Jumat, 16 November 2012

Lepaskanlah...!!!



Salah satu lagu Kristen yang populer di dunia adalah "It Is Well with My Soul". Ada banyak versi cerita mengenai latar belakang tercetusnya lagu tersebut. Saya akan mencoba merangkumkan berbagai versi itu dalam satu tulisan. Menurut kisah yang beredar, lagu "It Is Well with My Soul" tercipta berdasarkan pengalaman traumatis yang dialami oleh Horatio Spafford, di mana dia adalah seorang praktisi hukum sekaligus pengajar di kota Chicago. Di tengah aktivitasnya yang padat dalam pekerjaan, Spafford memilih untuk menjadi seorang penatua di gereja presbitarian. Spafford memiliki isteri yang bernama Anna, di mana mereka dikaruniakan empat orang anak. Pada saat liburan tiba, tepatnya bulan November 1873, Spafford dan keluarga ingin berlibur ke Eropa (banyak tulisan yang mengacu Inggris sebagai negara tujuan mereka). Di tengah rencana tersebut, Sapfford mengubah sedikit rencana liburan keluarganya. Dia memutuskan untuk berangkat belakangan karena kepentingan bisnis investasi properti yang harus dikerjakannya. Spafford memang perlu mendapatkan banyak uang, mengingat krisis ekonomi perusahaannya tahun 1873 akibat kebakaran besar.

Isteri dan keempat anak Spafford berangkat dengan menggunakan transportasi kapal laut, Ville de Havre. Memasuki wilayah Eropa, kabut tebal menyelimuti wilayah tersebut sehingga kapal Ville de Havre bertabrakan dengan kapal lainnya. Dari 226 penumpang yang ada, diberitakan korban selamat ada 87 orang, di antaranya Anne, isteri Spafford. Sedangkan keempat anak mereka meninggal dunia tenggelam di samudera dalam. Anna langsung mengirimkan telegram, yang saat ini isinya diketahui "selamat sendirian". Menerima kabar itu, Spafford begitu terpukul. Sembari menatap lautan luas, dia membayangkan kalau keempat anaknya tengah bermain di antara gelombang-gelombang laut. Dengan ketabahan yang dimiliki, Spafford menuliskan kalimat "When peace like a river, attendeth my way. When sorrows like sea billows roll, whatever my lot, Thou hast taught me to know, It is well with my soul" (terjemahan: ketika damai itu seperti suatu sungai yang mengalir dalam perjalananku, ketika penderitaanku layaknya gulungan ombak di lautan, entah bagaimanapun nasibku, Kau telah mengajarkanku untuk memahami, semuanya baik untuk jiwaku)

Hal yang menarik dari penderitaan yang dialami oleh Spafford adalah ketika diperhadapkan dengan kondisi terburuk, dia menggawali pernyataannya dengan kalimat "bila damai seperti suatu sungai...". Di sini terlihat betapa luar biasanya pengakuan dari Spafford, di mana dia masih dapat mengatakan hatinya damai seperti sungai. Tidak seperti kebanyakan manusia, ketika mendapatkan hal terburuk dalam hidup, yang keluar adalah kata-kata hujatan dan keluh kesah. Keyakinan Spafford ditutup dengan pernyataan pengalaman spritualitasnya, "Kau telah mengajarkanku untuk memahami semuanya baik untuk jiwaku". Tentu pernyataan spirtual Spafford ini memiliki makna mendalam. Kalimat itu tentu diilhami oleh Spafford akan pengalaman Ayub yang ditimpa bencana maha dahsyat, namun tetap ikhlas dan tulus. Dalam pendekatan psikologi pastoral, apa yang dilakukan oleh Spafford adalah berdamai dengan permasalahannya. Berdamai dengan masalah itu sangat rumit, karena harus rela melepaskan apa yang telah kita miliki dan kita cintai sekian lamanya. Satu kata yang dapat kita pelajari dalam cerita ini saat diperhadapkan dengan masalah yang sangat besar adalah Lepaskahlah!

Senin, 08 Oktober 2012

Dari Cinta Sampai Ranting Gandum (Plato dan Sokrates dalam Dialog)


Suatu hari Plato bertanya kepada gurunya (Sokrates) : “Apa itu cinta? dan, Bagaimana saya bisa menemukannya?” Kemudian gurunya menjawab : “Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambilah satu saja rantingnya. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta.”
Plato lalu melakukan apa yang diperintahkan oleh gurunya itu dan tidak berapa lama kemudian kembalilah dia dengan tangan kosong tanpa membawa apa pun. Kemudian, gurunya bertanya: “Mengapa kamu tidak membawa satu pun ranting?” Plato menjawab: “Saya hanya boleh membawa satu saja dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali. Sebenarnya saya telah menemukan ranting yang paling menakjubkan, tetapi aku tidak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan di depan sana. Jadi saya putuskan untuk tidak mengambil ranting tersebut. Saat saya melanjutkan berjalan lebih jauh, baru saya sadari bahwa ranting-ranting yang kemudian tidak sebagus ranting yang tadi, jadi tidak ada satu pun ranting yang saya bawa pulang. Gurunya kemudian menjawab: “Jadi ya itulah cinta”
(Anonim, sudah melewati proses adaptasi)

Banyak orang yang mencoba berupaya untuk mendefinisikan apa itu cinta, termasuk Plato seorang filsuf yang terkenal. Pemahaman cinta dari Plato tidak lepas dari kebijaksanaan gurunya untuk mengantarkan dia ke suatu pemahaman mendalam akan cinta. Dari cerita di atas, ada beberapa hal yang dapat kita pelajari tentang definisi cinta menurut Plato dan juga gurunya. Pertama, apa itu cinta? Cinta dalam cerita di atas digambarkan seperti suatu ranting. Mengapa ilustrasi cinta harus diwakilkan oleh ranting? Ranting merupakan bagian dari tumbuhan (mahluk hidup) yang akan menghasilkan buah / makanan ( sumber kehidupan). Jadi dari ilustrasi gandum itu, cinta dapat didefinisikan sebagai bagian diri seseorang yang kemudian membentuk suatu cerita baru yang menakjubkan dalam hidupnya supaya hidupnya semakin hidup. 

Hal kedua yang dapat dipelajari, “di mana kita akan menemukan cinta?” Dalam gambaran Plato dan gurunya, kita hanya akan menemukan cinta itu di belakang cerita kehidupan. Namun pada kenyataannya, cerita kehidupan selalu berjalan bersama dengan waktu tanpa bisa dimundurkan kembali. Ini mengartikan bahwa cinta hanya akan kita temukan di dalam sebuah penyesalan. Pada akhirnya kita tidak akan pernah menemukan cinta, karena memang cinta itu tidak ada di masa kini dan di masa depan, namun hanya berada di masa lalu. Setujukah kita dengan Filosofi Cinta ala Plato dan Gurunya?

Jumat, 21 September 2012

Jokowi-Ahok : Menuju Jakarta (Indonesia) Baru?


Beberapa waktu lalu, saya memprediksi Jokowi-Ahok menang di angka 60-63%, ternyata melenceng, di mana beberapa lembaga survey menunjukkan kemenangan Jokowi-Ahok ada pada angka 53-55%. Saya sangat meyakini melencengnya prediksi saya karena berbagai upaya yang dilakukan oleh Foke-Nara beberapa hari jelang putaran kedua. Keganjilan di putaran kedua juga dirasakan oleh tim sukses Jokowi-Ahok, tetapi kemudian tidak dipersoalkan karena posisi kemenangan sudah dikunci atas Foke-Nara. Faktor yang sangat membahayakan untuk kemenangan Jokowi-Ahok sebenarnya ada pada Ketua Panwaslu DKI Jakarta, di mana dari awal sudah terilihat terang-terangan mendukung pasangan Foke-Nara. Tetapi seperti kata pepatah lama, "walau di mana pun emas ditempatkan, dia tetap akan menjadi emas". Congratulation to Jokowi-Ahok!

Pertanyaan yang harus diajukan kemudian adalah bagaimana sepak terjang Jokowi-Ahok dalam pemerintahan kota Jakarta selama tahun 2012-2017? Kalau hitung-hitungan kekuatan di parlemen daerah DKI Jakarta, PDI-P dan Gerindra tidak sebanyak parlemen yang diwakili partai politik pengusung Foke-Nara, di mana ada partai-partai besar seperti PKS, PAN, Demokrat dan Golkar. Ini mengindikasikan sebagus apa pun upaya Jokowi-Ahok lewat program-programnya, jika parlemen menjegal mereka, maka Jakarta akan begitu-begitu saja. Slogan Jokowi-Ahok "Jakarta Baru" harus didukung oleh anggota parlemen DKI Jakarta, sehingga program-program kreatif yang efektif dan efisien dapat berdampak bagi kesejahteraan masyarakat kota Jakarta. Permasalahan Jakarta yang harus dibenahi tentu tidak hanya persoalan pembangunan ekonomi dan infrastruktur kota saja, akan tetapi bagaimana membangun peradaban yang wajar untuk ditempati. Persoalan sosial yang terjadi di Jakarta tentu tidak lepas dari terdistorsinya pembangunan ekonomi, sehingga persoalan sosial kemudian menjadi luput dari perhatian. Inilah yang menjadi salah satu pemaparan pasangan Jokowi-Ahok dalam kampanyenya. Semoga saja pemaparan ini tidak hanya menjadi isu dalam kampanye namun dapat ditindaklanjuti kemudian.

Jika pasangan Jokowi-Ahok dinilai sukses pada sentuhan awalnya dalam membangun Jakarta Baru, bukan hal yang mustahil Jokowi diproyeksikan menjadi RI-1 saat 2014 nanti. Tentu terlalu jauh jika berbicara sampai ke sana, tetapi wacana ini bukan lagi menjadi rahasia di kalangan masyarakat Jakarta. Yang pasti pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta  2012 pada beberapa waktu lalu telah menjadi pelajaran politik yang baik bagi masyarakat, terkhususnya mengenai kehidupan demokrasi dalam berbangsa dan bernegara.

Jumat, 14 September 2012

Prediksi Pilgub Jakarta



Pasangan Foke-Nara tentu tidak bisa tenang jelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) putaran kedua pada tanggal 20 September 2012 nanti. Bagaimana tidak, di putaran pertama, pasangan Foke-Nara kalah pamor dari pasangan Jokowi-Ahok. Dampak dari kekalahan di putaran pertama, kubu Foke-Nara ganti strategi jelas putaran kedua. Hal tersebut diakui oleh pasangan Foke-Nara kepada berbagai media, bahwa hal-hal yang baik dari kampanye putaran pertama yang dilakukan pasangan Jokowi-Ahok bisa ditiru. Jadilah Bang Foke berada di tengah-tengah masyarakat kumuh dan miskin untuk menggalang suara yang tidak dilakukannya pada kampanye putaran pertama. Strategi selanjutnya adalah pendekatan ke partai-partai politik untuk menggalang kekuatan penuh jelang putaran kedua nanti. Ada Partai Demokrat, Golkar, PAN, serta juga PKS ada di sana. Sangat mengejutkan ketika PKS (Partai Keadilan Sejahtera) akhirnya berbalik mendukung pasangan Foke-Nara setelah sebelumnya terlibat persitegangan pada putaran pertama yang lalu. PKS tentu suatu kekuatan tersendiri, di mana partai ini terkenal dengan basis masa yang kuat pada akar rumput. PKS yang kental dengan nuansa agamisnya akan berusaha dimanfaatkan oleh pasangan Foke-Nara untuk menggempur pasangan Jokowi-Ahok yang kurang disukai oleh sekelompok orang yang fundamental dalam beragama. Terbukti serangan secara tidak langsung dilakukan dengan memanfaatkan isu agama oleh seorang mega bintang dangdut Indonesia kepada pasangan Jokowi-Ahok, yang di mana Ahok bukanlah seorang muslim. Pada akhirnya, kasus bernuansa agama itu pun selesai setelah tidak terbukti secara meyakinkan oleh Panwaslu Pilkada DKI, Rhoma Irama menyerang Ahok. Belum selesai sampai di situ saja, tiba-tiba Jakarta marak dilanda peristiwa kebakaran. Anehnya, kejadian ini terjadi pada daerah yang saat Pilkada putaran pertama lalu merupakan wilayah kemenangan pasangan Jokowi-Ahok. Sekali lagi, tidak ada bukti untuk menyatakan ini adalah serangan kepada pihak Jokowi-Ahok.

Pasangan Jokowi-Ahok yang hanya didukung oleh PDI-P dan Gerindra berusaha kalem. Ketua umum PDI-P, Megawati Seokarno Putri dalam keterangan jumpa pers menyampaikan tidak ada kaitannya antara kebakaran yang tiba-tiba banyak melanda daerah kantong suara Jokowi-Ahok dengan jelang Pilkada putaran kedua, di mana semua peristiwa itu seperti yang diterangkan pihak kepolisian adalah faktor arus pendek.Saat berkunjung ke daerah yang terkena bencana dan juga beberapa daerah kumuh dan miskin, Foke sang incumbent malah mengeluarkan pernyataan sinis, bahwa kalau masih mau di Jakarta harus tahu pilih siapa yang harus dipilih kalau tidak silakan pulang ke Jawa. Tentu pernyataan yang sifatnya kampanye seperti itu tidak etis disampaikan kepada orang yang sedang tengah dilanda bencana. 

Lantas bagaimana semua rentetan cerita jelang putaran kedua Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta akan banyak mempengaruhi hasil pemilihan? Secara terbuka, sebagai penulis di blog ini, saya mendukung pasangan Jokowi-Ahok. Bukan karena saya adalah seorang Kristen dan Ahok juga Kristen. Bukan! Tetapi karena rakyat Jakarta butuh pemimpin yang punya sifat rendah hati dan jiwa mengabdi untuk rakyat bukannya mengabdi pada partai politik. Saya lebih menggagumi sosok Jokowi karena dia adalah tipikal seorang pemimpin. Selalu terbuka dan apa adanya kepada rakyat., di mana hal itu jarang  terjadi di Indonesia. Hanya Soekarno yang pemimpin pertama dan terakhir yang dicintai rakyat Indonesia, setelah itu harus menunggu sampai 67 tahun kemudian untuk melahirkan seorang Jokowi. 

Kalau Jakarta ingin ada perubahan, tentu syarat pertama Jokowi-Ahok harus memenangi putaran kedua Pilkada DKI Jakarta. Syarat selanjutnya, presentase kemenangan pasangan ini harus di atas 70%, karena mengindikasikan dukungan penuh dari warga Jakarta. Karena apabila pasangan Jokowi-Ahok hanya menang 51% saja, maka Jakarta tidak akan ada perubahan apa pun. Terlalu optimis dan berlebihan jika mengharapkan presentase di atas 70%. Saya secara realistis akan mengunggulkan pasangan Jokowi-Ahok menang dengan presentase suara 60-63%. 

Jika prediksi saya nantinya benar, maka Pilkada DKI Jakarta akan menjadi suatu laboratorium politik masyarakat Indonesia menuju Pemilu 2014. Bukan partai politik lagi yang menentukan jalannya kekuasaan seorang pemimpin, melainkan masyarakat sendirilah yang menentukannya. Partai politik selama ini hanya sibuk mengurus koalisi untuk kehidupan partai politiknya, serta bagi hasil atas keuntungan koalisinya. Wakil masyarakat di gedung rakyat di Senayan, sudah tidak lagi dipercayai oleh masyarakat. Terlalu banyak kasus korupsi, nepotisme, kasus asusila yang melibatkan wakil rakyat dari partai politik. Partai politik selama ini hanya memanfaatkan rakyat untuk melanggengkan kepentingan mereka saja. Rakyat sudah lelah untuk dipermainkan seperti itu, apalagi dengan membawa-bawa isu SARA seperti yang dilakukan oleh pasangan Foke-Nara. Saatnya rakyat Jakarta bicara, saatnya rakyat Indonesia belajar. Kemenangan Jokowi-Ahok adalah proses pembelajaran politik yang baik untuk masyarakat Indonesia.

Sabtu, 01 September 2012

Hujan yang (Selalu) Sendiri



Bila nanti hujan datang,
bilang aku sedang enggan!

Bila nanti hujan mencariku,
suruh pergi ke balik kilat!

Bila nanti hujan tidak menemukanku,
katakan aku telah mati bersama angin!

Kuburanku adalah udara bebas,
di sanalah kita akan bertemu!

 




Rabu, 15 Agustus 2012

Dari Monas ke Italia

 


Pada hari Selasa (7/8), saya sengaja mengajak adik dan sepupu saya yang ketepatan berlibur dari Medan untuk berkunjung ke Monas. Saat itu matahari sangat terik seperti hendak membakar seluruh tubuh ini. Hal yang ditakutkan pun terjadi, kami dilarang masuk ke dalam terowongan yang menuju puncak Monas, karena jam berkunjung wisatawan ke puncak Monas baru saja tutup. Saya melihat jam tangan menunjukkan pukul 14.15 WIB. Kami bertiga hanya bisa terdiam, terkhusus saya merasa bersalah karena telah mengecewakan liburan adik dan sepupu saya yang telah jauh-jauh datang ke Jakarta. Di dekat kami ketepatan ada yang berjualan minaatur dan kaos Monas, langsung adik dan sepupu saya melihat-lihat untuk membelinya. Sedang asyik melihat adik dan sepupu saya tawar-menawar harga, telinga saya terusik dengan perdebatan antara seorang pria tua dan wanita bule. Perbedatan mereka sangat tegang, dalam berbahasa Inggris si wanita itu terus mengatakan penipu kepada lelaki tua itu. Balasan yang tidak kalah keras juga disampaikan lelaki tua itu yang fasih berbahasa Inggris dengan mengatakan bahwa wanita itulah yang telah menipunya.

Dengan kemampuan berbahasa Inggris yang seadanya, saya mencoba mendekati wanita bule yang terduduk sambil menggerutu. Saya menanyakan ada hal apa yang salah dengan perdebatan tadi. Langsung lelaki tua itu mendekati saya dan berkata dengan ketus kalau itu masalah mereka sehingga saya tidak boleh ikut campur. Di sisi lain wanita bule itu bercerita kepada saya kalau dia merasa kecewa ditipu oleh lelaki tua itu hanya karena dia adalah seorang turis yang berkunjung dari jauh. Saya meminta lelaki tua itu untuk berhenti berbicara dan bertanya kepada wanita bule itu siapa nama dan asalnya dari mana. Saya lupa nama wanita bule itu tetapi dia berkata asalnya dari Italia. Dengan sabar saya meminta dia untuk bercerita permasalahannya. Dengan tatapan yang serius wanita itu bercerita kalau lelaki tua itu adalah seorang pemandu wisatanya di Jakarta. Karena ingin menghubungi temannya yang ada di Italia untuk menanyakan restoran yang enak di Jakarta, dia meminjam telepon genggam milik lelaki tua tersebut untuk mengirim pesan singkat. Kepada lelaki tua itu, wanita dari Italia berkata akan membayar berapa pun untuk pesan singkat itu. Selesai menggunakan telepon genggam milik lelaki tua itu, ternyata wanita Italia itu kaget bukan kepalang karena lelaki tua itu meminta 5 Dollar. Si wanita bercerita ketika dia baru saja tiba di bandara Indonesia, dia meminjam telepon genggam orang lain dan biaya yang keluar untuk telepon ke Italia hanya dua ribu rupiah saja. Yang wanita Italia ini tidak bisa terima adalah lelaki tua itu sudah menipunya.

Saya beralih ke lelaki tua itu dan bertanya, apakah cerita wanita Italia itu benar? Dan lelaki tua itu memberikan konfirmasi bahwa cerita tersebut benar. Lalu saya melanjutkan pertanyaan, mengapa sampai lima dollar? Lelaki tua itu menjawab karena wanita Italia itu yang mengatakan akan membayar berapa saja. Lelaki tua itu merasa tidak terima dengan kehadiran saya dan menunjukkan identitas pemandu wisatanya yang resmi. Dari belakang adik saya langsung menyahut, "Bapak sudah buat malu nama Indonesia di mata turis Italia". Saya menenangkan adik saya dan kemudian bertanya kepada lelaki tua itu berapa rupiah pulsa yang dihabiskan oleh wanita Italia itu agar saya menggantikannya dengan uang pribadi. Lelaki tua itu mengatakan bahwa telepon genggamnya punya fasilitas pasca bayar, jadi tidak mengetahui berapa jumlah rupiah yang dikeluarkan untuk tarif pesan singkat ke Italia. Lantas saya bertanya balik mengenai solusi terbaik kepada lelaki tua itu. Dia mengatakan merelakan tidak usah dibayar oleh wanita Italia itu. Saya bertanya sekali lagi untuk memastikan apakah dia rela memberikan cuma-cuma dan lelaki tua itu menjawab rela.

Saya beralih ke wanita Italia dan bercerita hasil pembicaraan saya dengan lelaki tua itu. Wanita Italia itu kaget dan mengatakan tidak boleh seperti itu. Bagi wanita Italia, kalau lelaki tua itu memberikan cuma-cuma, maka wanita Italia itu akan sangat tersinggung. Oleh karena itu, wanita Italia itu mengeluarkan uang delapan ribu rupiah untuk ganti pesan singkat itu. Lelaki tua dengan marah berkata dalam bahasa Inggris, bahwa kalau dibayar dia mau lima dollar dan bukan delapan ribu rupiah. Dengan kesal wanita Italia itu mengeluarkan uang sekitar empat puluh lima ribu rupiah dan memberikannya kepada lelaki tua itu. Sambut lelaki tua itu, dia tidak mau menerima kalau wanita Italia itu tidak ikhlas. Wanita Italia membuang muka kepada lelaki tua dan beralih tatapan ke saya, lalu berkata, "Masalahnya bukanlah uang lima dollar itu, tetapi intinya dia sudah menipu saya hanya karena saya adalah seorang turis". Lelaki tua itu lansung membantah si wanita Italia dan membuat saya secara pribadi sangat tersinggung dengan ulah lelaki tua itu. Saya berkata dengan keras kepada lelaki tua itu bahwa masalah sudah selesai, karena wanita Italia itu sudah memberikan lima dollar sesuai permintaan. Dengan keras saya meminta lelaki tua itu untuk tidak memperpanjang masalah lagi.

Saya merasa iba dengan wanita Italia itu dan menawarkan telepon genggam untuk dipakai secara cuma-cuma tanpa biaya dan uang rupiah sekiranya dia membutuhkan. Wanita Italia itu menolak tawaran saya dan berkata persitegangan tadi merupakan pelajaran berharga baginya. Saya mengkonfirmasi bahwa lima dollar adalah harga yang kemahalan untuk pesan singkat. Wanita Italia pun membenarkan pendapat saya dan mengatakan bahwa lain kali dia tidak akan sembarangan minta tolong di Indonesia. Saya bertanya mengapa wanita itu enggan meninggalkan tempat duduknya, lalu dia menjawab sedang menunggu temannya yang tengah berada di puncak Monas sejak 30 menit lalu. Saya pun mengucapkan salam perpisahan kepadanya dan dia berterima kasih atas bantuan yang ditawarkan.

Sepanjang perjalanan di mobil, saya bercerita kepada adik dan sepupu saya bahwa orang-orang Indonesia, khususnya di Jakarta kebanyakan sering menyalahgunakan kepercayaan orang lain untuk kepentingan pribadi. Saya sangat simpatik dengan musibah wanita Italia itu. Adik saya mengatakan kekecewaan terbesarnya adalah bahwa lelaki tua itu membawa cerita Monas yang tidak baik ke Italia. Hal itu juga dibenarkan oleh sepupu saya. Dalam hati kecil saya bertanya, "Masih adakah orang Samaria yang baik hati itu di Jakarta?". Sekiranya ada, tentu cerita indah tentang Monas sampai ke Italia dengan baik.

Senin, 30 Juli 2012

Masyarakat Indonesia Brutal. Lantas, Salah Siapa?


gambar diambil dari tempo.com (gambar mahasiswa sedang berdemo kepada SBY dan Boediono)

Pada hari Jumat (27/07), masyarakat yang tinggal di dekat Toll Jatibening, Bekasi, mengamuk. Mereka tidak terima penertiban PT.Jasa Marga Tbk yang menutup terminal bayangan yang sudah ada sejak lama. Alasan dari masyarakat adalah adanya perputaran ekonomi yang dihasilkan oleh terminal bayangan tersebut. Masyarakat yang mengamuk beraksi dengan cara menutup Toll Jatibening, lalu membakar satu mobil patroli PT.Jasa Marga Tbk secara brutal. Akibatnya lalu lintas menjadi kacau balau dan beberapa kerugian yang dirasakan oleh masyarakat pengguna jalan toll, maupun dari PT.Jasa Marga Tbk itu sendiri. Apa hal yang bisa kita lihat dari peristiwa ini?

Tidak ada konten yang salah dari apa yang disampaikan oleh masyarakat yang ada di sekitar Toll Jatibening, Bekasi, bahwa ada perputaran ekonomi di sana sehubungan dengan adanya terminal bayangan. Selain itu, juga benar bahwa jika terminal bayangan di Toll Jatibening ditutup, akan merugikan masyarakat yang sudah sejak lama menggunakan manfaat dari terminal bayangan tersebut. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah masyarakat yang tinggal di dekat Toll Jatibening itu pernah berpikir mengenai dampak negatif dari terminal bayangan itu?

Ada beberapa hal negatif dari terminal bayangan di Toll Jatibening, Bekasi, yaitu:
1.Masyarakat telah melanggar hukum yang tertuang dalam UU No.38/2004, pasal 56 (bahwa setiap orang dilarang memasuki jalan toll kecuali pengguna jalan toll dan petugas jalan toll) dan Peraturan Pemerintah No.15/2005 tentang Jalan Toll, pasal 41 ayat 1.e dan ayat 2.d (bahwa jalur lalu lintas jalan toll, maupun bahu jalan toll, tidak digunakan untuk keperluan menaikkan atau menurunkan penumpang dan barang dan hewan.
2.Terminal bayangan di Toll Jatibening membahayakan kenderaan yang melintas di jalan tersebut. Kenderaan di jalan toll umumnya melaju dengan kecepatan di atas rata-rata ketika mereka melaju di jalan bukan toll. Bayangkan jikalau ada kenderaan melaju dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba ada bis ataupun transportasi lainnya yang dimanfaatkan masyarakat berbelok secara mendadak atau berhenti di tengah jalan, apa yang akan terjadi?
3.Kalau dikatakan terminal bayangan menguntungkan ekonomi masyarakat di sekitar Toll Jatibening, Bekasi, apakah keuntungan ekonomi itu dirasakan oleh pengendara lain yang melintas di jalan toll itu? Bayangkan berapa lama waktu yang dihabiskan saat terkena macet? Berapa banyak liter bensin yang terbuang percuma untuk mengantri kemacetan?

Dari setidaknya ketiga hal negatif itu, apakah pantas masyarakat yang ada di sekitar Toll Jatibening, Bekasi marah dan mengamuk? Aksi masyarakat di Toll Jatibening ini merupakan salah satu sikap terbuka mereka menentang hukum. Hal ini memang bukan hal yang baru terjadi di Indonesia, karena fenomena ini juga sudah terjadi pada ormas-ormas keagamaan yang fundamental saat melakukan aksi pengrusakan,penghancuran, pemukulan dan pembunuhan, yang jelas-jelas melawan hukum yang legal di Indonesia. Jika kita bertanya “Lantas, Salah Siapa?” Secara pribadi saya menjawab ini kesalahan mutlak dari pemerintah. Ada tiga alasan saya menyalahkan pemerintah, yaitu:

1.Pemerintah gagal menegakkan hukum secara adil : maksudnya, pengenaan hukum kepada masyarakat dirasakan tidak berjalan secara adil. Korupsi yang dilakukan oleh pejabat pemerintah, yang merugikan negara sampai hitungan milyaran dan triliyunan rupiah, hanya dijerat beberapa tahun hukuman penjara, atau juga kasusnya segera tiba-tiba saja menghilang. Sedangkan maling pakaian di jemuran, maling ayam, orang yang mengambil sawit yang berjatuhan dihukum secara mengenaskan. Ada yang dipukuli sampai babak belur. Ada yang dipenjara sampai lima tahun dan juga sepuluh tahun. Apa yang membedakan orang yang menjadi maling ayam, maling jemuran, mengambil sawit yang jatuh dengan pejabat yang korupsi dan merugikan negara sampai miliyaran dan triliyunan rupiah? Di sinilah letak ketidakpercayaan masyarakat kepada hukum yang diatur oleh negara.
2.Pemerintah gagal menyejahterakan masyarakatnya : bila dikatakan pemerintah tingkat kemiskinan telah turun, menurut hemat saya, harus digali lebih dalam lagi. Seberapa banyak orang miskin yang sudah naik taraf kehidupannya, dibandingkan orang yang dalam situasi ekonomi menengah ke bawah jatuh ke dalam kemiskinan, situasi ekonomi menengah ke atas yang juga jatuh level ekonominya dan seterusnya. Angka statistik yang dikeluarkan pemerintah bukanlah suatu hasil yang harus dibanggakan. Keberanian masyarakat melawan hukum, tidak lain karena himpitan ekonomi yang semakin mencekik. Akibatnya, masyarakat memilih melakukan tindakan yang radikal maupun fundamental yang sarat melawan hukum serta mengarah pada tindak kriminalitas, dan terakhir
3.Pemerintah tidak lagi dipercayai oleh masyarakatnya : ini sebagai konsekuensi gagalnya supremasi hukum di Indonesia, serta tidak sejahteranya masyarakat Indonesia. Kepentingan partai politik jauh lebih penting daripada kepentingan rakyat. Keperluan memenangkan tender perusahaan, lebih penting daripada memikirkan rakyat yang lapar. Plesir Wakil Rakyat beserta keluarganya dengan dalih studi banding, lebih penting daripada biaya perobatan masyarakatnya yang sakit. Skandal video porno pejabat jauh lebih meriah dibandingkan pendidikan masyarakatnya yang semakin tenggelam.