Tampilkan postingan dengan label Catatan Khotbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Khotbah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Februari 2023

Kekuatan Allah yang Menyelamatkan

(1 Korintus 1:10-18)

Khotbah di GKPI JK.Marantha-Cengkareng, Minggu-III Set.Epiphanias, 22 Januari 2023




 

Bapak, Ibu, Jemaat yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus!

Suatu kali ketika hendak menghadiri acara keluarga di Depok, saya dan istri berdiskusi alot tentang jalan mana yang harus dilewati. Apakah dari toll Pancoran keluar berbelok menuju Pasar Minggu? Atau, terus melalui toll Cijago (Cinere-Jagorawi)? Saya memilih untuk melalui Pasar Minggu. Dan, istri tetap menyarankan melalui toll Cijago. Alasan saya pada saat itu adalah terkadang toll Cijago bisa mendadak macet dan sulit bergerak. Namun, hati kecil saya terbesit alasan bahwa dulunya jalan itu menjadi tempat saya berkendara sehari-hari ketika bekerja sambil kuliah menuju Depok. Sedangkan, alasan istri saya adalah jarak tempuh dan waktu yang lebih singkat ketika melihat estimasi di Google Map. Saya mengambil keputusan untuk melewati Pasar Minggu, menyusuri Kalibata-Volvo-Tj.Barat-Lenteng Agung-Margonda. Sepanjang jalan, sudah dapat dipastikan kalau akan terjadi perdebatan. “Coba kalau lewat toll sudah sampai kita!”. “Ternyata, lebih macet keluar toll”, dll. Saya tetap rileks karena bagi saya lewat jalan mana pun, hasil akhirnya tetap menuju ke Depok.

Dari perdebatan jalan menuju Depok, saya mulai merenungkan bahwa manusia sering memperdebatkan sesuatu yang tujuannya sama. Dalam hal ketertarikan politik, kita bisa saling gontok-gontokkan, sekalipun calon yang diusung sama-sama punya visi memajukan kesejahteraan bangsa. Dalam hal adat/budaya, kita sering saling menyerang kebiasaan yang dilakukan, padahal kita sama-sama ingin nilai adat berjalan dengan baik. Termasuk, dalam hal iman kepada Tuhan, secara khusus umat Kristen, kita sering berkonflik ajaran gereja masing-masing, bahkan bertaruh nyawa, padahal kita sama-sama berdoa dan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus.

 

Bapak, Ibu, Jemaat yang terkasih!

Firman Tuhan saat ini menyoroti tentang nasehat Paulus pada jemaat di Korintus untuk tidak terpecah-pecah. Secara sosiologis, konteks jemaat Kristen di Korintus sudah sangat berbeban berat oleh tekanan eksternal, yaitu kolonialisme Roma. Paulus tidak ingin umat Kristen semakin menderita karena perpecahan yang terjadi di lingkaran internal mereka sendiri. Paulus setuju ketika di tengah masa sulit kehidupan, yang diperlukan sesungguhnya adalah seia-sekata, sehati-sepikir, dan erat bersatu (ay.10).

Paulus mengangkat satu isu bukan karena gossip atau kabar yang tidak jelas. Ia menyebut sumbernya darimana informasi itu didapatkannya, yaitu orang-orang dari keluarga Kloe (ay.11). Siapakah orang-orang dari keluarga Kloe itu? Sepertinya, mereka merupakan orang yang baru bertobat. Dari etimologi nama Kloe merujuk pada seorang ilah mitologi Yunani, yaitu dewi pertanian, anak dari Kronos dan Rhea. Sering disebut juga dengan Demeter. Jika itu benar, maka Kloe merupakan perempuan generasi pertama yang menjadi pengikut Kristus dan menjadi tangan kanan Paulus dalam pemberitaan Injil di kota Korintus. Wajar bila keturunannya pun menjadi informan terpercaya oleh Paulus. Mereka membisikkan pada Paulus kalau perpecahan itu ditenggarai oleh adanya klaim berkubu-kubu, yaitu golongan Paulus, golongan Apolos, golongan Kefas, dan golongan Kristus (ay.12).

Terbagi-baginya kubu dalam pemberitaan Kristus sepertinya sangat besar dipengaruhi oleh pembawaan masing-masing style pemberita Injil itu. Seperti Apolos misalnya, ia seorang Yahudi yang percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Ia berhasil menghimpun banyak orang percaya kepada Kristus adalah Mesias oleh karena kefasihan dalam berbicara, secara khusus penjabaran kitab suci yang membuktikan Kemesiasan Yesus (bnd.Kis.18:24). Wajar bila ada sumber yang menyebutkan pengikut Apolos lebih banyak daripada Paulus, karena Paulus sendiri seorang yang kurang mampu menjelaskan sebaik Apolos. Itu diakui oleh Paulus, “Tetapi aku tidak mau kelihatan seolah-olah aku menakut-nakuti kamu dengan surat-suratku. Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti” (2Kor.10:9-10). Akan tetapi, kelebihan Paulus ada pada ajarannya. “Jikalau aku kurang paham dalam hal berkata-kata,  tidaklah demikian dalam hal pengetahuan; sebab kami telah menyatakannya kepada kamu pada segala waktu dan di dalam segala hal” (2Kor.11:6). Ajaran Paulus sangat lengkap tentang Yesus Kristus, yaitu sampai pada kematian dan kebangkitan-Nya. Sedangkan, Apolos hanya menguasai ajaran dari Yohanes Pembaptis, yaitu persiapan jalan akan kedatangan Yesus Kristus (bnd.Kis.18:25).

 

Kemudian, perbedaan Kefas/Petrus dengan Paulus ada pada soal pendekatan. Paulus memiliki temperamen yang tinggi dan tidak bisa berkompromi dengan sesuatu yang bertentangan pada ideologisnya. Paulus tidak segan untuk berkonfrontasi dengan para Rasul, seperti Petrus. Sebab, ia menilai dirinya tidak kurang dari para murid Yesus. “Tetapi menurut pendapatku sedikitpun aku tidak kurang dari pada rasul-rasul yang tak ada taranya itu” (2Kor.11:5). Puncaknya, Paulus tanpa basa-basi menegur Petrus dengan keras.

Galatia 2:11-14

2:11 Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. 2:12 Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. 2:13 Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. 2:14 Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: "Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi? "

 

Dari teguran keras Paulus itu, kita dapat melihat kalau Petrus sesungguhnya model pelayan yang tidak suka berkonfrontasi dan suka “bermain aman” dari kaum sebangsanya. Petrus seorang pewarta Injil yang masih menjaga nilai adat/budaya. Sedangkan, Paulus melihat mereka yang masih bermain “dua kaki” itu tidak sesuai dengan Kebenaran Injil. Harus ada ketegasan agar tidak terjebak pada kemunafikan diri.

 

Untuk "Golongan Kristus" ini barangkali terdiri atas guru-guru palsu yang memusuhi rasul Paulus (1Kor 4:18-19) dan mengaku bahwa mereka memiliki kerohanian dan "hikmat" yang lebih unggul. Mereka percaya bahwa pengetahuan mereka (1Kor 8:1) membebaskan mereka dari pengekangan hukum (1Kor 6:12; 10:23) dan dari tuntutan moral (1Kor 5:2). Mereka sedang berupaya untuk merebut jemaat kepada Injil mereka yang menyimpang itu (2Kor 11:4,20-21). Pada dasarnya Paulus menentang mereka dan pengikut mereka di Korintus.

 

Dari keempat gambaran kubu yang ada di jemaat Korintus itu, kita dapat membuatkan peta sederhana, yaitu:

a.   Paulus adalah pelayan Kristus yang mementingkan berita Injil yaitu Kristus yang bangkit mengalahkan kematian di kayu salib demi orang berdosa (Berita Salib)

b. Apolos adalah pelayan Kristus yang mementingkan berita kehadiran Mesias yang telah digenapiberdasarkan kitab suci (Berita Penggenapan Mesias)

c.       Petrus/Kefas adalah pelayan Kristus yang masih menjaga nilai adat-istiadat dalam pemberitaan Injil

d.       Golongan Kristus adalah pelayan Kristus yang mementing hikmat moral dalam keselamatan Injil

 

Sebagai orang yang terlibat dalam pengkubuan tersebut, teks firman Tuhan pada kita saat ini memberikan sikap Paulus atas kondisi tersebut:

a.       Kristus yang dilayani tetap sama, tidak pernah terbagi (ay.13)

b.       Paulus mengakui bahwa ia pernah melakukan baptisan, tapi tujuan pekerjaan pelayanannya bukan untuk membaptis, tapi memberitakan Injil (ay.14-16)

c.       Injil yang dimaksud Paulus adalah Pemberitaan Salib di mana Yesus telah menyerahkan diri-Nya menjadi kurban tebusan agar manusia berdosa yang percaya diselamatkan (ay.17-18).

 

Pemberitaan Injil yang berpusat pada salib memang menjadi sesuatu yang baru dan cenderung aneh rada bodoh pada saat itu. Bagaimana mungkin, Paulus menggunakan “kayu salib” sebagai model berteologinya. Sebab, salib itu berkonotasi negatif, tempat penghukuman bagi terpidana mati yang kejahatannya sangat luar biasa. Sedangkan, Mesias yang diberitakan itu harusnya sesuai kitab suci yang gagah perkasa, memimpin pasukan perang, mengangkat pedang mengalahkan musuh, dan kekuatan militer lainnya. Namun, Yesus yang didaulat sebagai Mesias malah diberitakan berdasarkan salib yang lusuh dan hina. Banyak tentu pihak yang ingin Paulus meralat ajarannya. Bahkan, oleh bangsal Romawi, ajaran salib ini dijadikan bully yang tak habisnya. Ada satu grafiti kuno di diding ruangan dekat Palatine Hill di Roma yang terkenal dengan sebutan ALEXAMENOS GRAFITTO/ GRAFITTO BLASFEMO. Diduga dilakukan seorang Roma-Yunani untuk mengejek Alexamenos yang percaya kepada Kristus. Dalam grafiti itu, Alexamenos sedang menyembah seorang berkepala keledai yang tergantung di kayu salib. Karenanya, seorang ahli retorika Roma bernama Marcus Fronto, menjelaskan bahwa ketika orang Kristen menyembah Dia yang tersalib di tempat penghukuman yang hina itu, mereka sesungguhnya orang-orang bodoh yang mudah ditipu.


Hal menarik memang ketika olok-olokkan terhadap berita salib itu tidak mengubah dasar beriman Paulus, bahwa salib yang hina menjadi salib yang mulia oleh karena Kristus ada di sana. Tidak ada yang dapat menyelamatkan orang yang tergantung di sana oleh kuasa hukuman pemerintah Roma. Namun, Yesus Kristus akhirnya menaklukkan kuasa penghukuman salib pemerintah Roma dengan kekuatan Allah yang menyelamatkan. Kebangkitan-Nya menjadi puncak dari pemberitaan Injil melalui  jalan salib yang mulia.

 

Bapak, Ibu, dan Jemaat yang terkasih di dalam Tuhan kita Yesus Kristus!

Setidaknya dari pembahasan yang telah kita lakukan sejauh ini, ada dua hal yang dapat kita refleksikan untuk diaplikasikan di tengah kehidupan beriman sehari-hari, yaitu:

a.  Untuk mengenal kekuatan Allah yang menyelamatkan, kita harus mengenal Yesus yang datang itu dengan lengkap.

   Dari Paulus, kita menerima pemahaman bahwa pencurahan darah Kristus di kayu salib menjadi puncak kasih Allah yang telah menyerahkan Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah. Kemesiasan Yesus itu terurai dengan sempurna ketika kehadiran Yesus di tengah dunia tidak dengan menggunakan label militer dengan peperangan secara dunia. Tetapi, penyelamatan Mesias dilakukan dengan cara yang mencirikan kasih Allah, ditandai dengan penolakkan terhadap sikap represif/kekerasan di tengah dunia. Kekuatan Allah bekerja melampaui kekuatan manusia, sehingga Allah tidak menggunakan cara dunia untuk menyelamatkan umat-Nya

 

b.  Kuasa Allah yang menyelamatkan dinyatakan pada berita tentang salib yang dianggap bodoh oleh dunia

Tidak ada yang dapat mengalahkan kematian selain Tuhan Yesus Kristus. Salib tempat penghukuman mati, diubah menjadi berita kebangkitan. Kekuatan Tuhan mengubahkan salib hina menjadi mulia. Demikian juga kekuatan Allah dapat bekerja dalam diri umat-Nya yang percaya. Kekuatan-Nya akan mengubahkan dukacita kita menjadi sukacita, ketakutan kita menjadi pengharapan yang menenangkan.

Selasa, 24 Mei 2022

Bernyanyilah bagi Tuhan (Why.4:8-11, Khotbah Epistel Minggu Kantate)


 

 

4:8 Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang." 4:9 Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya, 4:10 maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata: 4:11 "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan."

 

Pendahuluan

Wahyu Yohanes sejatinya dialamatkan pada ketujuh jemaat Kristen di Asia (Why.1:4). Saat itu, umat Tuhan berada di bawah kolonialisme Romawi, termasuk Yohanes berada di pulau Patmos oleh karena pengasingan akibat dicurigai sebagai pemberontak. Kekristenan kala itu dianggap sebagai potensi bahaya, sebab Kristus yang menjadi pusat beriman umat percaya dipuja sebagai Mesias yang diutus oleh Allah. Kita tahu kalau Mesias itu merupakan jabatan politis di bangsa Israel yang memiliki tugas untuk membebaskan umat-Nya dari belenggu penjajahan, seperti dari perbudakan Mesir dan pembuangan Babel. Penindasan Kaisar Romawi yang begitu beringas membuat umat Tuhan menjadi sangat menderita. Untuk itu, Yohanes harus tetap memberikan motivasi dan semangat untuk mereka yang dirundung ketakutan dan ketidakpastian. Apabila menulis secara terbuka, surat Yohanes dari pulau Patmos pasti akan dihanguskan oleh pemerintah kolonial Romawi. Untuk itu, Yohanes mencoba menuliskan sebuah surat dari pembuangannya di Patmos dengan gaya kesusastraan di masa itu. Sehingga, kolonial Romawi melihat surat Yohanes ini sebagai karya seni sastra yang indah.

Kesulitan kita sebagai umat percaya di masa kini dalam membaca surat Yohanes dari Patmos tentu dilatarbelakangi konteks yang berkembang sesuai zamannya. Misalnya saja, anak di masa kini tidak tahu bagaimana berjuangnya untuk berkomunikasi di era masa lampau, ketika handphone dan internet tidak sepesat saat ini. Mengirim uang dengan menggunakan wesel pos. Memberikan kabar untuk kerabat di luar kota melalui sepucuk surat yang sampainya berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Mereka pasti bingung ketika kita menceritakan perihal “antrean di Wartel” atau “perangko pos untuk luar kota”. Demikian juga dengan konteks metafora yang digunakan dalam surat Wahyu ini, kita sangat terbatas pemahaman tentang istilah yang berkembang kala itu. Ada jarak waktu yang sangat jauh yang menjadi jurang antara pembaca di saat itu dengan kita di masa kini. Akan tetapi, tafsiran kitab Wahyu pada saat ini sudah sangat berkembang. Setidaknya ada enam pendekatan yang diketahui dan diakui dalam kajian teologis terhadap teks Wahyu ini, yaitu : Praeter, Historis, Futuris, Triumfalis, Idealis, dan Perspektif. Tafsiran teks saat ini merupakan kolaborasi dari pendekatan Prater (peristiwa masa lalu), Futuris (peristiwa masa depan), dan Triumfalis (peristiwa masa lalu yang akan terjadi di masa depan)

 

Pembahasan

4:8 Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang." 4:9 Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya

Persoalan dalam bagian ini adalah siapa keempat makhluk yang masing-masing bersayap enam itu? Sebelumnya, Yohanes menggambarkan bagaimana rupa keempat makhluk itu, “Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, dan makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan makhluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang.” (ay.7). Apabila kita membaca kitab Yehezkiel (1:5, 6, 7, 8, 10; 10:1-21), penglihatan itu sama dengan yang ada di teks Wahyu. Sekalipun demikian, para ahli PB berbeda pandangan tentang siapa mereka. Ada yang mengatakan keempat makhluk itu merupakan empat penjuru alam dan perbintangan utama di dalam zodiak, dan keenam sayapnya masing-masing menjelaskan akan kecepatan, kekuatan, dan kercerdasannya. Ahli PB lain menjelaskan keempat makhluk itu melambangkan tatanan malaikat di surga di mana ada yang punya kekuatan seperti singa, ada juga yang punya pelayanan sebagaimana anak lembu melayani tuannya, ada juga yang memiliki kecerdasan dan kemampuan seperti manusia, serta ada juga yang punya ketajaman penglihatan seperti burng nazar.

Setidaknya dari penjelasan ahli PB tadi, kita dapat mengambil suatu gambaran umum kalau keempat makhluk itu merupakan representasi makhluk dari atas/surga di dalam memuji-muji Tuhan di dalam kekudusan-Nya. Mereka ini ciptaan juga sebagaimana manusia yang diciptakan-Nya. Nyanyian mereka ini dikenal dalam bahasa Yunani dengan nama trihagion atau di dalam bahasa Latin disebut dengan sanctus. Suatu pujian yang sangat kuat sekali menegaskan kekudusan Allah yang berbeda dari manusia ciptaan, sampai diulangi sebanyak tiga kali, yang dapat juga kita pahami sebagai persekutuan Allah, Yesus, dan Roh Kudus.

Pokok Teologis : Makhluk di Surga Memuji-muji Kekudusan Allah yang Kekal

 

4:10 maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata: 4:11 "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan."

Di sini persoalan yang harus dipecahkan adalah siapa kedua puluh empat tua-tua yang ada pada teks kita. Di ayat sebelumnya, ada disinggung tentang kedua puluh empat tua-tua itu. “Dan sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka. Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh” (ay.4-5a). Para penafsir teks PB juga beragam menafsirkan ke dua puluh empat tua-tua ini. Ada yang mengatakan bahwa ini merupakan metafora untuk pembagian imam dalam tradisi Perjanjian Lama (PL) yang dibagikan ke dalam 24 rombongan/kelompok. Kita mengetahui di dalam Alkitab kalau ayah dari Yohanes Pembaptis merupakan seorang imam yang mewakili bangsa Israel untuk mempersembahkan kurban persembahan di Bait Allah (Luk.1:8). Mereka dirotasi dalam melakukan tugasnya. Jadi, kita patut mempertimbangkan ke-24 tua-tua ini merupakan representasi dari para imam yang memberikan persembahan kepada Allah. Ada ahli lain yang menafsirkan mereka ini merupakan represntasi malaikan surgawi untuk memberikan persembahan kepada Tuhan. Tetapi, tafsiran ini sangat lemah sekali. Ada tafsiran lain yang layak dipertimbangkan yaitu kedua puluh empat tua-tua ini merupakan orang kudus  yang telah memenangkan pertandingan iman di PL dan PB. Ini bisa jadi hal yang sangat dekat bila kita merujuk pada mahkota emas yang ada di kepala. Mahkota emas bukanlah tanda pemegang kerajaan, tetapi tanda yang sering diberikan pada mereka yang memenangkan suatu pertandingan olahraga.

Dari pendekatan tafsiran yang ada ini, kita dapat mengambil gambaran umum untuk teks di ayat 10-11 ini bahwa segala ciptaan yang ada di bumi pun turut memuji-muji Tuhan dan memberikan persembahan kepada-Nya.

Pokok Teologis : Mahkluk di Bumi Memuji-muji Kebesaran Allah Pencipta

 

Refleksi-Aplikasi

1.       Makhluk di surga memuji-muji kekudusan Allah yang kekal

Turut sertanya makhluk surga memuji kekudusan Allah menggambarkan bagaimana kekuasaan Allah sangat nyata di surga. Dia adalah Allah yang kekal yang tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Apabila kita pernah membaca laporan berita astrofisika tentang alam semesta, kita akan dibuat takjub betapa waktu itu sangat relatif di luar angkasa. Untuk itu, ruang pun menjadi sangat subjektif. Teori Big Bang menjelaskan kalau alam semesta kita ini dikatakan mengembang dari sejak ledakan dahysat terjadi. Dalam keyakinan iman Kristen, kita tahu bahwa sebelum Big Bang itu terjadi Allah telah ada. Karenanya, Allah itu dari kekekalan sampai pada kekekalan. Hukum energi dalam bahasa fisika sederhananya dipahami sebagai sesuatu yang tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Energi hanya mengkonversi bentuknya saja. Demikian juga Allah yang kita imani, Dia tidak diciptakan dan Dia tidak akan berakhir. Dia dapat datang di dalam diri Yesus Kristus dan Roh Kudus sepanjangan pengenalan kita melalui Alkitab. Kekaguman ini juga dirasakan oleh makhluk surga yang mengakui bagaimana kekekalan Allah.  Oleh karenanya, kita sebagai umat percaya yang hidup di bumi harus semakin mengasihi Allah di dalam kekekalan-Nya. Sebab, Allah dengan segala kekuasaan-Nya yang kudus dapat mengatasi langit dan bumi.

 

2.       Makhluk di bumi memuji-muji kebesaran Allah Pencipta

Dalam konteks Yohanes menuliskan surat ini, Kaisar Romawi diperlakukan bak dewa. Tetapi, surat Yohanes ini mengajak kalau pusat penyembahan kita selaku umat percaya hanya diarahkan kepada Allah yang kita kenal di dalam Yesus Kristus saja. Mengapa? Yohanes menegaskan karena Dia adalah Allah Pencipta. Umat percaya karenanya diajak untuk tidak takluk pada kuasa di dunia yang mungkin dapat mencelakakan tubuh dan menghilangkan nyawa. Kita hanya takluk kepada Tuhan Allah saja sebagai Pencipta kita. Di dalam rasa takut dan hormat, tanda kita takluk kepada Allah, kita sesungguhnya sedang memuji-muji kebesaran Allah, Sang Pencipta itu. Kita tidak akan terpisah dari kasih Allah Pencipta. Sebab, kita telah diikat oleh Perjanjian Agung oleh Kristus. Perjanjian ini ditandai dengan pengurbanan Kristus. Oleh darah-Nya, kita diselamatkan-Nya. Untuk itu, kita harus memiliki keberanian di dalam menjalani kehidupan sebagai umat tebusan. Karena, Allah Pencipta akan senantiasa memelihara kehidupan umat -Nya. Inilah yang kita puji di dalam iman kita.

Jangan Duduk Diam, Tetapi Bangunlah (Yoh.5:1-9, Catatan Khotbah POUK Kelapa Gading, 22 Mei 2022)

 

 


Pemecatan Letjen TNI Prof.Dr. dr.Terawan Agus Putranto, Sp.Rad atau lebih dikenal dengan nama dr.Terawan, dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), menjadi berita yang sangat menarik simpatik masyarakat kita. Sepertinya, masyarakat tidak menolak penanganan medis Digital Subtraction Angiography (DSA) atau familiar disebut dengan cuci otak oleh dr.Terawan. Namun, IDI bersikeras bahwa pekerjaan dr.Terawan dinilai tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sehingga, praktek ini dianggap bahaya karena mengabaikan kode etik dunia kedokteran. Lantas, mengapa masyarakat kita malah dominan melawan IDI? Bukannya, masyarakat kita seharusnya bersyukur ketika IDI berusaha mencegah terjadinya malpraktek dokter di Indonesia? Anehnya lagi, bagaimana mungkin masyarakat malah mendukung didirikannya organisasi ikatan profesi dokter tandingan sebagai pesaing IDI? Apabila memerhatikan suara masyarakat yang mendukung dr.Terawan, kita menemukan ada kebulatan sikap yang menyuarakan akan adanya pengharapan dari tindakan dr.Terawan selama ini. Masyarakat secara umum menilai bahwa sekalipun praktek itu berbahaya dan tidak berbasis ilmiah, tetapi ada harapan kesembuhan yang murah, efektif, dan efisien yang sesuai kantong masyarakat. Selama ini, pengobatan yang berhubungan dengan penyumbatan di pembuluh darah sangat mahal dan tidak semua dapat mengaksesnya. Isunya kemudian digiring pada kapitalisasi kesehatan di Indonesia. Fenomena dr.Terawan ini membawa kita kemudian pada dua pilihan, “membangkitkan harapan” atau “menegakkan kode etik ilmiah”?

Fenomena dr.Terawan ini dapat menjadi jalan masuk bagi kita untuk memahami bagaimana pekerjaan Tuhan Yesus yang fenomenal juga yang ada di perikop ini. Teks kita berbicara tentang ada banyaknya orang  sakit, seperti orang buta, timpang/pincang, lumpuh, dan sakit lainnya, sedang berada di pinggir kolam (ay.3). Mereka percaya akan sebuah kolam di dekat pintu gerbang Anak Domba, Yerusalem, yang sering disebut Bethesda, di mana ketika airnya berguncang pertanda malaikat Tuhan datang. Sehingga, siapapun yang masuk di dalamnya bisa menjadi pulih (ay.2,4). Dalam bahasa Aram, Bethesda berarti house of mercy (rumah belas kasih). Yesus bertepatan hadir di sana untuk melihat perjuangan orang sakit yang mengharapkan kesembuhannya. Kehadiran Yesus diceritakan Injil Yohanes awalnya untuk menghadiri hari raya orang Yahudi. Sekalipun tidak dijelaskan hari raya apa, kemungkinan besar hari raya pesta panen tujuh minggu atau Pentakosta Yahudi (ay.1).  Kehadiran Yesus sungguh memberikan makna bagi orang yang telah terbaring sakit 38 tahun lamanya (ay.5). Orang itu hadir di sana tapi tidak tahu bagaimana caranya supaya dapat masuk ke kolam. Ia sendiri tidak dapat mengangkat tubuhnya dan masuk ke kolam. Terlebih, ada banyak orang yang sudah menanti-nantikan kapan guncangan air itu datang. Ia sudah pasti kalah, sebab tidak akan ada orang yang mau membantunya (ay.7). Mengapa tidak ada orang yang mau membantu untuk mengangkatnya? Sebab, hari itu adalah hari Sabat, di mana tidak boleh ada yang bekerja, termasuk mengangkat tilam (ay.9). Sehingga, Yesus merasa perlu memberikannya harapan, “Maukah engkau sembuh?” (ay.6). Yesus tahu kalau kesembuhan seorang yang sedang sakit dimulai dari membangun pengharapannya terlebih dahulu. Melihat semangat seorang yang sakit itu, Yesus memerintahkan, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah” (ay.8). Bagi kita sebagai pembaca di masa kini, perintah Yesus itu sederhana. Tapi, hal ini tidak bagi mereka yang hidup di masa itu. Orang yang sakit selama 38 tahun itu diberikan pilihan yang sangat berat, “Ia mau sembuh?” atau “Ia mau mengamalkan Hukum Taurat?”. Bila memilih kesembuhan, ia sudah pasti melanggar Taurat. Tetapi, bila mengamalkan Taurat, ia akan melewatkan kesembuhan setelah menantikan 38 tahun lamanya. Karena Yesus diceritakan tidak membantunya untuk turun ke kolam, tentu ia yang harus memilih sendiri. Ini ibarat pengantar kita di awal tadi dalam kasus Terawan, “membangkitkan pengharapan” atau “menegakkan kode etik ilmiah”? Dan, orang yang sakit 38 tahun itu memilih untuk mengikuti perintah Yesus. Ia pun sembuh karena kuasa firman-Nya, bukan karena air kolam Bethesda itu.

Hal yang dapat kita refleksikan dari firman Tuhan pada saat ini bagaimana kuasa firman-Nya bekerja menerobos sekat-sekat yang dibangun oleh manusia. Memang perintah Tuhan dalam bentuk Taurat itu diturunkan Allah kepada bangsa Israel melalui Musa. Namun, Taurat itu kemudian telah dikonstruksi sedemikan rupa sebagai alat legitimasi mengukur seseorang itu baik atau tidak di tengah masyarakat. Inilah yang dikritik oleh Yesus dari para tokoh agama yang menggunakan Taurat sebagai pencitraan diri mereka. Taurat tidak lagi sebagai alat untuk menuntun kehidupan umat Tuhan di dalam keadaan yang tertib, tetapi sudah terjebak di dalam kemunafikan. Injil Yohanes ketika mencatatkan kesaksian tentang Tuhan Yesus yang memberikan perintah kepada orang yang sudah 38 tahun lamanya terbaring sakit, sesungguhnya juga tengah memberitahukan pembacanya,  apakah kita sungguh mau turut kepada perintah Tuhan Yesus? Karena, apabila kita mau menuruti perintah Tuhan Yesus, hal itu berarti kita dengan sungguh mau mengakui keilahian dari Yesus Kristus. Sebagaimana kesaksian Injil Yohanes, bahwa Yesus Kristus itu datang dari Bapa-Nya dan memberitahukan kita tentang pekerjaan Allah yang di surga di tengah dunia. Kita pun diajak seperti orang yang sakit selama 38 tahun itu untuk menolak sistem beriman yang sangat destruktif dan menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan. Secara tidak langsung, orang yang sakit selama 38 tahun itu mengakui bahwa Yesus itu datang-Nya dari Allah. Untuk itu, baiklah kita meneladani iman orang yang sakit selama 38 tahun itu, dengan mau menuruti perintah Tuhan Yesus. Marilah kita semua umat percaya, jangan duduk diam, tapi bangunlah!

 

Pdt.Theodorus Benyamin Sibarani, S.Si (Teol), M.Kesos

GKPI Ressort Jakarta Raya-1