Selasa, 09 Maret 2021

Rumah Tangga Kristen

 

Pernah ada seorang jemaat bertanya, "Apa mungkin rumah tangga seorang pendeta bisa retak, bahkan jatuh ke dalam perceraian?". 

Ini pertanyaan yang "mudah tapi sulit" menjawabnya. Mudah karena saya hanya tinggal menjawab "mungkin atau tidak mungkin". Sulit karena harus memberikan alasan "mengapa ia mungkin? Atau, mengapa ia tidak mungkin?"

Alih-alih menjawab secara terbuka, saya hanya memberikan sedikit gambaran tentang rumah tangga Kristen itu dalam pandangan saya. Ini juga relevan dengan berita "perselingkuhan pejabat dan artis" yang viral belakangan ini.

Bukan hal mudah membangun rumah tangga. Di dalam rumah tangga, kita terus berupaya untuk menyatukan dua pikiran yang kadang bertolak belakang, serta menyelaraskan dua detak jantung yang tak seirama. Kerekatan rumah tangga itu sangat tergantung dengan apa ia diikat. Tidak mungkin perahu diikat dengan jangkar, karena perahu pasti akan tenggelam. Dan, tidak mungkin juga kapal baja besar diikat dengan tali tambang, karena kapal pasti akan terhempas ke tengah lautan. Alat pengikat harus sesuai dengan apa yang akan diikat. Perahu harus diikat dengan tali tambang. Kapal baja besar harus diikat dengan jangkar.

Demikian juga rumah tangga Kristen. Pengikat paling tepat untuk rumah tangga Kristen adalah Kasih (Kristus). Seperti yang dikatakan oleh Paulus pada jemaat di Kolose, "Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah." (Kol.3:14-15)

Fenomena Pelakor (Perebut Laki-Laki Orang) dan Pebinor (Perebut Bini Orang) merupakan konstruksi sosial untuk memberikan alasan mengapa rumah tangga itu bisa kandas. Padahal, kandasnya rumah tangga (Kristen) itu faktor utamanya adalah dari pasangan itu sendiri yang dengan kesadarannya memberikan ruang bagi orang lain untuk ada di tengah-tengah kehidupan rumah tangganya.

Sebab itu, ketika rumah tangga Kristen telah diikat oleh Kasih (Kristus), maka kita perlu bersyukur. Kita bersyukur untuk kekuatan dan kelemahan kita dan pasangan kita. Untuk itulah rumah tangga Kristen dipanggil menjadi "satu tubuh" di dalam pernikahan kudus.

Penjelasan ini membuat jemaat yang bertanya tadi diam. Saya tidak tahu mengapa ia diam? Namun sepertinya, saya menduga ia diam karena ia tahu jawaban pendeta tidak untuk didebatkan, tapi dipikirkan dan direnungkan saja. ๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜‚

AIR KEHIDUPAN (Yoh.4:5-14)

Pembahasan tentang dialog antara Yesus dengan Perempuan Samaria terkait “Air Hidup” tentu sudah sering kita dengar. Oleh karena itu, marilah kita coba melihat dari sisi yang lebih luas lagi. Apabila dilakukan perbandingan nas Minggu (Yoh.4:5-14) ini dengan Yohanes 19:28, kita di sana menemukan Yesus ketika di kayu salib berkata, “Aku haus”. Ini terasa aneh karena pada nas kita hari ini, Yesus mengatakan, “tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya ...”. Pertanyaannya, bagaimana mungkin Yesus yang punya air hidup tetapi masih bisa merasa kehausan?

Untuk coba memahami maksud Yesus dengan Air Hidup dan rasa haus yang dirasakan-Nya, marilah kita memerhatikan perenungan dari St.Agustinus di dalam tulisannya Confessions. Di sana, ia secara terbuka mengaku bahwa di dalam Yesus ada sisi paradoks ketika kita berusaha mencari-Nya di dalam perziarahan iman kita. Refleksinya, Tuhan dapat dilihat dari sisi subjektif dan sisi objektif. Ketika berbicara subjektif, kita dapat menyebutnya sebagai iman. Dan, berbicara objektif, kita dapat menyebutnya sebagai realitas. Dalam konteks kitab Yohanes, Yesus di sisi iman pada-Nya ada Air Hidup, tetapi Yesus dalam sisi realitas sebagai manusia sepenuhnya punya rasa dahaga/haus. Kondisi paradoks ini tidak akan mengganggu atau menghalangi iman kita kepada Yesus, karena hal ini malah akan semakin membuat kita bertambah sungguh memercayai siapa Yesus yang kita sembah dan kepada-Nya kita bersembah. 

Dalam perikop kita, Yesus memberi penjelasan pada perempuan Samaria bahwa Dia adalah Mesias dari Allah. Akan tetapi, perempuan Samaria sempat gagal paham karena terbatas melihat Yesus hanya dalam profesi nabi (bnd.Yoh.4:19, 25-41). Belum lagi latar perseteruan antara Israel Utara (Samaria) dan Israel Selatan (Yahudi) yang tiada ujung. Sikap curiga tak dapat dihindarkan. Bersatunya Kerajaan di Utara dan Selatan hanya terjadi di era pemerintahan Daud dan Yosia. Sisanya, kerajaan ini terpecah dua selamanya. Peribadatan orang Selatan dipusatkan di Yerusalem, sedangkan orang Utara di gunung (bnd.Yoh.4:20). Secara keagamaan, orang di Utara sudah banyak dipengaruhi oleh kerajaan-kerajaan yang menundukkan mereka. Hal itu disimbolkan Yesus dengan suami perempuan Samaria (bnd.Yoh.4:17-18). Dari indikator di ayat-ayat tersebut, kita dapat memahami kemudian bahwa pembicaraan Yesus dengan perempuan Samaria ini adalah dalam konteks pergelutan iman, di mana Yesus menawarkan diri-Nya untuk menghapus kedahagaan spiritualitas orang Utara akan Tuhan Allah. Air hidup di sana dapat dipahami sebagai fondasi iman yang benar.  

Karenanya, jelas perbedaan air hidup yang dibicarakan Yesus dengan Samaria dan air yang dimintakan Yesus ketika ia merasa haus dahaga di kayu salib. Air hidup ada pada aspek beriman (subjektif) dan air minum berada pada aspek realitas (objektif). Kita membutuhkan kedua-duanya. Kita butuh Yesus yang memberikan air hidup sebagai fondasi iman kita yang benar. Dan, kita juga butuh air minum yang dapat memberikan kita kekuatan untuk beraktivitas. Jika perempuan Samaria sempat ragu-ragu menerima-Nya, apakah kita mau menerima-Nya tanpa ragu? Siapkah kita beriman dengan seluruh subjektivitas dan objektivitas iman kita akan Kristus?


MELESTARIKAN BUDAYA (Ayub 42:7-17)

Koentjoroningrat, Bapak Antropologi Indonesia, mendefinisikan Kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Kata “belajar” di akhir definisi kebudayaan itu sangat erat kaitannya dengan pemikiran konstruksi sosial  di mana pemahaman kita akan dunia ini bertalian erat dengan aktivitas “ajar-mengajar” pada orang dan tempat yang spesifik. Beberapa minggu lalu, kita sudah dihadapkan oleh Firman Tuhan yang menyoroti bagaimana lingkungan kita mengajarkan kita tentang konstruksi sosial pada perempuan dan laki-laki, padahal Alkitab menjelaskan laki-laki dan perempuan itu pasangan yang sepadan sehingga mereka menjadi Setara di Hadapan Tuhan. Proses bekerjanya suatu budaya adalah demikian. Ia berdasarkan hasil karya budi dan daya manusia yang diturunkan dan diajarkan turun-temurun. Karena itu, budaya tidak hanya berkenaan dengan tari-tarian, bahasa, makanan, dan pemahaman umum di tengah masyarakat lainnya. Akan tetapi, budaya juga terkait dengan cara pandang, cara pikir, bahkan cara bertindak seseorang. Hal paling sederhananya saja sebagai contoh adalah budaya Timur yang dipandang lebih mengedepankan tata krama, sopan-santun, dan keramahtamahan.

Ini terlihat dari cerita Ayub yang menjadi bagian dari teks kita di Minggu ini. Ayub diceritakan Alkitab diuji oleh iblis dengan seizin Tuhan untuk melihat sejauh mana kesetiaan Ayub yang tanpa cela itu kepada Allah. Segala malapetaka pun ditimpakan pada Ayub. Hidup Ayub yang awalnya sangat kaya raya dan sangat sejahtera itu perlahan-lahan mulai direnggut satu per satu. Dalam budaya Timur, rasa prihatin dan kesetiakawanan sangat kuat di antara masyarakatnya. Para sahabat Ayub pun datang menjenguk Ayub untuk mengucapkan belasungkawa dan menghiburnya (Ayb.2:11). Dalam tradisi masyarakat konteks Ayub, para penjenguk hanya bisa menangis dan meratap sejadi-jadinya, mereka belum bisa angkat bicara pada sahabatnya yang berduka (Ayb.2:12-13). Melihat para sahabatnya yang sudah datang untuk menangis bersama, Ayub pun mulai meratapi dirinya (Ayb.3). Tapi, entah mengapa tiba-tiba Elifas angkat bicara atas Ayub. Apologi Elifas adalah tak seorang pun dapat menutup mulutnya memberikan teguran pada Ayub (Ayb.4:1-2). Tindakan Elifas yang menegur Ayub ini sangat tidak sesuai dengan nilai budaya pada saat itu. Bahkan, hal itu cenderung merendahkan martabat Ayub yang tidak dihargai lagi oleh sahabatnya.

Teguran Elifas pada Ayub berisikan tentang analisa dan penilaiannya akan alasan malapetaka yang terjadi atas Ayub, sahabatnya. Elifas orang Tฤ“man menganalisa dan menilai sesungguhnya malapetaka itu datang hanya pada orang yang telah berbuat jahat saja dan orang baik pasti dilindungi-Nya (Ayb.4-5). Teguran ini membuat Ayub menjadi sangat kecewa pada sahabatnya. Ayub sendiri membangun apologi teologis bahwa ia sendiri tidak pernah mengerti jalan keputusan Allah atas hidup manusia. Ayub mengakui salahnya di hadapan Tuhan, bahwa ia telah lancang berbicara tentang Tuhan tanpa pengetahuan. Sehingga, segala perkataan Ayub tentang Tuhan Allah, termasuk pembelaan dirinya di hadapan Allah, dalam penyesalan dicabutnya (Ayb.42:1-6).  Tunduknya Ayub pada nasib hidupnya oleh Tuhan Allah membuat kondisinya dipulihkan. Karena, Ayub telah membuktikan kesetiaan imannya bahwa ia beribadah dan tunduk kepada Allah bukan karena harta benda, materi, kesehatan, nama baik, dan segala kemahsyuran dunia.

Akan tetapi, Allah mengecam Elifas orang Tฤ“man beserta dua orang temannya yang telah salah berbicara tentang siapa Allah. Mereka tidak seperti Ayub yang berhati-hati berbicara tentang Allah di dalam segala keterbatasan pengetahuan mereka akan siapa Tuhan Allah itu. Tuhan Allah pun mensyaratkan pada Elifas dan temannya, kalau mereka dimaafkan-Nya bila persembahan pengampunan dosa dan minta maaf mereka sudah diterima Ayub (Ayb.42:7-9). Dan, Ayub sebagai orang yang hidup dalam budaya Timur ternyata memaafkan mereka sehingga Tuhan Allah pun turut memaafkan Elifas dan temannya. Ayub pun mendoakan sahabat-sahabatnya. Kehidupan Ayub dipulihkan kembali oleh Tuhan Allah. Semua saudara dan teman lamanya datang menjengguk Ayub dan memberikan perhiasan dan uang padanya (ay.10-17). 

Pesan firman Tuhan pada minggu ini bila dikaitkan dengan tema kita adalah perlunya kita melestarikan budaya yang baik di sekitar kita. Misalnya, dalam konteks Ayub, sebagai orang Timur, kita tidak baik terlalu banyak bicara ketika ada orang yang sedang berduka, apalagi sampai menegur dan menyakiti hati mereka. Kemudian, kita sebagai umat percaya juga harus berhati-hati di dalam menjelaskan tentang siapa Tuhan Allah. Pengetahuan kita akan Dia itu sangat terbatas adanya. Terakhir, sifat memaafkan seperti Ayub pada sahabatnya adalah suatu budaya Timur yang sangat sesuai dengan firman Tuhan 


 

Sabtu, 10 Oktober 2020

KEPEMIMPINAN YANG MENGHAMBA (Mrk.10:35-45)


Kitab Markus merupakan kitab Injil Sinoptik tertua, yang diperkirakan ditulis tahun 35-40 ZB (Zaman Bersama). Secara ketatabahasaan, kitab Markus ditulis dengan bahasa yang sangat sederhana, sehingga pesannya terlihat jelas. Salah satu tema yang jelas dapat kita lihat dari kitab Markus ini adalah tentang gambaran dari Yesus sebagai seorang Hamba yang menderita. Dan, tema kitab Markus ini sangat mengena dengan tema minggu saat ini, “Kepemimpinan yang Menghamba” di mana teks dirujuk dari Markus 10. Di awal perikop nas kita minggu ini, ada situasi menarik yang bisa kita perhatikan di mana Yakobus dan Yohanes datang menghadap Yesus agar mereka ditempatkan di sebelah kanan dan di sebelah kiri-Nya ketika Dia datang dalam kemuliaan kelak (ay.37). Permintaan ini dinyatakan Yohanes dan Yakobus secara personal/pribadi. Kita bisa lihat bagaimana Alkitab menerangkan kalau mereka mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya akan suatu permohonan (ay.35). Yesus sebagai seorang Pemimpin dan Guru dari para murid terlihat sangat akrab dengan mereka. Yesus mau menawarkan apa yang bisa dilakukan-Nya untuk membantu Yohanes dan Yakobus (ay.36).

Namun, Yesus melihat permintaan dari Yohanes dan Yakobus itu tidak rasional. Pertama-tama, Yesus mengatakan “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta”. Mengapa Yesus mengatakan demikian? Bagaimana tidak! Yesus baru memberitahukan tentang penderitaan yang akan dialami-Nya. Bahwa, Dia akan diadili dan dijatuhi hukuman mati. Sebagai manusia, siapa yang tidak tertekan mengetahui hari kematiannya sudah mendekat? Sekalipun pada akhirnya akan bangkit, tetapi Yesus harus melewati penderitaan yang sangat mengerikan, sadis, dan melampaui batas kemanusiaan-Nya. Bisa-bisanya Yohanes dan Yakobus mengatakan, kalau Dia nanti bangkit dari kematian agar mereka ditempatkan di sebelah kiri dan kanan-Nya. Mereka bukannya bersimpatik pada beban Yesus, malah mencari celah untuk kepentingan pribadi mereka sendiri. Karenanya, Yesus mencoba untuk mengkonfirmasi, sekiranya mereka bertukar posisi, apakah mereka sanggup minum cawan dan dibaptis dengan baptisan yang diterima-Nya (ay.38). Yang dimaksudkan Yesus di sana adalah bisakah Yohanes dan Yakobus menerima nasib buruk (dilambangkan dengan cawan) dan dituduhkan sebagai seorang berdosa dan hina sekalipun tidak melakukan semua itu (dilambangkan dengan baptisan pertobatan oleh Yohanes Pembaptis).

Satu nilai positif dari Yohanes dan Yakobus adalah mereka seorang yang percaya diri. Tanpa ragu, mereka menjawab, “Kami dapat”. Hal ketiga yang disampaikan Yesus pada mereka, “kalau mereka dapat, maka mereka akan meminum cawan itu dan dibaptis dengan baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis itu”. (ay.39).  Akan tetapi, hal keempat yang disampaikan Yesus kalau di dalam Kerajaan Allah tidak ada orang dalam, karena itu bukan hak peyoratif dari Yesus, tetapi Bapa saja (ay.40). Perbincangan Yesus dengan Yohanes dan Yakobus pun terdengar oleh kesepuluh murid lainnya. Wajar mereka marah, karena Yohanes dan Yakobus malah mencari kesempatan dalam kesempitan, mau menang sendiri, tidak setia kawan, dan sangat egois (ay.41). Yesus pun melerai pertengkaran di antara para murid dan memberikan pengajaran penting sebelum Dia meninggalkan mereka semua sendirian di tengah dunia. Yesus menegaskan supaya mereka jangan sama seperti pemerintah dan penguasa dunia yang memerintah dengan tangan besi dan kekerasan di dalam menjalankan tugas pemberitaan Kerajaan Allah.  Akan tetapi, mereka harus mau menjadi pelayan di dalam kebesaran, serta menjadi hamba di dalam ketermukaan (ay.42-44). Yesus memesankan hal itu pada para murid karena Dia telah terlebih dahulu melakukannya. Di dalam kemuliaan-Nya, Dia datang ke dunia untuk melayani manusia berdosa, menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (ay.45).

Firman Tuhan ini mengajak kita merefleksikan dua hal utama, yaitu: Pertama, soal upah, dalam hal ini keselamatan, biarlah kita serahkan kepada Allah Bapa. Selama kita hidup di dunia ini, kita kuatkan saja iman kita untuk menerima cawan kita dan menghidupi baptisan Yesus. Karena, kita akan dibangkitkan di dalam baptisan-Nya kelak. Kedua, di tengah dunia ini, kita perlu mengingat bahwa tidak ada seorang yang besar tanpa ia melayani, dan tidak ada seorang yang menjadi terkemuka tanpa ia menjadi hamba yang menolong banyak orang yang membutuhkan. Pengosongan diri (Kenosisme) menjadi jalan hidup Yesus, sebagai Anak Manusia. Demikian pula kita, di dalam kehidupan ini, marilah kita bersikap rendah hati pada sesama dan menujukkan kerendahan diri di hadapan Tuhan, Allah Bapa kita. Jangan bertengkar untuk posisi, kehormatan, kekayaan, dan prestasi duniawi lainnya. Karena itu adalah cara kuasa dunia, bukan kuasa dari Kerajaan Allah yang penuh damai, sukacita, dan damai sejahtera. 

Kamis, 01 Oktober 2020

Setara di Hadapan Tuhan (Kejadian 2 : 18-25)

 


Kitab Kejadian merupakan salah satu bagian dlam kitab suci bangsa Israel, atau yang lebih sering disebut dengan TaNaKh (Torah, Neviim dan Ketuvim). Dalam pandangan teologi Perjanjian Lama tradisional, kitab Kejadian merupakan satu di antara lima tulisan yang disusun oleh Musa (Pentateukh). Pandangan ini bertahan sangat lama. Bahkan, pandangan ini di zaman sekarang ini masih ada yang tetap memegangnya secara kokoh. Dalam perkembangan ilmu teologi memang, ada pendekatan teori Sumber yang awalnya dirumuskan oleh Julius Wellhausen (1844-1918) bahwa penulisan kelima gulungan/kitab ini memiliki sumber dan rentan waktu penyusunan.  Terkait dengan pandangan tradisional dan teori Sumber, kita tidak akan membahasnya mendalam di dalam renungan kita pada minggu ini. Karena, ia harus memiliki ruang tersendiri dalam pembahasannya. Yang ingin disampaikan dari informasi tentang penulisan kelima gulungan/kitab itu, di mana Kejadian salah satu bagian di dalamnya, adalah baik pendekatan tradisional dan pendekatan teori sumber sama-sama memberikan pemahaman bahwa gulungan/kitab yang menjadi lima bagian Alkitab memiliki tujuan menjelaskan sejarah perjalanan bangsa Israel, termasuk dari awal mereka eksis sampai menjadi bangsa yang besar dan diberikan janji berkat kepada keturunannya. Hal ini sangat penting kita perhatikan agar fokus kita di dalam membaca kelima kitab ini, termasuk nas kita saat ini, jangan terlepas dari konteks. Setiap teks pasti memiliki konteks. Dalam perikop kita saat ini, konteksnya adalah menjelaskan kisah awal bagaimana umat Tuhan (Israel) hadir di tengah-tengah dunia. Inilah menjadi awal dari perjalanan panjang bangsa Israel di kemudian harinya.

Pada perikop kita di Minggu ini, ia mau menjelaskan tentang konsep Tuhan Allah tentang manusia yang berpasangan. Ayat 18 menjadi bagian yang sangat penting untuk kita perhatikan bersama, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia”. Dari bagian ini, kita melihat ternyata manusia pertama, laki-laki, tidak bisa dipungkiri merupakan sosok yang lemah sehingga membutuhkan penolong. Tetapi, Tuhan Allah menghadirkan penolong bagi manusia itu bukan sembarang penolong. Di ayat 18, ada tertulis jelas keterangan dari penolong yang dihadirkan Tuhan Allah pada laki-laki, yaitu sosok yang sepadan dengan laki-laki. Kata sepadan di sana berasal dari kata Ibrani nehged yang berarti berdiri di depan/berhadapan. Padanan kata ini sangat menarik, karena sekalipun laki-laki diciptakan pertama-tama, tidak langsung berarti mereka berada di depan. Tetapi, perempuan yang diciptakan belakangan, selalu berada di hadapan atau di depan laki-laki. Dengan demikian, Alkitab mencatatkan bahwa kesetaraan gender sebetulnya telah ada sejak penciptaan manusia pertama kali itu terjadi. Laki-laki diciptakan Tuhan pertama-tama. Namun, soal kemampuan menjalani kehidupan sehari-hari, perempuan berada di depan laki-laki untuk menolongnya. Kata penolong yang digunakan di sana juga menggunakan kata Ibrani Ezer yang berarti pertolongan yang diberikan Allah, dan bukan dari manusia.

Sebelum menciptakan perempuan, Allah terlebih dahulu diceritakan membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara untuk dibawa pada manusia. Lalu, manusia (laki-laki) itulah yang memberikan nama untuk semua binatang yang diciptakan oleh Tuhan Allah (ay.19-20). Setelah itu, barulah Tuhan Allah menciptakan perempuan. Teknisnya sangat unik, yaitu bahan utamanya harus dari laki-laki itu sendiri. Sehingga, Tuhan Allah  membuat manusia itu tidur nyenyak. Hal ini rada mirip dengan operasi bedah yang dilakukan oleh para dokter dan medis di rumah sakit. Dengan rusuk manusia (laki-laki) itu, Tuhan Allah menciptakan perempuan dan diantarkan kepada laki-laki itu. Respons laki-laki saat itu, “inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku”. Respons ini menggambarkan adanya pengakuan dari laki-laki bahwa perempuan adalah bagian dari dirinya sendiri (ay.23). Pengakuan ini sangat penting di dalam berbicara tentang kesetaraan gender. Sebab, ketimpangan gender ini merupakan konstruksi sosial yang dibentuk oleh sistem keagamaan, ideologi, maupun adat-budaya. Dengan adanya kesaksian dari Alkitab bahwa hakikatnya perempuan adalah yang diambil dari laki-laki menjadi entry point di dalam membahas kesetaraan di dalam ruang yang lebih luas lagi, seperti kemampuan mengakses kesempatan guna pemenuhan hak.

Perintah firman Tuhan bagi laki-laki dan perempuan adalah agar mereka bersatu dan menjadi satu daging. Hal ini diawali dari laki-laki yang akan meninggalkan ayahnya dan ibunya. Pertanyaannya, mengapa perintah ini hanya diberikan pada pihak laki-laki saja? Perintah ini dapat kita mengerti bila konteks sosial bangsa Yahudi kita lihat secara dekat. Anak laki-laki merupakan sosok yang sangat dihargai dalam nilai patriakhi di Yahudi, sehingga mereka mendapat hak yang lebih dari anak perempuan. Ketika mereka akan menikah, anak laki-laki harus melepaskan semua hak yang istimewa itu dari keluarganya. Hal ini tidak mudah, seperti seseorang yang meninggalkan zona nyamannya selama ini. Karenanya, firman Tuhan memerintahkan agar laki-laki harus berani meninggalkan zona nyamannya selama ini dan memulai hidup yang baru sebagai kepala keluarga di rumah tangga yang baru (ay.24).  Di ayat 25, fakta tentang rumah tangga umat percaya digambarkan dengan bersatunya menjadi satu daging antara perempuan dan laki-laki menjadikan mereka telanjang, tetapi tidak malu. Mengapa mereka tidak malu? Karena, mereka belum mengenal dosa. Perasaan malu disebabkan oleh ada hal tidak benar yang sedang terjadi. Gambaran firman Tuhan bagi rumah tangga umat percaya agar mereka menjauhi dosa, sehingga jangan menanggung rasa malu oleh sebab terjadinya hal yang tidak benar.

Jumat, 25 September 2020

Kepedulian terhadap Disabilitas (2.Sam.9:1-8)

 


Konteks firman Tuhan saat ini berbicara tentang Daud yang menggenapi janjinya kepada sahabatnya, Yonathan. Ketika Saul mengejar Daud, Yonatan (anak Saul) menunjukkan kedekatan pada Daud. Keakraban antara Daud dengan Yonatan tentu diakui Saul. Itulah sebabnya, Saul tidak menceritakan niatnya menghabisi Daud kepada anaknya, Yonatan (1.Sam.20:12). Di dalam pelariannya pun, Daud mencari sahabatnya, Yonatan. Daud meminta tolong agar ia memastikan tentang niatan Saul, ayahnya, yang mencoba membunuhnya. Daud, ketika memohon bantuan dari Yonatan, memosisikan dirinya sebagai hamba (1.Sam.20:8). Ketika Saul mengetahui Yonatan membantu Daud, Saul sangat murka terhadap Yonatan. Bahkan, Saul memaki Yonatan dengan kalimat yang sangat kasar, “Anak sundal yang kurang ajar”. Makian itu membuat Yonatan semakin bulat menolong Daud. Sebelumnya, Daud dan Yonatan sudah membuat perjanjian bahwa mereka akan saling menjaga agar keturunan mereka tetap hidup (1.Sam.20:14-17). Perjanjian itu pun dipertegas ketika Daud diberikan tiket keluar oleh Yonatan, “Pergilah dengan selamat ... bukankah kita telah bersumpah demi nama TUHAN.” (1.Sam.20:20).

Roda kehidupan berputar. Daud tampil menjadi raja dan Saul berganti menjadi rakyat jelata. Secara politis, inilah kesempatan trah Daud untuk membalas trah Saul sampai ke akarnya. Akan tetapi, Daud mencari keturunan Saul bukan untuk memusnahkannya, tetapi untuk menunjukkan belas kasihnya. Dengan bantuan Ziba, hamba keluarga Saul, Daud menemukan seorang dari keturunan Saul. Namanya Mefiboset, anak Yonatan, cucu Saul. Ia berada di rumah Makhir anak Amiel dari Lodebar. Kondisinya dalam keadaan cacat kaki (ay.1-5). Mengapa Ziba perlu memberitahukan Daud kondisi Mefiboset adalah seorang cacat? Ini karena konstruksi sosial pada masa itu yang menganggap orang cacat merupakan sosok yang tidak dianggap dan berada di pinggiran, baik secara keagamaan maupun pergaulan di tengah masyarakat. Secara keagamaan, misalnya, ada perintah dari Harun supaya mereka yang cacat jangan mendekat untuk mempersembahkan santapannya kepada Allah (Im.21:17). Pandangan keagamaan ini sepertinya terbawa sampai ke urusan pergaulan sehari-hari. Itulah mengapa Yesus ditanya, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yoh.9:2). Jadi, orang cacat menjadi teralienasi demikian jauh di masa itu karena dianggap seorang berdosa atau dari keturunan berdosa. Dengan demikian, mereka yang hidup dengan bawaan cacat sebenarnya mereka seperti orang yang tidak hidup lagi. Status mereka yang tidak disamakan dengan manusia lain. Ini sebabnya, Mefiboset mengatakan, “Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?”. Bisa kita perhatikan saksama, Mefiboset menyamakan dirinya dengan anjing, lebih buruk lagi, anjing yang sudah mati. Kalau anjing hidup, mungkin masih ada gunanya. Tetapi, apa kegunaan dari anjing yang mati? Akan tetapi, perjanjian tetap perjanjian. Daud tidak memandang kondisi fisik Mefaboset. Ia tetap melihat Yonatan sebagai pihak yang dikasihinya. Bukankah saat itu Daud, ketika dikejar Saul, sudah seperti anjing mati? Daud menyatakannya dengan terang,”hanya satu langkah jaraknya antara aku dan maut” (1.Sam.20:3). Tanpa ragu lagi, Daud menyerahkan harta milik Saul kepadanya sehingga mereka secara tidak langsung menjadi semeja untuk makan bersama karena mengerjakan tanah yang sama (ay.6-8).

        Refleksi yang dapat kita renungkan dari firman Tuhan di minggu ini adalah kita dapat belajar dari iman Daud yang tetap menggenapi janjinya. Daud bukan seorang yang ingkar. Daud menghargai hak hidup seorang yang cacat. Tidak ada niatan dari Daud sedikit pun untuk merendahkan anak dari sahabatnya, Mefaboset. Cinta Daud kepada Yonatan turun pada anaknya, Mefaboset. Cinta itu juga yang ditekankan oleh Yesus pada murid-Nya, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh.15:13). Yesus seketika memosisikan kasih sahabat (filia) lebih besar dari kasih sejati (agape). Dan, atas dasar itu, Yesus menjawab pertanyaan murid tentang apakah dosa yang menyebabkan seseorang itu cacat dengan jawaban yang sangat luar biasa, “...Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (Yoh.9:3).  Kita mengasihi orang disabilitas karena mereka adalah sesama dan sahabat kita. Mereka mengalami disabilitas karena pekerjaan Allah yang harus dinyatakan di dalam mereka. Marilah kita menghapus stigma buruk dan negatif pada sesama dan sahabat kita yang disabilitas. Kira rangkul mereka di dalam kasih yang diberikan Tuhan pada kita, selaku sahabat-Nya. (ThBS)

Sabtu, 12 September 2020

Kenikmatan Dunia adalah Kesia-siaan (Pengkhotbah 2 : 4-11)


 

Dalam Piramida Kebutuhan yang disusun oleh Abraham Maslow, ia menempatkan Aktualisasi Diri sebagai susunan paling puncak dari kebutuhan manusia. Setingkat di atas Penghargaan/Penghormatan. Penempatan Aktualisasi Diri sebagai kebutuhan tertinggi oleh manusia versi Maslow ini tentu bukan tanpa alasan. Ia tentu menyadari bahwa nama baik, penghormatan, kekayaan, dan semua yang mahsyur dimiliki manusia tiada guna apabila pada akhirnya manusia itu tidak dapat berbuat apa-apa pada sesamanya.

Demikian pula, Kohelet-Penulis dari kitab Pengkhotbah, yang menyaksikan tentang pengalaman dirinya. Sebagai seorang dari anak Raja dan yang berwejang/berkhotbah di kumpulan, ia tentu seorang yang sangat mahsyur dan sangat dihormati. Ia memberikan kesaksikan kalau ia sudah melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. Ia punya rumah megah, kebun anggur (ay.4-5). Lebih hebatnya, ia telah berbuat bagi sesama dan lingkungannya dengan membangun waduk irigasi* untuk perkebunan di wilayahnya (ay.6). Budak, hewan ternak, perhiasan indah ia pemecah rekor akan jumlah kepemilikannya (ay.7-9). Semua itu hasil kerja keras yang dilakukannya selama ia hidup (ay.10). Namun, entah mengapa Kohelet tiba pada kesadaran kalau itu semua sia-sia layaknya menjaring angin. Tidak ada keuntungan di bawah matahari (ay.11).

Pernyataan Kohelet ini seperti memutarbalikkan kajian akademik dari Abraham Maslow akan piramida kebutuhan manusia. Kohelet sudah tiba pada posisi tertinggi dari piramida, tapi ia tetap merasa tidak puas. Mengapa? Kita dapat melakukan komparasi dengan pandangan para filsuf eksistensialis, di mana salah satu pandang yang mirip dengan nas kita adalah keputusasaan. Dalam kajian filsafat eksistensialis, keputusasaan di sini berbeda dengan keputusasaan yang umum dipikirkan. Karena, keputusasaan itu hadir di saat semua tidak dalam kondisi berputusasa atau juga kondisi runtuhnya nilai yang padanya mereka bergantung. Misalnya, secara umum, seorang akan merasa hidupnya tiada berguna apabila ia sudah sakit-sakitan, serta ditinggalkan banyak orang. Keputusasaan yang dimaksud adalah ketika seseorang merasa tiada lagi asa padahal ia sedang baik-baik saja. Perasaan putus asa ini bisa muncul karena adanya absurdisme, di mana kegagalan seseorang memberikan nilai pada keyakinannya. Banyak yang menghubungkannya kemudian kepada sikap ateisme, bahwa pemaknaan hidup itu sangat tergantung dari cara manusia sendiri yang memberikannya. Tetapi, Kohelet sekali lagi memutarbalikkan pandangan sikap ateistme itu. Kohelet merumuskan sikap keputusasaan itu terjadi karena tiada semua prestasi hidup apabila kita tidak mengenal Allah, sehingga tidak takut akan Dia. Padahal, Allah adalah Kekekalan (Pkh.3:14-15).

Pada akhirnya, firman Tuhan pada minggu ini membuka ruang untuk kita memberi makna pada hidup, bahwa segala penilaian dunia akan diri manusia, termasuk kenikmatan yang ada di dalam keberhasilan hidupnya, semua adalah sia-sia. Semua akan berlalu yang ada di bawah matahari, sebagaimana pun kita berusaha menjaring angin sebanyak-banyaknya. Takutlah akan Allah, maka hati kita akan tenang, serta hidup kita memiliki makna yang baru. Mendefinisikan arti takut akan Tuhan Allah akan membuat hidup kita menjadi semakin bermakna, jauh lebih nikmat yang ditawarkan oleh dunia ini.  (ThBS)

 

*) kata Berakot Mayim  diterjemahkan menjadi kolam oleh LAI. Akan tetapi, ada beberapa arti lain dari kata Ibrani itu.

    Salah satunya adalah waduk irigasi, yang dalam konteks nas kita menjadi sangat sesuai dan tepat