Kamis, 25 April 2019

Investasi Politik yang Buruk

Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 baru saja berakhir. Pesta demokrasi sehari itu mungkin yang teralot sepanjang Republik ini ada. Bagaimana tidak, emosi masyarakat diobok-obok selama bertahun-tahun dengan isu yang mengancam kesatuan masyarakat. Belum lagi putaran uang ratusan triliun rupiah yang ada di dalamnya. Hasilnya? 
Caci maki di tengah masyarakat, saling klaim kemenangan, menggugat KPU, meragukan netralitas badan negara, dlsb. Isu ketakutan-ketakutan terus menghantui bangsa ini. Begitu pula, ancaman yang tidak boleh disepelekan, "People Power", yang bisa menjadi bom waktu untuk harmonisasi kehidupan bangsa. 
Hasil ini semuanya tentu tidak seperti apa yang diharapkan sebelumnya, yaitu pesta kemenangan rakyat di dalam Persatuan Indonesia. Sesungguhnya, politisi kita saat ini sedang menanam investasi yang buruk untuk masa depan iklim perpolitikan bangsa kita. Politik di Indonesia ke depan akan biasa memainkan isu hoax, termasuk materi SARA yang sangat sensitif. Alih-alih menjadi negara yang maju, kita malah melangkah mundur. 
Padahal, Rod Hague, seorang pakar politik, mendefinisikan politik sebagai kegiatan yang menyangkut cara bagaimana kelompok-kelompok mencapai keputusan-keputusan yang bersifat kolektif dan mengikat melalui usaha untuk mendamaikan perbedaan-perbedaan di tengah para anggotanya. Definisi politik dari Rod Hague ini bersifat konstruktif. Bahwa, politik menjadi jembatan pemersatu. Bukan potensi perpecahan seperti yang mengancam bangsa kita.
Investasi politik yang demikian buruk menurut hemat saya menjadi tanggung jawab partai politik sepenuhnya. Miriam Budiardjo menyebutkan setidaknya ada empat fungsi partai politik bagi negara demokrasi, yaitu: 
Pertama, sebagai sarana komunikasi politik. Hal ini merujuk pada kehidupan masyarakat modern yang luas dan kompleks, banyak beragam pendapat dan aspirasi yang berkembang. Pendapat atau aspirasi seseorang atau kelompok akan hilang tidak berbekas seperti suara di padang pasir apabila tidak ditampung dan digabung dengan aspirasi orang lain yang senada. 
Kedua, sebagai sarana sosialisasi politik. Maksudnya, sosialisasi politik harus diartikan sebagai suatu proses yang melaluinya seseorang memperoleh sikap dan orientasi terhadap fenomena politik yang umumnya berlaku dalam masyarakat di mana ia berada. 
Ketiga, sebagai sarana rekrutmen politik. Fungsi ini sangat erat dengan seleksi kepemimpinan, baik internal partai maupun kepemimpinan nasional yang lebih luas. 
Terakhir, sebagai sarana manajemen konflik. Potensi konflik selalu ada di setiap masyarakat yang heterogen, apakah dari segi etnis, sosial-ekonomi, atau pun agama. Setiap perbedaan tersebut menyimpan potensi konflik. Untuk itu, peran partai politik tidak lain untuk mengatasi atau sekurang-kurangnya dapat diatur sedemikian rupa sehingga efek negatifnya dapat ditekan seminimal mungkin. 
Apa yang dijabarkan oleh Miriam Budiardjo tentang keempat fungsi partai politik, ini tidak berfungsi dengan baik di dalam partai politik yang ada di Indonesia. 
Malah, partai politik tidak jarang memperlihatkan komunikasi politik yang rumit, dan aspirasi masyarakat digiring ke dalam opini politik kepentingan partai. 
Sosialisasi politik yang terjadi pun tidak representatif mencerminkan kebersatuan sebagai bangsa, tetapi malah seperti provokasi isu yang sebenarnya tidak terlalu penting. 
Belum lagi proses rekrutmen kader partai yang berdasarkan seberapa besar ia sanggup membayar, sehingga memunculkan potensi korup. Lebih rumit lagi, berita pertikaian elit partai politik seperti tiada ujungnya menghiasi media massa kita. Sumber konflik malahan dimunculkan dari elit, yang seharusnya menekan efek negatif perbedaan.
Saya sebagai mana masyarakat lainnya mengharapkan agar elit partai politik dapat menunjukkan sikap bijaksana, di mana mendahulukan kepentingan bangsa daripada pribadi maupun sektoral. 
Terlebih, baik partai-partai yang melabelkan dirinya sebagai oposisi pemerintah dan partai pendukung sudah mendapatkan masing-masing suara elektoral yang sesuai target untuk menghiasi parlemen. Sudah saatnya kembali merajut kehidupan bangsa yang sudah tercabik-cabik. 
Antisipasi atas investasi politik yang buruk ke depan sudah mulai dilakukan sedini mungkin. Jangan sampai pihak yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan situasi ini untuk melemahkan persatuan negara kita.

Rabu, 26 Oktober 2016

Politisasi Agama dalam Pesta Demokrasi di Indonesia : Belajar Bersikap dari Pilpres 2014 Guna Menyambut Pilkada DKI Jakarta 2017)

Peserta Pilkada DKI Jakarta Tahun 2017 (Sumber : Internet)
Runcingnya persoalan agama di negara kita ini paling sering muncul karena aktvitas politik, seperti Pilpres (Pemilihan Presiden) dan Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah). Sisanya adalah gerakan bawah tanah dari mereka yang belum "move on" dari Piagam Jakarta 45
Harus kita cermati baik-baik bahwa pola kerukunan hidup beragama di Indonesia itu berbentuk Top-Down Design. Artinya, kalau ada satu atau dua tokoh nasional atau tokoh agama yang berkonflik memakai isu agama maka konflik itu bisa berdampak sampai ke lapisan bawah, yang melibatkan manusia dengan jumlah yang sangat banyak. Ini yang mengerikan!


Dalam Pilpres dan Pilkada yang terjadi di negara kita belakangan ini, ada tokoh nasional dan tokoh agama yang semangat bernegaranya sebelum memiliki kepentingan tertentu di politik begitu nasionalis. Tetapi, ketika ia memiliki kepentingan pribadi dan kelompok, mereka itu sedikit "nakal"  memainkan isu agama. Hal itulah yang bisa dimanfaatkan oleh kelompok yang belum "move on" dari Piagam Jakarta 45 yang terus berjuang mewujudkan cita-cita mereka.


Sederhananya, kerukunan umat beragama di Indonesia dapat tercipta kalau segenap tokoh nasional, pemerintah, para stakeholder, dan tokoh-tokoh agama yang berwawasan nasionalis bersatu padu. Kita tentu lebih kuat dari mereka yang gagal "move on" dari Piagam Jakarta 45. Semoga hal ini sudah dipikirkan baik-baik oleh mereka, khususnya Pak Jokowi, Pak A Hok, Bu Mega, Pak SBY, Pak Yusril, Pak Prabowo, dan Pak Amien Rais. Ketahanan dan keutuhan NKRI ada di tangan mereka saat ini.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Kita Mati dengan Dia, Kita pun akan Bangkit dengan Dia (2.Tim.2:8-15)

Renungan Minggu, 9 Oktober 2016


Media massa di Indonesia saat ini sedang dihebohkan berita dari Probolinggo-Jawa Timur. Berita itu juga telah menjadi bahan pembicaraan masyarakat di Siantar-Simalungun. Adalah Dimas Kanjeng Taat Pribadi (DKTP), seorang pria yang diteladani menjadi guru spiritual, dan dianggap memiliki kekuatan sakti untuk mendatangkan uang, sepeda motor, pulsa, bahkan garam pun disebut bisa disulap menjadi permata. Namun, DKTP dilaporkan oleh pengikutnya sendiri yang merasa telah ditipu dengan kerugian materi yang sangat besar. Saat ini, DTKP sendiri sudah dijadikan Bareskrim Polri sebagai tersangka kasus penipuan yang jumlahnya mencapai miliaran rupiah. Menariknya, korban dari penipuan DKTP ini tidak hanya dari kalangan bawah saja, tetapi juga dari kalangan elite dan terpelajar. Belakangan, ada muncul kabar yang mengatakan bahwa kemungkinan kasus penipuan ini melebar sampai kasus pembunuhan. Melihat daya ledak kasus ini yang sanggup menjangkau pembicaraan seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, kita dapat memahami bahwa persoalan yang terjadi di Probolinggo-Jawa Timur itu adalah persoalan yang relevan dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Persoalan warga Probolinggo-Jawa Timur yang menjadi korban penipuan DKTP ini tidak lain karena ada harapan dari mereka untuk meraup keuntungan materi yang besar tetapi didapatkan dengan cepat dan mudah. Begitu pula sebagian masyarakat di Indonesia, pasti banyak yang tergiur untuk mendapatkan keuntungan materi yang besar dengan cara cepat dan mudah, sekalipun itu sangat irasional (tidak logis). Memang, hasrat manusia untuk hidup senang membuat manusia menjadi sangat tidak logis. Kasus penipuan yang dilakukan DKTP ini bukanlah kasus baru yang terjadi di Indonesia. Namun, mengapa kasus serupa terus berulang terjadi? Apakah karena tingkat kesejahteraan manusia di Indonesia yang rendah? Sehingga, mereka ingin segera sejahtera tanpa harus bersusah payah untuk bekerja dan memenuhi kebutuhannya? Rasanya tidak juga, karena apabila kita perhatikan data dari UNDP tahun 2015, IPM (Indeks Pembangunan Manusia) di Indonesia terus mengalami kemajuan. IPM Indonesia dari data itu menempati posisi 110 dari 187 negara dengan nilai indeks 0,68. IPM sendiri menjadi barometer yang penting dalam mengukur kesejahteraan suatu bangsa karena menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembanganunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dsb. Jika penyebab banyaknya korban penipuan di Indonesia bukanlah karena persoalan kesejahteraan, lantas apa soal di balik banyaknya masyarakat Indonesia menjadi korban penipuan yang irasional sekalipun seperti yang terjadi pada kasus DKTP? Dalam analisa saya, penyebab utamanya adalah keinginan manusia untuk hidup senang yang tak ada batasnya. Terkadang, keinginan manusia yang tak terbatas itu membuat mereka menjadi sangat tidak rasional. Hal ini juga ditegaskan oleh Sigmud Freud yang mengatakan bahwa manusia bisa menjadi sangat tidak rasional karena tidak dapat mengendalikan “Id”-nya. Menurut Freud, “Id” merupakan energi-energi psikis manusia yang dapat memberi dasar kehidupan dan di satu sisi hadir sebagai ciri yang merusak. Agar “Id” yang berisikan keinginan tak terbatas manusia itu tidak sampai merusak, ia harus diatur oleh “ego” sehingga dapat menyaring realitas yang ada. Lalu, hasil yang disaring oleh “ego” itu diputuskan menjadi suatu tindakan atau milik seseorang melalui “superego”. Dalam konteks sosial, “superego” merupakan introjeksi norma eksternal, yang bisa juga dipengaruhi oleh keyakinan pada norma agama. Bisa dipahami mengapa DKTP mampu membuat orang dari kelas atas termasuk mereka yang berpendidikan menjadi tertipu tidak lain disebabkan bahwa DKTP menggunakan kedok agama untuk memengaruhi psikologis korbannya menjadi tidak logis (irasional). Lantas, sebagai umat Kristen, bagaimana cara kita mengantisipasi hal ini sehingga kita tidak terhisap ke dalam lingkaran kejahatan penipuan serupa?
Firman Tuhan saat ini memberikan kita satu pengajaran moral akan apa itu keuntungan? Bila kita membaca surat kedua Paulus pada Timotius, di sana kita menemukan Paulus memberikan pengembalaan pada Timotius agar hidup di dalam iman percayanya pada Kristus, seperti yang sudah sudah ada sejak dari generasi neneknya –Lois- dan ibunya –Eunike- (2.Tim.1:5). Dalam hidup percaya pada Kristus, ada hal yang harus dihadapi, di antaranya adalah tantangan untuk menyaksikan kabar baik tentang kebenaran Kristus tanpa malu (2.Tim.2:15). Tantangan itu tidak mudah karena seperti Paulus yang sudah lebih dahulu melakukannya, ia menghadapi berbagai penderitaan dunia di antaranya menderita penghukuman (2.Tim.1:8+12 & 2.Tim.2:9). Timotius sebagai seorang percaya yang sangat diharapkan Paulus untuk menjadi pemberita tentang Kristus juga diminta untuk memiliki kekuatan di dalam imannya sehingga bisa saksi Kristus di dunia melanjutkan tugas Paulus. Penderitaan yang dialami Paulus dan yang akan dirasakan oleh Timotius nantinya adalah hal yang wajar. Paulus menggambarkannya seperti tahapan penderitaan seorang prajurit yang tidak memusingkan dirinya dengan kehidupannya sehingga berkenan pada komandannya (2.Tim.2:4), juga seperti penderitaan ketekunan olahragawan dalam berlatih dan mengikuti peraturan perlombaan sampai ia mendapatkan mahkota juara (2.Tim.2:5), dan seperti penderitaan seorang petani yang bekerja keras untuk dapat menikmati hasil usahanya (2.Tim.2:6). Untuk itu, Paulus mengajak Timotius untuk tidak takut menderita karena hal itu hanya bagian dari tahapan menuju keselamatan. Malahan, Timotius diminta semakin teguh bersaksi bahwa “Yesus telah bangkit dari orang mati dan lahir sebagai keturunan Daud”. Frasa ini merupakan satu rumusan teologis baru dari Paulus pada saat itu untuk menegaskan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan sejak zaman Perjanjian Lama itu. Namun, tidak semua orang dapat menerima rumusan teologis yang baru itu, sehingga ia dibelenggu karena menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat Yahudi dan dianggap sebagai provokator (2.Tim.2:9). Paulus menyaksikan pada Timotius bahwa ia tidak menyesali sama sekali tindakannya itu karena Paulus memiliki kepercayaan bahwa “siapa yang mati untuk Kristus akan mati bersama dengan Kristus, dan siapa yang bertekun dalam iman akan memerintah bersama dengan Kristus” (2.Tim.2:10-12). Paulus juga meyakini bahwa Kristus itu setia sebagaimana Tuhan Allah yang sejak zaman purbakala setia adanya sekalipun nenek moyang Yahudi berulangkali bersikap tidak setia kepada-Nya (2.Tim.2:13). Oleh karenanya, tiap orang percaya, termasuk Timotius, dituntut daripadanya untuk bersungguh-sungguh di dalam kesaksian imannya dan berusaha untuk layak di hadapan Allah (2.Tim.2:14-15).
Dari pengembalaan yang dilakukan oleh Paulus pada Timotius dalam nas minggu ini, kita memperoleh satu gambaran bahwa penderitaan adalah bagian tahapan dalam iman Kristen. Tekanan hidup –sebagai suatu penderitaan- yang dirasakan umat Kristen masa kini ternyata bukanlah tujuan akhir. Tetapi, jika kita meminjam istilah yang dipakai Rostow, penderitaan itu adalah tahapan lepas landas menuju kehidupan bersama Kristus di dalam keselamatan kita. Harta dunia tentu tidak akan kita bawa mati. Sebanyak apapun kita kumpulkan di dunia ini, kita tidak bisa membeli keselamatan itu dengan nilai kekayaan yang kita miliki. Dengan demikian, tugas seorang Kristen adalah memberi kesaksian akan “Yesus adalah Juruselamat (Mesias)” pada seluruh dunia yang tengah dihinggapi kuasa keserakahan. Banyaknya manusia yang serakah membuat kehidupan di dunia ini semakin rusak. Yang kaya ingin kaya. Yang miskin ingin segera kaya bagaimana pun caranya. Keinginan memperkaya diri dengan segera adalah ciri keserakahan. Mengapa? Karena, tuhan mereka adalah mamon. Mereka menganggap bahwa harta dunia itu bisa menolong dan membuat aman kehidupan mereka. Padahal, pakar psikologi sekaliber Freud mengatakan keserakahan yang ada dalam “Id” manusia itu adalah hal yang merusak. Hal itu nyata terjadi seperti yang ada dalam kasus DKTP di mana terjadi kerugian akibat keserakahan bahkan ada indikasi terjadinya pembunuhan. Untuk itu, umat Kristen melalui nas saat ini diminta untuk tidak terjebak dalam sikap serakah, sehingga melakukan hal yang irasional seperti warga di Probolinggo. Malahan, umat Kristen dipanggil untuk memberitakan Kristus yang telah mati dan bangkit itu supaya bila kita mati kita mati dengan Dia, dan bila kita hidup kita pun akan hidup dengan Dia. Mati dan hidup bersama Kristus itulah menjadi keuntungan sejati bagi umat Kristen. Mengapa? Sebab seperti yang disampaikan oleh Martin Luther, dengan kita mati bersama Kristus, kita boleh memaknai bagaimana pengorbanan “Tuhan yang menyerahkan diri-Nya”. Kita dapat juga memahami bagaimana Allah memberi diri-Nya sendiri pada kita dan segala makhluk ciptaan-Nya, dan Dia mencurahkan pemberian-Nya yang tidak ternilai yang bertahan selamanya. Lebih dari itu, Dia menderita, mati, dan dikuburkan untuk melunaskan dosa kita –bukan dengan uang, melainkan dengan darah-Nya sendiri yang mulia.  Sehingga, kita tidak menyia-nyiakan kehidupan ini dengan pengharapan yang sia-sia, dan dengan kesenangan yang sia-sia. Hidup yang kita serahkan sepenuhnya kepada Kristus akan memadamkan roh keserahkahan yang membawa kita pada kehidupan yang sia-sia dan kematian selamanya.

Senin, 14 Desember 2015

Bermazmurlah Bagi Tuhan, Sebab Perbuatan-Nya Mulia (Khotbah di GKPI JKJK, Minggu 13 Desember 2015)


(Yesaya 12:2-6), Minggu Advent-III

Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus!
Suatu kali, seorang anak laki-laki menghampiri ibunya untuk meminta izin karena ia merasa sudah siap untuk menikahi kekasihnya. Tanpa diduga, jawaban ibunya malah meminta anak itu untuk menyampaikan permohonan maaf pada ibunya. Anak laki-laki itu yang bingung kemudian bertanya, “Mengapa saya harus minta maaf kepada ibu?”. Ibunya dengan tegas menjawab, “Ayo minta maaf!”. Berulangkali anak laki-laki ini mencari jawaban dari ibunya, “Mengapa ia harus meminta maaf?”. Namun, berulangkali pula ibunya memaksanya untuk meminta maaf. Akhirnya, anak laki-laki itu menyerah dan segera meminta maaf pada ibunya, “Ibu, saya minta maaf. Sekalipun saya tidak mengetahui apa kesalahan yang baru saya lakukan pada ibu!”. Tidak lama kemudian, ibunya langsung berubah sikap, dengan lembut ibunya pun berkata, “Anakku, itulah yang harus kau lakukan pada istrimu nanti ketika rumah tangga kalian sedang ada permasalahan! Sebagai laki-laki, engkau tidak perlu mencari alasan mengapa kau harus meminta maaf pada istrimu! Ibu sudah lebih dahulu menjadi seorang istri selama hampir 30 tahun, dan ibu tidak ingin istrimu nanti merasakan kepahitan seperti yang ibu rasakan selama berumahtangga”. Setelah menikah, anak laki-laki itu memang harus menghadapi saat-saat di mana terjadi ketidakcocokkan dengan istrinya. Persoalan yang sangat sepele sekalipun bisa menjadi sumber percecokkan dalam rumah tangga mereka. Dan, sebagaimana nasehat dari ibunya sebelum menikah, anak laki-laki itu pun meminta maaf pada istrinya. Hal ini berlangsung setidaknya sampai usia pernikahan delapan tahun, karena setelahnya anak laki-laki itu merasa kesabarannya sudah habis. Ia kemudian membalikkan tuduhan istrinya lalu memojokkan istrinya sebagai seorang yang bersalah. Karena sudah sangat rumit situasinya, istrinya pun mengajukan surat cerai. Anak laki-laki yang telah menjadi seorang bapak atas anak-anak yang tengah bertumbuh pun menjadi sangat bingung. Ia sangat mencintai istri dan anak-anaknya. Sehingga, ia memohon maaf pada istrinya dan memintanya agar tetap tinggal. Istrinya pun mengabulkan permintaan suaminya itu, karena ia pun masih mencintai suaminya. Setelah badai rumah tangga itu berlalu, anak laki-laki itu kemudian menjumpai ibunya kembali dan sambil berlutut di kaki ibunya ia pun berkata, “Syukur aku masih mengingat nasehat ibu, dan aku berterima kasih untuk peringatan yang sangat bermanfaat bagiku dan bagi keluarga kecilku”.
Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan!
Sama seperti cerita di atas, demikianlah pula nas kita pada saat ini, yaitu Tuhan melalui visi Yesaya telah memperingatkan bangsa Israel bahwa nantinya mereka akan dihukum oleh Tuhan, tetapi kasih setia Tuhan tetap tinggal pada mereka yang masih beribadah kepada Tuhan. Dan, atas peringatan itu, Israel layak bersyukur kepada Allah yang masih menjaga Israel. Memang, bila kita memerhatikan cerita di dalam Alkitab, kita akan menemukan bahwa Israel akan dibuang ke Babel, tapi segera dibawa-Nya kembali mereka sebagaimana janji-Nya. Inilah yang tengah dinantikan bangsa Israel yaitu hari Tuhan yang menyelamatkan mereka di kala mereka akan menghadapi penderitaan yang sudah menanti. Mengacu pada nas kita saat ini, pembahasan kita merupakan bagian pertama dari kitab Yesaya (Protoyesaya), di mana konteksnya bangsa Israel belum dalam pembuangan. Atas nubuatan keselamatan setelah melewati serangkaian penderitaan, Yesaya mengucap syukur kepada Allah melalui puji-pujiannya, di mana isi pujiannya merupakan tema minggu kita pada saat ini. Ucapan syukur Yesaya atas keselamatan itu dibuka Yesaya dengan kalimat, “Aku mau bersyukur kepada-Mu ya Tuhan, karena sungguhpun Engkau telah murka terhadap aku, tetapi murka-Mu telah surut dan Engkau menghiburku”. Kemudian disambung dengan pengakuan bahwa “Allah adalah kesalamatan, sebab Allah adalah kekuatan dan mazmur”(ay.2). Pengakuan iman ini sangat unik karena keselamatan yang diberikan oleh Allah tidak lepas dari penghayatan mereka akan kekuatan yang diberikan Tuhan atas bangsa itu. Kekuatan di nas ini dapat kita pahami dengan cara Tuhan menjaga bangsa Israel, sekalipun berada di tengah penderitaan mereka masih dapat bertahan, seperti saat keluar dari perbudakan di tanah Mesir. Dengan kekuatan itu pula mereka bermazmur bagi Tuhan. Kata mazmur sendiri aslinya berasal dari kata ibrani sefer tehillim, yang secara gramatikal sangat dekat dengan kata haleluya. Per definisi, Mazmur dapat dipahami sebagai respons manusia terhadap Allah di tengah berbagai situasi, baik suka maupun duka. Jadi, ketika dikatakan Allah adalah mazmurku, hal ini ingin menyiratkan bahwa Allah tetap menjadi Allah yang ada di tengah suka dan duka. Dari penjabaran ini, kita dapat menarik satu benang merah, yaitu keselamatan Israel dinyatakan dalam penyertaan Tuhan lewat penguatan yang diberikan di tengah respons mereka di berbagai situasi hidup. Atas dasar itulah, kita dapat memuji Tuhan yang memberikan  penguatan akan keselamatan bagi kita. Hal berikutnya adalah bagaimana Yesaya mengajak agar umat percaya menceritakan pekerjaan besar Allah yang akan telah menyelamatkan Israel (ay.4). Janji keselamatan Allah itu digambarkan dengan mata air keselamatan (ay.3). Suatu harapan yang menjamin orang percaya bahwa tidak selamanya murka Allah ditimpakan atas kita melalui penderitaan, karena kasih Allah lebih besar dan itulah yang membuat umat percaya merasakan sukacita yang besar. Mereka tidak akan haus dalam penderitaan, karena Tuhan akan melegakan mereka dengan perbuatan-Nya yang besar. Dengan menyampaikan kesaksian pekerjaan Allah yang besar, itu merupakan pujian kita kepada Allah atas rancangan-Nya yang indah dalam suka-duka kehidupan. Juga seperti Sion, yang adalah bukit di mana Tuhan berada, serta menjadi kota benteng Israel. Sion telah menjadi tanda keperkasaan umat percaya, karena di situ keselamatan dinyatakan Tuhan. Umat percaya yang dikiaskan sebagai penduduk Sion tentu harus menyambut keberadaan Allah di tengah-tengah persekutuannya. Mereka tidak akan mungkin dikalahkan lagi karena Allah ada di tengah-tengah mereka
Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus!
Dari penjabaran nas di atas, serta memerhatikan tema kita pada saat ini, maka ada dua hal yang dapat kita refleksikan pada Minggu Advent-III pada saat ini.
Pertama, persoalan alasan bermazmur. Alasan kita memuji (bermazmur) bagi Tuhan adalah karena Dia itu keselamatan. Sebagai umat percaya, kita tentu bersyukur bahwa di tengah ketidakpastian dalam hidup, kita meyakini ada hal yang pasti bahwa kedatangan Tuhan yang membawa keselamatan itu pasti akan terjadi. Umat Kristen memercayai bahwa Yesus adalah Juruselamat yang dikirimkan oleh Allah di dunia ini untuk memberikan keselamatan. Dengan memperdamaikan manusia dari dosa, manusia kembali dipersekutukan dengan Allah. Inilah yang patut kita syukuri dalam pujian kita kepada Allah. Belajar dari bagaimana menantikan kedatangan Tuhan pertama kali di dunia, begitu pula kita juga saat ini tengah menantikan kedatangan Tuhan kali keduanya. Ada beberapa pendekatan dalam menantikan hari kedatangan Tuhan kedua kali sebagai sumber keselamatan itu. Ada yang memaknainya sebagai hari kiamat. Ada pula yang memahami hari Tuhan itu datang dalam hari kematian kita, di mana tugas kita sudah selesai di dunia ini dan Tuhan datang menjemput kita dalam keabadian. Serta, banyak penjelasan tentang hari Tuhan yang beredar di kalangan umat Kristen. Apapun pemahaman yang beredar itu, yang jelas ketika menanti kedatangan hari Tuhan itu, kita harus sudah memiliki dasar yang pasti bahwa Allah adalah keselamatan. Dari situlah kemudian kita memuji Tuhan melalui hidup kita sampai hari Tuhan itu datang kembali.
Kedua, jikalau kita sudah memiliki dasar mengapa kita harus bermazmur bagi Tuhan di kala menantikan kedatangan-Nya, kita kemudian diperhadapkan dengan pertanyaan bagaimana cara kita bermazmur bagi Tuhan dalam penantian itu? Belajar dari nas kita saat ini, kita mendapatkan dua cara bermazmur dalam penantian akan kedatangan hari Tuhan yang penuh keselamatan itu. Yang pertama, kita dapat bermazmur melalui kesaksian kita akan perbuatan besar Tuhan atas hidup kita. Tuhan bekerja atas diri manusia dengan berbagai cara yang unik. Masing-masing tidak sama. Ada orang percaya yang disapa Tuhan melalui peristiwa yang membahagiakan tetapi ada juga melalui peristiwa yang menyedihkan. Ada juga yang disapa oleh Tuhan melalui situasi ketidakadilan yang terjadi. Banyak cara Tuhan menyapa umat percaya. Ketika penderitaan datang sebagai sapaan Tuhan bagi umat percaya, pada batas apa kita dapat mengaku Tuhan adalah keselamatan kita? Mungkin ketika kita sedang dilanda sakit penyakit yang kronis, atau kepedihan karena kepergiaan orang yang kita kasihi selamanya dari tengah dunia, atau juga kemelaratan hidup di tengah-tengah dunia karena ketidakadilan ekonomi, bahkan ketidaktenangan menjalani hidup yang disebabkan rasa cemas berlebih. Dari banyak penderitaan yang mengambil banyak bentuk dalam hidup itu datang, sebagai umat percaya, kita tentu harus sudah yakin bahwa kita akan telah dikuatkan oleh Tuhan dalam menghadapinya. Namun, ketika harus bersedih, menangis, kecewa, hal itu silakan kita lakukan. Akan tetapi, kita harus membatasi diri dalam bersedih, menangis, dan kecewa. Kita harus meyakini secara sungguh bahwa kita dikuatkan oleh janji-Nya kalau Dia tidak meninggalkan kita sendiri. Sebagaimana bangsa Israel di masa Yesaya akan dihiburkan di tengah pembuangan dan dibawa kembali pulang, begitu pula kita sebagai umat percaya akan dihiburkan di tengah penderitaan kita dan kehidupan kita segera dipulihkan dengan pekerjaan Tuhan yang besar. Bagaimana proses yang kita alami sewaktu Tuhan memulihkan dan menghiburkan itulah yang kita saksikan sebagai pekerjaan Tuhan yang besar atas hidup kita. Sikap hidup dan teladan iman yang baik yang kita tunjukkan kala menghadapi penderitaan, sesungguhnya itu merupakan satu kesaksian kita yang hidup, walau tanpa harus diceritakan. Seperti yang dikatakan Paus Fransiskus, “Kabarkanlah Injil bila hanya perlu dengan kata-kata”, artinya kesaksian yang hidup akan pekerjaan besar Tuhan nyata dalam kehidupan keseharian kita. Dengan demikian, ketika kita menghadapinya dengan iman yang teguh serta tidak ada kata-kata hujatan yang keluar dari mulut kita, sesungguhnya kita tengah bermazmur kepada Allah, sekaligus menyampaikan kesaksian kita pada seluruh manusia. Selanjutnya, sorak-sorai dan seruan penduduk Sion, pada masa kini dapat kita pahami dengan keoptimisan umat percaya menjalani kehidupan dengan rasa terima kasih kita kepada Tuhan yang hadir di tengah hidup, sebagaimana Dia yang hadir di antara penduduk Sion. Rasa terima kasih atas keyakinan Tuhan selalu ada di tengah kehidupan umat percaya itu terlihat dari bagaimana umat percaya menyatakan penyembahan dan persembahannya kepada Tuhan. Apakah ia menyembah dan membawa persembahan pada Tuhannya melalui ibadahnya, doanya, nyanyiannya, persembahannya, rasa syukurnya, tubuhnya, dan hidupnya? Kebulatan tekad menyembah dan bersembah kepada Tuhan sesungguhnya juga merupakan bentuk bermazmur bagi Tuhan yang adalah keselamatan itu.
Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan!
Inilah firman Tuhan pada saat ini. Biarlah di Minggu Advent-III ini, kita semakin merenungkan bagaimana kita bermazmur kepada Tuhan dalam penantian akan kedatangan-Nya kembali. Biarlah firman Tuhan ini tidak lalu begitu saja, tetapi dapat menjadi suatu refleksi yang dihayati dalam menyambut Dia yang akan datang. Tuhan memberkati! Amin.

Selasa, 08 Desember 2015

tentang sendiri..


Pergilah, jika ingin pergi dariku,
karena tak seorang pun dapat menahan langkahmu,
termasuk aku.
kutahu, kusadari, mustahil kita dapat bersatu,
bagaimana pun caranya itu,
hanya mukjizat mendapatkanmu,
sudah kucoba berdoa membatu,
kutahu itu hanya candu yang menghiburku.
janganlah khawatirkan aku,
sudah biasa ditinggal begitu.
sendiri itu sesuatu,
yang selalu jadi karibku.