Kamis, 27 Juni 2019

Kemenangan Bersama Tuhan (Hakim-Hakim 7:2-9)


Gideon dan Pasukan Perangnya (Sumber : JW.org)
Minggu-6 Set.Trinitatis, 
28 Juli 2019
Kemenangan Bersama Tuhan
Evanggelium: 
Hakim-Hakim 7:2-9

Pendahuluan
Di dalam Teori Sumber, kitab Hakim-Hakim masuk ke dalam bagian DH (Deuteronomistic History), sebuah hipotesa yang pertama kali dirumuskan oleh Martin Noth pada tahun 1943. Dijelaskan oleh Campbell & O’Brein (2000), tulisan DH ini memberikan informasi tentang tradisi Israel dengan berbagai karya sastra di dalamnya berada di bawah pengaruh teologi dan ekspresi linguistik dari berbagai hukum di dalam kitab Ulangan. Melengkapi kajian Noth, Frank M.Cross (1973) memaparkan kisah di tulisan DH ini tidak hanya membahas tentang hukum dan malapetaka dari Tuhan yang datang karena murtadnya Israel, akan tetapi tulisan ini juga membahas tentang anugerah dari Tuhan. John A.Titaley (2014) di dalam Kata Pengantarnya untuk Buku Robert B.Coote, “Sejarah Deuteronomistik” menjelaskan kalau kitab Hakim-Hakim secara khusus merupakan gambaran dari kegagalan pemimpin Israel di Utara pada zaman Yosia, yaitu para pemimpin provinsi yang ditetapkan oleh Asyur. Apa yang disampaikan oleh Titaley sebagai ahli PL mengenai kitab Hakim-Hakim sejalan dengan ahli PL lainnya, yaitu Blommendaal (1985). Kitab ini menurutnya disunting pada masa pemerintahan Yosia dengan tujuan untuk menyatukan antara Utara dan Selatan.

Pembahasan
            Nas kita di Minggu ini bila merujuk pada bagian Pendahuluan memiliki benang merah yang kuat, yaitu konteks Israel diserahkan pada bangsa Midian karena bangsa Israel melakukan apa yang jahat di mata Allah (Hak.6:1). Tekanan bangsa Midian pada bangsa Israel berlangsung selama tujuh tahun lamanya. Melihat dari penderitaan yang dialami oleh bangsa itu, kita dapat memahami betapa kejam dan kuatnya bangsa Midian. Pergerakkan bangsa Israel pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena takut berjumpa dengan bangsa Midian. Ini ditandai dengan didirikannya kubu pertahanan bangsa Israel. Ketika Allah merasa cukup untuk memberikan hukuman pada bangsa Israel, Gideon diutus untuk membebaskan bangsa itu dari tekanan bangsa Midian. Hal itu ditandai dengan penebangan tiang berhala bangsa Midian di daerah kubu pertahanan bangsa Israel, lalu menggantikannya dengan mezbah Tuhan untuk memberikan persembahan kepada Tuhan Allah (Hak.6:26). Bangsa Israel merasa cemas dan kuatir dengan tumbangnya tiang berhala bangsa Midian, karena hal ini akan membuat mereka akan diamuk oleh bangsa Midian (Hak.6:29). Secara politis, tindakan Gideon yang dilakukannya berdasarkan perintah Allah merupakan pernyataan sikap terbuka bangsa Israel untuk berperang melawan bangsa Midian. Kekuatiran ini yang membuat Gideon ditekan oleh bangsa Israel yang takut menghadapi musuhnya, bangsa Midian. Yoas, ayahnya Gideon, lalu mencoba untuk melindungi anaknya dengan bertanya siapakah yang akan mereka bela? Apakah baalnya bangsa Midian? Atau, menolong Gideon yang ditunjuk oleh Allah? (Hak.6:31).
            Gideon sebenarnya tidak seberani yang disaksikan oleh bangsa Israel. Penampakkan malaikat Tuhan padanya pun tidak cukup meyakinkannya untuk maju memimpin Israel melawan bangsa Midian (Hak.6:22). Ia oleh karenanya sampai meminta dua kali lagi tanda dari Tuhan Allah, embun di potongan bulu domba (Hak.6:36-40). Semua tanda yang diminta oleh Gideon diberikan oleh Tuhan Allah. Itulah yang meyakinkan Gideon untuk siap memimpin bangsa Israel menghadapi bangsa Midian. Ini kemudian yang menjadi konteks nas kita minggu ini, persiapan Gideon menghadapi bangsa Midian. Tuhan melihat terlalu banyak bangsa Israel yang hendak akan berperang melawan bangsa Midian. Tuhan sepertinya mengetahui ada niatan kurang baik di balik partisipasi bangsa itu berperang. Mereka ingin memegahkan dirinya atas Tuhan bahwa mereka sendiri yang mengalahkan bangsa Midian dengan tangannya sendiri; bukan karena dukungan dari Tuhan (ay.2).
            Melalui Gideon, Tuhan berseru agar rakyat itu yang merasa takut supaya pulang dari gunung Gilead. Nas kita mencatat ada 22.000 orang yang pulang dan tinggal sekarang hanya 10.000 orang saja (ay.3). Namun, Tuhan masih melihat jumlah mereka ini terlalu banyak untuk berperang melawan bangsa Midian. Tuhan ingin menyaring lagi dari 10.000 orang ini dengan cara memerhatikan cara mereka minum air. Kata “menyaring” di ayat 4 ini berasal dari kata Ibrani tsaraph yang arti utamanya adalah (proses) pemurnian (suatu logam). Di dalam proses kimia, pemurniaan logam dilakukan guna mendapatkan zat yang murni setelah pemisahan dilakukan dari kontaminasi campuran zat yang lain. Karenanya, hasil akhir yang didapatkan setelah proses pemurniaan selesai itu dilakukan adalah tinggal 300 orang. Mereka yang 300 orang ini bukan minum dengan cara menghirup air dengan lidahnya seperti anjing menjilat, tetapi berlutut untuk minum (ay.5-6).
            Secara teoritis, bangsa Israel yang didukung oleh 300 pasukan akan sangat sulit mengalahkan 135.000 pasukan (Hak.8:10). Matematisnya, satu orang pasukan bangsa Israel harus bertarung melawan 337 pasukan Midian. Namun, janji Tuhan pada Gideon bahwa Dia sendiri yang akan menyerahkan bangsa Midian ke tangan bangsa Israel (ay.7). Ke-300 orang yang menjadi pasukan ini pun berpisah dengan rakyat Israel lainnya. Mereka hanya mengambil bekal, sangkakala beserta kemah saja, karena yang lainnya sudah disuruh pulang (ay.8). Perintah Tuhan di dalam rencana peperangan adalah mereka harus bangun dan menyerbu perkemahan bangsa Midian pada malam hari. Di saat itulah, Tuhan akan menyerahkan bangsa Midian ke dalam tangan bangsa Israel (ay.9). Sehingga, kehidupan bangsa Israel akan segera dipulihkan.  

Renungan
            Situasi rumit di dalam kehidupan kita ini sering terjadi kadang oleh karena perbuatan kita sendiri. Namun, kita di dalam hal demikian masih dapat merasa kuat dan mampu untuk mengatasinya, seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel ketika mencoba lepas dari tekanan bangsa Midian. Akhirnya, hasil yang kita dapatkan sia-sia karena Tuhan tidak ikut serta di dalam usaha kita. Lambat laun, persoalan hidup itu menjadi momok yang sangat menakutkan bagi kita, sebagaimana bangsa Midian begitu ditakuti oleh bangsa Israel.Untuk itulah, kita membutuhkan Tuhan di dalam perjuangan kita melawan persoalan hidup itu, baik di soal ekonomi, pekerjaan, keluarga, sakit-penyakit, dlsb. Yang menjadi pergumulan pertama-tama adalah apakah Tuhan benar-benar akan ikut serta bila kita memohon pertolongan-Nya? Layaknya Gideon yang meragu, kita pun demikian, sering meragukan campur tangan Tuhan di dalam persoalan hidup yang kita alami. Yang kita butuhkan tidak lain tanda-tanda dari Tuhan bahwa Dia turut serta di dalam usaha kita menggumuli persoalan itu.
            Padahal, Tuhan sering memberikan berbagai tanda pada kita bahwa Dia selalu ada menyertai kita. Tanda itu bisa melalui orang di sekitar kita, atau hal-hal yang kita jumpai sehari-hari. Kita saja yang perlu lebih peka lagi untuk melihat tanda yang diberikan Tuhan itu. Kita diberikan-Nya iman, pengharapan, dan kasih sebagai pegangan kita menjalani kehidupan. Di dalam iman itu, kita percaya Tuhan berjanji selalu menyertai hidup kita. Itu alasan kita tetap berpengharapan. Dan, kita di dalam pengharapan itu hidup di dalam kasih Tuhan. Lalu, apalagi yang membuat kita meragu untuk maju “berperang” melawan pergumulan dan ketakutan kita itu?
            Dari nas di Minggu ini, kita setidaknya dapat belajar tiga hal tentang bagaimana cara kita dapat menang menghadapi persoalan/tantangan kehidupan kita, yaitu:

1.      Memiliki Niatan yang Baik
Di nas kita ini, bangsa Israel dinilai oleh Tuhan memiliki potensi untuk memegahkan diri sendiri ketika nantinya menang melawan bangsa Midian. Partisipasi mereka di dalam memenuhi panggilan Tuhan melalui Gideon menjadi tidak murni lagi niatnya. Tuhan tidak suka dengan sikap demikian. Itu namanya sudah mencuri kemuliaan Tuhan. Karena, Tuhan yang bekerja, tetapi malah manusia yang mendapatkan nama. Ketika kita melibatkan Tuhan di dalam setiap rencana usaha kita menghadapi persoalan hidup, kita harus mengaku kita ini bukan siapa-siapa di hadapan Tuhan. Kemenangan umat percaya di dalam pengakuan kita hanyalah kita dapatkan melalui belas kasihan pertolongan Tuhan semata.

2.      Mau dimurnikan oleh Tuhan
Ketika kita mengundang kehadiran Tuhan, maka kita harus mau dimurnikan-Nya. Segala hal yang membuat kita menjadi sombong, tinggi hati, dan sikap kurang baik lainnya di hadapan Tuhan perlu diuji agar didapatkan sikap diri yang benar-benar layak. Kekuatan Allah bekerja bukan pada mereka yang memiliki banyak hal untuk dipamerkan dan disombongkan, tetapi mereka yang merasa lemah di hadapan Tuhan dan benar-benar membutuhkan pertolongan Tuhan. Dengan belas kasihan Tuhan semata, kita di dalam segala kekurangan hidup kita akan dimenangkan oleh Tuhan untuk mendatangkan kemuliaan nama-Nya.

3.      Bersedia dibimbing oleh Tuhan
Kita mengetahui bahwa kita sudah dimurnikan oleh Tuhan dari ketundukkan yang kita miliki di dalam bimbingan/arahan-Nya. Rasanya mustahil atau sulit terealisasi apa yang akan dikerjakan Tuhan di dalam memenangkan kita dari persoalan hidup. Namun, kita harus patuh dan percaya di dalam bimbingan-Nya. Rencana Tuhan bagi hidup kita adalah rencana yang mendatangkan damai sejahtera, bukan kecelakaan. Sama seperti bangsa Israel yang dibimbing oleh Tuhan untuk menyerang bangsa Midian di malam hari dengan kekuatan pasukan hanya 300 orang. Secara teoritis, hal itu merupakan sesuatu yang mustahil. Akan tetapi, bangsa Israel melalui Gideon taat pada bimbingan Tuhan. Mereka tahu betul kalau pada saat mereka melakukannya sesuai dengan perintah Tuhan, pada saat itu pula Tuhan akan memberikan kemenangan pada umat-Nya.  

Pdt.Theodorus B.Sibarani, S.Si-Teol, M.Kessos
GKPI Ressort Sumbul & Plt.GKPI Ressort Jumaramba
Wilayah IV : Dairi-Tanah Karo

Sabtu, 11 Mei 2019

Mengenang C.Pdt.Melinda Zedemi

Sumber : FB C.Pdt.Melinda Zedemi


Tugas seorang pendeta itu penuh dengan risiko. Ia tidak pernah dan tak akan pernah menolak tugas panggilan pelayanannya, seberat apapun medannya. Itu sumpah setia panggilan seorang pendeta pada Tuhan di dalam dirinya yang tak tertulis.
Kami di lapangan sangat riskan. Tidak peduli subuh buta, pagi, siang, malam, tengah malam, kami harus siap kapan pun ada tugas panggilan penatalayanan. Kekerasan bukan jalan hidup kami, karena kami tidak akan pernah membalaskan kejahatan. Nasehat dan doa utamanya dikedepankan di dalam menghadapi persoalan.
Terlebih, para pendeta perempuan yang dua kali lebih riskan di medan pelayanan. Mereka sering ditolak oleh warga jemaat yang berwawasan patriakhal, yang melihat sosok perempuan tidak cocok menjadi pemimpin di gereja.
Tak jarang, pendeta perempuan di medan pelayanan mendapatkan pelecehan seksual, baik secara perkataan maupun tindakan. Puncaknya, kasus pembunuhan dan dugaan pemerkosaan yang dialami oleh ibu C.Pdt.Melinda Zedemi ketika berada di medan pelayanan.
Saya secara pribadi sangat salut apabila ada seorang perempuan yang memberikan dirinya untuk menjadi pewarta Kabar Sukacita. Selamat jalan Ibu C.Pdt.Melinda Zedemi. Tuhan Yesus, Sang Kepala Gereja, menyambutmu di pintu keabadian

Yubileum-50 Tahun Fakultas Teologi UKSW (23 Maret 2019)


Selamat ulang tahun emas Fakultas Teologi UKSW, Salatiga. Tempatku menempah iman dan ilmu di dalam mempersiapkan diri menjadi seorang Pendeta GKPI.
Fakultas Teologi UKSW merupakan institusi pendidikan teologi yang unik di Indonesia karena memberikan pendekatan sosiologis keagamaan di tengah-tengah fondasi sistematika-dogmatika yang menjadi pilar utama teologi. Ruang untuk membangun pemikiran teologi konstruktif, khususnya dalam wacana kehidupan gerejawi, sangat terbuka bagi mahasiswa yang studi di sana. Gereja-gereja akan banyak merasakan manfaat dari para alumnusnya yang memberi warna tersendiri di pergumulan teologisnya.
Sayang, warga GKPI masih sangat sedikit yang memilih studi di tempat ini, walau Akreditasi dari BAN-PT untuk Strata 1 (S1) Fakultas Teologi memberikan nilai A.
Pemilihan tema dan nas juga sangat menarik bagiku. Daniel 12 ini menggambarkan penglihatan yang dialami Daniel. Kondisi bangsa Israel di dalam fase rumit karena secara politis mereka takluk dari Babel dan hidup di dalam pembuangan. Secara teologis, mereka sedang dihukum oleh Tuhan karena perbuatan yang menyimpang dari hukum-Nya. Penderitaan yang dialami umat Tuhan yang taat di pembuangan, dijelaskan Daniel dalam visinya, sebagai jalan mereka untuk mengalami apa artinya jatuh tapi dibangunkan Tuhan di dalam kekekalan. Sedangkan, mereka yang jahat akan mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal (ay.2). Untuk orang bijaksana dan yang menuntun pada kebenaran akan bercahaya seperti cahaya cakrawala dan bintang yang tetap bersinar selamanya.
Dari nas ini, Fakultas Teologi UKSW Salatiga mendaku bahwa kami ini orang yang menuntun umat pada Kebenaran. Dasar kami menuntun adalah slogan Universitas kami, "Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan" (Ams.1:7a). Jadi, seluruh civitas Fakultas Teologi UKSW memegang prinsip kebenaran di dalam pengabdiannya dan pelayanannya berdasarkan pengetahuan dari takut akan Tuhan.
Oleh karena kesetiaan melayani Tuhan di dalam penggembalaan umat-Nya didasarkan pada kebenaran, para alumni dan mahasiswa Fakultas Teologi sampai pada hari terakhir hidupnya melayani Tuhan dapat mempertanggungjawabkan semuanya dengan berkata, "Di sini kuberkarya, Di sana kubercahaya"
Pdt.Theodorus Sibarani
Alumnus Fakultas Teologi UKSW, Angkatan 2005
Pendeta GKPI Ressort Sumbul, Wilayah IV

Puasa melintasi Iman

Muhammad Abdul Halim Sani, M.Kesos (Sahabatku)

Memasuki bulan sucinya umat Muslim seperti ini, aku selalu teringat sahabat ketika studi di FISIP-UI, yaitu Muhammad Abdul Halim Sani.
Kuatnya ingatan ini akan Sani, begitu panggilannya, disebabkan karena ia memiliki disiplin puasa (saum) yang luar biasa.
Di hari-hari biasa (di luar bulan Ramadan), selama dua tahun lebih kuperhatikan, Sani selalu rutin berpuasa. Mungkin, ada nazar yang diikatkannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Aku enggan bertanya padanya, karena ini soal hubungan yang intim antara Pencipta dengan ciptaan-Nya.
Saat belajar bersama, aku sering merasa segan apabila hendak makan dan minum di dekatnya. Sering, aku izin untuk menjauh sebentar sekadar minum karena takut mengganggu puasanya.
Akan tetapi, Sani berkali-kali mengingatkanku kalau ia lebih berharap aku tidak merasa segan. Ia sendiri malah mengingatkanku untuk tidak makan telat supaya penyakit kambuhan maag-ku tidak kumat lagi. Sangking baiknya, ia sendiri yang menuntunku ke Kantin FISIP dan menemaniku makan-minum sekalipun ia sendiri tengah puasa.
Aku pernah bertanya padanya, "Bro San, kau tidak tersinggung aku makan dan minum di depanmu yang sedang puasa?". Ia menjawab, "Bung Theo jangan tidak enakan begitu. Saya puasa untuk ibadah saya. Tidak ada hubungannya dengan orang di sekitar yang makan dan minum". Saya pun sangat salut dengan spiritualitas yang dimilikinya.
Saat buka puasa tiba, ditandai dengan shalat maghrib, ia selalu mengawali dengan ucapan syukur lalu meneguk air putih yang selalu tersedia di tas ranselnya. Tidak jarang, aku menunggunya di luar mushala fakultas untuk menunaikan shalat maghrib dengan menjaga tas miliknya.
Biasanya bulan Ramadhan seperti ini, ada disediakan oleh Progdi Fakultas hidangan untuk buka puasa bersama jika kuliah diadakan sore hari. Sebagai non-Muslim, aku memantangkan diri untuk mengambilnya karena itu adalah hak saudara-saudari yang muslim setelah seharian penuh berpuasa. Namun, Sani tiba-tiba mengambil makanan dan minuman yang ada itu untukku, sambil berkata, "kita cicip bersama saja ya, bung Theo".
Aku tahu bagi Sani tantangan puasa di bulan suci bukan sesuatu yang berat lagi karena ia sudah terbiasa dengan puasa. Namun, ia selalu menunjukkan spiritualitas yang luar biasa di dalam imannya. Di samping itu, ia sebagai aktivitis di Ikatan Pemuda Muhammadiyah memiliki jiwa nasionalisme yang sangat besar. Ucapan yang paling kuingat dari dirinya adalah "Jangan pernah berhenti untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa ini sekecil apapun itu"
Dengan kedekatan yang luar biasa, aku sering mencurahkan isi hatiku padanya tentang pergumulan di pekerjaan. Aku mengatakan kalau beberapa orang tidak memahami apa yang kupikirkan. Sani menasehatkan, "Tetap maju, bung Theo! Orang besar dengan pikiran yang besar selalu sulit untuk dimengerti". Pada hari Natal tiba, ia hampir selalu yang pertama mengucapkan selamat hari Natal untukku. Aku sangat mengapresiasinya karena begitu maraknya belakang larangan untuk mengucapkan selamat hari natal dari seorang Muslim. Aku bersyukur memiliki sahabat seperti Sani. Ia mengajarkanku kalau Islam adalah rahmat bagi semesta.
Selamat memasuki bulan suci untuk Sani, sahabatku. Berkah Ramadhan melimpahimu!

Kenormalan Hidup adalah Menangis

Refleksi Kelahiran KKS dari dr.Christoffel L.Tobing, Sp.OG


Bersama dr.Christoffel L.Tobing, Sp.OG


Dokter Spesialis Kandungan yang mengawasi perkembangan KKS sejak di dalam rahim ibunya adalah dr.Christoffel L.Tobing, SpOG. dr.CT begitu beliau dikenal di rumah sakit tempat emaknya KKS bersalin. Beliau juga adalah seorang Penatua dan Anggota Majelis Sinode di GKPI.
Banyak nasehat dan hal positif yang kupelajari selama berinteraksi dengan beliau. Terutama, hal-hal filosofis tentang hidup berkenaan dengan pengalaman iman di dalam profesi masing-masing.
Salah satu pengalaman akan nasehat yang sangat tak terlupakan dari beliau adalah ketika hari kelahiran KKS tiba. Kami berada di ruang persalinan.
Dengan lincah, dr.CT memegang KKS yang masih memerah itu memasuki dunia barunya pertama kalinya. Layaknya, dokter kandungan yang viral menggendong anak bayi, demikian dr.CT menggendong KKS dan mengangkatnya ke atas, lalu mengguncang-guncangnya sampai terdengar tangisan pertama kali dari KKS yang membuncah duniaku.
Aku sangat ketakutan melihat aksi "akrobatik" yang jujur saja untuk pertama kali seumur hidup kulihat adengan itu. Aku dengan spontan mengatakan, "Awas jatuh, dokter".
dr.CT malah membuatku terkejut dengan menjawab, "Pak pendeta, jangan takut! Anak ini harus menangis tanda ia hidup." dr.CT kemudian menjelaskan bahwa, "tangisan itu untuk memastikan kalau KKS bernapas dengan baik, dan paru-parunya sempurna".
Kemudian, aku menjadi memahami bahwa hakikat pertama manusia lahir ke dunia ini adalah menangis, tanda ia hidup.
Hanya orang mati yang tidak menangis. Orang yang hidup adalah orang yang menangis.
Jangan ragu untuk menangis. Ya, manusia lahir di dalam tangisan dan perginya diiringi tangisan. Kenormalan hidup adalah tangisan.

Tinggal dan Berbuah di dalam Yesus (Yoh.15:1-8)

(Khotbah Minggu, 12 Mei 2019)
Sumber Gambar : Hope Kasih

Allah melalui Yesaya menggambarkan bangsa Israel sebagai kebun anggur-Nya (Yes.5:1). Anggur memang sangat lazim dijumpai masyarakat Israel kala itu, seperti pohon kelapa dan rambutan di Indonesia saat ini. Sebagai pengusaha, Allah sudah melakukan yang terbaik untuk merawat kebun anggurnya (Yes 5:2). Allah sendiri yang menanami kebun anggur-Nya dengan pokok anggur dan menara penjaga di tengah-tengah-Nya. Akan tetapi, kebun anggur itu tetap menghasilkan buah anggur yang asam (Yes.5:4). Gambaran kebun anggur yang asam itu menujukkan tidak ada satu pun yang benar di tengah-tengah bangsa Israel.
Sampai, firman Tuhan datang melalui Yesus yang mendaku Dia adalah pokok (pohon) anggur yang benar (Yoh.15:1). Klaim ini sebagai bentuk eksklusivisme Yesus terhadap ajaran-Nya di tengah banyaknya orang yang mengaku guru, imam, dan nabi di tengah bangsa Israel.
Gambaran Yesus sebagai pokok (pohon) anggur sangat menarik karena kita disebut sebagai ranting-Nya. Ini menunjuk kesatuan kita dengan Yesus di dalam tubuh yang sama, yaitu pokok (pohon anggur). Karena kita memiliki satu tubuh dengan Yesus, kita tentu harus menyatu dengan-Nya. Yesus menegaskan kalau kita tidak menyatu dengan-Nya kita tidak akan berbuah (ay.4), tidak dapat berbuat apa-apa (ay.5), dan menjadi kering (ay.6). Jika itu terjadi, maka kita sebagai ranting akan dipotong dan dibersihkan (ay.2). Sebaliknya, jika kita ada di dalam-Nya, maka kita akan mendapatkan apa yang kita pinta (ay.7) dan berbuah sebagai tanda kita murid-murid-Nya.
GKPI di tahun 2019 mengusung tema sebagai tahun Membangun Komunitas.Oleh kaena itu, nas di minggu ini merupakan saat yang tepat untuk menyatakan kita ini ranting dari Kristus, di mana kita sama-sama membangun citra diri di dalam Kristus. Sebagai kesatuan di dalam tubuh Kristus, yang adalah pokok (pohon) anggur yang benar, kita harus saling menjaga dan menghormati sesama kita. Melukai sesama kita, berarti melukai Kristus. Begitu pula sebaliknya. Minggu ini kita diajak merefleksikan bagaimana untuk hidup dan tinggal di dalam Kristus. Kita karenanya diajak juga untuk hidup bersama dengan baik di antara sesama di mana pun kita berada, melayani, dan beraktivitas, sembari kita menumbuhkan iman yang benar di dalam Kristus.

Kamis, 25 April 2019

Investasi Politik yang Buruk

Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 baru saja berakhir. Pesta demokrasi sehari itu mungkin yang teralot sepanjang Republik ini ada. Bagaimana tidak, emosi masyarakat diobok-obok selama bertahun-tahun dengan isu yang mengancam kesatuan masyarakat. Belum lagi putaran uang ratusan triliun rupiah yang ada di dalamnya. Hasilnya? 
Caci maki di tengah masyarakat, saling klaim kemenangan, menggugat KPU, meragukan netralitas badan negara, dlsb. Isu ketakutan-ketakutan terus menghantui bangsa ini. Begitu pula, ancaman yang tidak boleh disepelekan, "People Power", yang bisa menjadi bom waktu untuk harmonisasi kehidupan bangsa. 
Hasil ini semuanya tentu tidak seperti apa yang diharapkan sebelumnya, yaitu pesta kemenangan rakyat di dalam Persatuan Indonesia. Sesungguhnya, politisi kita saat ini sedang menanam investasi yang buruk untuk masa depan iklim perpolitikan bangsa kita. Politik di Indonesia ke depan akan biasa memainkan isu hoax, termasuk materi SARA yang sangat sensitif. Alih-alih menjadi negara yang maju, kita malah melangkah mundur. 
Padahal, Rod Hague, seorang pakar politik, mendefinisikan politik sebagai kegiatan yang menyangkut cara bagaimana kelompok-kelompok mencapai keputusan-keputusan yang bersifat kolektif dan mengikat melalui usaha untuk mendamaikan perbedaan-perbedaan di tengah para anggotanya. Definisi politik dari Rod Hague ini bersifat konstruktif. Bahwa, politik menjadi jembatan pemersatu. Bukan potensi perpecahan seperti yang mengancam bangsa kita.
Investasi politik yang demikian buruk menurut hemat saya menjadi tanggung jawab partai politik sepenuhnya. Miriam Budiardjo menyebutkan setidaknya ada empat fungsi partai politik bagi negara demokrasi, yaitu: 
Pertama, sebagai sarana komunikasi politik. Hal ini merujuk pada kehidupan masyarakat modern yang luas dan kompleks, banyak beragam pendapat dan aspirasi yang berkembang. Pendapat atau aspirasi seseorang atau kelompok akan hilang tidak berbekas seperti suara di padang pasir apabila tidak ditampung dan digabung dengan aspirasi orang lain yang senada. 
Kedua, sebagai sarana sosialisasi politik. Maksudnya, sosialisasi politik harus diartikan sebagai suatu proses yang melaluinya seseorang memperoleh sikap dan orientasi terhadap fenomena politik yang umumnya berlaku dalam masyarakat di mana ia berada. 
Ketiga, sebagai sarana rekrutmen politik. Fungsi ini sangat erat dengan seleksi kepemimpinan, baik internal partai maupun kepemimpinan nasional yang lebih luas. 
Terakhir, sebagai sarana manajemen konflik. Potensi konflik selalu ada di setiap masyarakat yang heterogen, apakah dari segi etnis, sosial-ekonomi, atau pun agama. Setiap perbedaan tersebut menyimpan potensi konflik. Untuk itu, peran partai politik tidak lain untuk mengatasi atau sekurang-kurangnya dapat diatur sedemikian rupa sehingga efek negatifnya dapat ditekan seminimal mungkin. 
Apa yang dijabarkan oleh Miriam Budiardjo tentang keempat fungsi partai politik, ini tidak berfungsi dengan baik di dalam partai politik yang ada di Indonesia. 
Malah, partai politik tidak jarang memperlihatkan komunikasi politik yang rumit, dan aspirasi masyarakat digiring ke dalam opini politik kepentingan partai. 
Sosialisasi politik yang terjadi pun tidak representatif mencerminkan kebersatuan sebagai bangsa, tetapi malah seperti provokasi isu yang sebenarnya tidak terlalu penting. 
Belum lagi proses rekrutmen kader partai yang berdasarkan seberapa besar ia sanggup membayar, sehingga memunculkan potensi korup. Lebih rumit lagi, berita pertikaian elit partai politik seperti tiada ujungnya menghiasi media massa kita. Sumber konflik malahan dimunculkan dari elit, yang seharusnya menekan efek negatif perbedaan.
Saya sebagai mana masyarakat lainnya mengharapkan agar elit partai politik dapat menunjukkan sikap bijaksana, di mana mendahulukan kepentingan bangsa daripada pribadi maupun sektoral. 
Terlebih, baik partai-partai yang melabelkan dirinya sebagai oposisi pemerintah dan partai pendukung sudah mendapatkan masing-masing suara elektoral yang sesuai target untuk menghiasi parlemen. Sudah saatnya kembali merajut kehidupan bangsa yang sudah tercabik-cabik. 
Antisipasi atas investasi politik yang buruk ke depan sudah mulai dilakukan sedini mungkin. Jangan sampai pihak yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan situasi ini untuk melemahkan persatuan negara kita.