Rabu, 26 Oktober 2016

Politisasi Agama dalam Pesta Demokrasi di Indonesia : Belajar Bersikap dari Pilpres 2014 Guna Menyambut Pilkada DKI Jakarta 2017)

Peserta Pilkada DKI Jakarta Tahun 2017 (Sumber : Internet)
Runcingnya persoalan agama di negara kita ini paling sering muncul karena aktvitas politik, seperti Pilpres (Pemilihan Presiden) dan Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah). Sisanya adalah gerakan bawah tanah dari mereka yang belum "move on" dari Piagam Jakarta 45
Harus kita cermati baik-baik bahwa pola kerukunan hidup beragama di Indonesia itu berbentuk Top-Down Design. Artinya, kalau ada satu atau dua tokoh nasional atau tokoh agama yang berkonflik memakai isu agama maka konflik itu bisa berdampak sampai ke lapisan bawah, yang melibatkan manusia dengan jumlah yang sangat banyak. Ini yang mengerikan!


Dalam Pilpres dan Pilkada yang terjadi di negara kita belakangan ini, ada tokoh nasional dan tokoh agama yang semangat bernegaranya sebelum memiliki kepentingan tertentu di politik begitu nasionalis. Tetapi, ketika ia memiliki kepentingan pribadi dan kelompok, mereka itu sedikit "nakal"  memainkan isu agama. Hal itulah yang bisa dimanfaatkan oleh kelompok yang belum "move on" dari Piagam Jakarta 45 yang terus berjuang mewujudkan cita-cita mereka.


Sederhananya, kerukunan umat beragama di Indonesia dapat tercipta kalau segenap tokoh nasional, pemerintah, para stakeholder, dan tokoh-tokoh agama yang berwawasan nasionalis bersatu padu. Kita tentu lebih kuat dari mereka yang gagal "move on" dari Piagam Jakarta 45. Semoga hal ini sudah dipikirkan baik-baik oleh mereka, khususnya Pak Jokowi, Pak A Hok, Bu Mega, Pak SBY, Pak Yusril, Pak Prabowo, dan Pak Amien Rais. Ketahanan dan keutuhan NKRI ada di tangan mereka saat ini.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Kita Mati dengan Dia, Kita pun akan Bangkit dengan Dia (2.Tim.2:8-15)

Renungan Minggu, 9 Oktober 2016


Media massa di Indonesia saat ini sedang dihebohkan berita dari Probolinggo-Jawa Timur. Berita itu juga telah menjadi bahan pembicaraan masyarakat di Siantar-Simalungun. Adalah Dimas Kanjeng Taat Pribadi (DKTP), seorang pria yang diteladani menjadi guru spiritual, dan dianggap memiliki kekuatan sakti untuk mendatangkan uang, sepeda motor, pulsa, bahkan garam pun disebut bisa disulap menjadi permata. Namun, DKTP dilaporkan oleh pengikutnya sendiri yang merasa telah ditipu dengan kerugian materi yang sangat besar. Saat ini, DTKP sendiri sudah dijadikan Bareskrim Polri sebagai tersangka kasus penipuan yang jumlahnya mencapai miliaran rupiah. Menariknya, korban dari penipuan DKTP ini tidak hanya dari kalangan bawah saja, tetapi juga dari kalangan elite dan terpelajar. Belakangan, ada muncul kabar yang mengatakan bahwa kemungkinan kasus penipuan ini melebar sampai kasus pembunuhan. Melihat daya ledak kasus ini yang sanggup menjangkau pembicaraan seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, kita dapat memahami bahwa persoalan yang terjadi di Probolinggo-Jawa Timur itu adalah persoalan yang relevan dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Persoalan warga Probolinggo-Jawa Timur yang menjadi korban penipuan DKTP ini tidak lain karena ada harapan dari mereka untuk meraup keuntungan materi yang besar tetapi didapatkan dengan cepat dan mudah. Begitu pula sebagian masyarakat di Indonesia, pasti banyak yang tergiur untuk mendapatkan keuntungan materi yang besar dengan cara cepat dan mudah, sekalipun itu sangat irasional (tidak logis). Memang, hasrat manusia untuk hidup senang membuat manusia menjadi sangat tidak logis. Kasus penipuan yang dilakukan DKTP ini bukanlah kasus baru yang terjadi di Indonesia. Namun, mengapa kasus serupa terus berulang terjadi? Apakah karena tingkat kesejahteraan manusia di Indonesia yang rendah? Sehingga, mereka ingin segera sejahtera tanpa harus bersusah payah untuk bekerja dan memenuhi kebutuhannya? Rasanya tidak juga, karena apabila kita perhatikan data dari UNDP tahun 2015, IPM (Indeks Pembangunan Manusia) di Indonesia terus mengalami kemajuan. IPM Indonesia dari data itu menempati posisi 110 dari 187 negara dengan nilai indeks 0,68. IPM sendiri menjadi barometer yang penting dalam mengukur kesejahteraan suatu bangsa karena menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembanganunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dsb. Jika penyebab banyaknya korban penipuan di Indonesia bukanlah karena persoalan kesejahteraan, lantas apa soal di balik banyaknya masyarakat Indonesia menjadi korban penipuan yang irasional sekalipun seperti yang terjadi pada kasus DKTP? Dalam analisa saya, penyebab utamanya adalah keinginan manusia untuk hidup senang yang tak ada batasnya. Terkadang, keinginan manusia yang tak terbatas itu membuat mereka menjadi sangat tidak rasional. Hal ini juga ditegaskan oleh Sigmud Freud yang mengatakan bahwa manusia bisa menjadi sangat tidak rasional karena tidak dapat mengendalikan “Id”-nya. Menurut Freud, “Id” merupakan energi-energi psikis manusia yang dapat memberi dasar kehidupan dan di satu sisi hadir sebagai ciri yang merusak. Agar “Id” yang berisikan keinginan tak terbatas manusia itu tidak sampai merusak, ia harus diatur oleh “ego” sehingga dapat menyaring realitas yang ada. Lalu, hasil yang disaring oleh “ego” itu diputuskan menjadi suatu tindakan atau milik seseorang melalui “superego”. Dalam konteks sosial, “superego” merupakan introjeksi norma eksternal, yang bisa juga dipengaruhi oleh keyakinan pada norma agama. Bisa dipahami mengapa DKTP mampu membuat orang dari kelas atas termasuk mereka yang berpendidikan menjadi tertipu tidak lain disebabkan bahwa DKTP menggunakan kedok agama untuk memengaruhi psikologis korbannya menjadi tidak logis (irasional). Lantas, sebagai umat Kristen, bagaimana cara kita mengantisipasi hal ini sehingga kita tidak terhisap ke dalam lingkaran kejahatan penipuan serupa?
Firman Tuhan saat ini memberikan kita satu pengajaran moral akan apa itu keuntungan? Bila kita membaca surat kedua Paulus pada Timotius, di sana kita menemukan Paulus memberikan pengembalaan pada Timotius agar hidup di dalam iman percayanya pada Kristus, seperti yang sudah sudah ada sejak dari generasi neneknya –Lois- dan ibunya –Eunike- (2.Tim.1:5). Dalam hidup percaya pada Kristus, ada hal yang harus dihadapi, di antaranya adalah tantangan untuk menyaksikan kabar baik tentang kebenaran Kristus tanpa malu (2.Tim.2:15). Tantangan itu tidak mudah karena seperti Paulus yang sudah lebih dahulu melakukannya, ia menghadapi berbagai penderitaan dunia di antaranya menderita penghukuman (2.Tim.1:8+12 & 2.Tim.2:9). Timotius sebagai seorang percaya yang sangat diharapkan Paulus untuk menjadi pemberita tentang Kristus juga diminta untuk memiliki kekuatan di dalam imannya sehingga bisa saksi Kristus di dunia melanjutkan tugas Paulus. Penderitaan yang dialami Paulus dan yang akan dirasakan oleh Timotius nantinya adalah hal yang wajar. Paulus menggambarkannya seperti tahapan penderitaan seorang prajurit yang tidak memusingkan dirinya dengan kehidupannya sehingga berkenan pada komandannya (2.Tim.2:4), juga seperti penderitaan ketekunan olahragawan dalam berlatih dan mengikuti peraturan perlombaan sampai ia mendapatkan mahkota juara (2.Tim.2:5), dan seperti penderitaan seorang petani yang bekerja keras untuk dapat menikmati hasil usahanya (2.Tim.2:6). Untuk itu, Paulus mengajak Timotius untuk tidak takut menderita karena hal itu hanya bagian dari tahapan menuju keselamatan. Malahan, Timotius diminta semakin teguh bersaksi bahwa “Yesus telah bangkit dari orang mati dan lahir sebagai keturunan Daud”. Frasa ini merupakan satu rumusan teologis baru dari Paulus pada saat itu untuk menegaskan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan sejak zaman Perjanjian Lama itu. Namun, tidak semua orang dapat menerima rumusan teologis yang baru itu, sehingga ia dibelenggu karena menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat Yahudi dan dianggap sebagai provokator (2.Tim.2:9). Paulus menyaksikan pada Timotius bahwa ia tidak menyesali sama sekali tindakannya itu karena Paulus memiliki kepercayaan bahwa “siapa yang mati untuk Kristus akan mati bersama dengan Kristus, dan siapa yang bertekun dalam iman akan memerintah bersama dengan Kristus” (2.Tim.2:10-12). Paulus juga meyakini bahwa Kristus itu setia sebagaimana Tuhan Allah yang sejak zaman purbakala setia adanya sekalipun nenek moyang Yahudi berulangkali bersikap tidak setia kepada-Nya (2.Tim.2:13). Oleh karenanya, tiap orang percaya, termasuk Timotius, dituntut daripadanya untuk bersungguh-sungguh di dalam kesaksian imannya dan berusaha untuk layak di hadapan Allah (2.Tim.2:14-15).
Dari pengembalaan yang dilakukan oleh Paulus pada Timotius dalam nas minggu ini, kita memperoleh satu gambaran bahwa penderitaan adalah bagian tahapan dalam iman Kristen. Tekanan hidup –sebagai suatu penderitaan- yang dirasakan umat Kristen masa kini ternyata bukanlah tujuan akhir. Tetapi, jika kita meminjam istilah yang dipakai Rostow, penderitaan itu adalah tahapan lepas landas menuju kehidupan bersama Kristus di dalam keselamatan kita. Harta dunia tentu tidak akan kita bawa mati. Sebanyak apapun kita kumpulkan di dunia ini, kita tidak bisa membeli keselamatan itu dengan nilai kekayaan yang kita miliki. Dengan demikian, tugas seorang Kristen adalah memberi kesaksian akan “Yesus adalah Juruselamat (Mesias)” pada seluruh dunia yang tengah dihinggapi kuasa keserakahan. Banyaknya manusia yang serakah membuat kehidupan di dunia ini semakin rusak. Yang kaya ingin kaya. Yang miskin ingin segera kaya bagaimana pun caranya. Keinginan memperkaya diri dengan segera adalah ciri keserakahan. Mengapa? Karena, tuhan mereka adalah mamon. Mereka menganggap bahwa harta dunia itu bisa menolong dan membuat aman kehidupan mereka. Padahal, pakar psikologi sekaliber Freud mengatakan keserakahan yang ada dalam “Id” manusia itu adalah hal yang merusak. Hal itu nyata terjadi seperti yang ada dalam kasus DKTP di mana terjadi kerugian akibat keserakahan bahkan ada indikasi terjadinya pembunuhan. Untuk itu, umat Kristen melalui nas saat ini diminta untuk tidak terjebak dalam sikap serakah, sehingga melakukan hal yang irasional seperti warga di Probolinggo. Malahan, umat Kristen dipanggil untuk memberitakan Kristus yang telah mati dan bangkit itu supaya bila kita mati kita mati dengan Dia, dan bila kita hidup kita pun akan hidup dengan Dia. Mati dan hidup bersama Kristus itulah menjadi keuntungan sejati bagi umat Kristen. Mengapa? Sebab seperti yang disampaikan oleh Martin Luther, dengan kita mati bersama Kristus, kita boleh memaknai bagaimana pengorbanan “Tuhan yang menyerahkan diri-Nya”. Kita dapat juga memahami bagaimana Allah memberi diri-Nya sendiri pada kita dan segala makhluk ciptaan-Nya, dan Dia mencurahkan pemberian-Nya yang tidak ternilai yang bertahan selamanya. Lebih dari itu, Dia menderita, mati, dan dikuburkan untuk melunaskan dosa kita –bukan dengan uang, melainkan dengan darah-Nya sendiri yang mulia.  Sehingga, kita tidak menyia-nyiakan kehidupan ini dengan pengharapan yang sia-sia, dan dengan kesenangan yang sia-sia. Hidup yang kita serahkan sepenuhnya kepada Kristus akan memadamkan roh keserahkahan yang membawa kita pada kehidupan yang sia-sia dan kematian selamanya.

Senin, 14 Desember 2015

Bermazmurlah Bagi Tuhan, Sebab Perbuatan-Nya Mulia (Khotbah di GKPI JKJK, Minggu 13 Desember 2015)


(Yesaya 12:2-6), Minggu Advent-III

Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus!
Suatu kali, seorang anak laki-laki menghampiri ibunya untuk meminta izin karena ia merasa sudah siap untuk menikahi kekasihnya. Tanpa diduga, jawaban ibunya malah meminta anak itu untuk menyampaikan permohonan maaf pada ibunya. Anak laki-laki itu yang bingung kemudian bertanya, “Mengapa saya harus minta maaf kepada ibu?”. Ibunya dengan tegas menjawab, “Ayo minta maaf!”. Berulangkali anak laki-laki ini mencari jawaban dari ibunya, “Mengapa ia harus meminta maaf?”. Namun, berulangkali pula ibunya memaksanya untuk meminta maaf. Akhirnya, anak laki-laki itu menyerah dan segera meminta maaf pada ibunya, “Ibu, saya minta maaf. Sekalipun saya tidak mengetahui apa kesalahan yang baru saya lakukan pada ibu!”. Tidak lama kemudian, ibunya langsung berubah sikap, dengan lembut ibunya pun berkata, “Anakku, itulah yang harus kau lakukan pada istrimu nanti ketika rumah tangga kalian sedang ada permasalahan! Sebagai laki-laki, engkau tidak perlu mencari alasan mengapa kau harus meminta maaf pada istrimu! Ibu sudah lebih dahulu menjadi seorang istri selama hampir 30 tahun, dan ibu tidak ingin istrimu nanti merasakan kepahitan seperti yang ibu rasakan selama berumahtangga”. Setelah menikah, anak laki-laki itu memang harus menghadapi saat-saat di mana terjadi ketidakcocokkan dengan istrinya. Persoalan yang sangat sepele sekalipun bisa menjadi sumber percecokkan dalam rumah tangga mereka. Dan, sebagaimana nasehat dari ibunya sebelum menikah, anak laki-laki itu pun meminta maaf pada istrinya. Hal ini berlangsung setidaknya sampai usia pernikahan delapan tahun, karena setelahnya anak laki-laki itu merasa kesabarannya sudah habis. Ia kemudian membalikkan tuduhan istrinya lalu memojokkan istrinya sebagai seorang yang bersalah. Karena sudah sangat rumit situasinya, istrinya pun mengajukan surat cerai. Anak laki-laki yang telah menjadi seorang bapak atas anak-anak yang tengah bertumbuh pun menjadi sangat bingung. Ia sangat mencintai istri dan anak-anaknya. Sehingga, ia memohon maaf pada istrinya dan memintanya agar tetap tinggal. Istrinya pun mengabulkan permintaan suaminya itu, karena ia pun masih mencintai suaminya. Setelah badai rumah tangga itu berlalu, anak laki-laki itu kemudian menjumpai ibunya kembali dan sambil berlutut di kaki ibunya ia pun berkata, “Syukur aku masih mengingat nasehat ibu, dan aku berterima kasih untuk peringatan yang sangat bermanfaat bagiku dan bagi keluarga kecilku”.
Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan!
Sama seperti cerita di atas, demikianlah pula nas kita pada saat ini, yaitu Tuhan melalui visi Yesaya telah memperingatkan bangsa Israel bahwa nantinya mereka akan dihukum oleh Tuhan, tetapi kasih setia Tuhan tetap tinggal pada mereka yang masih beribadah kepada Tuhan. Dan, atas peringatan itu, Israel layak bersyukur kepada Allah yang masih menjaga Israel. Memang, bila kita memerhatikan cerita di dalam Alkitab, kita akan menemukan bahwa Israel akan dibuang ke Babel, tapi segera dibawa-Nya kembali mereka sebagaimana janji-Nya. Inilah yang tengah dinantikan bangsa Israel yaitu hari Tuhan yang menyelamatkan mereka di kala mereka akan menghadapi penderitaan yang sudah menanti. Mengacu pada nas kita saat ini, pembahasan kita merupakan bagian pertama dari kitab Yesaya (Protoyesaya), di mana konteksnya bangsa Israel belum dalam pembuangan. Atas nubuatan keselamatan setelah melewati serangkaian penderitaan, Yesaya mengucap syukur kepada Allah melalui puji-pujiannya, di mana isi pujiannya merupakan tema minggu kita pada saat ini. Ucapan syukur Yesaya atas keselamatan itu dibuka Yesaya dengan kalimat, “Aku mau bersyukur kepada-Mu ya Tuhan, karena sungguhpun Engkau telah murka terhadap aku, tetapi murka-Mu telah surut dan Engkau menghiburku”. Kemudian disambung dengan pengakuan bahwa “Allah adalah kesalamatan, sebab Allah adalah kekuatan dan mazmur”(ay.2). Pengakuan iman ini sangat unik karena keselamatan yang diberikan oleh Allah tidak lepas dari penghayatan mereka akan kekuatan yang diberikan Tuhan atas bangsa itu. Kekuatan di nas ini dapat kita pahami dengan cara Tuhan menjaga bangsa Israel, sekalipun berada di tengah penderitaan mereka masih dapat bertahan, seperti saat keluar dari perbudakan di tanah Mesir. Dengan kekuatan itu pula mereka bermazmur bagi Tuhan. Kata mazmur sendiri aslinya berasal dari kata ibrani sefer tehillim, yang secara gramatikal sangat dekat dengan kata haleluya. Per definisi, Mazmur dapat dipahami sebagai respons manusia terhadap Allah di tengah berbagai situasi, baik suka maupun duka. Jadi, ketika dikatakan Allah adalah mazmurku, hal ini ingin menyiratkan bahwa Allah tetap menjadi Allah yang ada di tengah suka dan duka. Dari penjabaran ini, kita dapat menarik satu benang merah, yaitu keselamatan Israel dinyatakan dalam penyertaan Tuhan lewat penguatan yang diberikan di tengah respons mereka di berbagai situasi hidup. Atas dasar itulah, kita dapat memuji Tuhan yang memberikan  penguatan akan keselamatan bagi kita. Hal berikutnya adalah bagaimana Yesaya mengajak agar umat percaya menceritakan pekerjaan besar Allah yang akan telah menyelamatkan Israel (ay.4). Janji keselamatan Allah itu digambarkan dengan mata air keselamatan (ay.3). Suatu harapan yang menjamin orang percaya bahwa tidak selamanya murka Allah ditimpakan atas kita melalui penderitaan, karena kasih Allah lebih besar dan itulah yang membuat umat percaya merasakan sukacita yang besar. Mereka tidak akan haus dalam penderitaan, karena Tuhan akan melegakan mereka dengan perbuatan-Nya yang besar. Dengan menyampaikan kesaksian pekerjaan Allah yang besar, itu merupakan pujian kita kepada Allah atas rancangan-Nya yang indah dalam suka-duka kehidupan. Juga seperti Sion, yang adalah bukit di mana Tuhan berada, serta menjadi kota benteng Israel. Sion telah menjadi tanda keperkasaan umat percaya, karena di situ keselamatan dinyatakan Tuhan. Umat percaya yang dikiaskan sebagai penduduk Sion tentu harus menyambut keberadaan Allah di tengah-tengah persekutuannya. Mereka tidak akan mungkin dikalahkan lagi karena Allah ada di tengah-tengah mereka
Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus!
Dari penjabaran nas di atas, serta memerhatikan tema kita pada saat ini, maka ada dua hal yang dapat kita refleksikan pada Minggu Advent-III pada saat ini.
Pertama, persoalan alasan bermazmur. Alasan kita memuji (bermazmur) bagi Tuhan adalah karena Dia itu keselamatan. Sebagai umat percaya, kita tentu bersyukur bahwa di tengah ketidakpastian dalam hidup, kita meyakini ada hal yang pasti bahwa kedatangan Tuhan yang membawa keselamatan itu pasti akan terjadi. Umat Kristen memercayai bahwa Yesus adalah Juruselamat yang dikirimkan oleh Allah di dunia ini untuk memberikan keselamatan. Dengan memperdamaikan manusia dari dosa, manusia kembali dipersekutukan dengan Allah. Inilah yang patut kita syukuri dalam pujian kita kepada Allah. Belajar dari bagaimana menantikan kedatangan Tuhan pertama kali di dunia, begitu pula kita juga saat ini tengah menantikan kedatangan Tuhan kali keduanya. Ada beberapa pendekatan dalam menantikan hari kedatangan Tuhan kedua kali sebagai sumber keselamatan itu. Ada yang memaknainya sebagai hari kiamat. Ada pula yang memahami hari Tuhan itu datang dalam hari kematian kita, di mana tugas kita sudah selesai di dunia ini dan Tuhan datang menjemput kita dalam keabadian. Serta, banyak penjelasan tentang hari Tuhan yang beredar di kalangan umat Kristen. Apapun pemahaman yang beredar itu, yang jelas ketika menanti kedatangan hari Tuhan itu, kita harus sudah memiliki dasar yang pasti bahwa Allah adalah keselamatan. Dari situlah kemudian kita memuji Tuhan melalui hidup kita sampai hari Tuhan itu datang kembali.
Kedua, jikalau kita sudah memiliki dasar mengapa kita harus bermazmur bagi Tuhan di kala menantikan kedatangan-Nya, kita kemudian diperhadapkan dengan pertanyaan bagaimana cara kita bermazmur bagi Tuhan dalam penantian itu? Belajar dari nas kita saat ini, kita mendapatkan dua cara bermazmur dalam penantian akan kedatangan hari Tuhan yang penuh keselamatan itu. Yang pertama, kita dapat bermazmur melalui kesaksian kita akan perbuatan besar Tuhan atas hidup kita. Tuhan bekerja atas diri manusia dengan berbagai cara yang unik. Masing-masing tidak sama. Ada orang percaya yang disapa Tuhan melalui peristiwa yang membahagiakan tetapi ada juga melalui peristiwa yang menyedihkan. Ada juga yang disapa oleh Tuhan melalui situasi ketidakadilan yang terjadi. Banyak cara Tuhan menyapa umat percaya. Ketika penderitaan datang sebagai sapaan Tuhan bagi umat percaya, pada batas apa kita dapat mengaku Tuhan adalah keselamatan kita? Mungkin ketika kita sedang dilanda sakit penyakit yang kronis, atau kepedihan karena kepergiaan orang yang kita kasihi selamanya dari tengah dunia, atau juga kemelaratan hidup di tengah-tengah dunia karena ketidakadilan ekonomi, bahkan ketidaktenangan menjalani hidup yang disebabkan rasa cemas berlebih. Dari banyak penderitaan yang mengambil banyak bentuk dalam hidup itu datang, sebagai umat percaya, kita tentu harus sudah yakin bahwa kita akan telah dikuatkan oleh Tuhan dalam menghadapinya. Namun, ketika harus bersedih, menangis, kecewa, hal itu silakan kita lakukan. Akan tetapi, kita harus membatasi diri dalam bersedih, menangis, dan kecewa. Kita harus meyakini secara sungguh bahwa kita dikuatkan oleh janji-Nya kalau Dia tidak meninggalkan kita sendiri. Sebagaimana bangsa Israel di masa Yesaya akan dihiburkan di tengah pembuangan dan dibawa kembali pulang, begitu pula kita sebagai umat percaya akan dihiburkan di tengah penderitaan kita dan kehidupan kita segera dipulihkan dengan pekerjaan Tuhan yang besar. Bagaimana proses yang kita alami sewaktu Tuhan memulihkan dan menghiburkan itulah yang kita saksikan sebagai pekerjaan Tuhan yang besar atas hidup kita. Sikap hidup dan teladan iman yang baik yang kita tunjukkan kala menghadapi penderitaan, sesungguhnya itu merupakan satu kesaksian kita yang hidup, walau tanpa harus diceritakan. Seperti yang dikatakan Paus Fransiskus, “Kabarkanlah Injil bila hanya perlu dengan kata-kata”, artinya kesaksian yang hidup akan pekerjaan besar Tuhan nyata dalam kehidupan keseharian kita. Dengan demikian, ketika kita menghadapinya dengan iman yang teguh serta tidak ada kata-kata hujatan yang keluar dari mulut kita, sesungguhnya kita tengah bermazmur kepada Allah, sekaligus menyampaikan kesaksian kita pada seluruh manusia. Selanjutnya, sorak-sorai dan seruan penduduk Sion, pada masa kini dapat kita pahami dengan keoptimisan umat percaya menjalani kehidupan dengan rasa terima kasih kita kepada Tuhan yang hadir di tengah hidup, sebagaimana Dia yang hadir di antara penduduk Sion. Rasa terima kasih atas keyakinan Tuhan selalu ada di tengah kehidupan umat percaya itu terlihat dari bagaimana umat percaya menyatakan penyembahan dan persembahannya kepada Tuhan. Apakah ia menyembah dan membawa persembahan pada Tuhannya melalui ibadahnya, doanya, nyanyiannya, persembahannya, rasa syukurnya, tubuhnya, dan hidupnya? Kebulatan tekad menyembah dan bersembah kepada Tuhan sesungguhnya juga merupakan bentuk bermazmur bagi Tuhan yang adalah keselamatan itu.
Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan!
Inilah firman Tuhan pada saat ini. Biarlah di Minggu Advent-III ini, kita semakin merenungkan bagaimana kita bermazmur kepada Tuhan dalam penantian akan kedatangan-Nya kembali. Biarlah firman Tuhan ini tidak lalu begitu saja, tetapi dapat menjadi suatu refleksi yang dihayati dalam menyambut Dia yang akan datang. Tuhan memberkati! Amin.

Selasa, 08 Desember 2015

tentang sendiri..


Pergilah, jika ingin pergi dariku,
karena tak seorang pun dapat menahan langkahmu,
termasuk aku.
kutahu, kusadari, mustahil kita dapat bersatu,
bagaimana pun caranya itu,
hanya mukjizat mendapatkanmu,
sudah kucoba berdoa membatu,
kutahu itu hanya candu yang menghiburku.
janganlah khawatirkan aku,
sudah biasa ditinggal begitu.
sendiri itu sesuatu,
yang selalu jadi karibku.



Sabtu, 05 Desember 2015

Suci Tak Bercacat Menjelang Hari Kristus

Filipi 1:3-13 (Khotbah Minggu Advent-II, GKPI JKJK)

Lukisan Paulus karya Bartolo Montagna (1450-1523)

Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus!
Mungkin masih segar dalam ingatan kita bagaimana dua orang polisi di Deliserdang, Brigadir Richardo Sitorus dan Brigadir Siregar, gugur dalam menjalankan tugas pada 26 Februari 2012. Para korban ini tentu tidak menyangka kalau pada hari Minggu itu, sekitar jam 8 malam, akan menjadi akhir dari tugas mereka dalam menjaga keamanan di tengah masyarakat. Semua peristiwa naas ini berawal ketika kedua polisi malang itu turut ke dalam 5 rombongan tim yang ingin mengamankan seorang bandar judi di daerah Perumahan Bumi Tuntungan Sejahtera, Deliserdang-Sumut. Di luar dugaan, bandar judi itu malah meneriaki kelima polisi itu, Maling! Warga yang mendengar teriakan itu langsung berkerumun menyerang kelima polisi yang berpakaian bebas. Kelima polisi berusaha lari dari kejaran massa, akan tetapi kedua brigadir yang menjadi korban gagal meloloskan dirinya sehingga meninggal dunia dikeroyok oleh massa yang mengganas. Peristiwa ini mengajarkan pada kita bahwa ternyata setiap pekerjaan memiliki risiko, termasuk menegakkan hukum di tengah masyarakat, seperti yang dilakukan oleh polisi. Demikian pula tugas pemberitaan kabar sukacita, tugas ini juga memiliki risiko bagi pengabarnya. Paulus, contohnya, ia harus menerima risiko sebagai pembawa kabar sukacita ketika memberitakan Injil di kota Filipi. Sesaat setelah memenangkan iman seorang perempuan yang bernama Lidia, Paulus kemudian mengusir roh tenung yang ada dalam diri seorang perempuan yang ingin mengikut Allah. Ternyata, ada para pembesar yang tidak suka dengan perginya roh tenung itu karena roh itu membawa keuntungan ekonomi bagi mereka. Inilah yang kemudian membawa Paulus masuk ke penjara. Dan, sebagaimana kita ketahui kemudian bahwa kekuatan Allah juga nyata atas Paulus ketika berada di dalam penjara (Kis.16:13-40). Dari dalam penjara, Paulus menuliskan suratnya pada jemaat yang ada di Filipi, di mana dalam Alkitab kita disebut dengan kitab Filipi, yang juga menjadi nas firman Tuhan bagi kita pada saat ini.
Ibu, Bapak, dan Jemaat yang berbahagia di dalam Kasih Tuhan!
Perhatian Paulus melalui suratnya pada jemaat di Filipi mencakup berbagai hal. Salah satu di antaranya adalah soal persekutuan dalam relasinya dengan tindakan yang benar sebagai umat percaya. Konteks jemaat di kota Filipi pada saat itu memang tengah mengalami peningkatan setelah kehadiran Paulus. Banyak umat percaya baru di kota Filipi karena pekerjaan Allah lewat Roh Kudus yang turun atas Paulus. Dan, pada mereka semua yang baru percaya, serta pada umat yang telah percaya sebelumnya, Paulus begitu sukacita saat mengingat mereka. Hal itu terlihat dari doa Paulus pada jemaat di Filipi yang juga bentuk ungkapan syukurnya (ay.3-5). Tampaknya, Paulus tidak ingin bermegah atas persekutuan yang kian besar di Filipi. Paulus menyadari bahwa semuanya itu merupakan pekerjaan Allah, mulai dari sejak awal sampai pada akhirnya di hari Kristus (ay.6). Paulus kemudian menegaskan mengapa ia meyakini bahwa persekutuan mereka yang kian berkembang merupakan pekerjaan Allah karena mereka yang ada di dalam hati Paulus turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang sama seperti yang diterima olehnya. Sekalipun dalam keadaan yang rumit, harus terpenjara karena berita Injil, Paulus menjelaskan bahwa ia tidak sangsi untuk meneguhkan dan membelanya(ay.7). Keteguhan hati Paulus itu seiring dengan kerinduannya berada di tengah-tengah jemaat (ay.8). Sehingga, Paulus dalam kerinduannya itu mendoakan agar jemaat di Filipi juga dipenuhi oleh pengetahuan yang benar dan segala macam pengertian (ay.9). Tujuannya tidak lain agar mereka dapat memilih yang baik, kemudian menjadi suci dan tak bercacat, penuh kebenaran untuk memuji dan memuliakan Allah menjelang hari Kristus (ay.10-11).
Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus!
Dari surat Paulus pada jemaat di Filipi, kita sebenarnya dapat melihat empat hal yang sedang ditekankan oleh Paulus, yaitu
1.     Doa merupakan sarana kita mengucap syukur atas persekutuan yang ada.
Seorang umat percaya tentu tidak bisa dilepaskan dari umat percaya lainnya. Oleh karenanya, umat percaya harus menyadari bahwa mereka juga terpanggil dalam suatu persekutuan. Dengan demikian, maju dan mundurnya suatu persekutuan sangat ditentukan oleh anggota masing-masing. Karenanya, saling dukung antaranggota dalam suatu persekutuan menjadi demikian penting. Dukungan antaranggota tidak mungkin terjadi bila masing-masing anggota tidak saling mengingat kebaikan apa yang sudah terjadi dalam persekutuan. Untuk itu, tiap anggota harus saling mendoakan sebagai bukti syukur mereka bahwa persekutuan tetap boleh berlangsung, dan masing-masing orang masih menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
Kita juga dapat mengembangkan pandangan kita terkait hal ini dalam konteks persekutuan kita di saat ini yang bernama GKPI. GKPI mengidentifikasi dirinya sebagai persekutuan umat percaya, persekutuan penyembahan-persembahan, persekutuan imamat rajani. Hal ini berarti bahwa tiap anggota GKPI itu orang percaya, orang yang menyembah dan membawa persembahan, serta orang yang menjadi imam. Mereka ini tentu harus saling mendoakan antara satu dan yang lain. Itulah yang membuktikan bahwa GKPI merupakan persekutuan pemberitaan Injil. Namun, jika di dalam persekutuan GKPI ada orang yang tidak saling mendoakan, malah saling menjatuhkan, maka sesungguhnya persekutuan GKPI itu harus dipertanyakan. Bukan suatu hal yang tidak mungkin jika karena satu atau lain hal, eksistensi persekutuan GKPI  dalam ancaman. Baik itu mungkin karena perseteruan organisasi antarpelayan, atau juga karena perseteruan antarjemaat yang disebabkan oleh ego masing-masing. Oleh karena itu, doa merupakan fondasi kokoh persekutuan umat percaya, termasuk persekutuan GKPI. Dalam iman kita mengakui, GKPI masih menjadi persekutuan yang ada sampai saat ini tidak lain karena jemaatnya masih saling mendoakan.
2.     Mengakui pekerjaan Allah dalam suatu persekutuan.
Pada bagian sebelumnya dikatakan bahwa maju mundurnya suatu persekutuan sangat tergantung dari bagaimana anggotanya masing-masing yang saling mendoakan. Hal itu menjadi sangat benar bila masing-masing anggota menyadari bahwa mereka merupakan sarana pekerjaan Allah di tengah-tengah persekutuan. Satu hal yang harus disadari oleh anggota persekutuan adalah menonjolkan diri sendiri di tengah-tengah persekutuan merupakan awal dari kehancuran persekutuan. Mengapa? Karena, persekutuan umat percaya itu dibangun oleh pekerjaan Allah, bukan pekerjaan manusia. Ada banyak gereja yang mengalami konflik, bahkan di tengah masa Advent dan Natal yang menjelang tidak lama lagi, disebabkan karena satu atau beberapa individu yang secara sengaja menonjolkan dirinya. Mungkin juga hal ini terjadi di tengah persekutuan GKPI. Oleh karena itu, kita sebagai bagian dari persekutuan itu melalui minggu Advent pada saat ini harus benar-benar merenungkan akan pekerjaan Allah di tengah-tengah persekutuan kita. Apakah kita telah membiarkan Allah bekerja di tengah-tengah persekutuan kita, sehingga kita dapat mengakui bahwa Dia-lah yang menghidupkan persekutuan itu? Atau, jangan-jangan, sesungguhnya kita tengah berusaha memunculkan pekerjaan kita sehingga menutup pekerjaan Allah atas persekutuan kita?
3.     Loyalitas menempuh risiko dalam menyampaikan Berita Injil
Dalam suatu persekutuan, tentu harus ada Berita Injil yang disampaikan. Layaknya Paulus yang dengan teguh membela Berita Injil di hadapan mereka yang dimabukkan oleh roh tenung, kita juga tentu harus mengambil sikap loyal dalam menyampaikan Berita Injil sekalipun penuh risiko. Tentu, Berita Injil tidak hanya firman Tuhan yang tertulis di Alkitab saja, tetapi juga Berita Injil adalah segenap gerak dan perbuatan kita yang mencerminkan firman Allah dalam diri kita. Ini berarti umat percaya sebagai anggota persekutuan harus mencerminkan firman Tuhan di dalam kehidupannya. Tidak berkompromi dengan hal yang jahat merupakan bentuknya. Mulai dari bentuk terkecil, yaitu tidak membuang sampah sembarangan, sampai mengambil bentuk yang terbesar, yaitu: merampas hak orang lain demi kepentingan pribadi. Kita dapat menyatakan loyalitas itu dalam berbagai profesi yang kita geluti, seperti yang disaksikan oleh Martin Luther, bagaimana seorang penjahit maupun tukang kebun dapat menunjukkan keimamannya melalui pekerjaannya. Melalui minggu Advent-II saat ini, warga GKPI kembali diajak untuk merenungkan sudah seberapa jauh loyalitas kita dalam pemberitaan Injil? Mari kita melakukan yang baik dalam hidup ini selagi napas masih ada dianugerahkan Tuhan atas kita. Martin Luther mengatakan “sekalipun dunia akan runtuh, aku tetap akan menanam pohon apel”. Kalimat ini menunjukkan bahwa bagi Martin Luther dalam berbagai kesempatan yang ada, kita harus melakukan hal yang baik dalam hidup ini. Itulah loyalitas menyampaikan Injil.
4.     Sikap umat percaya dalam menyambut hari Tuhan
Sikap yang dimaksudkan Paulus di sini merupakan sikap yang didasarkan oleh pengetahuan yang benar dan berbagai pengertian. Hari Tuhan tentu harus dipahami dengan benar dan berbagai pengertian sehingga kita tidak menjadi sesat. Dengan memahami dengan benar serta didukung oleh berbagai pengertian akan hari Tuhan, kita akan dengan bijaksana menyambutnya. Hari Tuhan bisa dipahami dengan kedatangan Tuhan kedua kali di dunia kita ini. Namun, tidak seorang pun yang mengetahui kapan hari itu akan tiba. Hari Tuhan juga dapat kita pahami bagaimana Tuhan menghampiri kita untuk membawa kita masuk Kerajaan-Nya lewat kematian dan kebangkitan-Nya. Sehingga, ketika sudah saatnya kita menghadap Tuhan di hari itu, kita sudah siap dengan tidak bercacat dan suci. Inilah yang juga penting kita renungkan dalam minggu Advent-II pada saat ini.
Kita harus mengakui Natal tidak akan bermakna tanpa Advent. Kedatangan Juruselamat melalui kelahiran Yesus tentu tidak akan bermakna jika tidak ada janji keselamatan akan datangnya Penebus. Melalui janji keselamatan dan penantian akan penggenapannya itulah harapan kita menjadi tidak sia-sia. Ada kepastian yang telah dijanjikan. Tema ibadah kita pada saat ini berfokus pada penekanan Paulus yang keempat, tapi tidak bisa dilepaskan dari tiga penekanan sebelumnya. Untuk itu, kita-jemaat masa kini- dalam minggu Advent-II dibawa pada perenungan akan kesiapan kita menyambut hari Tuhan. Siapkah kita menyambut Dia datang kembali? Siapkah kita menyambut Dia yang menghampiri kita? Atau kita menjadi gentar karena dosa kita? Sebagaimana kedatangan Mesias, dalam rupa kelahiran Yesus sekitar 2.000 tahun lalu, yang disambut dengan antusisas, kita juga menantikan hari Tuhan itu dengan penuh antusias bukan dengan rasa kekhawatiran. Karena, cepat atau lambat Tuhan akan menyelamatkan kita dari dunia yang penuh dengan dosa ini. Dan, bila itu terjadi, berdasarkan pemahaman yang benar dan pengertian yang kita terima selama ini, kita ditemukan-Nya tidak bercacat dan kudus. Dengan demikian, kita dapat dibenarkan oleh kasih anugerah-Nya sehingga kita beroleh selamat.
Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dipersekutukan oleh Kristus!
Inilah firman Tuhan bagi kita pada saat ini. Biarlah kita, melalui persekutuan kita ini, menyambut hari Tuhan dengan antusias. Sembari menanti hari Tuhan tiba, marilah kita tetap saling mendoakan, saling merendahkan diri di hadapan Tuhan, menjadi pemberita Injil, sehingga kita mendapatkan pemahaman dan pengertian yang benar. Dengan demikian, biarlah oleh kemurahan Allah, kita ditemukan oleh-Nya pada hari Tuhan nanti dengan tanpa cacat dan suci. Selamat menyambut hari Tuhan!