sesudah mati. Bagi yang jahat setelah mati mereka akan masuk ke neraka sedangkan yang baik akan masuk ke surga.
    Terkait dengan persoalan surga dan neraka, para pengikut Zoroaster menggambarkan surga sebagai suatu tempat yang indah dan menyenangkan yang jauh di atas sana. Sebaliknya, neraka adalah sebuah tempat yang penuh dengan kekacauan yang berada di bawah bumi yang gelap dan panas. Mungkin saja, konsep tentang api neraka muncul dari teori panas perut bumi. Seperti kita ketahui, di bawah tanah terdapat lava dan magma yang sangat panas, yang bentuknya api.

Penutup
Dari sedemikian jauh pembahasan mengenai sejarah perkembangan konsep surga dan neraka, sebenarnya ada 2 hal yang dapat saya simpulkan, yaitu :

1. Konsep surga dan neraka, bukanlah asli ajaran dari Yahudi, apalagi Kristen dan Islam, melainkan dari bangsa Persia;

2. Konsep surga dan neraka yang dikembangkan pada masa lalu bukan sebagai muatan rohani/religus, akan tetapi lebih pada muatan politik;
    Dari dua kesimpulan itu, kemudian yang menjadi pertanyaan kritisnya adalah mengapa konsep surga dan neraka yang sudah sangat kuno itu dapat bertahan di zaman modern seperti saat ini? Bahkan lebih parah lagi, adanya saling klaim bahwa surga milik salah satu agama, sedangkan yang lain adalah jalan ke neraka? Saya menduga, hal itu semua terkait dengan sisi psikologis manusia, terutama mengenai teori reinforcement : reward dan punishment. Hal ini tentu mengingatkan kita semua akan lagu alm.Chrisye, yang mengatakan : “…jika surga dan neraka, tak pernah ada, masihkah kau sujud menyembah-Nya?..”. Lagu itu juga sebenarnya ingin mengkritik umat beragama yang berbuat kebaikan hanya untuk mengejar surga saja. Dampaknya, sifat dan sikap munafik tidak akan bisa dihindarkan.
    Yang lebih mengenaskan lagi adalah sikap fundamental kelompok beragama, yang sanggup menghancurkan orang lain guna masuk surga, telah menjadi suatu ironi yang memprihatinkan di bangsa ini. Adalah tugas tokoh agama yang bertanggung jawab atas peristiwa itu. Sangat disayangkan jikalau tokoh agama hanya bisa menakut-nakuti umatnya dalam ibadah dengan ancaman surga dan neraka. Padahal, ada banyak kebaikan yang dapat dilakukan oleh umat beragama. Akibatnya, surga menjadi semakin panas, karena berapi-apinya manusia ingin ke sana. Sedangkan, api neraka  menjadi semakin dingin. Pada akhirnya, saya harus mengatakan: Surga itu adalah suatu kondisi di mana manusia dapat hidup berdampingan antara satu dengan yang lainnya tanpa harus membenci. Sedangkan, neraka adalah kondisi di mana kacaunya kehidupan manusia karena tidak lagi ada sikap peduli dan tolong-menolong di antara sesama manusia. Lantas, bagaimana surga dan neraka saat ini? Silakan dijawab sendiri ya, tapi kalau menurut saya: “Huh, Betapa Panasnya Surga itu, Betapa Dinginnya Neraka itu!!!!!”

Senin, 17 Januari 2011

Membongkar Dongeng Adam dan Hawa


Pendahuluan
Agama yang tergabung dalam tradisi Abrahamik (Yahudi, Kristen dan Islam), mempercayai bahwa manusia pertama di dunia adalah Adam dan Hawa. Benarkah demikian? Tulisan ini berusaha menyampaikan pandangan seluas-luasnya kepada pembaca sekalian untuk mengkritisi salah satu cerita keagamaan dari tradisi Abrahamik, pada kesempatan kali ini mengenai Adam dan Hawa. Tujuannya tidak lain untuk menciptakan pandangan kritis dalam beragama, yang berguna membangun kehidupan beragama lebih baik lagi ke depannya. Tidak berbeda dengan tulisan saya sebelumnya, tulisan ini hanyalah suatu pengantar saja dan bukan jawaban tuntas dari persoalan yang diangkat. Kajian kritis dari pembaca adalah kenderaan penghantar menuju pemahaman tahap selanjutnya.


Pembahasan
Dalam pembahasan ini, saya akan melakukan pendekatan terhadap tradisi yang berkembang di masyarakat (umat) Yahudi pada saat itu. Mengapa harus Yahudi yang dipilih? Karena baik Kekristenan maupun Islam, jauh baru muncul menjadi suatu agama setelah tradisi yang panjang dari tradisi keyahudian muncul. Cerita Adam dan Hawa muncul dalam tradisi Yahudi sekitar tahun 980-SZB (Sebelum Zaman Bersama, saya tidak menggunakan istilah Sebelum Masehi / SM). Cerita ini dimunculkan dalam rangka melawan cerita penciptaan yang muncul di Mesopotamia (lebih awal sekitar 600 tahun dari tradisi Yahudi). Cerita yang muncul sebelum bangsa Yahudi itu berkisah tentang “Enuma Elish”. Dalam cerita itu, dikisahkan bagaimana pada dahulu kala di negeri para dewa, mereka hidup bagaikan lebah yang tentu ada ratu dan para pekerjanya. Jadi, ada dewa yang memerintah dan ada dewa pekerja.

Suatu saat, dewa-dewa pekerja itu suka ribut dan bertengkar, lalu mengancam mengadakan “status quo”. Pimpinan dewa, Marduk, lalu mencari alternatif permasalahan, yaitu dengan menciptakan bumi. Dalam keadaan yang menegangkan itu, Marduk menghadap kepada raja dewa yang bernama “Ea”, lalu berkata : “Aku akan membentuk darah yang akan menyebabkan munculnya tulang-tulang dan dengan itu aku akan menciptakan manusia-manusia”. Lanjutnya : “kepada manusia-manusia itulah pekerjaan para dewa diemban, agar semua dewa dapat kembali menikmati hidupnya sebagaimana seharusnya”. Lalu Ea mengusulkan kepada Marduk agar manusia itu diciptakan dari dewa yang menciptakan ketegangan di antara para dewa. Marduk pun mengumpulkan para dewa pekerja dan meminta mereka untuk menyerahkan dewa yang mengakibatkan ketegangan terjadi. Lalu para dewa mengelilingi dewa yang memberontak itu dan memotong-motongnya agar sejumlah pekerja (manusia) dapat dihasilkan darinya.

Cerita tersebut bukanlah cerita biasa, akan tetapi ada nuansa politis di dalamnya. Cerita ini dalam kehidupan pada masyarakat di sekitar kisah ini tumbuh, membuat masyarakat yang mempercayainya untuk menerima keadaan bahwa memang wajar jikalau ada stratifikasi dalam masyarakat (ada tuan tanah dan ada buruh). Para tuan tanah ini disebut dengan golongan bangsawan, yang juga berdarah biru, berarti keturunan para dewa. Sedangkan para buruh adalah golongan yang dikodratkan jadi pekerja. Jikalau pun ada para tuan tanah yang turun ke ladang, itu hanyalah suatu makna simbolik untuk menunjukkan bahwa tuan tanah memperhatikan tanggungjawabnya di dunia kepada para dewa. Sehingga dalam lukisan tanah liat yang ditemukan di sekitar daerah Sumeria ditemukan seorang raja sedang mempersembahkan hasil tanah kepada para dewa. Hal ini ibarat ratu Inggris yang diliput media masa sedang bercocok tanam, padahal yang mengurus taman kerajaan yang sangat luas itu adalah para pekerjannya.

Makna politis seperti itulah yang ingin ditentang dari kisah penciptaan yang dikeluarkan oleh bangsa Yahudi. Cerita masyarakat Yahudi mengenai Taman Eden sesungguhnya ingi memberi respons atas kisah penciptaan yang beredar di masyarakat Yahudi pada saat itu dan memberi pendapat yang berbeda tentang manusia (yang selama ini hanya terbagi atas dua kelas, yaitu kelas penguasa dan pekerja). Kisah versi Yahudi mengisahkan YHWH (Yahweh dibaca Adonay) mulai dari awal dengan menciptakan langit dan bumi. Setelah itu, YHWH menciptakan manusia dari debu dan tanah di taman Eden. Proses penciptaan manusia oleh YHWH bermakna bahwa YHWH berkuasa atas kehidupan manusia di dunia. Hal berikut yang dilakukan YHWH adalah menanam pohon pengetahuan yang mendatangkan keabadian, dimana gambaran ini sering ditemukan dalam cerita sastra kerajaan di masa kuno. Taman Eden memang bukan sembarangan taman, karena dia bersifat tertutup yang pintunya sempit dan dijaga oleh pedang yang berkilau (simbol dari penguasa elit). Taman ini dialiri oleh sungai dan ditumbuhi oleh pohon-pohon yang abadi (simbol dari kesuburan dan keturunan dinasti raja; bisa juga dipahami dalam makna seksual).

Manusia pertama pun (Adam dan Hawa) ditempatkan di tengah-tengah taman itu untuk bekerja. Cerita ini sebenarnya menurut hemat saya dengan jelas menyatakan bahwa tugas manusia pertama itu tidaklah berat. Adam menjadi raja di taman itu sekaligus menjadi anak YHWH, dan dapat menikmati seluruh buah yang ada di taman itu tanpa mengeluarkan peluh keringat. Lalu muncul ular di tengah pohon kehidupan itu. Mahluk ini memberitahukan kepada Adam dan Hawa bahwa mereka pun dapat menjadi seperti YHWH. Yang perlu mereka lakukan hanyalah memakan buah yang dilarang oleh YHWH, sebab buah itu akan membuat mereka menjadi tahu dan dapat membedakan hal yang baik dan tidak baik.

Ketika Adam dan Hawa memakan buah yang dilarang itu, hal pertama yang terjadi adalah untuk pertama kali mereka sadar bahwa mereka merupakan mahluk seksual yang dapat bereproduksi. YHWH melihat apa yang telah dilakukan oleh manusia pertama yang diciptakan itu, lalu YHWH mengutuk mereka. Sebelumnya mereka tidak harus bekerja dengan susah payah, akan tetapi sekarang keadaan mereka harus bekerja dengan berat dan rasa sakit. Kutukan untuk Hawa adalah wanita itu akan merasakan sakit di saat melahirkan. Sementara untuk laki-laki, ia akan bekerja berat di luar taman sampai mengucurkan keringat.

Dengan demikian cerita dari tradisi Yahudi ini sebenarnya ingin mengatakan bahwa semua manusia adalah terkutuk, oleh karena itu semua manusia harus bekerja. Sangat jelas makna cerita ini ingin mengungkapkan penentangannya terhadap cerita dari Mesopotamia yang mengatakan bahwa ada manusia pekerja dan ada pula manusia yang menikmati hasil dari para pekerja. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bangsa Yahudi jelas menentang konsep darah biru/bangsawan yang menciptakan kasta-kasta dalam kehidupan.

Cerita dari bangsa Yahudi ini kemudian diadopsi oleh agama Islam dan Kristen. Wajar saja jikalau terjadi proses adopsi, karena kedua agama ini berasal dari pengembangan bentuk pemahaman keyahudian. Jadi sebenarnya merupakan suatu ironi pada saat ini, ketika negara-negara berbasis Islam beramai-ramai menentang negara Israel, karena secara domain politik modern mereka diserang sedangkan secara budaya (baca : pemahaman kepercayaan) mereka dipuja. Untuk kasus di Indonesia, baik Kristen fundamental maupun Islam fundamental saling menyerang doktrin dan dogma masing-masing, padahal mereka tanpa sadar tengah memperjuangkan iman bangsa Yahudi. Lantas, siapa pemenang dari perang doktrin dan dogma ini, jikalau bukan bangsa Yahudi? Bodohkah kita sebagai umat beragama Kristen maupun Islam?


Penutup


Tidak bisa dipungkiri bahwa baik Islam maupun Kristen, banyak tradisi keagamaan mereka diambil dari tradisi bangsa Yahudi. Jadi sebenarnya, ketika terjadi saling serang dari masing-masing pihak fundamentalis agama, sebenarnya mereka sedang berperang di atas doktrin bangsa Yahudi. Sudikah kita? Kalau saya secara pribadi tidak sudi. Seandainya pada masa lalu kebudayaan Jawa menjadi penguasa dunia, bukan tidak mungkin cerita tentang “Semar” menjadi dasar cerita penciptaan manusia dan alam semesta. Pada akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa tulisan ini bukanlah sebagai alat untuk menyerang agama yang hidup dalam tradisi Abrahamik, melainkan sebagai suatu alat pencerah pemikiran kita dalam beragama. Tujuannya tidak lain adalah guna menjadikan kehidupan di dunia lebih damai dan semarak cinta kasih terhadap sesama manusia. Tulisan ini bukanlah jawaban akhir dari permasalahan yang diangkat oleh penulis, melainkan awal dari pencarian baru pembaca sekalian dalam menapaki kehidupan agama yang lebih sehat dan kritis. Salam kebangsaan!

7 Dosa Agama


Pendahuluan


Tulisan ini merupakan suatu pengantar kepada para pembaca sekalian untuk dapat membuka cakrawala pemikiran beragama yang lebih sehat lagi. Tulisan ini belum tuntas menjawab seluruh persoalan yang diangkat penulis, karena hanya bersifat pengantar saja. Ibarat saat hendak makan di restoran, tulisan ini adalah daftar menu makanannya saja. Dengan demikian, diharapkan dari tulisan ini, para pembaca sekalian dapat menggali lebih dalam lagi persoalan yang diangkat oleh penulis. Hal lainnya yang ingin saya sampaikan, bahwa tulisan ini merupakan perefleksian penulis selama mendalami ilmu teologi dan mengkaji ilmu kesejahteraan sosial.

Pembahasan


Pada umumnya, sepanjang peradaban bumi berlangsung, pembahasan agama tidak pernah hilang dalam perbincangan sehari-hari. Setidaknya di dunia ini, agama Abrahamik merupakan agama yang memiliki pengikut terbanyak di dunia. Tentunya agama Abrahamik tidak sendirian saja di dunia, namun dia hadir bersama agama-agama lainnya untuk mengisi peradaban di bumi (walaupun ada beberapa komunitas maupun individu yang memilih menjadi seorang ateis). Secara tidak sadari, ternyata agama juga tidak luput dari dosa. Hal ini menurut hemat saya sangat lumrah, karena agama bukanlah suatu institusi yang diciptakan oleh Tuhan secara langsung, melainkan manusialah yang ada di balik munculnya agama-agama di dunia ini. Dari asumsi tersebut, hukum alamiah mengenai “human error” tidak bisa dihilangkan dalam kehidupan agama di dunia ini. Inilah dosa agama yang tidak disadari oleh manusia. Apa saja dosa agama itu? Setidaknya ada 7 dosa agama yang berhasil saya rangkum, yaitu :

1.Agama sebagai sumber kekerasan
Kekerasan atas nama agama telah banyak menyita sorotan maupun perhatian manusia di seluruh dunia. Lihat saja bagaimana perang saudara antara India Hindu dengan Pakistan Islam, atau tragedi yang terjadi di World Trade Center (WTC) yang dikenal dengan tragedi 9/11. Dua contoh itu, sedikit dari banyak kasus kekerasan atas nama agama. Di Indonesia, kekerasan atas nama agama juga terjadi. Hal tersebut datang dari kelompok beragama yang fundamental yang merasa bahwa dasar tindakan mereka dilakukan dengan rasa kepedulian dan kecintaan terhadap Indonesia. Nyatanya, kekerasan yang terjadi bukanlah cara untuk menunjukkan kecintaan dan kepedulian, tetapi malah menjadi suatu momok yang membuat masyarakat menjadi resah dan penuh ketakutan terhadap suatu agama. Insiden HKBP di Bekasi, contoh nyata kekerasan lainnya.
Kekerasan atas nama agama bukanlah hal yang baru di dunia ini, melainkan sudah sejak lama terjadi. Perang salib adalah salah satu bukti bentuk kekerasan atas nama agama pada masa lampau. Menurut hemat saya, tidak ada agama di dunia ini yang mengajarkan kekerasan terhadap umatnya. Contoh, dalam Kekristenan diajarkan teladan hidup Kristus yang berorientasi pada kasih. Dalam Islam juga konsep damai sangat dominan, karena pada dasarnya Islam berasal dari kata salam yang berarti damai. Begitu juga Hindu maupun Buddha, serta agama-agama lainnya. Ketika pemimpin umat beragama gagal membawa pemahaman agama untuk umatnya pada konsep awal, yaitu menjadi alat pengasih dan pembawa damai, maka agama akan menjelma menjadi senjata pemusnah massal yang paling muktahir. Artinya agama pun sama bahayanya dengan nuklir. Dengan demikian, jika hal itu terjadi, maka sesungguhnya agama telah berdosa karena agama telah menjadi sumber kekerasan

2.Agama sebagai pemusnah kebudayan lokal

Pembahasan mengenai topik ini sangatlah ruwet, karena ada banyak hal yang harus diperhatikan. Namun, saya berusaha mempermudah pembahasan ini, dengan cara mengambil konteks Indonesia, agar lebih mudah dipahami oleh pembaca sekalian. Di Indonesia dewasa ini, ada enam agama yang diakui oleh negara, yaitu Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Kong Hu Chu dan Buddha. Akan tetapi, sadarkah kita semuanya, bahwa keenam agama itu merupakan agama impor?
Islam berkembang di tanah Arab, Kristen berkembang di negara Barat, Hindu berkembang di daerah India sekitarnya dan Buddha maupun Kong Hu Chu di sekitar daratan Cina. Perkembangan agama-agama di tempat mereka masing-masing, akan terpengaruh oleh budaya di tempat sekitar mereka hidup. Artinya, Arab sangat kental dengan budaya Arab, Kristen sangat kental dengan budaya Barat, Hindu sangat kental dengan budaya India dan Kong Hu Chu serta Buddha kental dengan budaya Cina. Bisa dibayangkan jikalau agama dengan kebudayaan asing itu masuk ke Indonesia?
Dampak dari masuknya negara impor itu adalah kebudayaan lokal di Indonesia menjadi hilang. Contoh : Di pulau Jawa, khususnya di Jawa Tengah, kebudayaan yang ada di situ adalah Kejawen. Ketika Islam masuk ke Jawa Tengah, Kejawen bersanding dengan Islam, sehingga sekarang ini jikalau saat ini kita mengenal ada orang Jawa yang kental dengan tradisi kejawennya namun dia memeluk agama Islam. Namun, karena kejawen dianggap sebagai suatu kepercayaan nenek moyang, maka tradisi kejawen harus dibatasi sedangkan ritual Islam menjadi dominan. Contoh lainnya, ketika Kekristenan masuk ke tanah Batak, budaya dan agama asli masyarakat Batak dianggap sesat. Parmalim (agama asli masyarakat Batak) dianggap pemujaan terhadap setan. Alhasil, ketika Kristen menjadi agama yang diterima masyarakat Batak, banyak ritual dalam adat Batak yang dianggap sesat sehingga harus ditiadakan.
Dari contoh-contoh di atas, agama-agama impor yang masuk ke Indonesia telah mengancam kebudayaan asli Indonesia. Celakanya, agama impor tersebut dilindungi negara dan wajib dipeluk masyarakat Indonesia. Ironisnya sedangkan agama dan budaya lokal yang muncul dari negeri sendiri malahan tidak dianggap. Hal ini diperparah oleh masyarakat Indonesia yang rela saling serang untuk mempertahankan negara impor yang dipeluknya. Suatu hal yang ironis. Akibatnya, kebudayaan di Indonesia banyak musnah oleh agama impor.

3.Agama sebagai ancaman ilmu pengetahuan

“The church says the earth is flat, but I know that it is round, for I have seen the shadow on the moon, and I have more faith in a shadow than in the church.”(Ferdinand Magellan)
Kutipan di atas merupakan respons atas sesuatu terjadi pada gereja di masa lampau. Galilleo Galillei yang pada masa itu menentang pernyataan gereja terkait persoalan bentuk bumi. Gereja pada masa lampau mengatakan bahwa bumi berbentuk datar, sedangkan Galilleo menolak pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa bumi bulat. Akibatnya, Galilleo dihukum mati oleh gereja, karena menolak dan menentang gereja. Contoh kasus seperti tadi juga terjadi pada Prof.Robert Edwards yang mendapat anugerah Nobel Kedokteran 2010 atas prestasinya menggagas bayi tabung sehingga telah membantu ribuan keluarga untuk memiliki anak via bayi tabung. Tetapi pihak Vatikan mengecam, karena menilai Prof Edwards menjadi penyebab pemusnahan dan perdagangan janin manusia. Kolotkah Vatikan?
Banyak doktrin dan dogma agama yang mengancam kemajuan ilmu pengetahuan. Padahal harus disadari bahwa jikalau manusia merupakan ciptaan Tuhan, maka otak juga adalah ciptaan Tuhan juga. Dengan demikian pemikiran manusia juga tentu berasal dari Tuhan. Akan tetapi, mengapa pikiran yang diberikan oleh Tuhan tersebut dibatasi oleh agama? Tentunya semua hal ini adalah dosa yang telah diperbuat oleh agama kepada ilmu pengetahuan

4.Agama sebagai candu dalam masyarakat

Masih ingat kritik Karl Marx terhadap agama? Marx mengatakan agama telah menjadi candu dalam masyarakat. Hakikat fungsi dari candu adalah untuk melupakan rasa sakit. Begitu juga agama pada masa Marx berada. Marx melihat begitu banyak orang yang tertindas oleh mereka yang kaya. Kondisi sosial yang sangat memprihatinkan tersebut diperparah dengan realitas yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Untuk menabahkan hati para mereka yang miskin pada saat itu, gereja mengatakan kepada mereka untuk bersabar, karena jikalau kehidupan ini telah berakhir mereka akan segera mendapatkan kebahagian. Atas dasar peninaboboan gereja atas masyarakat itu yang menjadi kritik Marx, karena mengabaikan kehidupan di masa kini.
Pada konteks Indonesia, apa yang dikritik Marx juga terjadi. Kemiskinan merupakan hal yang tidak susah ditemukan di negara Indonesia. Dalam berbagai kesempatan untuk melihat dan mengikuti ibadah, baik di televisi maupun langsung hadir ke tempat ibadah, tidak jarang saya mendengar wejangan dari pemimpin agama agar umat tetap bersabar karena penderitaan di dunia akan segera berakhir. Di semua agama, hal ini juga terjadi. Agama telah menjadi candu bagi masyarakat miskin, agar masyarakat yang sudah miskin itu tidak semakin memperburuk keadaan negara dengan cara memberontak ataupun pemboikotan. Dengan demikian, agama telah berdosa karena membiarkan umatnya larut dalam kemelaratan dan hanya menyugesti mereka akan bahagia di kemudian hari. Dampaknya mereka tidak memikirkan kehidupan miskinnya sekarang, yang sebenarnya masih dapat diperbaiki.

5.Agama sebagai kenderaan politik

Tidak usah melihat contoh ke tempat yang jauh, mari kita lihat dalam konteks Indonesia. Dari sekian banyak partai politik yang hidup dan berkembang di Indonesia, ada banyak partai yang bernafaskan agama. Pertanyaan kritisnya adalah mengapa banyak partai yang memilih agama sebagai tameng politik mereka? Tentu jawabannya adalah karena agamalah yang banyak menyita simpatik dari masyarakat. Segala cara dipakai untuk melegitimasikan kekuasaan, termasuk menggunakan agama sebagai kenderaannya. Hal seperti ini tentunya harus dikritisi karena Indonesia bukanlah negara agama. Mungkin hal inilah yang menjadi alasan mengapa sangat sulit untuk partai yang bernafaskan agama untuk menang dalam pemilihan presiden, disamping sudah mulai cerdasnya masyarakat Indonesia dalam berpolitik tentunya.

6.Agama sebagai Industri

Saat ini banyak tradisi dalam keagamaan yang dijadikan industri, bahkan ruang lingkupnya global. Lihat saja bagaimana Lebaran dan Natalan telah menjadi industri bagi berjuta-juta perusahaan di seluruh dunia untuk mengambil keuntungan. Lebih spesifik lagi, mari kita lihat natalan. Sebulan sebelum hari natal tiba, pernak-pernik natal telah banyak hampir di seluruh pusat perbelanjaan dunia. Hampir semua produk industri disesuaikan dengan tema natal. Alhasil, natal menjadi begitu antusias dan semarak di seluruh belahan dunia, ditambah mengalirnya berjuta-juta dollar hasil industri yang dicapai lewat konsep natal.
Hal ini jelas sangat berbeda jauh dengan konsep natal pada awalnya, di mana bayi Yesus lahir di kandang hewan yang kumuh dan berbau. Tidak ada suasana pesta meriah saat kelahirannya, tidak ada pohon natal raksasa, malah Dia ditolak bahkan dicerca oleh dunia. Namun, tradisi keagamaan Kristen dalam menanggapi natal sudah berubah. Lain dahulu lain sekarang. Natal kini menjadi suatu pesta yang sangat meriah. Konsep lebaran juga tidak jauh berbeda dengan natalan, dimana sebulan sebelum hari lebaran tiba, hampir seluruh tempat perbelanjaan di Indonesia dipenuhi oleh pernak-pernik lebaran.

7.Agama menjelma menjadi Tuhan

Dosa terakhir yang dilakukan agama adalah dimana dia malah menjelma menjadi Tuhan. Pada saat ini umat beragama sepertinya lebih takut kepada agama daripada kepada Tuhan. Agama dengan sejuta doktrin dan dogmanya, mengeluarkan sejenis ancaman bagi mereka yang tidak mau menjalankan perintah agama. Hal ini jelas pembodohan terhadap masyarakat beragama, karena agama telah berhasil menakut-nakuti masyarakat seperti layaknya anak kecil.
Agama yang menakut-nakuti umatnya adalah agama yang sakit, karena Tuhan sendiri adalah Tuhan yang penuh kasih dan pengampun. Usaha menakuti umat, menurut hemat saya dilakukan oleh pemuka agama yang tidak bertanggungjawab. Usaha ini dilakukan dalam rangka menggiatkan partisipasi umat dalam kegiatan keagamaan. Jelas ini merupakan hal yang sangat tidak bertanggungjawab sehingga masyarakat merasa terancam jikalau tidak melakukannya. Dengan demikian pemuka agama melalui agama telah berdosa karena telah membuat peraturan sendiri, yang bahkan Tuhan sendiri mungkin tidak mengeluarkan hukum yang dibuat oleh agama. Agama telah menjelma menjadi Tuhan, bahkan lebih hebat dari Tuhan, sehingga terjadi banyak pereduksian hakikat Tuhan oleh agama dengan usaha menakut-nakuti umat.


Penutup


Tidak ada maksud dalam tulisan ini untuk menyerang suatu agama apapun. Akan tetapi, tulisan ini hanya memaparkan dosa yang telah dilakukan agama. Agama itu diciptakan oleh manusia, artinya agama hidup dalam kebudayaan manusia. Sebagai manusia yang tidak pernah lepas dari kesalahan, agama juga tidak pernah lepas dari kesalahan. Tuhan tidak pernah menciptakan agama, tetapi manusialah yang menciptakan agama itu. Untuk apa kita berperang demi agama? Agama adalah institusi sosial, simbol masyarakat dan fenomena antropologis. Agama bukanlah fakta rohani. Apakah manusia tidak dapat berhubungan dengan Tuhan jikalau tidak ada agama? Tentu bisa. Manusia dapat berhubungan dengan Tuhan tanpa agama sekalipun. Hal ini akan menjadi penerang cakrawala pembaca dalam mengkritisi kehidupan beragamanya. Agama yang kita anut di Indonesia adalah agama impor, yang penuh dengan nilai kebudayaan dimana dia berkembang. Untuk itu diperlukan kajian kritis dari masyarakat Indonesia untuk menjaga kehidupan masyarakat yang kondusif, humanis dan inklusif.

Sabtu, 15 Januari 2011

Membaca Kontroversi Tifatul

Nama Tifatul Sembiring semakin mencuat di bawah payung Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ketika dia berhasil memimpin partai tersebut menggantikan presiden PKS sebelumnya, Hidayat Nur Wahid, pada tahun 2004-2009. Pada masa pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2, Tifatul Sembiring ditunjuk menjadi Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo), terhitung tanggal 22 Oktober 2009 sampai dengan sekarang, dimana beliau menggantikan posisi Mohammad Nuh yang bergeser menjadi menteri pendidikan. Pria kelahiran Bukit Tinggi, Sumatera Barat, tanggal 28 September 1961 ini merupakan insinyur komputer dari Sekolah Tinggi Ilmu Manejemen dan Informatika dan Komputer.
Dalam evaluasi kinerja 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2, nama Tifatul Sembiring oleh media-media di Indonesia, termasuk menteri yang memiliki rapor merah di bidangnya. Hal ini sepertinya mendesak pemerintah untuk merombak susunan pemerintahan dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2. Tifatul Sembiring pada saat itu jelas berada di ujung tanduk, karena acap kali menjadi salah satu menteri yang disorot media masa. Alih-alih diturunkan dari kursi Menkominfo, Tifatul saat ini malah menjadi salah satu pejabat pemerintahan yang kontroversial. Lihat saja bagaimana beberapa fenomena yang dihasilkannya seperti, pemberantasan website-website yang dinilai bermuatan pornografi, pernyataan kontroversial terkait video panas Ariel-Luna Maya yang disandingkan dengan nabi Isa-Yesus Kristus, “pemaksaan” jabat tangan oleh Michelle Obama (padahal Tifatul sendiri yang jelas-jelas menyodorkan tangannya dalam rekaman oleh media-media) , dan baru saja usulan pemblokiran BlackBerry.
Masyarakat Indonesia pun bergejolak reaksinya menanggapi fenomena kontroversial yang dilakukan oleh Tifatul, ada yang pro dan ada juga yang kontra. Alhasil pembicaraan mengenai Tifatul pun semakin marak, baik di media masa, jejaring sosial bahkan oleh anak-anak sekolahan sekalipun. Tulisan ini mencoba untuk membaca kontroversi yang dilakukan oleh Tifatul, dengan asumsi budaya politik sebagai pisau bedahnya. Dalam ilmu politik, menurut Jacobsen dan Lipman, kegiatan politik pada dasarnya berisi tentang hubungan individu dengan negara dalam koridor hukum serta hubungan individu dengan individu atau komunitas lainnya. Terkait pemahaman akan ilmu politik tersebut, Samuel Beer melihat bahwa dalam hubungan yang dibangun individu tersebut terdapat sebuah kelakuan politik, di mana setidaknya ada empat unsur variabel yang terkandung di dalamnya yaitu: budaya politik (sistem kepercayaan, nilai politik dan sikap emosional), kekuasaan (alat mencapai sesuatu), kepentingan (kehendak yang ingin dicapai) dan kebijakan (konsekuensi dan akibat dari proses). Dari pemaparan sejauh ini, kesimpulan mengenai budaya politik yang akan digunakan dalam tulisan ini adalah terkait dengan tujuan dan cara, serta kemungkinan dan kebutuhan yang dihasilkan dari suatu situasi yang diharapakan.
Kontroversi yang dilakukan oleh Tifatul, menurut hemat saya, pada dasarnya hendak mencerminkan citranya sebagai sebagai seorang politisi sejati. Seorang politisi harus mampu menciptakan karakter yang khas, sehingga mudah ditandai oleh masyarakat banyak. Dalam pencitraan yang ingin dicapai, harus ada suatu cara untuk membangun hubungan citra diri dengan lingkungan yang ada di sekitarnya (baik negara, komunitas, maupun individu). Setali tiga uang, tentunya bukan hanya pencitraan saja hal yang ingin dicapai dari kontroversi yang diciptakan, tetapi juga ada hal lain yang dapat dimanfaatkan dari konterversi tersebut. Mengacu pada Beer, ada pengaruh kekuasaan dan kepentingan yang berada dibalik kontroversi Tifatul. Kekuasaan yang dimaksud datang elit pemerintah yang tengah berkuasa. Permasalahan yang kerap menerpa pemerintahan membuat sorotan publik kepada pemerintah kian tajam, terkhusus dalam kasus KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang tengah marak di badan pemerintahan. Sebut saja kasus Bank Century, rekening gendut Polri, mafia perpajakan yang konon katanya menyeret petinggi-petinggi partai sampai berimbas pada penguasa Indonesia saat ini. Untuk mengaburkan sorotan tajam publik tersebut, maka dimunculkan suatu isu yang dapat mengalihkan perhatian masyarakat. Cara-cara kontroversial seperti memanfaatkan isu dari kasus video panas artis maupun pemblokiran website porno dan Blackberry menjadi alternatif solusi yang paling tepat. Alasannya adalah isu ini sangat melekat dan tengah berkembang di dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Itulah mengapa saya katakan setali tiga uang, selain keuntungan pencitraan diri sebagai politisi, kepentingan penguasa pun dapat terwujud untuk mengalihkan perhatian masyarakat.
Sebagai seorang politisi, cara apa saja tentu dilakukan agar menciptakan karakter yang khas. Benar-benar mempraktikan filosofi Machiavelli (baca : menghalalkan cara untuk mencapai tindakan). Sulit untuk mengatakan ini merupakan praktik politik yang kurang baik, karena tidak ada indikator yang tepat (menurut hemat saya) untuk menggambarkan aktivitas politik yang baik. Namun menurut saya, kegiatan politik seperti ini adalah tindakan kekanakan, karena tidak dapat melihat kepentingan masyarakat banyak. Sebagai seorang politisi dari partai yang sarat dengan nilai keagamaan, Tifatul memainkan perannya dengan cukup baik. Isu mengenai agama dikendarainya untuk mengendalikan motor politik yang sedang dipacu. Kasus kebijakan yang sarat kontroversial merupakan bahan bakar motor politik yang tengah dikendarainnya. Sejauh ini hal-hal kontroversi tersebut tidak akan dapat menghentikannya, karena Tifatul tengah ditopang kepentingan kekuasaan yang besar pula. Walaupun ada yang mengatakan Tifatul tengah menjatuhkan kredibelitas PKS, namun menurut saya tidak sepenuhnya benar. Alasan logisnya adalah ketika nama suatu partai terdengar berulang-ulang dalam pemberitaan di media-media, maka semakin mudah pula diingat oleh masyarakat. Sama halnya dengan apa yang terjadi partai-partai yang lain, seperti Demokrat, Golkar, PDI-Perjuangan, PPP, PKB maupun PAN. Kontroversi ini sebenarnya juga ingin menggambarkan bahwa PKS adalah partai politik yang besar dan layak disandingkan dengan partai politik yang telah saya sebut sebelumnya.
Dengan demikian, kesimpulannya adalah Tifatul merupakan seorang politisi yang handal. Semua kontroversi yang dilakukannya lebih dalam rangkat proses pencitraan diri, sekaligus membantu penguasa saat ini untuk mengatur isu politik dalam negeri. Jadi menurut hemat saya, tidak perlu repot apalagi pusing dengan isu kontroversial yang dilontarkan oleh Tifatul ataupun politisi lainnya (seperti : Ruhut Sitompul, Marzuki Alie, Andi Malarangeng, dll), karena kontroversi tersebut adalah hasil dari budaya politik yang berkembang dengan normal di Indonesia. Indikasi lainnya yang dapat dilihat dari hal ini adalah bahwa pemahaman dan pendidikan politik masyarakat di Indonesia masih sangat lemah, dan rentan untuk dilakukan propaganda.