Kamis, 10 Februari 2011

Si Bebek Jelek




"Bukan keinginanku untuk lahir dengan rupa berbeda dari saudara-saudaraku! Tetapi, mengapa mereka mengejekku? Mengapa aku disebut Si Bebek Jelek? Apakah berbeda itu salah? Haruskah kami semua sama dan serupa?" Demikianlah keluh seekor anak bebek yang baru menetas tiga hari lalu.



Tak lama kemudian Si Bebek Jelek melihat teman-teman dan saudara-saudaranya bermain. Cepat-cepat ia bergabung. Tetapi mereka langsung membentak, "Rupamu berbeda dari kami! Mukamu aneh! Badanmu besar! Jangan ikut bermain dengan kami! Pergi dari sini!"



Hanya induk bebek yang tidak ikut mencemoohkan. Katanya, "Biar rupanya jelek, namun watak dan perangainya bagus. Lagi pula ia pandai berenang dari yang lain. Memang ia berbeda, sebab ia menetas dari telur yang paling besar dan terlambat beberapa hari."



Tetapi kata-kata bijak dari induk bebek tidak digubris. Perlakuan menyakitkan hati terhadap Si Bebek Jelek berlangung terus. Ia dihina, diejek dan ditertawakan. Ia dimaki, ditendang dan dikucilkan. Ia hanya bisa meratap, "Apa salahku? Salahku hanya satu, yaitu aku berbeda"



Demikian gubah-ringkas sebuah adegan cerita "Si Bebek Jelek" dalam salah satu dari puluhan buku karangan Hans Christian Andersen (1805-1875).



Beberapa minggu kemudian Si Bebek Jelek betul-betul merasa terpukul karena terus menerus ditolak dan dimusuhi. Lalu selama berhari-hari ia menyendiri di bawah alang-alang di tepi danau.



Pada suatu pagi dari celah alang-alang Si Bebek Jelek melihat tiga ekor angsa berenang. Aduh, anggun sekali angsa-angsa itu. Bulu-bulunya putih bersih. Lehernya tinggi. Sayapnya terlipat rapi. Ekornya lancip menjulang. Sungguh mempesona!



"Aku akan berenang mendekati mereka. Tak jadi soal kalau nanti aku dimaki dan diusir." Si Bebek jelek pun turun ke danau. Matanya berkedip menanggapi ketiga angsa itu. Ia berenang sambil terus menerus memandangi ketiga angsa itu.

Ketika Si Bebek Jelek hendak membenamkan kepalanya ke dalam air untuk minum, tiba-tiba ia terkejut. Siapa itu? Ada angsa anggun tercermin di permukaan air. Diperhatikannya cerminan air itu. Siapa angsa itu? Digerak-gerakannya kepalanya. Ternyata itu cerminan dirinya sendiri! Ia bingung dan heran. Ia telah berubah menjadi angsa yang indah dan anggun.



Kemudian secara tiba-tiba Anderson menulis kalimat yang penuh muatan makna : "Het doet er niet toe of men in een eendenhof is geboren, als men maar uit een zwanenei gekomen is." Artinya, tidak soal bahwa orang lahir di kandang bebek, yang penting ia berasal dari telur angsa. Apa selanjutnya terjadi dengan Si Bebek Jelek itu? Andersen merangkumnya dengan sebuah kalimat yang memulihkan masa lalu yang buruk dengan masa kini yang baik : "Hij voelde zich blij over al de nood en de waderwaardigheden die hij had doorleefd; nu waardeerde hij juist het geluk en al de heerlijkheid die hij genoot." Artinya, ia gembira dengan segala susah dan derita yang telah dilewatinya; kini hal itu justru membuat dia menyukuri kebahagiaan dan kesenangan yang dirasakannya.



Adaptasi dari tulisan Pdt.Dr.Andar Ismail dalam buku "Selamat Berpulih", 2006 : 7

Tidak ada komentar:

Posting Komentar