Nama Tifatul Sembiring semakin mencuat di bawah payung Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ketika dia berhasil memimpin partai tersebut menggantikan presiden PKS sebelumnya, Hidayat Nur Wahid, pada tahun 2004-2009. Pada masa pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2, Tifatul Sembiring ditunjuk menjadi Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo), terhitung tanggal 22 Oktober 2009 sampai dengan sekarang, dimana beliau menggantikan posisi Mohammad Nuh yang bergeser menjadi menteri pendidikan. Pria kelahiran Bukit Tinggi, Sumatera Barat, tanggal 28 September 1961 ini merupakan insinyur komputer dari Sekolah Tinggi Ilmu Manejemen dan Informatika dan Komputer.
Dalam evaluasi kinerja 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2, nama Tifatul Sembiring oleh media-media di Indonesia, termasuk menteri yang memiliki rapor merah di bidangnya. Hal ini sepertinya mendesak pemerintah untuk merombak susunan pemerintahan dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2. Tifatul Sembiring pada saat itu jelas berada di ujung tanduk, karena acap kali menjadi salah satu menteri yang disorot media masa. Alih-alih diturunkan dari kursi Menkominfo, Tifatul saat ini malah menjadi salah satu pejabat pemerintahan yang kontroversial. Lihat saja bagaimana beberapa fenomena yang dihasilkannya seperti, pemberantasan website-website yang dinilai bermuatan pornografi, pernyataan kontroversial terkait video panas Ariel-Luna Maya yang disandingkan dengan nabi Isa-Yesus Kristus, “pemaksaan” jabat tangan oleh Michelle Obama (padahal Tifatul sendiri yang jelas-jelas menyodorkan tangannya dalam rekaman oleh media-media) , dan baru saja usulan pemblokiran BlackBerry.
Masyarakat Indonesia pun bergejolak reaksinya menanggapi fenomena kontroversial yang dilakukan oleh Tifatul, ada yang pro dan ada juga yang kontra. Alhasil pembicaraan mengenai Tifatul pun semakin marak, baik di media masa, jejaring sosial bahkan oleh anak-anak sekolahan sekalipun. Tulisan ini mencoba untuk membaca kontroversi yang dilakukan oleh Tifatul, dengan asumsi budaya politik sebagai pisau bedahnya. Dalam ilmu politik, menurut Jacobsen dan Lipman, kegiatan politik pada dasarnya berisi tentang hubungan individu dengan negara dalam koridor hukum serta hubungan individu dengan individu atau komunitas lainnya. Terkait pemahaman akan ilmu politik tersebut, Samuel Beer melihat bahwa dalam hubungan yang dibangun individu tersebut terdapat sebuah kelakuan politik, di mana setidaknya ada empat unsur variabel yang terkandung di dalamnya yaitu: budaya politik (sistem kepercayaan, nilai politik dan sikap emosional), kekuasaan (alat mencapai sesuatu), kepentingan (kehendak yang ingin dicapai) dan kebijakan (konsekuensi dan akibat dari proses). Dari pemaparan sejauh ini, kesimpulan mengenai budaya politik yang akan digunakan dalam tulisan ini adalah terkait dengan tujuan dan cara, serta kemungkinan dan kebutuhan yang dihasilkan dari suatu situasi yang diharapakan.
Kontroversi yang dilakukan oleh Tifatul, menurut hemat saya, pada dasarnya hendak mencerminkan citranya sebagai sebagai seorang politisi sejati. Seorang politisi harus mampu menciptakan karakter yang khas, sehingga mudah ditandai oleh masyarakat banyak. Dalam pencitraan yang ingin dicapai, harus ada suatu cara untuk membangun hubungan citra diri dengan lingkungan yang ada di sekitarnya (baik negara, komunitas, maupun individu). Setali tiga uang, tentunya bukan hanya pencitraan saja hal yang ingin dicapai dari kontroversi yang diciptakan, tetapi juga ada hal lain yang dapat dimanfaatkan dari konterversi tersebut. Mengacu pada Beer, ada pengaruh kekuasaan dan kepentingan yang berada dibalik kontroversi Tifatul. Kekuasaan yang dimaksud datang elit pemerintah yang tengah berkuasa. Permasalahan yang kerap menerpa pemerintahan membuat sorotan publik kepada pemerintah kian tajam, terkhusus dalam kasus KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang tengah marak di badan pemerintahan. Sebut saja kasus Bank Century, rekening gendut Polri, mafia perpajakan yang konon katanya menyeret petinggi-petinggi partai sampai berimbas pada penguasa Indonesia saat ini. Untuk mengaburkan sorotan tajam publik tersebut, maka dimunculkan suatu isu yang dapat mengalihkan perhatian masyarakat. Cara-cara kontroversial seperti memanfaatkan isu dari kasus video panas artis maupun pemblokiran website porno dan Blackberry menjadi alternatif solusi yang paling tepat. Alasannya adalah isu ini sangat melekat dan tengah berkembang di dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Itulah mengapa saya katakan setali tiga uang, selain keuntungan pencitraan diri sebagai politisi, kepentingan penguasa pun dapat terwujud untuk mengalihkan perhatian masyarakat.
Sebagai seorang politisi, cara apa saja tentu dilakukan agar menciptakan karakter yang khas. Benar-benar mempraktikan filosofi Machiavelli (baca : menghalalkan cara untuk mencapai tindakan). Sulit untuk mengatakan ini merupakan praktik politik yang kurang baik, karena tidak ada indikator yang tepat (menurut hemat saya) untuk menggambarkan aktivitas politik yang baik. Namun menurut saya, kegiatan politik seperti ini adalah tindakan kekanakan, karena tidak dapat melihat kepentingan masyarakat banyak. Sebagai seorang politisi dari partai yang sarat dengan nilai keagamaan, Tifatul memainkan perannya dengan cukup baik. Isu mengenai agama dikendarainya untuk mengendalikan motor politik yang sedang dipacu. Kasus kebijakan yang sarat kontroversial merupakan bahan bakar motor politik yang tengah dikendarainnya. Sejauh ini hal-hal kontroversi tersebut tidak akan dapat menghentikannya, karena Tifatul tengah ditopang kepentingan kekuasaan yang besar pula. Walaupun ada yang mengatakan Tifatul tengah menjatuhkan kredibelitas PKS, namun menurut saya tidak sepenuhnya benar. Alasan logisnya adalah ketika nama suatu partai terdengar berulang-ulang dalam pemberitaan di media-media, maka semakin mudah pula diingat oleh masyarakat. Sama halnya dengan apa yang terjadi partai-partai yang lain, seperti Demokrat, Golkar, PDI-Perjuangan, PPP, PKB maupun PAN. Kontroversi ini sebenarnya juga ingin menggambarkan bahwa PKS adalah partai politik yang besar dan layak disandingkan dengan partai politik yang telah saya sebut sebelumnya.
Dengan demikian, kesimpulannya adalah Tifatul merupakan seorang politisi yang handal. Semua kontroversi yang dilakukannya lebih dalam rangkat proses pencitraan diri, sekaligus membantu penguasa saat ini untuk mengatur isu politik dalam negeri. Jadi menurut hemat saya, tidak perlu repot apalagi pusing dengan isu kontroversial yang dilontarkan oleh Tifatul ataupun politisi lainnya (seperti : Ruhut Sitompul, Marzuki Alie, Andi Malarangeng, dll), karena kontroversi tersebut adalah hasil dari budaya politik yang berkembang dengan normal di Indonesia. Indikasi lainnya yang dapat dilihat dari hal ini adalah bahwa pemahaman dan pendidikan politik masyarakat di Indonesia masih sangat lemah, dan rentan untuk dilakukan propaganda.
Sabtu, 15 Januari 2011
Selasa, 14 Desember 2010
Pdt.Prof.Drs.John Adrian Titaley, Th.D
Profil dari Pdt.Prof.Drs.John Adrian Titaley, Th.D
Tempat dan Tanggal Lahir : Sorong, 19 Juni 1950
Pendidikan :
1978, Sarjana Teologi (Drs) dari Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW)
1995, Doctor of Theology (Th.D) dari Graduate Theological Union (GTU), Berkeley, USA.
Minat Studi :
Studi Interdisiplin (Perjanjian Lama dan Agama Masyarakat)
Tentang Beliau :
Pak John atau Om John, begitu civitas UKSW menyapa Pdt.Prof.Drs.John Adrian Titaley, Th.D. Tubuhnya tinggi dan besar, rambut yang berwarna putih serta wajah yang semi oriental membuat Pak John sudah seperti orang Barat. Dalam suatu kelas, beliau pernah bercerita mengenai asal-usul namanya. Sewaktu lahir, beliau bernama asli Johanes Adrian Titaley. Orangtuanya berlatarbelakang suku Ambon dan Tionghua. Semenjak ditinggal ayah dan ibunya, beliau merantau ke pulau Jawa karena di tanah Maluku sudah tidak ada apa-apa yang bisa dilakukan lagi. Beliau hidup dari belas kasihan sanak saudaranya dan berharap suatu saat nanti dapat mengubah nasibnya menjadi lebih baik lagi. Bukan suatu kebetulan jikalau beliau mendaftar ke fakultas teologi UKSW di akhir tahun 1960-an. Aktif di lembaga senat mahasiswa universitas menghantarkan beliau menjadi sekretaris umum senat mahasiswa universitas (Sekum SMU). Di kalangan mahasiswa, Johanes Adrian Titaley lebih sering disapa dengan panggilan John. Bahkan ketika lulus pun, nama yang digunakan adalah John Adrian Titaley. Dengan penuh canda, beliau mengatakan : “Belum ada syukuran apa-apa, nama saya sudah diganti seenak-enak mereka” (disambut galak tawa di kelas). Prestasi akademik yang baik membuat John Titaley menjadi salah satu staf pengajar di fakultas Teologi UKSW, sampai pada akhirnya beliau melanjutkan studi ke negeri Paman Sam. Beliau berhasil mengubah nasibnya yang kurang baik menjadi lebih baik. “Tidak ada yang susah sebelum dicoba dan jangan pernah berhenti mencoba” itulah yang disampaikan beliau di akhir cerita asal-usul kehidupan dan namanya itu.
Dalam kegiatan akademis di UKSW, beliau bisa disebut sebagai tokoh penting UKSW. Ada banyak kisah fenomenal dan kontroversial selama beliau berkarier di UKSW. Peristiwa yang penting adalah ketika kerusuhan tahun 1995 di UKSW, yang menjadi tahun gelap dalam sejarah UKSW, beliau dianggap sebagai opurtunis saat terjadi gonjang-ganjing kehidupan kampus. John Titaley menerima jabatan menjadi direktur Program Pascasarjana Studi Pembangunan (PPs-SP) dari direktur sebelumnya John Ihalauw yang pada saat itu mundur. Pada tahun 2001, beliau terpilih menjadi rektor kelima di UKSW. Pada era pemerintahan beliau, UKSW dihebohkan dengan sistem trimester (dalam 1 tahun kalender akademik, ada tiga semester masa kuliah). Sontak UKSW langsung heboh, ada civitas yang pro namun ada juga yang kontra dengan sistem kuliah seperti itu. Benar saja, di masa peralihan dari dwimester (atau lebih dikenal dengan sistem semester) ke trimester terjadi benturan-benturan yang tidak dapat dihindarkan di antara civitas UKSW pada masa itu. Selesai era kepemimpinan beliau, Rektor keenam UKSW, Prof.Dr.Kris H.Timotius, mencoba meredakan sistem trimester. Akibatnya pada era beliau, ada dua sistem perkuliahan yang dipakai, ada yang menggunakan dua semester, ada juga yang menggunakan tiga semester, tetapi ada juga yang memakai dua semester ditambah satu semester pengayaan. Pada pemilihan rektor ketujuh UKSW, Pak John kembali maju menjadi calon. Saingan terberat Pak John datang dari rektor sebelumnya yaitu Pak Kris Timotius. Dalam penyaringan bakal calon rektor, Pak John sempat dicoret dengan alasan tidak sesuai dengan penilaian Pansus. Bukan Pak John namanya kalau kalah dengan cara seperti itu. Beliau merasa ada aneh dari apa yang dilakukan oleh Pansus pada saat itu. Bersama tim suksesnya, beliau menyatakan peninjauan ulang kembali dalam pembobotan penilaian Pansus. Memang sudah diperkirakan oleh khalayak Teologi UKSW pada saat itu, jikalau Pak John lulus seleksi, pasti beliau akan menang di putaran berikutnya. Sebagai informasi, setelah lolos dari seleksi Pansus, para bakal calon menjadi calon rektor yang dipilih langsung oleh Yayasan UKSW. Ada yang mengatakan Pak John dekat dengan pihak Yayasan sehingga harus dihentikan dalam tahap seleksi bakal calon rektor. Apa pun penafsiran civitas UKSW, Pak John masuk menjadi calon rektor dan memenangkan pemilihan rektor. Ya, beliau adalah rektor ketujuh UKSW (2010-2014). Pada masa kepemimpinannya kali ini, beliau bertekad untuk menjadikan UKSW sebagai universitas riset, di mana beliau mendorong penelitian dari para civitas akademia terkhusus bagi para dosen UKSW.
Di kalangan akademis teologi, Pak John mengajar beberapa mata kuliah, seperti Pengantar Hermeneutik Perjanjian Lama, Hermeneutik Perjanjian Lama, Sosiologi Gereja, Pengantar Sosiologi dan Teologi Kontekstual. Beliau juga salah satu pengagas berdirinya Program Pascasarjana Sosiologi Agama (PPs-SA) UKSW. Pemikiran beliau di dunia teologi begitu mendalam. Beliau mengembangkan pemikiran mengenai identitas nasionalis dalam kehidupan beragama di Indonesia yang selama ini diwarnai oleh identitas primordialisme. Dalam kajian biblika, beliau mengembangkan pemikiran sosio-historis sebagai suatu fondasi hermeneutisnya. Oleh karena itu, lulusan fakultas teologi UKSW sangat kental dengan nuansa sosiologi agama dibanding nuansa biblisnya. Hal itu menjadi warna atau corak tersendiri bagi lulusan UKSW. Dan semuanya itu digagas oleh John Titaley dengan pemikirannya yang cemerlang. Dalam suatu kelas Teologi Kontekstual, beliau pernah mendapat pertanyaan yang agak memojokan beliau, yaitu mengapa pemikiran cemerlang beliau tentang agama tidak dapat diperkenalkan dalam kehidupan di Indonesia? Beliau agak berpikir sejenak dan menjawab, “Saya hanya menggagas saja dan kalian adalah duta-duta saya di dunia ini”. Kelemahan lainnya dari Pak John adalah beliau tidak memiliki tulisan dalam bentuk buku. Orang sepintar apapun tapi kalau tidak pernah menghasilkan buku, tentunya masih diragukan kepakarannya. Hal ini yang masih kurang dari seorang John Titaley. Pemikirannya yang begitu cemerlang dan briliant dalam dunia teologi, tidak mampu dituangkan dalam suatu karya tulis (buku).
Pengalaman bersama Pak John
Saat bertemu pertama kali dengan Pak John, saya seperti melihat seorang Bule yang mahir berbahasa Indonesia. Suaranya bass menggema sehingga orang-orang pasti agak takut berbicara dengan beliau. Tetapi ternyata beliau adalah orang yang bersahabat dan rendah hati. Sebagai seorang yang senang menyanyi, saya kagum melihat John Titaley ternyata pernah menjadi pelatih paduan suara UKSW (sekarang bernama Voices of SWCU). Ketika mendengar beliau bernyanyi di salah satu ibadah minggu GPIB Taman Sari, saya merinding mendengar suara merdu beliau. Kepada mahasiswa, beliau sangat bersahabat. Terbukti ketika skripsi saya dibimbing beliau, tanpa sungkan beliau mengundang saya untuk dibimbing langsung di rumahnya saja. Di dalam rumah, saya tidak diperkenankan membuka alas kaki, dengan alasan nanti saya kedinginan. Saya sangat takjub melihat keramahan beliau. Pak John tinggal di perumahan dosen UKSW, dekat dengan tempat tinggal saya di Asrama UKSW. Rumah beliau tidak besar, seperti rumah dosen lainnya yang kecil. Sempat saya merenung, mengapa rektor UKSW tinggal di rumah sekecil ini? Sedangkan banyak dosen UKSW yang rumahnya sudah seperti istana. Hal lain yang khas dari beliau adalah mobil merahnya yang selalu setia menemani. Saat menyetir mobil, biasanya beliau menyandarkan tangannya di jendela mobil yang terbuka dan sesekali melambaikan tangan kepada orang yang menyapanya. Khas karena mobil rektor tidak sebagus mobil dosen-dosen lainnya yang mewah. Satu hal lagi keunikan Pak John adalah beliau sangat sayang dengan anjing. Beliau bercerita tentang anjingnya yang bernama Boncel. Boncel ditemukan Pak John saat masih kecil dan tidak memiliki rumah. Melihat fisiknya yang memprihatinkan karena hanya memiliki satu mata, Pak John memutuskan untuk merawatnya.
Dalam kehidupan kampus, saya menganggap Pak John adalah sosok yang luar biasa. Beliau sepertinya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa teolog itu tidak bodoh. Beliau dapat berbicara persoalan pendidikan, ekonomi, sosial, budaya dan politik. Lebih dari itu, beliau juga mempraktikannya dalam kehidupan, terbukti dari jabatan rektor yang diembannya. Saya melihat Pak John adalah seorang dengan sosok petarung yang gigih dan pantang menyerah. Faktor kerasnya hidup pada masa kecil, membuat saya berpikiran itulah yang menciptakan pribadi Pak John yang pantang menyerah, kokoh dan tegas. Dengan semua yang telah didapatkannya dalam hidup, beliau tidak lantas menjadi sombong dan lupa daratan. Hal ini berbeda dari kebiasaan orang-orang yang dulunya susah namun ketika sukses melupakan orang lain yang membantunya. Pak John tidak seperti itu. Malah beliau berpesan kepada mahasiswanya, “Tidak ada gunanya apa yang kita dapat di dunia ini jikalau kita tidak memiliki hati untuk berbagi” Apa yang dikatakannya sesuai dengan yang dilakukannya. Beliau sangat perhatian dengan orang-orang kecil. Pernah suatu ketika, pegawai kecil UKSW, hampir dijebloskan ke penjara karena dituduh menggelapkan uang pekerjaan timnya. Beliau tanpa pamrih menolong orang kecil itu sampai masalah dituntaskan. Sungguh keteladanan yang luar biasa dari Pak John. Beliau sering mengajar dengan Batik Biak berwarna merah yang sering dikenakannya. Sambil tersenyum Pak John berkata ; “Ayo Bapak-Ibu Pendeta, jangan bangun kesiangan, mau bagaimana jemaatnya nanti kalau pendetanya belum datang?” menanggapi mahasiswa-mahasiswi yang datang terlambat saat jam kuliah pagi.
Pdt.Prof.Mesach Krisetya, M.Th.,M.Div, D.Min
Menikah & Isteri : 11 Oktober 1965 dengan Miriam Wientarti
Anak : Markus Krisetya dan Matius Indiana Krisetya
Pendidikan :
1986 – 1990, Claremont School of Theology, Claremont California, USA. Doctor of Ministry (D.Min), Clinical Pastoral Education, PrairieView Newton, Kansas, USA. Diploma of Advance CPE
1979 – 1981, United Theological College, Bangalore, India. Master of Theology (M.Th)
Christian Counseling Centre, Vellore, India, Diploma of Counseling Psychology
1970 – 1973, Goshen Biblical Seminary, Elkart, Indiana, USA. Master of Divinity (M.Div)
1961 – 1965, Seminari Teologi Baptis Indonesia, Semarang. Baccalaureus Theologia (B.Th)
1958 – 1961, SMA Masehi 1, Dr.Cipto, Semarang
1955 – 1958, SMP Negeri 4 Mlaten, Semarang
1954 , SMP Masehi Sidodadi, Semarang
1947 – 1953, SR Xaverius, Kobong, Semarang.
Jabatan Pendidikan :
1973-1979, Rektor Akademi Kristen Wiyata Wacana, Pati
1981-1982, Pendeta Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.
1982-1986, Dekan Fakultas Teologi, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.
1986 , Pembantu Dekan Urusan Akademik, Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana
1991-1994, Ketua Jurusan Studi Konseling Pastoral, Fakultas Teologi UKSW
1981-2010, Pengajar Bidang Pendampingan Pastoral dan Konseling Pastoral, untuk Strata 1 (S1) serta Program Pascasarjana (S2) Sosiologi Agama di UKSW.
Jabatan Gerejawi :
1965-1970, Gembala Jemaat GKMI Jepara
1975-1977, Ketua Departemen Pendidikan Sinode GKMI
1977-1979, Ketua Umum, Sinode GKMI
1983-1986, Ketua Umum, Sinode GKMI
1989-1992, Ketua Departemen Teologi, Sinode GKMI
1992-1995, Ketua Umum, Sinode GKMI
1995-1999, Ketua Umum, Sinode GKMI
1986-1992, Anggota Executive, Asia Mennonite Conference, Hongkong
1990-1997, Executive Member, Mennonite World Conference, Strasbourg, France
1991-1993, President Asia Conference on Pastoral Care amd Counseling
1991-1995, Council Member, The International Council on Pastoral Care and Counseling Noerdwijkerhout, The Netherlands
1995-1999, Vice President, International Council on Pastoral Care&Counseling, Toronto, Canada
1997-2003, President Mennonite World Conference, Strasbourg, France
2007 , bulan Oktober menerima SK Menteri Pendidikan Nasional Jabatan Fungsional Dosen Guru Besar dalam bidang ilmu/mata kuliah Teologi Pastoral Konseling dengan SK No.49743/A4.5/KP/2007
Pengalaman bersama Pak Mesach :
Ketika kali bertemu beliau, saya merasa bingung melihat seorang kakek tua dengan postur badan yang tinggi serta diringi gema suara bass yang khas. Beliau adalah Pdt. Prof. Dr. Mesach Krisetya, M.Th., M.Div. Anak Fakultas Teologi UKSW menyapa beliau biasa dengan, "Pak Mesach". Beliau sangat bersahaja, low profile, dan sangat hangat bersahabat. Menurut saya, beliau tipe dosen yang tidak membosankan saat mengajar di kelas. Biasanya, dosen dengan rentetan gelar akademik yang banyak serta pernah menduduki jabatan besar cenderung serius dan kaku ketika mempresentasikan materi kuliah. Namun, beliau berbeda yang tidak pernah lupa dalam menyisipkan humor ketika mengajar. Sangking leburnya dalam metode pengajaran yang terselip humor, beliau bahkan tak segan membuat gerakan-gerakan tak diduga yang membuat kelas serempak gegap gempita karena terbahak-bahak menyaksikan aksi beliau. Namun, sekalipun demikian kuliah tetap terjaga kualitasnya. Saya menilai bahan yang diajarkan sangat penuh muatan akademis, sesuai dengan gelar akademik yang disandang. Hal yang paling berharga bagi para mahasiswanya adalah pengalaman hidup beliau yang dimasukkan sebagai bahan pembelajaran. Ini membuat mata kuliah yang diampu beliau menjadi spesial serta berkualitas.
Bidang kepakaran beliau adalah Teologi Pastoral. Tidak hanya pakar secara teori, beliau pun menghidupkan teologi pastoral di tengah kehidupannya sehari-hari. Secara pribadi, saya mengalami tiga peristiwa khusus dengan beliau.
Pertama, ketika saya praktek di GKI Manyar Surabaya tahun 2008. Ketepatan beliau memimpin ibadah minggu di GKI Manyar Surabaya, akhir bulan September 2008. Saya di-SMS beliau untuk berjumpa di ruang tamu gereja. Beliau sangat perhatian dengan saya. Bahkan saat ada jamuan makan malam dari pihak gereja, saya masih diingat dan diajak serta oleh Pak Mesach. Ketika hendak kembali ke Salatiga, beliau kembali memanggil saya. Kali ini beliau melalui istrinya menyangoni saya uang kantong untuk keperluan selama di Surabaya. Saya sudah menolaknya. Tetapi, beliau mengatakan saya akan sangat memerlukannya karena jauh dari keluarga dan kampus.
Kedua, di akhir tahun 2009, ketika kuliah saya telah selesai dan hendak balik ke Medan, saya dipanggil kembali oleh beliau. Saya disarankan untuk berangkat ke Makassar agar membantu pelayanan di sebuah jemaat. Saya menolak ajakan tersebut karena memang harus mempersiapkan diri untuk studi lanjut. Saya sebenarnya sangat berat sekali dan menyayangkan penolakan tersebut. Karena, saya tahu beliau kecewa. Rasa kecewa itu terpancar jelas dari raut wajah beliau.
Terakhir, ketika saya berada di Medan, saat mengikuti kegiatan dari Asosiasi Pastoral Indonesia (API) Pusat yang sedang mengadakan kegiatan di sana. Berketepatan kegiatan dirangkaikan dengan pelantikan fungsionaris API wilayah serta seminar pastoral. Pak Mesach merupakan salah satu sesepuh di API dan menjadi pembicara dalam seminar yang diadakan di restoran Avia Samudera, Medan. Ketika berjumpa dengan saya serta teman kuliah, beliau langsung mengenal kami. Beliau menanyakan perkembangan kami saat ini dan beliau berpesan agar kami tetap maju dalam pelayanan gereja.
Ada dua hal penting yang saya dapat pelajari dan kehidupan pak Mesach. Pertama, rendah hati merupakan kunci dalam menyinergikan hidup, baik secara akademis, berelasi terhadap lingkungan dan disiplin spiritualitas. Kedua, tetap berpikir positif dalam hidup agar tidak menjadi batu sandungan dalam lingkungan sekitar.
Beliau berulangkali dalam kuliah selalu mengatakan, "You are what you believe". Beliau menginginkan seorang pelayan Tuhan tidak menjadi batu sandungan di jemaat. Caranya adalah selalu berpikir positif untuk kemajuan hidup dan tetap berorientasi pada konselor sejati, yaitu Kristus. Hal itu yang membuat saya sangat mengagumi kehidupan beliau. Banyak cerita hidup yang telah dijalani beliau sampai dengan masa pensiun saat ini. Bahkan ketika dua ring ada di jantungnya, beliau tetap memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang pengajar dan pelayan Tuhan. Beliau tidak pernah lari dari tanggung jawab dan selalu konsisten antara perkataan dengan perbuatan.
Teori Humanistik

Pendahuluan
Teori Humanistik datang dari mazhab ketiga dalam perkembangan psikologi. Lahir sebagai reaksi atas teori-teori Behaviorisme (yang kental dengan sifat behavioristik, asosianistik dan eksperimental) serta Psikoanalisis (depth psychology dengan sifat klinis-pesimistik). Teori humanistik erat dengan dua tokoh besar dari dunia psikologi, mereka adalah Carl Roger dan Abraham Maslow.
Carl Rogers
Bernama lengkap Carl Ransom Rogers, lahir di Oar Park, Illionis pada tanggal 8 Januari 1902. Pada tahun 1927, Rogers bekerja pada Institute for Child Guindance dan menggunakan teori analisis psikoanalisa Sigmund Freud, walaupun pada dasarnya dia tidak menyetujui teori tersebut. Pada masa ini, Rogers banyak dipengaruhi oleh Otto Rank dan John Dewey yang memperkenalkan terapi klinis. Perbedaan teori yang didapatkannya justru menemukan benang merah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan teorinya kelak. Sebagai seorang guru besar dalam bidang psikologi klinis, Rogers sangat produktif dalam menulis dan telah menghasilkan lebih dari 150 tulisan dalam bentuk buku maupun artikel.(Gunarsa, 2007 : 120).
Teori Rogers mirip dengan pendekatan Freud, namun pada hakikatnya Rogers berbeda dengan Freud karena Rogers menganggap bahwa manusia pada dasarnya baik atau sehat. Dengan kata lain, Rogers memandang kesehatan mental sebagai proses perkembangan hidup alamiah, sementara penyakit jiwa, kejahatan, dan persoalan kemanusiaan lain dipandang sebagai penyimpangan dari kecenderungan alamiah. Teori Rogers didasarkan pada suatu "daya hidup" yang disebut kecenderungan aktualisasi. Kecenderungan aktualisasi tersebut diartikan sebagai motivasi yang menyatu dalam setiap diri makhluk hidup dan bertujuan mengembangkan seluruh potensinya semaksimal mungkin. Jadi, makhluk hidup bukan hanya bertujuan bertahan hidup saja, tetapi ingin memperoleh apa yang terbaik bagi keberadaannya. Dari dorongan tunggal inilah, muncul keinginan-keinginan atau dorongan-dorongan lain yang disebutkan oleh psikolog lain, seperti kebutuhan untuk udara, air, dan makanan, kebutuhan akan rasa aman dan rasa cinta, dan sebagainya. (wikipedia.org/wiki/Carl_Rogers)
Abraham Maslow
Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn, Newyork, pada 1908. Maslow dibesarkan dalam keluarga Yahudi Rusia dengan Orang Tua yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Pada masa kecilnya, ia dikenal sebagai anak yang kurang berkembang dibanding anak lain sebayanya. "Saya adalah seorang anak Yahudi yang tumbuh dalam lingkungan yang mayoritas dihuni oleh non Yahudi. Saya merasa terisolasi dan tidak bahagia pada masa itu. Saya tumbuh di perpustakaan diantara buku-buku." Ia awalnya berkuliah hukum, namun pada akhirnya ia memilih untuk memilih mempelajari psikologi dan lulus dari Universitas Wisconsin. Pada saat ia berkuliah, ia menikah dengan sepupunya yang bernama Bertha pada bulan desember 1928, dan bertemu dengan mentor utamanya yaitu Profesor Harry Harlow. Ia memperoleh gelar bachelor pada 1930, master pada 1931, dan PhD pada 1934. Maslow kemudian memperdalam riset dan studinya di Universitas Columbia dan masih mendalami subjek yang sama. Di sana ia bertemu dengan mentornya yang lain yaitu Alfred Adler, salah satu kolega awal dari Sigmund Freud.
Pada tahun 1937 hingga tahun 1951, Maslow memperdalam ilmunya di Brooklyn College. Di New York, Ia bertemu dengan dua mentor lainnya yaitu Ruth Benedict seorang antropologis, dan Max Wertheimer seorang Gestalt psikolog, yang ia kagumi secara profesional maupun personal. Kedua orang inilah yang kemudian menjadi perhatian Maslow dalam mendalami perilaku manusia, kesehatan mental dan potensi manusia. Ia menulis dalam subjek subjek ini dengan mendalam. Tulisannya banyak meminjam dari gagasan-gagasan psikologi, namun dengan pengembangan yang signifikan. Penambahan tersebut khususnya mencakup hirarki kebutuhan, berbagai macam kebutuhan, aktualisasi diri seseorang, dan puncak dari pengalaman. Maslow menjadi pelopor aliran humanistik psikologi yang terbentuk pada sekitar tahun 1950 hingga 1960-an. Pada masa ini ia dikenal sebagai "kekuatan ke tiga" di sanping teori Freud dan behaviorisme.Maslow menjadi profesor di Universitas Brandeis dari 1951 hingga 1969, dan menjadi resident fellow untuk Laughlin Institute of California. Ia meninggal karena serangan jantung pada 8 Juni 1970. Pada tahun 1967, Asosiasi Humanis Amerika menganugerahkan gelar Humanist of the Year. (wikipedia.org/wiki/Abraham_Maslow).
Pembahasan
Pendekatan humanistik dikenal juga dengan nama pendekatan fenomenologis. McMahon (1986 : 25), dalam Adi (2008 : 34), melihat bahwa pendekatan fenomenologis ini dapat dilihat dari dua akar katanya, yaitu logy yang bermakna kajian dari sesuatu dan kata phenomenon yang berarti suatu keadaan yang selalu berubah. Pendekatan fenomenologis ini melihat setiap individu adalah unik, berbeda antara satu dengan yang lainnya, meskipun terjadi perubahan terus-menerus di lingkungan mereka. Apa pun yang terjadi pada lingkungan di mana dia berada. Individu akan melakukan penyeleksian sesuai dengan nilai dan kebutuhan dari orang tersebut. Sementara itu, istilah humane dalam pendekatan humanistik mengacu pada keyakinan terhadap adanya nilai-nilai kebaikan dan keinginan untuk mencapai yang terbaik. Hal ini dimiliki oleh setiap manusia, sehingga pendekatan ini melihat pada hakikatnya setiap orang mempunyai kemampuan untuk mencapai hal yang terbaik.
Pendekatan humanistik dikembangkan sebagai jawaban sekelompok psikolog yang kurang puas terhadap apa yang dikembangkan oleh pendekatan perilaku (behavioral) dalam memaknai lingkungan terkait dengan perilaku melarang seseorang dari pendekatan psikoanalisis yang terlalu fokus kepada insting, abmoralitas dan pemikiran yang tidak disadari. Peran kedua tokoh besar yang diperkenalkan pada bagian pendahuluan adalah untuk memberikan penekanan pada adanya keinginan manusia untuk berkembang menuju ke kondisi yang lebih baik dan ada potensi positif pada setiap individu. Pandangan kelompok humanistik melihat manusia sebagai mahluk rasional dan memiliki kemampuan mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif. (Adi, 2008 : 38).
Pendekatan yang dilakukan Maslow cukup menarik, terlebih ketika dia mendefinisikan hierarki kebutuhan manusia. Pada karyanya tersebut, Abraham Maslow memperkenalkan pemikirannya mengenai motivasi dihubungkan dengan kebutuhan manusa. Ia menjelaskan mengenai hirarki kebutuhan manusia dengan konsep, “Piramid Kebutuhan Maslow”. Dengan model ini, Maslow menjelaskan bahwa kebutuhan manusia bertingkat, mulai dari kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi pada bagian bawah piramid, dan kebutuhan manusia meningkat terus ke atas apabila jenis kebutuhan yang dasar sudah terpenuhi. Mulai dari kebutuhan yang paling dasar adalah kebutuhan fisiologis, kemudian berlanjut ke kebutuhan akan keamanan (safety), kebutuhan dicintai (love/belonging), kebutuhan untuk rasa percaya diri (esteem), dan kebutuhan puncak, yaitu aktualisasi diri (self-actualization). (lihat gambar hierarki kebutuhan menurut Maslow)
Penutup
Pentingnya kesadaran akan perbedaan individu adalah dengan memperhatikan aspek-aspek kemanusiaan. Menggali dan menemukan sisi-sisi kemanusiaan, pada taraf tertentu akan sampai pada penemuan diri. Proses belajar yang ada pada diri manusia adalah proses untuk sampai pada aktualisasi diri (learning how to be). Belajar adalah mengerti dan memahami siapa diri kita, bagaimana menjadi diri sendiri, apa potensi yang kita miliki, gaya apa yang anda miliki, apa langkah-langkah yang anda ambil, apa yang dirasakan, nilai-nilai apa yang kita miliki dan yakini, kearah mana perkembangan kita akan menuju. Belajar di satu sisi adalah memahami bagaimana anda berbeda dengan yang lain (individual differences), dan di sisi lain adalah memahami bagaimana anda menjadi manusia sama seperti manusia yang lain (persamaan dalam specieshood or humanness).
Daftar Pustaka
Buku :
Adi, Isbandi Rukminto. Intervensi Komunitas : Pengembangan Masyarakat Sebagai Upaya
Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta : Rajawali Press. 2008.
Gunarsa, Singgih D. Konseling dan Psikoterapi : Seri Psikologi. Jakarta : Balai Penerbit Kristen (BPK) Gunung Mulia. 2007.
Internet :
ruangpsikologi.com/hirarki-kebutuhan-manusia-dari-maslow; diunduh pada tanggal 7 Desember
2010
wikipedia.org/wiki/Carl_Rogers, diunduh pada tanggal 7 Desember 2010
wikipedia.org/wiki/Carl_Rogers, diunduh pada tanggal 7 Desember 2010
Jumat, 10 Desember 2010
Masih adakah tempat bagi Kristus? (Hari Raya Natal)

Kuhirup udara pagi di awal Desember yang biru
Bau natal begitu menyengat di sekitarku
Apa gerangan hai hari Natal?
Sejenak kulayangkan wajah ke langit biru
Meretas tanya pada hati yang lugu
Apakah makna Natal tanyaku
Masa natal begitu gemerlap
Lepas seminggu senyap
Lalu sebulan lenyap
Inikah Natal?
Natal,
Seorang Penyelamat lahir
Palungan di kandang menyaksikannya
Malam yang dingin menyertai-Nya
Kehangatan jerami rumput menyelimuti kedatangan-Nya
Inikah simbol natal itu?
Mengapa Dia tidak datang dengan pakaian mewah?
Perhiasan yang berkilauan emas?
Dinantikan dengan pesta pora?
Disambut dengan sorak-sorai?
Disajikan makanan dan minuman yang mahal?
Natal,
Dalam gereja Tuhan yang megah
Nyala lampu pohon Natal begitu indah
Musik Natal begitu teduh simfoninya
Paduan suara natal begitu merdu terdengar
Natal,
Seorang ayah masih sibuk membanting tulang
Seorang ibu masih sibuk mengais-ngais
Seorang anak masih tegar menahan lapar
Seorang bayi masih bertahan tanpa susu
Natal,
Di mana Engkau akan hadir Tuhan?
Kami senantiasa menantikan-Mu Tuhan!
Kami antusias menyambut-Mu Tuhan!
Di mana Engkau akan hadir Tuhan?
Kudengar suara Tuhan
Berbisik lirih di tengah hembusan angin
Nada-Nya menggetarkan dedaunan
Kata-Nya : Masih adakah tempat bagi-Ku?
Jumat, 03 Desember 2010
Desember, Advent, Natal dan Tahun Baru (Suatu Refleksi Diri)

Tema ini bagi umat Kristen, mungkin bukan hal yang asing didengar telinga. Bahkan saat di bulan November sekalipun, ke empat hal ini telah banyak menjadi perbincangan. Saya mengikuti update status teman-teman di dunia maya, baik facebook maupun twitter sejak november silam. Saya mendapatkan hal-hal yang unik dari hasil pengamatan itu. Ada status yang mengungkapkan ketidakpercayaan karena telah memasuki akhir tahun. Ada juga status yang menggambarkan impian teman-teman saya berada di kampung halaman saat natal setelah sekian waktu berada di perantauan. Yang paling heboh adalah ketika pas memasuki awal desember, status-status mereka pun semakin heboh. Ada status yang menyatakan kegembiraan mereka karena sudah dekat waktunya untuk bernatal ria, ada juga status yang menggambarkan liburan yang akan dijalani sampai dengan pergantian tahun, dan sebagai-sebagainya.
Luar biasa! Dua kata itulah yang terlintas di pikiranku ketika melihat euforia yang luar biasa dari Natal. Mungkin hal tersebut merupakan hal yang wajar, mengingat peristiwa Natal adalah peristiwa sekali dalam setahun. Sejenak saya merefleksikan, bagaimana dengan tanggapan diriku secara pribadi mengenai natal tahun ini? Hmm..rasa-rasanya malas sekali untuk membicarakan hal itu. Mungkin karena faktor tidak dapat berkumpul dengan sanak keluarga di kampung halaman ketika hari Natal tiba. Sedih bercampur kesal yang mencuat di dalam pikiran, hanya satu pertanyaan besar yang muncul : “Apakah saya dapat melalui ini semua?”
Kekesalan dalam diri mulai pudar, ketika tingkatan refleksi mulai diperdalam. Saya merenungkan hakikat sejati dari Natal itu bagi saya sebagai umat Kristen itu apa? Menurut hemat saya, ketika kita berbicara Natal, sebenarnya kita berbicara mengenai tiga hal besar, yaitu desember, advent dan tahun baru. Pertama, mengenai Desember. Mengapa Desember? Ya karena hari Natal selalu jatuh di bulan Desember, hal itu berlangsung dari dahulu sampai dengan sekarang. Ketika saya jalan-jalan di salah satu mall yang ada di kota Depok, saya melihat ada slogan besar di salah satu lantai yang menuliskan “Sambut spesialnya Desember sukacita dengan Diskon spesial pula” Ya, dalam pengalaman hidup selama ini, hal itu terjadi di bulan Desember di hampir di setiap mall. Tapi bukan itu yang menjadi fokus perefleksian saya di bulan Desember, melainkan apa yang telah saya lakukan sampai dengan bulan terakhir di tahun 2010 ini? Saya bersyukur kepada Tuhan, karena di tahun 2010 ini, saya diberi kesempatan untuk belajar di salah satu perguruan tinggi negeri favorit di Indonesia. Alasan saya melanjutkan studi dari teologi ke sekuler adalah karena hasil perefleksian juga. Dalam perjalanan ke Salatiga dengan bis malam, saya melihat ada banyak orang-orang terlantar tidur di emperan jalan. Lantas saya merefleksikan : “Apa yang dapat saya lakukan kepada mereka, padahal saya hanyalah seorang teolog?” Saya bernazar, jika Tuhan berkenan, saya ingin melanjutkan studi mengenai permasalahan sosial dan kemiskinan. Puji Tuhan di tahun 2010, saya dapat mewujudkan keinginan itu. Itulah yang saya refleksikan mengenai Desember, yaitu Apa yang telah saya lakukan di tahun 2010 sampai berada di penghujung tahun?
Hal kedua, mengenai Advent. Sebagai warga jemaat GKPI, saya selalu mengikuti kalender GKPI setiap minggunya. Advent pertama GKPI, jatuh pada hari Minggu tanggal 28 November 2010. Tema minggu pada saat itu adalah mengenai nubuatan. Saya mendengarkan khotbah minggu dengan seksama mengenai nubuatan bahwa sejak zaman nabi, keselamatan manusia telah dinubuatkan nabi lewat kedatangan raja yang adil, yaitu Juruselamat. Tanggal 5 Desember nanti, GKPI akan memasuki Adven kedua, di mana saya akan melayani Firman kebaktian minggu di GKPI Depok. Saya kembali merefleksikan apa itu hakikat Advent sebenarnya? Secara umum, orang memahami Advent merupakan masa penantian. Tetapi menurut hemat saya, pasti ada hakikat Advent yang lebih relevan kepada saya, sebagai umat Kristen yang hidup di masa kini. Saya merefleksikan secara mendalam bahwa Advent itu hakikatnya adalah bagaimana bersabar dalam suatu pengharapan. Dimensi waktu memang ada dalam hal tersebut, tetapi bukan itu yang utama. Menurut hemat saya, hal utama adalah terkait perilaku maupun sikap bersabar dalam pengharapan. Hal ini mudah diucapkan tetapi susah sekali untuk dilakukan. Untuk itu, saya merefleksikan apa yang harus saya lakukan dalam kesabaran akan pengharapan? Ada banyak pengharapan yang saya inginkan, seperti tidak sabar menantikan waktu wisuda, tidak sabar dalam memulai bahtera rumah tangga, tidak sabar untuk melepas rindu bersama sanak keluarga, dan sebagainya. Ketika tiba dalam perefleksian iman, saya memikirkan bagaimana saya dapat bersabar dalam pengharapan kedatangan Juruselamat? Saya memillih untuk melakukan hal-hal yang dapat mendatangkan berkat bagi sesama di sekitar, daripada duduk diam saat bersabar dalam pengharapan. Aktif dalam perilaku sabar serta pengharapan merupakan hal yang penting untuk direfleksikan dalam masa Advent ini.
Hal ketiga adalah Natal. Natal merupakan puncak yang dinantikan umat Kristen saat bulan Desember. Sejenak saya merefleksikan bahwa Natal semakin tahun telah kehilangan hakikatnya. Natal pada saat ini lebih dipahami sebagai suatu pesta seremonial dibandingkan kesaksian iman dari pengharapan yang sabar akan keselamatan. Di satu sisi lain, saya juga merefleksikan, mengapa hari raya Natal yang menjadi puncak kegembiraan umat Kristen, bukannya Paskah? Bukankah keselamatan diterima ketika Yesus menyerahkan diri-Nya di kayu salib? Sedangkan kelahiran-Nya merupakan proses awal dari keselamatan itu? Dengan demikian, ketika Natal telah rancu dalam pemahaman iman, dalam pelaksanaannya pun menjadi salah paham sehingga terjebak dalam pesta meriahnya natal, bukan pada hakikat dari Natal itu sendiri.
Hal terakhir adalah Tahun Baru. Mengapa? Karena di kartu-kartu Natal, tidak ada hanya diucapkan hanya selamat natal saja, tetapi pasti juga disertakan selamat tahun baru. Desember selalu dekat dengan pergantian tahun, oleh karena itu Natal selalu berbarengan pestanya dengan tahun baru. Dari hal ini, saya merefleksikan bahwa bagi kebanyakan orang, hanya pesta dan kesenangan yang ditawarkan dari moment natal dan tahun baru. Pantas saja dikatakan “sukacita natal dan tahun baru”. Lantas saja mencoba merefleksikan lebih dalam lagi. Menurut hemat saya, menjelang tahun baru yang dekat datangnya dengan natal (karena hari natal berada di minggu terakhir di bulan desember), harus dapat dimaknai sebagai kesempatan dan kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita untuk menjadi lebih baik lagi. Saya merindukan saat-saat pergantian tahun, di mana selalu disambut dengan kebaktian keluarga. Terkadang saya bingung, kenapa terkadang ada orang yang memilih untuk berganti tahun di lapangan dengan pesta kembang api, atau menikmati konser-konser musik, yang terasa mantap dengan terompet dan minuman di tangan. Hmmm…biarlah mereka seperti itu. Namun bagi saya, hidup dan mati adalah untuk Tuhan, jadi seluruh waktu manusia itu harus dikembalikan kepada Tuhan saja.
Dengan demikian, sebenarnya dari refleksi ini saya ingin mengajak kita untuk melihat bahwa desember dapat dilihat sebagai moment penting untuk mengevaluasi diri selama setahun penuh; advent dapat direnungkan sebagai tindakan aktif saat menanti dalam kesabaran pengharapan keselamatan; natal dapat dilihat sebagai moment keimanan bukan semarak seremonial; dan tahun baru dapat direnungkan sebagai kesempatan waktu yang Tuhan berikan kepada hidup kita. Selamat memasuki bulan Desember, selamat memasuki minggu Advent, selamat menyambut Natal dan selamat menjelan Tahun Baru. Tuhan memberkati!
Kamis, 02 Desember 2010
Pembangunan Berbasis Masyarakat sebagai Salah Satu Pilihan

Berbicara mengenai pembangunan berbasis masyarakat, maka sebenarnya secara tidak langsung berbicara mengenai pembangunan yang berpusat pada manusia (people centered development). Hal ini dapat terjadi karena kata masyarakat di situ bukanlah hanya sebagai suatu institusi sosial, tetapi juga sebagai manusia yang merupakan individu dalam masyarakat. Tujuan pembangunan sosial menurut pandangan UN-ESCAP pada dasarnya adalah pembangunan untuk meningkatkan taraf hidup manusia. Berdasarkan tujuan tersebut, UN-ESCAP melihat bahwa penekanan dari pembangunan sosial pada dasarnya adalah pembangunan yang berpusat pada manusia, sehingga terlihat kesamaan pola gerak dari pembangunan sosial dan pembangunan yang berupusat pada manusia, yaitu pada upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan menfokuskan pada pemberdayaan dan pembangunan manusia itu sendiri (Adi, 2008 : 66)
Secara umum, banyak negara yang melihat people centered development berbeda dengan sustainable development (pembangunan berkelanjutan). Menurut Korten, people centered development adalah untuk meningkatkan pertumbuhan dan kemakmuran manusia, meningkatkan keadilan serta berkesinambungan. Pemikiran yang mendominasi paradigma ini adalah pembangunan yang memerhatikan keseimbangan ekologi manusia. Sedangkan menurut World Commision on Environment and Development / Bruntland Commission, 1987, Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Menurut hemat penulis, mengapa pembangunan berpusat pada manusia dan pembangunan berkelanjutan penting dalam pembangunan masyarakat adalah karena pada dasarnya peran individu penting dalam suatu komunitas maupun lingkungannya. Peran individu dalam masyarakat terkait pembangunan sosial sangat diperlukan untuk menciptakan tatanan lingkungan dan masyarakat yang lebih baik lagi. Pertumbuhan kesejahteraan masyarakat juga harus sejalan dengan pelestarian lingkungan hidup di sekitarnya.
Mengingat peran individu menentukan dalam komunitas maupun lingkungannya, maka diperlukan pemberdayaan dan partisipasi untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang dituju. Payne (1997:266) dalam Adi mengemukakan, pada intinya pernberdayaan bertujuan untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan ia lakukan terkait dengan diri mereka, termasuk mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan. Hal ini dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang ia miliki, antara lain melalui transfer daya dari lingkungannya. Shardlow (1998 : 32) dalam Adi melihat bahwa berbagai pengertian yang ada mengenai pemberdayaan, pada intinya membahas bagaimana individu, kelompok ataupun komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai kemampuannya.
Dalam hal partisipasi, ada banyak hal definisi tentang partisipasi. Oleh karena itu, Mikkelsen (2005 : 54) dalam Adi mengatakan, partisipasi sesungguhnya berasal dari masyarakat dan dikelola oleh masyarakat itu sendiri, ia adalah tujuan dalam suatu proses demokrasi. Lebih lanjut, Mikkelsen mengutip Chambers (2002) yang melihat istilah partisipasi sering digunakan dalam tiga bentuk, yaitu : pertama, partisipasi sebagai label domestik : agar terlihat lebih cantik sehingga lembaga donor ataupun pemerintah mau membiayai proyek tersebut; kedua, partisipasi menggambarkan coopting practice : memobilisasi tenaga-tenaga di tingkat lokal dan mengurangi pembiayaan proyek; ketiga, partisipasi digunakan untuk menggambarkan proses pemberdayaan : memampukan masyarakat lokal untuk melakukan analisis masalah mereka, memikirkan cara mengatasinya, percaya diri dalam mengatasi masalah dan dapat mengambil keputusan sendiri tentang alternatif pemecahan masalah mereka.
Dari gambaran mengenai pemberdayaan dan partisipasi masyarakat, maka terlihat dengan jelas bagaimana pembangunan berbasis masyarakat berupaya memaksimalkan peran individu-individu dalam masyarakat guna mengangkat kehidupan mereka sendiri. Hal ini sangat penting, karena kesejahteraan masyarakat tidak dapat dicapai jikalau hanya bergantung pada pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah saja, masyarakat juga harus terlibat aktif di dalam usaha pembangunan yang dilakukan. Dari hal-hal yang telah disampaikan tadi, menurut hemat penulis, keunggulan pembangunan berbasis masyarakat adalah adanya kesadaran dari masyarakat akan pentingnya partisipasi mereka di dalam pembangunan. Kesadaran merupakan kunci utama dari suatu tindakan yang sistematis dan rasional yang dilakukan oleh masyarakat. Setidaknya dari kesadaran ini dapat terbentuk konsep pemikiran masyarakat mengenai hak asasi, terkait keadilan dan kepastian hukum dalam proses pembangunan yang tengah berlangsung. Selain itu, kesadaran juga membuat masyarakat memahami karakteristik mereka seperti apa, terkait geografis daerah lingkungan mereka, agar teknologi yang diberdayakan kepada masyarakat menjadi tepat guna. Hasil yang diharapkan selain kesejahteraan masyarakat yang dituju berhasil, tentunya pelestarian lingkungan ekologi juga terjaga
Langganan:
Postingan (Atom)