Kamis, 27 Januari 2011

Membakar Surga, Mengguyur Neraka


Pendahuluan

   Tulisan ini lebih sebagai ungkapan kegemasan penulis terhadap perilaku destruktif oleh umat beragama fundamental, yang hidupnya seolah-olah hanya untuk mengejar surga dan menghindari neraka. Celakanya lagi, mereka yang beragama secara fundamental menganggap surga adalah suatu tempat yang hanya dilayakan untuk malaikat seperti mereka, sedangkan neraka adalah tempat bagi mereka yang biadab karena dicap sebagai kafir. Bahkan, mati martir demi membela agama pun dianggap mereka sebagai cara tercepat masuk ke surga. Sedangkan, pembantaian korban jiwa, yang tidak mengerti apa-apa, dianggap sebagai jalan tercepat bagi mereka untuk dikirim ke neraka. Daripada membalas mereka dengan kekerasan seperti cara mereka, lebih baik kegemasan ini saya tuangkan dalam suatu tulisan singkat.
      Tulisan ini akan lebih banyak menjelaskan sejarah perkembangan paham surga dan neraka yang berkembang. Pendekatan yang saya gunakan kritik sosio historis keagamaan. Sama seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya (7 Dosa Agama, Membongkar Dongeng Adam dan Hawa), tulisan ini bukan ingin menyerang agama. Namun, tulisan ini lebih pada membuka cakrawala pemikiran umat beragama agar menjadi terbuka dan kritis. Diharapkan dari tulisan ini, sikap fundamentalisme umat beragama dapat direduksi bahkan dihilangkan sama sekali, karena tidak memberikan kontribusi yang konstruktif dalam mencapai kehidupan yang lebih baik di bumi ini.
Pembahasan


     Umat Muslim, Kristen, dan Yahudi, sama-sama mengklaim bahwa Abraham/Ibrahmim adalah nenek moyang dalam iman mereka. Akan tetapi, kita harus jujur mengakui bahwa secara usia, dibandingkan agama Kristen dan Islam, agama Yahudi  lebih dulu ada sebagai suatu bangsa dan agama di bumi ini. Berdasarkan hal itu, ketika agama Kristen dan Islam membahas konsep surga dan neraka dalam keyakinan mereka, secara tidak langsung, unsur Yahudi akan terseret di dalamnya. Saya memulai pembahasan ini dengan pernyataan demikian adalah tidak lain karena di negara Indonesia, agama yang membahas masalah surga dan neraka hanya ada dua agama saja, yaitu Islam dan Kristen. 
    Jika mengacu pada sejarah konsep surga dan neraka, paham ini lahir dari suatu sikap ketidakberdayaan bangsa Yahudi kuno ketika mereka menghadapi kolonialisme. Kolonialisme terjadi karena kalahnya mereka dalam peperangan, ditambah semakin banyaknya korban jiwa yang jatuh dari bangsa Yahudi. Pastilah pertanggungjawaban atas kehancuran bangsa Yahudi ini ada pada pemerintah. Karena konsep pemerintahan bangsa Yahudi adalah teokratis (YHWH adalah pemimpin sejati), maka para tokoh agama dari bangsa Yahudi juga terseret dalam hal kehancuran yang dirasakan. Bangsa Yahudi mengeluh dan bertanya kepada para tokoh agama itu, mengapa YHWH diam saja pada saat mereka dihancurkan? 
    Menghadapi rentetan tekanan yang bertubi-tubi, maka para tokoh agama bangsa Yahudi menjawab bahwa mereka tidak perlu khawatir karena ketika pada kesudahannya nanti, YHWH akan menghukum semua musuh-musuh yang telah menginjak-injak mereka. Bagi kerabat mereka yang telah mati karena peperangan, mereka tidak perlu dirisaukan lagi. Bagi mereka yang mati dalam peperangan atas nama YHWH, sesungguhnya mereka telah berada di suatu tempat indah yang telah disediakan oleh YHWH.
    Sebenarnya, jawaban dari para tokoh agama bangsa Yahudi ini memiliki makna politis. Menurut mereka tidak ada yang salah dengan pemerintahan saat ini karena akhir zaman telah dekat dan para musuh akan dihakimi oleh YHWH. Para musuh akan dibakar ke dalam api yang abadi. Selanjutnya, jawaban ini dapat memacu jiwa dan semangat patriotisme dari pejuang bangsa Yahudi untuk berperang sampai tetes darah terakhir.
    Dari mana rumusan ini didapatkan tokoh agama bangsa Yahudi? Jawaban ini memang bukan sembarang jawaban. Jawaban ini diadopsi tokoh bangsa Yahudi dari kepercayaan bangsa Persia tentang konsep hari kiamat. Bangsa Persia, pada masa lalu, menganut kepercayaan Zoroaster (sejenis kepercayaan tradisional). Kepercayaan Zoroaster merupakan campuran antara monotheisme dan dualisme. Menurut kepercayaan Zoroaster, hanya ada satu tuhan sejati yang disebut Ahura Mazda (dalam sebutan Iran modern: Ormudz). Ahura Mazda ("tuhan yang bijaksana") menganjurkan kejujuran dan kebenaran. Namun, penganut kepercayaan Zoroaster juga percaya adanya roh jahat, Angra Mainyu (dalam istilah Persia modern: Ahriman) yang mencerminkan kejahatan dan kepalsuan. Tiap individu bebas memilih ke mana dia berpihak, ke Ahura Mazda atau ke Ahriman. Meskipun pertarungan kedua belah pihak mungkin dekat pada suatu saat, penganut kepercayaan Zoroaster tetap percaya bahwa dalam jangka panjang kekuatan Ahura Mazda akan keluar sebagai pemenang. Ajaran kepercayaan mereka juga termasuk memberikan keyakinan penuh adanya hidup sesudah mati. Bagi yang jahat setelah mati mereka akan masuk ke neraka sedangkan yang baik akan masuk ke surga.
    Terkait dengan persoalan surga dan neraka, para pengikut Zoroaster menggambarkan surga sebagai suatu tempat yang indah dan menyenangkan yang jauh di atas sana. Sebaliknya, neraka adalah sebuah tempat yang penuh dengan kekacauan yang berada di bawah bumi yang gelap dan panas. Mungkin saja, konsep tentang api neraka muncul dari teori panas perut bumi. Seperti kita ketahui, di bawah tanah terdapat lava dan magma yang sangat panas, yang bentuknya api.

Penutup
Dari sedemikian jauh pembahasan mengenai sejarah perkembangan konsep surga dan neraka, sebenarnya ada 2 hal yang dapat saya simpulkan, yaitu :

1. Konsep surga dan neraka, bukanlah asli ajaran dari Yahudi, apalagi Kristen dan Islam, melainkan dari bangsa Persia;

2. Konsep surga dan neraka yang dikembangkan pada masa lalu bukan sebagai muatan rohani/religus, akan tetapi lebih pada muatan politik;
    Dari dua kesimpulan itu, kemudian yang menjadi pertanyaan kritisnya adalah mengapa konsep surga dan neraka yang sudah sangat kuno itu dapat bertahan di zaman modern seperti saat ini? Bahkan lebih parah lagi, adanya saling klaim bahwa surga milik salah satu agama, sedangkan yang lain adalah jalan ke neraka? Saya menduga, hal itu semua terkait dengan sisi psikologis manusia, terutama mengenai teori reinforcement : reward dan punishment. Hal ini tentu mengingatkan kita semua akan lagu alm.Chrisye, yang mengatakan : “…jika surga dan neraka, tak pernah ada, masihkah kau sujud menyembah-Nya?..”. Lagu itu juga sebenarnya ingin mengkritik umat beragama yang berbuat kebaikan hanya untuk mengejar surga saja. Dampaknya, sifat dan sikap munafik tidak akan bisa dihindarkan.
    Yang lebih mengenaskan lagi adalah sikap fundamental kelompok beragama, yang sanggup menghancurkan orang lain guna masuk surga, telah menjadi suatu ironi yang memprihatinkan di bangsa ini. Adalah tugas tokoh agama yang bertanggung jawab atas peristiwa itu. Sangat disayangkan jikalau tokoh agama hanya bisa menakut-nakuti umatnya dalam ibadah dengan ancaman surga dan neraka. Padahal, ada banyak kebaikan yang dapat dilakukan oleh umat beragama. Akibatnya, surga menjadi semakin panas, karena berapi-apinya manusia ingin ke sana. Sedangkan, api neraka  menjadi semakin dingin. Pada akhirnya, saya harus mengatakan: Surga itu adalah suatu kondisi di mana manusia dapat hidup berdampingan antara satu dengan yang lainnya tanpa harus membenci. Sedangkan, neraka adalah kondisi di mana kacaunya kehidupan manusia karena tidak lagi ada sikap peduli dan tolong-menolong di antara sesama manusia. Lantas, bagaimana surga dan neraka saat ini? Silakan dijawab sendiri ya, tapi kalau menurut saya: “Huh, Betapa Panasnya Surga itu, Betapa Dinginnya Neraka itu!!!!!”

1 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus