Rabu, 08 Februari 2023

Kekuatan Allah yang Menyelamatkan

(1 Korintus 1:10-18)

Khotbah di GKPI JK.Marantha-Cengkareng, Minggu-III Set.Epiphanias, 22 Januari 2023




 

Bapak, Ibu, Jemaat yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus!

Suatu kali ketika hendak menghadiri acara keluarga di Depok, saya dan istri berdiskusi alot tentang jalan mana yang harus dilewati. Apakah dari toll Pancoran keluar berbelok menuju Pasar Minggu? Atau, terus melalui toll Cijago (Cinere-Jagorawi)? Saya memilih untuk melalui Pasar Minggu. Dan, istri tetap menyarankan melalui toll Cijago. Alasan saya pada saat itu adalah terkadang toll Cijago bisa mendadak macet dan sulit bergerak. Namun, hati kecil saya terbesit alasan bahwa dulunya jalan itu menjadi tempat saya berkendara sehari-hari ketika bekerja sambil kuliah menuju Depok. Sedangkan, alasan istri saya adalah jarak tempuh dan waktu yang lebih singkat ketika melihat estimasi di Google Map. Saya mengambil keputusan untuk melewati Pasar Minggu, menyusuri Kalibata-Volvo-Tj.Barat-Lenteng Agung-Margonda. Sepanjang jalan, sudah dapat dipastikan kalau akan terjadi perdebatan. “Coba kalau lewat toll sudah sampai kita!”. “Ternyata, lebih macet keluar toll”, dll. Saya tetap rileks karena bagi saya lewat jalan mana pun, hasil akhirnya tetap menuju ke Depok.

Dari perdebatan jalan menuju Depok, saya mulai merenungkan bahwa manusia sering memperdebatkan sesuatu yang tujuannya sama. Dalam hal ketertarikan politik, kita bisa saling gontok-gontokkan, sekalipun calon yang diusung sama-sama punya visi memajukan kesejahteraan bangsa. Dalam hal adat/budaya, kita sering saling menyerang kebiasaan yang dilakukan, padahal kita sama-sama ingin nilai adat berjalan dengan baik. Termasuk, dalam hal iman kepada Tuhan, secara khusus umat Kristen, kita sering berkonflik ajaran gereja masing-masing, bahkan bertaruh nyawa, padahal kita sama-sama berdoa dan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus.

 

Bapak, Ibu, Jemaat yang terkasih!

Firman Tuhan saat ini menyoroti tentang nasehat Paulus pada jemaat di Korintus untuk tidak terpecah-pecah. Secara sosiologis, konteks jemaat Kristen di Korintus sudah sangat berbeban berat oleh tekanan eksternal, yaitu kolonialisme Roma. Paulus tidak ingin umat Kristen semakin menderita karena perpecahan yang terjadi di lingkaran internal mereka sendiri. Paulus setuju ketika di tengah masa sulit kehidupan, yang diperlukan sesungguhnya adalah seia-sekata, sehati-sepikir, dan erat bersatu (ay.10).

Paulus mengangkat satu isu bukan karena gossip atau kabar yang tidak jelas. Ia menyebut sumbernya darimana informasi itu didapatkannya, yaitu orang-orang dari keluarga Kloe (ay.11). Siapakah orang-orang dari keluarga Kloe itu? Sepertinya, mereka merupakan orang yang baru bertobat. Dari etimologi nama Kloe merujuk pada seorang ilah mitologi Yunani, yaitu dewi pertanian, anak dari Kronos dan Rhea. Sering disebut juga dengan Demeter. Jika itu benar, maka Kloe merupakan perempuan generasi pertama yang menjadi pengikut Kristus dan menjadi tangan kanan Paulus dalam pemberitaan Injil di kota Korintus. Wajar bila keturunannya pun menjadi informan terpercaya oleh Paulus. Mereka membisikkan pada Paulus kalau perpecahan itu ditenggarai oleh adanya klaim berkubu-kubu, yaitu golongan Paulus, golongan Apolos, golongan Kefas, dan golongan Kristus (ay.12).

Terbagi-baginya kubu dalam pemberitaan Kristus sepertinya sangat besar dipengaruhi oleh pembawaan masing-masing style pemberita Injil itu. Seperti Apolos misalnya, ia seorang Yahudi yang percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Ia berhasil menghimpun banyak orang percaya kepada Kristus adalah Mesias oleh karena kefasihan dalam berbicara, secara khusus penjabaran kitab suci yang membuktikan Kemesiasan Yesus (bnd.Kis.18:24). Wajar bila ada sumber yang menyebutkan pengikut Apolos lebih banyak daripada Paulus, karena Paulus sendiri seorang yang kurang mampu menjelaskan sebaik Apolos. Itu diakui oleh Paulus, “Tetapi aku tidak mau kelihatan seolah-olah aku menakut-nakuti kamu dengan surat-suratku. Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti” (2Kor.10:9-10). Akan tetapi, kelebihan Paulus ada pada ajarannya. “Jikalau aku kurang paham dalam hal berkata-kata,  tidaklah demikian dalam hal pengetahuan; sebab kami telah menyatakannya kepada kamu pada segala waktu dan di dalam segala hal” (2Kor.11:6). Ajaran Paulus sangat lengkap tentang Yesus Kristus, yaitu sampai pada kematian dan kebangkitan-Nya. Sedangkan, Apolos hanya menguasai ajaran dari Yohanes Pembaptis, yaitu persiapan jalan akan kedatangan Yesus Kristus (bnd.Kis.18:25).

 

Kemudian, perbedaan Kefas/Petrus dengan Paulus ada pada soal pendekatan. Paulus memiliki temperamen yang tinggi dan tidak bisa berkompromi dengan sesuatu yang bertentangan pada ideologisnya. Paulus tidak segan untuk berkonfrontasi dengan para Rasul, seperti Petrus. Sebab, ia menilai dirinya tidak kurang dari para murid Yesus. “Tetapi menurut pendapatku sedikitpun aku tidak kurang dari pada rasul-rasul yang tak ada taranya itu” (2Kor.11:5). Puncaknya, Paulus tanpa basa-basi menegur Petrus dengan keras.

Galatia 2:11-14

2:11 Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. 2:12 Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. 2:13 Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. 2:14 Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: "Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi? "

 

Dari teguran keras Paulus itu, kita dapat melihat kalau Petrus sesungguhnya model pelayan yang tidak suka berkonfrontasi dan suka “bermain aman” dari kaum sebangsanya. Petrus seorang pewarta Injil yang masih menjaga nilai adat/budaya. Sedangkan, Paulus melihat mereka yang masih bermain “dua kaki” itu tidak sesuai dengan Kebenaran Injil. Harus ada ketegasan agar tidak terjebak pada kemunafikan diri.

 

Untuk "Golongan Kristus" ini barangkali terdiri atas guru-guru palsu yang memusuhi rasul Paulus (1Kor 4:18-19) dan mengaku bahwa mereka memiliki kerohanian dan "hikmat" yang lebih unggul. Mereka percaya bahwa pengetahuan mereka (1Kor 8:1) membebaskan mereka dari pengekangan hukum (1Kor 6:12; 10:23) dan dari tuntutan moral (1Kor 5:2). Mereka sedang berupaya untuk merebut jemaat kepada Injil mereka yang menyimpang itu (2Kor 11:4,20-21). Pada dasarnya Paulus menentang mereka dan pengikut mereka di Korintus.

 

Dari keempat gambaran kubu yang ada di jemaat Korintus itu, kita dapat membuatkan peta sederhana, yaitu:

a.   Paulus adalah pelayan Kristus yang mementingkan berita Injil yaitu Kristus yang bangkit mengalahkan kematian di kayu salib demi orang berdosa (Berita Salib)

b. Apolos adalah pelayan Kristus yang mementingkan berita kehadiran Mesias yang telah digenapiberdasarkan kitab suci (Berita Penggenapan Mesias)

c.       Petrus/Kefas adalah pelayan Kristus yang masih menjaga nilai adat-istiadat dalam pemberitaan Injil

d.       Golongan Kristus adalah pelayan Kristus yang mementing hikmat moral dalam keselamatan Injil

 

Sebagai orang yang terlibat dalam pengkubuan tersebut, teks firman Tuhan pada kita saat ini memberikan sikap Paulus atas kondisi tersebut:

a.       Kristus yang dilayani tetap sama, tidak pernah terbagi (ay.13)

b.       Paulus mengakui bahwa ia pernah melakukan baptisan, tapi tujuan pekerjaan pelayanannya bukan untuk membaptis, tapi memberitakan Injil (ay.14-16)

c.       Injil yang dimaksud Paulus adalah Pemberitaan Salib di mana Yesus telah menyerahkan diri-Nya menjadi kurban tebusan agar manusia berdosa yang percaya diselamatkan (ay.17-18).

 

Pemberitaan Injil yang berpusat pada salib memang menjadi sesuatu yang baru dan cenderung aneh rada bodoh pada saat itu. Bagaimana mungkin, Paulus menggunakan “kayu salib” sebagai model berteologinya. Sebab, salib itu berkonotasi negatif, tempat penghukuman bagi terpidana mati yang kejahatannya sangat luar biasa. Sedangkan, Mesias yang diberitakan itu harusnya sesuai kitab suci yang gagah perkasa, memimpin pasukan perang, mengangkat pedang mengalahkan musuh, dan kekuatan militer lainnya. Namun, Yesus yang didaulat sebagai Mesias malah diberitakan berdasarkan salib yang lusuh dan hina. Banyak tentu pihak yang ingin Paulus meralat ajarannya. Bahkan, oleh bangsal Romawi, ajaran salib ini dijadikan bully yang tak habisnya. Ada satu grafiti kuno di diding ruangan dekat Palatine Hill di Roma yang terkenal dengan sebutan ALEXAMENOS GRAFITTO/ GRAFITTO BLASFEMO. Diduga dilakukan seorang Roma-Yunani untuk mengejek Alexamenos yang percaya kepada Kristus. Dalam grafiti itu, Alexamenos sedang menyembah seorang berkepala keledai yang tergantung di kayu salib. Karenanya, seorang ahli retorika Roma bernama Marcus Fronto, menjelaskan bahwa ketika orang Kristen menyembah Dia yang tersalib di tempat penghukuman yang hina itu, mereka sesungguhnya orang-orang bodoh yang mudah ditipu.


Hal menarik memang ketika olok-olokkan terhadap berita salib itu tidak mengubah dasar beriman Paulus, bahwa salib yang hina menjadi salib yang mulia oleh karena Kristus ada di sana. Tidak ada yang dapat menyelamatkan orang yang tergantung di sana oleh kuasa hukuman pemerintah Roma. Namun, Yesus Kristus akhirnya menaklukkan kuasa penghukuman salib pemerintah Roma dengan kekuatan Allah yang menyelamatkan. Kebangkitan-Nya menjadi puncak dari pemberitaan Injil melalui  jalan salib yang mulia.

 

Bapak, Ibu, dan Jemaat yang terkasih di dalam Tuhan kita Yesus Kristus!

Setidaknya dari pembahasan yang telah kita lakukan sejauh ini, ada dua hal yang dapat kita refleksikan untuk diaplikasikan di tengah kehidupan beriman sehari-hari, yaitu:

a.  Untuk mengenal kekuatan Allah yang menyelamatkan, kita harus mengenal Yesus yang datang itu dengan lengkap.

   Dari Paulus, kita menerima pemahaman bahwa pencurahan darah Kristus di kayu salib menjadi puncak kasih Allah yang telah menyerahkan Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah. Kemesiasan Yesus itu terurai dengan sempurna ketika kehadiran Yesus di tengah dunia tidak dengan menggunakan label militer dengan peperangan secara dunia. Tetapi, penyelamatan Mesias dilakukan dengan cara yang mencirikan kasih Allah, ditandai dengan penolakkan terhadap sikap represif/kekerasan di tengah dunia. Kekuatan Allah bekerja melampaui kekuatan manusia, sehingga Allah tidak menggunakan cara dunia untuk menyelamatkan umat-Nya

 

b.  Kuasa Allah yang menyelamatkan dinyatakan pada berita tentang salib yang dianggap bodoh oleh dunia

Tidak ada yang dapat mengalahkan kematian selain Tuhan Yesus Kristus. Salib tempat penghukuman mati, diubah menjadi berita kebangkitan. Kekuatan Tuhan mengubahkan salib hina menjadi mulia. Demikian juga kekuatan Allah dapat bekerja dalam diri umat-Nya yang percaya. Kekuatan-Nya akan mengubahkan dukacita kita menjadi sukacita, ketakutan kita menjadi pengharapan yang menenangkan.