Selasa, 14 Desember 2010

Pdt.Prof.Drs.John Adrian Titaley, Th.D


Profil dari Pdt.Prof.Drs.John Adrian Titaley, Th.D
Tempat dan Tanggal Lahir : Sorong, 19 Juni 1950
Pendidikan :
1978, Sarjana Teologi (Drs) dari Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW)
1995, Doctor of Theology (Th.D) dari Graduate Theological Union (GTU), Berkeley, USA.
Minat Studi :
Studi Interdisiplin (Perjanjian Lama dan Agama Masyarakat)


Tentang Beliau :
Pak John atau Om John, begitu civitas UKSW menyapa Pdt.Prof.Drs.John Adrian Titaley, Th.D. Tubuhnya tinggi dan besar, rambut yang berwarna putih serta wajah yang semi oriental membuat Pak John sudah seperti orang Barat. Dalam suatu kelas, beliau pernah bercerita mengenai asal-usul namanya. Sewaktu lahir, beliau bernama asli Johanes Adrian Titaley. Orangtuanya berlatarbelakang suku Ambon dan Tionghua. Semenjak ditinggal ayah dan ibunya, beliau merantau ke pulau Jawa karena di tanah Maluku sudah tidak ada apa-apa yang bisa dilakukan lagi. Beliau hidup dari belas kasihan sanak saudaranya dan berharap suatu saat nanti dapat mengubah nasibnya menjadi lebih baik lagi. Bukan suatu kebetulan jikalau beliau mendaftar ke fakultas teologi UKSW di akhir tahun 1960-an. Aktif di lembaga senat mahasiswa universitas menghantarkan beliau menjadi sekretaris umum senat mahasiswa universitas (Sekum SMU). Di kalangan mahasiswa, Johanes Adrian Titaley lebih sering disapa dengan panggilan John. Bahkan ketika lulus pun, nama yang digunakan adalah John Adrian Titaley. Dengan penuh canda, beliau mengatakan : “Belum ada syukuran apa-apa, nama saya sudah diganti seenak-enak mereka” (disambut galak tawa di kelas). Prestasi akademik yang baik membuat John Titaley menjadi salah satu staf pengajar di fakultas Teologi UKSW, sampai pada akhirnya beliau melanjutkan studi ke negeri Paman Sam. Beliau berhasil mengubah nasibnya yang kurang baik menjadi lebih baik. “Tidak ada yang susah sebelum dicoba dan jangan pernah berhenti mencoba” itulah yang disampaikan beliau di akhir cerita asal-usul kehidupan dan namanya itu.

Dalam kegiatan akademis di UKSW, beliau bisa disebut sebagai tokoh penting UKSW. Ada banyak kisah fenomenal dan kontroversial selama beliau berkarier di UKSW. Peristiwa yang penting adalah ketika kerusuhan tahun 1995 di UKSW, yang menjadi tahun gelap dalam sejarah UKSW, beliau dianggap sebagai opurtunis saat terjadi gonjang-ganjing kehidupan kampus. John Titaley menerima jabatan menjadi direktur Program Pascasarjana Studi Pembangunan (PPs-SP) dari direktur sebelumnya John Ihalauw yang pada saat itu mundur. Pada tahun 2001, beliau terpilih menjadi rektor kelima di UKSW. Pada era pemerintahan beliau, UKSW dihebohkan dengan sistem trimester (dalam 1 tahun kalender akademik, ada tiga semester masa kuliah). Sontak UKSW langsung heboh, ada civitas yang pro namun ada juga yang kontra dengan sistem kuliah seperti itu. Benar saja, di masa peralihan dari dwimester (atau lebih dikenal dengan sistem semester) ke trimester terjadi benturan-benturan yang tidak dapat dihindarkan di antara civitas UKSW pada masa itu. Selesai era kepemimpinan beliau, Rektor keenam UKSW, Prof.Dr.Kris H.Timotius, mencoba meredakan sistem trimester. Akibatnya pada era beliau, ada dua sistem perkuliahan yang dipakai, ada yang menggunakan dua semester, ada juga yang menggunakan tiga semester, tetapi ada juga yang memakai dua semester ditambah satu semester pengayaan. Pada pemilihan rektor ketujuh UKSW, Pak John kembali maju menjadi calon. Saingan terberat Pak John datang dari rektor sebelumnya yaitu Pak Kris Timotius. Dalam penyaringan bakal calon rektor, Pak John sempat dicoret dengan alasan tidak sesuai dengan penilaian Pansus. Bukan Pak John namanya kalau kalah dengan cara seperti itu. Beliau merasa ada aneh dari apa yang dilakukan oleh Pansus pada saat itu. Bersama tim suksesnya, beliau menyatakan peninjauan ulang kembali dalam pembobotan penilaian Pansus. Memang sudah diperkirakan oleh khalayak Teologi UKSW pada saat itu, jikalau Pak John lulus seleksi, pasti beliau akan menang di putaran berikutnya. Sebagai informasi, setelah lolos dari seleksi Pansus, para bakal calon menjadi calon rektor yang dipilih langsung oleh Yayasan UKSW. Ada yang mengatakan Pak John dekat dengan pihak Yayasan sehingga harus dihentikan dalam tahap seleksi bakal calon rektor. Apa pun penafsiran civitas UKSW, Pak John masuk menjadi calon rektor dan memenangkan pemilihan rektor. Ya, beliau adalah rektor ketujuh UKSW (2010-2014). Pada masa kepemimpinannya kali ini, beliau bertekad untuk menjadikan UKSW sebagai universitas riset, di mana beliau mendorong penelitian dari para civitas akademia terkhusus bagi para dosen UKSW.

Di kalangan akademis teologi, Pak John mengajar beberapa mata kuliah, seperti Pengantar Hermeneutik Perjanjian Lama, Hermeneutik Perjanjian Lama, Sosiologi Gereja, Pengantar Sosiologi dan Teologi Kontekstual. Beliau juga salah satu pengagas berdirinya Program Pascasarjana Sosiologi Agama (PPs-SA) UKSW. Pemikiran beliau di dunia teologi begitu mendalam. Beliau mengembangkan pemikiran mengenai identitas nasionalis dalam kehidupan beragama di Indonesia yang selama ini diwarnai oleh identitas primordialisme. Dalam kajian biblika, beliau mengembangkan pemikiran sosio-historis sebagai suatu fondasi hermeneutisnya. Oleh karena itu, lulusan fakultas teologi UKSW sangat kental dengan nuansa sosiologi agama dibanding nuansa biblisnya. Hal itu menjadi warna atau corak tersendiri bagi lulusan UKSW. Dan semuanya itu digagas oleh John Titaley dengan pemikirannya yang cemerlang. Dalam suatu kelas Teologi Kontekstual, beliau pernah mendapat pertanyaan yang agak memojokan beliau, yaitu mengapa pemikiran cemerlang beliau tentang agama tidak dapat diperkenalkan dalam kehidupan di Indonesia? Beliau agak berpikir sejenak dan menjawab, “Saya hanya menggagas saja dan kalian adalah duta-duta saya di dunia ini”. Kelemahan lainnya dari Pak John adalah beliau tidak memiliki tulisan dalam bentuk buku. Orang sepintar apapun tapi kalau tidak pernah menghasilkan buku, tentunya masih diragukan kepakarannya. Hal ini yang masih kurang dari seorang John Titaley. Pemikirannya yang begitu cemerlang dan briliant dalam dunia teologi, tidak mampu dituangkan dalam suatu karya tulis (buku).

Pengalaman bersama Pak John

Saat bertemu pertama kali dengan Pak John, saya seperti melihat seorang Bule yang mahir berbahasa Indonesia. Suaranya bass menggema sehingga orang-orang pasti agak takut berbicara dengan beliau. Tetapi ternyata beliau adalah orang yang bersahabat dan rendah hati. Sebagai seorang yang senang menyanyi, saya kagum melihat John Titaley ternyata pernah menjadi pelatih paduan suara UKSW (sekarang bernama Voices of SWCU). Ketika mendengar beliau bernyanyi di salah satu ibadah minggu GPIB Taman Sari, saya merinding mendengar suara merdu beliau. Kepada mahasiswa, beliau sangat bersahabat. Terbukti ketika skripsi saya dibimbing beliau, tanpa sungkan beliau mengundang saya untuk dibimbing langsung di rumahnya saja. Di dalam rumah, saya tidak diperkenankan membuka alas kaki, dengan alasan nanti saya kedinginan. Saya sangat takjub melihat keramahan beliau. Pak John tinggal di perumahan dosen UKSW, dekat dengan tempat tinggal saya di Asrama UKSW. Rumah beliau tidak besar, seperti rumah dosen lainnya yang kecil. Sempat saya merenung, mengapa rektor UKSW tinggal di rumah sekecil ini? Sedangkan banyak dosen UKSW yang rumahnya sudah seperti istana. Hal lain yang khas dari beliau adalah mobil merahnya yang selalu setia menemani. Saat menyetir mobil, biasanya beliau menyandarkan tangannya di jendela mobil yang terbuka dan sesekali melambaikan tangan kepada orang yang menyapanya. Khas karena mobil rektor tidak sebagus mobil dosen-dosen lainnya yang mewah. Satu hal lagi keunikan Pak John adalah beliau sangat sayang dengan anjing. Beliau bercerita tentang anjingnya yang bernama Boncel. Boncel ditemukan Pak John saat masih kecil dan tidak memiliki rumah. Melihat fisiknya yang memprihatinkan karena hanya memiliki satu mata, Pak John memutuskan untuk merawatnya.
Dalam kehidupan kampus, saya menganggap Pak John adalah sosok yang luar biasa. Beliau sepertinya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa teolog itu tidak bodoh. Beliau dapat berbicara persoalan pendidikan, ekonomi, sosial, budaya dan politik. Lebih dari itu, beliau juga mempraktikannya dalam kehidupan, terbukti dari jabatan rektor yang diembannya. Saya melihat Pak John adalah seorang dengan sosok petarung yang gigih dan pantang menyerah. Faktor kerasnya hidup pada masa kecil, membuat saya berpikiran itulah yang menciptakan pribadi Pak John yang pantang menyerah, kokoh dan tegas. Dengan semua yang telah didapatkannya dalam hidup, beliau tidak lantas menjadi sombong dan lupa daratan. Hal ini berbeda dari kebiasaan orang-orang yang dulunya susah namun ketika sukses melupakan orang lain yang membantunya. Pak John tidak seperti itu. Malah beliau berpesan kepada mahasiswanya, “Tidak ada gunanya apa yang kita dapat di dunia ini jikalau kita tidak memiliki hati untuk berbagi” Apa yang dikatakannya sesuai dengan yang dilakukannya. Beliau sangat perhatian dengan orang-orang kecil. Pernah suatu ketika, pegawai kecil UKSW, hampir dijebloskan ke penjara karena dituduh menggelapkan uang pekerjaan timnya. Beliau tanpa pamrih menolong orang kecil itu sampai masalah dituntaskan. Sungguh keteladanan yang luar biasa dari Pak John. Beliau sering mengajar dengan Batik Biak berwarna merah yang sering dikenakannya. Sambil tersenyum Pak John berkata ; “Ayo Bapak-Ibu Pendeta, jangan bangun kesiangan, mau bagaimana jemaatnya nanti kalau pendetanya belum datang?” menanggapi mahasiswa-mahasiswi yang datang terlambat saat jam kuliah pagi.

5 komentar:

  1. Bang Theo...klo saya simak riwayat pendidikan JT , beliau tidak pernah studi lanjut S2 ya bang? ada penjelasan lebih lanjut tentang hal in bang?/ Terima kasih sebelumnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. beliau langsung studi S3 di GTU-Berkeley, California, bang!

      Hapus
  2. Apakah bung punya makalah-makalah beliau? Jika punya apakah bisa dishare ke saya? Saya membutuhkannya untuk kepentingan akademik.

    Terima Kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan bung beli buku JT yang sudah terbit di tahun 2013, "Reliogsitas di Aline Tiga: Pluralisme, Nasionalisme, dan Transformasi Agama-Agama", Satya Wacana Press. Buku itu juga kumpulan makalah beliau yang terserak, termasuk yang ada di blog ini. Salam hangat selalu!

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus