Sabtu, 11 Mei 2019

Yubileum-50 Tahun Fakultas Teologi UKSW (23 Maret 2019)


Selamat ulang tahun emas Fakultas Teologi UKSW, Salatiga. Tempatku menempah iman dan ilmu di dalam mempersiapkan diri menjadi seorang Pendeta GKPI.
Fakultas Teologi UKSW merupakan institusi pendidikan teologi yang unik di Indonesia karena memberikan pendekatan sosiologis keagamaan di tengah-tengah fondasi sistematika-dogmatika yang menjadi pilar utama teologi. Ruang untuk membangun pemikiran teologi konstruktif, khususnya dalam wacana kehidupan gerejawi, sangat terbuka bagi mahasiswa yang studi di sana. Gereja-gereja akan banyak merasakan manfaat dari para alumnusnya yang memberi warna tersendiri di pergumulan teologisnya.
Sayang, warga GKPI masih sangat sedikit yang memilih studi di tempat ini, walau Akreditasi dari BAN-PT untuk Strata 1 (S1) Fakultas Teologi memberikan nilai A.
Pemilihan tema dan nas juga sangat menarik bagiku. Daniel 12 ini menggambarkan penglihatan yang dialami Daniel. Kondisi bangsa Israel di dalam fase rumit karena secara politis mereka takluk dari Babel dan hidup di dalam pembuangan. Secara teologis, mereka sedang dihukum oleh Tuhan karena perbuatan yang menyimpang dari hukum-Nya. Penderitaan yang dialami umat Tuhan yang taat di pembuangan, dijelaskan Daniel dalam visinya, sebagai jalan mereka untuk mengalami apa artinya jatuh tapi dibangunkan Tuhan di dalam kekekalan. Sedangkan, mereka yang jahat akan mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal (ay.2). Untuk orang bijaksana dan yang menuntun pada kebenaran akan bercahaya seperti cahaya cakrawala dan bintang yang tetap bersinar selamanya.
Dari nas ini, Fakultas Teologi UKSW Salatiga mendaku bahwa kami ini orang yang menuntun umat pada Kebenaran. Dasar kami menuntun adalah slogan Universitas kami, "Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan" (Ams.1:7a). Jadi, seluruh civitas Fakultas Teologi UKSW memegang prinsip kebenaran di dalam pengabdiannya dan pelayanannya berdasarkan pengetahuan dari takut akan Tuhan.
Oleh karena kesetiaan melayani Tuhan di dalam penggembalaan umat-Nya didasarkan pada kebenaran, para alumni dan mahasiswa Fakultas Teologi sampai pada hari terakhir hidupnya melayani Tuhan dapat mempertanggungjawabkan semuanya dengan berkata, "Di sini kuberkarya, Di sana kubercahaya"
Pdt.Theodorus Sibarani
Alumnus Fakultas Teologi UKSW, Angkatan 2005
Pendeta GKPI Ressort Sumbul, Wilayah IV

Puasa melintasi Iman

Muhammad Abdul Halim Sani, M.Kesos (Sahabatku)

Memasuki bulan sucinya umat Muslim seperti ini, aku selalu teringat sahabat ketika studi di FISIP-UI, yaitu Muhammad Abdul Halim Sani.
Kuatnya ingatan ini akan Sani, begitu panggilannya, disebabkan karena ia memiliki disiplin puasa (saum) yang luar biasa.
Di hari-hari biasa (di luar bulan Ramadan), selama dua tahun lebih kuperhatikan, Sani selalu rutin berpuasa. Mungkin, ada nazar yang diikatkannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Aku enggan bertanya padanya, karena ini soal hubungan yang intim antara Pencipta dengan ciptaan-Nya.
Saat belajar bersama, aku sering merasa segan apabila hendak makan dan minum di dekatnya. Sering, aku izin untuk menjauh sebentar sekadar minum karena takut mengganggu puasanya.
Akan tetapi, Sani berkali-kali mengingatkanku kalau ia lebih berharap aku tidak merasa segan. Ia sendiri malah mengingatkanku untuk tidak makan telat supaya penyakit kambuhan maag-ku tidak kumat lagi. Sangking baiknya, ia sendiri yang menuntunku ke Kantin FISIP dan menemaniku makan-minum sekalipun ia sendiri tengah puasa.
Aku pernah bertanya padanya, "Bro San, kau tidak tersinggung aku makan dan minum di depanmu yang sedang puasa?". Ia menjawab, "Bung Theo jangan tidak enakan begitu. Saya puasa untuk ibadah saya. Tidak ada hubungannya dengan orang di sekitar yang makan dan minum". Saya pun sangat salut dengan spiritualitas yang dimilikinya.
Saat buka puasa tiba, ditandai dengan shalat maghrib, ia selalu mengawali dengan ucapan syukur lalu meneguk air putih yang selalu tersedia di tas ranselnya. Tidak jarang, aku menunggunya di luar mushala fakultas untuk menunaikan shalat maghrib dengan menjaga tas miliknya.
Biasanya bulan Ramadhan seperti ini, ada disediakan oleh Progdi Fakultas hidangan untuk buka puasa bersama jika kuliah diadakan sore hari. Sebagai non-Muslim, aku memantangkan diri untuk mengambilnya karena itu adalah hak saudara-saudari yang muslim setelah seharian penuh berpuasa. Namun, Sani tiba-tiba mengambil makanan dan minuman yang ada itu untukku, sambil berkata, "kita cicip bersama saja ya, bung Theo".
Aku tahu bagi Sani tantangan puasa di bulan suci bukan sesuatu yang berat lagi karena ia sudah terbiasa dengan puasa. Namun, ia selalu menunjukkan spiritualitas yang luar biasa di dalam imannya. Di samping itu, ia sebagai aktivitis di Ikatan Pemuda Muhammadiyah memiliki jiwa nasionalisme yang sangat besar. Ucapan yang paling kuingat dari dirinya adalah "Jangan pernah berhenti untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa ini sekecil apapun itu"
Dengan kedekatan yang luar biasa, aku sering mencurahkan isi hatiku padanya tentang pergumulan di pekerjaan. Aku mengatakan kalau beberapa orang tidak memahami apa yang kupikirkan. Sani menasehatkan, "Tetap maju, bung Theo! Orang besar dengan pikiran yang besar selalu sulit untuk dimengerti". Pada hari Natal tiba, ia hampir selalu yang pertama mengucapkan selamat hari Natal untukku. Aku sangat mengapresiasinya karena begitu maraknya belakang larangan untuk mengucapkan selamat hari natal dari seorang Muslim. Aku bersyukur memiliki sahabat seperti Sani. Ia mengajarkanku kalau Islam adalah rahmat bagi semesta.
Selamat memasuki bulan suci untuk Sani, sahabatku. Berkah Ramadhan melimpahimu!

Kenormalan Hidup adalah Menangis

Refleksi Kelahiran KKS dari dr.Christoffel L.Tobing, Sp.OG


Bersama dr.Christoffel L.Tobing, Sp.OG


Dokter Spesialis Kandungan yang mengawasi perkembangan KKS sejak di dalam rahim ibunya adalah dr.Christoffel L.Tobing, SpOG. dr.CT begitu beliau dikenal di rumah sakit tempat emaknya KKS bersalin. Beliau juga adalah seorang Penatua dan Anggota Majelis Sinode di GKPI.
Banyak nasehat dan hal positif yang kupelajari selama berinteraksi dengan beliau. Terutama, hal-hal filosofis tentang hidup berkenaan dengan pengalaman iman di dalam profesi masing-masing.
Salah satu pengalaman akan nasehat yang sangat tak terlupakan dari beliau adalah ketika hari kelahiran KKS tiba. Kami berada di ruang persalinan.
Dengan lincah, dr.CT memegang KKS yang masih memerah itu memasuki dunia barunya pertama kalinya. Layaknya, dokter kandungan yang viral menggendong anak bayi, demikian dr.CT menggendong KKS dan mengangkatnya ke atas, lalu mengguncang-guncangnya sampai terdengar tangisan pertama kali dari KKS yang membuncah duniaku.
Aku sangat ketakutan melihat aksi "akrobatik" yang jujur saja untuk pertama kali seumur hidup kulihat adengan itu. Aku dengan spontan mengatakan, "Awas jatuh, dokter".
dr.CT malah membuatku terkejut dengan menjawab, "Pak pendeta, jangan takut! Anak ini harus menangis tanda ia hidup." dr.CT kemudian menjelaskan bahwa, "tangisan itu untuk memastikan kalau KKS bernapas dengan baik, dan paru-parunya sempurna".
Kemudian, aku menjadi memahami bahwa hakikat pertama manusia lahir ke dunia ini adalah menangis, tanda ia hidup.
Hanya orang mati yang tidak menangis. Orang yang hidup adalah orang yang menangis.
Jangan ragu untuk menangis. Ya, manusia lahir di dalam tangisan dan perginya diiringi tangisan. Kenormalan hidup adalah tangisan.

Tinggal dan Berbuah di dalam Yesus (Yoh.15:1-8)

(Khotbah Minggu, 12 Mei 2019)
Sumber Gambar : Hope Kasih

Allah melalui Yesaya menggambarkan bangsa Israel sebagai kebun anggur-Nya (Yes.5:1). Anggur memang sangat lazim dijumpai masyarakat Israel kala itu, seperti pohon kelapa dan rambutan di Indonesia saat ini. Sebagai pengusaha, Allah sudah melakukan yang terbaik untuk merawat kebun anggurnya (Yes 5:2). Allah sendiri yang menanami kebun anggur-Nya dengan pokok anggur dan menara penjaga di tengah-tengah-Nya. Akan tetapi, kebun anggur itu tetap menghasilkan buah anggur yang asam (Yes.5:4). Gambaran kebun anggur yang asam itu menujukkan tidak ada satu pun yang benar di tengah-tengah bangsa Israel.
Sampai, firman Tuhan datang melalui Yesus yang mendaku Dia adalah pokok (pohon) anggur yang benar (Yoh.15:1). Klaim ini sebagai bentuk eksklusivisme Yesus terhadap ajaran-Nya di tengah banyaknya orang yang mengaku guru, imam, dan nabi di tengah bangsa Israel.
Gambaran Yesus sebagai pokok (pohon) anggur sangat menarik karena kita disebut sebagai ranting-Nya. Ini menunjuk kesatuan kita dengan Yesus di dalam tubuh yang sama, yaitu pokok (pohon anggur). Karena kita memiliki satu tubuh dengan Yesus, kita tentu harus menyatu dengan-Nya. Yesus menegaskan kalau kita tidak menyatu dengan-Nya kita tidak akan berbuah (ay.4), tidak dapat berbuat apa-apa (ay.5), dan menjadi kering (ay.6). Jika itu terjadi, maka kita sebagai ranting akan dipotong dan dibersihkan (ay.2). Sebaliknya, jika kita ada di dalam-Nya, maka kita akan mendapatkan apa yang kita pinta (ay.7) dan berbuah sebagai tanda kita murid-murid-Nya.
GKPI di tahun 2019 mengusung tema sebagai tahun Membangun Komunitas.Oleh kaena itu, nas di minggu ini merupakan saat yang tepat untuk menyatakan kita ini ranting dari Kristus, di mana kita sama-sama membangun citra diri di dalam Kristus. Sebagai kesatuan di dalam tubuh Kristus, yang adalah pokok (pohon) anggur yang benar, kita harus saling menjaga dan menghormati sesama kita. Melukai sesama kita, berarti melukai Kristus. Begitu pula sebaliknya. Minggu ini kita diajak merefleksikan bagaimana untuk hidup dan tinggal di dalam Kristus. Kita karenanya diajak juga untuk hidup bersama dengan baik di antara sesama di mana pun kita berada, melayani, dan beraktivitas, sembari kita menumbuhkan iman yang benar di dalam Kristus.

Kamis, 25 April 2019

Investasi Politik yang Buruk

Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 baru saja berakhir. Pesta demokrasi sehari itu mungkin yang teralot sepanjang Republik ini ada. Bagaimana tidak, emosi masyarakat diobok-obok selama bertahun-tahun dengan isu yang mengancam kesatuan masyarakat. Belum lagi putaran uang ratusan triliun rupiah yang ada di dalamnya. Hasilnya? 
Caci maki di tengah masyarakat, saling klaim kemenangan, menggugat KPU, meragukan netralitas badan negara, dlsb. Isu ketakutan-ketakutan terus menghantui bangsa ini. Begitu pula, ancaman yang tidak boleh disepelekan, "People Power", yang bisa menjadi bom waktu untuk harmonisasi kehidupan bangsa. 
Hasil ini semuanya tentu tidak seperti apa yang diharapkan sebelumnya, yaitu pesta kemenangan rakyat di dalam Persatuan Indonesia. Sesungguhnya, politisi kita saat ini sedang menanam investasi yang buruk untuk masa depan iklim perpolitikan bangsa kita. Politik di Indonesia ke depan akan biasa memainkan isu hoax, termasuk materi SARA yang sangat sensitif. Alih-alih menjadi negara yang maju, kita malah melangkah mundur. 
Padahal, Rod Hague, seorang pakar politik, mendefinisikan politik sebagai kegiatan yang menyangkut cara bagaimana kelompok-kelompok mencapai keputusan-keputusan yang bersifat kolektif dan mengikat melalui usaha untuk mendamaikan perbedaan-perbedaan di tengah para anggotanya. Definisi politik dari Rod Hague ini bersifat konstruktif. Bahwa, politik menjadi jembatan pemersatu. Bukan potensi perpecahan seperti yang mengancam bangsa kita.
Investasi politik yang demikian buruk menurut hemat saya menjadi tanggung jawab partai politik sepenuhnya. Miriam Budiardjo menyebutkan setidaknya ada empat fungsi partai politik bagi negara demokrasi, yaitu: 
Pertama, sebagai sarana komunikasi politik. Hal ini merujuk pada kehidupan masyarakat modern yang luas dan kompleks, banyak beragam pendapat dan aspirasi yang berkembang. Pendapat atau aspirasi seseorang atau kelompok akan hilang tidak berbekas seperti suara di padang pasir apabila tidak ditampung dan digabung dengan aspirasi orang lain yang senada. 
Kedua, sebagai sarana sosialisasi politik. Maksudnya, sosialisasi politik harus diartikan sebagai suatu proses yang melaluinya seseorang memperoleh sikap dan orientasi terhadap fenomena politik yang umumnya berlaku dalam masyarakat di mana ia berada. 
Ketiga, sebagai sarana rekrutmen politik. Fungsi ini sangat erat dengan seleksi kepemimpinan, baik internal partai maupun kepemimpinan nasional yang lebih luas. 
Terakhir, sebagai sarana manajemen konflik. Potensi konflik selalu ada di setiap masyarakat yang heterogen, apakah dari segi etnis, sosial-ekonomi, atau pun agama. Setiap perbedaan tersebut menyimpan potensi konflik. Untuk itu, peran partai politik tidak lain untuk mengatasi atau sekurang-kurangnya dapat diatur sedemikian rupa sehingga efek negatifnya dapat ditekan seminimal mungkin. 
Apa yang dijabarkan oleh Miriam Budiardjo tentang keempat fungsi partai politik, ini tidak berfungsi dengan baik di dalam partai politik yang ada di Indonesia. 
Malah, partai politik tidak jarang memperlihatkan komunikasi politik yang rumit, dan aspirasi masyarakat digiring ke dalam opini politik kepentingan partai. 
Sosialisasi politik yang terjadi pun tidak representatif mencerminkan kebersatuan sebagai bangsa, tetapi malah seperti provokasi isu yang sebenarnya tidak terlalu penting. 
Belum lagi proses rekrutmen kader partai yang berdasarkan seberapa besar ia sanggup membayar, sehingga memunculkan potensi korup. Lebih rumit lagi, berita pertikaian elit partai politik seperti tiada ujungnya menghiasi media massa kita. Sumber konflik malahan dimunculkan dari elit, yang seharusnya menekan efek negatif perbedaan.
Saya sebagai mana masyarakat lainnya mengharapkan agar elit partai politik dapat menunjukkan sikap bijaksana, di mana mendahulukan kepentingan bangsa daripada pribadi maupun sektoral. 
Terlebih, baik partai-partai yang melabelkan dirinya sebagai oposisi pemerintah dan partai pendukung sudah mendapatkan masing-masing suara elektoral yang sesuai target untuk menghiasi parlemen. Sudah saatnya kembali merajut kehidupan bangsa yang sudah tercabik-cabik. 
Antisipasi atas investasi politik yang buruk ke depan sudah mulai dilakukan sedini mungkin. Jangan sampai pihak yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan situasi ini untuk melemahkan persatuan negara kita.

Rabu, 26 Oktober 2016

Politisasi Agama dalam Pesta Demokrasi di Indonesia : Belajar Bersikap dari Pilpres 2014 Guna Menyambut Pilkada DKI Jakarta 2017)

Peserta Pilkada DKI Jakarta Tahun 2017 (Sumber : Internet)
Runcingnya persoalan agama di negara kita ini paling sering muncul karena aktvitas politik, seperti Pilpres (Pemilihan Presiden) dan Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah). Sisanya adalah gerakan bawah tanah dari mereka yang belum "move on" dari Piagam Jakarta 45
Harus kita cermati baik-baik bahwa pola kerukunan hidup beragama di Indonesia itu berbentuk Top-Down Design. Artinya, kalau ada satu atau dua tokoh nasional atau tokoh agama yang berkonflik memakai isu agama maka konflik itu bisa berdampak sampai ke lapisan bawah, yang melibatkan manusia dengan jumlah yang sangat banyak. Ini yang mengerikan!


Dalam Pilpres dan Pilkada yang terjadi di negara kita belakangan ini, ada tokoh nasional dan tokoh agama yang semangat bernegaranya sebelum memiliki kepentingan tertentu di politik begitu nasionalis. Tetapi, ketika ia memiliki kepentingan pribadi dan kelompok, mereka itu sedikit "nakal"  memainkan isu agama. Hal itulah yang bisa dimanfaatkan oleh kelompok yang belum "move on" dari Piagam Jakarta 45 yang terus berjuang mewujudkan cita-cita mereka.


Sederhananya, kerukunan umat beragama di Indonesia dapat tercipta kalau segenap tokoh nasional, pemerintah, para stakeholder, dan tokoh-tokoh agama yang berwawasan nasionalis bersatu padu. Kita tentu lebih kuat dari mereka yang gagal "move on" dari Piagam Jakarta 45. Semoga hal ini sudah dipikirkan baik-baik oleh mereka, khususnya Pak Jokowi, Pak A Hok, Bu Mega, Pak SBY, Pak Yusril, Pak Prabowo, dan Pak Amien Rais. Ketahanan dan keutuhan NKRI ada di tangan mereka saat ini.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Kita Mati dengan Dia, Kita pun akan Bangkit dengan Dia (2.Tim.2:8-15)

Renungan Minggu, 9 Oktober 2016


Media massa di Indonesia saat ini sedang dihebohkan berita dari Probolinggo-Jawa Timur. Berita itu juga telah menjadi bahan pembicaraan masyarakat di Siantar-Simalungun. Adalah Dimas Kanjeng Taat Pribadi (DKTP), seorang pria yang diteladani menjadi guru spiritual, dan dianggap memiliki kekuatan sakti untuk mendatangkan uang, sepeda motor, pulsa, bahkan garam pun disebut bisa disulap menjadi permata. Namun, DKTP dilaporkan oleh pengikutnya sendiri yang merasa telah ditipu dengan kerugian materi yang sangat besar. Saat ini, DTKP sendiri sudah dijadikan Bareskrim Polri sebagai tersangka kasus penipuan yang jumlahnya mencapai miliaran rupiah. Menariknya, korban dari penipuan DKTP ini tidak hanya dari kalangan bawah saja, tetapi juga dari kalangan elite dan terpelajar. Belakangan, ada muncul kabar yang mengatakan bahwa kemungkinan kasus penipuan ini melebar sampai kasus pembunuhan. Melihat daya ledak kasus ini yang sanggup menjangkau pembicaraan seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, kita dapat memahami bahwa persoalan yang terjadi di Probolinggo-Jawa Timur itu adalah persoalan yang relevan dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Persoalan warga Probolinggo-Jawa Timur yang menjadi korban penipuan DKTP ini tidak lain karena ada harapan dari mereka untuk meraup keuntungan materi yang besar tetapi didapatkan dengan cepat dan mudah. Begitu pula sebagian masyarakat di Indonesia, pasti banyak yang tergiur untuk mendapatkan keuntungan materi yang besar dengan cara cepat dan mudah, sekalipun itu sangat irasional (tidak logis). Memang, hasrat manusia untuk hidup senang membuat manusia menjadi sangat tidak logis. Kasus penipuan yang dilakukan DKTP ini bukanlah kasus baru yang terjadi di Indonesia. Namun, mengapa kasus serupa terus berulang terjadi? Apakah karena tingkat kesejahteraan manusia di Indonesia yang rendah? Sehingga, mereka ingin segera sejahtera tanpa harus bersusah payah untuk bekerja dan memenuhi kebutuhannya? Rasanya tidak juga, karena apabila kita perhatikan data dari UNDP tahun 2015, IPM (Indeks Pembangunan Manusia) di Indonesia terus mengalami kemajuan. IPM Indonesia dari data itu menempati posisi 110 dari 187 negara dengan nilai indeks 0,68. IPM sendiri menjadi barometer yang penting dalam mengukur kesejahteraan suatu bangsa karena menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembanganunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dsb. Jika penyebab banyaknya korban penipuan di Indonesia bukanlah karena persoalan kesejahteraan, lantas apa soal di balik banyaknya masyarakat Indonesia menjadi korban penipuan yang irasional sekalipun seperti yang terjadi pada kasus DKTP? Dalam analisa saya, penyebab utamanya adalah keinginan manusia untuk hidup senang yang tak ada batasnya. Terkadang, keinginan manusia yang tak terbatas itu membuat mereka menjadi sangat tidak rasional. Hal ini juga ditegaskan oleh Sigmud Freud yang mengatakan bahwa manusia bisa menjadi sangat tidak rasional karena tidak dapat mengendalikan “Id”-nya. Menurut Freud, “Id” merupakan energi-energi psikis manusia yang dapat memberi dasar kehidupan dan di satu sisi hadir sebagai ciri yang merusak. Agar “Id” yang berisikan keinginan tak terbatas manusia itu tidak sampai merusak, ia harus diatur oleh “ego” sehingga dapat menyaring realitas yang ada. Lalu, hasil yang disaring oleh “ego” itu diputuskan menjadi suatu tindakan atau milik seseorang melalui “superego”. Dalam konteks sosial, “superego” merupakan introjeksi norma eksternal, yang bisa juga dipengaruhi oleh keyakinan pada norma agama. Bisa dipahami mengapa DKTP mampu membuat orang dari kelas atas termasuk mereka yang berpendidikan menjadi tertipu tidak lain disebabkan bahwa DKTP menggunakan kedok agama untuk memengaruhi psikologis korbannya menjadi tidak logis (irasional). Lantas, sebagai umat Kristen, bagaimana cara kita mengantisipasi hal ini sehingga kita tidak terhisap ke dalam lingkaran kejahatan penipuan serupa?
Firman Tuhan saat ini memberikan kita satu pengajaran moral akan apa itu keuntungan? Bila kita membaca surat kedua Paulus pada Timotius, di sana kita menemukan Paulus memberikan pengembalaan pada Timotius agar hidup di dalam iman percayanya pada Kristus, seperti yang sudah sudah ada sejak dari generasi neneknya –Lois- dan ibunya –Eunike- (2.Tim.1:5). Dalam hidup percaya pada Kristus, ada hal yang harus dihadapi, di antaranya adalah tantangan untuk menyaksikan kabar baik tentang kebenaran Kristus tanpa malu (2.Tim.2:15). Tantangan itu tidak mudah karena seperti Paulus yang sudah lebih dahulu melakukannya, ia menghadapi berbagai penderitaan dunia di antaranya menderita penghukuman (2.Tim.1:8+12 & 2.Tim.2:9). Timotius sebagai seorang percaya yang sangat diharapkan Paulus untuk menjadi pemberita tentang Kristus juga diminta untuk memiliki kekuatan di dalam imannya sehingga bisa saksi Kristus di dunia melanjutkan tugas Paulus. Penderitaan yang dialami Paulus dan yang akan dirasakan oleh Timotius nantinya adalah hal yang wajar. Paulus menggambarkannya seperti tahapan penderitaan seorang prajurit yang tidak memusingkan dirinya dengan kehidupannya sehingga berkenan pada komandannya (2.Tim.2:4), juga seperti penderitaan ketekunan olahragawan dalam berlatih dan mengikuti peraturan perlombaan sampai ia mendapatkan mahkota juara (2.Tim.2:5), dan seperti penderitaan seorang petani yang bekerja keras untuk dapat menikmati hasil usahanya (2.Tim.2:6). Untuk itu, Paulus mengajak Timotius untuk tidak takut menderita karena hal itu hanya bagian dari tahapan menuju keselamatan. Malahan, Timotius diminta semakin teguh bersaksi bahwa “Yesus telah bangkit dari orang mati dan lahir sebagai keturunan Daud”. Frasa ini merupakan satu rumusan teologis baru dari Paulus pada saat itu untuk menegaskan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan sejak zaman Perjanjian Lama itu. Namun, tidak semua orang dapat menerima rumusan teologis yang baru itu, sehingga ia dibelenggu karena menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat Yahudi dan dianggap sebagai provokator (2.Tim.2:9). Paulus menyaksikan pada Timotius bahwa ia tidak menyesali sama sekali tindakannya itu karena Paulus memiliki kepercayaan bahwa “siapa yang mati untuk Kristus akan mati bersama dengan Kristus, dan siapa yang bertekun dalam iman akan memerintah bersama dengan Kristus” (2.Tim.2:10-12). Paulus juga meyakini bahwa Kristus itu setia sebagaimana Tuhan Allah yang sejak zaman purbakala setia adanya sekalipun nenek moyang Yahudi berulangkali bersikap tidak setia kepada-Nya (2.Tim.2:13). Oleh karenanya, tiap orang percaya, termasuk Timotius, dituntut daripadanya untuk bersungguh-sungguh di dalam kesaksian imannya dan berusaha untuk layak di hadapan Allah (2.Tim.2:14-15).
Dari pengembalaan yang dilakukan oleh Paulus pada Timotius dalam nas minggu ini, kita memperoleh satu gambaran bahwa penderitaan adalah bagian tahapan dalam iman Kristen. Tekanan hidup –sebagai suatu penderitaan- yang dirasakan umat Kristen masa kini ternyata bukanlah tujuan akhir. Tetapi, jika kita meminjam istilah yang dipakai Rostow, penderitaan itu adalah tahapan lepas landas menuju kehidupan bersama Kristus di dalam keselamatan kita. Harta dunia tentu tidak akan kita bawa mati. Sebanyak apapun kita kumpulkan di dunia ini, kita tidak bisa membeli keselamatan itu dengan nilai kekayaan yang kita miliki. Dengan demikian, tugas seorang Kristen adalah memberi kesaksian akan “Yesus adalah Juruselamat (Mesias)” pada seluruh dunia yang tengah dihinggapi kuasa keserakahan. Banyaknya manusia yang serakah membuat kehidupan di dunia ini semakin rusak. Yang kaya ingin kaya. Yang miskin ingin segera kaya bagaimana pun caranya. Keinginan memperkaya diri dengan segera adalah ciri keserakahan. Mengapa? Karena, tuhan mereka adalah mamon. Mereka menganggap bahwa harta dunia itu bisa menolong dan membuat aman kehidupan mereka. Padahal, pakar psikologi sekaliber Freud mengatakan keserakahan yang ada dalam “Id” manusia itu adalah hal yang merusak. Hal itu nyata terjadi seperti yang ada dalam kasus DKTP di mana terjadi kerugian akibat keserakahan bahkan ada indikasi terjadinya pembunuhan. Untuk itu, umat Kristen melalui nas saat ini diminta untuk tidak terjebak dalam sikap serakah, sehingga melakukan hal yang irasional seperti warga di Probolinggo. Malahan, umat Kristen dipanggil untuk memberitakan Kristus yang telah mati dan bangkit itu supaya bila kita mati kita mati dengan Dia, dan bila kita hidup kita pun akan hidup dengan Dia. Mati dan hidup bersama Kristus itulah menjadi keuntungan sejati bagi umat Kristen. Mengapa? Sebab seperti yang disampaikan oleh Martin Luther, dengan kita mati bersama Kristus, kita boleh memaknai bagaimana pengorbanan “Tuhan yang menyerahkan diri-Nya”. Kita dapat juga memahami bagaimana Allah memberi diri-Nya sendiri pada kita dan segala makhluk ciptaan-Nya, dan Dia mencurahkan pemberian-Nya yang tidak ternilai yang bertahan selamanya. Lebih dari itu, Dia menderita, mati, dan dikuburkan untuk melunaskan dosa kita –bukan dengan uang, melainkan dengan darah-Nya sendiri yang mulia.  Sehingga, kita tidak menyia-nyiakan kehidupan ini dengan pengharapan yang sia-sia, dan dengan kesenangan yang sia-sia. Hidup yang kita serahkan sepenuhnya kepada Kristus akan memadamkan roh keserahkahan yang membawa kita pada kehidupan yang sia-sia dan kematian selamanya.