Senin, 23 November 2015

Khusus Dewasa: Tips Mengajar Sekolah Minggu bagi Guru Sekolah Minggu Laki-Laki


GSM GKPI JKJK 
Tulisan ini digagasi dari diskusiku dengan salah seorang Guru Sekolah Minggu (GSM) laki-laki saat kelas persiapan Sekolah Minggu (SM) beberapa hari lalu. Ia baru saja bergabung menjadi GSM di gerejanya. Ketika melakukan microteaching depan kelas, ia terlihat begitu gugup dan kacau. Sehingga, ia memberikan pertanyaan padaku sesaat setelah  microteaching-nya dievaluasi rekan-rekan GSM lain; “Bang, bagaimana caranya agar dapat menjelaskan cerita sekolah minggu dengan baik pada Anak Sekolah Minggu (ASM)?”.
Diskusi yang dikembangkan oleh GSM laki-laki
Sebagai orang yang dipercayakan untuk memimpin kelas persiapan GSM di gereja ini, aku memang menggunakan beberapa pendekatan belajar di dalam kelas persiapan. Aku ingin kelas persiapan SM menjadi laboratorium pelayanan Kategorial Sekolah Minggu. Aku membuka pembelajaran dengan memberikan topik diskusi bagi para GSM, yaitu: hal apa yang menarik perhatian mereka terkait nas maupun buku panduan? sesuatu yang sukar dipahami? sesuatu yang menjadi bahan pertanyaan? hal yang tidak logis? sampai sesuatu yang sangat kuat maknanya? Tujuannya tidak lain untuk membangkitkan daya analistis dari para GSM. Lalu, aku mencoba menghimpun hal-hal yang ditemukan para GSM itu untuk “menjahit”-nya dalam penjabaran teologis. Setelah konstruksi teologinya utuh, kemudian hal berikutnya adalah menurunkannya menjadi suatu sajian refleksi-aplikasi bagi para GSM. Prinsipnya, bagaimana mungkin para GSM dapat menceritakan nas firman Tuhan pada ASM sedangkan GSM sendiri tidak mengerti, tidak tersentuh, dan tidak hidup di dalam firman Tuhan itu? Lalu, tugas berikutnya semakin rumit, yaitu menurunkan sajian refleksi-aplikasi dari tingkat pemahaman GSM ke pemahaman ASM. Di sini, aku mencoba untuk mengembangkan semua kemampuanku yang sudah kupelajari di bangku akademik dibantu pengalaman serta wawasan dari para GSM. Hasilnya, aku sendiri terkadang merasa takjub akan kolaborasi yang boleh kami lakukan. Langkah terakhir adalah melakukan ujicoba mengajar melalui microteaching di kelas. 
Proses Micro Teaching saat Kelas Persiapan Sekolah Minggu

GSM tiap minggunya ditentukan siapa yang akan maju di depan kelas untuk mempraktekkan cara mengajar. Tujuannya agar para GSM memiliki kesiapan setidaknya 60% menjelang hari minggu besok. Karena kami melakukan persiapan di hari Kamis, tentu para GSM memiliki beberapa hari untuk menyempurnakan bahan, materi, dan metode mengajar mereka secara pribadi sampai tiba waktu mengajar di hari minggu.
Tak ada perlakukan spesial yang kuberikan baik bagi GSM senior maupun GSM yang baru bergabung. Mereka sama-sama diberi kesempatan untuk melakukan microteaching dan saling memberi evaluasi pada temannya yang melakukan microteaching. Evaluasi di sini bukanlah sarana untuk saling menjatuhkan. Tapi, suatu kesempatan untuk saling memperkaya antarguru sekolah minggu. Microteaching dilakukan per kelas, yaitu kelas kecil, tengah, dan besar. Artinya, ada tiga GSM tiap minggunya melakukan microteaching. Ada hal menarik yang kutemukan setelah selama microteaching, yaitu: pertama, GSM senior sekalipun bisa tampil berantakan seperti GSM yang baru bergabung; kedua, terlihat metode para GSM dalam mengajar sangat terbatas dan terkesan asal mengajar saja; terakhir, GSM sering lalai dalam memilih diksi saat bercerita dan metode mengajar apa yang tepat jika memerhatikan usia ASM.
Kembali ke topik awal kita, pertanyaan dari seorang GSM laki-laki yang baru bergabung, “Bang, bagaimana caranya agar dapat menjelaskan cerita sekolah minggu dengan baik pada Anak Sekolah Minggu (ASM)?”. Hasil evaluasi memang menunjukkan kalau ia sangat kacau dalam delivery; baik itu pemilihan diksi, menekan demam panggung, dan mengatur tempo serta dinamika suaranya. Begitu pula, sistematika ceritanya yang sering gagal membangun konstruksi logika berpikir anak-anak dan orang dewasa karena sering menggunakan kalimat yang berulang-ulang dan kalimat tidak efektik. Adapun aku, aku sangat bergumul untuk menjawabnya. Karena, aku merasakan kerinduan untuk memperbaiki diri yang kuat di dalam dirinya yang baru saja gagal di microteaching. Dalam menjawab pertanyaannya, aku menggunakan pengalaman pribadiku karena aku yakin tidak ada cara memberi nasehat pada seseorang sebaik berbagi pengalaman. Aku secara terbuka mengatakan sekalipun sudah 8 tahun memimpin khotbah/mengajar, baik itu di kategorial orang dewasa maupun ibadah anak-anak, aku sendiri masih merasa gugup. Dan, kegugupanku saat ini tidak berbeda dengan pertama kali aku tampil. Jadi, bagiku, kegugupan itu adalah hal yang wajar. Semua orang pasti merasakannya, bahkan mereka yang disebut sebagai profesional sekalipun. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara menekan rasa gugup itu? Bagaimana berkhotbah/mengajar yang baik? Secara pribadi, ada beberapa tipsku untuk menyampaikan berkhotbah/mengajar, baik di kalangan orang dewasa maupun kalangan anak-anak. Dan, tipsku itu kutemukan dari pengalamanku ketika mendekati seorang perempuan yang kucintai. Aku tidak tahu apakah aku keliru dengan menyamakan mengajar/khotbah dengan cara seorang laki-laki menjalin komunikasi dengan perempuan yang dicintainya bahkan mengungkapkan perasaannya.  Ada pun tips dariku yang mungkin terdengar aneh, yaitu:
 Pertama, jika seorang laki-laki hendak mendekati perempuan yang dicintainya, ia harus berjuang mendapatkan sebanyak-banyak informasi tentang perempuan yang dicintainya itu. Entah itu lewat teman dekatnya, atau memata-matainya di jejaring sosial, bagaimana pun carany!. Informasi itu haruslah dapat dipertanggungjawabkan keakurasiannya, karena kalau salah mendapatkan informasi maka peluangnya mendapatkan perempuan yang dicintai besar kemungkinan akan hilang. Begitu pula dalam mengajar dan berkhotbah, informasi di dalam khotbah/mengajar harus dapat dipertanggungjawabkan sumbernya. Sebelumnya, kita perlu juga menyadari bahwa pelayanan firman di kalangan dewasa maupun di kalangan anak-anak merupakan hal yang sama, yaitu memberi suatu bentuk pengajaran di depan umum. Dari kesadaran akan mengajar di depan umum itu, tentu ada hal yang harus dipersiapkan secara serius. Mengapa? Karena, jangan sampai yang mengajar malah sesungguhnya menjadi seorang yang harus belajar dari yang diajari. Untuk itu, pertanggungjawaban materi mengajar/khotbah harus diperhatikan saksama. Bahan yang digunakan untuk materi harus diperhatikan sumbernya. Internet memang banyak menawarkan sumber informasi dan pengetahuan, tapi tak jarang isinya kurang dapat dipertanggungjawabkan. Sebagai seorang yang sering menyampaikan firman Tuhan, baik lewat pengajaran maupun khotbah, aku bukannya tidak sering menggunakan internet. Tapi, internet hanya sebagai sumber sekunder. Materi yang hendak ingin kukembangkan adalah materi yang benar-benar kukuasai dan bahan-bahannya sudah ada dalam buku-buku yang pernah kubaca. Sehingga, internet dijadikan sebagai informasi pembanding dari bahan yang telah kugodok menjadi materi utama. Apakah ada informasi lain yang tidak kudapat atau terlewatkan olehku. Dengan demikian, sebagai seorang pengajar/pengkhotbah, aku memiliki materi yang kukuasai dan dapat dipertanggungjawabkan informasinya.
Kedua, setelah mendapatkan informasi tentang perempuan yang dicintainya, laki-laki itu harus membangun komunikasi dengan perempuan itu. Tentu, tidak semua informasi yang didapatkan dijadikan bahan komunikasi. Mengapa? Karena, perempuan itu bisa menjadi tidak nyawan. Atau, bisa jadi, bahan informasi yang digunakan itu tidak tepat untuk situasi perempuan yang dicintainya saat itu. Misalnya, ada informasi kalau perempuan yang dicintainya itu senang makan es krim, tapi saat ini ia tidak makan es krim karena lagi ikut program diet. Bisa dibayangkan apa yang terjadi kalau laki-laki itu cerita tentang es krim pada perempuan yang dicintainya yang tengah menjalani program diet? Perempuan yang dicintainya itu tentu akan menjadi sangat tidak suka. Dengan demikian, hal yang harus diperhatikan kemudian baik dalam mendekati seorang perempuan dan berkhotbah/mengajar adalah pemilihan materi apa yang sebaiknya disampaikan. Mengapa? Karena, selain penguasaan materi berdasarkan bahan yang dapat dipertanggungjawabkan, kita sebagai pengajar/pengkhotbah juga harus memerhatikan saksama situasi dari pendengar khotbah/pengajaran kita. Kondisi sosial apa yang tengah berkembang di tengah pendengar? Sebagai lanjutan pertanyaan bagaimana latar belakang sosial, antropologis, psikologis dari pendengar khotbah/pengajaran? Pemilihan materi pembicaraan yang tepat akan menarik perhatian orang yang sedang kepadanya kita bercerita. Mereka tidak akan pernah bosan mendengar cerita saat itu.

Salah Seorang GSM Laki-Laki yang Baru di GKPI JKJK
Ketiga, untuk mendukung komunikasi yang  berkualitas dengan perempuan yang dicintainya, laki-laki itu tentu harus memiliki metode pendekatan apa dalam komunikasi, di mana di dalamnya juga berbicara tentang media. Laki-laki itu harus memastikan ia memulai komunikasi dengan media apa? Apakah pesan singkat (SMS)? Twitter? Facebook? BBM? Path? Instagram? Atau, mengajak bertemu langsung berdua? Tentu, perempuan yang dicintainya harus merasa nyaman terlebih dahulu dengan media komunikasi, karena kalau tidak pembicaraan akan segera berakhir dan meninggalkan kesan yang kurang baik. Dan, peluang mendapatkan kesempatan atau perhatian dari perempuan yang dicintai akan semakin mengecil. Begitu pula dalam mengajar/berkhotbah, metode dan media menjadi unsur yang penting. Metode apa yang akan digunakan dalam mengajar/berkhotbah? Story telling? Diskusi? Role Play? atau yang lainnya? Begitu pula medianya. Apakah menggunakan media bercerita dengan menarik? Video clip? Alat peraga? Boneka Panggung? Atau yang lainnya? Penggunaan metode dan media yang tepat menjadi nilai yang sangat krusial bagi seorang pengajar/pengkhotbah. Jika berhasil memilih metode dan media yang tepat, maka pendengar akan dengan mudah terfokus pikirannya pada pengkhotbah/pengajar, yang seolah mengatakan, “Ayo dengarkan aku! Perhatikan aku!”
Terakhir, lakukanlah! Seorang laki-laki tentu pada akhirnya harus berkomunikasi dengan perempuan yang dicintainya. Setiap persiapan dan pendekatan yang telah dilakukan dengan matang dapat digunakan dalam membangun komunikasi.  Persoalan utama dalam tahap terakhir ini adalah mental yang kuat. Contohnya, sebagai seorang laki-laki, aku adalah tipe laki-laki yang buruk dalam berkomunikasi maupun mengungkapkan perasaanku. Aku tidak berani untuk memulai komunikasi dengan perempuan yang kucintai, bahkan menatap matanya saja pun aku tidak berani. Tapi, aku harus memiliki mental yang kuat untuk mengatasinya. Aku tidak akan pernah tahu hasilnya bila tidak mencoba. Ini membuatku menjadi mengubah karakter yang bukan diriku yang sebenarnya. Aku aslinya sangat susah merangkai kata untuk bercerita dengan perempuan yang kucintai. Bahkan, terkesan sangat parah. Tapi, aku mau tidak mau harus melakukannya. Begitu pula saat mengajar/berkhotbah, walaupun kita bukanlah seorang yang suka bercerita, mau tidak mau dalam pengajaran/khotbah, kita harus bercerita. Tidak ada pilihan lain! Memang hal itu akan menjadikan diri kita bukan diri kita yang sebenarnya. Namun, ia tidak bisa dihindari. Aku jadi teringat dengan seorang teolog PAK yang terkenal dengan buku Seri Selamat-nya, Andar Ismail. Aku selalu bertemu dengan beliau tiap hari Rabu dan Jumaat saat aku bekerja sebagai editor di toko buku BPK Gunung Mulia, Jakarta. Ia adalah seorang yang kaku, pendiam, dan cenderung seperti sombong. Sangat berbeda dengan Andar Ismail yang ada di buku Seri Selamat, yang ceria, penuh cerita, lucu, dan tidak jarang menungkapkan hal-hal yang konyol. Aku menjadi sadar mengapa banyak respons yang mengatakan Andar Ismail itu di dunia nyata tidak seperti di dunia tulisannya? Terkadang, ada kalanya kita memang harus menjadi bukan diri kita sendiri . Begitu pula dengan orang yang jatuh cinta, pengkhotbah, dan pengajar, mereka sering menjadi bukan diri mereka sendiri. Hal itu masih dalam tahap wajar jika mereka masih dapat menyadari perbedaan itu. Yang berbahaya adalah saat seseorang tidak menyadari ada kepribadian ganda dalam dirinya.
Dari sedemikian jauh tips yang dibagikan, mungkin ada di antara kita yang berkomentar bahwa aku terlalu gila menyamakan cara berkhotbah/mengajar dengan cara seorang laki-laki berkomunikasi dengan perempuan yang dicintainya. Aku tidak ingin berdebat dengan mereka yang memandangku demikian. Mengapa? Karena, ada kalanya hal spiritual ini didekati dengan cara percintaan. Seperti, kitab Kidung Agung sebagai contohnya. Walaupun kitab itu jarang digunakan dalam berbagai ibadah, tapi bukan berarti kitab itu bukan bagian dari Alkitab/firman Tuhan. Akhirnya, semoga tips ini bermanfaat bagi para GSM laki-laki. Tuhan memberkati!

Selasa, 17 November 2015

Jika Mencintaimu adalah Topik Tesisku!

Olaf

Engkau adalah tesis yang hendak kutulis,
Entah harus dimulai dari huruf apa, kata apa, kalimat bagaimana?
Aku tidak tahu!
Cara terbaik menggambarkan dirimu seutuhnya memerlukan metode khusus,
Mungkin, pendekatan kualitatif agar dapat menjelaskanmu dalam bingkai kata,
Tapi, bagaimana caraku menggumpulkan data lapangan keseharianmu?
Engkau begitu jauh dariku, dan lagi berbicara denganmu saja aku tidak bernyali!
Baiklah, aku mungkin hanya perlu mengubah tesisku ke pendekatan kuantitatif,
Tujuannya ingin memeriksa seberapa kuat hubungan kita dalam sajian angka.
Aku adalah variable bebasnya,
Kamu adalah variable terikatnya,
Dan cinta adalah variable kontrolnya.
Akhirnya, tesisku ada titik terangnya. Tapi, tunggu dulu!
Aku teringat engkau sudah menolak cintaku, relasi apalagi yang perlu kucari?
Aku pun tidak tahu!
Segera aku menyadari aku adalah sarjana yang gagal dalam bidang percintaan,
Dan, engkau adalah tesis yang tidak akan pernah aku selesaikan.

Sabtu, 07 November 2015

Mati Satu Kali Untuk Keselamatan Semua (Ibrani 9 : 24 – 28)


Khotbah di Ibadah Umum GKPI Jem.Khusus Jambi Kota
Minggu, 8 November 2015

 
Ilustrasi : Sumber Internet
Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Sang Kepala Gereja!
Suatu kali, seorang anak ditugaskan orangtuanya untuk mengunci semua pintu dan gerbang rumah karena hari segera malam dan mereka harus beristirahat. Anak ini meminta waktu beberapa saat lagi mengerjakan tugas itu karena sedang asyik menonton TV. Orangtuanya kemudian mengingatkan lagi agar anak itu jangan sampai lupa sehingga mereka  dapat beristirahat dengan aman dari pencuri yang dapat datang tiba-tiba. Entah karena apa, anak ini lupa untuk mengunci pintu dan gerbang rumah sekalipun sudah dua kali diperintahkan orangtuanya. Akibatnya, pada saat malam, pencuri dapat dengan mudah masuk ke rumah. Mereka sekeluarga disekap dan para pencuri mengambil semua benda berharga yang mereka miliki. Setelah peristiwa mengerikan ini berakhir, anak itu menangis sekuat-kuatnya di hadapan orangtuanya memohon agar dimaafkan karena sudah menyesali perbuatannya yang tidak menuruti perintah orangtua. Adapun orangtua dari anak ini adalah seorang pemaaf yang selalu memberikan kesempatan pada anaknya agar menjadi lebih baik lagi di hari yang mendatang. Namun, sepertinya, anak ini kurang memahami apa arti maaf.. Satu kali, saat tengah mati lampu, anak ini kembali ditugaskan orangtuanya agar setelah selesai belajar ia tidak lupa untuk makan malam lalu mematikan lilin yang ada di dapur. Anak ini meyakinkan orangtuanya bahwa ia akan segera mematikan lilin yang ada di dapur setelah ia selesai belajar dan makan malam. Belum selesai belajar dan makan malam, anak ini perhatiannya teralihkan oleh nyamannya tempat tidur. Dalam hati, ia bertekad hanya rebahan sebentar kemudian melanjutkan aktivitas belajar dan makan malamnya sehingga ia tidak perlu meniup lilin di dapur. Tanpa disadari, anak ini ketiduran dan lilin yang ada di dapur sudah habis perlahan membakar meja makan kayu. Perlahan api merambat sampai ke tabung gas sehingga menimbulkan ledakan besar dan kebakaran hebat. Anak itu segera tersadar kalau telah terjadi kebakaran yang sangat hebat di rumah mereka. Ia hanya bisa menyelamatkan dirinya sendiri karena ruangan sudah penuh api. Setelah berhasil menyelamatkan diri, ia baru mengetahui jikalau orangtuanya menjadi korban dalam kebakaran hebat itu. Ia menangis sejadi-jadinya ingin meminta maaf pada orangtuanya tapi apa daya  tidak ada kesempatan lagi baginya untuk minta maaf. Ia hanya akan meratapi nasib seumur hidupnya, berharap dapat memutar waktu, dan mendapatkan kesempatan kembali untuk memperbaiki kesalahannya.

Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus!
Cerita tadi memberikan pesan moral pada kita bahwa kesempatan selalu ada diberikan pada tiap orang, sampai kesempatan itu habis dengan sendirinya karena tidak dimanfaatkan dengan bijak. Demikian juga nas kita pada saat ini ingin mengajak kita, umat percaya, untuk dapat menggunakan kesempatan yang ada di dalam kehidupan ini agar memberi keselamatan bagi hidup kita pada akhirnya. Kitab Ibrani, yang tidak diketahui secara pasti siapa penulisnya, ingin menuturkan bahwa kematian Kristus yang satu kali di kayu salib itu memberikan kesempatan pada kita dalam kehidupan ini. Namun, bagaimana itu bisa terjadi? Dan, bagaimana cara menggunakan kesempatan itu? Inilah firman Tuhan yang akan kita refleksikan pada saat ini.
Hal pertama, bagaimana kematian Yesus dapat menjadi suatu kesempatan bagi kita? Jika merujuk pada garis besar dari kitab Ibrani, isi kitab ini terbagi menjadi empat bagian besar, yaitu: berbicara tentang superioritas firman Allah yang ada pada Yesus itu lebih hebat daripada malaikat dan Musa; penggambaran Yesus sebagai imam besar yang pengurbanan tidak dilakukan dengan upacara kurban binatang melainkan dengan darah-Nya sendiri; pengurbanan Yesus membawa penghapusan dosa melayakkan manusia untuk masuk ke tempat yang dijanjikan itu; serta terakhir serangkaian nasehat penutup.  Dari keempat gambaran garis besar itu, kita dapat memahami bahwa kitab Ibrani pada dasarnya ingin berbicara bahwa Yesus yang adalah Imam besar sesungguhnya juga sekaligus menjadi kurban persembahan yang berfungsi sebagai pengantara ke dalam perjanjian yang baru. Hal ini sangat rumit dipahami dan menyisakan banyak pertanyaan. Yesus bukanlah seorang Lewi yang memiliki hak menjadi seorang imam, bahkan imam besar. Kemudian, seorang imam besar tentu akan membawa kurban persembahan darah binatang sebagai penebusan dosa bukan memberikan darah dan nyawa-Nya sebagai bagian proses dari penebusan dosa. Ritual persembahan kurban juga tidak terjadi hanya sekali seperti yang dilakukan oleh Yesus melainkan setiap tahunnya. Kerumitan ini yang membuat kitab Ibrani dianggap sebagai kitab yang penuh teka-teki dan berkonten teologi yang sangat sukar untuk dipahami.
Akan tetapi, dengan hikmat Roh Kudus, kita tentu dapat mencoba berusaha menguraikan maksud dari kitab ini sehingga kita mendapatkan sesuatu bagi iman kita. Ketika kita perhatikan ayat 24-25, kalimat di situ ingin menunjukkan bahwa Yesus lebih superior dari imam besar, seperti Harun  yang sehari-harinya melakukan ritus persembahan pada hari raya penebusan di ruang maha suci buatan manusia. Tetapi, Yesus dikatakan benar-benar masuk ke dalam ruang suci yang disebut sorga itu. Suatu ruang yang bukan diciptakan oleh manusia dengan rekayasa tata-ruang. Ruang yang sungguh-sungguh tempat Allah hadir. Memercikan darah yang bukan darah kurban binatang, tetapi darah Yesus sendiri sebagai persembahan.

Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Tentu, ketika Yesus memberikan darah-Nya sebagai persembahan, hal itu menjelaskan bahwa Yesus merelakan nyawa-Nya guna penebusan dosa manusia. Inilah yang harus kita pahami saksama, karena saat mengurbankan diri-Nya, Yesus saat itu seutuhnya manusia biasa seperti kita. Kemanusiaan Yesus membuat-Nya hanya mati satu kali seperti manusia biasa lainnya. Dengan demikian, kematian Yesus tidak terjadi berulang-ulang, tetapi hanya satu kali saja (ay.26-27). Setelah pengurbanan itu terjadi, maka penebusan dosa manusia sudah tuntas dilakukan Yesus di kayu salib untuk semua orang. Jika sebelumnya hubungan manusia dan Allah rusak karena dosa, kali ini sudah diperbaiki oleh pengurbanan Yesus. Persoalannya kemudian adalah apakah ada jaminan bahwa manusia sudah pasti beroleh keselamatan? Ternyata, jawabannya belum. Di ayat 28 dikatakan, “Sesudah itu (setelah mencurahkan nyawa-Nya), Ia kan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia”. Makna dari ayat ini sudah jelas. Ibarat seorang anak dalam cerita sebelumnya sudah dimaafkan melalui pengorbanan orangtuanya, tidak ada jaminan bagi anak itu tidak melakukan kesalahan lagi. Demikian pula dengan kita manusia berdosa. Ketika, Yesus menebus dosa kita itu berarti ia telah memberikan kita kesempatan untuk tidak mengulangi keberdosaan kita. Dan, bagi siapa yang dapat memanfaatkan kesempatan itu, berarti mereka adalah orang yang menantikan Yesus, sehingga pada mereka dianugerahkan keselamatan. (ay.29). Dan, jika kita tidak memanfaatkan kesempatan itu, tentu kita akan mengalami seperti apa yang terjadi pada anak kecil yang ada di cerita awal tadi. Inilah yang dimaksud dengan pengurbanan Yesus memberikan kita kesempatan.

Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan!
Pertanyaan kedua sekaligus yang terakhir adalah bagaimana cara kita memanfaatkan kesempatan itu agar kita dianugerahkan keselamatan? Bukankah dalam ajaran reformasi gereja dikatakan “keselamatan itu bukan karena usaha kita melainkan anugerah semata”? Adalah benar keselamatan bukan atas usaha atau kerja keras manusia untuk mencapainya. Oleh karena itu, umat percaya wajib mensyukuri rancangan keselamatan Ilahi yang dilakukan oleh Yesus melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Dengan demikian, cara kita memanfaatkan kesempatan itu adalah dengan mensyukuri pemberian luar biasa yang diberikan oleh Yesus kepada kita, yang ditebus dengan harga mahal melalui darah-Nya, yaitu penebusan dosa. Dengan bersyukur, kita akan bertekad untuk hidup yang lebih baik dari sebelumnya. Jadi, perbuatan baik kita bukan didasarkan pada tujuan ingin segera selamat, melainkan atas rasa syukur kita atas keselamatan yang Tuhan janjikan melalui pengurbanan darah-Nya. Sebagaimana Yesus adalah Imam Besar, dalam ajaran reformasi gereja, kita juga adalah imam yang rajani. Konsep imam yang rajani atau imamat am orang percaya tentu harus lekat di dalam kehidupan umat percaya dalam rangka rasa syukurnya kepada Tuhan. Anwar Tjen, seorang sarjana Biblika asal Indonesia, menjelaskan bahwa titik tolak Luther dalam berbicara tentang imam adalah Kristus sendiri; “Kristus adalah imam besar, ada yang lebih tinggi daripada Dia yang diurapi Allah. Dia telah mengurbankan tubuh-Nya bagi kita. Tidak ada jabatan imam yang lebih tinggi lagi. Sejalan dengan itu, di atas salib Dia berdoa bagi kita. Dia memberitakan Injil dan mengajarkan semua orang untuk mengenal Allah dan diri-Nya. Jadi, karena Dia adalah seorang imam dan kita ini saudara-saudara-Nya, maka semua orang percaya mempunyai kuasa dan mendapat perintah yang harus dilakukan untuk berkhotbah, mendekat kepada Allah, berdoa bagi satu sama lain, dan mempersembahkan diri kita sebagai kurban kepada Allah. Reinterpretasi seperti ini memungkinkan Luther menafsirkan secara radikal nilai pekerjaan sehari-hari. Imamat yang Kristus genapi yang tidak dapat diulangi tetapi menjadi model bagi imamat yang dilakoni umat-Nya. Seperti para imam mempersembahkan kurban dalam Perjanjian Lama, demikianlah orang percaya sebagai imam mempersembahkan kepada Allah segala jenis pekerjaan duniawi, entah sebagai tukang jahit, tukang kayu, tukang masak, ataupun penjaga penginapan.

Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus!
Dari sedemikian jauh pembahasan firman Tuhan, maka ada dua hal yang dapat kemudian kita simpulkan sebagai refleksi mendalam guna diaplikasikan ke dalam kehidupan beriman kita, yaitu:
Pertama, sebagai umat beriman, kita diingatkan untuk benar-benar memahami kesempatan yang Tuhan telah berikan pada kita. Pengurbanan-Nya hanya terjadi satu kali untuk selamanya dan bagi semuanya. Sehingga, kita tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Yang menjadi permasalahan adalah jika kita sebagai umat percaya tidak pernah merasakan urgensi dari pengurbanan Yesus di kayu salib sehingga kita kurang memaknai pentingnya memanfaatkan kesempatan yang telah Tuhan berikan. Jika demikian, kita tentu harus lebih banyak mengenal firman Tuhan secara serius. Mungkin, hal itu disebabkan waktu kita untuk berkomunikasi dengan Tuhan sangat kurang, baik itu dalam ibadah maupun berdoa;
Terakhir, jika kita dapat merasakan urgensi dari kesempatan yang Tuhan berikan, tentu kita harus benar-benar memanfaatk kesempatan itu dengan baik. Seperti yang ditekankan oleh Martin Luther bagaimana umat percaya yang juga adalah imam mempersembahkan pekerjaannya kepada Tuhan harus benar-benar memaknai pekerjaannya adalah rasa syukurnya atas pengurbanan darah Yesus. Dengan demikian, umat percaya akan dengan sungguh-sungguh bekerja. Mereka akan menjadi pekerja yang jujur, takut akan Tuhan, serta menaruh pengharapannya kepada Tuhan. Mereka tidak akan menghujat Tuhan jikalau sedang mengalami kondisi yang sulit. Juga tidak segera melupakan Tuhan jika kondisi sedang bersukacita. Mereka menaruh hormat kepada Tuhan seperti pada sesamanya. Mereka menjalin komunikasi yang baik dengan Tuhan melalui doa, ibadah, dan persembahannya. Karena, mereka memaknai bahwa Yesus telah mati satu kali untuk keselamatan manusia. Tuhan memberkati

Senin, 05 Oktober 2015

Bolehkah Umat Kristen Bercerai? (Mrk.10:2-16, Khotbah Kebaktian Sektor 6-7 Oktober 2015 GKPI JKJK)


Ilustrasi Gambar: Sumber Internet
Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus!
Dalam berbagai pernikahan, burung merpati sering digunakan sebagai lambang pernikahan. Mengapa demikian? Mungkin, mereka yang menikah itu berharap cinta mereka sedikit banyaknya seperti pasangan burung merpati yang hidup bahagia. Burung merpati sebagaimana yang umumnya kita ketahui merupakan burung yang tidak pernah mendua hati. Di saat musim kawin, burung merpati tinggal di sarang bersama pasangannya. Pasangan burung merpati hanya satu seumur hidupnya. Oleh karena itu, ketika burung merpati harus terbang jauh mencari makanan, ia pasti akan tahu jalan pulang karena ia ingat di mana ia harus tinggal dengan pasangannya yang telah menantinya. Ketika berada di sarang, mereka saling memberikan pujian. Jika yang satu bernyanyi, maka pasangan merpati itu tertunduk malu untuk mendengarkannya. Saat membuat sarang pun mereka bekerja sama dengan sangat baik. Mereka saling bergantian membawa ranting untuk anak-anaknya. Apabila merpati betina sedang mengerami, maka merpati jantan menjaga di luar kandang manatahu ada bahaya. Saat merpati betina kelelahan mengerami, maka merpati jantan gantian mengerami. Mereka tidak pernah saling melempar pekarjaan. Dan, satu hal lagi yang menarik, burung merpati tidak memiliki empedu. Hal itu melambangkan merpati tidak menyimpan hal-hal yang pahit dalam hidupnya, sebagaimana rasa empedu adalah pahit. Inilah yang mungkin membuat mereka menjadi lambang pasangan berbahagia.

Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Sebagaimana Tuhan menciptakan pasangan merpati yang berbahagia, tentu sepasang manusia yang bersatu dalam pernikahan kudus diciptakan untuk berbahagia pula. Jikalau demikian, mengapa harus ada perceraian? Adapun faktor-faktor yang menyebabkan perceraian yang sering kita dengar adalah mungkin karena perselingkuhan, tidak memiliki keturunan, tidak mendapatkan anak laki-laki, tidak sejalan, kebosanan, dan alasan lainnya. Oleh karena itu, bagaimana pandangan Kekristenan tentang perceraian? Bolehkah pasangan Kristen yang telah menikah bercerai?
Konsep perceraian dalam Kekristenan muncul ketika Yesus ditanyai oleh orang Farisi tentang hukum cerai dalam konsep Yahudi. Sebagaimana kita mengetahui, orang Farisi merupakan bagian kecil dari kumpulan Yahudi yang menjunjung tinggi Taurat. Kata Farisi sendiri berasal dari bahasa Ibrani, Prushim atau Perush, yang berarti menjelaskan atau bisa juga memisahkan. Orang Farisi menjelaskan Taurat bagi mereka yang tidak mengerti dan orang Farisi memisahkan diri dari komunitas ahli Taurat. Kesehariannya, orang Farisi ini aktif menjadi pengamat Taurat dan penegak hukum yang teliti. Dalam benak orang Farisi, Allah sangat mengasihi mereka yang taat pada hukum Taurat dan menghukum mereka yang tidak mengindahkan Taurat. Merasa memiliki kapasitas memahami Taurat sangat mendalam, orang Farisi ingin mencobai Yesus tentang pemahaman-Nya akan Taurat. Adapun Yesus yang memiliki banyak pengikut yang bersimpatik dengan-Nya membuat orang Farisi kian penasaran. Banyak orang mengganggap Yesus hanya seorang rabbi (guru). Sehingga, intelektualitas Yesus akan Taurat harus diuji. Sekiranya daripada Yesus ditemukan kesalahan, maka mereka tidak segan melabelkan Yesus sebagai penyesat dan tidak layak menjadi guru atas banyak orang. Ketika Yesus mendapat pertanyaan, “Apakah seorang suami boleh menceraikan istrinya?”, adapun jawaban Yesus tidak menyimpang dari sumber Taurat, yaitu Musa. Yesus mengembalikan pertanyaan orang Farisi tentang pengetahuan mereka akan Musa, si pembawa Taurat. Ternyata, tanggapan orang Farisi mengenai Musa dan hukum perceraian sangat tepat, yaitu: “Musa memberi izin untuk menceraikannya (istri) dengan membuat surai cerai”. Tanggapan orang Farisi ini tentunya diharapkan akan memojokkan Yesus, lalu Dia segera memutuskan bahwa perceraian itu “Boleh atau Tidak?”. Di luar dugaan orang Farisi, Yesus ternyata malah menunjuk akar dari persoalan perceraian yang diaturkan Musa, yaitu “ketegaran hati” orang Israel. Ketegaran hati yang dimaksudkan Yesus adalah bagaimana cara hidup bangsa Israel di masa lalu yang sangat buruk, tidak menghargai kudusnya suatu pernikahan. Lalu, Yesus menguraikan konsep pernikahan umat percaya melalui dasar penciptaan, yaitu “seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya, dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia”. Intinya, Yesus ingin menegaskan kalau sepasang manusia telah bersepakat di dalam pernikahan kudus, mereka tidak boleh mengingkarinya melalui perselingkuhan. Dengan demikian, surat cerai tidak diperlukan. Karena, pernikahan adalah sesuatu yang diikatkan oleh Allah yang tidak dapat dilepaskan manusia.

Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus!
Para murid sepertinya terlihat masih penasaran dengan jawaban Yesus atas orang Farisi. Oleh karenanya, ketika mereka telah tiba di rumah, para murid Yesus melanjutkan pembahasan tentang perceraian. Hal ini memperlihatkan bagaimana inisiatif seorang murid untuk belajar dari guru-Nya begitu sangat baik. Untuk itulah, Yesus merespons keingintahuan para murid. Yesus menjelaskan bahwa laki-laki pun akan disebut berzina kalau ia menikah dengan perempuan lain. Begitu pula sebaliknya. Maksud dari jawaban Yesus pada para murid sudah jelas bahwa perzinahan tidak hanya dikenakan pada seorang perempuan saja tapi pada laki-laki juga tetap berlaku. Ini berbeda dengan pemahaman hukum yang berlaku pada saat itu di mana hukuman atas berzina hanya dikenakan pada perempuan saja. Bandingkan dengan kisah perempuan yang ketahuan berzina. Ke mana laki-laki yang berzina dengan perempuan itu? Memang hukum pada masa itu sangat tidak adil. Bahkan, seorang perempuan yang baru dicurigai berbuat zina sudah layak diadili. Mereka akan dibawa ke hadapan hakim untuk meminum air pahit. Jika perempuan itu kepahitan atau kesakitan maka ia terbukti bersalah. Lalu, perempuan itu dirazam pakai batu sampai mati. Kalau tidak merasa sakit atau pahit, berarti perempuan itu tidak berzina. Hukum ini menunjukkan bahwa hukum ini sangat diskriminatif terhadap perempuan. Sehingga, Yesus memperjelas bahwa laki-laki juga dapat dikenakan pasal perzinahan. Yesus menggunakan anak kecil yang dibawa kepada-Nya tapi dilarang oleh para murid untuk menggambarkan bagaimana seharusnya umat percaya memperlakukan hukum Taurat. Bagi Yesus, cara menyambut Kerajaan Allah bukan seperti orang Farisi yang merasa paling tahu Taurat dan berupaya menjebak orang-orang yang dianggap tidak memahami Taurat. Karena, sebagaimana telah dijelaskan di bagian sebelumnya, orang Farisi menganggap Allah senang terhadap mereka yang paham dengan hukum Taurat. Namun, Yesus menunjuk Allah senang dengan umat percaya yang menyambut Kerajaan-Nya seperti anak kecil. Mengapa? Karena anak kecil dapat menerima orang lain tanpa syarat. Saat bermain, anak kecil hanya mengetahui bahwa permainan ini untuk bersenang-senang, bukan untuk kompetisi yang mengalahkan, meniadakan, dan menggigit. Begitu pula ketika orang percaya mengimani Allah mereka tentu memperlakukan iman mereka untuk menciptakan sukacita bagi sesama mereka bukan sebaliknya.

Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus!  
Dari sedemikian jauh pembahasan firman Tuhan pada saat ini, apa yang dapat kita refleksikan serta aplikasikan di dalam kehidupan beriman kita? Saya mencatat ada dua hal yang dapat kita refleksikan serta aplikasikan, yaitu:
     1.     Keluarga Kristen tidak mengenal perceraian. Perceraian hanya dilakukan mereka yang tegar hati, yaitu mereka yang tidak menghargai arti pernikahan. Jika mereka adalah seorang Kristen, maka mereka menghargai pernikahan itu sebagai suatu janji kudus yang diikatkan oleh Allah. Karenanya, ia tidak dapat diceraikan oleh manusia. Dalam sepanjang usia pernikahan, tentu tidak selalu kebahagiaan datang mengiring. Namun, di situlah indahnya pernikahan. Bersama-sama, sepasang anak manusia  melewati ketidakbahagiaan dengan saling menopang, mendukung, dan mendoakan. Perselisihan pendapat wajar terjadi di dalam pernikahan. Akan tetapi, visi harus tetap sama, yaitu apa tujuan pernikahan mereka? Tujuan pernikahan Kristen adalah mewujudkan visi Allah terhadap manusia di bumi, yaitu membuat keteraturan di dunia ini melalui upaya mereka dalam mengupayakan hasil bumi. Jika ada keluarga Kristen yang tidak teratur, maka visi Allah pada manusia melalui pernikahan gagal. Sehingga, mereka harus bergumul apakah mereka masih dapat melihat peluang untuk membangun keteraturan itu bersama-sama lagi sekalipun harus diawali dari nol? Upaya-upaya mencari peluang itu harus terus dilakukan sehingga perceraian dalam pernikahan Kristen tidak terjadi. Dan, bagi mereka yang sudah ditinggal pasangannya karena kematian, mereka dapat melanjutkan cinta kasih mereka pada pasangan mereka dengan menjaga keturunan mereka. Karena, keturunan adalah bagian dari berkat Allah atas pernikahan manusia.
     2.     Sebagai umat percaya, kita mungkin sangat aktif membaca firman Tuhan. Namun, hal itu tidak boleh kita jadikan sebagai kesombongan rohani. Malahan, semakin kita mengetahui dan memahami firman Tuhan, kita semakin menunduk di hadapan Tuhan dan semakin melayani sesama. Belajar dari apa yang disampaikan Yesus tentang anak-anak sebagai ilustrasi menyambut Kerajaan Allah, kita harus dapat menerima orang lain dengan baik, apa adanya, mendukung, dan mendoakan. Termasuk, di dalam pernikahan, kita dapat menerima pasangan kita dengan kekurangan dan kelebihannya, bukan mencari-cari kesalahan dari pasangan kita.
Kiranya, firman Tuhan saat ini dapat menguatkan iman percaya kita kepada Allah serta memberikan kita hikmat dalam menjalani hidup bersama pasangan kita. Amin!

Sabtu, 03 Oktober 2015

Khotbah Minggu GKPI JKJK, 4 Oktober 2015



Tuhan Menciptakan Penolong yang Sepadan
(Kej.2:18-24)

Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus, Sang Kepala Gereja!
Suatu kali, seorang suami menggerutu di dalam hatinya, “ah Tuhan, mengapa Engkau memberikanku istri yang pemalas? Sepulang bekerja keras di kantor, aku malah menemukan istriku hanya menonton TV dan tiduran, bukannya menemani anak kami belajar, atau bukannya merawat suaminya, entah dipijat karena lelah, atau dihidangkan masakan lezat. Padahal, Engkau mengatakan perempuan adalah penolong sepadan untuk laki-laki. Mana buktinya? Aku bekerja keras, ia enak-enakan santai di rumah. Untuk itu, aku ingin mengadakan perhitungan dengannya, ya Tuhan. Ubahlah posisi kami sementara waktu, aku menjadi istriku dan istriku menjadiku. Biar ia tahu betapa beratnya menjadi seorang suami!” Tuhan yang iba mendengar ratapan suami itu pun mengabulkan doanya. Di suatu pagi, suami yang telah berganti posisi menjadi istri itu sudah harus bangun jam setengah lima pagi. Ia harus memasak sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Kemudian, ia menyiapkan pakaian untuk suami dan anak-anaknya. Ternyata, anak yang paling kecil sedang kambuh manjanya, sehingga harus dimandikan, dipakaikan seragam sekolahnya, dan disuapkan nasinya. Setelah suami dan anaknya berangkat, ia mulai mencuci piring bekas sarapan dan kain pakaian semalam. Lalu, ia menjemur pakaian dan berangkat ke pasar untuk belanja makan siang dan makan malam keluarganya. Sepulang belanja, ia memasak lauk-pauk yang baru dibelanjakannya. Namun, ia baru ingat kalau rekening air, telepon, dan listrik akan jatuh tempo. Ia bergegas ke loket pembayaran untuk membayar tagihan rekening itu. Tidak sempat kembali ke rumah, ia kemudian menjemput anak-anak mereka dari sekolah. Sesampai di rumah, ia menemani anaknya makan sembari ia makan pagi+siang. Sehabis makan, suami yang menjadi istri ini mengatur anak-anaknya agar tidur siang. Sehingga, ia memiliki waktu untuk menyapu rumah, mengangkat jemuran, lalu menyetrika pakaian. Sehabis menyetrika pakaian, waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Ia menyuruh anak-anaknya untuk belajar. Di saat itulah ia ada waktu untuk istirahat sejenak. Ia mengunakan waktu istirahat itu rebahan sambil menonton TV. Di saat suaminya pulang, ia harus mendengar celotehan suaminya yang mengeluh lelah bekerja di kantor. Tidak ingin rumah tangga mereka retak, istri yang kelelahan itu pun hanya mendiamkan diri. Sebelum tidur malam, masih ada “pekerjaan kecil” yang harus ia lakukan dengan suaminya di malam hari, barulah ia baru bisa istirahat. Akhirnya, saat hendak tidur, suami yang menjadi istri ini berdoa kepada Tuhan, “Ya Tuhan, maafkanlah aku yang telah berpikir tidak baik atas istriku. Ternyata, pekerjaan seorang istri jauh lebih berat dari suami. Aku telah salah dengan memarahinya. Oleh karena itu, aku mohon kepada-Mu untuk mengembalikan posisi kami seperti semula. Aku tidak kuat lagi untuk menjalani peran ini”. Tuhan pun mendengar doanya, “Anakku yang baik, syukurlah bila engkau sudah sadar betapa beratnya menjadi seorang istri, tetapi aku tidak bisa mengembalikan posisi kalian seperti semula setidaknya sampai 9 bulan ke depan, karena engkau sedang hamil!”
Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus!
Sering para suami menganggap menjadi ibu rumah tangga itu bukanlah pekerjaan. Ternyata, pekerjaan ibu rumah tangga jauh lebih berat dari pekerjaan suami di kantor. Namun, istri yang bekerja tidak pernah digaji itu bukannya sering diberi apresiasi/pujian dari suaminya, malah sering ia ditekan. Apalagi, bila ada seorang istri yang harus bekerja di luar rumah, lalu ia masih harus mengurus rumah dan keluarganya. Betapa luar biasanya kekuatan seorang perempuan. Tidak seperti yang dilabelkan oleh dunia di mana perempuan adalah makhluk yang lemah. Walaupun kekuatan ototnya tidak sekuat laki-laki, perempuan terbukti lebih kuat dari laki-laki. Di sinilah perempuan dan laki-laki dapat saling mengisi, tolong-menolong, dan bekerja sama. Laki-laki dan perempuan adalah mitra yang sepadan, seperti yang disaksikan oleh firman Tuhan saat ini, Kej.2:18-24. Kalimat “penolong yang sepadan dengannya” di dalam Kej.2:18 sangat menarik untuk digali apa makna yang sesungguhnya? Dalam Alkitab berbahasa Ibrani, penolong yang sepadan dengannya diterjemahkan dari kalimat hezer kanegdo, di mana jika kita memerhatikan Alkitab berbahasa Inggris dan Indonesia, ada beberapa terjemahan yang menarik dari kalimat tersebut:
King James Version (KJV) menerjemahkan dengan an help meet for him (seorang penolong yang berguna baginya)
New American Bible Version (NABV) menerjemahkan dengan a suitable partner for him (seorang rekan yang sesuai dengannya)
New International Version (NIV) menerjemahkan dengan a helper suitable for him (seorang penolong yang sesuai dengannya)
Revised Standard Version menerjemahkan dengan a helper fit for him (seorang penolong yang cocok dengannya)
Terjemahan Indonesia Sehari-hari (TIS) menerjemahkan dengan teman yang cocok membantunya.
Dari beberapa versi terjemahan yang ada, saya secara pribadi lebih bersepakat dengan NABV dan TIS, yaitu rekan/teman yang cocok/sesuai membantunya. Ada beberapa alasan saya memilih terjemahan itu. Pertama, dari alasan Allah ingin menciptakan perempuan, Allah mengatakan “tidak baik manusia itu seorang diri saja”. Seorang diri atau sendirian tentu membutuhkan teman, bukan pembantu/penolong. Oleh karena itu, teman atau rekan adalah kata yang cocok untuk menerjemahkan hezer. Kedua, untuk kata kanegdo, saya memilih menggunakan terjemahan membantu atau sesuai karena kedua kata ini menyiratkan kesetaraan. Membantu bukan hanya tugas pembantu. Seorang teman yang membantu tentu didasarkan pada rasa kasihan atau empati, bukan karena takut atau ditaklukkan. Begitu pula dengan kata sesuai di mana kata ini menunjukkan ada keseimbangan antara laki-laki dan perempuan. Kalau kata berguna belum tentu sesuai. Tetapi, kalau sesuai sudah pasti ia berguna. Dan alasan terakhir, karena perempuan diciptakan Allah dari rusuk laki-laki (ay.21), dan pengakuan laki-laki di mana perempuan itu adalah tulang dari tulangnya dan daging dari dagingnya (ay.23), sehingga laki-laki dan perempuan itu bukan entitas berbeda, tetapi suatu rekanan yang sama. Lain hal kalau perempuan diciptakan dari bahan di luar laki-laki, maka terjemahan penolong yang berguna dapat digunakan karena mereka adalah entitas yang berbeda.
Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Mengapa kita penting dalam memerhatikan komposisi kata yang tepat untuk menggali gambaran perempuan di Alkitab? Tujuannya tidak lain agar kita tidak salah dalam memaknai firman Tuhan tentang perempuan. Salah memahami firman Tuhan untuk penciptaan perempuan ini, tentu kita akan salah memahami perempuan secara teologis. Untuk itu, pemeriksaan komposisi kata menjadi penting. Setidaknya, hal itu dibuktikan dari gambaran jawaban atas survey yang saya lakukan melalui jejaring sosial facebook serta beberapa pesan singkat pada teman. Dari 10 teman yang saya tanyakan tentang konsep perempuan adalah penolong sepadan, 9 orang menjawab setuju dan 1 orang tidak setuju. Dari 9 orang yang saya tanya apakah saat ini posisi perempuan telah dianggap menjadi penolong yang sepadan di tengah kehidupan, 7 orang menjawab sudah dan 2 orang menjawab belum. Namun, ketika digali lagi lebih dalam tentang konsep “penolong sepadan”, masing-masing orang memiliki gambaran yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Lima orang teman menjelaskan penolong sepadan/rekan yang sesuai atau menolong itu dari perlakuan suami-istri di dalam rumah tangga, Satu orang melihat ada dalam tugas suami-istri dalam merawat anak, dan tiga orang teman ada yang melihat dari bagaimana cara mereka melewati bersama-sama kehidupan yang berat. Hasil survey itu sendiri menunjukkan bahwa banyaknya variasi memahami penolong yang sepadan/rekan yang sesuai atau menolong. Dan, darinya kita dapat merekonstruksi pemahaman yang baru tentang penolong yang sepadan itu tidak terbatas sebagai dalam konteks rumah tangga, tetapi lebih luas lagi bagaimana laki-laki melihat perempuan sebagai rekan yang sesuai/membantu. Konteksnya tidak dibatasi oleh pernikahan, tetapi lebih luas lagi. Sehingga, mau tidak mau ini akan berbenturan dengan budaya patriakhi yang hidup di tengah masyarakat, yang melihat adalah warga kelas dua. Kita harus jujur mengakui bahwa banyak budaya yang berkembang di dunia ini, termasuk di Indonesia, yang membuat perempuan menjadi tersubordinasi. Dalam beberapa perkawinan di Indonesia, perempuan dibeli dengan mahar sehingga laki-laki merasa berhak memperlakukannya bagaimana setelah membeli perempuan itu. Konstruksi budaya akan laki-laki terhadap perempuan tidak hanya memengaruhi cara pandang laki-laki pada perempuan dalam pernikahan saja, tetapi juga di dalam tempat kerja. Oleh karena itu, dengan melakukan rekonstruksi makna bahwa perempuan merupakan rekan yang sesuai/membantu laki-laki, masyarakat-khususnya umat percaya-dapat memandang secara setara posisi laki-laki dan perempuan. Tidak ada yang lebih tinggi ataupun lebih rendah. Ingat, posisi rusuk tidak di atas juga tidak di bawah. Ia di tengah-tengah. Begitu pula perempuan dan laki-laki tidak ada yang lebih tinggi mereka bertemu di tengah-tengah. Seorang teolog feminis, Elisabeth Schussler Fiorenza, mengatakan bahwa pandangan terhadap perempuan lebih baik lagi sangat tergantung pada rekonstruksi institusi sosial, karena institusi sosial yang dapat memberikan definisi kembali atas gambaran budaya antara peran laki-laki dan perempuan, sehingga perempuan dapat berdiri sendiri atas dirinya sebagai manusia dan dapat menerima akses kesetaraan dalam ekonomi dan politik. Atau singkatnya, Fiorenza melihat bahwa lembaga-lembaga budaya dapat menarik pemahaman bahwa perempuan tidak lebih rendah dari laki-laki, sehingga di mana pun perempuan berada, terkhusus di tempat pekerjaan, mereka mendapatkan akses yang seharusnya mereka terima.
Memang, kritik Fiorenza ini ada benarnya. Bagaimana tidak, pandangan kebudayaan sedikit-banyaknya memengaruhi posisi laki-laki dan perempuan di gereja. Jika kita lihat, belum ada perempuan yang menjadi pastor di gereja Katolik. Begitu pula dengan gereja-gereja di Indonesia, di mana posisi pelayan perempuan tidak sebesar pelayan laki-laki. Syukur pada Tuhan bahwa gereja di Indonesia sejak akhir tahun 2014 telah memiliki ketua umum PGI dari kalangan perempuan untuk pertama kali. Bahkan, di GMIT, ketua Sinode mereka yang baru adalah perempuan. Hanya di gereja-gereja Sumatera, terkhusus GKPI yang baru saja melakukan periodesasi pimpinan sinode, belum mendapat kesempatan menjadi Bishop. Atau, kita juga melihat dalam ibadah-ibadah sektor yang diselenggarakan oleh GKPI, jamuan makan malam yang pertama kali mengambilnya adalah laki-laki, kemudian perempuan. Rasanya agak tabu kalau perempuan yang pertama mengambil makanan. Sekalipun, saat ini terkenal dengan ungkapan “Lady first”.
Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan!
Pentingnya rekonstruksi pemahaman teologis bahwa penolong yang sepadan itu mengartikan bahwa perempuan adalah rekan yang sesuai bagi laki-laki, hal itu membuka peluang bagi mereka untuk bersama-sama menyusun tugas dan tanggung jawab mereka dalam menciptakan keteraturan hidup. Seperti yang dikatakan pada ayat 19-20, bahwa tugas pertama laki-laki telah selesai menamai tiap-tiap makhluk yang hidup. Sekarang saatnya bagi mereka mereka dapat bersama-sama mengusahakan alam semesta beserta segala isinya untuk keteraturan hidup. Kegiatan bersama ini ditekankan pada ayat 24, di mana laki-laki dan perempuan bersatu menjadi satu daging. Apa maksudnya satu daging? Tentu mereka akan bersetubuh, sehingga mereka memiliki keturunan. Mereka menjalani hidup bersama-sama dengan keturunannya, termasuk mengusahakan alam dan segala isinya. Itulah perintah Tuhan Allah pada perempuan dan laki-laki. Dari sedemikian jauh pembahasan firman Tuhan pada saat ini, apa yang dapat kita refleksikan serta aplikasikan di dalam kehidupan beriman kita? Saya mencatat setidaknya ada dua hal yang dapat kita refleksikan serta aplikasikan, yaitu:
a.      Perempuan dan laki-laki adalah rekan yang sesuai. Sehingga, mereka harus saling menghormati, bukan saling menyakiti, apalagi saling menindas. Dari kerekanan yang sesuai ini mereka kemudian membuka peluang untuk saling memahami. Memang bagi laki-laki sangat sulit memahami perempuan. Bahkan, bagi psikolog besar seperti Freud, ia berkata “pertanyaan terbesar yang tidak pernah terjawab dan di mana aku belum bisa menjawabnya sekalipun aku meneliti jiwa perempuan, adalah ‘Apa yang diinginkan oleh seorang perempuan?’” Sering memang konflik perempuan dan laki-laki terjadi karena laki-laki gagal memahami perempuan. Jika seorang laki-laki bertanya, “apakah ada masalah?” perempuan itu pasti menjawab “tidak”. Tapi, kemudian, perempuan itu mengatakan “kamu itu tidak peka ya?”. Lalu, laki-laki itu bertanya lagi, “masalah kamu apa?”. Dan, perempuan itu menjawab, “tidak ada”. Begitu seterusnya. Susah memang memahami perempuan. Namun, sekalipun perempuan itu susah untuk dipahami, bukan berarti ia adalah makhluk yang lemah. Seperti ilustrasi di awal khotbah, kekuatan perempuan itu ada di perasaannya dan bukan di ototnya. Makanya, seorang ibu dapat mengendong anaknya sambil bekerja entah menyetrika ataupun mengepel. Tidak seperti bapak yang baru 15 menit menggendong anaknya sudah kelelahan. Itu terjadi karena ibu menggendong anaknya dengan kekuatan dari perasaan bukan seperti bapak itu yang menggendong dengan ototnya. Di sinilah mereka dapat saling memaknai, menghargai, dan mengerti bahwa mereka sebenarnya adalah rekan yang sesuai.
b.     Hal kedua adalah bagaimana laki-laki dan perempuan dapat membuka peluang untuk menciptakan keteraturan dalam hidup. Hal ini dapat dimaknai dalam contoh sederhana berikut: Seorang ibu baru saja melahirkan. Ibu ini masih dalam keadaan lemah belum dapat bergerak banyak. Sementara ia masih mengurus bayinya. Namun, keadaan rumah menjadi begitu kacau karena selama ini yang bertugas merapikan adalah istri. Anak-anak mereka selama ini tidak peduli dengan keadaan rumah. Begitu pula suaminya yang tidak pernah mengurus rumah. Apa yang harus dilakukan agar kondisi rumah yang kacau balau menjadi teratur? Tentu, si suami tidak perlu malu bertanya pada istri apa saja yang harus dikerjakan agar rumah menjadi teratur. Anak laki-laki yang tidak mau mencuci piring karena menganggap itu pekerjaan perempuan dapat dibuka wawasannya dengan teladan dari bapaknya yang mengambil bagian tugas yang biasa dikerjakan ibunya, misalnya mencuci pakaian. Sehingga, anak laki-lakinya dapat mengerjakan tugas rumah yang dianggap tugas perempuan. Dengan demikian, suasana rumah menjadi teratur. Begitu hendaknya laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka harus membuka peluang untuk saling membantu agar tercipta keteraturan.
Inilah firman Tuhan bagi kita pada saat ini. Biarlah firman Tuhan ini memberi kita kekuatan untuk menciptakan keteraturan hidup sebagai hasil saling menghormati, mendukung, dan membangun antara laki-laki dan perempuan. Tuhan memberkati!





Minggu, 20 September 2015

Orang Berhikmat Memerhatikan Segala Kemurahan Tuhan (Khotbah Tanggal 20/09/15 di GKPI JKJK)

(Magelang, Pascaletusan Merapi tahun 2010), Dokumentasi Pribadi

Mzm.107:33-43

Ibu, Bapak, dan Jemaat Sekalian yang Dikasihi oleh Tuhan Yesus!
Ada pepatah yang mengatakan, “Pengalaman adalah guru yang terbaik dalam hidup ini”. Sepintas, hal itu dapat dibenarkan karena hanya pengalaman saja merupakan guru yang tidak memberikan pekerjaan rumah (PR). Manusia hidup berdasarkan pengalamannya, baik itu sedih, senang, pahit, ataupun manis. Seluruh pengalaman yang baik tentu akan coba diulangi lagi karena manusia pada dasarnya adalah makhluk yang ingin hidup bahagia. Dan, kalau menemukan pengalaman yang pahit tentu manusia akan berhati-hati bertindak agar tidak terulang kembali. Sedemikian pentingnya pengalaman itu dalam kehidupan manusia, sehingga Tuhan mengajarkan manusia berhikmat melalui pengalaman-pengalaman hidup mereka, terkhusus melalui pengalaman ber-Tuhan.
Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Penulis Mazmur 107 menggambarkan setidaknya ada empat gambaran orang di segala penjuru dunia (ay.3) sebagai pembelajaran atas penyertaan Tuhan dalam kehidupan umat percaya, yaitu:
1.     Gambaran pertama adalah orang yang mengembara di padang belantara:
Diceritakan dalam Mazmur 107:4-9 bahwa mereka ini mengembara melewati jalan kota di mana tidak ada kehidupan di sana sehingga mereka menjadi lapar dan haus. Di saat mereka lemah dan lesu, mereka berseru kepada Tuhan sehingga mereka dilepaskan dari kecemasan. Pada akhirnya, mereka bersyukur karena pertolongan Tuhan yang ajaib sehingga jiwa mereka dipuaskan dan kenyangkan dengan kebaikan Tuhan.
2.     Orang yang terkurung karena memberontak pada perintah Allah:
Diceritakan dalam Mazmur 107:10-16, para pemberontak ini duduk diam dalam gelap dan kelam. Mareka juga terkurung dalam sengsara dan besi. Namun, mereka berseru kepada Tuhan dan Tuhan pun menyelamatkan mereka. Mereka akhirnya dapat bersyukur karena perbuatan Tuhan yang ajaib sehingga palang pintu besi dan pintu tembaga dihancurkan-Nya
3.     Orang yang sakit karena berbuat dosa:
Diceritakan dalam Mazmur 107:17-22, ada orang yang sakit karena dosa dan kesalahan mereka. Sampai mereka tidak dapat makan dan minum, lalu sekarat kondisinya. Mereka kemudian berseru kepada Tuhan dan Tuhan mendengarkan mereka lalu menyelamatkannya. Mereka akhirnya bersyukur karena perbuatan ajaib Tuhan terhadap anak-anak manusia.
4.     Orang yang mengarungi laut dengan kapal untuk berdagang:
Diceritakan dalam Mazmur 107:23-32, ada orang yang berdagang di lalutan luas. Namun, di tengah tingginya transaksi perdagangan, Tuhan mendatangkan badai di laut sehingga mereka nyaris celaka. Maka, mereka berseru kepada Tuhan. Tuhan yang mendengarkan seruan itu pun menyelamatkan mereka dengan mengantarkan mereka ke pelabuhan ke sukaan. Mereka pun bersyukur karena perbuatan ajaib-Nya pada anak-anak manusia.

Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus!
Apa yang ingin disampaikan dari empat gambaran yang diangkat oleh penulis Mazmur 107 itu? Menurut hemat saya, ada satu pesan yang ingin disampaikan, yaitu bagaimana ketika manusia mengalami pergumulan yang sangat hebat, baik itu dikarenakan oleh langkahnya yang sesat, pemberontakannya kepada Tuhan, kesakitannya sebab dosa kesalahan, serta kelimpahan harta benda, Tuhan pada akhirnya menyelamatkan mereka karena mereka memang berseru kepada Tuhan. Penulis Mazmur 107 menutup aksi penyelamatan Tuhan atas empat gambaran itu dengan kalimat “Biarlah mereka bersyukur kepada Tuhan karena kasih setia-Nya dan karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia”
Lalu, apa kaitannya keempat gambaran itu dengan nas kita saat ini? Pertama, Nas saat ini menegaskan kembali bahwa dalam kasih setia-Nya, Tuhan mendengar seruan orang tertindas. Ayat 41 cukup jelas menggambarkan bagaimana Tuhan membentengi orang miskin. Kedua, nas kita saat ini menegaskan bagaimana perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan terhadap anak-anak manusia tidak lain merupakan kemurahan Tuhan semata. Tuhan memutarbalikkan kondisi yang ada di dunia di mana anak-anak manusia berada, Sungai-sungai dijadikan-Nya padang gurun dan pancaran air menjadi tanah gersang. (ay.33) Tetapi, padang gurun dijadikan-Nya kolam air, serta tanah kering menjadi pancaran air (ay.35). Sehingga, orang miskin yang dibentengi Tuhan ditempatkan di sana. Lalu, panen yang tidak merata. Ada yang gagal panen karena tanahnya berubah menjadi tanah asin (ay.34). Tetapi, ada yang panen berlimpah karena Tuhan memberkati (ay.37-38). Sehingga, para orang jahat akan terus berkurang dan celaka. Bahkan, orang yang terkemuka sangat menderita dibuat-Nya (ay.39-40). Tidak ada alasan lagi bagi orang yang jahat untuk iri dengan orang benar, ketika Tuhan telah bertindak. Lalu, Penulis Mazmur 107 ini menyimpulkan bahwa orang berhikmat harus belajar dari semua pengalaman ini karena tidak ada yang bisa selamat tanpa kemurahan Tuhan semata.
Ibu, Bapak, dan Jemaat sekalian yang dikasihi oleh Tuhan Yesus!
Dari sekian jauh pembahasan kita, pertanyaannya kemudian adalah apakah yang dapat kita refleksikan-aplikasikan dari nas firman Tuhan saat ini? Saya mencatat setidaknya ada dua hal yang dapat kemudian kita refleksi-aplikasikan dalam kehidupan beriman kita, yaitu:
1.     Adakah kita, umat percaya, benar-benar menghayati kasih setia Tuhan di saat mengalami tekanan yang begitu besar dalam hidup ini? Kita ambil contoh peristiwa kriminal yang baru saja terjadi beberapa waktu lalu di kota Pematangsiantar yang menggegerkan. Seorang Bapak bermarga Sirait (41 tahun) harus merenggang nyawa karena ditikam oleh teman sekampungnya yaitu seorang Bapak bernama Malau (61 tahun). Sebenarnya, motif pembunuhannya sangat sepele, yaitu karena Bapak Malau merasa sakit hati dipermalukan di depan umum ketika ada acara adat untuk pemakaman seorang warga kampung. Malau dimarahi oleh Sirait karena seharusnya jambar pakkalung (jambar untuk mengangkat jenazah dan menggali makam) tidak boleh diambil sebelum Suhut (tuan rumah acara adat membagikannya). Karena Bapak Malau mengambil tanpa pemberitahuan, acara menjadi ricuh karena hilangnya jambar pakkalung. Mungkin, karena sangat kesalnya, Bapak Sirait sebagai ketua Serikat pada saat itu spontan memarahi Bapak Malau. Walaupun pada saat itu Bapak Malau diam, tapi ia menyimpan dendam. Sorenya, saat Bapak Sirait mau menyadap tuak, ia dipanggil oleh Bapak Malau. Di saat itulah, Bapak Malau membunuh Bapak Sirait. Peristiwa ini sangat ironis karena bila Bapak Malau mau menahan dirinya, tentu ia tidak akan bertindak bodoh seperti itu. Bapak Malau tentu harus mengingat bagaimana juga Yesus dicaci maki di depan umum. Tidak hanya itu saja, Yesus pun ditelanjangi di depan umum. Namun, Yesus memaafkan orang yang menyakiti dan mempermalukan-Nya. Mengapa? Karena, Yesus sangat mengasihi umat manusia sehingga ia setia rela menanggung beban berat. Kasih setia Tuhan yang dibuktikan-Nya sampai di kayu salib memang tidak menghentikan kekerasan di dunia ini, tetapi Yesus menunjukkan bahwa dengan kasih setia, perdamaian Allah dengan manusia diadakan. Sehingga, setiap manusia yang telah kehilangan kemuliaan Tuhan karena dosa, dapat berseru kembali kepada Allah, karena Yesus telah membangun jembatan yang rusak oleh karena dosa. Karenanya, ketika penderitaan yang kita alami begitu beratnya, berdasarkan kasih setia itu, kita dapat langsung berseru kepada Tuhan. Dan, Tuhan akan menggerakkan tangan-Nya yang penuh kuasa itu untuk menolong kita.
2.     Yakinkah kita akan perbuatan ajaib Tuhan kepada anak-anak manusia adalah kemurahan Tuhan semata? Tentu kita akan sangat frustasi bila seruan kita dalam doa-doa kita tidak didengarkan oleh Tuhan. Contoh saja, bagaimana kemarau yang berkepanjangan di Jambi yang membuat titik api di hutan yang terbakar tidak kunjung padam. Dampaknya, kota Jambi tetap diselimuti oleh asap pembakaran hutan. Doa telah dilakukan oleh banyak orang di Jambi ini. Tidak hanya oleh mereka yang beragama Kristen. Bahkan, teman-teman Muslim di Jambi juga sudah melakukan doa berjemaah agar hujan turun. Namun, hujan tidak turun jua. Begitu pula doa yang dipanjatkan oleh umat Kristen dalam doa syafaatnya di ibadah-ibadah yang dilakukan. Masih saja hujan tidak turun. Secara pribadi, saya belum pernah mendoakan agar hujan turun karena dalam hati kecil saya berbisik bagaimana warga Jambi ke depannya menjadi sadar akan bahayanya eksploitasi sawit secara berlebihan. Namun, ketika kondisi sudah sedemikian rumitnya, tentu doa harus dipanjatkan. Kali ini, vikar GKPI Jambi Kota turut mendoakan agar hujan turun di provinsi Jambi ini bersama seluruh umat percaya di provinsi Jambi. Kita lihat apakah ada pengaruhnya atau tidak untuk turunnya hujan. Kalau hujan tetap tidak kunjung turun, pertanyaannya kemudian adalah apakah kita harus menyerah untuk berdoa? Nas kita saat ini mengajak kita untuk tetap berseru kepada Tuhan bagaimana pun kondisinya. Dalam seruan itu, kita tentu harus memercayai perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan. Sehingga, pada saat ini, firman Tuhan menjadi petaruhan bagi umat percaya. Firman Tuhan pada saat ini mengajarkan kita untuk berseru dan memohon pada Tuhan di dalam kesulitan kita. Hal ini akan terus kita lakukan. Tinggal bagaimana kita memercayai bahwa perbuatan ajaib Tuhan akan terjadi untuk menolong kita. Kita tentu percaya bahwa Tuhan akan menolong tepat pada waktunya. Amin?

Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus!
Dengan mengingat kasih setia Tuhan dan tiap perbuatan ajaib Tuhan atas manusia, hikmat kita akan bertambah. Seperti suatu kesaksian yang disampaikan oleh Karolina Sandell Berg. Saat berusia 26 tahun, Karolina menemani ayahnya, Jonas Sandell, untuk menyeberangi Danau Vattern di Swedia dalam rangka tugas pelayanan dari gereja. Namun, peristiwa naas terjadi di mana kapal itu karam dan menewaskan ayahnya. Karolina sendiri selamat entah bagaimana ceritanya. Dalam pergumulannya, ia berpikir mengapa Tuhan mengambil ayahnya sekalipun dalam melaksanakan tugas pelayanan? Karolina tidak dapat berpikir jernih dan begitu sangat sedihnya. Di dalam pergumulanan yang sangat dalam ia kemudian berseru kepada Tuhan dalam suatu tulisan, yang isinya:
Day by day and each passing moment
Strength I find to meet my trials here
Trusting in my father’s wise bestowment
I’ve no cause for worry or for fear
He whose heart is kind beyond all measure
Gves unto each day what He deems best
Lovingly, its part of pain and pleasure,
Mingling toil with peace and rest
Lalu, tulisannya itu diterjemahkan dan dijadilkan lagu oleh Oscar Ahnfelt seperti yang ada di KJ.332. Mari kita nyanyikan bersama-sama.
Dari nyanyian itu kita memahami bahwa hikmat itu menurut Karolina Sandell Berg adalah bagaimana Tuhan memberikan apa yang ia perlu di saat menghadapi duka, sehingga ia dapat terhibur. Dan, nas kita saat ini juga menekankan hal yang sama di mana ketika kita merasa berbeban berat layaknya Karolina Sandell Berg, kita juga harus berseru kepada Tuhan agar ia memberikan kita apa yang kita perlukan melalui perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib. Tentunya, semuanya itu hanya berdasarkan kemurahan Tuhan semata. Kiranya, firman Tuhan saat ini dapat menguatkan iman percaya kita sehingga kita dapat lebih berhikmat dalam mengenali kemurahan Tuhan. Amin.

Minggu, 13 September 2015

Khotbah 13 September 2015 di GKPI JKJK, "Mengikut Yesus, Menyangkal Diri, Memikul Salib"



Markus 8 : 27 - 38
Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus!
Banyak orang, khususnya, orang Indonesia, yang salah mengartikan ungkapan seorang pujangga Inggris, William Shakespere yang berkata, “What’s in the name?” (Apalah arti sebuah nama?) Karena mereka mengira Shakespere hendak mengabaikan makna dari suatu nama. Ungkapan indah dari Shakespere ini lahir di dalam karya agungnya yaitu romansa, “Romeo & Juliet”. Dikisahkan bahwa cinta mereka berdua tidak bisa bersatu karena mereka berasal dari dua suku yang saling bermusuhan, yaitu antara suku Montague dan suku Capulet. Dalam suatu adegan, Juliet berkata pada Romeo bahwa sesungguhnya yang menjadi musuh keluarga besar mereka adalah sebatas nama, karena Romeo merupakan tetap seorang manusia yang memiliki cinta dan berhak untuk mencintai. Romeo sekalipun ia berasal dari daerah bernama Montague, sehingga apa itu Montague? Ibarat mawar, ia tetap akan menjadi bunga yang harum dan berduri layaknya mawar sekalipun ia tidak bernama mawar. Jadi, apalah arti sebuah nama? (What’s in the name?). Di sini, Shakespere jelas ingin menegaskan jangan sebuah nama membawa manusia ke dalam suatu tragedi yang sangat kelam. Sama seperti baru-baru ini di mana muncul kehebohan di Indonesia disebabkan oleh nama. Brilio.net mencatatkan setidaknya ada belasan nama aneh yang pernah ditemukan dan tidak jarang menjadi bahan lelucon, yaitu: seorang yang bernama, “Nama” (Kec.Sentolo-Kulon Progo), I Made Supermen (Pengemudi Taxi di Bali), Royal Jeli (Pengemudi Taxi Silverbird), Anti Dandruf (TKI), Dontworry (TKI asal Batam), Dono Kasino Indro (Pemuda 27 Tahun asal Jakarta), Ultramen (Pelajar), Satria Baja Hitam (Pemuda 22 Tahun asal Lampung Selatan). Lebih unik lagi ada namanya Syaiton, Msi (Palembang) yang ingin bertemu dengan Tuhan (Banyuwangi). Mungkin, mereka sebaiknya dipertemukan di rumah Minal Aidin Wal Faizin (Neglasari) saat berhari raya nanti. Perkataan Shakespere menjadi ada benarnya karena nama Tuhan saat ini sedang dicekal oleh MUI. Bagaimana pun fenomena nama yang tengah berkembang di Indonesia saat ini, yang jelas ilustrasi di atas ingin membawa kita pada satu gambaran bahwa ada orang yang belum dapat menerima identitas orang lain di dalam satu nama. Sehingga, orang lain memaksa orang yang memiliki nama unik itu untuk berganti nama. Bahkan, tidak jarang orang yang memiliki nama unik itu menjadi sasaran “bullying”. Mengacu pada Shakespere, kita tentu diminta untuk menghargai seseorang dalam kapasitas yang ia miliki bukan karena sekadar nama yang melekat pada dirinya.
Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus!
Begitu pula salah satu bagian dari nas kita saat ini, “Pengakuan Petrus”, di mana bagian ini memperlihatkan reaksi Petrus akan nama yang digelarkan pada Yesus, yaitu Mesias. Di dalam ayat 27, Yesus bertanya pada murid-murid “Kata orang siapakah Aku ini?” Disusul dengan pertanyaan “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Sekilas, jika kita melihat, ada kesan bahwa Yesus sedikit narsis. Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh Yesus sesungguhnya tidak terlepas dari kisah yang telah dilewati-Nya yang diceritakan pada bagian sebelumnya. Ada beberapa peristiwa yang mendahului kisah ini, seperti Yesus menyembuhkan seorang anak dari Perempuan Siro-Fenesia, seorang tuli di Tirus, memberi makan empat ribu orang, berdebat dengan orang Farisi, memarahi murid-Nya soal tidak ada roti, serta menyembuhkan seorang buta di Betsaida. Kisah perjalanan Yesus diselingi dengan peristiwa-peristiwa yang ajaib dan perselisihan Yesus di antara pemuka agama bahkan dengan para murid-Nya, sehingga Yesus butuh informasi dari para murid, “bagi orang lain dan bagi para murid, siapa Yesus itu”
Jawaban para murid ketika dimintai pendapat mereka tentang Yesus di mata orang banyak, para murid menyebutkan Yohanes Pembaptis, Elia, dan seorang dari para nabi. Sedangkan jawaban yang diterima Yesus tentang siapa dirinya bagi para murid, hanya Petrus yang menjawab, “Mesias”. Mendengar jawaban itu, Yesus melarang para murid untuk tidak menceritakannya dengan siapa pun. Beberapa sarjana Alkitab dan teologi menyebut bagian ini sebagai “Rahasia Mesianik”, di mana salah satu tokoh penggagasnya adalah William Wrade, seorang Professor Perjanjian Baru di Breslau, Jerman. Secara pribadi, saya bukan seorang yang mengikuti pandangan Wrade dalam menilai topik Rahasia Mesianik ini. Secara pribadi, tafsiran saya melihat mengapa Yesus melarang para murid untuk tidak memberitahukan pada siapapun sangat terkait dengan dua hal besar, yaitu: pertama, persoalan politik di masa itu; dan kedua, pandangan futuris Yesus terhadap para murid, terkhusus pada Petrus.
Saya akan menguraikan dua hal itu satu per satu, pertama, persoalan politik di masa itu. Kata Mesias sebenarnya setara dengan kata Kristus yang sematkan oleh umat Kristen masa kini pada nama Yesus (band.Yoh.1:41). Baik Kristus maupun Mesias memiliki kekuatan politis di saat itu di mana Mesias dipercayai sebagai pembebas umat Israel dari penjajahan sebagaimana yang telah dinubuatkan para nabi. Dari berbagai pekerjaan yang telah dilakukan Yesus di tengah dunia, Yesus ingin mengetahui pemahaman para murid tentang penilaian orang banyak kepada Yesus. Sebagaimana yang disampaikan para murid, orang banyak memang menilai Yesus bukanlah Mesias, Yang Diutus oleh Allah untuk menyelamatkan umat Tuhan. Yesus di mata orang banyak hanya sebatas nabi, karena Dia dapat membuat banyak mukjizat seperti yang dilakukan oleh para nabi sebelum Yesus. Oleh karena itu, Yesus perlu mengetahui apa yang ada di pikiran para murid ketika melihat realitas ternyata orang banyak tidak mengakui Yesus adalah Mesias. Jawaban militan malah didapat dari seorang murid bernama Petrus, yang menjawab Mesias. Dari jawaban yang saling bertolak belakang itulah, menurut hemat saya, yang membuat Yesus untuk melarang para murid untuk menceritakan perihal diri-Nya. Mungkin bagi Yesus, seperti yang dimaksudkan Shakespere, bahwa Yesus tetaplah Mesias sekalipun orang menyebutnya sebagai nabi, setidaknya para murid mengakuinya.
Hal kedua, pandangan futuris (ke depan) Yesus terhadap para murid, terkhusus Petrus. Yesus tentu telah mengetahui bahwa jawaban Petrus yang sangat berani mengakui Yesus sebagai Mesias ternyata tidak seberani kenyataannya. Oleh sebab itu, Yesus melarang para murid, khususnya Petrus untuk memberitahu pada banyak orang jika akan menjadi batu sandungan nantinya bagi mereka sendiri. Sebagaimana diceritakan pada bagian berikutnya, Petrus menarik dan menegor Yesus yang sedang mengajar orang banyak bahwa Dia yang adalah Anak Manusia akan menanggung banyak penderitaan dan penolakkan, sehingga Dia harus dibunuh dan bangkit pada hari ketiga. Tarikan dan teguran Petrus terhadap Yesus secara tidak langsung telah menyangkal Kemesiasan Yesus. Padahal, Petrus baru saja mengakui Yesus adalah Mesias. Bahkan, bukan hanya itu saja, Petrus di kemudian hari pun menyangkal tidak mengenal Yesus sampai tiga kali. Padahal, Petrus dalam ayat ini seolah begitu sangat mengenal Yesus dengan baik. Walaupun, pada akhirnya Petrus berbalik dan menjadi martir demi pemberitaan tentang Yesus dan Injil.
Inilah mengapa pada bagian berikutnya, Yesus mengajarkan tentang syarat mengikut-Nya, sekaligus tanda pertama akan penderitaan-Nya. Syarat yang diajukan Yesus ada tiga hal, yaitu: menyangkal diri, dan memikul salib, dan mengikut Yesus. Apa makna di balik syarat yang diajukan oleh Yesus itu? Ini tidak lepas dari bagian berikutnya (ay.35-38), di mana ada kaitannya dengan “kehilangan nyawa”, “memiliki dunia”, serta “kemuliaan Bapa”. Relasi tiga syarat dan tiga kondisi dapat digambarkan sebagai berikut:
a.     Menyangkal diri – Kehilangan nyawa:
Menurut pakar psikoanalitik, Sigmund Freud, kepribadian manusia itu terdiri dari tiga elemen, yaitu: id, ego, dan superego. Freud kemudian menjabarkan bahwa Id (hasrat) manusia itu tidak terbatas hakikatnya karena yang terlihat hanya permukaannya saja, ibarat gunung es di laut. Sehingga, manusia secara utuh adalah hasrat dirinya. Inilah yang kemudian diminta oleh Yesus pada orang percaya, bahwa mereka tidak boleh hidup di dalam hasratnya yang tidak terbatas. Namun, mereka harus menyangkal hasrat itu. Hasrat memang dapat menyenangkan hidup kita tetapi tidak bisa menyelamatkan nyawa kita. Mungkin, orang berhasrat memiliki banyak harta benda yang dapat digunakannya untuk melindungi nyawanya, seperti rumah yang aman, pengawal yang terpercaya, jaminan biaya berobat yang lebih dari cukup, dsb. Namun, tetap saja ia tidak dapat menghindari apa yang disebut kematian. Oleh karena itu, ada baiknya selama napas masih melekat di dalam tubuh, Yesus mengingatkan agar mereka menggunakan seluruh hidupnya untuk memercayai kabar baik yang disampaikan oleh Yesus. Sehingga, sekalipun kematian menghampiri mereka, kematian mereka tidak akan sia-sia karena ia diselamatkan.
b.    Memikul Salib – Memiliki Dunia:
Karena hasrat yang tidak terbatas itu, manusia menjadi menderita ketika ia harus menyangkal diri. Penderitaan ini dapat disebut juga dengan memikul salib. Yesus menjelaskan pada orang banyak, lebih baik bertekun di dalam penderitaan tetapi diselamatkan dari pada memiliki dunia tetapi tidak diselamatkan. Memang bila kita perhatikan realitas kehidupan umat Kristen di masa kini, tidak ada jaminan bahwa keluarga yang dekat pada Tuhan akan dapat memikul salib yang berat. Coba kita lihat ada berapa banyak keluarga Kristen yang mengalami permasalahan dengan perselingkuhan, korupsi di tempat kerja, bahkan anggota keluarganya yang pindah agama karena mengincar kesenangan yang ditawarkan oleh dunia?
c.      Mengikut Yesus – Kemuliaan Bapa:
Pada akhirnya, Yesus memberikan jaminan siapa pun yang dapat menyangkal dirinya dan memikul salib, makan mereka layak untuk mengikut Yesus. Karena, mereka tidak akan kehilangan nyawanya sia-sia. Tetapi, mereka akan mendapatkan kemuliaan dari Bapa.

Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus!
Dari sekian jauh pembahasan kita pada saat ini, apa yang kemudian dapat kita refleksikan serta aplikasikan di dalam kehidupan beriman kita? Saya mencatat setidaknya ada dua hal yang dapat kita refleksikan serta aplikasikan, yaitu:
1.     Mengakui Yesus sebagai Kristus/Mesias/Penyelamat tentu tidak sekadar pengakuan di mulut saja. Suatu pengakuan harus diiringi oleh aksi/tindakan yang nyata. Seperti sepasang kekasih, di mana seorang kekasih berkata pada pujaan hatinya, “Aku sangat mencintaimu, aku akan rela melakukan apapun untukmu”. Tentu, hal ini sangat manis untuk didengar. Namun, perkataan itu akan teruji ketika hujan deras turun di jadwal kunjungan kekasih. Apakah kekasih yang menyatakan rela akan melakukan apa saja ternyata tidak dapat datang karena “Hujan di malam Minggu?” Demikian juga ketika diperhadapkan dengan soal mengakui Yesus sebagai Mesias. Kita tentu harus membuktikannya bahwa ia adalah Mesias kita. Terkait dengan kondisi kota Jambi yang saat ini sangat mencekam, di mana Jambi dihujani dengan kabut asap disertai debu-debu hutan yang terbakar bukan dengan hujan air. Banyak kemudian umat percaya di Jambi menjadi risau dan khawatir sampai frustasi dengan keadaan demikian. Seolah mereka berpikir Tuhan telah menutup mata atas Jambi. Bukankah sebaiknya sembari menunggu Tuhan menolong, kita coba merenungkan mengapa keadaan Jambi begitu mengenaskan? Bukankah manusia sendiri yang mengeksploitasi dan merusak alam? Sehingga, dampaknya pun dirasakan oleh manusia sendiri? Menahan diri untuk tidak merusak hutan demi keuntungan duniawi adalah bagian dari menyangkal diri dan memikul salib, serta mengikut Yesus.
2.     Menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Yesus adalah satu rangkaian yang tidak terpisahkan antara satu dengan yang lainya. Tentu hal ini dapat dimaknai umat percaya untuk tetap setia di tengah ancaman hidup, serta menahan diri untuk tidak menjadi serakah, di mana orientasi kehidupan umat percaya adalah kemuliaan Allah yang telah dijanjikan oleh Yesus. Kita memercayai di dalam iman, bahwa anugerah Tuhan dapat memberikan kita kekuatan untuk menyangkal diri, memikul salib, sehingga kita layak diberikan kemuliaan Allah atas loyalitas mengikut Yesus.
Biarlah firman Tuhan saat ini dapat semakin menguatkan iman percaya kita di dalam kehidupan ini. Amin!