Kamis, 10 Februari 2011

Si Bebek Jelek




"Bukan keinginanku untuk lahir dengan rupa berbeda dari saudara-saudaraku! Tetapi, mengapa mereka mengejekku? Mengapa aku disebut Si Bebek Jelek? Apakah berbeda itu salah? Haruskah kami semua sama dan serupa?" Demikianlah keluh seekor anak bebek yang baru menetas tiga hari lalu.



Tak lama kemudian Si Bebek Jelek melihat teman-teman dan saudara-saudaranya bermain. Cepat-cepat ia bergabung. Tetapi mereka langsung membentak, "Rupamu berbeda dari kami! Mukamu aneh! Badanmu besar! Jangan ikut bermain dengan kami! Pergi dari sini!"



Hanya induk bebek yang tidak ikut mencemoohkan. Katanya, "Biar rupanya jelek, namun watak dan perangainya bagus. Lagi pula ia pandai berenang dari yang lain. Memang ia berbeda, sebab ia menetas dari telur yang paling besar dan terlambat beberapa hari."



Tetapi kata-kata bijak dari induk bebek tidak digubris. Perlakuan menyakitkan hati terhadap Si Bebek Jelek berlangung terus. Ia dihina, diejek dan ditertawakan. Ia dimaki, ditendang dan dikucilkan. Ia hanya bisa meratap, "Apa salahku? Salahku hanya satu, yaitu aku berbeda"



Demikian gubah-ringkas sebuah adegan cerita "Si Bebek Jelek" dalam salah satu dari puluhan buku karangan Hans Christian Andersen (1805-1875).



Beberapa minggu kemudian Si Bebek Jelek betul-betul merasa terpukul karena terus menerus ditolak dan dimusuhi. Lalu selama berhari-hari ia menyendiri di bawah alang-alang di tepi danau.



Pada suatu pagi dari celah alang-alang Si Bebek Jelek melihat tiga ekor angsa berenang. Aduh, anggun sekali angsa-angsa itu. Bulu-bulunya putih bersih. Lehernya tinggi. Sayapnya terlipat rapi. Ekornya lancip menjulang. Sungguh mempesona!



"Aku akan berenang mendekati mereka. Tak jadi soal kalau nanti aku dimaki dan diusir." Si Bebek jelek pun turun ke danau. Matanya berkedip menanggapi ketiga angsa itu. Ia berenang sambil terus menerus memandangi ketiga angsa itu.

Ketika Si Bebek Jelek hendak membenamkan kepalanya ke dalam air untuk minum, tiba-tiba ia terkejut. Siapa itu? Ada angsa anggun tercermin di permukaan air. Diperhatikannya cerminan air itu. Siapa angsa itu? Digerak-gerakannya kepalanya. Ternyata itu cerminan dirinya sendiri! Ia bingung dan heran. Ia telah berubah menjadi angsa yang indah dan anggun.



Kemudian secara tiba-tiba Anderson menulis kalimat yang penuh muatan makna : "Het doet er niet toe of men in een eendenhof is geboren, als men maar uit een zwanenei gekomen is." Artinya, tidak soal bahwa orang lahir di kandang bebek, yang penting ia berasal dari telur angsa. Apa selanjutnya terjadi dengan Si Bebek Jelek itu? Andersen merangkumnya dengan sebuah kalimat yang memulihkan masa lalu yang buruk dengan masa kini yang baik : "Hij voelde zich blij over al de nood en de waderwaardigheden die hij had doorleefd; nu waardeerde hij juist het geluk en al de heerlijkheid die hij genoot." Artinya, ia gembira dengan segala susah dan derita yang telah dilewatinya; kini hal itu justru membuat dia menyukuri kebahagiaan dan kesenangan yang dirasakannya.



Adaptasi dari tulisan Pdt.Dr.Andar Ismail dalam buku "Selamat Berpulih", 2006 : 7

Tentang Kasih



Penyakit paling menakutkan bukanlah TBC ataupun Lepra,

melainkan tidak dikehendaki, tidak dicintai dan tidak dipedulikan.



Kita dapat mengobati penyakit fisik dengan obat-obatan,

tetapi satu-satunya obat untuk kesepian, keterputusasaan,

dan hilangnya harapan adalah KASIH.



Banyak di dunia ini yang mati karena kurang makan,

tetapi lebih banyak lagi yang mati karena haus Kasih Sayang



St.Teresa dari Kalkuta, India

14 Februari 270



Suatu saat, pacar saya bertanya kepada saya : "Theo, kenapa tanggal 14 Februari itu dirayakan sebagai hari Valentine (hari kasih sayang)?". Sambil memandang matanya yang penuh keingintahuan, saya menjawab : "Begini ceritanya,

....suatu saat dalam kekaisaran Romawi, pada mulanya hari keempatbelas dalam bulan kedua di zaman itu, selalu diperingati harinya dewi pernikahan, yang bernama "Juno". Sehari berikutnya, dirayakan pula hari raya pangan atau sering disebut dengan istilah "feast of lupercalia". Karena berdekatannya antara peringatan dewi pernikahan dengan pesta pangan, maka diusulkanlah suatu pesta yang dihadiri dengan membawa pasangannya masing-masing yang telah dipilih secara acak. Teknik pemilihannya adalah seorang pria mengambil satu kertas yang berisi nama seorang wanita, lalu mereka itu menjadi satu pasangan saat pesta pangan. Dipercayai, setelah pesta pangan itu selesai, pasangan itu tidak langsung bubar namun saling mencintai sampai mereka menikah dan memiliki keturunan.

Kaisar Claudius II kemudian melarang diadakannya lagi kegiatan seperti itu, karena menurunkan semangat pertempuran pemuda-pemuda Romawi yang terkenal spartan. Para pemuda tidak mau kehilangan kekasihnya masing-masing, sehingga mereka terkadang menolak ikut bertempur bersama pasukan Romawi. Mendengar hal itu, St.Valentinus turut prihatin karena melihat betapa sedihnya kedua pasangan itu yang cintanya dikekang oleh aturan Kaisar. Secara diam-diam dari pengetahuan Kaisar, St.Valentinus menikahkan pasangan-pasangan jatuh cinta itu yang sudah siap membina rumah tangga. Karena ada beberapa pihak yang kontra dengan tindakan St.Valentinus, akhirnya dia dilaporkan kepada Kaisar Claudius II.

Tanpa perlawanan dan tetap pada pendiriannya, St.Valentinus dijatuhi hukuman mati. Sebelum dijatuhi hukuman mati, ada begitu banyak yang melawat St.Valentinus di dalam penjara. Mereka memberi St.Valentinus doa dan kekuatan, bahwa usaha yang dilakukannya tidaklah salah dan akan tetap hidup di seluruh bumi. Saat hukuman mati dilangsungkan, Kaisar memilih hari keempatbelas bulan kedua pada tahun 270 ZB, agar menimbulkan efek jera dan trauma kepada masyarakat yang menentang perintah kaisar. Alih-alih menjadi jera dan trauma, malah masyarakat memilih hari keempatbelas bulan kedua sebagai hari untuk memperingati perjuangan St.Valentinus.

....begitulah ceritanya, sahut saya kepada sang kekasih. Selanjutnya, pacar saya bertanya, lalu kenapa hari Valentine identik dengan cokelat ya?" Sejenak sambil mengerutkan dahi, saya berpikir dengan kerasnya namun tidak mendapatkan hasil apa-apa. Dalam hati, saya hanya bergumam : "Ya iya lha, kalau identik dengan ketupat,berarti lagi Lebaran donk; Apalagi terompet, pasti tahun baruan donk"

Happy Valentine Day, Hasian!!!

Senin, 07 Februari 2011


Pada tanggal 3 Febuari 2011 lalu, kita merayakan tahun baru Cina, atau kita kenal dengan istilah "Imlek". Tidak diketahui secara pasti memang, bagaimana sejarah proses penanggalan itu dimulai dan diakui. Namun, umumnya jikalau ditanyakan secara umum, mayoritas bangsa Cina menjawab dimulai secara resmi dari dinasti Han di bawah pemerintaha Kaisar Wu. Ada banyak simbol yang merepresentasikan Imlek dalam budaya CIna, dalam kesempatan ini saya mengangkat salah satunya saja yaitu mengenai shio. Mengapa shio yang saya angkat? Jawabannya adalah karena shio merupakan zodiak Tionghoa (bangsa Cina) yang memakai hewan-hewan untuk melambangkan tahun, bulan dan waktu menurut astrologi Tionghoa. Pada dasarnya, hewan-hewan ini mewakili duabelas cabang bumi yang digabung bersama lima unsur dimana membentuk satu periode 60 tahun. Di sinilah letak keunikannya.

Pada tahun 2011 ini, merupakan tahun kelinci dengan unsur emas. Kelinci dalam mitologi Cina berarti lambang dari umur panjang serta dikatakan sebagai turunan bulan. Keunikan shio kelinci dari shio lainnya adalah kelinci dipahami tidak menyukai unsur kekerasan serta pertarungan. Kelinci dapat melindungi dirinya melalui kecerdikannya. Akan tetapi, ada interpretasi minor dari banyak mengenai shio kelinci. Interpretasi itu didasarkan pada simbol kelinci yang dianggap sebagai tahun para playboy. Dapat dimaklumi, karena simbol dari playboy erat kaitannya dari kelinci. Entah darimana sejarah itu berasal, namun yang jelas pasti ada hubungannya dengan majalah Playboy di Amerika. Dulunya, majalah yang dibawahi oleh Hugh Hefner dan Eldon Sellers ini tidak menggunakan lambang kelinci untuk majalahnya. Simbol kelinci diambil mewakili majalah Playboy dipilih dengan pertimbangan bahwa kelinci adalah binatang yang sangat imut, agresif dan memiliki gairah seksual yang tinggi. Hal ini cukup kuat untuk dihubungkan dengan para Playboy.

Lantas apa yang dapat kita pelajari dari pemaparan di atas. Menurut hemat saya, telah terjadi suatu pergeseran paradigma mengenai kelinci. Kelinci digunakan budaya Cina untuk merepresentasikan kecerdikan dan kesuksesan. Sedangkan di Amerika, kelinci digunakan sebagai simbol lelaki hidung belang. Kedua tradisi ini telah sampai di bumi Indonesia dan entah bagaimana masyarakat menyikapi makna kelinci di antara tradisi bangsa Cina dengan pemahaman Amerika. Yang jelas sekarang adalah tahun kelinci, semoga yang percaya akan kecerdikan kelinci dapat terinspirasi olehnya. Sedangkan yang percaya akan tahun suksesnya menjadi playboy, semoga juga dapat terinspirasi. Tetapi bagi yang tidak percaya kedua-duanya tidak masalah. Mengapa? Karena masih ada pilihan terakhir, yaitu sate kelinci. Saya belum pernah makan sate kelinci, semoga di tahun kelinci ini saya dapat makan sate kelinci. Bagaimana dengan Anda?



:-)

Sabtu, 15 Januari 2011

Membaca Kontroversi Tifatul

Nama Tifatul Sembiring semakin mencuat di bawah payung Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ketika dia berhasil memimpin partai tersebut menggantikan presiden PKS sebelumnya, Hidayat Nur Wahid, pada tahun 2004-2009. Pada masa pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2, Tifatul Sembiring ditunjuk menjadi Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo), terhitung tanggal 22 Oktober 2009 sampai dengan sekarang, dimana beliau menggantikan posisi Mohammad Nuh yang bergeser menjadi menteri pendidikan. Pria kelahiran Bukit Tinggi, Sumatera Barat, tanggal 28 September 1961 ini merupakan insinyur komputer dari Sekolah Tinggi Ilmu Manejemen dan Informatika dan Komputer.
Dalam evaluasi kinerja 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2, nama Tifatul Sembiring oleh media-media di Indonesia, termasuk menteri yang memiliki rapor merah di bidangnya. Hal ini sepertinya mendesak pemerintah untuk merombak susunan pemerintahan dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2. Tifatul Sembiring pada saat itu jelas berada di ujung tanduk, karena acap kali menjadi salah satu menteri yang disorot media masa. Alih-alih diturunkan dari kursi Menkominfo, Tifatul saat ini malah menjadi salah satu pejabat pemerintahan yang kontroversial. Lihat saja bagaimana beberapa fenomena yang dihasilkannya seperti, pemberantasan website-website yang dinilai bermuatan pornografi, pernyataan kontroversial terkait video panas Ariel-Luna Maya yang disandingkan dengan nabi Isa-Yesus Kristus, “pemaksaan” jabat tangan oleh Michelle Obama (padahal Tifatul sendiri yang jelas-jelas menyodorkan tangannya dalam rekaman oleh media-media) , dan baru saja usulan pemblokiran BlackBerry.
Masyarakat Indonesia pun bergejolak reaksinya menanggapi fenomena kontroversial yang dilakukan oleh Tifatul, ada yang pro dan ada juga yang kontra. Alhasil pembicaraan mengenai Tifatul pun semakin marak, baik di media masa, jejaring sosial bahkan oleh anak-anak sekolahan sekalipun. Tulisan ini mencoba untuk membaca kontroversi yang dilakukan oleh Tifatul, dengan asumsi budaya politik sebagai pisau bedahnya. Dalam ilmu politik, menurut Jacobsen dan Lipman, kegiatan politik pada dasarnya berisi tentang hubungan individu dengan negara dalam koridor hukum serta hubungan individu dengan individu atau komunitas lainnya. Terkait pemahaman akan ilmu politik tersebut, Samuel Beer melihat bahwa dalam hubungan yang dibangun individu tersebut terdapat sebuah kelakuan politik, di mana setidaknya ada empat unsur variabel yang terkandung di dalamnya yaitu: budaya politik (sistem kepercayaan, nilai politik dan sikap emosional), kekuasaan (alat mencapai sesuatu), kepentingan (kehendak yang ingin dicapai) dan kebijakan (konsekuensi dan akibat dari proses). Dari pemaparan sejauh ini, kesimpulan mengenai budaya politik yang akan digunakan dalam tulisan ini adalah terkait dengan tujuan dan cara, serta kemungkinan dan kebutuhan yang dihasilkan dari suatu situasi yang diharapakan.
Kontroversi yang dilakukan oleh Tifatul, menurut hemat saya, pada dasarnya hendak mencerminkan citranya sebagai sebagai seorang politisi sejati. Seorang politisi harus mampu menciptakan karakter yang khas, sehingga mudah ditandai oleh masyarakat banyak. Dalam pencitraan yang ingin dicapai, harus ada suatu cara untuk membangun hubungan citra diri dengan lingkungan yang ada di sekitarnya (baik negara, komunitas, maupun individu). Setali tiga uang, tentunya bukan hanya pencitraan saja hal yang ingin dicapai dari kontroversi yang diciptakan, tetapi juga ada hal lain yang dapat dimanfaatkan dari konterversi tersebut. Mengacu pada Beer, ada pengaruh kekuasaan dan kepentingan yang berada dibalik kontroversi Tifatul. Kekuasaan yang dimaksud datang elit pemerintah yang tengah berkuasa. Permasalahan yang kerap menerpa pemerintahan membuat sorotan publik kepada pemerintah kian tajam, terkhusus dalam kasus KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang tengah marak di badan pemerintahan. Sebut saja kasus Bank Century, rekening gendut Polri, mafia perpajakan yang konon katanya menyeret petinggi-petinggi partai sampai berimbas pada penguasa Indonesia saat ini. Untuk mengaburkan sorotan tajam publik tersebut, maka dimunculkan suatu isu yang dapat mengalihkan perhatian masyarakat. Cara-cara kontroversial seperti memanfaatkan isu dari kasus video panas artis maupun pemblokiran website porno dan Blackberry menjadi alternatif solusi yang paling tepat. Alasannya adalah isu ini sangat melekat dan tengah berkembang di dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Itulah mengapa saya katakan setali tiga uang, selain keuntungan pencitraan diri sebagai politisi, kepentingan penguasa pun dapat terwujud untuk mengalihkan perhatian masyarakat.
Sebagai seorang politisi, cara apa saja tentu dilakukan agar menciptakan karakter yang khas. Benar-benar mempraktikan filosofi Machiavelli (baca : menghalalkan cara untuk mencapai tindakan). Sulit untuk mengatakan ini merupakan praktik politik yang kurang baik, karena tidak ada indikator yang tepat (menurut hemat saya) untuk menggambarkan aktivitas politik yang baik. Namun menurut saya, kegiatan politik seperti ini adalah tindakan kekanakan, karena tidak dapat melihat kepentingan masyarakat banyak. Sebagai seorang politisi dari partai yang sarat dengan nilai keagamaan, Tifatul memainkan perannya dengan cukup baik. Isu mengenai agama dikendarainya untuk mengendalikan motor politik yang sedang dipacu. Kasus kebijakan yang sarat kontroversial merupakan bahan bakar motor politik yang tengah dikendarainnya. Sejauh ini hal-hal kontroversi tersebut tidak akan dapat menghentikannya, karena Tifatul tengah ditopang kepentingan kekuasaan yang besar pula. Walaupun ada yang mengatakan Tifatul tengah menjatuhkan kredibelitas PKS, namun menurut saya tidak sepenuhnya benar. Alasan logisnya adalah ketika nama suatu partai terdengar berulang-ulang dalam pemberitaan di media-media, maka semakin mudah pula diingat oleh masyarakat. Sama halnya dengan apa yang terjadi partai-partai yang lain, seperti Demokrat, Golkar, PDI-Perjuangan, PPP, PKB maupun PAN. Kontroversi ini sebenarnya juga ingin menggambarkan bahwa PKS adalah partai politik yang besar dan layak disandingkan dengan partai politik yang telah saya sebut sebelumnya.
Dengan demikian, kesimpulannya adalah Tifatul merupakan seorang politisi yang handal. Semua kontroversi yang dilakukannya lebih dalam rangkat proses pencitraan diri, sekaligus membantu penguasa saat ini untuk mengatur isu politik dalam negeri. Jadi menurut hemat saya, tidak perlu repot apalagi pusing dengan isu kontroversial yang dilontarkan oleh Tifatul ataupun politisi lainnya (seperti : Ruhut Sitompul, Marzuki Alie, Andi Malarangeng, dll), karena kontroversi tersebut adalah hasil dari budaya politik yang berkembang dengan normal di Indonesia. Indikasi lainnya yang dapat dilihat dari hal ini adalah bahwa pemahaman dan pendidikan politik masyarakat di Indonesia masih sangat lemah, dan rentan untuk dilakukan propaganda.

Selasa, 14 Desember 2010

Pdt.Prof.Drs.John Adrian Titaley, Th.D


Profil dari Pdt.Prof.Drs.John Adrian Titaley, Th.D
Tempat dan Tanggal Lahir : Sorong, 19 Juni 1950
Pendidikan :
1978, Sarjana Teologi (Drs) dari Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW)
1995, Doctor of Theology (Th.D) dari Graduate Theological Union (GTU), Berkeley, USA.
Minat Studi :
Studi Interdisiplin (Perjanjian Lama dan Agama Masyarakat)


Tentang Beliau :
Pak John atau Om John, begitu civitas UKSW menyapa Pdt.Prof.Drs.John Adrian Titaley, Th.D. Tubuhnya tinggi dan besar, rambut yang berwarna putih serta wajah yang semi oriental membuat Pak John sudah seperti orang Barat. Dalam suatu kelas, beliau pernah bercerita mengenai asal-usul namanya. Sewaktu lahir, beliau bernama asli Johanes Adrian Titaley. Orangtuanya berlatarbelakang suku Ambon dan Tionghua. Semenjak ditinggal ayah dan ibunya, beliau merantau ke pulau Jawa karena di tanah Maluku sudah tidak ada apa-apa yang bisa dilakukan lagi. Beliau hidup dari belas kasihan sanak saudaranya dan berharap suatu saat nanti dapat mengubah nasibnya menjadi lebih baik lagi. Bukan suatu kebetulan jikalau beliau mendaftar ke fakultas teologi UKSW di akhir tahun 1960-an. Aktif di lembaga senat mahasiswa universitas menghantarkan beliau menjadi sekretaris umum senat mahasiswa universitas (Sekum SMU). Di kalangan mahasiswa, Johanes Adrian Titaley lebih sering disapa dengan panggilan John. Bahkan ketika lulus pun, nama yang digunakan adalah John Adrian Titaley. Dengan penuh canda, beliau mengatakan : “Belum ada syukuran apa-apa, nama saya sudah diganti seenak-enak mereka” (disambut galak tawa di kelas). Prestasi akademik yang baik membuat John Titaley menjadi salah satu staf pengajar di fakultas Teologi UKSW, sampai pada akhirnya beliau melanjutkan studi ke negeri Paman Sam. Beliau berhasil mengubah nasibnya yang kurang baik menjadi lebih baik. “Tidak ada yang susah sebelum dicoba dan jangan pernah berhenti mencoba” itulah yang disampaikan beliau di akhir cerita asal-usul kehidupan dan namanya itu.

Dalam kegiatan akademis di UKSW, beliau bisa disebut sebagai tokoh penting UKSW. Ada banyak kisah fenomenal dan kontroversial selama beliau berkarier di UKSW. Peristiwa yang penting adalah ketika kerusuhan tahun 1995 di UKSW, yang menjadi tahun gelap dalam sejarah UKSW, beliau dianggap sebagai opurtunis saat terjadi gonjang-ganjing kehidupan kampus. John Titaley menerima jabatan menjadi direktur Program Pascasarjana Studi Pembangunan (PPs-SP) dari direktur sebelumnya John Ihalauw yang pada saat itu mundur. Pada tahun 2001, beliau terpilih menjadi rektor kelima di UKSW. Pada era pemerintahan beliau, UKSW dihebohkan dengan sistem trimester (dalam 1 tahun kalender akademik, ada tiga semester masa kuliah). Sontak UKSW langsung heboh, ada civitas yang pro namun ada juga yang kontra dengan sistem kuliah seperti itu. Benar saja, di masa peralihan dari dwimester (atau lebih dikenal dengan sistem semester) ke trimester terjadi benturan-benturan yang tidak dapat dihindarkan di antara civitas UKSW pada masa itu. Selesai era kepemimpinan beliau, Rektor keenam UKSW, Prof.Dr.Kris H.Timotius, mencoba meredakan sistem trimester. Akibatnya pada era beliau, ada dua sistem perkuliahan yang dipakai, ada yang menggunakan dua semester, ada juga yang menggunakan tiga semester, tetapi ada juga yang memakai dua semester ditambah satu semester pengayaan. Pada pemilihan rektor ketujuh UKSW, Pak John kembali maju menjadi calon. Saingan terberat Pak John datang dari rektor sebelumnya yaitu Pak Kris Timotius. Dalam penyaringan bakal calon rektor, Pak John sempat dicoret dengan alasan tidak sesuai dengan penilaian Pansus. Bukan Pak John namanya kalau kalah dengan cara seperti itu. Beliau merasa ada aneh dari apa yang dilakukan oleh Pansus pada saat itu. Bersama tim suksesnya, beliau menyatakan peninjauan ulang kembali dalam pembobotan penilaian Pansus. Memang sudah diperkirakan oleh khalayak Teologi UKSW pada saat itu, jikalau Pak John lulus seleksi, pasti beliau akan menang di putaran berikutnya. Sebagai informasi, setelah lolos dari seleksi Pansus, para bakal calon menjadi calon rektor yang dipilih langsung oleh Yayasan UKSW. Ada yang mengatakan Pak John dekat dengan pihak Yayasan sehingga harus dihentikan dalam tahap seleksi bakal calon rektor. Apa pun penafsiran civitas UKSW, Pak John masuk menjadi calon rektor dan memenangkan pemilihan rektor. Ya, beliau adalah rektor ketujuh UKSW (2010-2014). Pada masa kepemimpinannya kali ini, beliau bertekad untuk menjadikan UKSW sebagai universitas riset, di mana beliau mendorong penelitian dari para civitas akademia terkhusus bagi para dosen UKSW.

Di kalangan akademis teologi, Pak John mengajar beberapa mata kuliah, seperti Pengantar Hermeneutik Perjanjian Lama, Hermeneutik Perjanjian Lama, Sosiologi Gereja, Pengantar Sosiologi dan Teologi Kontekstual. Beliau juga salah satu pengagas berdirinya Program Pascasarjana Sosiologi Agama (PPs-SA) UKSW. Pemikiran beliau di dunia teologi begitu mendalam. Beliau mengembangkan pemikiran mengenai identitas nasionalis dalam kehidupan beragama di Indonesia yang selama ini diwarnai oleh identitas primordialisme. Dalam kajian biblika, beliau mengembangkan pemikiran sosio-historis sebagai suatu fondasi hermeneutisnya. Oleh karena itu, lulusan fakultas teologi UKSW sangat kental dengan nuansa sosiologi agama dibanding nuansa biblisnya. Hal itu menjadi warna atau corak tersendiri bagi lulusan UKSW. Dan semuanya itu digagas oleh John Titaley dengan pemikirannya yang cemerlang. Dalam suatu kelas Teologi Kontekstual, beliau pernah mendapat pertanyaan yang agak memojokan beliau, yaitu mengapa pemikiran cemerlang beliau tentang agama tidak dapat diperkenalkan dalam kehidupan di Indonesia? Beliau agak berpikir sejenak dan menjawab, “Saya hanya menggagas saja dan kalian adalah duta-duta saya di dunia ini”. Kelemahan lainnya dari Pak John adalah beliau tidak memiliki tulisan dalam bentuk buku. Orang sepintar apapun tapi kalau tidak pernah menghasilkan buku, tentunya masih diragukan kepakarannya. Hal ini yang masih kurang dari seorang John Titaley. Pemikirannya yang begitu cemerlang dan briliant dalam dunia teologi, tidak mampu dituangkan dalam suatu karya tulis (buku).

Pengalaman bersama Pak John

Saat bertemu pertama kali dengan Pak John, saya seperti melihat seorang Bule yang mahir berbahasa Indonesia. Suaranya bass menggema sehingga orang-orang pasti agak takut berbicara dengan beliau. Tetapi ternyata beliau adalah orang yang bersahabat dan rendah hati. Sebagai seorang yang senang menyanyi, saya kagum melihat John Titaley ternyata pernah menjadi pelatih paduan suara UKSW (sekarang bernama Voices of SWCU). Ketika mendengar beliau bernyanyi di salah satu ibadah minggu GPIB Taman Sari, saya merinding mendengar suara merdu beliau. Kepada mahasiswa, beliau sangat bersahabat. Terbukti ketika skripsi saya dibimbing beliau, tanpa sungkan beliau mengundang saya untuk dibimbing langsung di rumahnya saja. Di dalam rumah, saya tidak diperkenankan membuka alas kaki, dengan alasan nanti saya kedinginan. Saya sangat takjub melihat keramahan beliau. Pak John tinggal di perumahan dosen UKSW, dekat dengan tempat tinggal saya di Asrama UKSW. Rumah beliau tidak besar, seperti rumah dosen lainnya yang kecil. Sempat saya merenung, mengapa rektor UKSW tinggal di rumah sekecil ini? Sedangkan banyak dosen UKSW yang rumahnya sudah seperti istana. Hal lain yang khas dari beliau adalah mobil merahnya yang selalu setia menemani. Saat menyetir mobil, biasanya beliau menyandarkan tangannya di jendela mobil yang terbuka dan sesekali melambaikan tangan kepada orang yang menyapanya. Khas karena mobil rektor tidak sebagus mobil dosen-dosen lainnya yang mewah. Satu hal lagi keunikan Pak John adalah beliau sangat sayang dengan anjing. Beliau bercerita tentang anjingnya yang bernama Boncel. Boncel ditemukan Pak John saat masih kecil dan tidak memiliki rumah. Melihat fisiknya yang memprihatinkan karena hanya memiliki satu mata, Pak John memutuskan untuk merawatnya.
Dalam kehidupan kampus, saya menganggap Pak John adalah sosok yang luar biasa. Beliau sepertinya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa teolog itu tidak bodoh. Beliau dapat berbicara persoalan pendidikan, ekonomi, sosial, budaya dan politik. Lebih dari itu, beliau juga mempraktikannya dalam kehidupan, terbukti dari jabatan rektor yang diembannya. Saya melihat Pak John adalah seorang dengan sosok petarung yang gigih dan pantang menyerah. Faktor kerasnya hidup pada masa kecil, membuat saya berpikiran itulah yang menciptakan pribadi Pak John yang pantang menyerah, kokoh dan tegas. Dengan semua yang telah didapatkannya dalam hidup, beliau tidak lantas menjadi sombong dan lupa daratan. Hal ini berbeda dari kebiasaan orang-orang yang dulunya susah namun ketika sukses melupakan orang lain yang membantunya. Pak John tidak seperti itu. Malah beliau berpesan kepada mahasiswanya, “Tidak ada gunanya apa yang kita dapat di dunia ini jikalau kita tidak memiliki hati untuk berbagi” Apa yang dikatakannya sesuai dengan yang dilakukannya. Beliau sangat perhatian dengan orang-orang kecil. Pernah suatu ketika, pegawai kecil UKSW, hampir dijebloskan ke penjara karena dituduh menggelapkan uang pekerjaan timnya. Beliau tanpa pamrih menolong orang kecil itu sampai masalah dituntaskan. Sungguh keteladanan yang luar biasa dari Pak John. Beliau sering mengajar dengan Batik Biak berwarna merah yang sering dikenakannya. Sambil tersenyum Pak John berkata ; “Ayo Bapak-Ibu Pendeta, jangan bangun kesiangan, mau bagaimana jemaatnya nanti kalau pendetanya belum datang?” menanggapi mahasiswa-mahasiswi yang datang terlambat saat jam kuliah pagi.

Pdt.Prof.Mesach Krisetya, M.Th.,M.Div, D.Min

Profil dari Pdt. Prof. Mesach Krisetya, M.Th., M.Div, D.Min Tempat dan Tanggal Lahir : Jepara, 9 September 1939 
Menikah & Isteri : 11 Oktober 1965 dengan Miriam Wientarti Anak : Markus Krisetya dan Matius Indiana Krisetya 

Pendidikan : 
1986 – 1990, Claremont School of Theology, Claremont California, USA. Doctor of Ministry (D.Min), Clinical Pastoral Education, PrairieView Newton, Kansas, USA. Diploma of Advance CPE 
1979 – 1981, United Theological College, Bangalore, India. Master of Theology (M.Th) Christian Counseling Centre, Vellore, India, Diploma of Counseling Psychology 1970 – 1973, Goshen Biblical Seminary, Elkart, Indiana, USA. Master of Divinity (M.Div) 
1961 – 1965, Seminari Teologi Baptis Indonesia, Semarang. Baccalaureus Theologia (B.Th) 
1958 – 1961, SMA Masehi 1, Dr.Cipto, Semarang 
1955 – 1958, SMP Negeri 4 Mlaten, Semarang 
1954 , SMP Masehi Sidodadi, Semarang 
1947 – 1953, SR Xaverius, Kobong, Semarang. 

Jabatan Pendidikan :
1973-1979, Rektor Akademi Kristen Wiyata Wacana, Pati 
1981-1982, Pendeta Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. 
1982-1986, Dekan Fakultas Teologi, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. 
1986 , Pembantu Dekan Urusan Akademik, Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana 
1991-1994, Ketua Jurusan Studi Konseling Pastoral, Fakultas Teologi UKSW 
1981-2010, Pengajar Bidang Pendampingan Pastoral dan Konseling Pastoral, untuk Strata 1 (S1) serta Program Pascasarjana (S2) Sosiologi Agama di UKSW. 

Jabatan Gerejawi : 
1965-1970, Gembala Jemaat GKMI Jepara 
1975-1977, Ketua Departemen Pendidikan Sinode GKMI 
1977-1979, Ketua Umum, Sinode GKMI 
1983-1986, Ketua Umum, Sinode GKMI 
1989-1992, Ketua Departemen Teologi, Sinode GKMI 
1992-1995, Ketua Umum, Sinode GKMI 
1995-1999, Ketua Umum, Sinode GKMI 
1986-1992, Anggota Executive, Asia Mennonite Conference, Hongkong 
1990-1997, Executive Member, Mennonite World Conference, Strasbourg, France 
1991-1993, President Asia Conference on Pastoral Care amd Counseling 
1991-1995, Council Member, The International Council on Pastoral Care and Counseling Noerdwijkerhout, The Netherlands 
1995-1999, Vice President, International Council on Pastoral Care&Counseling, Toronto, Canada 
1997-2003, President Mennonite World Conference, Strasbourg, France 
2007 , bulan Oktober menerima SK Menteri Pendidikan Nasional Jabatan Fungsional Dosen Guru Besar dalam bidang ilmu/mata kuliah Teologi Pastoral Konseling dengan SK No.49743/A4.5/KP/2007 

Pengalaman bersama Pak Mesach : 
Ketika kali bertemu beliau, saya merasa bingung melihat seorang kakek tua dengan postur badan yang tinggi serta diringi gema suara bass yang khas. Beliau adalah Pdt. Prof. Dr. Mesach Krisetya, M.Th., M.Div. Anak Fakultas Teologi UKSW menyapa beliau biasa dengan, "Pak Mesach". Beliau sangat bersahaja, low profile, dan sangat hangat bersahabat. Menurut saya, beliau tipe dosen yang tidak membosankan saat mengajar di kelas. Biasanya, dosen dengan rentetan gelar akademik yang banyak serta pernah menduduki jabatan besar cenderung serius dan kaku ketika mempresentasikan materi kuliah. Namun, beliau berbeda yang tidak pernah lupa dalam menyisipkan humor ketika mengajar. Sangking leburnya dalam metode pengajaran yang terselip humor, beliau bahkan tak segan membuat gerakan-gerakan tak diduga yang membuat kelas serempak gegap gempita karena terbahak-bahak menyaksikan aksi beliau. Namun, sekalipun demikian kuliah tetap terjaga kualitasnya. Saya menilai bahan yang diajarkan sangat penuh muatan akademis, sesuai dengan gelar akademik yang disandang. Hal yang paling berharga bagi para mahasiswanya adalah pengalaman hidup beliau yang dimasukkan sebagai bahan pembelajaran. Ini membuat mata kuliah yang diampu beliau menjadi spesial serta berkualitas. 

Bidang kepakaran beliau adalah Teologi Pastoral. Tidak hanya pakar secara teori, beliau pun menghidupkan teologi pastoral di tengah kehidupannya sehari-hari. Secara pribadi, saya mengalami tiga peristiwa khusus dengan beliau. 

Pertama, ketika saya praktek di GKI Manyar Surabaya tahun 2008. Ketepatan beliau memimpin ibadah minggu di GKI Manyar Surabaya, akhir bulan September 2008. Saya di-SMS beliau untuk berjumpa di ruang tamu gereja. Beliau sangat perhatian dengan saya. Bahkan saat ada jamuan makan malam dari pihak gereja, saya masih diingat dan diajak serta oleh Pak Mesach. Ketika hendak kembali ke Salatiga, beliau kembali memanggil saya. Kali ini beliau melalui istrinya menyangoni saya uang kantong untuk keperluan selama di Surabaya. Saya sudah menolaknya. Tetapi, beliau mengatakan saya akan sangat memerlukannya karena jauh dari keluarga dan kampus. 

Kedua,  di akhir tahun 2009, ketika kuliah saya telah selesai dan hendak balik ke Medan, saya dipanggil kembali oleh beliau. Saya disarankan untuk berangkat ke Makassar agar membantu pelayanan di sebuah jemaat. Saya menolak ajakan tersebut karena memang harus mempersiapkan diri untuk studi lanjut. Saya sebenarnya sangat berat sekali dan menyayangkan penolakan tersebut. Karena, saya tahu beliau kecewa. Rasa kecewa itu terpancar jelas dari raut wajah beliau. 

Terakhir, ketika saya berada di Medan, saat mengikuti kegiatan dari Asosiasi Pastoral Indonesia (API) Pusat yang sedang mengadakan kegiatan di sana. Berketepatan kegiatan dirangkaikan dengan pelantikan fungsionaris API wilayah serta seminar pastoral. Pak Mesach merupakan salah satu sesepuh di API dan menjadi pembicara dalam seminar yang diadakan di restoran Avia Samudera, Medan. Ketika berjumpa dengan saya serta teman kuliah,  beliau langsung mengenal kami. Beliau menanyakan perkembangan kami saat ini dan beliau berpesan agar kami tetap maju dalam pelayanan gereja. 

 Ada dua hal penting yang saya dapat pelajari dan kehidupan pak Mesach. Pertama, rendah hati merupakan kunci dalam menyinergikan hidup, baik secara akademis, berelasi terhadap lingkungan dan disiplin spiritualitas. Kedua, tetap berpikir positif dalam hidup agar tidak menjadi batu sandungan dalam lingkungan sekitar. 

Beliau berulangkali dalam kuliah selalu mengatakan, "You are what you believe". Beliau menginginkan seorang pelayan Tuhan tidak menjadi batu sandungan di jemaat. Caranya adalah selalu berpikir positif untuk kemajuan hidup dan tetap berorientasi pada konselor sejati, yaitu Kristus. Hal itu yang membuat saya sangat mengagumi kehidupan beliau. Banyak cerita hidup yang telah dijalani beliau sampai dengan masa pensiun saat ini. Bahkan ketika dua ring ada di jantungnya, beliau tetap memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang pengajar dan pelayan Tuhan. Beliau tidak pernah lari dari tanggung jawab dan selalu konsisten antara perkataan dengan perbuatan.