Tampilkan postingan dengan label Alkitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alkitab. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Mei 2022

Bernyanyilah bagi Tuhan (Why.4:8-11, Khotbah Epistel Minggu Kantate)


 

 

4:8 Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang." 4:9 Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya, 4:10 maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata: 4:11 "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan."

 

Pendahuluan

Wahyu Yohanes sejatinya dialamatkan pada ketujuh jemaat Kristen di Asia (Why.1:4). Saat itu, umat Tuhan berada di bawah kolonialisme Romawi, termasuk Yohanes berada di pulau Patmos oleh karena pengasingan akibat dicurigai sebagai pemberontak. Kekristenan kala itu dianggap sebagai potensi bahaya, sebab Kristus yang menjadi pusat beriman umat percaya dipuja sebagai Mesias yang diutus oleh Allah. Kita tahu kalau Mesias itu merupakan jabatan politis di bangsa Israel yang memiliki tugas untuk membebaskan umat-Nya dari belenggu penjajahan, seperti dari perbudakan Mesir dan pembuangan Babel. Penindasan Kaisar Romawi yang begitu beringas membuat umat Tuhan menjadi sangat menderita. Untuk itu, Yohanes harus tetap memberikan motivasi dan semangat untuk mereka yang dirundung ketakutan dan ketidakpastian. Apabila menulis secara terbuka, surat Yohanes dari pulau Patmos pasti akan dihanguskan oleh pemerintah kolonial Romawi. Untuk itu, Yohanes mencoba menuliskan sebuah surat dari pembuangannya di Patmos dengan gaya kesusastraan di masa itu. Sehingga, kolonial Romawi melihat surat Yohanes ini sebagai karya seni sastra yang indah.

Kesulitan kita sebagai umat percaya di masa kini dalam membaca surat Yohanes dari Patmos tentu dilatarbelakangi konteks yang berkembang sesuai zamannya. Misalnya saja, anak di masa kini tidak tahu bagaimana berjuangnya untuk berkomunikasi di era masa lampau, ketika handphone dan internet tidak sepesat saat ini. Mengirim uang dengan menggunakan wesel pos. Memberikan kabar untuk kerabat di luar kota melalui sepucuk surat yang sampainya berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Mereka pasti bingung ketika kita menceritakan perihal “antrean di Wartel” atau “perangko pos untuk luar kota”. Demikian juga dengan konteks metafora yang digunakan dalam surat Wahyu ini, kita sangat terbatas pemahaman tentang istilah yang berkembang kala itu. Ada jarak waktu yang sangat jauh yang menjadi jurang antara pembaca di saat itu dengan kita di masa kini. Akan tetapi, tafsiran kitab Wahyu pada saat ini sudah sangat berkembang. Setidaknya ada enam pendekatan yang diketahui dan diakui dalam kajian teologis terhadap teks Wahyu ini, yaitu : Praeter, Historis, Futuris, Triumfalis, Idealis, dan Perspektif. Tafsiran teks saat ini merupakan kolaborasi dari pendekatan Prater (peristiwa masa lalu), Futuris (peristiwa masa depan), dan Triumfalis (peristiwa masa lalu yang akan terjadi di masa depan)

 

Pembahasan

4:8 Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang." 4:9 Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya

Persoalan dalam bagian ini adalah siapa keempat makhluk yang masing-masing bersayap enam itu? Sebelumnya, Yohanes menggambarkan bagaimana rupa keempat makhluk itu, “Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, dan makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan makhluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang.” (ay.7). Apabila kita membaca kitab Yehezkiel (1:5, 6, 7, 8, 10; 10:1-21), penglihatan itu sama dengan yang ada di teks Wahyu. Sekalipun demikian, para ahli PB berbeda pandangan tentang siapa mereka. Ada yang mengatakan keempat makhluk itu merupakan empat penjuru alam dan perbintangan utama di dalam zodiak, dan keenam sayapnya masing-masing menjelaskan akan kecepatan, kekuatan, dan kercerdasannya. Ahli PB lain menjelaskan keempat makhluk itu melambangkan tatanan malaikat di surga di mana ada yang punya kekuatan seperti singa, ada juga yang punya pelayanan sebagaimana anak lembu melayani tuannya, ada juga yang memiliki kecerdasan dan kemampuan seperti manusia, serta ada juga yang punya ketajaman penglihatan seperti burng nazar.

Setidaknya dari penjelasan ahli PB tadi, kita dapat mengambil suatu gambaran umum kalau keempat makhluk itu merupakan representasi makhluk dari atas/surga di dalam memuji-muji Tuhan di dalam kekudusan-Nya. Mereka ini ciptaan juga sebagaimana manusia yang diciptakan-Nya. Nyanyian mereka ini dikenal dalam bahasa Yunani dengan nama trihagion atau di dalam bahasa Latin disebut dengan sanctus. Suatu pujian yang sangat kuat sekali menegaskan kekudusan Allah yang berbeda dari manusia ciptaan, sampai diulangi sebanyak tiga kali, yang dapat juga kita pahami sebagai persekutuan Allah, Yesus, dan Roh Kudus.

Pokok Teologis : Makhluk di Surga Memuji-muji Kekudusan Allah yang Kekal

 

4:10 maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata: 4:11 "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan."

Di sini persoalan yang harus dipecahkan adalah siapa kedua puluh empat tua-tua yang ada pada teks kita. Di ayat sebelumnya, ada disinggung tentang kedua puluh empat tua-tua itu. “Dan sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka. Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh” (ay.4-5a). Para penafsir teks PB juga beragam menafsirkan ke dua puluh empat tua-tua ini. Ada yang mengatakan bahwa ini merupakan metafora untuk pembagian imam dalam tradisi Perjanjian Lama (PL) yang dibagikan ke dalam 24 rombongan/kelompok. Kita mengetahui di dalam Alkitab kalau ayah dari Yohanes Pembaptis merupakan seorang imam yang mewakili bangsa Israel untuk mempersembahkan kurban persembahan di Bait Allah (Luk.1:8). Mereka dirotasi dalam melakukan tugasnya. Jadi, kita patut mempertimbangkan ke-24 tua-tua ini merupakan representasi dari para imam yang memberikan persembahan kepada Allah. Ada ahli lain yang menafsirkan mereka ini merupakan represntasi malaikan surgawi untuk memberikan persembahan kepada Tuhan. Tetapi, tafsiran ini sangat lemah sekali. Ada tafsiran lain yang layak dipertimbangkan yaitu kedua puluh empat tua-tua ini merupakan orang kudus  yang telah memenangkan pertandingan iman di PL dan PB. Ini bisa jadi hal yang sangat dekat bila kita merujuk pada mahkota emas yang ada di kepala. Mahkota emas bukanlah tanda pemegang kerajaan, tetapi tanda yang sering diberikan pada mereka yang memenangkan suatu pertandingan olahraga.

Dari pendekatan tafsiran yang ada ini, kita dapat mengambil gambaran umum untuk teks di ayat 10-11 ini bahwa segala ciptaan yang ada di bumi pun turut memuji-muji Tuhan dan memberikan persembahan kepada-Nya.

Pokok Teologis : Mahkluk di Bumi Memuji-muji Kebesaran Allah Pencipta

 

Refleksi-Aplikasi

1.       Makhluk di surga memuji-muji kekudusan Allah yang kekal

Turut sertanya makhluk surga memuji kekudusan Allah menggambarkan bagaimana kekuasaan Allah sangat nyata di surga. Dia adalah Allah yang kekal yang tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Apabila kita pernah membaca laporan berita astrofisika tentang alam semesta, kita akan dibuat takjub betapa waktu itu sangat relatif di luar angkasa. Untuk itu, ruang pun menjadi sangat subjektif. Teori Big Bang menjelaskan kalau alam semesta kita ini dikatakan mengembang dari sejak ledakan dahysat terjadi. Dalam keyakinan iman Kristen, kita tahu bahwa sebelum Big Bang itu terjadi Allah telah ada. Karenanya, Allah itu dari kekekalan sampai pada kekekalan. Hukum energi dalam bahasa fisika sederhananya dipahami sebagai sesuatu yang tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Energi hanya mengkonversi bentuknya saja. Demikian juga Allah yang kita imani, Dia tidak diciptakan dan Dia tidak akan berakhir. Dia dapat datang di dalam diri Yesus Kristus dan Roh Kudus sepanjangan pengenalan kita melalui Alkitab. Kekaguman ini juga dirasakan oleh makhluk surga yang mengakui bagaimana kekekalan Allah.  Oleh karenanya, kita sebagai umat percaya yang hidup di bumi harus semakin mengasihi Allah di dalam kekekalan-Nya. Sebab, Allah dengan segala kekuasaan-Nya yang kudus dapat mengatasi langit dan bumi.

 

2.       Makhluk di bumi memuji-muji kebesaran Allah Pencipta

Dalam konteks Yohanes menuliskan surat ini, Kaisar Romawi diperlakukan bak dewa. Tetapi, surat Yohanes ini mengajak kalau pusat penyembahan kita selaku umat percaya hanya diarahkan kepada Allah yang kita kenal di dalam Yesus Kristus saja. Mengapa? Yohanes menegaskan karena Dia adalah Allah Pencipta. Umat percaya karenanya diajak untuk tidak takluk pada kuasa di dunia yang mungkin dapat mencelakakan tubuh dan menghilangkan nyawa. Kita hanya takluk kepada Tuhan Allah saja sebagai Pencipta kita. Di dalam rasa takut dan hormat, tanda kita takluk kepada Allah, kita sesungguhnya sedang memuji-muji kebesaran Allah, Sang Pencipta itu. Kita tidak akan terpisah dari kasih Allah Pencipta. Sebab, kita telah diikat oleh Perjanjian Agung oleh Kristus. Perjanjian ini ditandai dengan pengurbanan Kristus. Oleh darah-Nya, kita diselamatkan-Nya. Untuk itu, kita harus memiliki keberanian di dalam menjalani kehidupan sebagai umat tebusan. Karena, Allah Pencipta akan senantiasa memelihara kehidupan umat -Nya. Inilah yang kita puji di dalam iman kita.

BERNYANYILAH BAGI TUHAN (KHOTBAH MINGGU KANTATE)


Nyanyian Miryam yang menjadi saksi pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir

Ketika kuda Firaun dengan keretanya dan orangnya yang berkuda telah masuk ke laut, maka TUHAN membuat air laut berbalik meliputi mereka, tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut. (Ay.19)

Apabila berbicara tentang puji-pujian di Alkitab, kita langsung merujuk pada malak malaikat dengan sangkakalanya, Daud dengan mazmurnya, Maria dengan doa pujian Magnificatnya, serta penulis kitab Mazmur lainnya seperti Musa dan Asaf. Namun, teks evanggelium kita saat ini berbicara tentang nyanyian yang dilantunkan oleh Miryam. Siapakah Miryam itu? Miryam merupakan saudara dari Musa dan Harun, anak Amran (1.Taw.6:3a). Ia turut menjadi saksi sejarah bangsa Israel yang baru saja keluar dari perbudakan Mesir, ditandai dengan dikuburkannya tentara Firaun bersama kereta perangnya di tengah laut. Puji-pujian Miryam terjadi di sela-sela pujian yang dilantunkan oleh Musa.


Miryam, seorang nabiah, larut di dalam lantunan pujian “orang tertebus” Musa

Lalu Miryam, nabiah itu, saudara perempuan Harun, mengambil rebana di tangannya, dan tampillah semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari. (Ay.20)

Kidung yang dinyanyikan Musa ini pastinya sangat indah bentuknya, baik itu lirik maupun komposisi nadanya. Dalam iman, kita yakin bahwa Musa menggubah mazmur “orang tertebus ini” ini di dalam tuntunan Roh Tuhan. Sehingga, mazmur Musa ini menyentuh kedalaman jiwa para pendengarnya. Tidak salah kalau mazmur Musa ini dijadikan bangsa Israel sebagai pujian atau himne ritus yang wajib dinyanyikan ketika hendak memasuki Bait Allah yang kudus.

Miryam pun larut secara emosional di dalam lagu itu. Secara spontan, ia meraih tamborine/rebana untuk mengiringi mazmur Musa, lalu diikuti tari-tarian. Ekspresi penghayatan Miryam ini ternyata berhasil ditularkan pada perempuan yang ada di rombongan keluaran itu. Secara psikologis, musik memang dapat memengaruhi tubuh dengan sangat kuat.  Prof.Rolf Inge Godoy, dkk (University of Oslo) mengeksplor teori mengenai hubungan antara suara musik dan gerakan tubuh. Penelitian ini dipublikasikan di Journal of New Music Research. Berdasarkan teori, kita bisa memahami sesuatu bila secara aktif menirukan gerakan yang terkait dengan gerak sensorik yang sedang coba diproses. Jadi, ketika kita mendengarkan musik, kita cenderung secara mental mensimulasikan gerakan tubuh. Ini bisa dianggap sebagai semacam representasi bentuk.

Miryam seorang pemimpin perempuan karismatik yang berhasil mentransferkan spirit pembebasannya pada para perempuan yang berbeban berat

Dan menyanyilah Miryam memimpin mereka: ”Menyanyilah bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur; kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut.” (Ay.21)

Tidak hanya berhasil mengajak para perempuan berekspresi dan menari, Miryam juga berhasil mengajak perempuan di sana untuk menyanyi. Tidak mudah untuk mengajak perempuan di sana bernyanyi, sebab mereka adalah sosok yang mungkin paling menderita. Budaya patriakhi bangsa Yahudi, membuat para perempuan sebagai warga kelas dua. Belum lagi status perbudakan Mesir, yang banyak sekali memberikan penderitaan pada mereka, salah satunya adalah kehilangan anak laki-laki mereka ketika Firaun memerintahkan untuk membunuh bayi-bayi laki-laki bangsa Israel yang lahir. Ada dua hal secara teoritis yang membuat Miryam berhasil masuk ke sisi emosional terdalam para perempuan, yaitu:

1.    Visi suara kenabian yang kuat dari Miryam

Miryam disebut dengan nabiah. Ini suatu jabatan kepemimpinan yang besar dicatatkan Alkitab atas seorang perempuan. Jabatan yang diemban oleh Miryam bukan tanpa sebab. Catatan Keyahudian, Sotah 12a menceritakan, suara kenabian Miryam sudah terlihat sejak ia kecil. Miryam mendesak ayahnya tidak menceraikan ibunya karena dalam visinya ia melihat ibunya akan melahirkan seorang anak yang akan menjadi pembebas atas Israel. Ketika ada perintah dari Firaun untuk membunuh bayi laki-laki Israel, ayahnya memarahi dan mempertanyakan visi yang ada di dalam diri Miryam. Sekalipun demikian, ia tetap teguh dalam visinya yang ia tahu berasal dari Tuhan. Ia pun memberontak dari perintah Firaun.

 

2.    Semangat “pemberontakan” Miryam yang memotivasi para perempuan

Chana Weisberg, seorang tokoh gerakan feminis Yahudi, mencoba untuk membantu kita mengerti fenomena keberhasilan Miryam memengaruhi perempuan Israel yang ada di dalam rombongan Keluaran dari perbudakan Mesir. Ia melihat bahwa perempuan di sana merasakan solidaritas “pemberontakan” yang dilakukan oleh Miryam. Secara etimologis, nama Miryam tidak hanya berarti pahit/berbeban berat (akar kata “Mar”), tapi juga pemberontak (akar kata “Mir”). Memang, Alkitab dalam beberapa episode pernah menyorot kehidupan Miryam yang tidak jarang terlihat berani sekali melawan arus utama. Ia memberontak atas putusan Firaun yang memerintahkan agar seluruh rakyatnya membuang bayi laki-laki Israel ke sungai Nil (Kel.1:22, Kel.2:4-9). Kuatnya prinsip Miryam ini menjadikannya sebagai pemimpin perempuan yang direkomendasikan Allah di tengah bangsa Israel kala itu (Mi.6:4). Sayangnya,  pemberontakan Miryam ini dianggap kelewat batas sehingga Allah menghukumnya. Miryam mempertanyakan putusan Musa yang mengambil perempuan Kush. Bagi Miryam, posisi Musa bukan tanpa kritik karena Harun dan dirinya juga merupakan sarana Tuhan menyampaikan firman-Nya. Hal ini di mata Tuhan bukan sesuatu yang baik. Ia pun ditimpakan penyakit kusta (Bil.12). Walaupun begitu, terlepas dari paradoks pemberontakannya, Miryam tetap mengambil posisi kepemimpinan spiritualitas yang sangat baik di tengah-tengah perempuan bangsa Israel.

Refleksi Aplikasi:

Sekian jauh pembahasan kita tentang Miryam dan keberhasilannya memengaruhi perempuan di sana untuk bernyanyi, berdendang, dan menari, apa yang dapat kita refleksikan dan aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari?

Ternyata, kita mendapatkan suatu makna baru di dalam “Bernyanyi bagi Tuhan” berkaca pada apa yang dilakukan oleh Miryam di Keluaran 15 ini. Bernyanyi bagi Tuhan di teks firman Tuhan saat ini adalah upaya Miryam untuk mengangkat semangat para perempuan di sana. Sekalipun perempuan Yahudi secara budaya adalah pihak yang termarjinalkan, dan secara luka batin adalah mereka yang berduka karena kehilangan darah daging yang keluar dari rahimnya, tapi semua itu tidak dapat merebut kuasa Allah yang luar biasa di tengah kehidupan, termasuk membebaskan mereka dari perbudakan Mesir.

Sehingga, kita yang menjadi umat percaya di masa kini dapat menghayati bagaimana cara kita memuliakan Tuhan dengan puji-pujian setiap harinya, maupun setiap minggunya di dalam ibadah. Bahwa, ketika kita bernyanyi memuji Tuhan, sesungguhnya, kita tidak hanya memuji kebesaran nama Tuhan melalui lantunan lagu itu, tetapi juga kita solider pada mereka yang diliputi perasaan sedih dan dukacita, yang butuh dikuatkan melalui karya Allah yang diceritakan dalam lagu itu.

Kita dapat mengambil contoh sebagai bagian penutup di dalam ibadah ini :

1.       KJ.388, “S’lamat di Tangan Yesus”

S’lamat di tangan Yesus, aman pelukan-Nya; dalam teduh kasih-Nya aku bahagia. Lagu merdu malaikat olehku terdengar dari neg’ri mulia: damai sejahtera. S’lamat di tangan Yesus, aman pelukan-Nya; dalam teduh kasih-Nya aku bahagia.

Bagaimana suasana lagu itu? Bahagia? Senang? Secara lirik dan komposisi nada, Ya betul. Tetapi, secara kisah di balik lagu, itu merupakan lagu sedih. Fanny Crossby menikah tahun 1858 dengan Alexander van Alstynem seorang tuna netra dan juga pemusik. Tahun 1859, putrinya lahir namun meninggal dalam tidur setelah lahir. Kematian putrinya tersebut menginspirasi Fanny menulis syair lagu” Safe in the Arms of Jesus”

2.       KJ.392, “Ku Berbahagia Yakin Teguh”

‘Ku berbahagia, yakin teguh: Yesus abadi kepunyaanku! Aku waris-Nya, ‘ku ditebus, ciptaan baru Rohul kudus. Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya. Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

Bagaimana suasana di dalam lagu ini? Ya, lagu ini menceritakan tentang kebahagiaan bila bersama dengan Yesus. Tetapi, lagu ini juga adalah lagu kesedihan dari seorang yang dunianya diliputi kegelapan.  Fanny Crosby adalah seorang bayi perempuan lahir di desa Brewster, daerah bagian utara kota New York. Hari itu tepat tanggal 24 Maret 1820. Saat usianya baru 6 minggu, dia mengalami demam. Namun karena salah penanganan dokter, kedua matanya menjadi buta. Di tahun itu juga, ayahnya, meninggal dunia hingga bayi kecil itu hanya diasuh ibu dan neneknya.Saat usianya 5 tahun,melalui pemeriksaan dokter diketahui matanya tidak bisa dioperasi dan kebutaannya bersifat permanen.Sejak itu gadis kecil itu menjalani hidupnya dalam kegelapan. Bertumbuh besar dan dewasa menikah dengan pria tunanetra juga, tetapi anak mereka pada saat itu langsung meninggal dunia. Suatu kisah tragis dari seseorang yang dunianya diliputi kegelapan. Tetapi, Fanny Crosby tetap kuat di dalam imannya kepada Kristus. Ia bersaksi, “This is my story, this is my song. Praising my Savior all the day long”

Demikian juga dengan banyak lagu lainnya di antaranya Pass Me Not, O Gentle Savior (KJ No. 26, Mampirlah Dengar Doaku), All The Way My Savior Leads Me (KJ 408 Di Jalanku Ku Diiring), I Must Have The Savior With Me (KJ 402 Kuperlukan Juru’Slamat), Jesus, Keep Me Near The Cross (KJ 368 Pada Kaki Salimu), dll.

Ketika menyanyikan himne ini kita diajak untuk solider kepada kisah Fanny Crosby sebagai disabilitas yang dirundung kemalangan, sembari kita menguatkan mereka yang sedang di dalam kesulitan hidup yang membutuhkan lawatan kuasa Allah yang luar biasa hebat yang diceritakan di dalam lagu itu.

Sehingga, minggu Kantante pada saat ini mengajak kita, “Bernyanyilah Bagi Tuhan”. Amin.

 

Khotbah di GKPI Menteng, Ressort Jakarta Raya-2

15 Mei 2022

 

 

 

 

Selasa, 09 Maret 2021

MELESTARIKAN BUDAYA (Ayub 42:7-17)

Koentjoroningrat, Bapak Antropologi Indonesia, mendefinisikan Kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Kata “belajar” di akhir definisi kebudayaan itu sangat erat kaitannya dengan pemikiran konstruksi sosial  di mana pemahaman kita akan dunia ini bertalian erat dengan aktivitas “ajar-mengajar” pada orang dan tempat yang spesifik. Beberapa minggu lalu, kita sudah dihadapkan oleh Firman Tuhan yang menyoroti bagaimana lingkungan kita mengajarkan kita tentang konstruksi sosial pada perempuan dan laki-laki, padahal Alkitab menjelaskan laki-laki dan perempuan itu pasangan yang sepadan sehingga mereka menjadi Setara di Hadapan Tuhan. Proses bekerjanya suatu budaya adalah demikian. Ia berdasarkan hasil karya budi dan daya manusia yang diturunkan dan diajarkan turun-temurun. Karena itu, budaya tidak hanya berkenaan dengan tari-tarian, bahasa, makanan, dan pemahaman umum di tengah masyarakat lainnya. Akan tetapi, budaya juga terkait dengan cara pandang, cara pikir, bahkan cara bertindak seseorang. Hal paling sederhananya saja sebagai contoh adalah budaya Timur yang dipandang lebih mengedepankan tata krama, sopan-santun, dan keramahtamahan.

Ini terlihat dari cerita Ayub yang menjadi bagian dari teks kita di Minggu ini. Ayub diceritakan Alkitab diuji oleh iblis dengan seizin Tuhan untuk melihat sejauh mana kesetiaan Ayub yang tanpa cela itu kepada Allah. Segala malapetaka pun ditimpakan pada Ayub. Hidup Ayub yang awalnya sangat kaya raya dan sangat sejahtera itu perlahan-lahan mulai direnggut satu per satu. Dalam budaya Timur, rasa prihatin dan kesetiakawanan sangat kuat di antara masyarakatnya. Para sahabat Ayub pun datang menjenguk Ayub untuk mengucapkan belasungkawa dan menghiburnya (Ayb.2:11). Dalam tradisi masyarakat konteks Ayub, para penjenguk hanya bisa menangis dan meratap sejadi-jadinya, mereka belum bisa angkat bicara pada sahabatnya yang berduka (Ayb.2:12-13). Melihat para sahabatnya yang sudah datang untuk menangis bersama, Ayub pun mulai meratapi dirinya (Ayb.3). Tapi, entah mengapa tiba-tiba Elifas angkat bicara atas Ayub. Apologi Elifas adalah tak seorang pun dapat menutup mulutnya memberikan teguran pada Ayub (Ayb.4:1-2). Tindakan Elifas yang menegur Ayub ini sangat tidak sesuai dengan nilai budaya pada saat itu. Bahkan, hal itu cenderung merendahkan martabat Ayub yang tidak dihargai lagi oleh sahabatnya.

Teguran Elifas pada Ayub berisikan tentang analisa dan penilaiannya akan alasan malapetaka yang terjadi atas Ayub, sahabatnya. Elifas orang Tēman menganalisa dan menilai sesungguhnya malapetaka itu datang hanya pada orang yang telah berbuat jahat saja dan orang baik pasti dilindungi-Nya (Ayb.4-5). Teguran ini membuat Ayub menjadi sangat kecewa pada sahabatnya. Ayub sendiri membangun apologi teologis bahwa ia sendiri tidak pernah mengerti jalan keputusan Allah atas hidup manusia. Ayub mengakui salahnya di hadapan Tuhan, bahwa ia telah lancang berbicara tentang Tuhan tanpa pengetahuan. Sehingga, segala perkataan Ayub tentang Tuhan Allah, termasuk pembelaan dirinya di hadapan Allah, dalam penyesalan dicabutnya (Ayb.42:1-6).  Tunduknya Ayub pada nasib hidupnya oleh Tuhan Allah membuat kondisinya dipulihkan. Karena, Ayub telah membuktikan kesetiaan imannya bahwa ia beribadah dan tunduk kepada Allah bukan karena harta benda, materi, kesehatan, nama baik, dan segala kemahsyuran dunia.

Akan tetapi, Allah mengecam Elifas orang Tēman beserta dua orang temannya yang telah salah berbicara tentang siapa Allah. Mereka tidak seperti Ayub yang berhati-hati berbicara tentang Allah di dalam segala keterbatasan pengetahuan mereka akan siapa Tuhan Allah itu. Tuhan Allah pun mensyaratkan pada Elifas dan temannya, kalau mereka dimaafkan-Nya bila persembahan pengampunan dosa dan minta maaf mereka sudah diterima Ayub (Ayb.42:7-9). Dan, Ayub sebagai orang yang hidup dalam budaya Timur ternyata memaafkan mereka sehingga Tuhan Allah pun turut memaafkan Elifas dan temannya. Ayub pun mendoakan sahabat-sahabatnya. Kehidupan Ayub dipulihkan kembali oleh Tuhan Allah. Semua saudara dan teman lamanya datang menjengguk Ayub dan memberikan perhiasan dan uang padanya (ay.10-17). 

Pesan firman Tuhan pada minggu ini bila dikaitkan dengan tema kita adalah perlunya kita melestarikan budaya yang baik di sekitar kita. Misalnya, dalam konteks Ayub, sebagai orang Timur, kita tidak baik terlalu banyak bicara ketika ada orang yang sedang berduka, apalagi sampai menegur dan menyakiti hati mereka. Kemudian, kita sebagai umat percaya juga harus berhati-hati di dalam menjelaskan tentang siapa Tuhan Allah. Pengetahuan kita akan Dia itu sangat terbatas adanya. Terakhir, sifat memaafkan seperti Ayub pada sahabatnya adalah suatu budaya Timur yang sangat sesuai dengan firman Tuhan 


 

Sabtu, 10 Oktober 2020

KEPEMIMPINAN YANG MENGHAMBA (Mrk.10:35-45)


Kitab Markus merupakan kitab Injil Sinoptik tertua, yang diperkirakan ditulis tahun 35-40 ZB (Zaman Bersama). Secara ketatabahasaan, kitab Markus ditulis dengan bahasa yang sangat sederhana, sehingga pesannya terlihat jelas. Salah satu tema yang jelas dapat kita lihat dari kitab Markus ini adalah tentang gambaran dari Yesus sebagai seorang Hamba yang menderita. Dan, tema kitab Markus ini sangat mengena dengan tema minggu saat ini, “Kepemimpinan yang Menghamba” di mana teks dirujuk dari Markus 10. Di awal perikop nas kita minggu ini, ada situasi menarik yang bisa kita perhatikan di mana Yakobus dan Yohanes datang menghadap Yesus agar mereka ditempatkan di sebelah kanan dan di sebelah kiri-Nya ketika Dia datang dalam kemuliaan kelak (ay.37). Permintaan ini dinyatakan Yohanes dan Yakobus secara personal/pribadi. Kita bisa lihat bagaimana Alkitab menerangkan kalau mereka mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya akan suatu permohonan (ay.35). Yesus sebagai seorang Pemimpin dan Guru dari para murid terlihat sangat akrab dengan mereka. Yesus mau menawarkan apa yang bisa dilakukan-Nya untuk membantu Yohanes dan Yakobus (ay.36).

Namun, Yesus melihat permintaan dari Yohanes dan Yakobus itu tidak rasional. Pertama-tama, Yesus mengatakan “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta”. Mengapa Yesus mengatakan demikian? Bagaimana tidak! Yesus baru memberitahukan tentang penderitaan yang akan dialami-Nya. Bahwa, Dia akan diadili dan dijatuhi hukuman mati. Sebagai manusia, siapa yang tidak tertekan mengetahui hari kematiannya sudah mendekat? Sekalipun pada akhirnya akan bangkit, tetapi Yesus harus melewati penderitaan yang sangat mengerikan, sadis, dan melampaui batas kemanusiaan-Nya. Bisa-bisanya Yohanes dan Yakobus mengatakan, kalau Dia nanti bangkit dari kematian agar mereka ditempatkan di sebelah kiri dan kanan-Nya. Mereka bukannya bersimpatik pada beban Yesus, malah mencari celah untuk kepentingan pribadi mereka sendiri. Karenanya, Yesus mencoba untuk mengkonfirmasi, sekiranya mereka bertukar posisi, apakah mereka sanggup minum cawan dan dibaptis dengan baptisan yang diterima-Nya (ay.38). Yang dimaksudkan Yesus di sana adalah bisakah Yohanes dan Yakobus menerima nasib buruk (dilambangkan dengan cawan) dan dituduhkan sebagai seorang berdosa dan hina sekalipun tidak melakukan semua itu (dilambangkan dengan baptisan pertobatan oleh Yohanes Pembaptis).

Satu nilai positif dari Yohanes dan Yakobus adalah mereka seorang yang percaya diri. Tanpa ragu, mereka menjawab, “Kami dapat”. Hal ketiga yang disampaikan Yesus pada mereka, “kalau mereka dapat, maka mereka akan meminum cawan itu dan dibaptis dengan baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis itu”. (ay.39).  Akan tetapi, hal keempat yang disampaikan Yesus kalau di dalam Kerajaan Allah tidak ada orang dalam, karena itu bukan hak peyoratif dari Yesus, tetapi Bapa saja (ay.40). Perbincangan Yesus dengan Yohanes dan Yakobus pun terdengar oleh kesepuluh murid lainnya. Wajar mereka marah, karena Yohanes dan Yakobus malah mencari kesempatan dalam kesempitan, mau menang sendiri, tidak setia kawan, dan sangat egois (ay.41). Yesus pun melerai pertengkaran di antara para murid dan memberikan pengajaran penting sebelum Dia meninggalkan mereka semua sendirian di tengah dunia. Yesus menegaskan supaya mereka jangan sama seperti pemerintah dan penguasa dunia yang memerintah dengan tangan besi dan kekerasan di dalam menjalankan tugas pemberitaan Kerajaan Allah.  Akan tetapi, mereka harus mau menjadi pelayan di dalam kebesaran, serta menjadi hamba di dalam ketermukaan (ay.42-44). Yesus memesankan hal itu pada para murid karena Dia telah terlebih dahulu melakukannya. Di dalam kemuliaan-Nya, Dia datang ke dunia untuk melayani manusia berdosa, menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (ay.45).

Firman Tuhan ini mengajak kita merefleksikan dua hal utama, yaitu: Pertama, soal upah, dalam hal ini keselamatan, biarlah kita serahkan kepada Allah Bapa. Selama kita hidup di dunia ini, kita kuatkan saja iman kita untuk menerima cawan kita dan menghidupi baptisan Yesus. Karena, kita akan dibangkitkan di dalam baptisan-Nya kelak. Kedua, di tengah dunia ini, kita perlu mengingat bahwa tidak ada seorang yang besar tanpa ia melayani, dan tidak ada seorang yang menjadi terkemuka tanpa ia menjadi hamba yang menolong banyak orang yang membutuhkan. Pengosongan diri (Kenosisme) menjadi jalan hidup Yesus, sebagai Anak Manusia. Demikian pula kita, di dalam kehidupan ini, marilah kita bersikap rendah hati pada sesama dan menujukkan kerendahan diri di hadapan Tuhan, Allah Bapa kita. Jangan bertengkar untuk posisi, kehormatan, kekayaan, dan prestasi duniawi lainnya. Karena itu adalah cara kuasa dunia, bukan kuasa dari Kerajaan Allah yang penuh damai, sukacita, dan damai sejahtera.