Jumat, 19 Agustus 2022
Selasa, 24 Mei 2022
Bernyanyilah bagi Tuhan (Why.4:8-11, Khotbah Epistel Minggu Kantate)
4:8 Dan keempat
makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya
penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan
malam: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada
dan yang ada dan yang akan datang." 4:9 Dan setiap kali makhluk-makhluk
itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang
duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya, 4:10 maka
tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas
takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan
mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata: 4:11
"Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan
kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena
kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan."
Pendahuluan
Wahyu
Yohanes sejatinya dialamatkan pada ketujuh jemaat Kristen di Asia (Why.1:4).
Saat itu, umat Tuhan berada di bawah kolonialisme Romawi, termasuk Yohanes
berada di pulau Patmos oleh karena pengasingan akibat dicurigai sebagai
pemberontak. Kekristenan kala itu dianggap sebagai potensi bahaya, sebab
Kristus yang menjadi pusat beriman umat percaya dipuja sebagai Mesias yang
diutus oleh Allah. Kita tahu kalau Mesias itu merupakan jabatan politis di
bangsa Israel yang memiliki tugas untuk membebaskan umat-Nya dari belenggu
penjajahan, seperti dari perbudakan Mesir dan pembuangan Babel. Penindasan
Kaisar Romawi yang begitu beringas membuat umat Tuhan menjadi sangat menderita.
Untuk itu, Yohanes harus tetap memberikan motivasi dan semangat untuk mereka
yang dirundung ketakutan dan ketidakpastian. Apabila menulis secara terbuka,
surat Yohanes dari pulau Patmos pasti akan dihanguskan oleh pemerintah kolonial
Romawi. Untuk itu, Yohanes mencoba menuliskan sebuah surat dari pembuangannya
di Patmos dengan gaya kesusastraan di masa itu. Sehingga, kolonial Romawi
melihat surat Yohanes ini sebagai karya seni sastra yang indah.
Kesulitan
kita sebagai umat percaya di masa kini dalam membaca surat Yohanes dari Patmos
tentu dilatarbelakangi konteks yang berkembang sesuai zamannya. Misalnya saja,
anak di masa kini tidak tahu bagaimana berjuangnya untuk berkomunikasi di era
masa lampau, ketika handphone dan internet tidak sepesat saat ini. Mengirim
uang dengan menggunakan wesel pos. Memberikan kabar untuk kerabat di luar kota
melalui sepucuk surat yang sampainya berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Mereka
pasti bingung ketika kita menceritakan perihal “antrean di Wartel” atau
“perangko pos untuk luar kota”. Demikian juga dengan konteks metafora
yang digunakan dalam surat Wahyu ini, kita sangat terbatas pemahaman tentang
istilah yang berkembang kala itu. Ada jarak waktu yang sangat jauh yang menjadi
jurang antara pembaca di saat itu dengan kita di masa kini. Akan tetapi,
tafsiran kitab Wahyu pada saat ini sudah sangat berkembang. Setidaknya ada enam
pendekatan yang diketahui dan diakui dalam kajian teologis terhadap teks Wahyu
ini, yaitu : Praeter, Historis, Futuris, Triumfalis, Idealis, dan Perspektif.
Tafsiran teks saat ini merupakan kolaborasi dari pendekatan Prater (peristiwa
masa lalu), Futuris (peristiwa masa depan), dan Triumfalis (peristiwa masa lalu
yang akan terjadi di masa depan)
Pembahasan
4:8 Dan keempat
makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya
penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan
malam: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada
dan yang ada dan yang akan datang." 4:9 Dan setiap kali makhluk-makhluk
itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang
duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya
Persoalan dalam bagian
ini adalah siapa keempat makhluk yang masing-masing bersayap enam itu?
Sebelumnya, Yohanes menggambarkan bagaimana rupa keempat makhluk itu, “Adapun
makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti
anak lembu, dan makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan
makhluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang.”
(ay.7). Apabila kita membaca kitab Yehezkiel (1:5, 6, 7, 8, 10; 10:1-21),
penglihatan itu sama dengan yang ada di teks Wahyu. Sekalipun demikian, para
ahli PB berbeda pandangan tentang siapa mereka. Ada yang mengatakan keempat
makhluk itu merupakan empat penjuru alam dan perbintangan utama di dalam
zodiak, dan keenam sayapnya masing-masing menjelaskan akan kecepatan, kekuatan,
dan kercerdasannya. Ahli PB lain menjelaskan keempat makhluk itu melambangkan
tatanan malaikat di surga di mana ada yang punya kekuatan seperti singa, ada
juga yang punya pelayanan sebagaimana anak lembu melayani tuannya, ada juga yang
memiliki kecerdasan dan kemampuan seperti manusia, serta ada juga yang punya
ketajaman penglihatan seperti burng nazar.
Setidaknya dari
penjelasan ahli PB tadi, kita dapat mengambil suatu gambaran umum kalau keempat
makhluk itu merupakan representasi makhluk dari atas/surga di dalam memuji-muji
Tuhan di dalam kekudusan-Nya. Mereka ini ciptaan juga sebagaimana manusia yang
diciptakan-Nya. Nyanyian mereka ini dikenal dalam bahasa Yunani dengan nama trihagion
atau di dalam bahasa Latin disebut dengan sanctus. Suatu pujian yang
sangat kuat sekali menegaskan kekudusan Allah yang berbeda dari manusia ciptaan,
sampai diulangi sebanyak tiga kali, yang dapat juga kita pahami sebagai
persekutuan Allah, Yesus, dan Roh Kudus.
Pokok Teologis :
Makhluk di Surga Memuji-muji Kekudusan Allah yang Kekal
4:10 maka
tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas
takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan
mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata: 4:11
"Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan
kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena
kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan."
Di sini persoalan yang
harus dipecahkan adalah siapa kedua puluh empat tua-tua yang ada pada teks
kita. Di ayat sebelumnya, ada disinggung tentang kedua puluh empat tua-tua itu.
“Dan sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta
itu duduk dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota
emas di kepala mereka. Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh”
(ay.4-5a). Para penafsir teks PB juga beragam menafsirkan ke dua puluh empat
tua-tua ini. Ada yang mengatakan bahwa ini merupakan metafora untuk pembagian
imam dalam tradisi Perjanjian Lama (PL) yang dibagikan ke dalam 24
rombongan/kelompok. Kita mengetahui di dalam Alkitab kalau ayah dari Yohanes
Pembaptis merupakan seorang imam yang mewakili bangsa Israel untuk
mempersembahkan kurban persembahan di Bait Allah (Luk.1:8). Mereka dirotasi
dalam melakukan tugasnya. Jadi, kita patut mempertimbangkan ke-24 tua-tua ini
merupakan representasi dari para imam yang memberikan persembahan kepada Allah.
Ada ahli lain yang menafsirkan mereka ini merupakan represntasi malaikan surgawi
untuk memberikan persembahan kepada Tuhan. Tetapi, tafsiran ini sangat lemah
sekali. Ada tafsiran lain yang layak dipertimbangkan yaitu kedua puluh empat
tua-tua ini merupakan orang kudus yang
telah memenangkan pertandingan iman di PL dan PB. Ini bisa jadi hal yang sangat
dekat bila kita merujuk pada mahkota emas yang ada di kepala. Mahkota emas
bukanlah tanda pemegang kerajaan, tetapi tanda yang sering diberikan pada
mereka yang memenangkan suatu pertandingan olahraga.
Dari pendekatan
tafsiran yang ada ini, kita dapat mengambil gambaran umum untuk teks di ayat
10-11 ini bahwa segala ciptaan yang ada di bumi pun turut memuji-muji Tuhan dan
memberikan persembahan kepada-Nya.
Pokok Teologis :
Mahkluk di Bumi Memuji-muji Kebesaran Allah Pencipta
Refleksi-Aplikasi
1. Makhluk di surga memuji-muji
kekudusan Allah yang kekal
Turut sertanya makhluk surga memuji kekudusan Allah menggambarkan
bagaimana kekuasaan Allah sangat nyata di surga. Dia adalah Allah yang kekal
yang tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Apabila kita pernah membaca
laporan berita astrofisika tentang alam semesta, kita akan dibuat takjub betapa
waktu itu sangat relatif di luar angkasa. Untuk itu, ruang pun menjadi sangat
subjektif. Teori Big Bang menjelaskan kalau alam semesta kita ini
dikatakan mengembang dari sejak ledakan dahysat terjadi. Dalam keyakinan iman
Kristen, kita tahu bahwa sebelum Big Bang itu terjadi Allah telah ada.
Karenanya, Allah itu dari kekekalan sampai pada kekekalan. Hukum energi dalam
bahasa fisika sederhananya dipahami sebagai sesuatu yang tidak dapat diciptakan
dan tidak dapat dimusnahkan. Energi hanya mengkonversi bentuknya saja. Demikian
juga Allah yang kita imani, Dia tidak diciptakan dan Dia tidak akan berakhir.
Dia dapat datang di dalam diri Yesus Kristus dan Roh Kudus sepanjangan
pengenalan kita melalui Alkitab. Kekaguman ini juga dirasakan oleh makhluk
surga yang mengakui bagaimana kekekalan Allah. Oleh karenanya, kita sebagai umat
percaya yang hidup di bumi harus semakin mengasihi Allah di dalam
kekekalan-Nya. Sebab, Allah dengan segala kekuasaan-Nya yang kudus dapat
mengatasi langit dan bumi.
2. Makhluk di bumi memuji-muji
kebesaran Allah Pencipta
Dalam konteks Yohanes menuliskan surat ini, Kaisar Romawi diperlakukan
bak dewa. Tetapi, surat Yohanes ini mengajak kalau pusat penyembahan kita
selaku umat percaya hanya diarahkan kepada Allah yang kita kenal di dalam Yesus
Kristus saja. Mengapa? Yohanes menegaskan karena Dia adalah Allah Pencipta.
Umat percaya karenanya diajak untuk tidak takluk pada kuasa di dunia yang
mungkin dapat mencelakakan tubuh dan menghilangkan nyawa. Kita hanya takluk
kepada Tuhan Allah saja sebagai Pencipta kita. Di dalam rasa takut dan hormat,
tanda kita takluk kepada Allah, kita sesungguhnya sedang memuji-muji kebesaran
Allah, Sang Pencipta itu. Kita tidak akan terpisah dari kasih Allah Pencipta.
Sebab, kita telah diikat oleh Perjanjian Agung oleh Kristus. Perjanjian ini
ditandai dengan pengurbanan Kristus. Oleh darah-Nya, kita diselamatkan-Nya.
Untuk itu, kita harus memiliki keberanian di dalam menjalani kehidupan sebagai
umat tebusan. Karena, Allah Pencipta akan senantiasa memelihara kehidupan umat
-Nya. Inilah yang kita puji di dalam iman kita.
BERNYANYILAH BAGI TUHAN (KHOTBAH MINGGU KANTATE)
Nyanyian Miryam yang menjadi saksi pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir
Ketika kuda Firaun
dengan keretanya dan orangnya yang berkuda telah masuk ke laut, maka TUHAN
membuat air laut berbalik meliputi mereka, tetapi orang Israel berjalan di
tempat kering dari tengah-tengah laut. (Ay.19)
Apabila berbicara
tentang puji-pujian di Alkitab, kita langsung merujuk pada malak malaikat
dengan sangkakalanya, Daud dengan mazmurnya, Maria dengan doa pujian
Magnificatnya, serta penulis kitab Mazmur lainnya seperti Musa dan Asaf. Namun,
teks evanggelium kita saat ini berbicara tentang nyanyian yang dilantunkan oleh
Miryam. Siapakah Miryam itu? Miryam merupakan saudara dari Musa dan Harun, anak
Amran (1.Taw.6:3a). Ia turut menjadi saksi sejarah bangsa Israel yang baru saja
keluar dari perbudakan Mesir, ditandai dengan dikuburkannya tentara Firaun
bersama kereta perangnya di tengah laut. Puji-pujian Miryam terjadi di
sela-sela pujian yang dilantunkan oleh Musa.
Miryam, seorang nabiah, larut di dalam lantunan pujian “orang tertebus” Musa
Lalu Miryam, nabiah
itu, saudara perempuan Harun, mengambil rebana di tangannya, dan tampillah
semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari. (Ay.20)
Kidung yang dinyanyikan
Musa ini pastinya sangat indah bentuknya, baik itu lirik maupun komposisi
nadanya. Dalam iman, kita yakin bahwa Musa menggubah mazmur “orang tertebus
ini” ini di dalam tuntunan Roh Tuhan. Sehingga, mazmur Musa ini menyentuh
kedalaman jiwa para pendengarnya. Tidak salah kalau mazmur Musa ini dijadikan
bangsa Israel sebagai pujian atau himne ritus yang wajib dinyanyikan ketika
hendak memasuki Bait Allah yang kudus.
Miryam pun larut secara
emosional di dalam lagu itu. Secara spontan, ia meraih tamborine/rebana untuk
mengiringi mazmur Musa, lalu diikuti tari-tarian. Ekspresi penghayatan Miryam
ini ternyata berhasil ditularkan pada perempuan yang ada di rombongan keluaran
itu. Secara psikologis, musik memang dapat memengaruhi tubuh dengan sangat
kuat. Prof.Rolf Inge Godoy, dkk (University
of Oslo) mengeksplor teori mengenai hubungan antara suara musik dan gerakan
tubuh. Penelitian ini dipublikasikan di Journal of New Music Research. Berdasarkan
teori, kita bisa memahami sesuatu bila secara aktif menirukan gerakan yang
terkait dengan gerak sensorik yang sedang coba diproses. Jadi, ketika kita
mendengarkan musik, kita cenderung secara mental mensimulasikan gerakan tubuh.
Ini bisa dianggap sebagai semacam representasi bentuk.
Miryam seorang pemimpin perempuan karismatik yang berhasil mentransferkan spirit pembebasannya pada para perempuan yang berbeban berat
Dan menyanyilah
Miryam memimpin mereka: ”Menyanyilah bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur; kuda
dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut.” (Ay.21)
Tidak hanya berhasil
mengajak para perempuan berekspresi dan menari, Miryam juga berhasil mengajak
perempuan di sana untuk menyanyi. Tidak mudah untuk mengajak perempuan di sana
bernyanyi, sebab mereka adalah sosok yang mungkin paling menderita. Budaya
patriakhi bangsa Yahudi, membuat para perempuan sebagai warga kelas dua. Belum
lagi status perbudakan Mesir, yang banyak sekali memberikan penderitaan pada
mereka, salah satunya adalah kehilangan anak laki-laki mereka ketika Firaun
memerintahkan untuk membunuh bayi-bayi laki-laki bangsa Israel yang lahir. Ada
dua hal secara teoritis yang membuat Miryam berhasil masuk ke sisi emosional
terdalam para perempuan, yaitu:
1. Visi suara kenabian yang kuat dari
Miryam
Miryam disebut dengan
nabiah. Ini suatu jabatan kepemimpinan yang besar dicatatkan Alkitab atas
seorang perempuan. Jabatan yang diemban oleh Miryam bukan tanpa sebab. Catatan
Keyahudian, Sotah 12a menceritakan, suara kenabian Miryam sudah terlihat sejak
ia kecil. Miryam mendesak ayahnya tidak menceraikan ibunya karena dalam visinya
ia melihat ibunya akan melahirkan seorang anak yang akan menjadi pembebas atas
Israel. Ketika ada perintah dari Firaun untuk membunuh bayi laki-laki Israel,
ayahnya memarahi dan mempertanyakan visi yang ada di dalam diri Miryam.
Sekalipun demikian, ia tetap teguh dalam visinya yang ia tahu berasal dari
Tuhan. Ia pun memberontak dari perintah Firaun.
2. Semangat “pemberontakan” Miryam yang
memotivasi para perempuan
Chana Weisberg, seorang
tokoh gerakan feminis Yahudi, mencoba untuk membantu kita mengerti fenomena keberhasilan
Miryam memengaruhi perempuan Israel yang ada di dalam rombongan Keluaran dari
perbudakan Mesir. Ia melihat bahwa perempuan di sana merasakan solidaritas
“pemberontakan” yang dilakukan oleh Miryam. Secara etimologis, nama Miryam
tidak hanya berarti pahit/berbeban berat (akar kata “Mar”), tapi juga
pemberontak (akar kata “Mir”). Memang, Alkitab dalam beberapa episode pernah
menyorot kehidupan Miryam yang tidak jarang terlihat berani sekali melawan arus
utama. Ia memberontak atas putusan Firaun yang memerintahkan agar seluruh
rakyatnya membuang bayi laki-laki Israel ke sungai Nil (Kel.1:22, Kel.2:4-9).
Kuatnya prinsip Miryam ini menjadikannya sebagai pemimpin perempuan yang direkomendasikan
Allah di tengah bangsa Israel kala itu (Mi.6:4). Sayangnya, pemberontakan Miryam ini dianggap kelewat
batas sehingga Allah menghukumnya. Miryam mempertanyakan putusan Musa yang
mengambil perempuan Kush. Bagi Miryam, posisi Musa bukan tanpa kritik karena
Harun dan dirinya juga merupakan sarana Tuhan menyampaikan firman-Nya. Hal ini
di mata Tuhan bukan sesuatu yang baik. Ia pun ditimpakan penyakit kusta
(Bil.12). Walaupun begitu, terlepas dari paradoks pemberontakannya, Miryam
tetap mengambil posisi kepemimpinan spiritualitas yang sangat baik di
tengah-tengah perempuan bangsa Israel.
Refleksi Aplikasi:
Sekian jauh pembahasan kita tentang Miryam dan keberhasilannya memengaruhi perempuan di sana untuk bernyanyi, berdendang, dan menari, apa yang dapat kita refleksikan dan aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari?
Ternyata, kita
mendapatkan suatu makna baru di dalam “Bernyanyi bagi Tuhan” berkaca pada apa
yang dilakukan oleh Miryam di Keluaran 15 ini. Bernyanyi bagi Tuhan di teks
firman Tuhan saat ini adalah upaya Miryam untuk mengangkat semangat para
perempuan di sana. Sekalipun perempuan Yahudi secara budaya adalah pihak yang
termarjinalkan, dan secara luka batin adalah mereka yang berduka karena
kehilangan darah daging yang keluar dari rahimnya, tapi semua itu tidak dapat
merebut kuasa Allah yang luar biasa di tengah kehidupan, termasuk membebaskan
mereka dari perbudakan Mesir.
Sehingga, kita yang
menjadi umat percaya di masa kini dapat menghayati bagaimana cara kita
memuliakan Tuhan dengan puji-pujian setiap harinya, maupun setiap minggunya di
dalam ibadah. Bahwa, ketika kita bernyanyi memuji Tuhan, sesungguhnya, kita
tidak hanya memuji kebesaran nama Tuhan melalui lantunan lagu itu, tetapi juga
kita solider pada mereka yang diliputi perasaan sedih dan dukacita, yang butuh
dikuatkan melalui karya Allah yang diceritakan dalam lagu itu.
Kita dapat mengambil
contoh sebagai bagian penutup di dalam ibadah ini :
1. KJ.388, “S’lamat di Tangan Yesus”
S’lamat di tangan Yesus, aman pelukan-Nya; dalam teduh kasih-Nya aku
bahagia. Lagu merdu malaikat olehku terdengar dari neg’ri mulia: damai
sejahtera. S’lamat di tangan Yesus, aman pelukan-Nya; dalam teduh kasih-Nya aku
bahagia.
Bagaimana suasana lagu itu? Bahagia? Senang? Secara lirik dan komposisi nada, Ya betul. Tetapi, secara kisah di balik lagu, itu merupakan lagu sedih. Fanny Crossby menikah tahun 1858 dengan Alexander van Alstynem seorang tuna netra dan juga pemusik. Tahun 1859, putrinya lahir namun meninggal dalam tidur setelah lahir. Kematian putrinya tersebut menginspirasi Fanny menulis syair lagu” Safe in the Arms of Jesus”
2. KJ.392, “Ku Berbahagia Yakin Teguh”
‘Ku berbahagia, yakin teguh: Yesus abadi kepunyaanku! Aku waris-Nya, ‘ku
ditebus, ciptaan baru Rohul kudus. Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus
selamanya. Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
Bagaimana suasana di dalam lagu ini? Ya, lagu ini menceritakan tentang kebahagiaan bila bersama dengan Yesus. Tetapi, lagu ini juga adalah lagu kesedihan dari seorang yang dunianya diliputi kegelapan. Fanny Crosby adalah seorang bayi perempuan lahir di desa Brewster, daerah bagian utara kota New York. Hari itu tepat tanggal 24 Maret 1820. Saat usianya baru 6 minggu, dia mengalami demam. Namun karena salah penanganan dokter, kedua matanya menjadi buta. Di tahun itu juga, ayahnya, meninggal dunia hingga bayi kecil itu hanya diasuh ibu dan neneknya.Saat usianya 5 tahun,melalui pemeriksaan dokter diketahui matanya tidak bisa dioperasi dan kebutaannya bersifat permanen.Sejak itu gadis kecil itu menjalani hidupnya dalam kegelapan. Bertumbuh besar dan dewasa menikah dengan pria tunanetra juga, tetapi anak mereka pada saat itu langsung meninggal dunia. Suatu kisah tragis dari seseorang yang dunianya diliputi kegelapan. Tetapi, Fanny Crosby tetap kuat di dalam imannya kepada Kristus. Ia bersaksi, “This is my story, this is my song. Praising my Savior all the day long”
Demikian juga dengan
banyak lagu lainnya di antaranya Pass Me Not, O Gentle Savior (KJ No. 26, Mampirlah
Dengar Doaku), All The Way My Savior Leads Me (KJ 408 Di Jalanku Ku Diiring), I
Must Have The Savior With Me (KJ 402 Kuperlukan Juru’Slamat), Jesus, Keep Me
Near The Cross (KJ 368 Pada Kaki Salimu), dll.
Ketika menyanyikan himne
ini kita diajak untuk solider kepada kisah Fanny Crosby sebagai disabilitas
yang dirundung kemalangan, sembari kita menguatkan mereka yang sedang di dalam
kesulitan hidup yang membutuhkan lawatan kuasa Allah yang luar biasa hebat yang
diceritakan di dalam lagu itu.
Sehingga, minggu
Kantante pada saat ini mengajak kita, “Bernyanyilah Bagi Tuhan”. Amin.
Selasa, 09 Maret 2021
MELESTARIKAN BUDAYA (Ayub 42:7-17)
Ini terlihat dari cerita Ayub yang menjadi bagian dari teks kita di Minggu ini. Ayub diceritakan Alkitab diuji oleh iblis dengan seizin Tuhan untuk melihat sejauh mana kesetiaan Ayub yang tanpa cela itu kepada Allah. Segala malapetaka pun ditimpakan pada Ayub. Hidup Ayub yang awalnya sangat kaya raya dan sangat sejahtera itu perlahan-lahan mulai direnggut satu per satu. Dalam budaya Timur, rasa prihatin dan kesetiakawanan sangat kuat di antara masyarakatnya. Para sahabat Ayub pun datang menjenguk Ayub untuk mengucapkan belasungkawa dan menghiburnya (Ayb.2:11). Dalam tradisi masyarakat konteks Ayub, para penjenguk hanya bisa menangis dan meratap sejadi-jadinya, mereka belum bisa angkat bicara pada sahabatnya yang berduka (Ayb.2:12-13). Melihat para sahabatnya yang sudah datang untuk menangis bersama, Ayub pun mulai meratapi dirinya (Ayb.3). Tapi, entah mengapa tiba-tiba Elifas angkat bicara atas Ayub. Apologi Elifas adalah tak seorang pun dapat menutup mulutnya memberikan teguran pada Ayub (Ayb.4:1-2). Tindakan Elifas yang menegur Ayub ini sangat tidak sesuai dengan nilai budaya pada saat itu. Bahkan, hal itu cenderung merendahkan martabat Ayub yang tidak dihargai lagi oleh sahabatnya.
Teguran Elifas pada Ayub berisikan tentang analisa dan penilaiannya akan alasan malapetaka yang terjadi atas Ayub, sahabatnya. Elifas orang Tēman menganalisa dan menilai sesungguhnya malapetaka itu datang hanya pada orang yang telah berbuat jahat saja dan orang baik pasti dilindungi-Nya (Ayb.4-5). Teguran ini membuat Ayub menjadi sangat kecewa pada sahabatnya. Ayub sendiri membangun apologi teologis bahwa ia sendiri tidak pernah mengerti jalan keputusan Allah atas hidup manusia. Ayub mengakui salahnya di hadapan Tuhan, bahwa ia telah lancang berbicara tentang Tuhan tanpa pengetahuan. Sehingga, segala perkataan Ayub tentang Tuhan Allah, termasuk pembelaan dirinya di hadapan Allah, dalam penyesalan dicabutnya (Ayb.42:1-6). Tunduknya Ayub pada nasib hidupnya oleh Tuhan Allah membuat kondisinya dipulihkan. Karena, Ayub telah membuktikan kesetiaan imannya bahwa ia beribadah dan tunduk kepada Allah bukan karena harta benda, materi, kesehatan, nama baik, dan segala kemahsyuran dunia.
Akan tetapi, Allah mengecam Elifas orang Tēman beserta dua orang temannya yang telah salah berbicara tentang siapa Allah. Mereka tidak seperti Ayub yang berhati-hati berbicara tentang Allah di dalam segala keterbatasan pengetahuan mereka akan siapa Tuhan Allah itu. Tuhan Allah pun mensyaratkan pada Elifas dan temannya, kalau mereka dimaafkan-Nya bila persembahan pengampunan dosa dan minta maaf mereka sudah diterima Ayub (Ayb.42:7-9). Dan, Ayub sebagai orang yang hidup dalam budaya Timur ternyata memaafkan mereka sehingga Tuhan Allah pun turut memaafkan Elifas dan temannya. Ayub pun mendoakan sahabat-sahabatnya. Kehidupan Ayub dipulihkan kembali oleh Tuhan Allah. Semua saudara dan teman lamanya datang menjengguk Ayub dan memberikan perhiasan dan uang padanya (ay.10-17).
Pesan firman Tuhan pada minggu ini bila dikaitkan dengan tema kita adalah perlunya kita melestarikan budaya yang baik di sekitar kita. Misalnya, dalam konteks Ayub, sebagai orang Timur, kita tidak baik terlalu banyak bicara ketika ada orang yang sedang berduka, apalagi sampai menegur dan menyakiti hati mereka. Kemudian, kita sebagai umat percaya juga harus berhati-hati di dalam menjelaskan tentang siapa Tuhan Allah. Pengetahuan kita akan Dia itu sangat terbatas adanya. Terakhir, sifat memaafkan seperti Ayub pada sahabatnya adalah suatu budaya Timur yang sangat sesuai dengan firman Tuhan
Sabtu, 10 Oktober 2020
KEPEMIMPINAN YANG MENGHAMBA (Mrk.10:35-45)
Kitab Markus merupakan kitab Injil Sinoptik tertua, yang diperkirakan ditulis tahun 35-40 ZB (Zaman Bersama). Secara ketatabahasaan, kitab Markus ditulis dengan bahasa yang sangat sederhana, sehingga pesannya terlihat jelas. Salah satu tema yang jelas dapat kita lihat dari kitab Markus ini adalah tentang gambaran dari Yesus sebagai seorang Hamba yang menderita. Dan, tema kitab Markus ini sangat mengena dengan tema minggu saat ini, “Kepemimpinan yang Menghamba” di mana teks dirujuk dari Markus 10. Di awal perikop nas kita minggu ini, ada situasi menarik yang bisa kita perhatikan di mana Yakobus dan Yohanes datang menghadap Yesus agar mereka ditempatkan di sebelah kanan dan di sebelah kiri-Nya ketika Dia datang dalam kemuliaan kelak (ay.37). Permintaan ini dinyatakan Yohanes dan Yakobus secara personal/pribadi. Kita bisa lihat bagaimana Alkitab menerangkan kalau mereka mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya akan suatu permohonan (ay.35). Yesus sebagai seorang Pemimpin dan Guru dari para murid terlihat sangat akrab dengan mereka. Yesus mau menawarkan apa yang bisa dilakukan-Nya untuk membantu Yohanes dan Yakobus (ay.36).
Namun, Yesus melihat
permintaan dari Yohanes dan Yakobus itu tidak rasional. Pertama-tama, Yesus
mengatakan “Kamu tidak tahu apa yang kamu
minta”. Mengapa Yesus mengatakan demikian? Bagaimana tidak! Yesus baru
memberitahukan tentang penderitaan yang akan dialami-Nya. Bahwa, Dia akan
diadili dan dijatuhi hukuman mati. Sebagai manusia, siapa yang tidak tertekan
mengetahui hari kematiannya sudah mendekat? Sekalipun pada akhirnya akan bangkit,
tetapi Yesus harus melewati penderitaan yang sangat mengerikan, sadis, dan
melampaui batas kemanusiaan-Nya. Bisa-bisanya Yohanes dan Yakobus mengatakan, kalau
Dia nanti bangkit dari kematian agar mereka ditempatkan di sebelah kiri dan
kanan-Nya. Mereka bukannya bersimpatik pada beban Yesus, malah mencari celah
untuk kepentingan pribadi mereka sendiri. Karenanya, Yesus mencoba untuk
mengkonfirmasi, sekiranya mereka bertukar posisi, apakah mereka sanggup minum
cawan dan dibaptis dengan baptisan yang diterima-Nya (ay.38). Yang dimaksudkan
Yesus di sana adalah bisakah Yohanes dan Yakobus menerima nasib buruk
(dilambangkan dengan cawan) dan dituduhkan sebagai seorang berdosa dan hina
sekalipun tidak melakukan semua itu (dilambangkan dengan baptisan pertobatan
oleh Yohanes Pembaptis).
Satu nilai positif dari
Yohanes dan Yakobus adalah mereka seorang yang percaya diri. Tanpa ragu, mereka
menjawab, “Kami dapat”. Hal ketiga
yang disampaikan Yesus pada mereka, “kalau mereka dapat, maka mereka akan meminum cawan itu dan dibaptis dengan baptisan Yesus oleh Yohanes
Pembaptis itu”. (ay.39). Akan
tetapi, hal keempat yang disampaikan Yesus kalau di dalam Kerajaan Allah tidak
ada orang dalam, karena itu bukan hak peyoratif dari Yesus, tetapi Bapa saja
(ay.40). Perbincangan Yesus dengan Yohanes dan Yakobus pun terdengar oleh
kesepuluh murid lainnya. Wajar mereka marah, karena Yohanes dan Yakobus malah
mencari kesempatan dalam kesempitan, mau menang sendiri, tidak setia kawan, dan
sangat egois (ay.41). Yesus pun melerai pertengkaran di antara para murid dan
memberikan pengajaran penting sebelum Dia meninggalkan mereka semua sendirian
di tengah dunia. Yesus menegaskan supaya mereka jangan sama seperti pemerintah
dan penguasa dunia yang memerintah dengan tangan besi dan kekerasan di dalam
menjalankan tugas pemberitaan Kerajaan Allah.
Akan tetapi, mereka harus mau menjadi pelayan di dalam kebesaran, serta menjadi hamba di dalam ketermukaan (ay.42-44). Yesus memesankan hal itu
pada para murid karena Dia telah terlebih dahulu melakukannya. Di dalam
kemuliaan-Nya, Dia datang ke dunia untuk melayani manusia berdosa, menyerahkan
nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (ay.45).



