Jumat, 21 Agustus 2015

Harapan itu Masih Ada

Nebukadnezar (Ilustrasi Gambar : Wikipedia)

Pada waktu itu Yehuda akan dibebaskan dan Yerusalem akan hidup dengan tenteram. Dan dengan nama inilah mereka dipanggil: Tuhan keadilan kita! (Yer.33:16)

Gejolak politik di suatu bangsa timbul karena adanya reaksi yang berlebih dari suatu gerakan. Misalnya saja ketika berbicara tentang peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau yang lebih sering didengar dengan istilah G30S, kita menemukan sepenggal fakta bahwa adanya gerakan dari militer untuk menggulingkan rezim Soekarno. Pada saat itu, Soekarno lebih berpihak pada negara sosialis di Eropa daripada Amerika Serikat. Sehingga, organisasi intelejen Amerika yang menjalin kerjasama dengan beberapa tokoh militer Indonesia, seperti Soeharto, membuat gerakan bahwa seolah Indonesia dalam bahaya ketika bekerja sama dengan negara sosialis.  Satu-satunya cara adalah menggoyang posisi Soekarno agar kendali pemerintahan dipegang. Kemudian, rezim pengganti Soekarno yang menamakan diri mereka sebagai Orde Baru membuat suatu mistifikasi bahwa paham sosialis itu adalah komunis, dan komunis itu adalah ateis. Padahal, tidak pernah terbukti ada kaitan antara gerakan sosialisme dengan paham tanpa agama. Malahan, tokoh pejuang sosialis di Indonesia itu banyak dari golongan agamawan, baik itu Kristen maupun dari kalangan Islam. Namun, mistifikasi itu berhasil. Jutaan orang yang tidak mengerti soal politik tewas dihabiskan dengan cara mengenaskan. Pembicaraan mengenai komunisme hingga saat ini di Indonesia pun seolah dibungkam karena takut diciduk oleh pemerintah. Jutaan orang yang menjadi korban seperti lenyap begitu saja tanpa dipermasalahkan ke ruang pengadilan pelanggaran hak asasi manusia internasional.
Gejala yang hampir sama terjadi di Yerusalem pada saat itu. Setelah Yoyakim dilengserkan oleh Nebukadnezar, raja Babel, yang mengekspansi kerajaan Israel pada saat itu, Zedekia diangkat menjadi raja Yehuda menggantikan Yoyakim dan para pendukungnya yang dibuang ke Babel pada gelombang pertama. Ternyata, Nebukadnezar salah menunjuk orang karena Zedekia tidak menghendaki ekspansi bangsa Babel. Malahan, Zedekia bekerja sama dengan Mesir untuk memerangi Babel. Hal ini membuat kemarahan raja Babel itu tidak terbendung sehingga Yehuda siap diserang dengan kekuatan penuh. Yerusalem dikepung dan suasana mencekam. Nas kita pada saat ini merupakan nubuatan Tuhan yang dinyatakan lewat Yeremia pada bangsa Yehuda, setelah Yehezkiel ikut dibuang dalam gelombang pertama. Tuhan akan menunjukkan keadilannya pada mereka di suatu saat nanti. Namun, mereka harus rela dibuang ke Babel karena bangsa Yehuda lebih memilih berlindung pada Mesir daripada kepada Tuhan Allah. Akhirnya, banyak korban yang jatuh atas penyerangan bangsa Babel ke Yerusalem. Bait Allah dihancurkan dan Yerusalem bagaikan seorang perempuan yang diperkosa, tidak memiliki harga diri lagi untuk dipertahankan. Mereka salah memercayakan perlindungan politik pada Mesir, karena Mesir tidak dapat menolong. Sehingga, nubuatan Tuhan pada Yeremia bagaikan oase di padang gurun. Begitu menyejukan hati mereka yang kering karena penindasan. Ternyata, harapan itu masih ada.
Demikian pula sebagai umat percaya, kita terkadang harus menghadapi permasalahan yang rumit dalam hidup karena mungkin disebabkan oleh kesalahan kita sendiri. Kita mencoba dengan segala upaya kita untuk keluar dari persoalan itu. Kita mungkin mengandalkan orang lain untuk membantu kita. Namun, kita tetap gagal dan orang lain tidak banyak menolong. Hal ini membawa pada ketakutan bahwa kita akan segara berakhir. Akan tetapi, marilah kita ingat bersama-sama bahwa kita tidak akan segara berakhir karena harapan itu masih ada. Tuhan tidak akan membiarkan kita bergumul sendiri dalam persoalan hidup. Seperti nubuatan Yeremia bahwa kita akan kembali hidup tenteram karena Tuhan adalah Tuhan yang adil dan memerhatikan pergumulan umat-Nya.

Senin, 17 Agustus 2015

Tabita: “Dibangkitkan oleh Cinta”


Khotbah di Sie.Perempuan GKPI JKJK, 14 Agustus 2015
Kisah Para Rasul 9 : 36 - 42

Tabita /Dorkas (ilustrasi: jeniuscaraalkitab.com)
Seksi Perempuan GKPI JKJK yang dikasihi oleh Tuhan!
Dijelaskan dalam nas, Tabita memiliki nama lain yaitu Dorkas (ay.36). Namun, bukan hal itu yang ingin diceritakan dari kitab Kisah Para Rasul. Hal yang ingin diceritakan adalah Tabita, seorang perempuan yang baik dan rajin memberi sedekah, meninggal dunia. Fakta ia meninggal diperjelas dengan gambaran bahwa ia telah dimandikan dan mayatnya di baringkan di ruang atas (ay.37). Ada banyak orang yang menangisi kepergiannya. Setidaknya, itu terlihat dari bagaimana banyak orang yang menunjukkan baju yang pernah dipakai dan pakaian yang dibuatnya saat ia masih hidup (ay.39). Sangking cintanya banyak orang pada dirinya, ada sekelompok orang yang berusaha untuk menunda “kepergiannya”. Caranya adalah dengan memanggil Petrus, murid Yesus yang dikenal dapat membuat mukjizat, yang diketahui sedang berada di Lida di mana jaraknya tidak terlalu jauh dari Yope (ay.38). Mereka pun mengutus dua orang untuk menjumpai Petrus sembari berusaha menghadirkannya segera walaupun mungkin terkesan sudah terlambat.
Seksi Perempuan GKPI JKJK yang dikasihi oleh Tuhan!
Hal yang unik adalah dua orang itu sudah mengetahui bahwa Tabita sudah mati. Namun, mereka meminta untuk Petrus datang segera (ay.38). Petrus menyetujui dan segera berkemas untuk pergi bersama mereka. Mungkin, keganjalan Petrus terjawab mengapa mereka berpikir tidak masuk akal setelah melihat betapa banyak orang yang kehilangan Tabita. Orang banyak menunjuk-nunjukkan baju dan pakaian Tabita pada Petrus (ay.39). Sebagai orang Yahudi, Petrus tentu paham bahwa orang yang menangis di rumah duka merupakan orang bayaran untuk menangis. Tetapi, ekspresi orang yang ada di rumah duka itu berbeda dari orang bayaran. Inilah yang mendorong Petrus untuk menolong Tabita. Petrus pun berdoa pada Tuhan agar Tabita dibangkitkan kembali (ay.40). Dan, Tabita pada akhirnya dibangkitkan oleh Tuhan melalui perantara Petrus (ay.41). Namun, hal yang terpenting sebenarnya adalah Tabita dibangkitkan oleh cinta banyak orang yang sungguh-sungguh mengasihinya.
Seksi Perempuan GKPI JKJK yang dikasihi oleh Tuhan!
 Belajar dari kisah Tabita, bagaimanakah orang lain melihat kita? Adakah kita menjadi sosok yang dikasihi? Adakah kita menjadi sosok yang dirindukan? Kita tentu tidak bisa mengukurnya sendiri. Akan terlalu subjektif bila kita menilai sendiri. Namun, kita sesekali perlu untuk mengukur arti hadir kita di hadapan orang lain. Mengapa? Agar kita dapat instropeksi diri! Kita dapat memerhatikan tanda-tanda kecil apakah kita diterima atau ditolak. Misalnya saja, apabila kita berada di tengah-tengah orang banyak, adakah orang banyak itu tertawa lepas bersama kita? Adakah mereka senang bercerita dan berkomunikasi dengan kita? Apabila orang banyak yang ada di sekitar kita tidak bisa tertawa bersama dengan kita, artinya kita memiliki persoalan dengan keberadaan kita. Begitu pula, jika dengan kehadiran kita, tiba-tiba orang banyak yang berkumpul satu per satu pergi meninggalkan kita, itu tandanya kita tidak diterima.  Jika memang kehadiran kita benar-benar tidak disukai, maka kita jangan berpikir hidup kita sudah berakhir. Tidak! Kita dapat menginstropkesi diri dengan memerhatikan secara detail apa perilaku kita yang kurang baik selama ini. Apakah kita berbicara terlalu meninggi? Atau, terlalu membual? Atau, tidak dapat dipercaya? Atau, suka membicarakan orang lain? Kita dapat menguraikan kekurangan kita satu per satu lalu memperbaikinya. Akan tetapi, apabila kita diterima dalam komunitas, bahkan sangat diterima, kita jangan lekas berpuas diri. Kita juga masih dapat menginstropeksi diri kita. Kita benahi kekurangan kita dan kita pertahankan apa yang baik dari kita. Kebangkitan Tabita dari kematian membuktikan bahwa kematian dapat dikalahkan dengan cinta/kasih. Tuhan memberkati kita!

Sabtu, 08 Agustus 2015

Tuhan Mendengar dan Menyelamatkan Orang Tertindas

Refleksi Ibadah Minggu 9 Agustus 2015
Mazmur 34 : 1 - 8


Dok.Pribadi : Sirombu November 2014
Pelarian dari Saul membawa Daud pada berbagai pengalaman hidup beriman. Salah satu episode dari kisah pelarian Daud adalah ia harus berjumpa dengan Akhis, Raja Gat. Daud tentu tidak dapat menghindari peristiwa itu, karena ia harus terus bergerak agar tidak dapat terjangkau oleh Saul. Bagi Daud, ini ibarat “keluar dari kandang macan, masuk ke mulut buaya”. Di satu sisi, Daud harus lari dari Saul. Di sisi lain, Daud tidak bebas ke mana saja, karena ia harus melewati teritorial penguasa lain yang pernah menjadi lawannya. Untuk melewati Gat, wilayah Filistin, tentu Daud harus meminta suaka dari Akhis. Tanpa itu, Daud akan menjadi tahanan bangsa Filistin. Sehingga, kalau tidak diserahkan pada Saul untuk dihukum, maka orang Gat sendiri yang menghabisinya. Mengapa baik Saul dan orang Gat itu membenci Daud? Alasannya tidak lain karena Goliat. Saul tidak senang karena nama Daud menjadi semakin tenar dibandingkan dirinya ketika Goliat berhasil dikalahkannya. Para rakyat Israel bersorak “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa” (1.Sam.18:6-8). Inilah yang membuat hati Saul begitu sakit sehingga ia berencana untuk”menyelesaikan” permasalahan hidupnya. Sedangkan persoalan Daud dengan Akhias, Raja Gat-bangsa Filistin adalah Daud baru saja membunuh pahlawan terbaik orang Gat, yaitu Goliat (1.Sam.17:4). Sorak-sorai orang Israel pada Daud yang berhasil mengalahkan Goliath jugalah (1.Sam.21:11) menjadi pengingat yang buruk bagi orang Gat akan Daud. Ditambah, Daud memegang pedang Goliat yang dibunuhnya itu. Inilah yang kemudian membuat Daud sangat ketakutan (1.Sam.21:12). Dalam kondisi yang semakin berbahaya, Daud berhasil menemukan jalan keluar atas situasi buruk itu. Daud berpura-pura gila dengan cara menggores-gores pintu gerbang dan membiarkan air liurnya meleleh ke janggut (1.Sam.21:13). Melihat Daud berlaku demikian, Akhias pun melepaskan Daud (1.Sam.21:14-15). Peristiwa ini tentu akan sangat dikenang oleh Daud sebagai bagian dari perjalanan hidup berimannya. Yang sangat menarik adalah Daud melihat bahwa ia bisa lepas dari Akhias karena penyertaan Tuhan, bukan atas kehebatan dirinya sendiri. Hal itu dapat kita lihat dari mazmurnya yang menyaksikan pertolongan Tuhan atas hidupnya, di mana mazmur tersebut menjadi renungan bagi kita pada saat ini, Mzm.34:1-8.

Dalam Mazmur 34 memang tidak disebutkan di sana Akhias, malahan disebut Abimelekh. Hal ini tidak menjadi persoalan karena Abimelekh merupakan nama raja bagi Akhis pada saat itu. Sama seperti jabatan paus, raja di Vatikan, di mana seorang paus boleh memilih nama pausnya apa. Misalnya saja, Karol Josef Wojtyla memilih memakai nama Paus Yohanes Paulus II. Begitu pula dengan Joseph Ratzinger yang menggunakan nama paus Benedictus XVI. Sedangkan, paus terakhir, Jorge Mario Bergoglio menggunakan nama paus Fransiskus. Hal yang menjadi fokus renungan kita pada saat ini dapat dibagi menjadi tiga hal, yaitu : 1) adanya pengakuan Daud akan campur tangan Tuhan dalam menolong perkara hidupnya melalui pujiannya (ay.2-6); 2) Adanya pengakuan dari Daud bahwa ia adalah manusia biasa yang merasa ditindas oleh sesamanya. Sehingga, Daud memercayai perkaranya kepada Allah yang menciptakan manusia itu; 3) Adanya pengakuan Daud akan perlindungan Tuhan pada dirinya yang takut akan Tuhan. Pertolongan Tuhan bisa datang dalam bentuk malaikat perlindungan.

Pujian Daud kepada Tuhan merupakan pengakuan Daud terdalam akan campur tangan Tuhan atas pertolongan besar yang dilakukan di dalam kehidupannya. Di sini terlihat bagaimana Daud tidak menonjolkan kehebatannya dalam menangani suatu persoalan/tantangan hidup. Namun, Daud mengakui bahwa tanpa campur tangan Tuhan di dalam perkaranya, Daud tidak akan selamat dari bahaya. Hal yang dapat kita teladani dari Daud adalah bagaimana kita dapat mengakui campur tangan Tuhan dalam kehidupan kita? Belajar dari Daud, pengakuan itu datang lewat pujian dan mazmur. Adakah seorang beriman pada saat ini yang melakukan hal seperti Daud-memuji Tuhan dan mengumandangkan mazmur-atas syukur kita akan penyertaan tangan Tuhan? Memuji Tuhan dan mengumandangkan mazmur pada masa sekarang tentu sudah berbeda dengan masa Daud. Pada masa sekarang, orang beriman dapat memuji Tuhan dan mengumandangkan mazmur melalui ibadah-ibadah yang dilakukannya. Di dalam setiap peribadahan, kita dapat bermazmur lewat pujian-pujian kita yang sampaikan lewat nyanyian jemaat, paduan suara yang indah, serta jiwa yang bernyanyi karena telah menyatu di dalam aliran peribadahan yang hikmat. Dan, umat beriman juga dapat mengucapkan syukur kepada Tuhan lewat penerimaan mereka akan firman Tuhan di hati sanubari mereka, serta memberikan persembahan atas rasa syukur mereka. GKPI telah merumuskan peribadahannya sebagai persekutuan penyembahan dan persembahan. Oleh karena itu, tiap pelayan dan warga GKPI, harus lebih dapat menyadari bahwa ibadah merupakan sarana bermazmur bagi Tuhan serta mengucapkan syukur lewat penyembahan dan persembahan yang dilakukan. Namun, agar praktik ibadah ini tidak jatuh pada suatu kultus belaka, maka hal kedua yang harus diperhatikan dalam setiap peribadahan adalah bagaimana yang dapat dilakukan umat percaya terhadap sesamanya?
Persoalan manusia di sepanjang segala abad adalah bisakah ia hidup berdampingan dengan sesamanya manusia? Jika memerhatikan apa yang terjadi di antara Daud dan Saul, kita akan menemukan, bahwa ketidakmampuan manusia untuk hidup bersama adalah karena pembuktian kemampuan berkuasa. Saul merasa Daud jauh lebih unggul darinya, sehingga sebelum Daud menyadarinya lebih jauh, Saul terlebih dahulu ingin menyingkirkan Daud. Begitu pula persoalan Daud dengan bangsa Filistin-orang Gat, di mana akar persoalannya adalah penaklukkan daerah kekuasaan. Gara-gara tanah, manusia bisa saling bunuh dan menghancurkan antara satu dengan yang lain. Dalam kajiaan teori kebutuhan Maslow, setidaknya ada lima kebutuhan manusia yang harus terpenuhi. Kebutuhan paling rendah adalah kebutuhan fisiologis, dilanjutkan dengan kebutuhan rasa aman dan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan ego, dan yang tertinggi adalah aktualisasi diri. Konflik Daud dengan Saul ada pada kebutuhan ego dan aktualisasi diri. Saul takut bahwa Daud lebih dipuja oleh masyarakat Israel, sehingga Saul tidak dapat mengaktualisasikan dirinya menjadi seorang raja yang kuat. Di sinilah letak mengapa Saul seakan tidak dapat berdamai dengan Daud. Berbeda dengan orang Gat yang membebaskan Daud karena persoalan mereka hanya pada tingkat rasa aman, yaitu memiliki tanah. Sehingga, Akhias/Abimelekh tidak menekan Daud sampai mengancam nyawa seperti Saul. Dan, hal itu terjadi turun temurun, sehingga seorang dari Asinaria pada tahun 195 SZB, Plautus menciptakan karya yang sampai detik ini menyentuh dunia, Homi Homini Lupus (manusia menjadi serigala bagi sesamanya). Pemahaman di sini, manusia dapat saling menikam/membunuh dengan sesamanya. Melihat begitu berbahayanya paham ini berkembang di tengah peradaban manusia, seorang filsuf dari Inggris, Thomas Hobbes, menggugatnya dalam karya besarnya “De Cive”. Di dalam karyanya itu, selain menyinggung Homi Homini Lupus, Hobbes juga menekankan Homi Homini Socius, di mana manusia dapat menjadi sesama atau sahabat bagi teman-temannya. Pemikiran Hobbes dalam teologi kemudian berkembang dalam manusia itu sendiri ada citra Tuhan di dalam relasi antarmanusia, tetapi bisa juga menjadi serigala. Manusia tinggal memilihnya saja. Dalam renungan pada saat ini, kita tentu dituntut untuk menjadi sahabat bagi banyak orang. Sehingga, kita tidak menjadi seorang Kristen yang menindas orang lain dengan kekuatan/kekuasaan kita. Melainkan, kita menjadi seorang yang melindungi hak kemanusiaan orang lain. Ketika kita tidak berdaya menghadapi penindasan, belajar dari Daud, kita dapat menyerahkan segala pergumulan kita kepada Tuhan. Lawan-lawan kita yang gelap mata dapat dibutakan oleh Tuhan jikalau Dia berkenan, seperti apa yang dilakukan oleh Tuhan atas Daud. Ketika kita merasakan sakitnya ditindas, kita tidak boleh mengambil bagian menjadi salah satu penindas itu. Namun, kita dapat menjadi duta Allah yang membebaskan orang tertindas melalui Tuhan yang hidup di dalam diri kita.
Hal terakhir adalah bagaimana kita belajar dari Daud untuk tetap hidup benar di hadapan Tuhan, sehingga Tuhan melindungi kita melalui malaikat-Nya. Untuk hidup benar, di atas sempat disinggung salah satu caranya adalah dengan tidak mengambil bagian menjadi penindas itu. Namun, hal yang dapat kita kembangkan kemudian adalah bagaimana kita dapat menjalani hidup ini dengan menyerahkan seluruh kehidupan kita ke dalam perlindungan Tuhan. Tentu kita memercayai bahwa hal yang jahat akan dijauhkan dari kita bila kita hidup benar di hadapan Tuhan dan mengandalkan Tuhan di dalam kehidupan kita. Malaikat perlindungan Tuhan yang akan melindungi kita di dunia ini tentu ada banyak, ada orang yang kita cintai, ada aparatur keamanan negara yang telah diamanatkan oleh suara rakyat yang adalah suara Tuhan, serta hukum/konsitusi sebagai hasil anugerah Tuhan pada suatu bangsa. Tentu, hal itu tidak cukup menjadi malaikat perlindungan kita, karena Tuhan sendiri yang akan melindungi kita sebagaimana Dia telah berjanji. Oleh karenanya, sikap pasrah dalam perlindungan membuat hidup kita tenang karena kita yakin ada Tuhan yang menjaga kita. Sehingga, kita tidak perlu resah dan khawatir di dalam kehidupan ini.

Minggu, 26 Juli 2015

Memercayai dan Meyakini Kuasa Tuhan (Khotbah Minggu 26 Juli 2015)

Sumber : kaskus.co.id


Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus, Sang Kepala Gereja!
Suatu kali ketika sedang membaca kumpulan tesis sebagai bahan pembanding penelitian tesis saya di perpustakaan kampus, saya tidak menyadari kalau dompet saya terjatuh di ruang baca. Hal itu baru saya sadari setelah berada di meja lobby tesis perpustakaan, ketika saya hendak mengembalikan tesis yang sudah dibaca. Aturan di perpustakaan UI pada saat itu, baik hendak meminjam ataupun mengembalikan tesis yang digunakan, saya harus menunjukkan kartu mahasiswa saya agar kartu perpustakaan dapat dikembalikan. Saya sangat panik ketika tidak menemukan dompet di saku celana saya di mana kartu mahasiswa saya tersimpan. Saya kemudian berlari untuk mencari dompet yang jatuh itu di sekitar tempat saya membaca tadi. Namun, saya tidak kunjung menemukan dompet itu. Akhirnya, saya kembali turun ke meja lobby tesis perpustakaan untuk meminta pengertian para petugas di sana. Seorang bapak, yang rambutnya telah berwarna putih, sambil tersenyum tenang berkata pada saya, “Coba dicari sekali lagi, jangan buru-buru, mas”. Sontak pada saat itu saya menjadi kesal dan berkata, “Apakah Bapak tidak bisa mengerti bahwa dompet saya hilang? Saya sudah mencarinya tetapi tidak menemukannya di tempat saya membaca tadi”. Bapak itu pun menemani saya pergi ke ruang baca untuk membantu mencari dompet saya yang hilang. Di luar dugaan memang, saya melihat dompet saya ada di celah-celah kursi tempat saya membaca tadi. Saya yakin tadinya dompet itu tidak ada di sana. Saya sangat malu dengan bapak tua, petuga perpustakaan, yang menemani saya mencari dompet saya yang hilang. Saya sempat tidak memercayai omongannya. Namun, saya berpikir rasa bahagia saya menemukan kembali dompet yang hilang itu jauh lebih besar dari rasa malu yang saya rasakan. Sesampai di kamar kos, sebelum tidur malam, saya merenungkan peristiwa ini kembali. Saya menganggap ketika dompet saya yang sempat tercecer entah di mana itu balik kembali pada saya itu sebagai mujkizat. Dan, darinya, saya belajar bahwa mukjizat itu diawali dari bagaimana usaha kita yang tidak pernah berakhir untuk keluar dari permasalahan yang kita pikir sudah tidak ada jalan keluar. Kalau saya tidak mendengarkan saran dari bapak petugas perpustakaan itu, mungkin saya tidak akan pernah menemukan kembali dompet saya. Atau dengan kata lain, kalau saya menyerah pada saat itu, maka mukjizat itu tidak akan terjadi pada saya.

Ibu, Bapak, dan Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Saya rasa pengalaman yang saya bagikan itu dapat menjadi awal bagi kita dalam memerhatikan nas firman Tuhan pada saat ini, khususnya dalam menyoroti mukjizat yang terjadi. Peristiwa besar dalam cerita ini terjadi diawali dari seorang yang datang dari tempat Salisa untuk membawa dua puluh roti jelai serta gandum baru dari sebuah kantong kepada Elisa, yang mungkin pada saat itu sedang mengajar di hadapan ratusan orang. Elisa mendapatkan kiriman makanan itu mungkin karena ia dianggap sebagai abdi Allah (ay.42). Bisa jadi, konteks Elisa pada saat itu tidak jauh berbeda dengan kondisi jemaat mula-mula di mana orang yang dianggap abdi Allah, hidup dari para umat percaya. Ketika Elisa meminta orang yang mengantarkan roti jelai dan gandum padanya untuk membagikan pada ratusan orang yang ada di hadapannya, bisa jadi pelayan itu menggerutu dalam hatinya. Alih-alih berterima kasih, malah Elisa merepotkannya lagi dengan memintanya agar membagikan roti jelai dan gandum yang diantarkannya itu pada ratusan orang yang hadir. Bisa dimaklumi memang jika pelayan itu pada akhirnya setengah hati menanggapi permintaan dari Elisa. Karena, bagaimana mungkin jumlah makanan yang sedikit itu dibagi pada banyak orang? Bisa-bisa malah terjadi kekacauan karena ketidakadilan dalam pembagian mengingat banyaknya orang. Jelas apa yang disuruhkan oleh Elisa itu sangat tidak mungkin hal itu dapat dikerjakan. Sehingga, dengan sedikit nada menolak, ia berkata “bagaimanakah aku dapat menghidangkan ini depan seratus orang?” (ay.43). Tetapi, agaknya Elisa kukuh meminta agar roti jelai dan gandum itu dibagikan. Elisa merujuk pada penyertaan Tuhan pada Israel ketika keluar dari tanah Mesir di mana Tuhan memberikan mereka makan semuanya (ay.43; band.Bil.11). Dan memang benar, ketika pelayan itu menghidangkan makanan itu, ada sisa makanan seperti firman Tuhan yang disampaikan oleh Elisa sebenarnya (ay.44). Tentu, mukjizat roti jelai dan gandum yang sisa itu tidak akan terjadi jika pelayan itu tidak menuruti perkataan Elisa.

Ibu, Bapak, Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Hal berikutnya yang perlu kita perhatikan dari nas firman Tuhan pada saat ini adalah bagaimana "persembahan" kecil dari orang Salisa itu bisa berdampak besar bagi banyak orang. Seperti pelayan yang datang dari Salisa itu membawa sesuatu pada Elisa (abdi Allah), begitu pula kita datang ke gereja pada saat inimemberikan persembahan kepada Tuhan melalui “pelayan”-Nya. Tentu membawakan persembahan saja tidak cukup, karena kita harus yakin apakah persembahan kita itu akan mendatangkan berkat bagi banyak orang? Karenanya, kita yang membawa persembahan itu harus diuji terlebih dahulu, apakah kita yakin bahwa benar mendatangkan berkat bagi banyak orang? Mungkin kita seperti pelayan dari Salisa yang sempat ragu. Tetapi, pada akhirnya, kita juga dapat memercayai dan meyakini kuasa Tuhan seperti apa yang telah disaksikan oleh pelayan dari Salisa itu bahwa kuasa Tuhan bekerja atas kepedulian kecil kita pada Tuhan dan sesama. Tuhan tentu tidak akan mungkin memakai Elisa mengadakan mukjizat memberi makan ratusan orang tanpa diawali adanya kepedulian orang Salisa itu yang mempersembahan roti jelai dan gandum, sekalipun itu kecil nilainya. Dari hal ini, kita dapat memahami bahwa mukjizat itu tidak hanya menyangkut upaya yang tak pernah berhenti saja, tetapi juga adanya kepedulian, sekecil apapun itu yang bisa kita persembahkan.

Ibu, Bapak, Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Jika kita mengelaborasi kisah mukjizat yang dilakukan Elisa ini dengan cerita mukjizat yang dilakukan Yesus, maka kita akan menemukan pola-pola yang mirip di antara keduanya. Baik Yesus dan Elisa sama-sama menghidupkan orang yang telah meninggal, menyembuhkan penyakit, dan seperti yang kita bahas pada saat ini “memberi makan banyak orang”. Terkait dengan memberi makan banyak orang, kita menemukan hal yang tidak jauh berbeda terjadi di antara keduanya. Diawali dari banyaknya orang yang mengikuti, disusul adanya keinginan dari keduanya untuk memberi makan banyak orang. Kemudian, ada orang terdekat di antara mereka meragukan bahwa mereka berdua dapat memberi makan banyak orang. Dan, dalam situasi terjepit seperti saat itu, ada orang yang memberikan sedikit persembahan pada mereka berdua sebagai persembahan mereka pada sosok yang mereka kagumi itu. Pada akhirnya, hasilnya sama, yaitu mukjizat terjadi dan makanannya sisa. Tentu dari hal ini, pembelajaran yang kita dapatkan berikutnya adalah bahwa ketika kita memercayai kuasa Tuhan bekerja atas usaha dan persembahan kita, maka Tuhan akan bertindak untuk memberikan berkat yang berkelimpahan. Inilah hal yang harus kita aminkan dalam kehidupan beriman kita.

Ibu, Bapak, dan Jemaat yang diberkati oleh Tuhan!
Dari sedemikian jauh pembahasan firman Tuhan pada saat ini, kemudian pertanyaan berikutnya adalah apa yang dapat kita refleksikan dan juga aplikasikan dalam kehidupan beriman kita? Saya mencatat setidaknya ada tiga hal yang harus kita refleksikan serta aplikasikan juga, yaitu:
  1.  Mukjizat diawali dari hal yang kecil, yaitu: usaha yang tidak pernah menyerah untuk meyakini kuasa Tuhan akan bekerja dalam menolong kita keluar dari permasalahan yang seolah sudah tiada jalan keluarnya. Dalam hal ini, kita-selaku umat percaya- tentu harus memiliki tingkat ketekunan iman yang luar biasa. Suatu hal yang paralel dengan apa yang dikatakan oleh Paulus, yaitu “permasalahan (kesengsaraan) akan menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan; pada akhirnya, pengharapan tidak akan mengecewakan karena kasih Allah dicurahkan dalam hati kita (Rom.5:3-5)
  2. Hal kedua, mukjizat terjadi karena ada yang kepedulian kecil sehingga menghasilkan dampak yang besar. Sebagai umat percaya, dalam menyembah Tuhan, kita tentu membawakan persembahan kita kepada Tuhan sebagai kepedulian kita pada Tuhan dan para pelayannya. Hal ini sesuai dengan semangat GKPI di masa kini yaitu sebagai gereja yang menghidupi “penyembahan dan persembahan” pada Tuhan. Persoalannya, apakah kita yakin bahwa kepedulian melalu persembahan kita yang kecil itu dapat berdampak besar bagi banyak orang? Dari firman Tuhan pada saat ini, kita belajar bahwa ketika Tuhan menghendaki maka hal kecil itu bisa berdampak besar. Jelas di sini terlihat soal kerelaan kita berbagi dalam persembahan kita. Karena, sekali lagi, mukjizat tidak akan terjadi tanpa didahului oleh kepedulian yang kecil;
  3. Terakhir, bagaimana kita dapat memercayai dan meyakini akan kuasa Tuhan dapat memberikan kita berkat lebih dari cukup? Terkadang, ketika permasalahan besar datang menghampiri, kita sering berpikir bahwa hal itu adalah hukuman dari Tuhan. Padahal, Tuhan juga dapat memberikan kita berkat yang berkelimpahan melalui permasalahan besar yang seolah tidak ada jalan keluarnya itu. Saya dapat memahami sampai sejauh itu karena pengalaman iman dari banyak orang yang menyaksikannya. Seperti, kesaksian dari seorang umat percaya bahwa awalnya ketika ia divonis terkena penyakit kanker stadium empat, ia berpikir Tuhan sedang menghukumnya. Namun, ketika ia menjalaninya dengan memercayai dan meyakini kuasa Tuhan, ia dapat melihat berkat Tuhan yang luar biasa dalam hidupnya. Ia bersaksi bahwa kalau ia tidak sakit, maka tidak akan pernah keluarganya berkumpul untuk saling menguatkan; terlebih berdoa bersama. Dan, kalau ia tidak sakit seperti itu, mungkin ia tidak akan pernah tahu betapa ia sangat dicintai oleh banyak orang. Sampai pada akhirnya ia pergi meninggalkan dunia, ia tidak pernah sama sekali mengutuki Tuhan. Bahkan, bagi saudara dan koleganya, kepergiaannya sendiri adalah mukjizat karena ia mampu tidak mengeluh atas menahan rasa sakit yang membuatnya begitu menderita selama ini. Malahan, sakitnya membuat ia semakin semangat menyaksikan bahwa Tuhan adalah baik adanya. Dari hal ini, kita belajar bahwa mukjizat itu tidak harus peristiwa besar terjadi, seperti ia secara fisik harus segera sembuh. Tidak! Malahan, dalam kacamata pastoral, ia secara spiritual sudah sembuh sehingga ia tidak merasakan sakit itu sebagai sakit yang membebankan. Di sinilah letak bagaimana berkat Tuhan begitu melimpah lebih dari cukup ketika kita memercayai dan meyakini kuasa Tuhan. Amin!

Sabtu, 07 Juni 2014

Pagi


Pagi,
suatu mukjizat kecil yang tidak disadari,
menyambut hidup ditemani matahari,
bukan pada jiwa yang mati.

Pagi,
tidak mengenal hari,
selalu datang dengan pasti,
seperti menanti soal mati.

Pagi,
boleh kau buka dengan secangkir kopi,
semangat mencari rezeki,
demi sesuap nasi.

Jumat, 09 Mei 2014

Menyatakan Kesalahan


Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatkannya kembali. (Mat.18:15)

Abraham Maslow, psikolog besar, membuat lima peringkat kebutuhan manusia. Peringkat keempat dari lima peringkat itu (tertinggi kedua) adalah kebutuhan penghargaan (esteem need). Kebutuhan penghargaan merupakan kebutuhan manusia untuk dihargai, dihormati, dan dipercayai oleh orang lain. Jika melihat realitas yang terjadi dalam masyarakat, kita menemukan setiap orang menggunakan berbagai cara agar ia mendapatkan pengakuan, penghormatan, dan kepercayaan dari orang lain. Lantas, apabila penghargaan merupakan salah satu kebutuhan terbesar manusia, apa yang terjadi jika ada orang lain yang memarahi kita di depan banyak orang? Tentu saja kita akan menjadi sangat marah, geram, dan sakit hati pada orang yang melakukan hal itu. Rasa yang menyakitkan itu terjadi tidak lain karena martabat kita menjadi jatuh di hadapan banyak orang.
Dari nas bacaan  ini, kita melihat bahwa Yesus memahami kebutuhan manusia, yaitu sangat ingin dihargai dan dihormati. Untuk itulah Yesus mengajarkan kita supaya menyatakan kesalahan orang lain secara pribadi, tidak perlu di tempat umum yang dilihat oleh banyak orang. Ketika Yesus mengatakan “tegurlah”, Yesus menggunakan kata elegxon, yang berarti menyatakan kesalahan seseorang dengan cara memberi bukti dan meyakinkan. Hal itu berarti, Yesus ingin memberitahu ketika kita harus menegur orang lain, maka kita harus dalam posisi benar dan lepas dari kesalahan. Dengan demikian, kita memiliki dasar yang kuat sebagai bukti dan dasar yang benar untuk meyakinkan orang yang kita tegur. Sehingga, orang yang kita tegur itu tidak marah dan tersinggung. Bayangkan, jika kita dalam posisi yang tidak lebih baik dari orang yang kita tegur, apakah orang yang kita tegur itu mau mendengarkan teguran kita? Untuk itu, Yesus melanjutkan perkataan-Nya, “jika ia mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatkannya kembali”. Ini berarti tolak ukur dari teguran yang berhasil menurut Yesus adalah teguran kita didengar sebagai tanda kita diterima oleh orang yang kita tegur.

Melalui renungan saat ini, kita kembali merefleksikan bahwa pentingnya memiliki etika dalam berelasi dengan sesama. Ketika harus menegur orang lain, kita dapat melakukannya secara pribadi. Selain itu, kita kembali diingatkan untuk memeriksa kehidupan pribadi kita, apakah kita sudah dalam posisi yang benar sehingga kita layak menegur orang lain. Dengan demikian, orang yang kita tegur dapat mengerti maksud baik di dalam ucapan yang kita sampaikan, sehingga ia dapat memperbaiki kesalahannya.

Jumat, 28 Maret 2014

Iman Pada Kubur yang Kosong


“Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu” ~ Paulus (1.Kor.15:17)

Perempuan di Kubur Yesus yang Kosong
(Sumber: Pencarian Google)
Kesaksian Paulus 
Kekristenan merupakan suatu agama yang mendasarkan kepercayaannya pada pengajaran Yesus. Banyak orang yang kemudian memercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat karena Yesus telah menggenapi nubuat yang telah disampaikan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama melalui kelahiran, kematian, dan kebangkitan-Nya. Perihal kelahiran, kematian, dan kebangkitan Yesus dapat kita ketahui dari Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes). Namun, kita sering melewatkan kisah kebangkitan Yesus yang disaksikan oleh Paulus.
 Markus sebagai tradisi paling tua dalam Injil Sinoptik baru ditulis tahun 60 ZB (Zaman Bersama; saya menggunakan istilah “Zaman Bersama” bukan “Masehi” untuk universalitas waktu penanggalan di mana istilah itu merupakan terjemahan dari Common Era/CE). Sedangkan dalam penggalian arkeologi kitab suci, Paulus diyakini telah eksis pada tahun 3 ZB. Inilah menjadi dasar betapa pentingnya kesaksian Paulus mengenai Yesus, yaitu karena Paulus hidup dalam satu rentang waktu yang sama dengan Yesus.
Hal yang menarik saat kita membaca surat-surat yang dituliskan oleh Paulus adalah kita tidak pernah menemukan Paulus menyinggung tentang peristiwa kelahiran Yesus. Dalam surat pengembalaannya ke jemaat-jemaat, Paulus lebih banyak menyaksikan sosok Yesus yang bangkit dan mengalahkan maut. Hal ini berbeda dengan apa yang menjadi perhatian gereja saat ini, di mana gereja lebih berfokus tentang berita kelahiran Yesus. Hal itu terlihat dalam tradisi gereja masa kini yang terkesan sangat luar biasa untuk merayakan Natal dari pada merayakan Kebangkitan Yesus. Padahal, menurut Paulus, iman percaya kita akan menjadi sia-sia apabila Yesus tidak bangkit mengalahkan maut. Kebangkitan Yesus menandakan bahwa kematian sebagai konsekuensi dari sengat dosa telah dikalahkan oleh Yesus. Dengan demikian, melalui kebangkitan Yesus, kita beroleh pengampunan dosa dan janji hidup yang kekal.

Menggali Kisah di Seputar Kebangkitan Yesus
            Berpegang pada pertimbangan pentingnya memerhatikan kisah kebangkitan Yesus yang disaksikan oleh Paulus, maka kita harus melihat kisah kebangkitan itu secara lebih dekat di dalam Injil Sinopsis. Injil Matius menceritakan bahwa Maria dan Maria Magdalena tidak menemukan Yesus di dalam kubur. Mereka bertemu dengan malaikat Tuhan yang meminta mereka pergi menceritakan kabar kebangkitan Yesus (Mat.28:1-10). Dalam Injil Markus dikatakan bahwa ketika Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, serta Salome ingin meminyaki Yesus dengan rempah-rempah, mereka tidak menemukan Yesus di kubur. Malah mereka melihat seorang muda memakai jubah putih yang meminta mereka untuk memberitakan kebangkitan Yesus kepada Petrus dan murid-murid Yesus lainnya (Mar.16:1-8). Injil Lukas menceritakan bahwa Maria dari Magdala, Maria ibu Yakobus, dan Yohana tidak menemukan Yesus di dalam kubur. Mereka bertemu dengan dua orang utusan Tuhan yang meminta mereka memberitahukannya pada para rasul (Luk.21:1-12). Terakhir, Injil Yohanes memberi kesaksian agak lain dari ketiga Injil Sinopsis lainnya di mana Injil Yohanes menceritakan bahwa perempuan datang kepada Petrus dan mengatakan mayat Yesus dicuri. Lalu, berita kebangkitan itu pertama kali disaksikan oleh Petrus (Yoh.20:1-10). Namun, Injil Yohanes mengelaborasi kisah Kebangkitan Yesus ini dengan kisah penampakan Yesus. Untuk pertama kalinya, Yesus menampakan diri kepada Maria Magdalena sebagai bukit bahwa Yesus benar-benar bangkit, baru berikutnya pada para murid-murid-Nya (Yoh.20:11-23).
            Dari penjabaran tentang kisah kebangkitan Yesus yang ada dalam Injil Sinopsis, kita menemukan keempat Injil Sinopsis sepakat bahwa perempuan adalah orang yang pertama kali menyaksikan kubur Yesus kosong dan memberitahukan pada dunia bahwa Yesus telah bangkit. Bisakah kita bayangkan apabila perempuan yang bertemu dengan malaikat/utusan Tuhan di kubur tidak menceritakan seperti apa yang mereka lihat dan dikatakan oleh utusan/malaikat Tuhan? Mungkin, kita tidak akan percaya Yesus telah bangkit sampai pada saat ini. Sehingga, seperti yang dikatakan oleh Paulus, kepercayaan kita pada Yesus akan sia-sia karena Yesus tidak pernah bangkit.  Mungkin, gereja-gereja tidak akan merayakan kelahiran Yesus karena Yesus bukanlah Juruselamat. Mungkin juga, tulisan-tulisan tentang karya mukjizat Yesus di dunia hanya tinggal tulisan biasa. Namun, berita kebangkitan Yesus membuat segalanya berubah. Melalui kebangkitan Yesus, kita percaya bahwa Dia adalah Mesias yang dinubuatkan para nabi. Melalui kebangkitan-Nya, kita mengimani bahwa Yesus sudah menebus dosa-dosa kita melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Dan, Tuhan memakai perempuan untuk menyampaikan berita kebangkitan-Nya.

Refleksi Kristen
            Lantas, apa yang dapat kita refleksikan dari berita kebangkitan Yesus itu? Saya mencatat setidaknya ada dua hal pokok yang dapat kita refleksikan, yaitu: pertama, berita pengampunan dosa telah berlaku. Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, sejak saat itu pula maut berkuasa atas manusia. Namun, kedatangan Yesus ke dunia adalah sebagai kunjungan untuk memberikan pengampunan dosa. Sehingga, apa yang disebut sebagai dosa warisan sudah tidak ada lagi bagi mereka yang memercayai pengorbanan Yesus di kayu salib. Oleh karena itu, menurut Paulus, tugas kita sebagai orang percaya adalah untuk tetap hidup di dalam Yesus dengan cara menjaga tubuh kita yang fana ini dari segala kuasa dosa (Rom.6:11-12). Kemudian, Paulus menjelaskan bahwa esensi dari hidup di dalam Yesus bukan soal baptisan ataupun soal teknis kehidupan beragama lainnya, tetapi soal memberitakan kabar sukacita pengampunan dosa agar pemberitaan salib Kristus jangan menjadi sia-sia (1.Kor.1:17)
            Hal kedua yang dapat kita refleksikan adalah meninjau kembali peran perempuan dalam hidup beriman. Mengacu pada kisah kebangkitan Yesus, kita melihat bagaimana perempuan memiliki peran penting dalam Kekristenan. Namun, perempuan Kristen pada masa kini justru tidak lagi memiliki peran penting dalam pemberitaan Kabar Baik. Banyak stigma yang membuat peran perempuan menjadi terbatas di ruang publik, khususnya di gereja. Saya memberi contoh beberapa stigma yang memojokkan perempuan dalam Kekristenan, seperti pandangan bahwa dosa disebabkan oleh perempuan, seorang imam harus laki-laki, dan pandangan bias gender lainnya terhadap perempuan. Namun, kisah kebangkitan Yesus memberikan cerita lain tentang peran serta perempuan dalam Kekristenan. Perempuan adalah pihak yang dipercayai oleh Tuhan, melampaui murid Kristus laki-laki, untuk menyampaikan kebangkitan Yesus. Mengapa harus perempuan? Tentu pertanyaan ini dapat kita sejajarkan dengan pertanyaan: mengapa harus perempuan yang digoda oleh ular dalam Kisah Penciptaan? Tentu jawaban dari pertanyaan itu adalah karena perempuan memiliki peran yang penting dan strategis dalam kehidupan beriman. Tuhan memercayakan peristiwa iman terjadi melalui diri perempuan. Oleh karena itu, gereja harus memberikan ruang untuk perempuan memberikan kesaksian imannya pada dunia di ruang publik. Gereja Protestan telah melakukan kemajuan yang luar biasa ketika perempuan diberikan kesempatan untuk menjadi ambil bagian dalam pemberitaan firman Tuhan di gereja. Hal seperti ini tidak kita temukan di gereja Katolik. Namun, hal itu belum menyatakan bahwa gereja Protestan lebih baik dari gereja Katolik sepenuhnya, karena hampir seluruh pimpinan gereja Protestan didominasi oleh laki-laki. Tentu hal ini bukan sekadar persoalan gender belaka, tetapi juga bagaimana kebangkitan Yesus dapat menjadi berita sukacita bagi seluruh ciptaan, termasuk perempuan.

Catatan Akhir
Dalam memperingati hari kematian dan kebangkitan Yesus, kita diajak kembali merenungkan apa yang menjadi hakikat dari peristiwa sakral itu. Kesaksian Paulus dapat menjadi bahan renungan bagi kita dalam merenungkan esensi kematian dan kebangkitan Yesus. Suatu perenungan yang menyadarkan kita akan berita pengampunan dosa sebagai Kabar Baik dari Tuhan pada dunia. Suatu perenungan yang mengingatkan kita bahwa dasar kepercayaan kita muncul dari kesaksian perempuan akan Yesus yang bangkit. Serta, suatu perenungan iman yang didasarkan pada Kubur yang Kosong.

Masa Prapaska, Pematangsiantar