Kamis, 12 Februari 2026

Mengapa Sang Triliuner, Elon Musk, Tidak Bahagia?


Dalam "cuitan" di akun X (dulu Twitter), 9 Februari 2026, Elon Musk berkata, "Siapa pun yang mengatakan uang tidak bisa membeli kebahagiaan sesungguhnya sangat mengerti apa yang dikatakannya."


Media banyak yang meng-"framing" cuitan ini dengan berita "Elon Musk mengaku tidak bahagia meski punya harta lebih dari Rp.14.000." Secara umum, netizen bereaksi dengan "mengaminkan" bahwa uang memang bukan sumber kebahagiaan sejati.


Pandangan netizen ada benarnya kalau kita mencoba untuk memahami posisi kekayaan Elon Musk saat ini. Strategi Elon Musk dalam mengumpulkan "cuan" mulai menarik dibaca saat membeli seluruh saham Twitter. Ia sengaja sepertinya melakukan pendekatan "Lost Leader" di Twitter untuk berbagai motif ekonomi, mulai dari menghindari pajak penghasilan, propaganda di ruang publik untuk memperkuat saham, dll.


Di sini, kekayaan Elon Musk hadir bukan dalam bentuk cash tapi menjadi aset. Elon Musk pun terjebak dalam paradoks "Cash Poor, Asset Rich". Hartanya bukanlah daya beli likuid yang bisa diikmatinya dengan tenang, melainkan instrumen kapital yang mengikat seluruh eksistensinya.


Kekayaan dalam bentuk saham yang dijadikan jaminan utang menciptakan beban psikologis luar biasa. Bayang-bayang "Margin Call" bukan sekadar risiko finansial, melainkan ancaman nyata terhadap keseluruhan dirinya. Sebab, ia menciptakan risiko sistemik yang nyata, yaitu: Pertama, Hak atas hartanya bisa disita dan dijual paksa seketika oleh bank jika nilai sahamnya turun (Liquidation Risk). Kedua, Utang raksasa yang ia pakai sebagai "daya ungkit" kekuasaan kini berbalik menjadi senjata yang mengancam kepalanya sendiri (Leverage Reversal). Terakhir, Hidupnya hanyalah tidak lebih dari sekadar tawanan grafik harga. Elon Musk kehilangan kedaulatan atas waktu dan ketenangan batin karena ketidakpastian pasar (Volality).


Di sini kita melihat alienasi yang nyata. Elon Musk tidak lagi berkuasa atas hartanya. Malahan, hartanya itulah yang mendikte setiap detik hidupnya. Ia harus terus "berlari" dalam mode krisis agar nilai asetnya tidak runtuh.


Kesejahteraan sejati (well-being) ternyata bukan tentang akumulasi angka di atas kertas, melainkan tentang otonomi. Tragedi manusia modern adalah ketika kita menukar kemerdekaan jiwa dengan angka-angka raksasa (nominal fantastis) yang justru menjadi penjara baru bagi pikirannya.


Kita boleh sedikit merefleksikan perkataan seorang Pembebas yang lahir di kota kecil Betlehem, sekitar 2.000 tahun lalu, "Sebab di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."


Jakarta, 12 Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar