Rabu, 02 Februari 2011

Fenomena Crop Circle di Sleman sebagai Ancaman terhadap Agama



Agama di ujung tanduk! Itulah yang ada di dalam benak saya ketika mendapatkan berita penemuan crop circle di Sleman, Jawa Tengah. Sebagai seorang teolog, saya membayangkan peperangan antara sains dengan agama di masa lalu. Sekedar mengingatkan saja beberapa perang yang sangat heboh pada masa lalu, seperti persoalan bentuk permukaan bumi, apakah datar atau bulat. Menurut agama, yang diwakili gereja pada saat itu, mengatakan bahwa bumi berbentuk datar (flat). Hal ini dibantah oleh Sains, yang diwakili oleh Galileo Galilei, yang menyatakan bahwa bumi berbentuk bulat. Tidak cukup berhenti sampai di situ saja, peperangan pun dilanjutkan pada topik eksistensi manusia pertama. Menurut Charles Darwin, yang mewakili Sains di masa itu mengatakan manusia merupakan hasil evolusi dari kera raksasa. Hal ini jelas ditentang keras oleh agama yang baginya manusia pertama itu adalah Adam dan Hawa yang diciptakan oleh Tuhan.

Gambaran di atas, sebenarnya ingin menggambarkan bahwa agama dan sains tidak akan pernah berjalan berdampingan. Fenomena crop circle yang terjadi di Sleman, marak diklaim sebagai jejak peninggalan UFO (Unidentified Flying Object), dan tentunya hal ini telah diperkirakan oleh Sains sebelumnya. Menurut Sains, di alam semesta ini manusia dengan planet buminya tidak hanya sendiri saja berada di alam semesta. Ada juga planet-planet lainnya dengan mahluk hidup di dalamnya. Persoalannya adalah manusia tidak dapat menemukannya karena dipisahkan oleh jarak berjuta tahun cahaya jauhnya. Hanya tinggal menunggu saja, apakah kita yang menemukan mereka atau mereka yang menemukan kita. Tentu klaim dari sains ini sangat bertentangan dengan ajaran agama, yang menyatakan bahwa hanya manusia saja mahluk yang paling mulia yang pernah diciptakan tuhan.

Stephan Hawking, seorang mahafisikawan dan kosmologiwan dari Inggris, pernah mengatakan : dalam determinisme saintifik ditegaskan bahwa segala hal dalam jagat raya memiliki asal-usul di masa lampau dan akhir di masa depan, yang berlangsung dalam jalur hukum-hukum sains yang tak bisa dilanggar, sehingga awal dan akhir segala sesuatu dapat diprediksi dan ditentukan dengan tepat dan lengkap. Lebih lanjut, Hawking menyatakan bahwa tuhan tidak dapat mencampuri jalannya jagat raya” , serta menegaskan bahwa “suatu hukum saintifik bukanlah suatu hukum saintifik jika hukum ini berlaku hanya apabila suatu makhluk supernatural memutuskan untuk tidak mencampurinya. Hawking membandingkan agama dan sains, katanya: “Ada suatu perbedaan mendasar antara agama, yang didasarkan pada otoritas, dan sains, yang didasarkan pada observasi dan nalar. Sains akan menang sebab sains terbukti bekerja.”
Kesimpulannya, terlepas dari terbukti atau tidaknya fenomena crop circle sebagai jejak dari UFO di Sleman, Jawa Tengah, secara filosofis sebenarnya menggambarkan bahwa kembali sains telah mengancam keberadaan agama di dunia. Dari ancaman ini tentu menimbulkan dampak psikis kepada kehidupan agama, terkhusus di Indonesia, bahwa jikalau agama menjadi lebih kritis dengan keyakinannya atau malah semakin membuat sikap fundamental dari agama kepada sains. Yang pasti untuk sementara, agama dapat menarik nafas kelegaan, karena telah dibuktikan bahwa crop circle yang ada di Sleman bukanlah sebagai jejak UFO, namun hanya sebagai hasil kreativitas manusia semata.


tulisan ini juga diposting dalam kompasiana. link : http://agama.kompasiana.com/2011/01/29/fenomena-crop-circle-di-sleman-sebagai-ancaman-terhadap-agama/?ref=signin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar