Minggu, 13 September 2015

Khotbah 13 September 2015 di GKPI JKJK, "Mengikut Yesus, Menyangkal Diri, Memikul Salib"



Markus 8 : 27 - 38
Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus!
Banyak orang, khususnya, orang Indonesia, yang salah mengartikan ungkapan seorang pujangga Inggris, William Shakespere yang berkata, “What’s in the name?” (Apalah arti sebuah nama?) Karena mereka mengira Shakespere hendak mengabaikan makna dari suatu nama. Ungkapan indah dari Shakespere ini lahir di dalam karya agungnya yaitu romansa, “Romeo & Juliet”. Dikisahkan bahwa cinta mereka berdua tidak bisa bersatu karena mereka berasal dari dua suku yang saling bermusuhan, yaitu antara suku Montague dan suku Capulet. Dalam suatu adegan, Juliet berkata pada Romeo bahwa sesungguhnya yang menjadi musuh keluarga besar mereka adalah sebatas nama, karena Romeo merupakan tetap seorang manusia yang memiliki cinta dan berhak untuk mencintai. Romeo sekalipun ia berasal dari daerah bernama Montague, sehingga apa itu Montague? Ibarat mawar, ia tetap akan menjadi bunga yang harum dan berduri layaknya mawar sekalipun ia tidak bernama mawar. Jadi, apalah arti sebuah nama? (What’s in the name?). Di sini, Shakespere jelas ingin menegaskan jangan sebuah nama membawa manusia ke dalam suatu tragedi yang sangat kelam. Sama seperti baru-baru ini di mana muncul kehebohan di Indonesia disebabkan oleh nama. Brilio.net mencatatkan setidaknya ada belasan nama aneh yang pernah ditemukan dan tidak jarang menjadi bahan lelucon, yaitu: seorang yang bernama, “Nama” (Kec.Sentolo-Kulon Progo), I Made Supermen (Pengemudi Taxi di Bali), Royal Jeli (Pengemudi Taxi Silverbird), Anti Dandruf (TKI), Dontworry (TKI asal Batam), Dono Kasino Indro (Pemuda 27 Tahun asal Jakarta), Ultramen (Pelajar), Satria Baja Hitam (Pemuda 22 Tahun asal Lampung Selatan). Lebih unik lagi ada namanya Syaiton, Msi (Palembang) yang ingin bertemu dengan Tuhan (Banyuwangi). Mungkin, mereka sebaiknya dipertemukan di rumah Minal Aidin Wal Faizin (Neglasari) saat berhari raya nanti. Perkataan Shakespere menjadi ada benarnya karena nama Tuhan saat ini sedang dicekal oleh MUI. Bagaimana pun fenomena nama yang tengah berkembang di Indonesia saat ini, yang jelas ilustrasi di atas ingin membawa kita pada satu gambaran bahwa ada orang yang belum dapat menerima identitas orang lain di dalam satu nama. Sehingga, orang lain memaksa orang yang memiliki nama unik itu untuk berganti nama. Bahkan, tidak jarang orang yang memiliki nama unik itu menjadi sasaran “bullying”. Mengacu pada Shakespere, kita tentu diminta untuk menghargai seseorang dalam kapasitas yang ia miliki bukan karena sekadar nama yang melekat pada dirinya.
Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus!
Begitu pula salah satu bagian dari nas kita saat ini, “Pengakuan Petrus”, di mana bagian ini memperlihatkan reaksi Petrus akan nama yang digelarkan pada Yesus, yaitu Mesias. Di dalam ayat 27, Yesus bertanya pada murid-murid “Kata orang siapakah Aku ini?” Disusul dengan pertanyaan “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Sekilas, jika kita melihat, ada kesan bahwa Yesus sedikit narsis. Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh Yesus sesungguhnya tidak terlepas dari kisah yang telah dilewati-Nya yang diceritakan pada bagian sebelumnya. Ada beberapa peristiwa yang mendahului kisah ini, seperti Yesus menyembuhkan seorang anak dari Perempuan Siro-Fenesia, seorang tuli di Tirus, memberi makan empat ribu orang, berdebat dengan orang Farisi, memarahi murid-Nya soal tidak ada roti, serta menyembuhkan seorang buta di Betsaida. Kisah perjalanan Yesus diselingi dengan peristiwa-peristiwa yang ajaib dan perselisihan Yesus di antara pemuka agama bahkan dengan para murid-Nya, sehingga Yesus butuh informasi dari para murid, “bagi orang lain dan bagi para murid, siapa Yesus itu”
Jawaban para murid ketika dimintai pendapat mereka tentang Yesus di mata orang banyak, para murid menyebutkan Yohanes Pembaptis, Elia, dan seorang dari para nabi. Sedangkan jawaban yang diterima Yesus tentang siapa dirinya bagi para murid, hanya Petrus yang menjawab, “Mesias”. Mendengar jawaban itu, Yesus melarang para murid untuk tidak menceritakannya dengan siapa pun. Beberapa sarjana Alkitab dan teologi menyebut bagian ini sebagai “Rahasia Mesianik”, di mana salah satu tokoh penggagasnya adalah William Wrade, seorang Professor Perjanjian Baru di Breslau, Jerman. Secara pribadi, saya bukan seorang yang mengikuti pandangan Wrade dalam menilai topik Rahasia Mesianik ini. Secara pribadi, tafsiran saya melihat mengapa Yesus melarang para murid untuk tidak memberitahukan pada siapapun sangat terkait dengan dua hal besar, yaitu: pertama, persoalan politik di masa itu; dan kedua, pandangan futuris Yesus terhadap para murid, terkhusus pada Petrus.
Saya akan menguraikan dua hal itu satu per satu, pertama, persoalan politik di masa itu. Kata Mesias sebenarnya setara dengan kata Kristus yang sematkan oleh umat Kristen masa kini pada nama Yesus (band.Yoh.1:41). Baik Kristus maupun Mesias memiliki kekuatan politis di saat itu di mana Mesias dipercayai sebagai pembebas umat Israel dari penjajahan sebagaimana yang telah dinubuatkan para nabi. Dari berbagai pekerjaan yang telah dilakukan Yesus di tengah dunia, Yesus ingin mengetahui pemahaman para murid tentang penilaian orang banyak kepada Yesus. Sebagaimana yang disampaikan para murid, orang banyak memang menilai Yesus bukanlah Mesias, Yang Diutus oleh Allah untuk menyelamatkan umat Tuhan. Yesus di mata orang banyak hanya sebatas nabi, karena Dia dapat membuat banyak mukjizat seperti yang dilakukan oleh para nabi sebelum Yesus. Oleh karena itu, Yesus perlu mengetahui apa yang ada di pikiran para murid ketika melihat realitas ternyata orang banyak tidak mengakui Yesus adalah Mesias. Jawaban militan malah didapat dari seorang murid bernama Petrus, yang menjawab Mesias. Dari jawaban yang saling bertolak belakang itulah, menurut hemat saya, yang membuat Yesus untuk melarang para murid untuk menceritakan perihal diri-Nya. Mungkin bagi Yesus, seperti yang dimaksudkan Shakespere, bahwa Yesus tetaplah Mesias sekalipun orang menyebutnya sebagai nabi, setidaknya para murid mengakuinya.
Hal kedua, pandangan futuris (ke depan) Yesus terhadap para murid, terkhusus Petrus. Yesus tentu telah mengetahui bahwa jawaban Petrus yang sangat berani mengakui Yesus sebagai Mesias ternyata tidak seberani kenyataannya. Oleh sebab itu, Yesus melarang para murid, khususnya Petrus untuk memberitahu pada banyak orang jika akan menjadi batu sandungan nantinya bagi mereka sendiri. Sebagaimana diceritakan pada bagian berikutnya, Petrus menarik dan menegor Yesus yang sedang mengajar orang banyak bahwa Dia yang adalah Anak Manusia akan menanggung banyak penderitaan dan penolakkan, sehingga Dia harus dibunuh dan bangkit pada hari ketiga. Tarikan dan teguran Petrus terhadap Yesus secara tidak langsung telah menyangkal Kemesiasan Yesus. Padahal, Petrus baru saja mengakui Yesus adalah Mesias. Bahkan, bukan hanya itu saja, Petrus di kemudian hari pun menyangkal tidak mengenal Yesus sampai tiga kali. Padahal, Petrus dalam ayat ini seolah begitu sangat mengenal Yesus dengan baik. Walaupun, pada akhirnya Petrus berbalik dan menjadi martir demi pemberitaan tentang Yesus dan Injil.
Inilah mengapa pada bagian berikutnya, Yesus mengajarkan tentang syarat mengikut-Nya, sekaligus tanda pertama akan penderitaan-Nya. Syarat yang diajukan Yesus ada tiga hal, yaitu: menyangkal diri, dan memikul salib, dan mengikut Yesus. Apa makna di balik syarat yang diajukan oleh Yesus itu? Ini tidak lepas dari bagian berikutnya (ay.35-38), di mana ada kaitannya dengan “kehilangan nyawa”, “memiliki dunia”, serta “kemuliaan Bapa”. Relasi tiga syarat dan tiga kondisi dapat digambarkan sebagai berikut:
a.     Menyangkal diri – Kehilangan nyawa:
Menurut pakar psikoanalitik, Sigmund Freud, kepribadian manusia itu terdiri dari tiga elemen, yaitu: id, ego, dan superego. Freud kemudian menjabarkan bahwa Id (hasrat) manusia itu tidak terbatas hakikatnya karena yang terlihat hanya permukaannya saja, ibarat gunung es di laut. Sehingga, manusia secara utuh adalah hasrat dirinya. Inilah yang kemudian diminta oleh Yesus pada orang percaya, bahwa mereka tidak boleh hidup di dalam hasratnya yang tidak terbatas. Namun, mereka harus menyangkal hasrat itu. Hasrat memang dapat menyenangkan hidup kita tetapi tidak bisa menyelamatkan nyawa kita. Mungkin, orang berhasrat memiliki banyak harta benda yang dapat digunakannya untuk melindungi nyawanya, seperti rumah yang aman, pengawal yang terpercaya, jaminan biaya berobat yang lebih dari cukup, dsb. Namun, tetap saja ia tidak dapat menghindari apa yang disebut kematian. Oleh karena itu, ada baiknya selama napas masih melekat di dalam tubuh, Yesus mengingatkan agar mereka menggunakan seluruh hidupnya untuk memercayai kabar baik yang disampaikan oleh Yesus. Sehingga, sekalipun kematian menghampiri mereka, kematian mereka tidak akan sia-sia karena ia diselamatkan.
b.    Memikul Salib – Memiliki Dunia:
Karena hasrat yang tidak terbatas itu, manusia menjadi menderita ketika ia harus menyangkal diri. Penderitaan ini dapat disebut juga dengan memikul salib. Yesus menjelaskan pada orang banyak, lebih baik bertekun di dalam penderitaan tetapi diselamatkan dari pada memiliki dunia tetapi tidak diselamatkan. Memang bila kita perhatikan realitas kehidupan umat Kristen di masa kini, tidak ada jaminan bahwa keluarga yang dekat pada Tuhan akan dapat memikul salib yang berat. Coba kita lihat ada berapa banyak keluarga Kristen yang mengalami permasalahan dengan perselingkuhan, korupsi di tempat kerja, bahkan anggota keluarganya yang pindah agama karena mengincar kesenangan yang ditawarkan oleh dunia?
c.      Mengikut Yesus – Kemuliaan Bapa:
Pada akhirnya, Yesus memberikan jaminan siapa pun yang dapat menyangkal dirinya dan memikul salib, makan mereka layak untuk mengikut Yesus. Karena, mereka tidak akan kehilangan nyawanya sia-sia. Tetapi, mereka akan mendapatkan kemuliaan dari Bapa.

Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus!
Dari sekian jauh pembahasan kita pada saat ini, apa yang kemudian dapat kita refleksikan serta aplikasikan di dalam kehidupan beriman kita? Saya mencatat setidaknya ada dua hal yang dapat kita refleksikan serta aplikasikan, yaitu:
1.     Mengakui Yesus sebagai Kristus/Mesias/Penyelamat tentu tidak sekadar pengakuan di mulut saja. Suatu pengakuan harus diiringi oleh aksi/tindakan yang nyata. Seperti sepasang kekasih, di mana seorang kekasih berkata pada pujaan hatinya, “Aku sangat mencintaimu, aku akan rela melakukan apapun untukmu”. Tentu, hal ini sangat manis untuk didengar. Namun, perkataan itu akan teruji ketika hujan deras turun di jadwal kunjungan kekasih. Apakah kekasih yang menyatakan rela akan melakukan apa saja ternyata tidak dapat datang karena “Hujan di malam Minggu?” Demikian juga ketika diperhadapkan dengan soal mengakui Yesus sebagai Mesias. Kita tentu harus membuktikannya bahwa ia adalah Mesias kita. Terkait dengan kondisi kota Jambi yang saat ini sangat mencekam, di mana Jambi dihujani dengan kabut asap disertai debu-debu hutan yang terbakar bukan dengan hujan air. Banyak kemudian umat percaya di Jambi menjadi risau dan khawatir sampai frustasi dengan keadaan demikian. Seolah mereka berpikir Tuhan telah menutup mata atas Jambi. Bukankah sebaiknya sembari menunggu Tuhan menolong, kita coba merenungkan mengapa keadaan Jambi begitu mengenaskan? Bukankah manusia sendiri yang mengeksploitasi dan merusak alam? Sehingga, dampaknya pun dirasakan oleh manusia sendiri? Menahan diri untuk tidak merusak hutan demi keuntungan duniawi adalah bagian dari menyangkal diri dan memikul salib, serta mengikut Yesus.
2.     Menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Yesus adalah satu rangkaian yang tidak terpisahkan antara satu dengan yang lainya. Tentu hal ini dapat dimaknai umat percaya untuk tetap setia di tengah ancaman hidup, serta menahan diri untuk tidak menjadi serakah, di mana orientasi kehidupan umat percaya adalah kemuliaan Allah yang telah dijanjikan oleh Yesus. Kita memercayai di dalam iman, bahwa anugerah Tuhan dapat memberikan kita kekuatan untuk menyangkal diri, memikul salib, sehingga kita layak diberikan kemuliaan Allah atas loyalitas mengikut Yesus.
Biarlah firman Tuhan saat ini dapat semakin menguatkan iman percaya kita di dalam kehidupan ini. Amin!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar