Senin, 01 November 2010

SEPAKBOLA DAN AGAMA


Catatan Refleksional :

Sepakbola merupakan salah satu cabang olahraga yang sangat diminati oleh masyarakat dunia. Siapa yang tidak mengenal Ronaldo dengan gigi kelinci-nya? Atau, David Beckham dengan kegantengannya? Atau, Alessandro Del Piero dengan wibawanya di lapangan hijau? Atau juga Chritiano Ronaldo serta Lionel Messi dengan skill mengutak-atik bola yang sangat memukau? Semua pasti mengenal nama-nama itu, baik tua-muda, kaya-miskin, pemerintah-non pemerintah, dunia Barat-dunia Timur, dan sebagainya.
Di Indonesia, sepakbola sudah seperti candu bagi masyarakatnya. Hal itu dapat terlihat bagaimana hasil survey yang dilakukan oleh beberapa klub besar dunia, seperti Manchester United, Juventus, Real Madrid ataupun Barcelona, bahwa salah satu penyumbang suporter terbesar mereka di dunia berasal dari Indonesia. Satu kata yang dapat terucapkan : “Luar Biasa”. Bahkan, pada saat final Piala Dunia 2010, Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, mengadakan nonton bareng bersama para menteri kabinet Indonesia bersatu jilid II serta tokoh-tokoh elite pemerintah lainnya. Alhasil, selesai nonton bareng final Piala Dunia 2010, keesokan harinya pada saat rapat kabinet, hampir seluruh peserta rapat terlihat terkantuk-kantuk, seperti yang diinformasikan dari media cetak dan elektronik.
Dari hal di atas, saya ingin mengajak kita semua merefleksikan dari sisi yang berbeda. Ada hal yang tidak pernah terbayangkan kita bahwa sepakbola itu tidak membeda-bedakan agama. Tidak pernah kita tahu bahwa jikalau ingin menjadi fans dari klub Manchester United, kita harus beragama X, sedangkan yang beragama Y harus menjadi fans klub Jubilio Iwata. Tidak pernah karena hal tersebut adalah kekonyolan! Dalam organisasi sepakbola internasional, FIFA, mengeluarkan fatwa bahwa sepakbola itu FAIR PLAY dan NO RACISM dan wajib hukumnya. Artinya, organisasi sepakbola di seluruh negara, harus menciptakan situasi fair play dan menjauhi sikap racismme yang sangat menghancurkan wajah sepakbola. Pasalnya, sepakbola itu adalah ibarat wadah universal yang dapat dinikmati oleh siapa pun manusianya.
Filosofi dunia sepakbola yang begitu humanis, seharusnya dapat diterapkan dalam kehidupan beragama. Agama apa pun harus bertindak fair play dan no racism, agar umat yang berada di dalamnya dapat menghayati persekutuannya dengan Sang Khalik, serta menciptakan agen-agen perdamaian bagi dunia. Apa maksudnya fair play dan no racism? Marilah kita lihat bersama.
A. Agama bertindak Fair Play :
Tidak ada agama apa pun di dunia ini yang tidak mengajarkan kebaikan. Pasti semua agama mengajarkan bagaimana mendatangkan kebaikan, agar kehidupan umat di dunia menjadi berkualitas dan pada akhirnya dapat bertemu dengan Sang Khalik dalam suasana yang sejahtera pula. Akan tetapi, ada unsur yang membuat agama menjadi tidak fair play. Hal ini ibarat seperti di dunia sepakbola, yaitu ketika sebuah tim merasa tertekan di lapangan, mereka dituntut untuk memenangkan pertandingan dengan cara apa pun, bahkan kecurangan pun sah-sah saja dijadikan solusi. Yang bertanggungjawab atas tindakan itu adalah pelatih dari tim itu, karena seorang pelatih yang mengatur jalannya pertandingan sebuah tim. Begitu pula dalam agama. Setiap agama merasa mereka akan tertekan apabila secara kuantitas, umat mereka kalah jumlah dibanding agama tetangga. Alhasil, ada beberapa elemen di dalam agama yang menganggap hal ini sebagai suatu persaingan. Dampaknya, penyebaran agama secara tidak sehat terjadi, seperti : saling tuding kejelekan agama lain, ajaran-ajaran radikal disisipkan, misi meng-agama-kan suatu etnis atau masyarakat tertentu dipaksakan. Jelas hal ini merupakan suatu hal yang tidak fair play, karena dapat menciptakan pemikiran yang radikal. Yang paling bertanggungjawab atas tindakan yang tidak fair play ini adalah para pemuka agama. Seorang pemuka agama apa pun, harus dapat meyakinkan umatnya, bahwa kuantitas pemeluk agama bukanlah hal yang penting dalam agama. Hal yang terpenting dalam beragama adalah kualitas yang dihasilkan manusia itu setelah dia beragama. Hal inilah yang kurang diperhatikan oleh para pemuka agama di seluruh dunia.
Lantas, bagaimana solusi untuk hal ini? Tidak ada cara lain, bahwa setiap pemuka agama di seluruh dunia harus memahami apa arti nilai kemanusiaan. Agama bukanlah hanya menyangkut tentang dunia akhirat saja, tetapi dunia saat ini juga harus diperhatikan. Perdamaian harus dikedepankan agar tercipta dunia yang lebih baik serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini dapat didorong dalam bidang pendidikan mengenai antropologi, sosiologi maupun politik, karena mobilitas agama digerakkan oleh ketiga elemen tersebut.

B. Agama harus bertindak No Racism
Maksudnya no racism adalah setiap agama harus bersikap terbuka terhadap perbedaan yang ada. Pengertian terbuka di sini adalah bagaimana suatu agama dapat menghargai perbedaan ajaran dan doktrin yang ada pada agama lain. Harus dipahami bahwa perbedaan bukanlah suatu hal yang menakutkan, akan tetapi perbedaan lebih kepada suatu unsur yang menjadikan kehidupan lebih indah lagi, ibarat bunga yang berwarna-warni di suatu taman. Esensi lain dari no racism ini adalah bagaimana suatu agama dapat menerima hal yang berbeda tersebut dengan asumsi bahwa apapun agama dari manusia itu, dia tetap sebagai manusia ciptaan Tuhan yang harus dikasihi dan dihormati. Perang yang dilandasi sentimen keagamaan, biasanya kurang memperhatikan nilai kemanusiaan. Mereka beranggapan bahwa orang yang berbeda agama itu adalah berasal dari si jahat, oleh karena itu agama yang mereka anut merupakan agama yang paling benar dan yang harus diikutin.
Solusi untuk mengatasi persoalan ini adalah dengan cara meningkatkan intensitas dialog antar umat beragama. Hal penting yang harus diperhatikan dari dialog ini adalah tidak hanya sekedar sebagai ucapan manis di bibir semata, melainkan dari ketulusan hati yang mendalam guna menciptakan perdamaian. Dengan demikian, tidak akan ada lagi pembeda-bedaan dari seluruh agama di seluruh dunia.
Untuk membangun suatu peradaban yang baik dibutuhkan perdamaian dari masyarakatnya. Masalah agama kerap menjadi ancaman bagi perdamaian dunia, sehingga dunia kita menjadi dunia yang penuh kekerasan, ledakan emosi dan pikiran sadis. Untuk itu, setiap agama harus dapat menjelma menjadi sepakbola yang dapat dinikmati oleh siapa saja dan menjadi hiburan serta penguatan bagi semua manusia. Agama apa pun tidak akan pernah mengajarkan permusuhan, karena tujuan beragama itu adalah menciptakan kehidupan yang lebih baik. Perdamaian merupakan kunci hakiki dari kehidupan yang lebih baik. Menurut Hans Kung : “TIdak akan ada perdamaian di dunia jikalau tidak ada perdamaian agama”. Untuk itu, marilah kita berdamai dengan diri kita sendiri dan dengan orang lain. Mari kita beragama dengan menjujung tinggi fair play dan no racism.

Senin, 25 Oktober 2010

Sejarah Sekolah Minggu


Robert Raikes adalah orang sibuk. Ia pemilik dan penerbit The Gloucester Journal, koran paling besar di wilayah Glouscester, Inggris. Sering kali ia sendiri harus turun tangan mencari berita, menyunting laporan, memeriksa salah cetak atau lainnya.
Oleh karena kesibukannya, Raikes sering bekerja pada hari Minggu untuk menyiapkan koran yang harus terbit keesokan harinya. Ia merasa aneh karena justru pada hari Minggu, ia terganggu oleh suara gaduh dari luar. Ternyata di luar kantornya ada banyak anak yang bermain dan membuat keributan di jalan. Usia mereka sekitar sepuluh tahun. Pakaian mereka lusuh. Muka mereka kotor. Kelakuan mereka kasar. Kata-kata mereka jorok.
Raikes mencari tahu mengapa anak-anak ini bermain di jalan pada hari Minggu. Ternyata mereka tidak bersekolah. Mereka bekerja di pabrik sepanjang pekan. Ini abad 18, dimana Inggris sedang demam industrialisasi. Muncul banyak pabrik yang membutuhkan tenaga murah. Akibatnya banyak anak berhenti sekolah dan bekerja di pabrik dari pagi hingga petang. Mereka diperlakukan dengan keras. Satu-satunya kesempatan mereka untuk bebas adalah pada hari Minggu. Oleh karena itu mereka berkeliaran di jalan pada hari Minggu, bermain dan berbuat onar.
Sebagai wartawan yang menulis berita kriminal dan berkunjung ke penjara, Raikes menyadari bahwa anak-anak ini mudah terseret di dunia kriminal. Sebab itu ia berpikir dan mencari jalan keluar untuk menolong anak-anak ini. Bersama dengan seorang tokoh agama (pendeta) di gerejanya, yaitu Pdt. Thomas Stock, Raikes menyewa rumah kosong untuk membuka sekolah pada hari Minggu bagi anak-anak ini. Pada bulan Juli 1780, sekolah itu dimulai dengan nama Sekolah Minggu. Ketika itu Raikes berusia 45 tahun. Anak-anak yang tidak bersepatu diberinya sepatu. Untuk anak-anak yang belum makan, ia menyediakan roti. Disuruhnya anak-anak ini mandi. Setiap hari Minggu, Raikes memanggil dan menuntun tangan anak-anak ini, “Mari ikut Sekolah Minggu!” Ia menjemput mereka, teringatlah Raikes akan ucapan Yesus, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku”
Pelajaran yang diberikan di Sekolah Minggu yang pertama ini adalah membaca, menulis, berhitung, mendengar cerita Alkitab, mempelajari katekismus, bermain dan beribadah. Buku utamanya adalah Alkitab. Pelajaran berlangsung setiap hari Minggu mulai pukul 10.00 - 12.00 dan dilanjutkan lagi pukul 13.00 – 17.30. Pada pukul 18.00 Raikes mengajak anak-anak ini beribadah di gereja.
Janganlah dikira bahwa Sekolah Minggu yang pertama ini berjalan mudah. Di kelas sering terjadi keributan. Pernah seorang murid diam-diam membawa seekor tikus, lalu melepaskannya ketika mereka sedang berdoa. Langsung saja kelas itu menjadi kacau balau. Sering kali juga terjadi perkelahian karena seorang anak mencuri permen temannya. Pernah Raikes memukul seorang murid dengan tongkat karena murid itu mendorong dan menjatuhkan seorang nenek yang lewat.
Walaupun banyak kendala, namun Sekolah Minggu pertama di Gloucester ini berkembang. Semakin banyak anak yang tertarik dan semakin banyak orangtua yang melihat faedahnya. Seorang ayah berkata, “Sejak anak saya ikut Sekolah Minggu, perilakunya menjadi baik, dan saya juga berhenti mabuk-mabukan serta mulai teratur ke gereja.” Juga anak-anak perempuan datang dan ikut Sekolah Minggu.
Setelah berlangsung tiga tahun, Raikes mulai menceritakan pelaksanaan Sekolah Minggu ini ke kota-kota lain. Di koran yang terbit tanggal 3 November 1783, ia menguraikan tentang gagasan dan pengalaman Sekolah Minggu-nya. Tanggapan positif muncul di seluruh Inggris. Di sana-sini lahir Sekolah Minggu yang baru.
Sepuluh tahun setelah Sekolah Minggu pertama berdiri di Glouscester, menyebarlah gagasan ini ke Amerika dan negara-negara lain. Yang tampak berbeda adalah bahwa kebanyakan Sekolah Minggu di negara lain mengkhususkan diri dalam pelajaran cerita-cerita Alkitab. Tradisi lain bertumbuh di Sekolah Minggu Amerika Serikat, dimana pelajaran untuk pelbagai golongan usia. Sampai sekarang tradisi itu tetap kuat di Amerika Serikat. Hampir semua gereja dari denominasi apapun mempunyai Sekolah Minggu untuk pelbagai usia; ada ruangan dimana anak kecil sedang menggunting gambar kapal Nuh, sedangkan di ruang lain orang-orang dewasa serius membicarakan hubungan iman Kristen dengan persoalan lingkungan hidup.
Kini tidak terbilang lagi jumlah anak dan orang dewasa yang setiap hari Minggu pagi dengan setia belajar dan mengajar suatu bagian Alkitab di Sekolah Minggu. Sekolah Minggu ada dimana-mana : ada di sebuah rumah makan di Situbondo, di garasi Kairo, di suatu peternakan Meksiko, di bawah pohon pedalaman Kongo, di suatu gedung gereja di Orlando. Di mana-mana tiap hari Minggu ada Sekolah Minggu.
Semua berawal dari prakarsa Robert Raikes di sebuah rumah tua di Gloucester, atau lebih tepat lagi semua berawal dari kegaduhan anak-anak yang bermain di tepi jalan kantor Raikes. Prakarsa Raikes telah menjadi berkat. Pada batu pualam tempat Robert Raikes dimakamkan di gereja Saint Mary di Gloucester terukir kata-kata dari ayat Alkitab Ayub 29 : 11 – 13, yaitu :
“Apabila telingga mendengar tentang aku,
maka aku disebut berbahagia,
apabila mau melihat,
maka aku dipuji.
Karena aku telah menyelamatkan orang sengsara,
yang berteriak minta tolong,
juga anak piatu yang tidak ada penolongnya,
aku mendapatkan ucapan berkat,
dari orang yang nyaris binasa,
dan hati seorang janda kubuat bersukaria".

(Dikutip dari buku Andar Ismail, Selamat Menabur, dengan judul tulisan “Sekolah Minggu”, halaman 28 – 31. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2005)

My Poem - Lembaran Baru

Inginku bertanya kepada-Nya,
tentang apa arti hidup.
Hatiku bergumam,asa pun membara.
Di tengah ketidakpastian,
suara hatiku berbisik :
DARI MANAKAH ASALNYA KEHIDUPAN?

Jam dinding berdetak,
namun tak secepat jantungku.
Ketika sang waktu menjadi raja,
Lantas Tuhan menjadi apa?
Ini gila dan tidak logika!

Gelapnya suasana nan merasuk kalbuku.
Ada cinta yang berasal daripada-Nya,
telah menerangi pelita hati yang telah padam.
Walau cintanya tak sebesar cinta-Nya,
namun cintaku padanya sebesar doaku kepadaNya.

Ganas amuk mereka,
tidak akan meluluhlantahkan hatiku.
Cintanya tentangku, mencerminkan cinta-Nya kepadaku.
Lantas, apa lagi galauku?
Tidak ada alasan bagiku,
untuk tidak membuka suatu lembaran.
Ya, Lembaran yang baru dalam hidup



Theodorus Benyamin Sibarani
Salatiga, 18 Januari 2009

Askarseba with Love
Just for Hasian...

Luv u so much...

Jumat, 13 Agustus 2010

Sepintas Merenung

1 Petrus 3 8 : 12

Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia-sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati. Jaganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab : Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya. Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang yang benar, dan telinga-Nya kepada mereka yang meminta tolong. Tetapi wajah Tuhan menentang orang yang berbuat jahat.

Jumat, 23 Juli 2010

DO IT ANYWAY


MOTHER THERESA
People are often unreasonable, illogical and self-centered;
FORGIVE THEM ANYWAY.

If you are kind, People may accuse you of selfish,
ulterior motives;
BE KIND ANYWAY.

If you are successful, you will win some false friend
and some true enemies;
SUCCEED ANYWAY.

If you are honest and frank, people may cheat you;
BE HONEST AND FRANK ANYWAY.

What you spend years building, someone cold destroy overnight;
BUILD ANYWAY.

If you find serenity and happiness, they may be jealous;
BE HAPPY ANYWAY.

The good you today, people will often forget tomorrow;
DO GOOD ANYWAY.

Kamis, 01 Juli 2010

Napak Tilas Stephen Bantu Biko (Pejuang Politik Apertheid di Benua Hitam)

Auto biography Stephen Bantu Biko
Lahir : King William’s Town, Eastern Cape, South Africa. 18 Desember 1946.
Meninggal : Pretoria Prison Cell, 12 September 1977
- Di masa muda tertarik dengan politik anti Apertheid
- Belajar di University of Natal Medical School (bagian kulit hitam)
- Sempat bergabung dengan National Union of South Africa Students (NUSAS), akan tetapi Biko keluar karena NUSAS didominasi oleh mereka yang berkulit putih. (penolakan terhadap pelajar-pelajar yang berkulit hitam)
- 1969, Biko mendirikan South Africa Studets’ Organization (SASO), yang kemudian mendapat izin yang resmi untuk klinik kesehatan yang digunakan untuk mereka yang tidak diuntungkan karena status komunitas kulit hitam
- 1972, salah satu pendiri Black People Convention (BPC) yang bekerja di daerah Durban
- BPC secara efektif merangkul 70 perbedaan yang ada di kelompok yang berkulit hitam, sehingga mendorong kemajuan dari South Africa Student’s Movement (SASM).
- Tahun 1973, Biko mendapat larangan dari pemerintah Apertheid, dimana tidak dapat bergerak bebas di kota kelahirannya (King William’s Town), karena dianggap mengacaukan pemerintahan
- 1975, Biko ditangkap dan diinterogasi dari Agustus 1975 – September 1977 di masa Anti teroris pemerintahan Apertheid
- 1976, peningkatan dalam National Association of Youth Organization (NAYO) dan Black Workers Project (BWP), yang didukung oleh para pekerja yang bersatu karena tidak diakui dalam pemerintahan Apertheid
- 21 Agustus 1977 Biko ditangkap kembali oleh polisi Estern Cape saat berada di Port Elizabeth
- 7 September 1977 mengalami luka dalam di kepala yang disebabkan selama dalam interogasi kepala kepolisian (posisi dikurung dalam keadaan telanjang dan terbaring tidak berdaya di dalam sel tahanan)
- Ahli kesehatan kepolisian merekomendasikan agar Biko segera dipindahkan ke rumah sakit. Setelah setuju, Biko diantar ke Pretoria selama 1.200 km (sekitar 12 jam perjalanan) dalam keadaan telanjang dan terbaring di lantai
- 12 September 1977, kepolisian memberikan pengumuman lewat Menteri Hukum Afrika Selatan (Jimmy Kruger) Biko meninggal karena terserang kelaparan dan kedinginan
- Keadaan Biko yang sebenarnya diberitakan oleh editor East London Dialy Dispatch, Donald Woods, bahwa Biko mengalami kerusakan pada otaknya

Apa itu Etik Global (Ringkasan Buku Hans Kung : Global Ethics)?

1. Bagaimana sebagian perbedaan etik seperti etik agama-agama menjadi suatu global etik?
Jawab : Pertama-tama, harus dipahami bahwa Etika berbeda dengan Etik. Etik berarti sikap moral manusia yang mendasar, sedang etika menunjuk pada teori sikap moral, nilai dan norma moral secara filosofis, atau teologis. Perbedaan etik global agama-agama dapat menjadi suatu global etik dikarenakan adanya ada pengalaman historis yang menunjukkan bahwa bumi tidak bisa diubah menjadi lebih baik jika tidak ada kesadaran transformasi kesadaran para individu maupun kehidupan publik. Oleh karena itu adalah tugas khusus agama-agama untuk selalu menjaga rasa tanggung jawab dan memperkuat serta mewariskannya kepada generasi yang akan datang. Selain itu, salah satu yang terkandung dalam nilai deklarasi tentang etik global adalah bagi orang yang bermotivasi religius, sebuah etik akan berkaitan dengan kepercayaan yang cukup rasional (trust) kepada realitas ultim yang suprim, tidak peduli apa nama yang akan diberikan kepada realitas tersebut, dan tidak peduli apa pun pertikaian yang terjadi tentang hakikatnya di antara agama-agama yang berbeda.
2. Mengapa dunia kita saat ini membutuhkan suatu bentuk etik global?
Jawab : Dunia kita saat ini membutuhkan suatu bentuk etik global karena dunia kita sedang mengalami krisis fundamental, yaitu : krisis ekonomi, global dan politik yang terjadi secara global. Tidak adanya visi dasar, kacaunya persoalan yang tak terpecahkan, kelumpuhan politik, kepemimpinan politik yang lemah dengan sedikit pandangan ke depan, serta minimnya nilai rasa untuk kesejahteraan berasama nampaknya telah merata. Dalam situasi global yang dramatis seperti itu, umat manusia memerlukan visi tentang kehidupan bersama secara damai, tentang kebersamaan di antara berbagai kelompok agama dan wilayah yang berbeda bagi perawatan bumi. Berdasarkan pada pengalaman tersebut, telah dapat dipelajari bahwa hak asasi tanpa moralitas tidak akan bertahan lama, dan bahwa tidak akan ada tatanan global yang lebih baik tanpa etik global.
3. Bagaimana etik global memainkan perannya dalam menanggulangi konflik yang ada di sekitar dunia?
Jawab : Etik global memainkan peranannya dalam menanggulangi konflik yang ada di sekitar dunia adalah dengan cara menuntut bahwa setiap manusia harus diperlakukan secara manusiawi. Setiap manusia harus mengenakan pakaian kemanusiaan yang murni, untuk melakukan kebaikan dan menolak kejahatan. Mengapa? Karena salah satu tujuan etik global adalah menjelaskan apa makna yang dia maksud, serta mengingatkan adanya suatu norma yang tidak bisa diganggu gugat dan berlaku universal. Dalam empat petunjuk yang tidak dapat dibatalkan, di bagian komitmen pada budaya non-kekerasan dan hormat pada kehidupan, tercantum bahwa di mana pun ada manusia, di situ ada konflik. Untuk itu, tidak ada peluang untuk kehidupan bagi manusia tanpa perdamaian global.

KESIMPULAN :
Sebenarnya Hans Kung berharap nama yang diberikan adalah Deklarasi ke Arah Etik Global, bukannya Etika Global . Dari sinilah pertama muncul salah pahamnya penggunaan istilah. Akan tetapi, pilihan kata pada akhirnya tidaklah menentukan, karena yang terpenting adalah pokok persoalannya, bukan nama. Secara pribadi, saya melihat konsentrasi dari etik global ini ada pada nilai kemanusiaannya, walaupun Hans Kung berkata bukan terkait dengan Hak Asasi Manusia saja, tetapi sering dilupakannya nilai Hak Asasi Manusia itu sendiri.
Kesadaran sangat dibutuhkan untuk menciptakan kehidupan di bumi yang lebih baik. Elemen agama sangat mempengaruhi perdamaian antar bangsa, untuk itu harus diakui kecemerlangan pemikiran Hans Kung untuk merumuskan bahwa tidak ada perdamaian bangsa-bangsa, jika tidak ada perdamaian agama. Ini harus disadari oleh setiap pemeluk agama, bahwa fundamentalisme agama tersebut membuat buruk kehidupan di dunia ini. Untuk realitas Indonesia, hal ini dapat berlaku karena tidak jauh konteks kehidupan beragama di Indonesia tidak jauh berbeda dengan konteks kehidupan beragama bangsa-bangsa yang ada di dunia. Etik global sangat berfaedah dalam konteks Indonesia, bilamana ada komitmen berjalan bersama dalam hal membangun masyarakat Indonesia yang lebih baik. Akan tetapi, etik global menjadi tidak berfaedah ketika dia dipahami untuk menyatukan agama secara dokrinal maupun agama.