Sabtu, 17 September 2016
Senin, 14 Desember 2015
Bermazmurlah Bagi Tuhan, Sebab Perbuatan-Nya Mulia (Khotbah di GKPI JKJK, Minggu 13 Desember 2015)
(Yesaya 12:2-6), Minggu
Advent-III
Ibu, Bapak, dan Jemaat
yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus!
Suatu kali, seorang anak
laki-laki menghampiri ibunya untuk meminta izin karena ia merasa sudah siap
untuk menikahi kekasihnya. Tanpa diduga, jawaban ibunya malah meminta anak itu
untuk menyampaikan permohonan maaf pada ibunya. Anak laki-laki itu yang bingung
kemudian bertanya, “Mengapa saya harus minta maaf kepada ibu?”. Ibunya dengan
tegas menjawab, “Ayo minta maaf!”. Berulangkali anak laki-laki ini mencari
jawaban dari ibunya, “Mengapa ia harus meminta maaf?”. Namun, berulangkali pula
ibunya memaksanya untuk meminta maaf. Akhirnya, anak laki-laki itu menyerah dan
segera meminta maaf pada ibunya, “Ibu, saya minta maaf. Sekalipun saya tidak
mengetahui apa kesalahan yang baru saya lakukan pada ibu!”. Tidak lama
kemudian, ibunya langsung berubah sikap, dengan lembut ibunya pun berkata,
“Anakku, itulah yang harus kau lakukan pada istrimu nanti ketika rumah tangga
kalian sedang ada permasalahan! Sebagai laki-laki, engkau tidak perlu mencari
alasan mengapa kau harus meminta maaf pada istrimu! Ibu sudah lebih dahulu
menjadi seorang istri selama hampir 30 tahun, dan ibu tidak ingin istrimu nanti
merasakan kepahitan seperti yang ibu rasakan selama berumahtangga”. Setelah
menikah, anak laki-laki itu memang harus menghadapi saat-saat di mana terjadi ketidakcocokkan
dengan istrinya. Persoalan yang sangat sepele sekalipun bisa menjadi sumber
percecokkan dalam rumah tangga mereka. Dan, sebagaimana nasehat dari ibunya
sebelum menikah, anak laki-laki itu pun meminta maaf pada istrinya. Hal ini
berlangsung setidaknya sampai usia pernikahan delapan tahun, karena setelahnya
anak laki-laki itu merasa kesabarannya sudah habis. Ia kemudian membalikkan
tuduhan istrinya lalu memojokkan istrinya sebagai seorang yang bersalah. Karena
sudah sangat rumit situasinya, istrinya pun mengajukan surat cerai. Anak
laki-laki yang telah menjadi seorang bapak atas anak-anak yang tengah bertumbuh
pun menjadi sangat bingung. Ia sangat mencintai istri dan anak-anaknya.
Sehingga, ia memohon maaf pada istrinya dan memintanya agar tetap tinggal. Istrinya
pun mengabulkan permintaan suaminya itu, karena ia pun masih mencintai
suaminya. Setelah badai rumah tangga itu berlalu, anak laki-laki itu kemudian
menjumpai ibunya kembali dan sambil berlutut di kaki ibunya ia pun berkata, “Syukur
aku masih mengingat nasehat ibu, dan aku berterima kasih untuk peringatan yang
sangat bermanfaat bagiku dan bagi keluarga kecilku”.
Ibu, Bapak, dan Jemaat
yang dikasihi oleh Tuhan!
Sama seperti cerita di
atas, demikianlah pula nas kita pada saat ini, yaitu Tuhan melalui visi Yesaya
telah memperingatkan bangsa Israel bahwa nantinya mereka akan dihukum oleh
Tuhan, tetapi kasih setia Tuhan tetap tinggal pada mereka yang masih beribadah
kepada Tuhan. Dan, atas peringatan itu, Israel layak bersyukur kepada Allah
yang masih menjaga Israel. Memang, bila kita memerhatikan cerita di dalam
Alkitab, kita akan menemukan bahwa Israel akan dibuang ke Babel, tapi segera dibawa-Nya
kembali mereka sebagaimana janji-Nya. Inilah yang tengah dinantikan bangsa
Israel yaitu hari Tuhan yang menyelamatkan mereka di kala mereka akan
menghadapi penderitaan yang sudah menanti. Mengacu pada nas kita saat ini, pembahasan
kita merupakan bagian pertama dari kitab Yesaya (Protoyesaya), di mana
konteksnya bangsa Israel belum dalam pembuangan. Atas nubuatan keselamatan
setelah melewati serangkaian penderitaan, Yesaya mengucap syukur kepada Allah
melalui puji-pujiannya, di mana isi pujiannya merupakan tema minggu kita pada
saat ini. Ucapan syukur Yesaya atas keselamatan itu dibuka Yesaya dengan
kalimat, “Aku mau bersyukur kepada-Mu ya
Tuhan, karena sungguhpun Engkau telah murka terhadap aku, tetapi murka-Mu telah
surut dan Engkau menghiburku”. Kemudian disambung dengan pengakuan bahwa
“Allah adalah kesalamatan, sebab Allah adalah kekuatan dan mazmur”(ay.2). Pengakuan
iman ini sangat unik karena keselamatan yang diberikan oleh Allah tidak lepas
dari penghayatan mereka akan kekuatan yang diberikan Tuhan atas bangsa itu. Kekuatan
di nas ini dapat kita pahami dengan cara Tuhan menjaga bangsa Israel, sekalipun
berada di tengah penderitaan mereka masih dapat bertahan, seperti saat keluar
dari perbudakan di tanah Mesir. Dengan kekuatan itu pula mereka bermazmur bagi
Tuhan. Kata mazmur sendiri aslinya berasal dari kata ibrani sefer tehillim, yang secara gramatikal
sangat dekat dengan kata haleluya. Per definisi, Mazmur dapat dipahami sebagai
respons manusia terhadap Allah di tengah berbagai situasi, baik suka maupun
duka. Jadi, ketika dikatakan Allah adalah mazmurku, hal ini ingin menyiratkan
bahwa Allah tetap menjadi Allah yang ada di tengah suka dan duka. Dari
penjabaran ini, kita dapat menarik satu benang merah, yaitu keselamatan Israel dinyatakan
dalam penyertaan Tuhan lewat penguatan yang diberikan di tengah respons mereka di
berbagai situasi hidup. Atas dasar itulah, kita dapat memuji Tuhan yang memberikan
penguatan akan keselamatan bagi kita. Hal
berikutnya adalah bagaimana Yesaya mengajak agar umat percaya menceritakan
pekerjaan besar Allah yang akan telah menyelamatkan Israel (ay.4). Janji
keselamatan Allah itu digambarkan dengan mata air keselamatan (ay.3). Suatu
harapan yang menjamin orang percaya bahwa tidak selamanya murka Allah
ditimpakan atas kita melalui penderitaan, karena kasih Allah lebih besar dan
itulah yang membuat umat percaya merasakan sukacita yang besar. Mereka tidak
akan haus dalam penderitaan, karena Tuhan akan melegakan mereka dengan
perbuatan-Nya yang besar. Dengan menyampaikan kesaksian pekerjaan Allah yang
besar, itu merupakan pujian kita kepada Allah atas rancangan-Nya yang indah
dalam suka-duka kehidupan. Juga seperti Sion, yang adalah bukit di mana Tuhan
berada, serta menjadi kota benteng Israel. Sion telah menjadi tanda keperkasaan
umat percaya, karena di situ keselamatan dinyatakan Tuhan. Umat percaya yang
dikiaskan sebagai penduduk Sion tentu harus menyambut keberadaan Allah di
tengah-tengah persekutuannya. Mereka tidak akan mungkin dikalahkan lagi karena
Allah ada di tengah-tengah mereka
Ibu, Bapak, dan Jemaat
yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus!
Dari penjabaran nas di
atas, serta memerhatikan tema kita pada saat ini, maka ada dua hal yang dapat
kita refleksikan pada Minggu Advent-III pada saat ini.
Pertama, persoalan alasan
bermazmur. Alasan kita memuji (bermazmur) bagi Tuhan adalah karena Dia itu
keselamatan. Sebagai umat percaya, kita tentu bersyukur bahwa di tengah
ketidakpastian dalam hidup, kita meyakini ada hal yang pasti bahwa kedatangan
Tuhan yang membawa keselamatan itu pasti akan terjadi. Umat Kristen memercayai
bahwa Yesus adalah Juruselamat yang dikirimkan oleh Allah di dunia ini untuk
memberikan keselamatan. Dengan memperdamaikan manusia dari dosa, manusia
kembali dipersekutukan dengan Allah. Inilah yang patut kita syukuri dalam
pujian kita kepada Allah. Belajar dari bagaimana menantikan kedatangan Tuhan pertama
kali di dunia, begitu pula kita juga saat ini tengah menantikan kedatangan
Tuhan kali keduanya. Ada beberapa pendekatan dalam menantikan hari kedatangan
Tuhan kedua kali sebagai sumber keselamatan itu. Ada yang memaknainya sebagai
hari kiamat. Ada pula yang memahami hari Tuhan itu datang dalam hari kematian
kita, di mana tugas kita sudah selesai di dunia ini dan Tuhan datang menjemput
kita dalam keabadian. Serta, banyak penjelasan tentang hari Tuhan yang beredar
di kalangan umat Kristen. Apapun pemahaman yang beredar itu, yang jelas ketika
menanti kedatangan hari Tuhan itu, kita harus sudah memiliki dasar yang pasti
bahwa Allah adalah keselamatan. Dari situlah kemudian kita memuji Tuhan melalui
hidup kita sampai hari Tuhan itu datang kembali.
Kedua, jikalau kita sudah
memiliki dasar mengapa kita harus bermazmur bagi Tuhan di kala menantikan
kedatangan-Nya, kita kemudian diperhadapkan dengan pertanyaan bagaimana cara
kita bermazmur bagi Tuhan dalam penantian itu? Belajar dari nas kita saat ini, kita
mendapatkan dua cara bermazmur dalam penantian akan kedatangan hari Tuhan yang
penuh keselamatan itu. Yang pertama, kita dapat bermazmur melalui kesaksian
kita akan perbuatan besar Tuhan atas hidup kita. Tuhan bekerja atas diri manusia
dengan berbagai cara yang unik. Masing-masing tidak sama. Ada orang percaya
yang disapa Tuhan melalui peristiwa yang membahagiakan tetapi ada juga melalui
peristiwa yang menyedihkan. Ada juga yang disapa oleh Tuhan melalui situasi
ketidakadilan yang terjadi. Banyak cara Tuhan menyapa umat percaya. Ketika
penderitaan datang sebagai sapaan Tuhan bagi umat percaya, pada batas apa kita
dapat mengaku Tuhan adalah keselamatan kita? Mungkin ketika kita sedang dilanda
sakit penyakit yang kronis, atau kepedihan karena kepergiaan orang yang kita
kasihi selamanya dari tengah dunia, atau juga kemelaratan hidup di
tengah-tengah dunia karena ketidakadilan ekonomi, bahkan ketidaktenangan
menjalani hidup yang disebabkan rasa cemas berlebih. Dari banyak penderitaan yang
mengambil banyak bentuk dalam hidup itu datang, sebagai umat percaya, kita
tentu harus sudah yakin bahwa kita akan telah dikuatkan oleh Tuhan dalam
menghadapinya. Namun, ketika harus bersedih, menangis, kecewa, hal itu silakan
kita lakukan. Akan tetapi, kita harus membatasi diri dalam bersedih, menangis,
dan kecewa. Kita harus meyakini secara sungguh bahwa kita dikuatkan oleh
janji-Nya kalau Dia tidak meninggalkan kita sendiri. Sebagaimana bangsa Israel
di masa Yesaya akan dihiburkan di tengah pembuangan dan dibawa kembali pulang,
begitu pula kita sebagai umat percaya akan dihiburkan di tengah penderitaan
kita dan kehidupan kita segera dipulihkan dengan pekerjaan Tuhan yang besar.
Bagaimana proses yang kita alami sewaktu Tuhan memulihkan dan menghiburkan
itulah yang kita saksikan sebagai pekerjaan Tuhan yang besar atas hidup kita. Sikap
hidup dan teladan iman yang baik yang kita tunjukkan kala menghadapi
penderitaan, sesungguhnya itu merupakan satu kesaksian kita yang hidup, walau
tanpa harus diceritakan. Seperti yang dikatakan Paus Fransiskus, “Kabarkanlah
Injil bila hanya perlu dengan kata-kata”, artinya kesaksian yang hidup akan
pekerjaan besar Tuhan nyata dalam kehidupan keseharian kita. Dengan demikian, ketika
kita menghadapinya dengan iman yang teguh serta tidak ada kata-kata hujatan
yang keluar dari mulut kita, sesungguhnya kita tengah bermazmur kepada Allah,
sekaligus menyampaikan kesaksian kita pada seluruh manusia. Selanjutnya, sorak-sorai
dan seruan penduduk Sion, pada masa kini dapat kita pahami dengan keoptimisan
umat percaya menjalani kehidupan dengan rasa terima kasih kita kepada Tuhan
yang hadir di tengah hidup, sebagaimana Dia yang hadir di antara penduduk Sion.
Rasa terima kasih atas keyakinan Tuhan selalu ada di tengah kehidupan umat
percaya itu terlihat dari bagaimana umat percaya menyatakan penyembahan dan
persembahannya kepada Tuhan. Apakah ia menyembah dan membawa persembahan pada
Tuhannya melalui ibadahnya, doanya, nyanyiannya, persembahannya, rasa
syukurnya, tubuhnya, dan hidupnya? Kebulatan tekad menyembah dan bersembah
kepada Tuhan sesungguhnya juga merupakan bentuk bermazmur bagi Tuhan yang
adalah keselamatan itu.
Ibu, Bapak, dan Jemaat
yang dikasihi oleh Tuhan!
Inilah firman Tuhan pada
saat ini. Biarlah di Minggu Advent-III ini, kita semakin merenungkan bagaimana kita
bermazmur kepada Tuhan dalam penantian akan kedatangan-Nya kembali. Biarlah
firman Tuhan ini tidak lalu begitu saja, tetapi dapat menjadi suatu refleksi
yang dihayati dalam menyambut Dia yang akan datang. Tuhan memberkati! Amin.
Selasa, 08 Desember 2015
tentang sendiri..
Pergilah, jika ingin pergi dariku,
karena tak seorang pun dapat menahan langkahmu,
termasuk aku.
kutahu, kusadari, mustahil kita dapat bersatu,
bagaimana pun caranya itu,
hanya mukjizat mendapatkanmu,
sudah kucoba berdoa membatu,
kutahu itu hanya candu yang menghiburku.
janganlah khawatirkan aku,
sudah biasa ditinggal begitu.
sendiri itu sesuatu,
yang selalu jadi karibku.
Sabtu, 05 Desember 2015
Suci Tak Bercacat Menjelang Hari Kristus
Filipi 1:3-13 (Khotbah Minggu Advent-II, GKPI JKJK)
![]() |
| Lukisan Paulus karya Bartolo Montagna (1450-1523) |
Ibu, Bapak, dan Jemaat
yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus!
Mungkin masih segar dalam
ingatan kita bagaimana dua orang polisi di Deliserdang, Brigadir Richardo
Sitorus dan Brigadir Siregar, gugur dalam menjalankan tugas pada 26 Februari
2012. Para korban ini tentu tidak menyangka kalau pada hari Minggu itu, sekitar
jam 8 malam, akan menjadi akhir dari tugas mereka dalam menjaga keamanan di
tengah masyarakat. Semua peristiwa naas ini berawal ketika kedua polisi malang
itu turut ke dalam 5 rombongan tim yang ingin mengamankan seorang bandar judi
di daerah Perumahan Bumi Tuntungan Sejahtera, Deliserdang-Sumut. Di luar
dugaan, bandar judi itu malah meneriaki kelima polisi itu, Maling! Warga yang
mendengar teriakan itu langsung berkerumun menyerang kelima polisi yang
berpakaian bebas. Kelima polisi berusaha lari dari kejaran massa, akan tetapi
kedua brigadir yang menjadi korban gagal meloloskan dirinya sehingga meninggal
dunia dikeroyok oleh massa yang mengganas. Peristiwa ini mengajarkan pada kita
bahwa ternyata setiap pekerjaan memiliki risiko, termasuk menegakkan hukum di
tengah masyarakat, seperti yang dilakukan oleh polisi. Demikian pula tugas
pemberitaan kabar sukacita, tugas ini juga memiliki risiko bagi pengabarnya. Paulus,
contohnya, ia harus menerima risiko sebagai pembawa kabar sukacita ketika
memberitakan Injil di kota Filipi. Sesaat setelah memenangkan iman seorang perempuan
yang bernama Lidia, Paulus kemudian mengusir roh tenung yang ada dalam diri
seorang perempuan yang ingin mengikut Allah. Ternyata, ada para pembesar yang
tidak suka dengan perginya roh tenung itu karena roh itu membawa keuntungan
ekonomi bagi mereka. Inilah yang kemudian membawa Paulus masuk ke penjara. Dan,
sebagaimana kita ketahui kemudian bahwa kekuatan Allah juga nyata atas Paulus
ketika berada di dalam penjara (Kis.16:13-40). Dari dalam penjara, Paulus
menuliskan suratnya pada jemaat yang ada di Filipi, di mana dalam Alkitab kita
disebut dengan kitab Filipi, yang juga menjadi nas firman Tuhan bagi kita pada
saat ini.
Ibu, Bapak, dan Jemaat
yang berbahagia di dalam Kasih Tuhan!
Perhatian Paulus melalui
suratnya pada jemaat di Filipi mencakup berbagai hal. Salah satu di antaranya
adalah soal persekutuan dalam relasinya
dengan tindakan yang benar sebagai umat percaya. Konteks jemaat di kota
Filipi pada saat itu memang tengah mengalami peningkatan setelah kehadiran
Paulus. Banyak umat percaya baru di kota Filipi karena pekerjaan Allah lewat
Roh Kudus yang turun atas Paulus. Dan, pada mereka semua yang baru percaya,
serta pada umat yang telah percaya sebelumnya, Paulus begitu sukacita saat
mengingat mereka. Hal itu terlihat dari doa Paulus pada jemaat di Filipi yang
juga bentuk ungkapan syukurnya (ay.3-5). Tampaknya, Paulus tidak ingin bermegah
atas persekutuan yang kian besar di Filipi. Paulus menyadari bahwa semuanya itu
merupakan pekerjaan Allah, mulai dari sejak awal sampai pada akhirnya di hari
Kristus (ay.6). Paulus kemudian menegaskan mengapa ia meyakini bahwa
persekutuan mereka yang kian berkembang merupakan pekerjaan Allah karena mereka
yang ada di dalam hati Paulus turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang
sama seperti yang diterima olehnya. Sekalipun dalam keadaan yang rumit, harus terpenjara
karena berita Injil, Paulus menjelaskan bahwa ia tidak sangsi untuk meneguhkan
dan membelanya(ay.7). Keteguhan hati Paulus itu seiring dengan kerinduannya
berada di tengah-tengah jemaat (ay.8). Sehingga, Paulus dalam kerinduannya itu
mendoakan agar jemaat di Filipi juga dipenuhi oleh pengetahuan yang benar dan
segala macam pengertian (ay.9). Tujuannya tidak lain agar mereka dapat memilih
yang baik, kemudian menjadi suci dan tak bercacat, penuh kebenaran untuk memuji
dan memuliakan Allah menjelang hari Kristus (ay.10-11).
Ibu, Bapak, dan Jemaat
yang dikasihi oleh Tuhan Yesus!
Dari surat Paulus pada
jemaat di Filipi, kita sebenarnya dapat melihat empat hal yang sedang
ditekankan oleh Paulus, yaitu
1.
Doa merupakan sarana kita
mengucap syukur atas persekutuan yang ada.
Seorang umat percaya
tentu tidak bisa dilepaskan dari umat percaya lainnya. Oleh karenanya, umat
percaya harus menyadari bahwa mereka juga terpanggil dalam suatu persekutuan. Dengan
demikian, maju dan mundurnya suatu persekutuan sangat ditentukan oleh anggota
masing-masing. Karenanya, saling dukung antaranggota dalam suatu persekutuan
menjadi demikian penting. Dukungan antaranggota tidak mungkin terjadi bila
masing-masing anggota tidak saling mengingat kebaikan apa yang sudah terjadi
dalam persekutuan. Untuk itu, tiap anggota harus saling mendoakan sebagai bukti
syukur mereka bahwa persekutuan tetap boleh berlangsung, dan masing-masing
orang masih menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
Kita juga dapat
mengembangkan pandangan kita terkait hal ini dalam konteks persekutuan kita di
saat ini yang bernama GKPI. GKPI mengidentifikasi dirinya sebagai persekutuan
umat percaya, persekutuan penyembahan-persembahan, persekutuan imamat rajani. Hal
ini berarti bahwa tiap anggota GKPI itu orang percaya, orang yang menyembah dan
membawa persembahan, serta orang yang menjadi imam. Mereka ini tentu harus
saling mendoakan antara satu dan yang lain. Itulah yang membuktikan bahwa GKPI
merupakan persekutuan pemberitaan Injil. Namun, jika di dalam persekutuan GKPI
ada orang yang tidak saling mendoakan, malah saling menjatuhkan, maka
sesungguhnya persekutuan GKPI itu harus dipertanyakan. Bukan suatu hal yang
tidak mungkin jika karena satu atau lain hal, eksistensi persekutuan GKPI dalam ancaman. Baik itu mungkin karena
perseteruan organisasi antarpelayan, atau juga karena perseteruan antarjemaat
yang disebabkan oleh ego masing-masing. Oleh karena itu, doa merupakan fondasi
kokoh persekutuan umat percaya, termasuk persekutuan GKPI. Dalam iman kita
mengakui, GKPI masih menjadi persekutuan yang ada sampai saat ini tidak lain
karena jemaatnya masih saling mendoakan.
2.
Mengakui pekerjaan Allah
dalam suatu persekutuan.
Pada bagian
sebelumnya dikatakan bahwa maju mundurnya suatu persekutuan sangat tergantung
dari bagaimana anggotanya masing-masing yang saling mendoakan. Hal itu menjadi
sangat benar bila masing-masing anggota menyadari bahwa mereka merupakan sarana
pekerjaan Allah di tengah-tengah persekutuan. Satu hal yang harus disadari oleh
anggota persekutuan adalah menonjolkan diri sendiri di tengah-tengah
persekutuan merupakan awal dari kehancuran persekutuan. Mengapa? Karena,
persekutuan umat percaya itu dibangun oleh pekerjaan Allah, bukan pekerjaan
manusia. Ada banyak gereja yang mengalami konflik, bahkan di tengah masa Advent
dan Natal yang menjelang tidak lama lagi, disebabkan karena satu atau beberapa
individu yang secara sengaja menonjolkan dirinya. Mungkin juga hal ini terjadi
di tengah persekutuan GKPI. Oleh karena itu, kita sebagai bagian dari
persekutuan itu melalui minggu Advent pada saat ini harus benar-benar
merenungkan akan pekerjaan Allah di tengah-tengah persekutuan kita. Apakah kita
telah membiarkan Allah bekerja di tengah-tengah persekutuan kita, sehingga kita
dapat mengakui bahwa Dia-lah yang menghidupkan persekutuan itu? Atau,
jangan-jangan, sesungguhnya kita tengah berusaha memunculkan pekerjaan kita
sehingga menutup pekerjaan Allah atas persekutuan kita?
3.
Loyalitas menempuh risiko
dalam menyampaikan Berita Injil
Dalam suatu
persekutuan, tentu harus ada Berita Injil yang disampaikan. Layaknya Paulus
yang dengan teguh membela Berita Injil di hadapan mereka yang dimabukkan oleh
roh tenung, kita juga tentu harus mengambil sikap loyal dalam menyampaikan
Berita Injil sekalipun penuh risiko. Tentu, Berita Injil tidak hanya firman
Tuhan yang tertulis di Alkitab saja, tetapi juga Berita Injil adalah segenap
gerak dan perbuatan kita yang mencerminkan firman Allah dalam diri kita. Ini
berarti umat percaya sebagai anggota persekutuan harus mencerminkan firman
Tuhan di dalam kehidupannya. Tidak berkompromi dengan hal yang jahat merupakan
bentuknya. Mulai dari bentuk terkecil, yaitu tidak membuang sampah sembarangan,
sampai mengambil bentuk yang terbesar, yaitu: merampas hak orang lain demi
kepentingan pribadi. Kita dapat menyatakan loyalitas itu dalam berbagai profesi
yang kita geluti, seperti yang disaksikan oleh Martin Luther, bagaimana seorang
penjahit maupun tukang kebun dapat menunjukkan keimamannya melalui
pekerjaannya. Melalui minggu Advent-II saat ini, warga GKPI kembali diajak
untuk merenungkan sudah seberapa jauh loyalitas kita dalam pemberitaan Injil? Mari
kita melakukan yang baik dalam hidup ini selagi napas masih ada dianugerahkan
Tuhan atas kita. Martin Luther mengatakan “sekalipun dunia akan runtuh, aku
tetap akan menanam pohon apel”. Kalimat ini menunjukkan bahwa bagi Martin
Luther dalam berbagai kesempatan yang ada, kita harus melakukan hal yang baik
dalam hidup ini. Itulah loyalitas menyampaikan Injil.
4.
Sikap umat percaya dalam
menyambut hari Tuhan
Sikap yang
dimaksudkan Paulus di sini merupakan sikap yang didasarkan oleh pengetahuan
yang benar dan berbagai pengertian. Hari Tuhan tentu harus dipahami dengan
benar dan berbagai pengertian sehingga kita tidak menjadi sesat. Dengan
memahami dengan benar serta didukung oleh berbagai pengertian akan hari Tuhan,
kita akan dengan bijaksana menyambutnya. Hari Tuhan bisa dipahami dengan
kedatangan Tuhan kedua kali di dunia kita ini. Namun, tidak seorang pun yang
mengetahui kapan hari itu akan tiba. Hari Tuhan juga dapat kita pahami
bagaimana Tuhan menghampiri kita untuk membawa kita masuk Kerajaan-Nya lewat
kematian dan kebangkitan-Nya. Sehingga, ketika sudah saatnya kita menghadap
Tuhan di hari itu, kita sudah siap dengan tidak bercacat dan suci. Inilah yang
juga penting kita renungkan dalam minggu Advent-II pada saat ini.
Kita harus mengakui
Natal tidak akan bermakna tanpa Advent. Kedatangan Juruselamat melalui
kelahiran Yesus tentu tidak akan bermakna jika tidak ada janji keselamatan akan
datangnya Penebus. Melalui janji keselamatan dan penantian akan penggenapannya
itulah harapan kita menjadi tidak sia-sia. Ada kepastian yang telah dijanjikan.
Tema ibadah kita pada saat ini berfokus pada penekanan Paulus yang keempat,
tapi tidak bisa dilepaskan dari tiga penekanan sebelumnya. Untuk itu,
kita-jemaat masa kini- dalam minggu Advent-II dibawa pada perenungan akan
kesiapan kita menyambut hari Tuhan. Siapkah kita menyambut Dia datang kembali?
Siapkah kita menyambut Dia yang menghampiri kita? Atau kita menjadi gentar
karena dosa kita? Sebagaimana kedatangan Mesias, dalam rupa kelahiran Yesus
sekitar 2.000 tahun lalu, yang disambut dengan antusisas, kita juga menantikan
hari Tuhan itu dengan penuh antusias bukan dengan rasa kekhawatiran. Karena,
cepat atau lambat Tuhan akan menyelamatkan kita dari dunia yang penuh dengan
dosa ini. Dan, bila itu terjadi, berdasarkan pemahaman yang benar dan
pengertian yang kita terima selama ini, kita ditemukan-Nya tidak bercacat dan
kudus. Dengan demikian, kita dapat dibenarkan oleh kasih anugerah-Nya sehingga
kita beroleh selamat.
Ibu, Bapak, dan Jemaat
yang dipersekutukan oleh Kristus!
Inilah firman Tuhan bagi
kita pada saat ini. Biarlah kita, melalui persekutuan kita ini, menyambut hari
Tuhan dengan antusias. Sembari menanti hari Tuhan tiba, marilah kita tetap
saling mendoakan, saling merendahkan diri di hadapan Tuhan, menjadi pemberita
Injil, sehingga kita mendapatkan pemahaman dan pengertian yang benar. Dengan
demikian, biarlah oleh kemurahan Allah, kita ditemukan oleh-Nya pada hari Tuhan
nanti dengan tanpa cacat dan suci. Selamat menyambut hari Tuhan!
Senin, 23 November 2015
Khusus Dewasa: Tips Mengajar Sekolah Minggu bagi Guru Sekolah Minggu Laki-Laki
Tulisan ini digagasi dari diskusiku dengan salah
seorang Guru Sekolah Minggu (GSM) laki-laki saat kelas persiapan Sekolah Minggu
(SM) beberapa hari lalu. Ia baru saja bergabung menjadi GSM di gerejanya. Ketika
melakukan microteaching depan kelas,
ia terlihat begitu gugup dan kacau. Sehingga, ia memberikan pertanyaan padaku sesaat
setelah microteaching-nya dievaluasi rekan-rekan GSM lain; “Bang, bagaimana
caranya agar dapat menjelaskan cerita sekolah minggu dengan baik pada Anak
Sekolah Minggu (ASM)?”.
![]() |
| Diskusi yang dikembangkan oleh GSM laki-laki |
Sebagai orang yang dipercayakan untuk
memimpin kelas persiapan GSM di gereja ini, aku memang menggunakan beberapa
pendekatan belajar di dalam kelas persiapan. Aku ingin kelas persiapan SM
menjadi laboratorium pelayanan Kategorial Sekolah Minggu. Aku membuka pembelajaran
dengan memberikan topik diskusi bagi para GSM, yaitu: hal apa yang menarik
perhatian mereka terkait nas maupun buku panduan? sesuatu yang sukar dipahami? sesuatu
yang menjadi bahan pertanyaan? hal yang tidak logis? sampai sesuatu yang sangat
kuat maknanya? Tujuannya tidak lain untuk membangkitkan daya analistis dari
para GSM. Lalu, aku mencoba menghimpun hal-hal yang ditemukan para GSM itu
untuk “menjahit”-nya dalam penjabaran teologis. Setelah konstruksi teologinya
utuh, kemudian hal berikutnya adalah menurunkannya menjadi suatu sajian
refleksi-aplikasi bagi para GSM. Prinsipnya, bagaimana mungkin para GSM dapat
menceritakan nas firman Tuhan pada ASM sedangkan GSM sendiri tidak mengerti, tidak
tersentuh, dan tidak hidup di dalam firman Tuhan itu? Lalu, tugas berikutnya
semakin rumit, yaitu menurunkan sajian refleksi-aplikasi dari tingkat pemahaman
GSM ke pemahaman ASM. Di sini, aku mencoba untuk mengembangkan semua
kemampuanku yang sudah kupelajari di bangku akademik dibantu pengalaman serta
wawasan dari para GSM. Hasilnya, aku sendiri terkadang merasa takjub akan
kolaborasi yang boleh kami lakukan. Langkah terakhir adalah melakukan ujicoba
mengajar melalui microteaching di
kelas.
![]() |
| Proses Micro Teaching saat Kelas Persiapan Sekolah Minggu |
GSM tiap minggunya ditentukan siapa yang akan maju di depan kelas untuk
mempraktekkan cara mengajar. Tujuannya agar para GSM memiliki kesiapan setidaknya
60% menjelang hari minggu besok. Karena kami melakukan persiapan di hari Kamis,
tentu para GSM memiliki beberapa hari untuk menyempurnakan bahan, materi, dan
metode mengajar mereka secara pribadi sampai tiba waktu mengajar di hari
minggu.
Tak ada perlakukan spesial yang kuberikan
baik bagi GSM senior maupun GSM yang baru bergabung. Mereka sama-sama diberi
kesempatan untuk melakukan microteaching
dan saling memberi evaluasi pada temannya yang melakukan microteaching. Evaluasi di sini bukanlah sarana untuk saling
menjatuhkan. Tapi, suatu kesempatan untuk saling memperkaya antarguru sekolah
minggu. Microteaching dilakukan per
kelas, yaitu kelas kecil, tengah, dan besar. Artinya, ada tiga GSM tiap
minggunya melakukan microteaching. Ada
hal menarik yang kutemukan setelah selama microteaching,
yaitu: pertama, GSM senior sekalipun bisa tampil berantakan seperti GSM yang
baru bergabung; kedua, terlihat metode para GSM dalam mengajar sangat terbatas dan
terkesan asal mengajar saja; terakhir, GSM sering lalai dalam memilih diksi
saat bercerita dan metode mengajar apa yang tepat jika memerhatikan usia ASM.
Kembali ke topik awal kita, pertanyaan dari
seorang GSM laki-laki yang baru bergabung, “Bang,
bagaimana caranya agar dapat menjelaskan cerita sekolah minggu dengan baik pada
Anak Sekolah Minggu (ASM)?”. Hasil evaluasi memang menunjukkan kalau ia
sangat kacau dalam delivery; baik itu
pemilihan diksi, menekan demam panggung, dan mengatur tempo serta dinamika
suaranya. Begitu pula, sistematika ceritanya yang sering gagal membangun
konstruksi logika berpikir anak-anak dan orang dewasa karena sering menggunakan
kalimat yang berulang-ulang dan kalimat tidak efektik. Adapun aku, aku sangat
bergumul untuk menjawabnya. Karena, aku merasakan kerinduan untuk memperbaiki
diri yang kuat di dalam dirinya yang baru saja gagal di microteaching. Dalam menjawab pertanyaannya, aku menggunakan
pengalaman pribadiku karena aku yakin tidak ada cara memberi nasehat pada
seseorang sebaik berbagi pengalaman. Aku secara terbuka mengatakan sekalipun
sudah 8 tahun memimpin khotbah/mengajar, baik itu di kategorial orang dewasa
maupun ibadah anak-anak, aku sendiri masih merasa gugup. Dan, kegugupanku saat
ini tidak berbeda dengan pertama kali aku tampil. Jadi, bagiku, kegugupan itu
adalah hal yang wajar. Semua orang pasti merasakannya, bahkan mereka yang
disebut sebagai profesional sekalipun. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana
cara menekan rasa gugup itu? Bagaimana berkhotbah/mengajar yang baik? Secara
pribadi, ada beberapa tipsku untuk menyampaikan berkhotbah/mengajar, baik di
kalangan orang dewasa maupun kalangan anak-anak. Dan, tipsku itu kutemukan dari
pengalamanku ketika mendekati seorang perempuan yang kucintai. Aku tidak tahu
apakah aku keliru dengan menyamakan mengajar/khotbah dengan cara seorang
laki-laki menjalin komunikasi dengan perempuan yang dicintainya bahkan
mengungkapkan perasaannya. Ada pun tips
dariku yang mungkin terdengar aneh, yaitu:
Pertama,
jika seorang laki-laki hendak mendekati perempuan yang dicintainya, ia harus
berjuang mendapatkan sebanyak-banyak informasi tentang perempuan yang
dicintainya itu. Entah itu lewat teman dekatnya, atau memata-matainya di
jejaring sosial, bagaimana pun carany!. Informasi itu haruslah dapat
dipertanggungjawabkan keakurasiannya, karena kalau salah mendapatkan informasi
maka peluangnya mendapatkan perempuan yang dicintai besar kemungkinan akan
hilang. Begitu pula dalam mengajar dan berkhotbah, informasi di dalam khotbah/mengajar
harus dapat dipertanggungjawabkan sumbernya. Sebelumnya, kita perlu juga menyadari
bahwa pelayanan firman di kalangan dewasa maupun di kalangan anak-anak
merupakan hal yang sama, yaitu memberi suatu bentuk pengajaran di depan umum. Dari
kesadaran akan mengajar di depan umum itu, tentu ada hal yang harus
dipersiapkan secara serius. Mengapa? Karena, jangan sampai yang mengajar malah
sesungguhnya menjadi seorang yang harus belajar dari yang diajari. Untuk itu,
pertanggungjawaban materi mengajar/khotbah harus diperhatikan saksama. Bahan
yang digunakan untuk materi harus diperhatikan sumbernya. Internet memang
banyak menawarkan sumber informasi dan pengetahuan, tapi tak jarang isinya
kurang dapat dipertanggungjawabkan. Sebagai seorang yang sering menyampaikan
firman Tuhan, baik lewat pengajaran maupun khotbah, aku bukannya tidak sering
menggunakan internet. Tapi, internet hanya sebagai sumber sekunder. Materi yang
hendak ingin kukembangkan adalah materi yang benar-benar kukuasai dan
bahan-bahannya sudah ada dalam buku-buku yang pernah kubaca. Sehingga, internet
dijadikan sebagai informasi pembanding dari bahan yang telah kugodok menjadi
materi utama. Apakah ada informasi lain yang tidak kudapat atau terlewatkan
olehku. Dengan demikian, sebagai seorang pengajar/pengkhotbah, aku memiliki
materi yang kukuasai dan dapat dipertanggungjawabkan informasinya.
Kedua, setelah mendapatkan informasi tentang
perempuan yang dicintainya, laki-laki itu harus membangun komunikasi dengan
perempuan itu. Tentu, tidak semua informasi yang didapatkan dijadikan bahan
komunikasi. Mengapa? Karena, perempuan itu bisa menjadi tidak nyawan. Atau,
bisa jadi, bahan informasi yang digunakan itu tidak tepat untuk situasi
perempuan yang dicintainya saat itu. Misalnya, ada informasi kalau perempuan
yang dicintainya itu senang makan es krim, tapi saat ini ia tidak makan es krim
karena lagi ikut program diet. Bisa dibayangkan apa yang terjadi kalau
laki-laki itu cerita tentang es krim pada perempuan yang dicintainya yang
tengah menjalani program diet? Perempuan yang dicintainya itu tentu akan
menjadi sangat tidak suka. Dengan demikian, hal yang harus diperhatikan
kemudian baik dalam mendekati seorang perempuan dan berkhotbah/mengajar adalah
pemilihan materi apa yang sebaiknya disampaikan. Mengapa? Karena, selain
penguasaan materi berdasarkan bahan yang dapat dipertanggungjawabkan, kita
sebagai pengajar/pengkhotbah juga harus memerhatikan saksama situasi dari pendengar
khotbah/pengajaran kita. Kondisi sosial apa yang tengah berkembang di tengah
pendengar? Sebagai lanjutan pertanyaan bagaimana latar belakang sosial,
antropologis, psikologis dari pendengar khotbah/pengajaran? Pemilihan materi
pembicaraan yang tepat akan menarik perhatian orang yang sedang kepadanya kita
bercerita. Mereka tidak akan pernah bosan mendengar cerita saat itu.
![]() |
| Salah Seorang GSM Laki-Laki yang Baru di GKPI JKJK |
Ketiga, untuk mendukung komunikasi yang berkualitas dengan perempuan yang
dicintainya, laki-laki itu tentu harus memiliki metode pendekatan apa dalam
komunikasi, di mana di dalamnya juga berbicara tentang media. Laki-laki itu
harus memastikan ia memulai komunikasi dengan media apa? Apakah pesan singkat
(SMS)? Twitter? Facebook? BBM? Path? Instagram? Atau, mengajak bertemu langsung
berdua? Tentu, perempuan yang dicintainya harus merasa nyaman terlebih dahulu
dengan media komunikasi, karena kalau tidak pembicaraan akan segera berakhir
dan meninggalkan kesan yang kurang baik. Dan, peluang mendapatkan kesempatan
atau perhatian dari perempuan yang dicintai akan semakin mengecil. Begitu pula
dalam mengajar/berkhotbah, metode dan media menjadi unsur yang penting. Metode apa
yang akan digunakan dalam mengajar/berkhotbah? Story telling? Diskusi? Role
Play? atau yang lainnya? Begitu pula medianya. Apakah menggunakan media
bercerita dengan menarik? Video clip? Alat peraga? Boneka Panggung? Atau yang
lainnya? Penggunaan metode dan media yang tepat menjadi nilai yang sangat
krusial bagi seorang pengajar/pengkhotbah. Jika berhasil memilih metode dan
media yang tepat, maka pendengar akan dengan mudah terfokus pikirannya pada
pengkhotbah/pengajar, yang seolah mengatakan, “Ayo dengarkan aku! Perhatikan aku!”
Terakhir, lakukanlah! Seorang laki-laki
tentu pada akhirnya harus berkomunikasi dengan perempuan yang dicintainya. Setiap
persiapan dan pendekatan yang telah dilakukan dengan matang dapat digunakan
dalam membangun komunikasi. Persoalan utama
dalam tahap terakhir ini adalah mental yang kuat. Contohnya, sebagai seorang
laki-laki, aku adalah tipe laki-laki yang buruk dalam berkomunikasi maupun
mengungkapkan perasaanku. Aku tidak berani untuk memulai komunikasi dengan
perempuan yang kucintai, bahkan menatap matanya saja pun aku tidak berani. Tapi,
aku harus memiliki mental yang kuat untuk mengatasinya. Aku tidak akan pernah
tahu hasilnya bila tidak mencoba. Ini membuatku menjadi mengubah karakter yang
bukan diriku yang sebenarnya. Aku aslinya sangat susah merangkai kata untuk
bercerita dengan perempuan yang kucintai. Bahkan, terkesan sangat parah. Tapi,
aku mau tidak mau harus melakukannya. Begitu pula saat mengajar/berkhotbah,
walaupun kita bukanlah seorang yang suka bercerita, mau tidak mau dalam
pengajaran/khotbah, kita harus bercerita. Tidak ada pilihan lain! Memang hal
itu akan menjadikan diri kita bukan diri kita yang sebenarnya. Namun, ia tidak
bisa dihindari. Aku jadi teringat dengan seorang teolog PAK yang terkenal
dengan buku Seri Selamat-nya, Andar Ismail. Aku selalu bertemu dengan beliau
tiap hari Rabu dan Jumaat saat aku bekerja sebagai editor di toko buku BPK
Gunung Mulia, Jakarta. Ia adalah seorang yang kaku, pendiam, dan cenderung
seperti sombong. Sangat berbeda dengan Andar Ismail yang ada di buku Seri
Selamat, yang ceria, penuh cerita, lucu, dan tidak jarang menungkapkan hal-hal
yang konyol. Aku menjadi sadar mengapa banyak respons yang mengatakan Andar
Ismail itu di dunia nyata tidak seperti di dunia tulisannya? Terkadang, ada
kalanya kita memang harus menjadi bukan diri kita sendiri . Begitu pula dengan
orang yang jatuh cinta, pengkhotbah, dan pengajar, mereka sering menjadi bukan
diri mereka sendiri. Hal itu masih dalam tahap wajar jika mereka masih dapat
menyadari perbedaan itu. Yang berbahaya adalah saat seseorang tidak menyadari
ada kepribadian ganda dalam dirinya.
Dari sedemikian jauh tips yang dibagikan,
mungkin ada di antara kita yang berkomentar bahwa aku terlalu gila menyamakan
cara berkhotbah/mengajar dengan cara seorang laki-laki berkomunikasi dengan
perempuan yang dicintainya. Aku tidak ingin berdebat dengan mereka yang
memandangku demikian. Mengapa? Karena, ada kalanya hal spiritual ini didekati dengan
cara percintaan. Seperti, kitab Kidung Agung sebagai contohnya. Walaupun kitab
itu jarang digunakan dalam berbagai ibadah, tapi bukan berarti kitab itu bukan
bagian dari Alkitab/firman Tuhan. Akhirnya, semoga tips ini bermanfaat bagi
para GSM laki-laki. Tuhan memberkati!
Selasa, 17 November 2015
Jika Mencintaimu adalah Topik Tesisku!
![]() |
| Olaf |
Engkau adalah tesis yang hendak kutulis,
Entah harus dimulai dari huruf apa, kata apa, kalimat bagaimana?
Aku tidak tahu!
Cara terbaik
menggambarkan dirimu
seutuhnya memerlukan metode
khusus,
Mungkin,
pendekatan kualitatif agar dapat menjelaskanmu dalam bingkai kata,
Tapi, bagaimana caraku menggumpulkan data lapangan keseharianmu?
Engkau begitu jauh dariku, dan
lagi berbicara denganmu saja aku tidak bernyali!
Baiklah, aku mungkin
hanya perlu mengubah tesisku ke pendekatan kuantitatif,
Tujuannya ingin
memeriksa seberapa kuat
hubungan kita dalam sajian
angka.
Aku adalah variable bebasnya,
Kamu adalah variable terikatnya,
Dan cinta adalah variable kontrolnya.
Akhirnya, tesisku ada
titik terangnya. Tapi, tunggu dulu!
Aku teringat engkau
sudah menolak cintaku,
relasi apalagi yang perlu kucari?
Aku pun tidak tahu!
Segera aku menyadari
aku
adalah sarjana yang gagal dalam bidang percintaan,
Dan, engkau adalah tesis yang tidak akan pernah aku selesaikan.
Langganan:
Postingan (Atom)







