Tampilkan postingan dengan label GKPI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GKPI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Februari 2023

Kekuatan Allah yang Menyelamatkan

(1 Korintus 1:10-18)

Khotbah di GKPI JK.Marantha-Cengkareng, Minggu-III Set.Epiphanias, 22 Januari 2023




 

Bapak, Ibu, Jemaat yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus!

Suatu kali ketika hendak menghadiri acara keluarga di Depok, saya dan istri berdiskusi alot tentang jalan mana yang harus dilewati. Apakah dari toll Pancoran keluar berbelok menuju Pasar Minggu? Atau, terus melalui toll Cijago (Cinere-Jagorawi)? Saya memilih untuk melalui Pasar Minggu. Dan, istri tetap menyarankan melalui toll Cijago. Alasan saya pada saat itu adalah terkadang toll Cijago bisa mendadak macet dan sulit bergerak. Namun, hati kecil saya terbesit alasan bahwa dulunya jalan itu menjadi tempat saya berkendara sehari-hari ketika bekerja sambil kuliah menuju Depok. Sedangkan, alasan istri saya adalah jarak tempuh dan waktu yang lebih singkat ketika melihat estimasi di Google Map. Saya mengambil keputusan untuk melewati Pasar Minggu, menyusuri Kalibata-Volvo-Tj.Barat-Lenteng Agung-Margonda. Sepanjang jalan, sudah dapat dipastikan kalau akan terjadi perdebatan. “Coba kalau lewat toll sudah sampai kita!”. “Ternyata, lebih macet keluar toll”, dll. Saya tetap rileks karena bagi saya lewat jalan mana pun, hasil akhirnya tetap menuju ke Depok.

Dari perdebatan jalan menuju Depok, saya mulai merenungkan bahwa manusia sering memperdebatkan sesuatu yang tujuannya sama. Dalam hal ketertarikan politik, kita bisa saling gontok-gontokkan, sekalipun calon yang diusung sama-sama punya visi memajukan kesejahteraan bangsa. Dalam hal adat/budaya, kita sering saling menyerang kebiasaan yang dilakukan, padahal kita sama-sama ingin nilai adat berjalan dengan baik. Termasuk, dalam hal iman kepada Tuhan, secara khusus umat Kristen, kita sering berkonflik ajaran gereja masing-masing, bahkan bertaruh nyawa, padahal kita sama-sama berdoa dan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus.

 

Bapak, Ibu, Jemaat yang terkasih!

Firman Tuhan saat ini menyoroti tentang nasehat Paulus pada jemaat di Korintus untuk tidak terpecah-pecah. Secara sosiologis, konteks jemaat Kristen di Korintus sudah sangat berbeban berat oleh tekanan eksternal, yaitu kolonialisme Roma. Paulus tidak ingin umat Kristen semakin menderita karena perpecahan yang terjadi di lingkaran internal mereka sendiri. Paulus setuju ketika di tengah masa sulit kehidupan, yang diperlukan sesungguhnya adalah seia-sekata, sehati-sepikir, dan erat bersatu (ay.10).

Paulus mengangkat satu isu bukan karena gossip atau kabar yang tidak jelas. Ia menyebut sumbernya darimana informasi itu didapatkannya, yaitu orang-orang dari keluarga Kloe (ay.11). Siapakah orang-orang dari keluarga Kloe itu? Sepertinya, mereka merupakan orang yang baru bertobat. Dari etimologi nama Kloe merujuk pada seorang ilah mitologi Yunani, yaitu dewi pertanian, anak dari Kronos dan Rhea. Sering disebut juga dengan Demeter. Jika itu benar, maka Kloe merupakan perempuan generasi pertama yang menjadi pengikut Kristus dan menjadi tangan kanan Paulus dalam pemberitaan Injil di kota Korintus. Wajar bila keturunannya pun menjadi informan terpercaya oleh Paulus. Mereka membisikkan pada Paulus kalau perpecahan itu ditenggarai oleh adanya klaim berkubu-kubu, yaitu golongan Paulus, golongan Apolos, golongan Kefas, dan golongan Kristus (ay.12).

Terbagi-baginya kubu dalam pemberitaan Kristus sepertinya sangat besar dipengaruhi oleh pembawaan masing-masing style pemberita Injil itu. Seperti Apolos misalnya, ia seorang Yahudi yang percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Ia berhasil menghimpun banyak orang percaya kepada Kristus adalah Mesias oleh karena kefasihan dalam berbicara, secara khusus penjabaran kitab suci yang membuktikan Kemesiasan Yesus (bnd.Kis.18:24). Wajar bila ada sumber yang menyebutkan pengikut Apolos lebih banyak daripada Paulus, karena Paulus sendiri seorang yang kurang mampu menjelaskan sebaik Apolos. Itu diakui oleh Paulus, “Tetapi aku tidak mau kelihatan seolah-olah aku menakut-nakuti kamu dengan surat-suratku. Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti” (2Kor.10:9-10). Akan tetapi, kelebihan Paulus ada pada ajarannya. “Jikalau aku kurang paham dalam hal berkata-kata,  tidaklah demikian dalam hal pengetahuan; sebab kami telah menyatakannya kepada kamu pada segala waktu dan di dalam segala hal” (2Kor.11:6). Ajaran Paulus sangat lengkap tentang Yesus Kristus, yaitu sampai pada kematian dan kebangkitan-Nya. Sedangkan, Apolos hanya menguasai ajaran dari Yohanes Pembaptis, yaitu persiapan jalan akan kedatangan Yesus Kristus (bnd.Kis.18:25).

 

Kemudian, perbedaan Kefas/Petrus dengan Paulus ada pada soal pendekatan. Paulus memiliki temperamen yang tinggi dan tidak bisa berkompromi dengan sesuatu yang bertentangan pada ideologisnya. Paulus tidak segan untuk berkonfrontasi dengan para Rasul, seperti Petrus. Sebab, ia menilai dirinya tidak kurang dari para murid Yesus. “Tetapi menurut pendapatku sedikitpun aku tidak kurang dari pada rasul-rasul yang tak ada taranya itu” (2Kor.11:5). Puncaknya, Paulus tanpa basa-basi menegur Petrus dengan keras.

Galatia 2:11-14

2:11 Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. 2:12 Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. 2:13 Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. 2:14 Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: "Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi? "

 

Dari teguran keras Paulus itu, kita dapat melihat kalau Petrus sesungguhnya model pelayan yang tidak suka berkonfrontasi dan suka “bermain aman” dari kaum sebangsanya. Petrus seorang pewarta Injil yang masih menjaga nilai adat/budaya. Sedangkan, Paulus melihat mereka yang masih bermain “dua kaki” itu tidak sesuai dengan Kebenaran Injil. Harus ada ketegasan agar tidak terjebak pada kemunafikan diri.

 

Untuk "Golongan Kristus" ini barangkali terdiri atas guru-guru palsu yang memusuhi rasul Paulus (1Kor 4:18-19) dan mengaku bahwa mereka memiliki kerohanian dan "hikmat" yang lebih unggul. Mereka percaya bahwa pengetahuan mereka (1Kor 8:1) membebaskan mereka dari pengekangan hukum (1Kor 6:12; 10:23) dan dari tuntutan moral (1Kor 5:2). Mereka sedang berupaya untuk merebut jemaat kepada Injil mereka yang menyimpang itu (2Kor 11:4,20-21). Pada dasarnya Paulus menentang mereka dan pengikut mereka di Korintus.

 

Dari keempat gambaran kubu yang ada di jemaat Korintus itu, kita dapat membuatkan peta sederhana, yaitu:

a.   Paulus adalah pelayan Kristus yang mementingkan berita Injil yaitu Kristus yang bangkit mengalahkan kematian di kayu salib demi orang berdosa (Berita Salib)

b. Apolos adalah pelayan Kristus yang mementingkan berita kehadiran Mesias yang telah digenapiberdasarkan kitab suci (Berita Penggenapan Mesias)

c.       Petrus/Kefas adalah pelayan Kristus yang masih menjaga nilai adat-istiadat dalam pemberitaan Injil

d.       Golongan Kristus adalah pelayan Kristus yang mementing hikmat moral dalam keselamatan Injil

 

Sebagai orang yang terlibat dalam pengkubuan tersebut, teks firman Tuhan pada kita saat ini memberikan sikap Paulus atas kondisi tersebut:

a.       Kristus yang dilayani tetap sama, tidak pernah terbagi (ay.13)

b.       Paulus mengakui bahwa ia pernah melakukan baptisan, tapi tujuan pekerjaan pelayanannya bukan untuk membaptis, tapi memberitakan Injil (ay.14-16)

c.       Injil yang dimaksud Paulus adalah Pemberitaan Salib di mana Yesus telah menyerahkan diri-Nya menjadi kurban tebusan agar manusia berdosa yang percaya diselamatkan (ay.17-18).

 

Pemberitaan Injil yang berpusat pada salib memang menjadi sesuatu yang baru dan cenderung aneh rada bodoh pada saat itu. Bagaimana mungkin, Paulus menggunakan “kayu salib” sebagai model berteologinya. Sebab, salib itu berkonotasi negatif, tempat penghukuman bagi terpidana mati yang kejahatannya sangat luar biasa. Sedangkan, Mesias yang diberitakan itu harusnya sesuai kitab suci yang gagah perkasa, memimpin pasukan perang, mengangkat pedang mengalahkan musuh, dan kekuatan militer lainnya. Namun, Yesus yang didaulat sebagai Mesias malah diberitakan berdasarkan salib yang lusuh dan hina. Banyak tentu pihak yang ingin Paulus meralat ajarannya. Bahkan, oleh bangsal Romawi, ajaran salib ini dijadikan bully yang tak habisnya. Ada satu grafiti kuno di diding ruangan dekat Palatine Hill di Roma yang terkenal dengan sebutan ALEXAMENOS GRAFITTO/ GRAFITTO BLASFEMO. Diduga dilakukan seorang Roma-Yunani untuk mengejek Alexamenos yang percaya kepada Kristus. Dalam grafiti itu, Alexamenos sedang menyembah seorang berkepala keledai yang tergantung di kayu salib. Karenanya, seorang ahli retorika Roma bernama Marcus Fronto, menjelaskan bahwa ketika orang Kristen menyembah Dia yang tersalib di tempat penghukuman yang hina itu, mereka sesungguhnya orang-orang bodoh yang mudah ditipu.


Hal menarik memang ketika olok-olokkan terhadap berita salib itu tidak mengubah dasar beriman Paulus, bahwa salib yang hina menjadi salib yang mulia oleh karena Kristus ada di sana. Tidak ada yang dapat menyelamatkan orang yang tergantung di sana oleh kuasa hukuman pemerintah Roma. Namun, Yesus Kristus akhirnya menaklukkan kuasa penghukuman salib pemerintah Roma dengan kekuatan Allah yang menyelamatkan. Kebangkitan-Nya menjadi puncak dari pemberitaan Injil melalui  jalan salib yang mulia.

 

Bapak, Ibu, dan Jemaat yang terkasih di dalam Tuhan kita Yesus Kristus!

Setidaknya dari pembahasan yang telah kita lakukan sejauh ini, ada dua hal yang dapat kita refleksikan untuk diaplikasikan di tengah kehidupan beriman sehari-hari, yaitu:

a.  Untuk mengenal kekuatan Allah yang menyelamatkan, kita harus mengenal Yesus yang datang itu dengan lengkap.

   Dari Paulus, kita menerima pemahaman bahwa pencurahan darah Kristus di kayu salib menjadi puncak kasih Allah yang telah menyerahkan Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah. Kemesiasan Yesus itu terurai dengan sempurna ketika kehadiran Yesus di tengah dunia tidak dengan menggunakan label militer dengan peperangan secara dunia. Tetapi, penyelamatan Mesias dilakukan dengan cara yang mencirikan kasih Allah, ditandai dengan penolakkan terhadap sikap represif/kekerasan di tengah dunia. Kekuatan Allah bekerja melampaui kekuatan manusia, sehingga Allah tidak menggunakan cara dunia untuk menyelamatkan umat-Nya

 

b.  Kuasa Allah yang menyelamatkan dinyatakan pada berita tentang salib yang dianggap bodoh oleh dunia

Tidak ada yang dapat mengalahkan kematian selain Tuhan Yesus Kristus. Salib tempat penghukuman mati, diubah menjadi berita kebangkitan. Kekuatan Tuhan mengubahkan salib hina menjadi mulia. Demikian juga kekuatan Allah dapat bekerja dalam diri umat-Nya yang percaya. Kekuatan-Nya akan mengubahkan dukacita kita menjadi sukacita, ketakutan kita menjadi pengharapan yang menenangkan.

Selasa, 24 Mei 2022

Bernyanyilah bagi Tuhan (Why.4:8-11, Khotbah Epistel Minggu Kantate)


 

 

4:8 Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang." 4:9 Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya, 4:10 maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata: 4:11 "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan."

 

Pendahuluan

Wahyu Yohanes sejatinya dialamatkan pada ketujuh jemaat Kristen di Asia (Why.1:4). Saat itu, umat Tuhan berada di bawah kolonialisme Romawi, termasuk Yohanes berada di pulau Patmos oleh karena pengasingan akibat dicurigai sebagai pemberontak. Kekristenan kala itu dianggap sebagai potensi bahaya, sebab Kristus yang menjadi pusat beriman umat percaya dipuja sebagai Mesias yang diutus oleh Allah. Kita tahu kalau Mesias itu merupakan jabatan politis di bangsa Israel yang memiliki tugas untuk membebaskan umat-Nya dari belenggu penjajahan, seperti dari perbudakan Mesir dan pembuangan Babel. Penindasan Kaisar Romawi yang begitu beringas membuat umat Tuhan menjadi sangat menderita. Untuk itu, Yohanes harus tetap memberikan motivasi dan semangat untuk mereka yang dirundung ketakutan dan ketidakpastian. Apabila menulis secara terbuka, surat Yohanes dari pulau Patmos pasti akan dihanguskan oleh pemerintah kolonial Romawi. Untuk itu, Yohanes mencoba menuliskan sebuah surat dari pembuangannya di Patmos dengan gaya kesusastraan di masa itu. Sehingga, kolonial Romawi melihat surat Yohanes ini sebagai karya seni sastra yang indah.

Kesulitan kita sebagai umat percaya di masa kini dalam membaca surat Yohanes dari Patmos tentu dilatarbelakangi konteks yang berkembang sesuai zamannya. Misalnya saja, anak di masa kini tidak tahu bagaimana berjuangnya untuk berkomunikasi di era masa lampau, ketika handphone dan internet tidak sepesat saat ini. Mengirim uang dengan menggunakan wesel pos. Memberikan kabar untuk kerabat di luar kota melalui sepucuk surat yang sampainya berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Mereka pasti bingung ketika kita menceritakan perihal “antrean di Wartel” atau “perangko pos untuk luar kota”. Demikian juga dengan konteks metafora yang digunakan dalam surat Wahyu ini, kita sangat terbatas pemahaman tentang istilah yang berkembang kala itu. Ada jarak waktu yang sangat jauh yang menjadi jurang antara pembaca di saat itu dengan kita di masa kini. Akan tetapi, tafsiran kitab Wahyu pada saat ini sudah sangat berkembang. Setidaknya ada enam pendekatan yang diketahui dan diakui dalam kajian teologis terhadap teks Wahyu ini, yaitu : Praeter, Historis, Futuris, Triumfalis, Idealis, dan Perspektif. Tafsiran teks saat ini merupakan kolaborasi dari pendekatan Prater (peristiwa masa lalu), Futuris (peristiwa masa depan), dan Triumfalis (peristiwa masa lalu yang akan terjadi di masa depan)

 

Pembahasan

4:8 Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang." 4:9 Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya

Persoalan dalam bagian ini adalah siapa keempat makhluk yang masing-masing bersayap enam itu? Sebelumnya, Yohanes menggambarkan bagaimana rupa keempat makhluk itu, “Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, dan makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan makhluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang.” (ay.7). Apabila kita membaca kitab Yehezkiel (1:5, 6, 7, 8, 10; 10:1-21), penglihatan itu sama dengan yang ada di teks Wahyu. Sekalipun demikian, para ahli PB berbeda pandangan tentang siapa mereka. Ada yang mengatakan keempat makhluk itu merupakan empat penjuru alam dan perbintangan utama di dalam zodiak, dan keenam sayapnya masing-masing menjelaskan akan kecepatan, kekuatan, dan kercerdasannya. Ahli PB lain menjelaskan keempat makhluk itu melambangkan tatanan malaikat di surga di mana ada yang punya kekuatan seperti singa, ada juga yang punya pelayanan sebagaimana anak lembu melayani tuannya, ada juga yang memiliki kecerdasan dan kemampuan seperti manusia, serta ada juga yang punya ketajaman penglihatan seperti burng nazar.

Setidaknya dari penjelasan ahli PB tadi, kita dapat mengambil suatu gambaran umum kalau keempat makhluk itu merupakan representasi makhluk dari atas/surga di dalam memuji-muji Tuhan di dalam kekudusan-Nya. Mereka ini ciptaan juga sebagaimana manusia yang diciptakan-Nya. Nyanyian mereka ini dikenal dalam bahasa Yunani dengan nama trihagion atau di dalam bahasa Latin disebut dengan sanctus. Suatu pujian yang sangat kuat sekali menegaskan kekudusan Allah yang berbeda dari manusia ciptaan, sampai diulangi sebanyak tiga kali, yang dapat juga kita pahami sebagai persekutuan Allah, Yesus, dan Roh Kudus.

Pokok Teologis : Makhluk di Surga Memuji-muji Kekudusan Allah yang Kekal

 

4:10 maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata: 4:11 "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan."

Di sini persoalan yang harus dipecahkan adalah siapa kedua puluh empat tua-tua yang ada pada teks kita. Di ayat sebelumnya, ada disinggung tentang kedua puluh empat tua-tua itu. “Dan sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka. Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh” (ay.4-5a). Para penafsir teks PB juga beragam menafsirkan ke dua puluh empat tua-tua ini. Ada yang mengatakan bahwa ini merupakan metafora untuk pembagian imam dalam tradisi Perjanjian Lama (PL) yang dibagikan ke dalam 24 rombongan/kelompok. Kita mengetahui di dalam Alkitab kalau ayah dari Yohanes Pembaptis merupakan seorang imam yang mewakili bangsa Israel untuk mempersembahkan kurban persembahan di Bait Allah (Luk.1:8). Mereka dirotasi dalam melakukan tugasnya. Jadi, kita patut mempertimbangkan ke-24 tua-tua ini merupakan representasi dari para imam yang memberikan persembahan kepada Allah. Ada ahli lain yang menafsirkan mereka ini merupakan represntasi malaikan surgawi untuk memberikan persembahan kepada Tuhan. Tetapi, tafsiran ini sangat lemah sekali. Ada tafsiran lain yang layak dipertimbangkan yaitu kedua puluh empat tua-tua ini merupakan orang kudus  yang telah memenangkan pertandingan iman di PL dan PB. Ini bisa jadi hal yang sangat dekat bila kita merujuk pada mahkota emas yang ada di kepala. Mahkota emas bukanlah tanda pemegang kerajaan, tetapi tanda yang sering diberikan pada mereka yang memenangkan suatu pertandingan olahraga.

Dari pendekatan tafsiran yang ada ini, kita dapat mengambil gambaran umum untuk teks di ayat 10-11 ini bahwa segala ciptaan yang ada di bumi pun turut memuji-muji Tuhan dan memberikan persembahan kepada-Nya.

Pokok Teologis : Mahkluk di Bumi Memuji-muji Kebesaran Allah Pencipta

 

Refleksi-Aplikasi

1.       Makhluk di surga memuji-muji kekudusan Allah yang kekal

Turut sertanya makhluk surga memuji kekudusan Allah menggambarkan bagaimana kekuasaan Allah sangat nyata di surga. Dia adalah Allah yang kekal yang tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Apabila kita pernah membaca laporan berita astrofisika tentang alam semesta, kita akan dibuat takjub betapa waktu itu sangat relatif di luar angkasa. Untuk itu, ruang pun menjadi sangat subjektif. Teori Big Bang menjelaskan kalau alam semesta kita ini dikatakan mengembang dari sejak ledakan dahysat terjadi. Dalam keyakinan iman Kristen, kita tahu bahwa sebelum Big Bang itu terjadi Allah telah ada. Karenanya, Allah itu dari kekekalan sampai pada kekekalan. Hukum energi dalam bahasa fisika sederhananya dipahami sebagai sesuatu yang tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Energi hanya mengkonversi bentuknya saja. Demikian juga Allah yang kita imani, Dia tidak diciptakan dan Dia tidak akan berakhir. Dia dapat datang di dalam diri Yesus Kristus dan Roh Kudus sepanjangan pengenalan kita melalui Alkitab. Kekaguman ini juga dirasakan oleh makhluk surga yang mengakui bagaimana kekekalan Allah.  Oleh karenanya, kita sebagai umat percaya yang hidup di bumi harus semakin mengasihi Allah di dalam kekekalan-Nya. Sebab, Allah dengan segala kekuasaan-Nya yang kudus dapat mengatasi langit dan bumi.

 

2.       Makhluk di bumi memuji-muji kebesaran Allah Pencipta

Dalam konteks Yohanes menuliskan surat ini, Kaisar Romawi diperlakukan bak dewa. Tetapi, surat Yohanes ini mengajak kalau pusat penyembahan kita selaku umat percaya hanya diarahkan kepada Allah yang kita kenal di dalam Yesus Kristus saja. Mengapa? Yohanes menegaskan karena Dia adalah Allah Pencipta. Umat percaya karenanya diajak untuk tidak takluk pada kuasa di dunia yang mungkin dapat mencelakakan tubuh dan menghilangkan nyawa. Kita hanya takluk kepada Tuhan Allah saja sebagai Pencipta kita. Di dalam rasa takut dan hormat, tanda kita takluk kepada Allah, kita sesungguhnya sedang memuji-muji kebesaran Allah, Sang Pencipta itu. Kita tidak akan terpisah dari kasih Allah Pencipta. Sebab, kita telah diikat oleh Perjanjian Agung oleh Kristus. Perjanjian ini ditandai dengan pengurbanan Kristus. Oleh darah-Nya, kita diselamatkan-Nya. Untuk itu, kita harus memiliki keberanian di dalam menjalani kehidupan sebagai umat tebusan. Karena, Allah Pencipta akan senantiasa memelihara kehidupan umat -Nya. Inilah yang kita puji di dalam iman kita.

Hidup dalam Roh (Roma 8 : 8-11, Pentakosta, 5 Juni 2022)



Pendahuluan

Surat Roma merupakan surat Paulus terpanjang yang ditulisnya dan sangat berpengaruh bagi para pembacanya. Letak surat ini berada di depan surat lainnya. Paulus sepertinya menulis surat ini bukan dalam rangka melayani jemaat dengan latar belakang Yahudi, mengingat sebagian besar jemaat Tuhan di kota Roma bukanlah orang Yahudi. Di dalam suratnya ini, Paulus ingin meyakinkan pembacanya di Roma kalau rencana pekabaran Injil di kota Roma sudah sejak lama direncanakannya. Namun, ia selalu mendapatkan hambatan (bnd.Rm.1:10-13, Rm.15:22). Paulus tetap merencanakan kunjungannya segera (bnd.Rm.15:22-23) sebagaimana kerinduannya yang ditegaskan dalam surat Roma.

Ketika menulis surat Roma, Paulus berada di Korintus, tepatnya di rumah Gayus (bnd.Rm.16:23, 1.Kor.1:14). Paulus juga menatap pelayanan ke Spanyol (bnd.Rm.15:24+28), sehingga Roma bukan menjadi tujuan akhirnya. Paulus berkomitmen untuk menyebarkan Injil Kristus di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi. Karena itu, ketika melihat surat Roma yang ditulis Paulus, kita harus melihat subjek lain yang penting di dalam surat ini, seperti unsur masyarakat yang membentuk komunitas Roma dan memberikan makna atasnya. Pemikiran Karl Barth tentang etika Kristen dapat diperhatikan, ketika ia menempatkan perintah Allah di dalam unsur kedua, sedangkan anugerah Allah berada di unsur pertama. Ini berdasarkan apa yang dikatakan oleh Paulus tentang titik tolak umat Kristen yang tidak mengacu pada realitas diri sendiri maupun realitas dunia, tetapi realitas Allah yang menyatakan diri-Nya melalui Yesus Kristus. Karenanya, Paulus memang menyadari betul kalau prakarsa Ilahi itu sebagai anugerah.

 

Pembahasan

Ayat 8 : Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah

Apa yang diikthiarkan daging adalah maut (bnd.Rm.8:6). Maut itu ajalnya karena keinginan daging itu memusuhi Allah. Kalimat “dalam daging” di sini dapat diartikan juga merujuk pada  Galatia 2:20 dan 1 Korintus 10:3. Dalam kedua nas itu, hal daging merupakan tabiat manusia  yang memang lemah dan fana karena masih terlepas dari berkuasa tidaknya dosa. Bahwa kita tidak berkenan kepada Allah bukan karena nasib, tetapi lantaran kita bersifat bendawi. Dan, kata “tidak mungkin berkenan kepada Allah” dapat ditafsirkan dengan memerhatikan Roma 15:1-3, di mana mencari kesenangan sendiri merupakan lawan dari menyangkal diri. Begitu juga dalam 1 Tesalonika 2:4 dan Galatia 1:10, di mana mencari kesukaan manusia merupakan lawan dari menjadi hamba Kristus. Maka, kalimat “berkenan kepada Allah” dapat didefinisikan sebagai bertindak sesuai dengan kehendak Allah, melayani Tuhan.

Pokok Teologis : Ketika melayani Tuhan, kita tidak boleh bersifat bendawi

 

Ayat 9 : Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu.  Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.

Untuk kalimat “tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh” menunjukkan kita harus keluar dari lingkungan yang merusak, dalam hal ini lingkunan yang penuh dengan racun rohani. Sebaliknya, kita pindah tempat tinggal ke lingkungan Roh yang menyehatkan rohani kita. Untuk kalimat, “jika memang Roh diam di dalam kamu” dapat diperhatikan terlebih dahulu pada kata diam di dalam. Di sana, penggunaan kata diam di dalam termasuk ke dalam rumpun oikos (rumah). Karenanya, kehadiran Roh di dalam diri kita tidak berlangsung sebentar, tetapi terus-menerus sebagaimana kita mendiami rumah. Tindakan Roh di dalam kita seperti halnya kita mengatur apa yang pantas dan cocok di dalam rumah kita. Demikian, Roh akan mengatur hidup kita. Kehadiran dosa sebagaimana jadinya tabiat manusia akan menjadi penyerobot rumah kita. Untuk itu, kehadiran Roh Kristus menjadi patokan kehidupan apakah ia seorang Kristen, sebagaimana dituliskan Paulus ,”tetapi jika orang tidak memiliki Kristus, ia bukan milik Kristus”. Roh Kristus yang ada di dalam diri seorang Kristen itu tidak membawa sesuatu yang baru di luar karya Kristus. Akan tetapi, Roh Kristus akan menjabarkan di hati umat percaya.

Pokok Teologis : Roh Kristus harus berkuasa dan berkarya dalam kehidupan umat-Nya

 

Ayat 10 : Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran

Kalimat tubuh memang mati karena dosa bukan merujuk pada tubuh jasmani yang akan mati kelak. Namun, tubuh memang mati karena dosa yang dimaksud di sini berarti keadaan kita yang lama, manusia lama yang disalibkan bersama dengan Kritus. Kita mengingat Yesus disalibkan karena dosa kita. Untuk kalimat tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran dapat kita lihat di dalam diri Kristus yang bangkit dari kematian karena dosa tadi. Di sini, Roh Kristus senantiasa memberikan kehidupan yang tidak dapat ditaklukkan oleh apapun, termasuk sengat dosa sekalipun. Roh Kristus yang hidup itu senantiasa mengerjakan karya Tuhan yang benar di dalam umat percaya sebagai tanda ia telah hidup baru di dalam Kristus. Sebab, rumah kita telah dikuasai-Nya sehingga kita pun dapat melakukan yang benar di dalam hidup baru itu.

Pokok Teologis : Roh Kristus memberikan kita hidup baru untuk melakukan kebenaran

 

Ayat 11 : Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.

Di sini telah terjadi pergeseran makna tentang tubuh yang mati. Dalam ayat ini kalimat tubuhmu yang fana itu merupakan kehidupan kita yang sudah dipenuhi oleh Roh Kristus. Secara sederhana, kita dapat memaknai bahwa seorang hidup yang baru sekalipun pada suatu saat nanti akan merasakan kematian badaniah. Kehidupan baru di dalam Roh Kristus tidak serta merta membuat kematian tidak menyentuh kita. Namun, ada jaminan tentang Roh Kristus yang diam di dalam rumah kita menjadi kunci bagaimana kita akan dibangkitkan. Sebab, Allah telah membangkitkan Kristus dari kerajaan maut, dan Roh Kristus yang bangkit itu tinggal di dalam kita. Secara korelasional, Allah pun akan membangkitkan kita karena Roh Kristus itu. Itu mengapa sangat penting menjaga Roh Kristus tetap tinggal diam di dalam rumah kita.

Pokok Teologis : Allah membangkitkan tubuh fana kita oleh karena Roh Kristus di dalamnya

 

 

Refleksi-Aplikasi

1.    Ketika melayani Tuhan, kita tidak boleh bersifat bendawi. Roh Kristus harus berkuasa dan berkarya dalam kehidupan umat-Nya.

Di minggu Pentakosta ini, kita dapat merefleksikan pertama-tama bagaimana kehidupan Kekristenan kita di dalam melayani Tuhan? Apakah kita sebagai umat-Nya telah melayani Dia dengan sepenuh hati berdasarkan perintah-Nya? Terkadang, kita di tengah kehidupan ini mengalami penderitaan karena Tuhan tidak menjadi Tuan atas diri kita. Keinginan daging yang bendawi mengekang kita dengan segala manifestasi kenikmatannya. Akibatnya, kita menjadi sangat lemah di dalam mengambil keputusan etis berdasarkan iman kepada Kristus. Kita di satu sisi yang sangat tekun beribadah dan beriman, tapi di sisi lain kita bisa menjadi sangat menjadi lentur untuk berkompromi dengan dosa. Paradoks tersebut membuat dosa menjadi penyerobot di dalam rumah kita. Pada akhirnya, kita pun tetap tinggal di dalam dosa. Oleh karena itu, kita harus menghidupkan kembali Roh Kristus di dalam diri sehingga Roh itu berkuasa penuh. Dampaknya, kehidupan kita akan menjadi tertib sebab karya Roh Kristus sangat nyata. Walaupun hidup kita secara dunia mungkin tidak diuntungkan, tetapi hidup kita selalu berjalan sesuai koridor moral dan etika Kristen yang berlaku. Dengan demikian, damai sejahtera menjadi milik kita yang tidak dapat ditawarkan oleh dunia dengan segala gemerlapnya.

 

2.    Roh Kristus memberikan kita hidup baru untuk melakukan kebenaran

Dalam Minggu Pentakosta kita juga merefleksikan bagaimana Roh Kristus memberikan kita pandangan untuk menimbang putusan moral etis berdasarkan kehidupan baru di dalam Kristus. Cara kita memutuskan suatu hal ketika hidup baru di dalam Roh Kristus tentu akan sangat berbeda ketika kita hidup lama di dalam keinginan daging. Jika kita di dalam kehidupan lama selalu mencari keuntungan pribadi atau kelompok, maka kita di dalam kehidupan baru akan selalu mencari kebenaran di dalam tuntunan Roh Kristus. Sebab, kekuatan kita sendiri tidak akan sanggup melawan muslihat dosa. Kita membutuhkan Roh-Nya agar kita dapat melakukan apa yang benar dan baik.

 

3.    Allah membangkitkan tubuh fana kita oleh karena Roh Kristus di dalamnya

Dalam Minggu Pentakosta ini kita pun diajak merefleksikan bahwa kehidupan baru di dalam Roh Kristus memang tidak menjadi jaminan kita akan lepas dari kematian di dunia. Setelah mati di dalam penebusan hidup manusia lama, kita akan mengalami kematian lagi di dalam tubuh fana. Tetapi, kematian ini juga tidak akan berkuasa selamanya atas hidup kita. Karena, kita nanti akan bangkit bersama kebangkitan Kristus, oleh karena Roh-Nya di dalam kita. Sehingga, kita jangan mati sebelum mati. Terkadang, ketakutan akan kematian membuat kita tidak dapat berbuat apa-apa. Malahan, kita harus menunjukkan bagaimana karya Roh Kristus ada di dalam hidup kita selagi kita diberikan kesempatan untuk hidup di dunia ini.

 

Kepustakaan :

 

Drane, John. Memahami Perjanjian Baru. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1996

Groenen, C. Pengantar ke dalam Perjanjian Baru. Yogyakarta : Kanisius, 2006

Roetzel, Calvin J. The Letters of Paul – Conversation in Context, London: SCM Press, 1983

End, Van Den, Th.Dr. Tafsiran Alkitab Surat Roma, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2008.

 

 

Pdt.Theodorus Benyamin Sibarani, S.Si (Teol), M.Kesos

GKPI Ressort Jakarta Raya-1

 

BERNYANYILAH BAGI TUHAN (KHOTBAH MINGGU KANTATE)


Nyanyian Miryam yang menjadi saksi pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir

Ketika kuda Firaun dengan keretanya dan orangnya yang berkuda telah masuk ke laut, maka TUHAN membuat air laut berbalik meliputi mereka, tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut. (Ay.19)

Apabila berbicara tentang puji-pujian di Alkitab, kita langsung merujuk pada malak malaikat dengan sangkakalanya, Daud dengan mazmurnya, Maria dengan doa pujian Magnificatnya, serta penulis kitab Mazmur lainnya seperti Musa dan Asaf. Namun, teks evanggelium kita saat ini berbicara tentang nyanyian yang dilantunkan oleh Miryam. Siapakah Miryam itu? Miryam merupakan saudara dari Musa dan Harun, anak Amran (1.Taw.6:3a). Ia turut menjadi saksi sejarah bangsa Israel yang baru saja keluar dari perbudakan Mesir, ditandai dengan dikuburkannya tentara Firaun bersama kereta perangnya di tengah laut. Puji-pujian Miryam terjadi di sela-sela pujian yang dilantunkan oleh Musa.


Miryam, seorang nabiah, larut di dalam lantunan pujian “orang tertebus” Musa

Lalu Miryam, nabiah itu, saudara perempuan Harun, mengambil rebana di tangannya, dan tampillah semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari. (Ay.20)

Kidung yang dinyanyikan Musa ini pastinya sangat indah bentuknya, baik itu lirik maupun komposisi nadanya. Dalam iman, kita yakin bahwa Musa menggubah mazmur “orang tertebus ini” ini di dalam tuntunan Roh Tuhan. Sehingga, mazmur Musa ini menyentuh kedalaman jiwa para pendengarnya. Tidak salah kalau mazmur Musa ini dijadikan bangsa Israel sebagai pujian atau himne ritus yang wajib dinyanyikan ketika hendak memasuki Bait Allah yang kudus.

Miryam pun larut secara emosional di dalam lagu itu. Secara spontan, ia meraih tamborine/rebana untuk mengiringi mazmur Musa, lalu diikuti tari-tarian. Ekspresi penghayatan Miryam ini ternyata berhasil ditularkan pada perempuan yang ada di rombongan keluaran itu. Secara psikologis, musik memang dapat memengaruhi tubuh dengan sangat kuat.  Prof.Rolf Inge Godoy, dkk (University of Oslo) mengeksplor teori mengenai hubungan antara suara musik dan gerakan tubuh. Penelitian ini dipublikasikan di Journal of New Music Research. Berdasarkan teori, kita bisa memahami sesuatu bila secara aktif menirukan gerakan yang terkait dengan gerak sensorik yang sedang coba diproses. Jadi, ketika kita mendengarkan musik, kita cenderung secara mental mensimulasikan gerakan tubuh. Ini bisa dianggap sebagai semacam representasi bentuk.

Miryam seorang pemimpin perempuan karismatik yang berhasil mentransferkan spirit pembebasannya pada para perempuan yang berbeban berat

Dan menyanyilah Miryam memimpin mereka: ”Menyanyilah bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur; kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut.” (Ay.21)

Tidak hanya berhasil mengajak para perempuan berekspresi dan menari, Miryam juga berhasil mengajak perempuan di sana untuk menyanyi. Tidak mudah untuk mengajak perempuan di sana bernyanyi, sebab mereka adalah sosok yang mungkin paling menderita. Budaya patriakhi bangsa Yahudi, membuat para perempuan sebagai warga kelas dua. Belum lagi status perbudakan Mesir, yang banyak sekali memberikan penderitaan pada mereka, salah satunya adalah kehilangan anak laki-laki mereka ketika Firaun memerintahkan untuk membunuh bayi-bayi laki-laki bangsa Israel yang lahir. Ada dua hal secara teoritis yang membuat Miryam berhasil masuk ke sisi emosional terdalam para perempuan, yaitu:

1.    Visi suara kenabian yang kuat dari Miryam

Miryam disebut dengan nabiah. Ini suatu jabatan kepemimpinan yang besar dicatatkan Alkitab atas seorang perempuan. Jabatan yang diemban oleh Miryam bukan tanpa sebab. Catatan Keyahudian, Sotah 12a menceritakan, suara kenabian Miryam sudah terlihat sejak ia kecil. Miryam mendesak ayahnya tidak menceraikan ibunya karena dalam visinya ia melihat ibunya akan melahirkan seorang anak yang akan menjadi pembebas atas Israel. Ketika ada perintah dari Firaun untuk membunuh bayi laki-laki Israel, ayahnya memarahi dan mempertanyakan visi yang ada di dalam diri Miryam. Sekalipun demikian, ia tetap teguh dalam visinya yang ia tahu berasal dari Tuhan. Ia pun memberontak dari perintah Firaun.

 

2.    Semangat “pemberontakan” Miryam yang memotivasi para perempuan

Chana Weisberg, seorang tokoh gerakan feminis Yahudi, mencoba untuk membantu kita mengerti fenomena keberhasilan Miryam memengaruhi perempuan Israel yang ada di dalam rombongan Keluaran dari perbudakan Mesir. Ia melihat bahwa perempuan di sana merasakan solidaritas “pemberontakan” yang dilakukan oleh Miryam. Secara etimologis, nama Miryam tidak hanya berarti pahit/berbeban berat (akar kata “Mar”), tapi juga pemberontak (akar kata “Mir”). Memang, Alkitab dalam beberapa episode pernah menyorot kehidupan Miryam yang tidak jarang terlihat berani sekali melawan arus utama. Ia memberontak atas putusan Firaun yang memerintahkan agar seluruh rakyatnya membuang bayi laki-laki Israel ke sungai Nil (Kel.1:22, Kel.2:4-9). Kuatnya prinsip Miryam ini menjadikannya sebagai pemimpin perempuan yang direkomendasikan Allah di tengah bangsa Israel kala itu (Mi.6:4). Sayangnya,  pemberontakan Miryam ini dianggap kelewat batas sehingga Allah menghukumnya. Miryam mempertanyakan putusan Musa yang mengambil perempuan Kush. Bagi Miryam, posisi Musa bukan tanpa kritik karena Harun dan dirinya juga merupakan sarana Tuhan menyampaikan firman-Nya. Hal ini di mata Tuhan bukan sesuatu yang baik. Ia pun ditimpakan penyakit kusta (Bil.12). Walaupun begitu, terlepas dari paradoks pemberontakannya, Miryam tetap mengambil posisi kepemimpinan spiritualitas yang sangat baik di tengah-tengah perempuan bangsa Israel.

Refleksi Aplikasi:

Sekian jauh pembahasan kita tentang Miryam dan keberhasilannya memengaruhi perempuan di sana untuk bernyanyi, berdendang, dan menari, apa yang dapat kita refleksikan dan aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari?

Ternyata, kita mendapatkan suatu makna baru di dalam “Bernyanyi bagi Tuhan” berkaca pada apa yang dilakukan oleh Miryam di Keluaran 15 ini. Bernyanyi bagi Tuhan di teks firman Tuhan saat ini adalah upaya Miryam untuk mengangkat semangat para perempuan di sana. Sekalipun perempuan Yahudi secara budaya adalah pihak yang termarjinalkan, dan secara luka batin adalah mereka yang berduka karena kehilangan darah daging yang keluar dari rahimnya, tapi semua itu tidak dapat merebut kuasa Allah yang luar biasa di tengah kehidupan, termasuk membebaskan mereka dari perbudakan Mesir.

Sehingga, kita yang menjadi umat percaya di masa kini dapat menghayati bagaimana cara kita memuliakan Tuhan dengan puji-pujian setiap harinya, maupun setiap minggunya di dalam ibadah. Bahwa, ketika kita bernyanyi memuji Tuhan, sesungguhnya, kita tidak hanya memuji kebesaran nama Tuhan melalui lantunan lagu itu, tetapi juga kita solider pada mereka yang diliputi perasaan sedih dan dukacita, yang butuh dikuatkan melalui karya Allah yang diceritakan dalam lagu itu.

Kita dapat mengambil contoh sebagai bagian penutup di dalam ibadah ini :

1.       KJ.388, “S’lamat di Tangan Yesus”

S’lamat di tangan Yesus, aman pelukan-Nya; dalam teduh kasih-Nya aku bahagia. Lagu merdu malaikat olehku terdengar dari neg’ri mulia: damai sejahtera. S’lamat di tangan Yesus, aman pelukan-Nya; dalam teduh kasih-Nya aku bahagia.

Bagaimana suasana lagu itu? Bahagia? Senang? Secara lirik dan komposisi nada, Ya betul. Tetapi, secara kisah di balik lagu, itu merupakan lagu sedih. Fanny Crossby menikah tahun 1858 dengan Alexander van Alstynem seorang tuna netra dan juga pemusik. Tahun 1859, putrinya lahir namun meninggal dalam tidur setelah lahir. Kematian putrinya tersebut menginspirasi Fanny menulis syair lagu” Safe in the Arms of Jesus”

2.       KJ.392, “Ku Berbahagia Yakin Teguh”

‘Ku berbahagia, yakin teguh: Yesus abadi kepunyaanku! Aku waris-Nya, ‘ku ditebus, ciptaan baru Rohul kudus. Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya. Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

Bagaimana suasana di dalam lagu ini? Ya, lagu ini menceritakan tentang kebahagiaan bila bersama dengan Yesus. Tetapi, lagu ini juga adalah lagu kesedihan dari seorang yang dunianya diliputi kegelapan.  Fanny Crosby adalah seorang bayi perempuan lahir di desa Brewster, daerah bagian utara kota New York. Hari itu tepat tanggal 24 Maret 1820. Saat usianya baru 6 minggu, dia mengalami demam. Namun karena salah penanganan dokter, kedua matanya menjadi buta. Di tahun itu juga, ayahnya, meninggal dunia hingga bayi kecil itu hanya diasuh ibu dan neneknya.Saat usianya 5 tahun,melalui pemeriksaan dokter diketahui matanya tidak bisa dioperasi dan kebutaannya bersifat permanen.Sejak itu gadis kecil itu menjalani hidupnya dalam kegelapan. Bertumbuh besar dan dewasa menikah dengan pria tunanetra juga, tetapi anak mereka pada saat itu langsung meninggal dunia. Suatu kisah tragis dari seseorang yang dunianya diliputi kegelapan. Tetapi, Fanny Crosby tetap kuat di dalam imannya kepada Kristus. Ia bersaksi, “This is my story, this is my song. Praising my Savior all the day long

Demikian juga dengan banyak lagu lainnya di antaranya Pass Me Not, O Gentle Savior (KJ No. 26, Mampirlah Dengar Doaku), All The Way My Savior Leads Me (KJ 408 Di Jalanku Ku Diiring), I Must Have The Savior With Me (KJ 402 Kuperlukan Juru’Slamat), Jesus, Keep Me Near The Cross (KJ 368 Pada Kaki Salimu), dll.

Ketika menyanyikan himne ini kita diajak untuk solider kepada kisah Fanny Crosby sebagai disabilitas yang dirundung kemalangan, sembari kita menguatkan mereka yang sedang di dalam kesulitan hidup yang membutuhkan lawatan kuasa Allah yang luar biasa hebat yang diceritakan di dalam lagu itu.

Sehingga, minggu Kantante pada saat ini mengajak kita, “Bernyanyilah Bagi Tuhan”. Amin.

 

Khotbah di GKPI Menteng, Ressort Jakarta Raya-2

15 Mei 2022

 

 

 

 

Selasa, 09 Maret 2021

Rumah Tangga Kristen

 

Pernah ada seorang jemaat bertanya, "Apa mungkin rumah tangga seorang pendeta bisa retak, bahkan jatuh ke dalam perceraian?". 

Ini pertanyaan yang "mudah tapi sulit" menjawabnya. Mudah karena saya hanya tinggal menjawab "mungkin atau tidak mungkin". Sulit karena harus memberikan alasan "mengapa ia mungkin? Atau, mengapa ia tidak mungkin?"

Alih-alih menjawab secara terbuka, saya hanya memberikan sedikit gambaran tentang rumah tangga Kristen itu dalam pandangan saya. Ini juga relevan dengan berita "perselingkuhan pejabat dan artis" yang viral belakangan ini.

Bukan hal mudah membangun rumah tangga. Di dalam rumah tangga, kita terus berupaya untuk menyatukan dua pikiran yang kadang bertolak belakang, serta menyelaraskan dua detak jantung yang tak seirama. Kerekatan rumah tangga itu sangat tergantung dengan apa ia diikat. Tidak mungkin perahu diikat dengan jangkar, karena perahu pasti akan tenggelam. Dan, tidak mungkin juga kapal baja besar diikat dengan tali tambang, karena kapal pasti akan terhempas ke tengah lautan. Alat pengikat harus sesuai dengan apa yang akan diikat. Perahu harus diikat dengan tali tambang. Kapal baja besar harus diikat dengan jangkar.

Demikian juga rumah tangga Kristen. Pengikat paling tepat untuk rumah tangga Kristen adalah Kasih (Kristus). Seperti yang dikatakan oleh Paulus pada jemaat di Kolose, "Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah." (Kol.3:14-15)

Fenomena Pelakor (Perebut Laki-Laki Orang) dan Pebinor (Perebut Bini Orang) merupakan konstruksi sosial untuk memberikan alasan mengapa rumah tangga itu bisa kandas. Padahal, kandasnya rumah tangga (Kristen) itu faktor utamanya adalah dari pasangan itu sendiri yang dengan kesadarannya memberikan ruang bagi orang lain untuk ada di tengah-tengah kehidupan rumah tangganya.

Sebab itu, ketika rumah tangga Kristen telah diikat oleh Kasih (Kristus), maka kita perlu bersyukur. Kita bersyukur untuk kekuatan dan kelemahan kita dan pasangan kita. Untuk itulah rumah tangga Kristen dipanggil menjadi "satu tubuh" di dalam pernikahan kudus.

Penjelasan ini membuat jemaat yang bertanya tadi diam. Saya tidak tahu mengapa ia diam? Namun sepertinya, saya menduga ia diam karena ia tahu jawaban pendeta tidak untuk didebatkan, tapi dipikirkan dan direnungkan saja. 😇😀😀😂

AIR KEHIDUPAN (Yoh.4:5-14)

Pembahasan tentang dialog antara Yesus dengan Perempuan Samaria terkait “Air Hidup” tentu sudah sering kita dengar. Oleh karena itu, marilah kita coba melihat dari sisi yang lebih luas lagi. Apabila dilakukan perbandingan nas Minggu (Yoh.4:5-14) ini dengan Yohanes 19:28, kita di sana menemukan Yesus ketika di kayu salib berkata, “Aku haus”. Ini terasa aneh karena pada nas kita hari ini, Yesus mengatakan, “tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya ...”. Pertanyaannya, bagaimana mungkin Yesus yang punya air hidup tetapi masih bisa merasa kehausan?

Untuk coba memahami maksud Yesus dengan Air Hidup dan rasa haus yang dirasakan-Nya, marilah kita memerhatikan perenungan dari St.Agustinus di dalam tulisannya Confessions. Di sana, ia secara terbuka mengaku bahwa di dalam Yesus ada sisi paradoks ketika kita berusaha mencari-Nya di dalam perziarahan iman kita. Refleksinya, Tuhan dapat dilihat dari sisi subjektif dan sisi objektif. Ketika berbicara subjektif, kita dapat menyebutnya sebagai iman. Dan, berbicara objektif, kita dapat menyebutnya sebagai realitas. Dalam konteks kitab Yohanes, Yesus di sisi iman pada-Nya ada Air Hidup, tetapi Yesus dalam sisi realitas sebagai manusia sepenuhnya punya rasa dahaga/haus. Kondisi paradoks ini tidak akan mengganggu atau menghalangi iman kita kepada Yesus, karena hal ini malah akan semakin membuat kita bertambah sungguh memercayai siapa Yesus yang kita sembah dan kepada-Nya kita bersembah. 

Dalam perikop kita, Yesus memberi penjelasan pada perempuan Samaria bahwa Dia adalah Mesias dari Allah. Akan tetapi, perempuan Samaria sempat gagal paham karena terbatas melihat Yesus hanya dalam profesi nabi (bnd.Yoh.4:19, 25-41). Belum lagi latar perseteruan antara Israel Utara (Samaria) dan Israel Selatan (Yahudi) yang tiada ujung. Sikap curiga tak dapat dihindarkan. Bersatunya Kerajaan di Utara dan Selatan hanya terjadi di era pemerintahan Daud dan Yosia. Sisanya, kerajaan ini terpecah dua selamanya. Peribadatan orang Selatan dipusatkan di Yerusalem, sedangkan orang Utara di gunung (bnd.Yoh.4:20). Secara keagamaan, orang di Utara sudah banyak dipengaruhi oleh kerajaan-kerajaan yang menundukkan mereka. Hal itu disimbolkan Yesus dengan suami perempuan Samaria (bnd.Yoh.4:17-18). Dari indikator di ayat-ayat tersebut, kita dapat memahami kemudian bahwa pembicaraan Yesus dengan perempuan Samaria ini adalah dalam konteks pergelutan iman, di mana Yesus menawarkan diri-Nya untuk menghapus kedahagaan spiritualitas orang Utara akan Tuhan Allah. Air hidup di sana dapat dipahami sebagai fondasi iman yang benar.  

Karenanya, jelas perbedaan air hidup yang dibicarakan Yesus dengan Samaria dan air yang dimintakan Yesus ketika ia merasa haus dahaga di kayu salib. Air hidup ada pada aspek beriman (subjektif) dan air minum berada pada aspek realitas (objektif). Kita membutuhkan kedua-duanya. Kita butuh Yesus yang memberikan air hidup sebagai fondasi iman kita yang benar. Dan, kita juga butuh air minum yang dapat memberikan kita kekuatan untuk beraktivitas. Jika perempuan Samaria sempat ragu-ragu menerima-Nya, apakah kita mau menerima-Nya tanpa ragu? Siapkah kita beriman dengan seluruh subjektivitas dan objektivitas iman kita akan Kristus?


MELESTARIKAN BUDAYA (Ayub 42:7-17)

Koentjoroningrat, Bapak Antropologi Indonesia, mendefinisikan Kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Kata “belajar” di akhir definisi kebudayaan itu sangat erat kaitannya dengan pemikiran konstruksi sosial  di mana pemahaman kita akan dunia ini bertalian erat dengan aktivitas “ajar-mengajar” pada orang dan tempat yang spesifik. Beberapa minggu lalu, kita sudah dihadapkan oleh Firman Tuhan yang menyoroti bagaimana lingkungan kita mengajarkan kita tentang konstruksi sosial pada perempuan dan laki-laki, padahal Alkitab menjelaskan laki-laki dan perempuan itu pasangan yang sepadan sehingga mereka menjadi Setara di Hadapan Tuhan. Proses bekerjanya suatu budaya adalah demikian. Ia berdasarkan hasil karya budi dan daya manusia yang diturunkan dan diajarkan turun-temurun. Karena itu, budaya tidak hanya berkenaan dengan tari-tarian, bahasa, makanan, dan pemahaman umum di tengah masyarakat lainnya. Akan tetapi, budaya juga terkait dengan cara pandang, cara pikir, bahkan cara bertindak seseorang. Hal paling sederhananya saja sebagai contoh adalah budaya Timur yang dipandang lebih mengedepankan tata krama, sopan-santun, dan keramahtamahan.

Ini terlihat dari cerita Ayub yang menjadi bagian dari teks kita di Minggu ini. Ayub diceritakan Alkitab diuji oleh iblis dengan seizin Tuhan untuk melihat sejauh mana kesetiaan Ayub yang tanpa cela itu kepada Allah. Segala malapetaka pun ditimpakan pada Ayub. Hidup Ayub yang awalnya sangat kaya raya dan sangat sejahtera itu perlahan-lahan mulai direnggut satu per satu. Dalam budaya Timur, rasa prihatin dan kesetiakawanan sangat kuat di antara masyarakatnya. Para sahabat Ayub pun datang menjenguk Ayub untuk mengucapkan belasungkawa dan menghiburnya (Ayb.2:11). Dalam tradisi masyarakat konteks Ayub, para penjenguk hanya bisa menangis dan meratap sejadi-jadinya, mereka belum bisa angkat bicara pada sahabatnya yang berduka (Ayb.2:12-13). Melihat para sahabatnya yang sudah datang untuk menangis bersama, Ayub pun mulai meratapi dirinya (Ayb.3). Tapi, entah mengapa tiba-tiba Elifas angkat bicara atas Ayub. Apologi Elifas adalah tak seorang pun dapat menutup mulutnya memberikan teguran pada Ayub (Ayb.4:1-2). Tindakan Elifas yang menegur Ayub ini sangat tidak sesuai dengan nilai budaya pada saat itu. Bahkan, hal itu cenderung merendahkan martabat Ayub yang tidak dihargai lagi oleh sahabatnya.

Teguran Elifas pada Ayub berisikan tentang analisa dan penilaiannya akan alasan malapetaka yang terjadi atas Ayub, sahabatnya. Elifas orang Tēman menganalisa dan menilai sesungguhnya malapetaka itu datang hanya pada orang yang telah berbuat jahat saja dan orang baik pasti dilindungi-Nya (Ayb.4-5). Teguran ini membuat Ayub menjadi sangat kecewa pada sahabatnya. Ayub sendiri membangun apologi teologis bahwa ia sendiri tidak pernah mengerti jalan keputusan Allah atas hidup manusia. Ayub mengakui salahnya di hadapan Tuhan, bahwa ia telah lancang berbicara tentang Tuhan tanpa pengetahuan. Sehingga, segala perkataan Ayub tentang Tuhan Allah, termasuk pembelaan dirinya di hadapan Allah, dalam penyesalan dicabutnya (Ayb.42:1-6).  Tunduknya Ayub pada nasib hidupnya oleh Tuhan Allah membuat kondisinya dipulihkan. Karena, Ayub telah membuktikan kesetiaan imannya bahwa ia beribadah dan tunduk kepada Allah bukan karena harta benda, materi, kesehatan, nama baik, dan segala kemahsyuran dunia.

Akan tetapi, Allah mengecam Elifas orang Tēman beserta dua orang temannya yang telah salah berbicara tentang siapa Allah. Mereka tidak seperti Ayub yang berhati-hati berbicara tentang Allah di dalam segala keterbatasan pengetahuan mereka akan siapa Tuhan Allah itu. Tuhan Allah pun mensyaratkan pada Elifas dan temannya, kalau mereka dimaafkan-Nya bila persembahan pengampunan dosa dan minta maaf mereka sudah diterima Ayub (Ayb.42:7-9). Dan, Ayub sebagai orang yang hidup dalam budaya Timur ternyata memaafkan mereka sehingga Tuhan Allah pun turut memaafkan Elifas dan temannya. Ayub pun mendoakan sahabat-sahabatnya. Kehidupan Ayub dipulihkan kembali oleh Tuhan Allah. Semua saudara dan teman lamanya datang menjengguk Ayub dan memberikan perhiasan dan uang padanya (ay.10-17). 

Pesan firman Tuhan pada minggu ini bila dikaitkan dengan tema kita adalah perlunya kita melestarikan budaya yang baik di sekitar kita. Misalnya, dalam konteks Ayub, sebagai orang Timur, kita tidak baik terlalu banyak bicara ketika ada orang yang sedang berduka, apalagi sampai menegur dan menyakiti hati mereka. Kemudian, kita sebagai umat percaya juga harus berhati-hati di dalam menjelaskan tentang siapa Tuhan Allah. Pengetahuan kita akan Dia itu sangat terbatas adanya. Terakhir, sifat memaafkan seperti Ayub pada sahabatnya adalah suatu budaya Timur yang sangat sesuai dengan firman Tuhan 


 

Sabtu, 10 Oktober 2020

KEPEMIMPINAN YANG MENGHAMBA (Mrk.10:35-45)


Kitab Markus merupakan kitab Injil Sinoptik tertua, yang diperkirakan ditulis tahun 35-40 ZB (Zaman Bersama). Secara ketatabahasaan, kitab Markus ditulis dengan bahasa yang sangat sederhana, sehingga pesannya terlihat jelas. Salah satu tema yang jelas dapat kita lihat dari kitab Markus ini adalah tentang gambaran dari Yesus sebagai seorang Hamba yang menderita. Dan, tema kitab Markus ini sangat mengena dengan tema minggu saat ini, “Kepemimpinan yang Menghamba” di mana teks dirujuk dari Markus 10. Di awal perikop nas kita minggu ini, ada situasi menarik yang bisa kita perhatikan di mana Yakobus dan Yohanes datang menghadap Yesus agar mereka ditempatkan di sebelah kanan dan di sebelah kiri-Nya ketika Dia datang dalam kemuliaan kelak (ay.37). Permintaan ini dinyatakan Yohanes dan Yakobus secara personal/pribadi. Kita bisa lihat bagaimana Alkitab menerangkan kalau mereka mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya akan suatu permohonan (ay.35). Yesus sebagai seorang Pemimpin dan Guru dari para murid terlihat sangat akrab dengan mereka. Yesus mau menawarkan apa yang bisa dilakukan-Nya untuk membantu Yohanes dan Yakobus (ay.36).

Namun, Yesus melihat permintaan dari Yohanes dan Yakobus itu tidak rasional. Pertama-tama, Yesus mengatakan “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta”. Mengapa Yesus mengatakan demikian? Bagaimana tidak! Yesus baru memberitahukan tentang penderitaan yang akan dialami-Nya. Bahwa, Dia akan diadili dan dijatuhi hukuman mati. Sebagai manusia, siapa yang tidak tertekan mengetahui hari kematiannya sudah mendekat? Sekalipun pada akhirnya akan bangkit, tetapi Yesus harus melewati penderitaan yang sangat mengerikan, sadis, dan melampaui batas kemanusiaan-Nya. Bisa-bisanya Yohanes dan Yakobus mengatakan, kalau Dia nanti bangkit dari kematian agar mereka ditempatkan di sebelah kiri dan kanan-Nya. Mereka bukannya bersimpatik pada beban Yesus, malah mencari celah untuk kepentingan pribadi mereka sendiri. Karenanya, Yesus mencoba untuk mengkonfirmasi, sekiranya mereka bertukar posisi, apakah mereka sanggup minum cawan dan dibaptis dengan baptisan yang diterima-Nya (ay.38). Yang dimaksudkan Yesus di sana adalah bisakah Yohanes dan Yakobus menerima nasib buruk (dilambangkan dengan cawan) dan dituduhkan sebagai seorang berdosa dan hina sekalipun tidak melakukan semua itu (dilambangkan dengan baptisan pertobatan oleh Yohanes Pembaptis).

Satu nilai positif dari Yohanes dan Yakobus adalah mereka seorang yang percaya diri. Tanpa ragu, mereka menjawab, “Kami dapat”. Hal ketiga yang disampaikan Yesus pada mereka, “kalau mereka dapat, maka mereka akan meminum cawan itu dan dibaptis dengan baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis itu”. (ay.39).  Akan tetapi, hal keempat yang disampaikan Yesus kalau di dalam Kerajaan Allah tidak ada orang dalam, karena itu bukan hak peyoratif dari Yesus, tetapi Bapa saja (ay.40). Perbincangan Yesus dengan Yohanes dan Yakobus pun terdengar oleh kesepuluh murid lainnya. Wajar mereka marah, karena Yohanes dan Yakobus malah mencari kesempatan dalam kesempitan, mau menang sendiri, tidak setia kawan, dan sangat egois (ay.41). Yesus pun melerai pertengkaran di antara para murid dan memberikan pengajaran penting sebelum Dia meninggalkan mereka semua sendirian di tengah dunia. Yesus menegaskan supaya mereka jangan sama seperti pemerintah dan penguasa dunia yang memerintah dengan tangan besi dan kekerasan di dalam menjalankan tugas pemberitaan Kerajaan Allah.  Akan tetapi, mereka harus mau menjadi pelayan di dalam kebesaran, serta menjadi hamba di dalam ketermukaan (ay.42-44). Yesus memesankan hal itu pada para murid karena Dia telah terlebih dahulu melakukannya. Di dalam kemuliaan-Nya, Dia datang ke dunia untuk melayani manusia berdosa, menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (ay.45).

Firman Tuhan ini mengajak kita merefleksikan dua hal utama, yaitu: Pertama, soal upah, dalam hal ini keselamatan, biarlah kita serahkan kepada Allah Bapa. Selama kita hidup di dunia ini, kita kuatkan saja iman kita untuk menerima cawan kita dan menghidupi baptisan Yesus. Karena, kita akan dibangkitkan di dalam baptisan-Nya kelak. Kedua, di tengah dunia ini, kita perlu mengingat bahwa tidak ada seorang yang besar tanpa ia melayani, dan tidak ada seorang yang menjadi terkemuka tanpa ia menjadi hamba yang menolong banyak orang yang membutuhkan. Pengosongan diri (Kenosisme) menjadi jalan hidup Yesus, sebagai Anak Manusia. Demikian pula kita, di dalam kehidupan ini, marilah kita bersikap rendah hati pada sesama dan menujukkan kerendahan diri di hadapan Tuhan, Allah Bapa kita. Jangan bertengkar untuk posisi, kehormatan, kekayaan, dan prestasi duniawi lainnya. Karena itu adalah cara kuasa dunia, bukan kuasa dari Kerajaan Allah yang penuh damai, sukacita, dan damai sejahtera.