Senin, 17 Januari 2011

7 Dosa Agama


Pendahuluan


Tulisan ini merupakan suatu pengantar kepada para pembaca sekalian untuk dapat membuka cakrawala pemikiran beragama yang lebih sehat lagi. Tulisan ini belum tuntas menjawab seluruh persoalan yang diangkat penulis, karena hanya bersifat pengantar saja. Ibarat saat hendak makan di restoran, tulisan ini adalah daftar menu makanannya saja. Dengan demikian, diharapkan dari tulisan ini, para pembaca sekalian dapat menggali lebih dalam lagi persoalan yang diangkat oleh penulis. Hal lainnya yang ingin saya sampaikan, bahwa tulisan ini merupakan perefleksian penulis selama mendalami ilmu teologi dan mengkaji ilmu kesejahteraan sosial.

Pembahasan


Pada umumnya, sepanjang peradaban bumi berlangsung, pembahasan agama tidak pernah hilang dalam perbincangan sehari-hari. Setidaknya di dunia ini, agama Abrahamik merupakan agama yang memiliki pengikut terbanyak di dunia. Tentunya agama Abrahamik tidak sendirian saja di dunia, namun dia hadir bersama agama-agama lainnya untuk mengisi peradaban di bumi (walaupun ada beberapa komunitas maupun individu yang memilih menjadi seorang ateis). Secara tidak sadari, ternyata agama juga tidak luput dari dosa. Hal ini menurut hemat saya sangat lumrah, karena agama bukanlah suatu institusi yang diciptakan oleh Tuhan secara langsung, melainkan manusialah yang ada di balik munculnya agama-agama di dunia ini. Dari asumsi tersebut, hukum alamiah mengenai “human error” tidak bisa dihilangkan dalam kehidupan agama di dunia ini. Inilah dosa agama yang tidak disadari oleh manusia. Apa saja dosa agama itu? Setidaknya ada 7 dosa agama yang berhasil saya rangkum, yaitu :

1.Agama sebagai sumber kekerasan
Kekerasan atas nama agama telah banyak menyita sorotan maupun perhatian manusia di seluruh dunia. Lihat saja bagaimana perang saudara antara India Hindu dengan Pakistan Islam, atau tragedi yang terjadi di World Trade Center (WTC) yang dikenal dengan tragedi 9/11. Dua contoh itu, sedikit dari banyak kasus kekerasan atas nama agama. Di Indonesia, kekerasan atas nama agama juga terjadi. Hal tersebut datang dari kelompok beragama yang fundamental yang merasa bahwa dasar tindakan mereka dilakukan dengan rasa kepedulian dan kecintaan terhadap Indonesia. Nyatanya, kekerasan yang terjadi bukanlah cara untuk menunjukkan kecintaan dan kepedulian, tetapi malah menjadi suatu momok yang membuat masyarakat menjadi resah dan penuh ketakutan terhadap suatu agama. Insiden HKBP di Bekasi, contoh nyata kekerasan lainnya.
Kekerasan atas nama agama bukanlah hal yang baru di dunia ini, melainkan sudah sejak lama terjadi. Perang salib adalah salah satu bukti bentuk kekerasan atas nama agama pada masa lampau. Menurut hemat saya, tidak ada agama di dunia ini yang mengajarkan kekerasan terhadap umatnya. Contoh, dalam Kekristenan diajarkan teladan hidup Kristus yang berorientasi pada kasih. Dalam Islam juga konsep damai sangat dominan, karena pada dasarnya Islam berasal dari kata salam yang berarti damai. Begitu juga Hindu maupun Buddha, serta agama-agama lainnya. Ketika pemimpin umat beragama gagal membawa pemahaman agama untuk umatnya pada konsep awal, yaitu menjadi alat pengasih dan pembawa damai, maka agama akan menjelma menjadi senjata pemusnah massal yang paling muktahir. Artinya agama pun sama bahayanya dengan nuklir. Dengan demikian, jika hal itu terjadi, maka sesungguhnya agama telah berdosa karena agama telah menjadi sumber kekerasan

2.Agama sebagai pemusnah kebudayan lokal

Pembahasan mengenai topik ini sangatlah ruwet, karena ada banyak hal yang harus diperhatikan. Namun, saya berusaha mempermudah pembahasan ini, dengan cara mengambil konteks Indonesia, agar lebih mudah dipahami oleh pembaca sekalian. Di Indonesia dewasa ini, ada enam agama yang diakui oleh negara, yaitu Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Kong Hu Chu dan Buddha. Akan tetapi, sadarkah kita semuanya, bahwa keenam agama itu merupakan agama impor?
Islam berkembang di tanah Arab, Kristen berkembang di negara Barat, Hindu berkembang di daerah India sekitarnya dan Buddha maupun Kong Hu Chu di sekitar daratan Cina. Perkembangan agama-agama di tempat mereka masing-masing, akan terpengaruh oleh budaya di tempat sekitar mereka hidup. Artinya, Arab sangat kental dengan budaya Arab, Kristen sangat kental dengan budaya Barat, Hindu sangat kental dengan budaya India dan Kong Hu Chu serta Buddha kental dengan budaya Cina. Bisa dibayangkan jikalau agama dengan kebudayaan asing itu masuk ke Indonesia?
Dampak dari masuknya negara impor itu adalah kebudayaan lokal di Indonesia menjadi hilang. Contoh : Di pulau Jawa, khususnya di Jawa Tengah, kebudayaan yang ada di situ adalah Kejawen. Ketika Islam masuk ke Jawa Tengah, Kejawen bersanding dengan Islam, sehingga sekarang ini jikalau saat ini kita mengenal ada orang Jawa yang kental dengan tradisi kejawennya namun dia memeluk agama Islam. Namun, karena kejawen dianggap sebagai suatu kepercayaan nenek moyang, maka tradisi kejawen harus dibatasi sedangkan ritual Islam menjadi dominan. Contoh lainnya, ketika Kekristenan masuk ke tanah Batak, budaya dan agama asli masyarakat Batak dianggap sesat. Parmalim (agama asli masyarakat Batak) dianggap pemujaan terhadap setan. Alhasil, ketika Kristen menjadi agama yang diterima masyarakat Batak, banyak ritual dalam adat Batak yang dianggap sesat sehingga harus ditiadakan.
Dari contoh-contoh di atas, agama-agama impor yang masuk ke Indonesia telah mengancam kebudayaan asli Indonesia. Celakanya, agama impor tersebut dilindungi negara dan wajib dipeluk masyarakat Indonesia. Ironisnya sedangkan agama dan budaya lokal yang muncul dari negeri sendiri malahan tidak dianggap. Hal ini diperparah oleh masyarakat Indonesia yang rela saling serang untuk mempertahankan negara impor yang dipeluknya. Suatu hal yang ironis. Akibatnya, kebudayaan di Indonesia banyak musnah oleh agama impor.

3.Agama sebagai ancaman ilmu pengetahuan

“The church says the earth is flat, but I know that it is round, for I have seen the shadow on the moon, and I have more faith in a shadow than in the church.”(Ferdinand Magellan)
Kutipan di atas merupakan respons atas sesuatu terjadi pada gereja di masa lampau. Galilleo Galillei yang pada masa itu menentang pernyataan gereja terkait persoalan bentuk bumi. Gereja pada masa lampau mengatakan bahwa bumi berbentuk datar, sedangkan Galilleo menolak pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa bumi bulat. Akibatnya, Galilleo dihukum mati oleh gereja, karena menolak dan menentang gereja. Contoh kasus seperti tadi juga terjadi pada Prof.Robert Edwards yang mendapat anugerah Nobel Kedokteran 2010 atas prestasinya menggagas bayi tabung sehingga telah membantu ribuan keluarga untuk memiliki anak via bayi tabung. Tetapi pihak Vatikan mengecam, karena menilai Prof Edwards menjadi penyebab pemusnahan dan perdagangan janin manusia. Kolotkah Vatikan?
Banyak doktrin dan dogma agama yang mengancam kemajuan ilmu pengetahuan. Padahal harus disadari bahwa jikalau manusia merupakan ciptaan Tuhan, maka otak juga adalah ciptaan Tuhan juga. Dengan demikian pemikiran manusia juga tentu berasal dari Tuhan. Akan tetapi, mengapa pikiran yang diberikan oleh Tuhan tersebut dibatasi oleh agama? Tentunya semua hal ini adalah dosa yang telah diperbuat oleh agama kepada ilmu pengetahuan

4.Agama sebagai candu dalam masyarakat

Masih ingat kritik Karl Marx terhadap agama? Marx mengatakan agama telah menjadi candu dalam masyarakat. Hakikat fungsi dari candu adalah untuk melupakan rasa sakit. Begitu juga agama pada masa Marx berada. Marx melihat begitu banyak orang yang tertindas oleh mereka yang kaya. Kondisi sosial yang sangat memprihatinkan tersebut diperparah dengan realitas yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Untuk menabahkan hati para mereka yang miskin pada saat itu, gereja mengatakan kepada mereka untuk bersabar, karena jikalau kehidupan ini telah berakhir mereka akan segera mendapatkan kebahagian. Atas dasar peninaboboan gereja atas masyarakat itu yang menjadi kritik Marx, karena mengabaikan kehidupan di masa kini.
Pada konteks Indonesia, apa yang dikritik Marx juga terjadi. Kemiskinan merupakan hal yang tidak susah ditemukan di negara Indonesia. Dalam berbagai kesempatan untuk melihat dan mengikuti ibadah, baik di televisi maupun langsung hadir ke tempat ibadah, tidak jarang saya mendengar wejangan dari pemimpin agama agar umat tetap bersabar karena penderitaan di dunia akan segera berakhir. Di semua agama, hal ini juga terjadi. Agama telah menjadi candu bagi masyarakat miskin, agar masyarakat yang sudah miskin itu tidak semakin memperburuk keadaan negara dengan cara memberontak ataupun pemboikotan. Dengan demikian, agama telah berdosa karena membiarkan umatnya larut dalam kemelaratan dan hanya menyugesti mereka akan bahagia di kemudian hari. Dampaknya mereka tidak memikirkan kehidupan miskinnya sekarang, yang sebenarnya masih dapat diperbaiki.

5.Agama sebagai kenderaan politik

Tidak usah melihat contoh ke tempat yang jauh, mari kita lihat dalam konteks Indonesia. Dari sekian banyak partai politik yang hidup dan berkembang di Indonesia, ada banyak partai yang bernafaskan agama. Pertanyaan kritisnya adalah mengapa banyak partai yang memilih agama sebagai tameng politik mereka? Tentu jawabannya adalah karena agamalah yang banyak menyita simpatik dari masyarakat. Segala cara dipakai untuk melegitimasikan kekuasaan, termasuk menggunakan agama sebagai kenderaannya. Hal seperti ini tentunya harus dikritisi karena Indonesia bukanlah negara agama. Mungkin hal inilah yang menjadi alasan mengapa sangat sulit untuk partai yang bernafaskan agama untuk menang dalam pemilihan presiden, disamping sudah mulai cerdasnya masyarakat Indonesia dalam berpolitik tentunya.

6.Agama sebagai Industri

Saat ini banyak tradisi dalam keagamaan yang dijadikan industri, bahkan ruang lingkupnya global. Lihat saja bagaimana Lebaran dan Natalan telah menjadi industri bagi berjuta-juta perusahaan di seluruh dunia untuk mengambil keuntungan. Lebih spesifik lagi, mari kita lihat natalan. Sebulan sebelum hari natal tiba, pernak-pernik natal telah banyak hampir di seluruh pusat perbelanjaan dunia. Hampir semua produk industri disesuaikan dengan tema natal. Alhasil, natal menjadi begitu antusias dan semarak di seluruh belahan dunia, ditambah mengalirnya berjuta-juta dollar hasil industri yang dicapai lewat konsep natal.
Hal ini jelas sangat berbeda jauh dengan konsep natal pada awalnya, di mana bayi Yesus lahir di kandang hewan yang kumuh dan berbau. Tidak ada suasana pesta meriah saat kelahirannya, tidak ada pohon natal raksasa, malah Dia ditolak bahkan dicerca oleh dunia. Namun, tradisi keagamaan Kristen dalam menanggapi natal sudah berubah. Lain dahulu lain sekarang. Natal kini menjadi suatu pesta yang sangat meriah. Konsep lebaran juga tidak jauh berbeda dengan natalan, dimana sebulan sebelum hari lebaran tiba, hampir seluruh tempat perbelanjaan di Indonesia dipenuhi oleh pernak-pernik lebaran.

7.Agama menjelma menjadi Tuhan

Dosa terakhir yang dilakukan agama adalah dimana dia malah menjelma menjadi Tuhan. Pada saat ini umat beragama sepertinya lebih takut kepada agama daripada kepada Tuhan. Agama dengan sejuta doktrin dan dogmanya, mengeluarkan sejenis ancaman bagi mereka yang tidak mau menjalankan perintah agama. Hal ini jelas pembodohan terhadap masyarakat beragama, karena agama telah berhasil menakut-nakuti masyarakat seperti layaknya anak kecil.
Agama yang menakut-nakuti umatnya adalah agama yang sakit, karena Tuhan sendiri adalah Tuhan yang penuh kasih dan pengampun. Usaha menakuti umat, menurut hemat saya dilakukan oleh pemuka agama yang tidak bertanggungjawab. Usaha ini dilakukan dalam rangka menggiatkan partisipasi umat dalam kegiatan keagamaan. Jelas ini merupakan hal yang sangat tidak bertanggungjawab sehingga masyarakat merasa terancam jikalau tidak melakukannya. Dengan demikian pemuka agama melalui agama telah berdosa karena telah membuat peraturan sendiri, yang bahkan Tuhan sendiri mungkin tidak mengeluarkan hukum yang dibuat oleh agama. Agama telah menjelma menjadi Tuhan, bahkan lebih hebat dari Tuhan, sehingga terjadi banyak pereduksian hakikat Tuhan oleh agama dengan usaha menakut-nakuti umat.


Penutup


Tidak ada maksud dalam tulisan ini untuk menyerang suatu agama apapun. Akan tetapi, tulisan ini hanya memaparkan dosa yang telah dilakukan agama. Agama itu diciptakan oleh manusia, artinya agama hidup dalam kebudayaan manusia. Sebagai manusia yang tidak pernah lepas dari kesalahan, agama juga tidak pernah lepas dari kesalahan. Tuhan tidak pernah menciptakan agama, tetapi manusialah yang menciptakan agama itu. Untuk apa kita berperang demi agama? Agama adalah institusi sosial, simbol masyarakat dan fenomena antropologis. Agama bukanlah fakta rohani. Apakah manusia tidak dapat berhubungan dengan Tuhan jikalau tidak ada agama? Tentu bisa. Manusia dapat berhubungan dengan Tuhan tanpa agama sekalipun. Hal ini akan menjadi penerang cakrawala pembaca dalam mengkritisi kehidupan beragamanya. Agama yang kita anut di Indonesia adalah agama impor, yang penuh dengan nilai kebudayaan dimana dia berkembang. Untuk itu diperlukan kajian kritis dari masyarakat Indonesia untuk menjaga kehidupan masyarakat yang kondusif, humanis dan inklusif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar